ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Tujuh Tahun GMSS-SKM Mengawal Sungai Karang Mumus

September 25, 2022 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Share this news

SAMARINDA – Kurun waktu tujuh tahun bukanlah waktu yang lama, sepertinya baru kemarin saja, bergabungnya rekan-rekan wartawan dari  Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kalimantan Timur yang perduli akan lingkungan, terutama keberadaan sungai Karang Mumus, yang bisa diibaratkan sungai dijadikan bak sampah raksasa, tempat membuang sampah warga Samarinda.

Dimotori seorang wartawan bernama Misman, didukung para aktivis pecinta lingkungan maka tahun 2015 berdiri Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus atau disingkat GMSS-SKM. Kini mulai menampakan hasil, jarang terlihat sampah larut di Sungai Karang Mumus Samarinda.

Disampaikan M. Ghofar wartawan LKBN Antara yang didaulat sebagai sekretaris GMSS-SKM, keberadaan GMSS-SKM tidak bisa dilepaskan dari figur Misman, dibantu Kainan, Hermanto, Kifyatul Akhyar, Iyau Tupang, dan rekan-rekan Jurnalis PWI Kaltim.

“Saat ini paling tidak kita sudah melihat hasilnya, masyarakat sudah mulai segan membuang Sungai ke badan Sungai Karang Mumus,” ucapnya saat menyampaikan perjuangan awal pembentukan GMSS-SKM dalam rangka HUT ke-7 GMSS-SKM yang diselenggarakan di Pangkalan Pungut, jalan Muso Salim, samping jembatan Kehewanan Samarinda.

Sementara itu Wakil Walikota Samarinda Rusmadi Wongso saat menyampaikan sambutan pada HUT ke-7 GMSS-SKM menyampaikan bahwa bicara soal sungai adalah bicara soal kehidupan.

“Bagaimanapun peranan sungai sangat penting dan sebagai sumber kehidupan. Tidak ada kota Samarinda jika tidak ada Karang Mumus. Ini adalah berkah Allah, dan sudah menjadi kewajiban bagi kita yang tinggal berdampingan dengan Karang Mumus ini agar tetap terjaga dan mengalir,” ucap Rusmadi.

Menurut Rusmadi sungai Karang Mumus wajib kita pelihara dan urusi, bagaimanapun sungai Karang Mumus yang lebih dari dua pertiga wilayah mengaliir di wilayah Samarinda, jika tidak diurus dengan baik akan memberikan dampak yang sangat luar biasa, antara lain dampak banjir yang sering dirasakan warga Samarinda.

“Kita patut bersyukur karena perhatian pemerintah, bukan hanya saja pemerintah kota, tetapi juga pemerintah provinsi dan pemerintah pusat untuk memastikan sungai Karang Mumus bisa berfungsi dengan baik. Ini satu kolaborasi yang sangat luar biasa, ditambah dukungan dan kerja kerja kawan-kawan GMSS-SKM, pemerhati lingkungan untuk mewujudkan sungai Karang Mumus sebagai sumber kehidupan makhluk Allah,” kata Rusmadi, yang pada saat masih menjabat Sekda Provinsi Kaltim menyumbangkan satu buah perahu untuk dimanfaatkan relawan GMSS-SKM memungut sampah di sungai Karang Mumus.

Misman, sebagai penggagas GMSS-SKM mengungkapkan bahwa sungai Karang Mumus saat ini sudah terjaga dengan baik. “Sungai itu sebagai sarana pengairan sumber kehidupan dan sebagai pencegah banjir. Alhamdulillah kita di Samarinda sudah sepakat bahwa dibagian hilir ditata secara modern dengan adanya turap, pemanfaatan sungai untuk kepentingan ekonomi, dan dibagian ulu tetap terjaga secara alami, memberikan ruang penghidupan bagi biota sungai dan menjaga sungai tetap alami,” jelas Misman yang dalam kondisi kurang fit berjuang melawan penyakit Batu Empedu yang dideritanya, namun tetap hadir dalam acara syukuran HUT ke-7 GMSS-SKM.

Dalam acara yang di gelar penuh dengan keakraban ditandai dengan pemotongan kue ulang tahun oleh Ketua GMSS-SKM Misman diserahkan kepada Wakil Walikota Samarinda Rusmadi Wongso, dan pemotongan tumpeng dilakukan oleh Wakil Walikota Samarinda Rusmadi Wongso diserahkan kepada Misman, dan Kainan, disaksikan undang yang hadir antara lain Kepala Dispora Kaltim Agus Tianur, Camat Samarinda Kota Anis Siswantini, aktivis Lingkungan, BEM Unmul. (mun)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.