Kecapi dan Mengkudu di Makam Km 1,5

May 23, 2022 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Rizal Effendi

MINGGU lalu saya ikut mengantar  jenazah ibunda Dzonazjiansyah, sekretaris Dinas Perhubungan Balikpapan ke pemakaman Km 1,5 Rapak, Jl Soekarno-Hatta. Di sana saya bertemu Pak Arbain Side, mantan asisten III Sekkot Balikpapan yang purnatugas dan beberapa pejabat pemkot Balikpapan lainnya. Ibunda Dzona, Hj Nazirraah meninggal sehari sebelumnya karena sakit. Dia dimakamkan seliang lahat dengan suaminya yang lebih dulu wafat beberapa tahun lalu.

Makam Km 1,5 sepertinya sudah penuh sesak. Hampir tak ada lagi tempat untuk jenazah baru. “Ya, di sini boleh dibilang sudah ditutup. Hanya jenazah yang ada keluarganya di sini yang masih bisa. Itu pun dengan cara pemakaman bertumpuk,” kata seorang petugas.

Selain penuh sesak, saya melihat pemakaman Km 1,5 kurang terurus. Rumputnya tumbuh di mana-mana. Padahal habis Ramadan dan Idulfitri, yang biasanya banyak didatangi peziarah makam keluarga. Tapi kok tidak ada tanda-tanda habis dibersihkan. Pohon-pohonnya juga berjuntai lebat tak ada yang dipangkas.

Dari suasana yang kurang nyaman itu, ada juga yang menarik perhatian saya. Di situ tumbuh subur pohon mengkudu di sela-sela makam. Ada puluhan pohon mengkudu, yang lagi berbuah.  Ada buah muda berwarna hijau, sedang yang sudah masak cenderung berwarna putih dengan aroma agak menusuk hidung. Posturnya mirip nenas kecil bertotol-totol.

Di Jawa, buah mengkudu populer disebut pace. Orang Aceh menyebutnya keumeudee. Masyarakat dunia lebih mengenalnya dengan nama noni fruit (buah noni kata orang Betawi). Mengkudu berasal dari Asia Tenggara dengan nama ilmiah Morinda citrifolia. Lalu menyebar  luas di kawasan Indo-Pasifik. Gampang tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian pohon antara 3 sampai 8 meter.

Orang Betawi biasanya menggunakan daun muda dari pohon noni untuk membuat nasi goreng Betawi.  Secara tradisional masyarakat Aceh menggunakan buah mengkudu sebagai sayur dan rujak. Daunnya juga digunakan sebagai salah satu bahan nicah peugaga yang sering disajikan sebagai menu wajib buka puasa. Masyarakat Yogyakarta mengenal minuman semelak pace yang bahan utamanya dari mengkudu. Diyakini minuman itu cocok untuk mengatasi gangguan ringan seperti flu.

Penelitian membuktikan manfaat buah mengkudu antara lain untuk pendongkrak sistem imun, antidiabetes, antikanker, antiradang, antioksidan, bermanfaat bagi kesehatan sistem saraf dan kesehatan kulit, meningkatkan ketahanan fisik, hingga mempertahankan kesehatan tulang pada wanita.

Dengan segudang khasiatnya itu, tak heran kalau mengkudu jadi komoditas ekspor.  Ratusan ton mengkudu dari Jawa Timur pernah diekspor ke Korea Selatan. Karena itulah mengkudu mulai dibudidayakan oleh sejumlah petani,  sebab dapat menambah pendapatan keluarga.

Tapi kita di Kalimantan termasuk di Kaltim, mengkudu jarang dikonsumsi. Jadi tidak ada yang menanamnya secara intensif. Mengkudu tumbuh liar.  Ada di pemakaman, di pinggir sungai atau di semak liar. Itu pun sudah jarang terlihat.

Ada satu lagi pohon yang menarik perhatian saya di pemakaman Km 1,5. Kebetulan lagi berbuah. Pohonnya besar dan rimbun daunnya itu adalah pohon kecapi. Buahnya sangat banyak sebesar bola tenis berwarna kuning, membangkitkan ingatan saya sewaktu kecil, ketika masih duduk di bangku sekolah rakyat (SR sekarang SD) antara tahun 65 -70. Pohon kecapi sulit dipanjat, selain besar juga tinggi.  Dengan senjata sepotong kayu, saya dan teman-teman melempari buah kecapi. Kalau ada yang jatuh, kami rujak atau pencok dengan bumbu garam dan lombok.

Kecapi diperkirakan berasal dari Indochina dan Semenanjung Malaya. Lalu masuk ke India, Indonesia (termasuk ke Kalimantan), Mauritius dan Filipina. Dalam  bahasa ilmiah, kecapi disebut Sandoricum koetjape. Orang Batak menyebutnya sotul. Dalam bahasa Toraja disebut katapi.

Buah kecapi umumnya berasa asam sepat dan kadang terdapat tekstur manis ketika sudah matang. Kulit buahnya yang berdaging tebal dengan biji di bagian dalam mirip buah manggis. Selain bisa dimakan langsung, terkadang buah kecapi dimasak lebih dulu, dijadikan bumbu masakan, manisan dan rujak. Orang Toraja menggunakan buah kecapi sebagai bumbu masakan penguat rasa masam segar untuk hidangan kuah ikan.

Kayu pohon kecapi bermutu baik sebagai bahan konstruksi rumah, bahan perkakas atau kerajinan. Kayunya mudah dikerjakan dan mudah dipoles.

Berbagai bagian pohon kecapi memiliki khasiat obat. Rebusan daunnya digunakan sebagai penurun demam. Serbuk kulit batangnya untuk pengobatan cacing gelang. Akarnya untuk obat kembung, sakit perut,i dan diare. Serta untuk penguat tubuh wanita setelah melahirkan.

Sama dengan mengkudu, pohon kecapi dan buahnya sudah jarang kita temukan. Tak ada yang membudidayakan. Anak-anak milineal tidak mengenai buah kecapi. Kecuali mungkin alat musik kecapi, yang mirip gitar dipetik. Tapi tidak bisa dimakan.

TERANCAM  PUNAH

Saya merasa perlu menulis pohon kecapi dan mengkudu berkaitan tanggal 22 Mei ini kita merayakan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional (Kehati) atau International Day for Biological Diversity. Diperingati setiap tahun. Kesepakatan ini dibuat PBB sebagai hari untuk meningkatkan kesadaran dan menumbuhkan kecintaan warga dunia terhadap keanekaragaman hayati atau biodiversitas di bumi.

Pada saat ini bumi kita tidak hanya krisis ekologi, pandemi Corona pun masih melanda berbagai penjuru dunia termasuk kita di Indonesia. Pandemi Corona adalah sebuah peringatan kepada kita untuk berhenti melakukan hal-hal yang melebihi daya dukung bumi.

Penggundulan hutan, pengurasan perut bumi untuk diambil minyak, gas, dan batu bara, menyebabkan terjadinya perubahan iklim, pemanasan global, dan hilangnya Kehati pada tumbuhan, hewan dan mikroba, sehingga mempercepat munculnya virus-virus baru.

Para pencinta lingkungan dunia sangat tidak senang hutan Kalimantan termasuk di Kaltim, yang dikenal sebagai hutan tropis, dibabat habis-habisan untuk diambil kayunya, diganti tanaman hutan industri atau ditanami kelapa sawit seperti sekarang ini. Banyak kekayaan flora dan fauna kita yang hilang seperti juga pohon mengkudu dan kecapi, padahal kita belum bisa memanfaatkannya secara maksimal dan berkelanjutan untuk kehidupan kita dan planet bumi di masa mendatang.

Ketika orang beramai-ramai datang ke lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN) di Sepaku yang luasnya hampir 50 ribu hektare, tak ada seekor pun hewan hutan seperti orangutan, monyet, dan rusa sambar berkeliaran di sana. Suara burung juga tak terdengar. Pohon-pohon alamnya seperti meranti dan ulin sudah berganti dengan pohon tanaman industri seperti akasia dan eucalyptus.

Semua orang setuju karena Presiden Jokowi mengusung tema forest  city dalam membangun kawasan IKN. Sangat bersejarah dan mulia. Sangat pro-lingkungan. Tinggal kita tunggu pelaksanaannya. Karena konsep ini mudah diucapkan, tapi tidak gampang menanam hutan sesungguhnya. Wallahua’lam. @@@@@

Kaltim Komitmen Rawat Hutan dan Lingkungan

May 22, 2022 by  
Filed under Kalimantan Timur

BALIKPAPAN – Dalam gelaran Pre-Summit III Youth 20 (Y20) di Kota Balikpapan, Gubernur Provinsi Kalimantan Timur Isran Noor mengatakan dipilihnya Kota Balikpapan sebagai tuan rumah Y20 Pre-Summit tentu akan membuka mata dunia terhadap Indonesia, khususnya Kalimantan Timur dan Kota Balikpapan, tentang bagaimana cara kita merawat hutan dan menjaga lingkungan.

Isran Noor menegaskan Provinsi Kalimantan Timur akan terus berupaya memelihara hutan eksisting dan berkomitmen tinggi dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca  untuk perubahan yang lebih baik. Kekhawatiran banyak masyarakat dun atenang pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kaltim yang dituding merusak hutan juga dibantah oleh Isran Noor.

Dirinya menegaskan pemindahan dan pembangunan Ibu Kota Nusantara di Sepaku, Penajam Paser Utara sudah tepat dan mendapatkan dukungan dari seluruh pihak. Isran pun menyebut bahwa pembangunan kawasan IKN tetap mempertahankan kelestarian hutan dan lingkungan hidup di sekitar.

“Jangan khawatir, itu tidak akan merusak hutan. Hutannya akan kita lakukan perbaikan di ibu kota nantinya. Karena ibu kota akan dibangun dan dikembangkan dengan konsep green city, forest city, sustainable city, smart city and modern city. Tidak akan ada kota di dunia yang menyamai Ibu Kota Negara Nusantara,” jelas Isran Noor di Balikpapan, Sabtu (21/5/2022)

Acara Pre Summit III Y20 Indonesia di Kota Balikpapan ini dilaksanakan pada 21-22 Mei 2022 bertempat di  Hotel Novotel Balikpapan serta mengangkat tema “Planet yang Berkelanjutan dan Layak Huni”. Isran mengajak para generasi muda untuk menjadi inovatif dan kreatif serta berperan aktif dalam aksi pemeliharaan lingkungan hidup, agar dunia ini dapat berkelanjutan bagi manusia lainnya.

Kegiatan ini juga dilaksanakan via webinar secara nasional maupun internasional ini, Isran Noor menjelaskan peran generasi muda sangat penting dan strategis dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup dan hutan.

Gelaran Pre-Summit  III Y20 di Kota Balikpapan memasuki pelaksanaan ketiga. Setelah Palembang, Sumatera Selatan dan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kota Balikpapan mendapat giliran ketiga dan akan diakhiri dalam agenda utama perhelatan Y20 Summit yang akan dilaksanakan di Jakarta dan Bandung pada Juli mendatang.

Sementara itu, Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar mengungkapkan pemilihan Balikpapan menjadi tuan rumah Y20 Pre-Summit tidak lepas dari sejumlah prestasi yang diraih kota minyak ini. Misalnya, Kota Balikpapan sebagai kota terbersih se-ASEAN pada Environmentally Sustainable Cities (ESC) Award di tahun 2021 dan penghargaan yang sama pada 2014.

“Tema ini menjadi tantangan utama bagi kita semua khususnya generasi muda untuk mewujudkan planet yang berkelanjutan dan layak huni, dengan berkontribusi pada program penurunan emisi gas rumah kaca dan menyelamatkan sumber daya hutan Indonesia khususnya di Kalimantan yang merupakan salah satu paru-paru dunia. Peran generasi muda sangat penting dan strategis dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup dan hutan,” ujar Siti Nurbaya Bakar.

Tampak hadir baik secara offline maupun online delegasi dari Argentina, India, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, Rusia, Arab Saudi, Singapura, Thailand, Vietnam, Afghanistan, Kanada, Meksiko, Amerika Serikat, Taiwan, Perancis, Jerman, Italia, Turki Inggris, Afrika Selatan, Australia, Tiongkok, dan tuan rumah Indonesia. (*/adv diskominfo kaltim)

Puluhan Sapi Mati di Desa Junrejo Mati Mendadak

May 22, 2022 by  
Filed under Serba-Serbi

BATU – Jajaran Polsek Junrejo Polres Batu langsung gerak cepat dalam penanganan informasi matinya puluhan ternak hewan sapi di Dusun Jeding RW 7 dan 8, Desa Junrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu, Minggu ( 22/5/2022).

Kapolres Batu melalui Kapolsek Junrejo Junrejo AKP Anton Hendry Subagijo mengatakan sudah mendapatkan informasi tersebut, dan jajarannya langsung bertindak langsung dengan mengkoordinasikan dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Batu.

“Pihak kepolisian langsung menyampaikan ke dinas terkait, termasuk koordinasi dengan dokter hewan untuk mengetahui penyebab matinya puluhan sapi milik warga” ucap AKP Anton.

Menurut Anton, Dari data informasi yang diterima, ada 10 sapi yang mati mendadak dan 8 sapi terpaksa di potong. Ini terjadi dalam waktu seminggu.

“Hingga saat ini puluhan sapi yang mati tersebut belum diketahui penyebabnya. Namun banyak kemungkinan bisa terindikasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) karena diketahui penularan PMK sangat cepat” lanjutnya.

Anton juga menyatakan, pihaknya langsung memberikan imbauan kepada peternak, untuk langsung membersihkan kandang dengan menyemprot desinfektan, serta tidak melakukan mobilitas keluar dan masuknya sapi.

“Dan diharapkan kepada peternak, segera melaporkan kepada pihak kepolisian atau petugas PPL dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Batu apabila kedapatan ternak sapi yang terindikasi terjangkit PMK” terangnya.

Sementar Suwadi, salah satu warga peternak sapi berharap Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Batu bisa bekerja cepat untuk mengatasi dan mengetahui penyebab kematian hewan ternaknya. (Buang Supeno)

SA Institut Beri Apresiasi Kejaksaan Agung  Tangkap Tersangka Baru Kasus Migor

May 22, 2022 by  
Filed under Serba-Serbi

Suparji Ahmad

BATU – Direktur Solusi dan Advokasi Institut (SA Institut), Suparji Ahmad mengapresiasi langkah Kejaksaan Agung (Kejagung) yang terus berupaya membongkar skandal minyak goreng. Terbaru, jajaran yang digawangi Jaksa Agung ST Burhanuddin itu berhasil meringkus pria berinisial LCW.

Suparji menilai penangkapan ini langkah progresif karena yang bersangkutan dikenal sebagai pengamat ekonomi dan juga dikabarkan konsultan perusahaan eksportir. Yang mana diantara oknumnya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

“Kita mengapresiasi jajaran kejaksaan yang terus berupaya mengusut tuntas kasus yang sudah membuat masyarakat susah ini. Penetapan LCW juga merupakan langkah progresif dari kejaksaan,” kata Suparji dalam keterangan persnya.

Pria yang juga Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Al-Azhar Indonesia ini menduga kuat tersangka LCW mempunyai kepentingan bisnis dalam tata niaga minyak goreng. Terlebih perannya yang kemungkinan besar sangat sentral di lingkaran tersebut.

“Terlebih dalam waktu yang sama LCW sebagai orang swasta tanpa jabatan struktural diberikan peran di Kemendag untuk mengatur tata niaga minyak goreng bersama tsk IWW (dirjen daglu). Maka Kejaksaan perlu mendalami lebih jauh soal LCW itu,” tuturnya.

Dikatakan Supari, pengambilan kebijakan itu ternyata pemberian izin ekspor dilakukan secara melawan hukum karena syarat 20 % distribusi dimanipulasi seolah-olah telah memenuhi syarat tanpa cek and ricek di lapangan,” sambungnya.

Supari berharap, tim penyidik tetap fokus terhadap penyelesaian perkara atas 5 tersangka yang telah ditetapkan. Penyidik, kata dia, dalam penyelesaian perkara perlu fokus dan tidak bias dalam penanganan perkara.

“Artinya tidak perlu melakukan pemeriksaan terhadap pihak-pihak lain yg tidak terkait dengan substansi perkara. Dan penyidik sampai saat ini tetap fokus dan belum mendapat keterangan dan fakta terkait pihak lain dan perusahaan pengekspor minyak lainnya,” tuturnya.

Di sisi lain, ia tetap mengimbau masyarakat terus mengawal kasus ini agar penegakan hukum berjalan secara profesional berjalan sesuai temuan alat bukti. Yang terpenting, Suparji menekankan penegakan hukum harus berorientasi pada keadilan yang beradab dan tidak berlaku zalim terhadap hak asasi setiap warga negara. (Buang Supeno)

Sekat Truk Ternak di Perbatasan, Upaya Polisi Cegah Penyebaran PMK di Batu

May 22, 2022 by  
Filed under Serba-Serbi

BATU  – Merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada banyak hewan ternak sapi di Kota Batu, Jawa Timur, membuat pihak kepolisian melakukan sejumlah tindakan yang dilakukan untuk membantu mencegah penyebaran PMK.

Kapolres Batu AKBP I Nyoman Yogi Hermawan  menyebut  kepolisian akan bersinergi dengan Dinas Pertanian untuk berkoordinasi dalam rangka penanganan penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak itu.

“Perintah dari Kapolri jelas, kami akan membackup masyarakat yang menemukan atau mengetahui informasi terkait PMK baik penyakit di hewan ternak atau pun ada informasi yang terkontaminasi PMK dapat dilaporkan” terangnya,Sabtu( 21/5/2022).

“Laporkan ke dinas terkait ataupun ke polisi atau menghubungi Polsek terdekat untuk kami lakukan antisipasi, apakah informasi itu benar atau tidak,” katanya

Terkait distribusi hewan ternak di Kota Batu, Polres Batu akan mengawasi secara ketat. Setelah beberapa hari yang lalu Polres Batu sudah menutup beberapa pasar hewan.

“Sekarang petugas juga melakukan penyekatan di jalan jalan atau perbatasan untuk masuknya ternak ke Kota Batu,” tambahnya

Penyekatan dilakukan untuk memeriksa hewan ternak yang masuk dan keluar dari wilayah Batu ,dalam rangka membatasi penyebaran PMK.

Truk atau mobil pembawa hewan ternak yang melintas di lokasi, diperiksa dan dicek satu per satu.

“Langkah ini adalah instruksi langsung dari Bapak Kapolri dan Kapolda Jawa Timur. Sasarannya di perbatasan, untuk melakukan pemeriksaan terhadap truk atau kendaraan yang memuat hewan ternak,” kata Yogi.

Seperti yang tampak kali ini penyekatan dilakukan di Pos Kambal Ngantang, tampak petugas memberhentikan kendaraan pengangkut hewan ternak untuk diperiksa kesehatanya.

Ditemui terpisah Kapolsek Ngantang AKP Hanis Siswanto yang mewakili Kapolres Batu membenarkan bahwa pihaknya sedang melakukan pengawasan dan penyekatan hewan ternak masuk ataupun keluar wilayah Ngantang.

“Sesuai instruksi dari Pimpinan kami akan laksanakan pengecekan secara kontinyu bergabung dengan Dinas terkait. Hari ini kami melakukan pengawasan di daerah Kambal, kendaraan kami periksa apakah mengangkut hewan ternak yang sakit atau tidak,” ungkapnya.(Buang Supeno)

« Previous PageNext Page »

  • vb