Menguji Nyali Demokrasi di Bawah Bayang KUHP Baru

January 5, 2026 by  
Filed under Opini

Oleh: Bagus Sudarmanto

Tahun 2026 menjadi titik nadir sekaligus ujian sesungguhnya bagi jurnalisme Indonesia. Setelah melewati krisis ekonomi dan disrupsi teknologi sepanjang 2025, kini pers dihadapkan pada pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru yang membawa sederet pasal problematik.Di tengah peringkat kebebasan pers yang merosot ke posisi 127 dunia, ancaman nyata bukan lagi sekadar kekerasan fisik, melainkan ketidakpastian hukum yang berpotensi melahirkan chilling effect atau efek gentar bagi para pemburu berita.

Bagus Sudarmanto

Kehadiran pasal-pasal terkait penghinaan kekuasaan, ketertiban umum, dan moralitas dalam KUHP baru dipandang sebagai “mekanisme pembatas wacana”.

Bagi jurnalis, pilihannya menjadi sangat pahit: tetap kritis dengan risiko proses pidana yang melelahkan, atau memilih diam demi keamanan.

Situasi ini diperparah dengan kondisi internal redaksi yang rapuh akibat efisiensi ekonomi dan perampingan karyawan. Saat independensi redaksi melemah, hukum pidana yang multitafsir kian mempersempit ruang gerak jurnalisme sebagai pengawas kekuasaan.

Di sisi lain, teknologi kecerdasan buatan (AI) hadir dengan wajah ganda. Ia menawarkan efisiensi, namun tanpa transparansi etika, AI justru bisa mempercepat runtuhnya kepercayaan publik. Padahal, kepercayaan adalah satu-satunya modal yang tersisa bagi pers untuk bertahan.

Berkaca pada negara dengan tradisi kebebasan pers kuat seperti Norwegia atau Belanda, jaminan hukum yang tegas tetap menjadi fondasi utama, bahkan ketika industri media dihantam badai ekonomi.

Menjelang Hari Pers Nasional 2026, jurnalisme Indonesia memerlukan arah yang jelas. Ada tiga agenda mendesak: perlindungan hukum terhadap kerja jurnalistik yang sah, keberanian redaksional untuk tetap berpihak pada kepentingan publik, dan penerapan etika teknologi yang bertanggung jawab.

Jurnalisme tidak akan mati karena penutupan redaksi; jurnalisme hanya akan mati ketika keberanian untuk menyuarakan kebenaran berhenti.

Pada akhirnya, 2026 adalah tahun penentuan apakah pers kita akan tetap menjadi penopang akal sehat publik atau tunduk pada ketakutan.

Munas FAJI Agendakan Pemilihan Ketua Umum

January 5, 2026 by  
Filed under Olahraga

JAKARTA – Menandai berakhirnya masa kepengurusan Pengurus Besar Federasi Arung Jeram Indonesia (PB FAJI) periode 2021–2025, FAJI akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) PB FAJI pada 4–5 Januari 2026 di Jakarta. Agenda utama Munas tersebut adalah pemilihan Ketua Umum PB FAJI periode 2025–2029.

Tahapan penjaringan calon Ketua Umum PB FAJI telah dilaksanakan sejak 27 November hingga 25 Desember 2025. Selanjutnya, peserta diberikan waktu perbaikan administrasi pada 26–29 Desember 2025, sebelum memasuki tahap verifikasi dokumen yang berlangsung pada 30–31 Desember 2025.

Salah satu syarat utama pencalonan adalah memperoleh dukungan minimal dari lima pengurus provinsi (Pengprov) FAJI serta menyertakan surat izin dari atasan langsung bagi calon yang berstatus aparatur negara atau prajurit aktif. Selain itu, calon juga wajib memenuhi ketentuan administratif lainnya. FAJI tidak menetapkan batasan usia maupun latar belakang pengalaman di cabang olahraga arung jeram.

Dalam proses penjaringan tersebut, tercatat enam orang mengambil formulir pendaftaran calon Ketua Umum PB FAJI periode 2025–2029. Namun hingga batas akhir pengembalian formulir, hanya satu kandidat yang menyerahkan berkas pendaftaran.

Pada 1 Januari 2026, Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) secara resmi mengumumkan hasil verifikasi bakal calon Ketua Umum PB FAJI. Hasilnya, Mayor Jenderal TNI (Mar) Oni Junianto dinyatakan lolos verifikasi dan memenuhi seluruh persyaratan pencalonan.

“Saudara Oni telah memenuhi persyaratan secara administratif. Ia mendapatkan dukungan dari 14 Pengprov dari total 25 Pengprov FAJI, dan seluruh surat dukungan dinyatakan sah. Mengingat beliau merupakan anggota aktif TNI, surat izin dari Pangkormar juga telah dipenuhi,” ujar Ketua Tim Penjaringan dan Penyaringan PB FAJI, Hendri Wijaya, Minggu (4/1/2026).

Sebelum memasuki agenda pemilihan Ketua Umum PB FAJI yang baru, Munas terlebih dahulu akan mengagendakan penyampaian laporan pertanggungjawaban Ketua Umum PB FAJI periode 2021–2025, Mayjen TNI (Purn.) Saud F. Tambatua, yang dilanjutkan dengan pandangan umum peserta sidang.

Selama empat tahun masa kepengurusan, PB FAJI telah melaksanakan berbagai kegiatan strategis baik di dalam maupun luar negeri. Sejumlah program kerja nasional di antaranya Rapat Kerja Nasional (Rakernas) serta Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Arung Jeram 2022 di Sungai Pekalen, Probolinggo. Babak Kualifikasi PON di 2023, Kejurnas 2024 di Sungai Ciliwung, Jakarta, yang juga menjadi bagian dari persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh–Sumatera Utara 2024.

 

Pada PON XXI Aceh–Sumut 2024, cabang olahraga arung jeram untuk pertama kalinya dipertandingkan dalam ajang multievent olahraga nasional. PB FAJI turut berperan aktif dalam pelaksanaan kejuaraan tersebut dengan menerapkan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Di luar bidang kompetisi olahraga, PB FAJI juga memperluas perannya melalui kerja sama kebencanaan dan pelatihan. Kolaborasi dilakukan bersama Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Palang Merah Indonesia (PMI) dalam pelatihan swift water rescue dan pembentukan Satuan Tugas Banjir dan Kebencanaan FAJI (FASTRAC).

Kemudian Koordinasi Respon Bencana Banjir (2022-2025), Rescue Insiden di Arus Deras, dan juga partisipasi dalam kegiatan konservasi.

Selain itu, PB FAJI terlibat dalam penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bagi pemandu arung jeram, berperan dalam pembuatan Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025 tentang Standar Kegiatan Usaha, Tata Cara Pelaksanaan Pengawasan, dan Sanksi Administratif pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Pariwisata, serta peningkatan kualitas sistem pendataan dan informasi atlet, wasit, dan pelatih sebagai bagian dari penguatan tata kelola organisasi.

Kemudian di level internasional, PB FAJI juga berperan untuk pendampingan IRF Assesor WRC 2027, lalu dukungan juri, course design, wasit & volunter IRF WRC 2025. PB FAJI juga membawa kontingen Tim Arung Jeram Indonesia World Rafting Championship 2025 yang digelar di Sungai Kampar, Perak, Malaysia pada 2–6 Desember 2025.

Tim arung jeram Indonesia diwakili oleh FAJI DKI Jakarta, FAJI Lumajang, FAJI Gresik, FAJI Sidoarjo, dan FAJI Surabaya, FAJI Kabupaten Tangerang, dan FAJI OKU Selatan. Di Kejuaraan Dunia, Indonesia mencatat prestasi luar biasa dengan menempati peringkat kedua klasemen umum, di bawah Republik Ceko, setelah mengumpulkan total 5 emas, 10 perak, dan 7 perunggu di berbagai nomor.

Salah satu pencapaian historis dalam kejuaraan dunia tersebut adalah emas pertama Indonesia di nomor open putri slalom, yang sebelumnya hampir selalu dikuasai oleh tim Eropa, Amerika Latin, atau New Zealand.

Munas PB FAJI 2025 diharapkan menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penentu arah pembinaan arung jeram Indonesia untuk periode empat tahun ke depan.*

Menjemput Takdir Tiga Besar di PON 2028

January 5, 2026 by  
Filed under Opini

​Oleh: Rusdiansyah Aras
(Ketua Umum KONI Kalimantan Timur)

​Olahraga bukan sekadar urusan menang atau kalah di arena. Bagi kita di Kalimantan Timur, olahraga adalah martabat, harga diri, dan simbol kekuatan “Benua Etam” di kancah nasional. Hari ini, kita tidak lagi bicara tentang sekadar berpartisipasi. Kita bicara tentang sebuah visi besar yang telah kita pancangkan bersama di Rakerprov KONI Kaltim 2026, Sabtu 3 Januari lalu : Kaltim Menuju Tiga Besar pada PON XXII 2028 di NTB-NTT.

Rusdiansyah Aras

​Target ini mungkin terdengar ambisius bagi sebagian orang, namun bagi saya dan seluruh insan olahraga Kaltim, ini adalah target yang realistis jika kita mampu menjaga ritme dalam satu komando yang solid.

​Peta Jalan (Road Map) Menuju Emas
​Keberhasilan tidak turun dari langit secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari keringat yang diperas melalui perencanaan yang matang. Kami di KONI Kaltim telah menyusun Blue Print (Cetak Biru) prestasi yang terukur. Masa depan olahraga prestasi Kaltim kini benar-benar berada di tangan kita sendiri, dan persiapannya tidak dimulai besok, melainkan sudah dimulai dari sekarang.

​Tahapan strategis yang telah kita susun meliputi:
​Fase Seleksi Daerah (BK Porprov): Ini adalah pintu pertama. Kita menyaring intan-intan mentah dari seluruh kabupaten/kota melalui Pra-Porprov atau BK Porprov. Kita ingin memastikan bahwa mereka yang terpilih adalah yang terbaik di kelasnya.

​Porprov 2026: Ajang pembuktian hasil pembinaan daerah. Di sini, kita akan melihat potret utuh kekuatan kontingen Kaltim sebelum melangkah ke level nasional.
​BK PON 2027 (Pra-PON): Ini adalah filter terakhir dan tersulit. Fokus kita di tahun 2027 adalah meloloskan atlet sebanyak mungkin dengan kualitas “Grade A”. Target kita jelas: meraih tiket PON dengan status unggulan agar jalan menuju emas di 2028 semakin terbuka lebar.

​Puncak Prestasi: PON XXII 2028: Muara dari seluruh perjuangan kita. Target tiga besar nasional adalah harga mati yang akan kita perjuangkan dengan semangat pantang menyerah.
​Sport Science dan Soliditas

​Dunia olahraga hari ini sudah sangat modern. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan bakat alam. Itulah mengapa dalam road map menuju 2028, saya menekankan penguatan Sport Science. Pola latihan, nutrisi, hingga pemulihan atlet harus berbasis data dan ilmu pengetahuan agar performa mereka mencapai puncak (peak performance) tepat saat lonceng pertandingan PON 2028 berbunyi.
​Namun, teknologi dan anggaran hanyalah pendukung. Kunci utamanya adalah Soliditas. Saya sering mengibaratkan KONI sebagai sebuah kapal besar. Di tengah terpaan ombak dinamika olahraga nasional, kapal ini harus tetap kokoh. Seluruh “Anak Buah Kapal”—mulai dari pengurus, pelatih, hingga atlet—harus berada dalam satu komando.

Masa Depan di Tangan Kita
​Saya ingin meninggalkan sebuah legacy (warisan) yang kuat bagi kepengurusan berikutnya. Bahwa pondasi menuju tiga besar sudah kita bangun. Transisi kepemimpinan yang akan datang harus berjalan soft landing, tanpa turbulensi, agar program pembinaan tidak terputus.

​Dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Kaltim, di bawah kepemimpinan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur, Seno Aji serta sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, menjadi energi tambahan bagi kita. Dengan anggaran yang efektif dan semangat juang yang tinggi, saya optimis Kaltim akan kembali menjadi kiblat olahraga di luar Pulau Jawa.

​Mari kita rapatkan barisan. Masa depan emas olahraga Kaltim bukan milik siapa-siapa, tapi milik kita yang berani bermimpi besar dan bekerja keras untuk mewujudkannya.
​Kaltim Juara! Satu Komando! (rd)

Diperbudak Tren Sosmed

January 5, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

Media sosial kini tidak sekadar menjadi ruang berbagi informasi dan hiburan, tetapi juga membentuk pola pikir, gaya hidup, hingga tekanan sosial tersendiri bagi penggunanya. Tren yang silih berganti dengan cepat kerap membuat sebagian orang merasa “harus ikut”, sementara yang lain memilih menjaga jarak agar tidak terjebak dalam arus fear of missing out (FoMO).

Fenomena FoMO atau rasa takut tertinggal ini telah menjadi perhatian para peneliti. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Business English and Communication menyebutkan, intensitas penggunaan media sosial memiliki hubungan signifikan dengan meningkatnya FoMO, terutama di kalangan mahasiswa. Pengguna cenderung lebih sering mengecek media sosial, membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa cemas jika tidak mengikuti tren yang sedang ramai diperbincangkan.

Temuan serupa juga disampaikan dalam penelitian “Hubungan antara Intensitas Penggunaan Media Sosial dengan FoMO” yang dimuat di Character: Jurnal Penelitian Psikologi (Universitas Negeri Surabaya). Studi tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi frekuensi penggunaan media sosial, semakin besar kecenderungan individu mengalami FoMO, yang berdampak pada kondisi emosional dan fokus keseharian.

Bagi sebagian generasi muda, mengikuti tren dianggap sebagai bagian dari adaptasi sosial di era digital.

“Kalau saya tidak mengikuti tren, rasanya seperti ketinggalan zaman. Apalagi sekarang banyak obrolan dan isu yang berangkat dari media sosial,” ujar Dita (22), seorang gen z.

Menurut Dita, mengikuti tren tidak selalu berarti latah, selama dilakukan secara sadar dan selektif.

“Selama masih positif dan relevan, ikut tren itu membantu kita tetap nyambung dengan lingkungan sekitar,” katanya.

Pandangan ini sejalan dengan penelitian dalam Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi yang mengkaji fenomena FoMO di kalangan Gen Z pengguna TikTok. Studi tersebut menyebutkan, tren di media sosial sering menjadi sarana pembentukan identitas dan alat komunikasi sosial, sehingga ketidaktahuan terhadap tren dapat memunculkan rasa terasing dalam pergaulan.

Namun, tidak sedikit pula yang memilih mengambil jarak dari hiruk-pikuk tren media sosial demi menjaga kesehatan mental.

“Saya sempat merasa capek sendiri karena selalu merasa harus tahu tren terbaru. Lama-lama malah bikin stres,” ungkap Rio (25), seorang anak muda yang memilih untuk tidak mengikuti tren.

Rio mengaku mulai membatasi penggunaan media sosial setelah menyadari dampaknya terhadap produktivitas dan ketenangan pikirannya.

“Sekarang saya lebih pilih mana yang memang perlu diikuti. Tidak semua tren harus direspons,” tambahnya.

Pilihan Rio sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam Acta Psychologia, yang menyebutkan, FoMO berkontribusi terhadap penurunan kesejahteraan psikologis, seperti meningkatnya kecemasan dan tekanan sosial pada usia dewasa awal.

Dampak FoMO tidak berhenti pada tekanan psikologis. Penelitian dalam INSIGHT Jurnal Bimbingan Konseling menemukan adanya korelasi positif antara FoMO dan adiksi media sosial. Pengguna dengan tingkat FoMO tinggi cenderung menghabiskan waktu lebih lama di media sosial dan sulit mengendalikan kebiasaan daringnya.

Selain itu, studi yang dimuat dalam International Journal of Science and Society juga mengungkap, FoMO berpengaruh terhadap perilaku konsumtif, terutama pembelian impulsif yang dipicu oleh tren dan promosi di media sosial.

Fenomena “diperbudak tren sosmed” mencerminkan tantangan nyata di era digital. Tren bisa menjadi sarana ekspresi dan koneksi sosial, namun juga berpotensi menimbulkan tekanan jika diikuti tanpa kendali. (intan)

Banyak Dicoba, Ini Asal-usul Ritual Anggur Tahun Baru

January 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Di berbagai belahan dunia, pergantian tahun kerap dirayakan dengan tradisi simbolik. Salah satunya adalah makan anggur saat tengah malam, sebuah kebiasaan lama yang masih ramai dilakukan oleh sebagian orang.

Tradisi makan anggur saat malam Tahun Baru pada dasarnya berasal dari Spanyol, dikenal dengan nama Las Doce Uvas de la Suerte atau “dua belas anggur keberuntungan.”

Praktik ini telah ada sejak akhir abad ke-19 dan populer di awal abad ke-20, ketika para petani di Alicante mencoba meningkatkan penjualan buah anggur yang berlimpah. Setiap butir anggur melambangkan satu bulan di tahun yang akan datang, dan orang-orang berusaha menghabiskan 12 buah anggur di saat dentang jam tengah malam untuk menarik keberuntungan sepanjang tahun.

Tradisi ini kemudian menyebar dari Spanyol ke berbagai negara di Amerika Latin dan bahkan dunia, terutama melalui diaspora dan adaptasi budaya.

Dalam versi tradisionalnya, makan 12 anggur dilakukan saat lonceng tengah malam berdentang, satu anggur untuk setiap bulan di tahun baru yang dipercaya membawa keberuntungan, rezeki, kesehatan, dan kesuksesan.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, tren itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih playful di media sosial, terutama di platform seperti TikTok dan Instagram.

Para pengguna media sosial membagikan video mereka melakukan ritual ini, baik sebagai bagian dari perayaan bersama teman maupun pasangan, atau sekadar sebagai tantangan lucu menjelang pergantian tahun. Beberapa bahkan melakukan ritual ini sambil berdoa atau menuliskan harapan mereka untuk setiap anggur yang dimakan agar “semua impian tercapai.”

Beberapa netizen mencatat pengalaman mereka: “Aku makan anggur di bawah meja dan sampai sekarang aku belum nemu jodoh, tapi aku mendapat proyek kerja baru yang luar biasa,” kata salah satu warganet dalam diskusi online.

Selaras dengan itu, Wardahtan seorang pengguna sosial media juga ikut mengomentari

“Sejujurnya saya belum pernah melakukan tradisi makan anggur di bawah meja saat Tahun Baru. Saya lebih memilih melakukan ibadah seperti shalat hajat dan shalat taubat di pergantian tahun. Bagi saya, cara itu lebih bermakna dalam menyambut awal tahun yang baru,” ujarnya. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb