Katamedia.co Salurkan Bantuan CSR ke Majelis Qolbun Salim

February 11, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Samarinda–  Media online Katamedia.co menyalurkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) kepada Majelis Qolbun Salim yang berlokasi di Jalan KH Harun Nafsi, Samarinda Seberang, Rabu, (11/2/2026).

Bantuan tersebut diserahkan Direktur Katamedia.co, Ashar, dan diterima secara langsung oleh pimpinan Majelis Qolbun Salim, Habib Nasir. Penyerahan berlangsung dalam suasana sederhana, hangat, dan penuh kekeluargaan.

Direktur Katamedia.co, Adhar, mengatakan, bantuan CSR tersebut berasal dari kas perusahaan. Ia menyampaikan penyaluran bantuan ini merupakan bentuk kepedulian media terhadap kegiatan keagamaan serta kebutuhan jamaah majelis.

“Alhamdulillah, hari ini kami bisa berbagi melalui program CSR. Beberapa waktu lalu Katamedia.co mendapatkan sejumlah pekerjaan, baik dari pihak swasta maupun dari Pemprov Kaltim, sehingga dari rezeki tersebut kami sisihkan sebagian untuk disedekahkan,” ujar Adhar.

Menurutnya, media tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi kepada publik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk hadir dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik dan kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan secara berkelanjutan,” tambahnya.

Sementara itu, Habib Nasir menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh Katamedia.co. Ia mengapresiasi kepedulian insan pers terhadap kegiatan majelis dan jamaah.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuan ini. Semoga Katamedia.co semakin maju, seluruh kru diberikan kesehatan dalam bertugas, dan rezekinya terus dilapangkan agar bisa berbagi secara berkelanjutan,” tuturnya.

Melalui kegiatan CSR ini, Katamedia.co berharap dapat mempererat hubungan dengan masyarakat sekaligus menumbuhkan semangat berbagi di tengah aktivitas jurnalistik. (*)

Fibermaxxing, Tren Diet Viral TikTok

February 11, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

Media sosial TikTok kembali melahirkan tren pola makan baru yang kini ramai diperbincangkan, yakni fibermaxxing. Tren ini menekankan peningkatan konsumsi serat dalam menu harian sebagai upaya menjaga kesehatan usus (gut health) sekaligus mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Fenomena fibermaxxing muncul lewat berbagai konten kreator yang membagikan rutinitas makan tinggi serat, mulai dari konsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, hingga makanan fermentasi. Tren ini kemudian menarik perhatian publik karena dinilai lebih realistis dibandingkan diet ekstrem yang sebelumnya sempat viral.

Dilansir dari Healthline, serat merupakan nutrisi penting yang berperan besar dalam kesehatan pencernaan. Asupan serat yang cukup dapat membantu melancarkan buang air besar, menstabilkan kadar gula darah, menurunkan kolesterol, serta memberi asupan makanan bagi bakteri baik di dalam usus.

Healthline juga menyebutkan bahwa serat berperan dalam menjaga keseimbangan mikrobioma usus, yang berkaitan langsung dengan sistem imun dan metabolisme tubuh. Orang dewasa dianjurkan mengonsumsi sekitar 25–38 gram serat per hari, namun kenyataannya banyak individu masih berada di bawah angka tersebut.

Hal senada juga disampaikan dalam laporan Times of India. Dilansir dari media tersebut, serat membantu bakteri usus memproduksi short-chain fatty acids atau asam lemak rantai pendek yang berfungsi menjaga kesehatan dinding usus dan menekan peradangan dalam tubuh.

Meski viral di TikTok, fibermaxxing dinilai bukan tren tanpa dasar. Dilansir dari Yahoo Health, para ahli gizi menilai pola makan tinggi serat sejalan dengan anjuran kesehatan global, selama dilakukan secara bertahap dan seimbang. Peningkatan serat secara drastis tanpa cukup cairan justru dapat memicu perut kembung dan gangguan pencernaan.

Yahoo Health juga menekankan pentingnya variasi sumber serat, baik dari serat larut maupun tidak larut, agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.

Tren ini juga mulai diikuti oleh kalangan muda. Seseorang membagikan pengalamannya pada kolom komentar dalam salah satu postingan, ia mencoba fibermaxxing selama hampir tiga bulan, mengaku awalnya tertarik setelah sering melihat konten tentang gut health di TikTok.

“Awalnya cuma ikut-ikutan karena kelihatan simpel. Aku mulai dari nambah buah dan sayur di setiap makan. Di minggu pertama sempat kembung, tapi lama-lama pencernaan jadi lebih lancar dan aku lebih jarang lapar berlebihan,” tulisnya.

Ia menambahkan, perubahan pola makan tersebut membuatnya lebih sadar memilih makanan dan memperbanyak minum air putih agar tubuh tetap nyaman.

Meski memiliki banyak manfaat, para ahli mengingatkan agar tren fibermaxxing tidak dilakukan secara berlebihan. Dilansir dari Healthline, peningkatan serat sebaiknya dilakukan perlahan agar sistem pencernaan memiliki waktu beradaptasi.

Selain itu, masyarakat dengan kondisi pencernaan tertentu disarankan berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan sebelum mengubah pola makan secara signifikan. (intan)

Pulang Sebelum Gelap, Aturan Orang Tua yang Dulu Sakral

February 11, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Aturan pulang ke rumah sebelum gelap pernah menjadi kesepakatan tak tertulis di banyak keluarga Indonesia. Menjelang waktu magrib, jalanan kampung biasanya mulai lengang dari anak-anak. Bagi orang tua, batas waktu ini bukan sekadar soal jam, melainkan bentuk perlindungan, kedisiplinan, dan nilai yang ditanamkan sejak dini.

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di lingkungan yang masih kental dengan nilai religius dan budaya, waktu magrib dipandang sebagai momen peralihan. Anak-anak dianjurkan sudah berada di rumah, bersiap untuk ibadah, makan malam, dan berkumpul bersama keluarga. Selain alasan keagamaan, faktor keamanan juga menjadi pertimbangan utama. Gelap dianggap membawa risiko, terutama bagi anak perempuan.

“Dulu aku sering dimarahi habis-habisan kalau pulang pas menjelang magrib. Biasanya orang tua sudah nyariin ke mana-mana,” ujar Tarbiah, Gen Z yang kini hidup di perantauan. Ia mengingat betul bagaimana aturan itu terasa mutlak dan tak bisa ditawar saat masih tinggal bersama orang tua.

Menurutnya, kemarahan orang tua kala itu lebih banyak dipicu oleh rasa cemas. Komunikasi belum semudah sekarang, belum ada ponsel pintar atau pesan instan yang bisa memberi kabar cepat. Ketika anak belum pulang saat hari mulai gelap, kekhawatiran orang tua kerap berubah menjadi amarah.

Seiring bertambahnya usia dan hidup mandiri, aturan tersebut perlahan kehilangan konteksnya. “Sekarang, pas sudah dewasa dan hidup di perantauan, rasanya aturan itu sudah enggak berlaku lagi. Pulang malam jadi hal yang biasa, apalagi karena tuntutan kerja,” katanya.

Namun, kebiasaan lama itu rupanya tak benar-benar hilang. Setiap kali pulang ke rumah orang tua, pola yang sama kembali muncul meski dengan wajah yang lebih lembut.

“Sampai sedewasa ini pun, orang tuaku masih melakukan hal yang sama. Kalau aku belum pulang menjelang gelap, tetap dicariin. Bedanya, sudah enggak pakai marah-marah,” tutur Tarbiah. Ia menegaskan, sebagai anak perempuan, perhatian itu terasa lebih kuat.

Di tengah perubahan gaya hidup Gen Z yang lebih fleksibel dan mobilitas tinggi, kebiasaan ini kini lebih sering hadir sebagai pengingat, bukan larangan keras. Bagi sebagian anak, aturan itu mungkin terasa kuno. Namun bagi orang tua, kebiasaan tersebut adalah bahasa cinta yang tak pernah benar-benar usang. (intan)

Pamali yang Dulu Ditakuti, Kini Sekadar Cerita Sebelum Tidur

February 11, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Pamali pernah menjadi semacam “alarm sosial” di tengah kehidupan masyarakat Nusantara. Larangan-larangan yang diwariskan secara lisan itu dulu dipercaya mampu menjaga keteraturan hidup, mulai dari etika, keselamatan, hingga harmoni dengan alam.

Namun seiring waktu, pamali perlahan bergeser makna dari sesuatu yang ditakuti, menjadi cerita yang hanya terdengar menjelang tidur.

Istilah pamali banyak ditemukan dalam budaya Sunda, Jawa, dan beberapa wilayah di Kalimantan serta Sulawesi. Secara umum, pamali berarti pantangan atau larangan adat yang tidak boleh dilanggar karena diyakini akan membawa akibat buruk.

Dalam budaya Sunda, pamali kerap dikaitkan dengan tata krama dan keselamatan. Sementara dalam tradisi Jawa, pamali sering diselipkan sebagai bentuk pengendalian perilaku anak-anak agar patuh pada norma keluarga.

Pamali lahir dari kebutuhan masyarakat tradisional untuk menyampaikan nilai tanpa penjelasan panjang. Pada masa lalu, ketika pendidikan formal belum merata, larangan yang dibungkus unsur mistis dianggap lebih efektif. Duduk di ambang pintu, misalnya, dianggap pamali karena bisa menghalangi jalan dan membahayakan orang lain. Sementara larangan memotong kuku di malam hari diyakini berkaitan dengan kondisi penerangan zaman dulu yang minim, sehingga berisiko melukai diri sendiri.

Larangan-larangan lain yang akrab di telinga generasi lama antara lain menyapu di malam hari, bersiul di dalam rumah, hingga tidur tengkurap. Meski alasannya kerap terdengar irasional, banyak pamali memiliki akar logis jika ditelusuri lebih dalam, mulai dari menjaga kebersihan, etika sosial, hingga kesehatan.

Namun, di tengah derasnya arus digital dan pola pikir yang semakin rasional, pamali tak lagi dipahami sebagai aturan mutlak. Bagi generasi Z, pamali lebih sering hadir sebagai nostalgia masa kecil.

“Aku dulu sering banget dibilang pamali sama ibuku. Duduk di lawang pintu, potong kuku malam-malam, itu pasti ditegur,” kata Aisyah (22), seorang mahasiswa asal Bandung. “Sekarang sih nggak takut, tapi anehnya kebiasaan itu tetap kebawa. Kayak refleks aja.”

Hal serupa diungkapkan Rizky (24), pekerja kreatif di Tasikmalaya. Menurutnya, pamali bukan lagi soal takut celaka, melainkan bentuk memori kolektif. “Pamali sekarang lebih kayak cerita pengantar tidur. Kita dengarnya sambil ketawa, tapi dulu itu serius banget,” ujarnya.

Pergeseran makna pamali menunjukkan perubahan cara generasi memahami tradisi. Pamali tidak sepenuhnya hilang, tetapi bertransformasi. Ia tetap hidup dalam bahasa ibu, dalam cerita keluarga, dan dalam ingatan masa kecil meski tak lagi berdiri sebagai aturan yang mengikat. (intan)

Gubernur Yakin Program Gratispol Pendidikan Semakin Baik

February 11, 2026 by  
Filed under Kalimantan Timur

SAMARINDA – Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud mengakui masih terdapat sejumlah hal yang perlu dibenahi agar pelaksanaan Program Gratispol Pendidikan ke depan dapat berjalan lebih baik dan manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan Rudy Mas’ud saat menjawab pertanyaan wartawan terkait pelaksanaan Program Gratispol Pendidikan sepanjang tahun 2025.

Rudy menjelaskan, mengingat Program Gratispol Pendidikan masih tergolong baru, tentu terdapat kekurangan yang perlu segera dibenahi agar pelaksanaannya ke depan menjadi lebih optimal.

“Kami akui, tentu tidak ada yang sempurna. Kami menerima seluruh kritik dan saran, dan akan segera melakukan pembenahan,” kata Gubernur Harum usai briefing organisasi perangkat daerah (OPD) di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (9/2/2026).

Gubernur tidak menutup mata dari alokasi sekitar 32.000 mahasiswa yang disiapkan pada tahun lalu, masih terdapat sejumlah mahasiswa yang belum dapat menikmati Program Gratispol Pendidikan karena berbagai alasan, termasuk kesalahan persepsi. Di antaranya terkait ketentuan syarat penerima, yakni anak-anak Kalimantan Timur atau minimal telah berdomisili di Kaltim selama tiga tahun. Selain itu, beasiswa ini diperuntukkan bagi mahasiswa reguler, bukan program eksekutif atau ekstensi.

Gubernur menegaskan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada prinsipnya akan terus mengelola Program Gratispol Pendidikan agar semakin baik, termasuk memberikan beasiswa kepada para guru dan dosen yang ingin meningkatkan jenjang pendidikan mereka.

“Guru-guru juga kami utamakan agar dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Jika gurunya hebat, maka kita akan dapat melahirkan siswa dan mahasiswa yang hebat pula,” tegasnya.

Gubernur berharap seluruh pemohon beasiswa dapat memperoleh pelayanan terbaik, mengingat pada hakikatnya pemerintah adalah pelayan masyarakat.

Kabar baiknya, jika pada tahun lalu kuota disiapkan untuk sekitar 32.000 penerima manfaat, maka pada tahun ini Gubernur Harum bersama Wakil Gubernur Seno Aji menyiapkan kuota beasiswa untuk 159.006 mahasiswa dengan pagu anggaran mencapai Rp1,37 triliun. (ld)

« Previous PageNext Page »

  • vb