Intimate Wedding Jadi Pilihan Gen Z

January 11, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

Preferensi Generasi Z terhadap konsep intimate wedding menandai perubahan cara pandang generasi muda dalam memaknai pernikahan. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang identik dengan resepsi besar dan undangan ratusan tamu, Gen Z justru cenderung memilih pernikahan berskala kecil yang lebih personal dan intim.

Bagi Gen Z, pernikahan dipandang sebagai momen sakral yang seharusnya dinikmati bersama orang-orang terdekat, bukan sekadar ajang seremonial. Faktor kedekatan emosional, efisiensi anggaran, serta keinginan menghadirkan suasana yang lebih hangat menjadi alasan utama di balik pilihan tersebut.

Hal itu disampaikan Nadia (24), seorang Gen Z yang telah menetapkan intimate wedding sebagai konsep pernikahan impiannya.

“Aku pengin wedding yang benar-benar terasa. Yang hadir orang-orang terdekat yang tahu perjalanan kami. Intimate wedding itu wedding dream aku, karena lebih hangat, lebih tenang, dan aku bisa menikmati momennya tanpa terbebani banyak hal,” ujar Nadia.

Namun, di tengah tren tersebut, konsep intimate wedding belum sepenuhnya mudah diterima, terutama oleh kalangan orang tua. Dalam konteks budaya Indonesia, pernikahan masih sering dimaknai sebagai hajatan besar keluarga, simbol status sosial, sekaligus bentuk penghormatan kepada kerabat dan lingkungan sekitar.

Perbedaan sudut pandang ini kerap memunculkan dinamika tersendiri dalam proses perencanaan pernikahan. Banyak orang tua masih beranggapan bahwa pernikahan ideal adalah yang mengundang banyak tamu sebagai wujud menjaga relasi sosial dan nama baik keluarga.

Meski demikian, tren intimate wedding tidak serta-merta menghapus nilai budaya. Sebagian pasangan Gen Z memilih jalan tengah dengan tetap memasukkan unsur adat atau tradisi keluarga, namun dalam skala yang lebih sederhana dan terbatas. (intan)

Gen Z Pimpin Indeks Toleransi Beragama Indonesia 2025

January 11, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Di tengah masyarakat Indonesia yang semakin beragam, sikap toleran menjadi elemen penting dalam menjaga harmoni sosial. Perbedaan keyakinan, cara beribadah, hingga tradisi keagamaan kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang menuntut sikap saling menghargai. Menariknya, cara generasi muda memandang perbedaan tersebut menunjukkan kecenderungan yang semakin terbuka.

Berdasarkan data yang dilansir dari GoodStats Data, Generasi Z mencatatkan tingkat toleransi beragama tertinggi pada 2025 dengan skor 80,03. Angka ini berada di atas generasi lain, yakni Gen X (78,97), Baby Boomers (78,81), dan Milenial (78,77).

Data tersebut berasal dari Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 yang dirilis Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam bekerja sama dengan Alvara Strategic Research. Survei dilakukan secara kuantitatif terhadap 1.208 responden Muslim di 34 provinsi menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error 2,89 persen.

Penilaian toleransi beragama dalam survei ini mencakup sejumlah indikator, antara lain penerimaan terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, sikap tidak mencela keyakinan berbeda, penolakan terhadap tindakan persekusi, serta tidak menyebarkan ujaran kebencian berbasis agama.

Tingginya tingkat toleransi Gen Z juga tercermin dari pandangan generasi muda terhadap perbedaan keyakinan. Nadya (22), salah satu Gen Z, menilai keberagaman agama seharusnya tidak menjadi sumber konflik.

“Menurutku, agama itu urusan masing-masing sih. Yang penting saling menghormati dan nggak ikut campur keyakinan orang lain,” ujarnya.

Karena itu, penguatan nilai toleransi tetap perlu dijaga melalui pendidikan, keteladanan tokoh masyarakat, serta kebijakan yang mendorong kerukunan. Sikap terbuka Gen Z dinilai dapat menjadi modal sosial penting bagi masa depan Indonesia yang lebih harmonis, tanpa mengesampingkan nilai-nilai keimanan yang diyakini setiap pemeluk agama. (intan)

Kejati Kaltim Dampingi PLN Tangani Sengketa Hukum Ketenagalistrikan

January 10, 2026 by  
Filed under Berita

Penandatanganan Dokumen Perjanjian Kerja Sama antara PT. PLN UID Kaltim Kaltara dengan Kejaksaan Negeri se Kaltim

‎BALIKPAPAN — PT PLN (Persero) UID Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara serta PT PLN UIP Kalimantan Bagian Timur menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Kejaksaan Negeri se-Kalimantan Timur terkait koordinasi pelaksanaan tugas dan fungsi di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun). Kegiatan tersebut berlangsung di Aula PLN Hub Balikpapan, Jumat (9/1/2026).

‎Penandatanganan PKS dirangkaikan dengan paparan penerangan hukum oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur, Supardi kepada jajaran manajemen PT PLN (Persero) di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Paparan tersebut menekankan optimalisasi peran Jaksa Pengacara Negara (JPN) dalam pendampingan penyelesaian permasalahan hukum, baik secara litigasi maupun nonlitigasi.

‎Kajati Kaltim menjelaskan, kerja sama ini bertujuan untuk mengoptimalkan pelaksanaan tugas dan fungsi para pihak serta meningkatkan efektivitas penanganan dan penyelesaian masalah hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2021 tentang Perubahan atas UU Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

‎“Di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara, Kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah,” ujar Supardi.

‎Menurutnya, instansi pemerintah, termasuk BUMN seperti PT PLN, dapat memanfaatkan JPN untuk bantuan hukum, pertimbangan hukum, pelayanan hukum, penegakan hukum, serta tindakan hukum lainnya.

‎Supardi menegaskan, PT PLN sebagai BUMN strategis yang berperan dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Ibu Kota Nusantara (IKN), memiliki kepentingan hukum yang besar sehingga membutuhkan pendampingan hukum yang profesional, akuntabel, dan berlandaskan kepastian hukum.

‎Melalui PKS ini, Kejaksaan diharapkan dapat memberikan perlindungan hukum maksimal bagi PT PLN, termasuk dalam menjaga aset dan infrastruktur ketenagalistrikan. Ke depan, kerja sama tersebut akan ditindaklanjuti dengan pemberian Surat Kuasa Khusus kepada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur untuk penyelesaian potensi sengketa secara optimal.

‎Kegiatan ini dihadiri General Manager PT PLN UID Kaltimra Muchammad Chaliq Fadli, General Manager PT PLN UIP Kalimantan Bagian Timur Basuki Widodo, General Manager PT PLN UIP3B Riko Ramadhano Budiawan, Senior Regional Manager PT PLN ICON Yusuf Hadiyanto, para Asisten Kejati Kaltim, seluruh Kepala Kejaksaan Negeri se-Kalimantan Timur beserta jajaran, serta Kabag Tata Usaha Kejati Kaltim.*

Gen Z dan Tren Soft Saving, Menabung Santai di Era Modern

January 10, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

Generasi Z kini tengah mengubah cara pandang terhadap tabungan dan pengelolaan keuangan dengan mengadopsi tren baru yang dikenal sebagai soft saving. Berbeda dengan menabung secara konvensional yang kerap menekankan target besar di masa depan, soft saving menekankan keseimbangan antara kebutuhan finansial saat ini dan pemenuhan kualitas hidup.

Menurut studi yang dimuat dalam Prosperity Index oleh Intuit, tiga dari empat Gen Z memilih kualitas hidup yang lebih baik sekarang dibandingkan uang ekstra di bank. Pendekatan tersebut menunjukkan perubahan signifikan dalam cara generasi ini memandang uang dan masa depan.

Apa Itu Soft Saving?

Istilah soft saving merujuk pada cara menabung yang lebih fleksibel dan tanpa tekanan target besar. Gen Z menyisihkan uang dalam jumlah kecil secara konsisten, lalu menggunakan sebagian pendapatannya untuk pengalaman hidup, kesehatan mental, atau pengembangan diri bukan hanya menimbun tabungan untuk masa pensiun atau tujuan jangka panjang semata.

Pengertian ini sejalan dengan fenomena soft life, gaya hidup yang fokus pada kenyamanan, kesejahteraan emosional, dan mengurangi stres finansial sikap yang kerap menjadi perbincangan di media sosial.

Hasil Prosperity Index Study menunjukkan mayoritas Gen Z lebih memilih pengalaman hidup dan keseimbangan ketimbang menyimpan dana besar untuk masa depan.  Data dari survei lain juga menunjukkan tingkat menabung untuk pensiun di kalangan Gen Z lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya, meskipun mereka tetap menyisihkan sebagian pendapatan mereka.

Menurut Intuit, 73% Gen Z lebih memilih kualitas hidup kini daripada menambah uang di rekening bank mereka. Selain itu, 66% dari generasi ini mengatakan mereka ragu akan memiliki cukup uang untuk pensiun di masa mendatang.

Pandangan serupa juga datang dari kalangan Gen Z yang menjalani fase transisi menuju kemandirian finansial. Di tengah tuntutan ekonomi dan keinginan untuk tetap mengembangkan diri, sebagian anak muda memilih cara menabung yang lebih lentur dan realistis. Salah satunya disampaikan Ruri, seorang Gen Z yang kini mulai menata keuangan pribadinya dengan pendekatan soft saving.

“Bagi saya, menabung bukan berarti harus besar sejak awal. Saya ingin bisa ikut kursus, traveling minimal sekali setahun, dan juga tetap punya tabungan darurat. Soft saving membantu saya merasa tidak tertekan secara finansial sekaligus tetap menikmati hidup,” ujar Ruri.

Menurut Ruri, soft saving membantunya menetapkan prioritas yang realistis, “Kalau terlalu memaksa diri menyetop semua keinginan demi target tabungan yang tinggi, justru saya stres dan kehabisan motivasi,” pungkasnya. (intan)

Gen Z dan Work-Life Balance, Menyeimbangkan Hidup di Era Baru Kerja

January 10, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

Bagi generasi Z, keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan bukan sekadar istilah manis di brosur perusahaan melainkan prioritas utama dalam memilih dan menjalani pekerjaan. Studi akademik di berbagai lembaga menunjukkan, generasi yang kini berusia 18–28 tahun memiliki pandangan dan kebutuhan yang berbeda dari generasi sebelumnya terkait dunia kerja.

Menurut penelitian di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, work-life balance berpengaruh positif dan signifikan sebesar 44,3% terhadap kepuasan kerja di kalangan Gen Z yang bekerja di perusahaan startup di Bekasi.

Hasil ini menunjukkan semakin baik keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, semakin tinggi kepuasan kerja yang dirasakan Gen Z  yang berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan mental karyawan.

Kajian lain yang dikumpulkan melalui tinjauan pustaka juga menegaskan, Gen Z jauh lebih menghargai keseimbangan tersebut daripada sekadar gaji besar: kemampuan untuk bersantai, berinteraksi dengan keluarga, dan mengejar hobi terbukti membantu mengurangi stres serta meningkatkan motivasi.

Selain itu, survei global oleh Randstad menempatkan work-life balance sebagai prioritas teratas di atas gaji dalam keputusan memilih pekerjaan sebuah tren yang lebih kuat dirasakan di kalangan Gen Z dibandingkan dengan generasi yang lebih tua.

Harapan dan narasi Gen Z tentang work-life balance juga tampak dalam suara langsung dari angkatan kerja ini.

“Saya ingin kerja yang fleksibel agar punya waktu berkualitas dengan keluarga dan teman, bukan hanya mengejar angka di laporan kerja,” ujar Laras, 24 tahun pekerja creative di Samarinda.

“Banyak teman saya rela mengambil pekerjaan dengan gaji lebih kecil asal jamnya bisa diatur fleksibel. Saya percaya hidup itu lebih dari sekadar bekerja dari jam 9 pagi sampai 5 sore,” tambah nya.

Narasi ini mencerminkan nilai yang berkembang, Gen Z bekerja untuk hidup bukan hidup hanya untuk bekerja.

Dalam praktiknya, perusahaan yang mampu menciptakan lingkungan kerja yang menghargai keseimbangan hidup pribadi dan profesional umumnya melihat keuntungan berupa peningkatan kepuasan kerja dan loyalitas pekerja muda. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb