Keluarga Soroti Dugaan Salah Diagnosis di Puskesmas Lempake

July 29, 2026 by  
Filed under Kesehatan

Share this news

SAMARINDA – Seorang anak di Samarinda harus menjalani operasi usus buntu setelah sebelumnya dua kali mendapat diagnosis maag dan diare saat berobat ke Puskesmas Lempake. Peristiwa tersebut mendorong keluarga pasien mempertanyakan proses pemeriksaan yang dilakukan, khususnya tidak adanya pemeriksaan penunjang ketika kondisi pasien terus memburuk.

Orang tua pasien, Sulung, menjelaskan anaknya pertama kali mengeluhkan sakit perut pada 7 Juli 2026. Sehari kemudian, ia membawa putranya ke Puskesmas Lempake untuk diperiksa. Saat itu, dokter mendiagnosis pasien mengalami maag dan diare serta memberikan obat untuk menjalani perawatan di rumah.

Meski telah mengonsumsi obat, kondisi anaknya tidak menunjukkan perkembangan. Pada 11 Juli, ia kembali mendatangi Puskesmas Lempake karena keluhan nyeri perut masih berlanjut dan kondisi fisik putranya semakin melemah.

Menurutnya, kunjungan kedua tersebut seharusnya menjadi dasar bagi tenaga medis untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Namun, ia mengaku tidak ada pemeriksaan laboratorium maupun pemeriksaan penunjang lain yang dilakukan, sementara diagnosis yang diberikan tetap sama.

“Saya tidak mempermasalahkan saat pemeriksaan pertama karena mungkin gejalanya belum mengarah ke sana. Tetapi ketika kami datang lagi dengan kondisi anak yang semakin lemas dan tidak membaik, seharusnya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, bukan hanya memberikan obat yang sama,” ujarnya, Senin (27/7/26).

Ia menilai pemeriksaan tambahan diperlukan untuk memastikan penyebab sakit yang diderita anaknya, sehingga penanganan yang diberikan dapat lebih tepat.

Karena kondisi pasien terus memburuk, keluarga kembali membawa anak tersebut ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Puskesmas Lempake hingga akhirnya memperoleh surat rujukan ke rumah sakit.

Pada 13 Juli 2026, pasien menjalani pemeriksaan di RS Dirgahayu Samarinda. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter menyatakan pasien mengalami radang usus buntu yang telah bernanah. Keesokan harinya, pasien langsung menjalani tindakan operasi.

Dirinya mengaku mendapat penjelasan dari dokter di rumah sakit bahwa saat operasi dilakukan, usus buntu anaknya sudah dalam kondisi pecah sehingga penanganan dinilai sudah terlambat.

 

“Dokter menyampaikan saat operasi dilakukan usus buntunya sudah pecah. Padahal sejak awal kami selalu berusaha membawa anak kami berobat setiap kali kondisinya memburuk,” tuturnya.

Ia juga mengatakan tenaga medis di rumah sakit sempat menjelaskan bahwa kondisi tersebut berpeluang diketahui lebih cepat apabila dilakukan pemeriksaan penunjang ketika keluhan pasien tidak kunjung membaik. Karena itu, ia mempertanyakan alasan tidak dilakukannya pemeriksaan laboratorium saat kunjungan kedua di Puskesmas Lempake.

Selain itu, ia mengaku baru mengetahui bahwa dokter yang menangani putranya merupakan dokter internship setelah mengikuti pertemuan dengan pihak Puskesmas. Dalam pertemuan tersebut, dokter yang menangani pasien disebut tidak hadir dan hanya diwakili oleh dokter pendamping.

“Saya ingin bertemu langsung dengan dokter yang menangani anak saya supaya mendapat penjelasan mengenai keputusan medis yang diambil saat itu. Saya juga berharap pihak terkait mengawal proses pemulihan anak saya sampai benar-benar sembuh,” katanya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Puskesmas Lempake, Komang Ayu Indah Ardhani, menegaskan pelayanan terhadap pasien telah dilaksanakan sesuai standar operasional yang berlaku di fasilitas kesehatan tersebut.

“Pelayanan yang kami berikan sudah sesuai dengan prosedur. Itu yang dapat kami sampaikan,” ujar Komang, Rabu (29/7/26).

Saat dimintai tanggapan mengenai dugaan adanya kekeliruan dalam penanganan pasien, Komang kembali menegaskan seluruh tindakan telah mengikuti ketentuan yang berlaku. Ia juga menyatakan pihaknya tidak dapat mengungkapkan rincian kasus karena berkaitan dengan kerahasiaan data medis pasien.

“Maaf, karena ini menyangkut kerahasiaan medis pasien, kami tidak bisa memberikan penjelasan lebih lanjut. Yang bisa kami pastikan, pelayanan sudah dilakukan sesuai prosedur,” pungkasnya. (yud)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb