Sungai Bukan Hanya Milik Kita, Jangan Diubah Menjadi Kanal

July 6, 2026 by  
Filed under Opini

Share this news

Oleh: Misman

Sungai adalah aliran air alami yang besar dan memanjang, mengalir secara terus-menerus dari hulu menuju hilir hingga bermuara ke laut, danau, atau sungai lain. Airnya bersumber dari curah hujan, limpasan air dari lereng gunung, bukit, lembah, serta hamparan lahan basah atau rawa — bahkan dari lelehan salju di daerah bersuhu dingin. Semua ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem siklus air di bumi.

Sungai Karang Mumus area Sekolah Sungai GMSS SKM, Samarinda Kalimantan Timur

Selain sebagai jalur aliran air, sungai menjadi habitat bagi beragam jenis tumbuhan dan hewan, sekaligus berperan menjaga keseimbangan alam dan lingkungan. Oleh karena itu, keberadaan sungai bukanlah milik manusia semata.

Bagi manusia, sungai dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, mengairi sawah, sarana transportasi, pembangkit tenaga listrik, hingga objek wisata. Namun bagi makhluk hidup lain, sungai adalah ruang tempat mereka bertahan hidup, berkembang biak, dan mencari makan.

Perlu dipahami bahwa sungai tidak “memiliki” air secara mandiri; airnya berasal dari Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS meliputi seluruh kawasan yang menampung dan menyalurkan air ke sungai, meliputi gunung, bukit, lembah, serta lahan basah dan rawa yang ditumbuhi semak belukar. Kawasan ini terbentang mulai dari hulu, bagian tengah, hingga hilir sungai. Jika DAS rusak, maka sungai pun akan langsung terdampak. Banjir yang sering terjadi bukan semata-mata karena sungai meluap, melainkan karena ruang tampung air di DAS telah berkurang atau hilang — umumnya akibat perubahan fungsi lahan tanpa disertai upaya kompensasi ekologis yang layak.

Terdapat perbedaan mendasar antara sungai dan kanal. Sungai berfungsi sebagai penyedia air bersih dan sehat bagi manusia serta makhluk hidup lain. Agar kualitas, jumlah, dan ketersediaan airnya tetap terjaga secara berkelanjutan, maka ekosistem DAS dan sungai harus dipelihara dan dijaga kelestariannya, misalnya melalui upaya restorasi lingkungan.

Sebaliknya, jika sungai diubah menjadi kanal, tujuannya biasanya hanya untuk mempercepat aliran air agar tidak meluap. Caranya pun dilakukan dengan meluruskan alur, memperdalam, memperlebar, serta menurap tepiannya dengan beton (sheet pile). Padahal, akar masalah banjir bukan terletak pada bentuk sungai, melainkan pada hilangnya ruang tampung air di kawasan DAS.

Sungai memang wajib dijaga dan dirawat, terutama bagi wilayah seperti Kalimantan Timur yang sangat bergantung pada air permukaan sebagai sumber kebutuhan utama. Namun perawatan itu tidak boleh merusak ekosistem yang ada — mulai dari tumbuhan air, tanaman di tepian sungai, hingga kawasan riparian yang menjadi benteng alami menjaga kualitas dan kuantitas air. Meluruskan alur serta menutup tepian sungai dengan beton (sheet pile) justru akan mengganggu kehidupan biota air seperti ikan dan udang, serta memutus rantai ekosistem yang sudah terbentuk secara alami.

Jika kita ingin terhindar dari banjir sekaligus memiliki sumber air bersih yang terjaga, sekaligus tetap berbagi ruang hidup dengan makhluk lain, maka sungai harus tetap dibiarkan berfungsi secara alami, bukan diubah menjadi kanal buatan. Lagi pula merubah sungai menjadi kanal tidak menutup kemungkinan di masa depan anak cucu cicit manusia, kehilangan sumber air bersih dan sehat. Sebab, sungai berubah menjadi parit besar yang kualitas airnya seperti air comberan, berwarna hitam pekat, beraroma anyir.


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb