Pekan Raya Kaltim 2026 Warnai Hari Jadi Provinsi

January 10, 2026 by  
Filed under Kalimantan Timur

SAMARINDA – Rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-69 Provinsi Kalimantan Timur diwarnai dengan dibukanya Pekan Raya Kaltim (PRK) 2026 di kawasan GOR Gelora Kadrie Oening, Sempaja, Samarinda, Jumat (9/1/2026).

PRK 2026 merupakan pameran pembangunan yang menghadirkan UMKM, layanan publik, serta program unggulan pemerintah daerah. Ini menjadi salah sarana bagi pemerintah untuk mendekatkan diri dengan masyarakat.

“Kegiatan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk melihat pelayanan dan potensi daerah,” kata Gubernur kaltim Rudy Mas’ud.

Gubernur juga melakukan peninjauan ke sejumlah stan, termasuk sektor perbankan, UMKM, dan layanan kesehatan. Menurutnya, keterlibatan berbagai instansi dalam PRK menunjukkan upaya kolaboratif dalam pembangunan daerah.

“Kita ingin masyarakat merasakan kehadiran pemerintah secara langsung, termasuk dalam pelayanan dasar,” ujarnya.

Melalui PRK 2026, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berharap momentum peringatan HUT ke-69 ini dapat memperkuat peran UMKM, meningkatkan kualitas layanan publik, serta menumbuhkan semangat kebersamaan dalam mendukung pembangunan daerah. (*)

Rayakan HUT ke 69, Komitmen Sukses Menuju Generasi Emas

January 10, 2026 by  
Filed under Kalimantan Timur

SAMARINDA – Provinsi Kalimantan Timur genap berusia 69 tahun. Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 provinsi ini ditandai pelaksanaan upacara di Gelora Kadrie Oening, Sempaja, Jumat (9/1/2026).

Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud sebagai inspektur upacara (Irup) menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi melanjutkan pembangunan daerah melalui visi besar Kaltim Sukses Menuju Generasi Emas, yakni Kalimantan Timur yang maju perekonomiannya, unggul sumber daya manusianya, berkeadilan, serta berkelanjutan lingkungannya.

“Visi tersebut kami jabarkan melalui misi penguatan kualitas pendidikan dan kesehatan, pembangunan infrastruktur yang merata dan berkeadilan, pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, serta tata kelola pemerintahan yang profesional, transparan, dan berorientasi pada pelayanan,” ujar Rudy Mas’ud.

Rudy menegaskan, keberhasilan pembangunan daerah tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi, melainkan dari sejauh mana pembangunan tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara adil dan merata.

Gubernur juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan HUT Provinsi tahun 2026 sebagai penguat tekad untuk terus bekerja dengan integritas, melayani dengan hati, serta membangun Kalimantan Timur dengan semangat keadilan dan keberlanjutan.

“Dirgahayu ke-69 Provinsi Kalimantan Timur. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa, melimpahkan rahmat-Nya kepada Bumi Etam, membiarkan kemakmuran mengalir deras seperti Sungai Mahakam, serta mengikat hati kita dalam simpul persatuan yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan, dan tak tergerus oleh zaman,” harapnya.

Pada kesempatan tersebut juga diserahkan sebanyak 21 penghargaan Arindama kepada 10 kabupaten/kota. Penghargaan tersebut mencakup kategori pelayanan publik, pembangunan ekonomi, serta camat berprestasi terbaik sebagai bentuk apresiasi atas kinerja dan kontribusi dalam pembangunan daerah.

Upacara puncak peringatan HUT ke-69 Provinsi Kalimantan Timur tahun ini juga dimeriahkan dengan penampilan tarian massal yang melibatkan sekitar 560 siswa-siswi dari berbagai sekolah. (praba)

Ngemil Es Batu, Bahaya yang Sering Dianggap Sepele

January 10, 2026 by  
Filed under Kesehatan

Kebiasaan ngemil atau mengunyah es batu yang sering dianggap menyegarkan ternyata memiliki dampak negatif yang serius bagi kesehatan, terutama kesehatan gigi dan tubuh. Para ahli kesehatan gigi dan penelitian medis menunjukkan kebiasaan ini dapat menyebabkan kerusakan gigi, gangguan rahang, hingga menjadi tanda kondisi medis lain yang mendasar.

Salah satu penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal medis Medical Hypotheses menunjukkan, kebiasaan pagophagia, istilah medis untuk keinginan kompulsif mengunyah es batu sering dikaitkan dengan defisiensi zat besi atau anemia.

Studi ini menemukan, pada individu dengan anemia defisiensi besi, rasa ingin mengunyah es batu lebih tinggi dibandingkan dengan orang tanpa anemia, dan dalam beberapa kondisi dapat meningkatkan aliran darah ke otak sehingga meningkatkan respons kognitif pada subjek anemik yang diuji dalam penelitian tersebut.

Kajian lain yang tersedia melalui PubMed juga menggambarkan pagophagia sebagai kondisi yang sering terlihat pada pasien dengan anemia defisiensi besi, dan kebiasaan ini menerima perhatian di kalangan medis karena dampaknya pada kesehatan serta kemungkinan koneksinya dengan perubahan fisiologis tubuh.

Dampak Kesehatan yang Terbukti

1. Kerusakan Enamel dan Retakan Gigi
Menurut Cleveland Clinic, kebiasaan mengunyah es batu secara berulang dapat merusak lapisan pelindung gigi (enamel), menyebabkan retakan kecil yang lama-kelamaan berkembang menjadi keretakan besar, bahkan membuat gigi pecah atau membutuhkan perawatan restoratif yang kompleks seperti mahkota atau saluran akar.

2. Sensitivitas Gigi dan Nyeri
Es batu yang sangat dingin dan keras dapat menyebabkan sensitivitas pada gigi, membuat seseorang merasakan nyeri tajam saat mengonsumsi makanan panas atau dingin lainnya. Kerusakan enamel juga meningkatkan risiko pembentukan lubang gigi.

3. Gangguan Sendi Rahang (TMJ)
Tekanan yang berulang dari mengunyah es batu dapat menambah beban pada otot dan sendi temporomandibular (TMJ), yang dapat menyebabkan nyeri rahang kronis atau masalah fungsi rahang jangka panjang.

4. Tanda Potensial Masalah Kesehatan Lainnya
Kebiasaan yang kompulsif ini bisa menjadi tanda kondisi medis tertentu, seperti kekurangan zat besi atau anemia. Para peneliti menunjukkan bahwa pagophagia sering muncul bersamaan dengan kondisi kekurangan zat besi, meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami secara ilmiah.

Berbeda dengan sebagian orang yang menghindari kebiasaan tersebut, Mariam, 23 tahun, justru mengaku gemar mengunyah es batu dalam kesehariannya. Menurutnya, kebiasaan itu muncul tanpa disadari dan terasa sulit dihentikan.

“Mungkin karena sensasi dingin dan renyahnya, jadi kecanduan dan akhirnya jadi kebiasaan,” ujar Mariam saat diwawancarai.
Namun, Mariam menyadari, kebiasaan tersebut bukan tanpa risiko, terutama setelah mengetahui dampak kesehatannya dari berbagai informasi medis.

Mariam pun memberi pesan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak meniru kebiasaannya secara berlebihan.

“Tapi ini nggak recommended ya. Bahaya juga soalnya buat kesehatan kalau lama-lama dan jadi kebiasaan,” tutupnya. (intan)

Me Time Jadi Cara Gen Z Menjaga Kesehatan Mental

January 10, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

Dalam kultur kerja dan sosial yang semakin menekan generasi muda, me time bukan lagi sekadar jargon gaya hidup tetapi menjadi kebutuhan penting bagi kesejahteraan mental Gen Z. Istilah ini merujuk pada waktu yang sengaja diluangkan seseorang untuk sendiri, melakukan aktivitas yang mereka nikmati, demi merawat kesehatan pikiran dan emosi.

Menurut definisi dalam Oxford Dictionary, me time adalah ketika seseorang terutama yang biasanya sibuk menyisihkan waktu untuk santai dan menikmati apa yang disukai tanpa gangguan.

“Kalau aku nggak sempat me time, dalam seminggu rasanya kepala susah fokus. Aku jadi gampang panik kalau ada tugas banyak atau deadline kerja nempel terus,” ujar puja (23), mahasiswa dari Bandung.

Sementara menurut Wulan (23), guru muda di Tasikmalaya, me time adalah cara untuk mengembalikan energi.

“Aku biasanya jalan kaki sendirian atau main main sepeda. Itu bikin aku merasa lebih tenang dan siap menghadapi minggu yang padat,” ujarnya.

Aktivitas me time Gen Z sangat beragam, dari tidur lebih awal, mendengarkan musik, menonton konten favorit, hingga sekadar menonaktifkan notifikasi ponsel. Survei menunjukkan bahwa tidur menjadi pelarian utama bagi Gen Z (59 %), diikuti oleh musik (55 %) dan media sosial (49 %).

Kegiatan santai lain seperti menonton film, membaca buku, atau berjalan sendiri juga kerap menjadi pilihan. Penelitian lain menyebut, me time bisa berupa mematikan notifikasi selama beberapa jam untuk fokus pada pikiran sendiri.

Fenomena burnout, terutama di dunia kerja, menjadi salah satu alasan Gen Z mengambil me time. (intan)

Ganti Scroll Tak Habis-habis, Nonton Podcast Edukasi Jadi Pilihan

January 10, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Menonton podcast kini menjadi kebiasaan baru yang mulai digemari anak muda. Perlahan, aktivitas yang dulu dipenuhi scroll media sosial tanpa henti, kini bergeser ke tontonan yang lebih tenang, berdurasi panjang, dan sarat makna.

Podcast hadir sebagai “teman dengar” yang ramah. Bisa dinikmati sambil rebahan, makan, bersih-bersih kamar, bahkan sebelum tidur. Isinya pun beragam, mulai dari kesehatan mental, pengembangan diri, hingga obrolan reflektif yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bagi sebagian Gen Z, podcast bukan sekadar hiburan, tetapi juga cara memulai kebiasaan baik. Alih-alih lelah mengejar tren, podcast memberi ruang untuk berhenti sejenak, mendengar, dan belajar tanpa tekanan.

Salah satunya dirasakan Intan, mahasiswi yang kini lebih memilih menonton podcast dibanding terus-menerus berselancar di media sosial. Menurutnya, podcast memberi nilai tambah yang tidak selalu ia dapatkan dari konten singkat.

“Aku sekarang lebih sering nonton podcast daripada scroll sosmed. Rasanya lebih tenang, dapat isinya juga,” ujar Intan.

Intan mengaku rutin mengikuti beberapa kanal YouTube podcast edukatif seperti Satu Persen, Suara Berkelas, dan podcast Dr. Aisyah Dahlan. Baginya, konten-konten tersebut bukan hanya enak didengar, tetapi juga relevan dengan proses mengenal dan memperbaiki diri.

“Podcast-podcast itu nambah value dan pengetahuan. Aku suka self improvement, jadi pembahasannya cocok banget. Nggak kerasa, tapi ada yang nyantol di kepala,” katanya.

Tren ini juga menunjukkan perubahan cara Gen Z mengonsumsi informasi. Jika sebelumnya konten serba cepat dan singkat lebih diminati, kini banyak anak muda justru menikmati pembahasan yang mendalam, pelan, dan penuh makna. Podcast memberi ruang untuk berpikir, merenung, bahkan memahami emosi diri sendiri.

Selain itu, podcast edukasi dinilai lebih fleksibel. Tidak menuntut fokus penuh seperti membaca, namun tetap memberi asupan pengetahuan. Hal ini membuat podcast mudah masuk ke rutinitas harian, tanpa terasa menggurui.

Peralihan dari sekadar hiburan ke tontonan yang bernilai ini menjadi sinyal positif. Di tengah derasnya arus informasi digital, Gen Z mulai memilih konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menumbuhkan. Podcast pun perlahan menjadi salah satu pintu kecil menuju kebiasaan baik pelan-pelan, tapi berdampak. (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb