Perempuan Sunda dan Seni Menjaga Harmoni dalam Kehidupan Sehari-hari

February 5, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Tasikmalaya – Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, perempuan Sunda kerap tampil sebagai penjaga keseimbangan. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tetapi juga dalam relasi sosial dan ruang publik. Harmoni, bagi perempuan Sunda, bukan sekadar konsep budaya, melainkan cara hidup yang dijalani secara sadar dari hari ke hari.

Nilai someah hade ka semah—ramah terhadap siapa pun—menjadi fondasi yang masih dipegang kuat. Sikap ini tercermin dalam cara bertutur yang halus, gestur yang terukur, serta kebiasaan membaca situasi sebelum bertindak. Dalam keseharian, perempuan Sunda terbiasa mengelola emosi dan memilih jalan yang tidak menimbulkan gesekan, demi menjaga suasana tetap teduh.

Dalam lingkup keluarga, perempuan Sunda kerap menjadi poros pengikat. Mereka mengatur ritme rumah tangga tanpa banyak suara, menyelesaikan persoalan dengan dialog, dan menempatkan empati sebagai pendekatan utama. Harmoni dibangun melalui kebiasaan sederhana, mendengarkan lebih banyak, menahan diri saat emosi memuncak, serta memberi ruang bagi anggota keluarga untuk berkembang.

Namun, nilai kelembutan itu tidak identik dengan keterbatasan ruang gerak. Di era sekarang, banyak perempuan Sunda yang justru berani melangkah keluar dari zona nyaman. Salah satunya Intan, perempuan Sunda yang memilih merantau dan mengeksplorasi banyak tempat, bahkan hingga ke luar pulau dan luar negeri.

“Sebagai perempuan Sunda, aku diajarkan untuk santun dan menjaga sikap. Tapi itu tidak pernah membatasi mimpi,” ujar Intan. Menurutnya, harmoni bukan berarti berhenti melangkah. “Aku bisa tetap membawa nilai kesopanan, tapi juga berani mengambil keputusan besar, termasuk merantau jauh dari rumah.”

Pengalaman merantau membuat Intan belajar banyak tentang keberagaman karakter dan budaya. Ia menilai nilai harmoni yang ia bawa sejak kecil justru membantunya beradaptasi di lingkungan baru.

“Saat kita bisa menempatkan diri, menghargai orang lain, dan tidak reaktif, itu memudahkan kita diterima di mana pun,” katanya. (intan)

PLN Indonesia Power UBP Mahakam Gelar Apel Perkuat Budaya Keselamatan Kerja Menuju Zero Harm Zero Loss

February 4, 2026 by  
Filed under Nusantara

Foto bersama setelah apel bulan K3 Nasional Tahun 2026 di PLTGU Tanjung Batu

Kutai Kartanegara – PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Mahakam melaksanakan Apel Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2026 yang berlangsung dengan khidmat di PLTGU Tanjung Batu. Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam mendukung peringatan Bulan K3 Nasional yang diselenggarakan setiap tahun pada periode 12 Januari hingga 12 Februari.

Bulan K3 Nasional Tahun 2026 mengusung tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif”. Tema tersebut menegaskan pentingnya pengelolaan K3 yang terintegrasi dan berkelanjutan, serta melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif.

Apel peringatan ini diikuti oleh jajaran manajemen dan pegawai PLN IP UBP Mahakam bersama PLN Energi Gas Unit Tanjung Batu, PLN IP UBH Area 3, dan PLN ULTG Samarinda GI Embalut, sebagai wujud sinergi dalam memperkuat budaya keselamatan dan kesehatan kerja yang diterapkan secara konsisten dalam setiap aktivitas operasional.

Dalam amanatnya, Manager PLN Indonesia Power UBP Mahakam, Firman Ramdan, menegaskan bahwa penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan fondasi utama dalam menjaga keandalan operasional pembangkit. Ia menekankan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja tidak hanya menjadi kewajiban regulasi, tetapi juga komitmen bersama untuk melindungi seluruh insan kerja sekaligus memastikan operasional pembangkitan berjalan andal dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, Firman Ramdan menekankan pentingnya sinergi lintas peran, kepedulian, serta kedisiplinan dalam menjalankan setiap prosedur kerja. Ia menegaskan bahwa “pencapaian target Zero Harm Zero Loss hanya dapat terwujud melalui peran aktif seluruh insan perusahaan dalam mengidentifikasi, mengendalikan, dan memitigasi potensi risiko sejak dini secara konsisten dan berkelanjutan.”

Sejalan dengan tema nasional, PLN Indonesia Power UBP Mahakam terus mendorong penguatan kolaborasi serta pemanfaatan teknologi berkelanjutan dalam sistem pengelolaan K3. Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan efektivitas pengawasan, pengendalian risiko, serta pencegahan kecelakaan kerja guna mendukung keandalan operasional pembangkit.

Melalui peringatan Bulan K3 Nasional Tahun 2026 ini, PLN Indonesia Power UBP Mahakam menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat budaya K3 sebagai bagian dari nilai perusahaan, guna mewujudkan lingkungan kerja yang selamat, profesional, dan berkelanjutan, serta mendukung pencapaian target Zero Harm Zero Loss di seluruh kegiatan operasional. (*)

Mekkah dan Madinah, Kota Ramai Tanpa Deru Motor

February 4, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Arab Saudi – Selama berada di Mekkah dan Madinah, saya tidak pernah merasa kota ini “kosong kendaraan”. Mobil pribadi, taksi, dan bus jamaah justru lalu-lalang hampir tanpa henti, terutama di jalan-jalan utama, area hotel, dan jalur antar kawasan. Namun ada satu hal yang mencolok, hampir tidak ada sepeda motor.

Di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi terutama di area pelataran, plaza, dan jalur pejalan kaki yang mendominasi bukan kendaraan kecil, melainkan bus besar, mobil operasional, dan arus manusia yang berjalan kaki. Tidak terdengar raungan knalpot motor, tidak ada pengendara yang menyelip di antara jamaah.

Fenomena ini bukan kebetulan. Pemerintah Arab Saudi memang membatasi keras penggunaan kendaraan roda dua di kawasan inti ibadah. Sepeda motor, skuter, dan kendaraan ringan tidak diizinkan masuk ke zona pedestrian Masjidil Haram dan Masjid Nabawi demi alasan keselamatan dan pengendalian massa. Kebijakan ini tercantum dalam pedoman keamanan dan transportasi jamaah yang dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, terutama pada musim padat umrah dan haji.

Sementara itu, mobil dan bus tetap menjadi tulang punggung transportasi kota. Bus-bus besar pengangkut jamaah berhenti di titik-titik tertentu yang telah diatur, lalu jamaah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Taksi dan kendaraan hotel juga tetap beroperasi, namun tidak masuk ke area pelataran masjid.

Bagi saya pribadi, perbedaan ini terasa unik. Di banyak kota besar, kendaraan roda dua justru paling gesit dan mendominasi jalan. Namun di Tanah Suci, ritmenya dibalik, kendaraan besar diatur rapi, kendaraan kecil disingkirkan dari pusat ibadah, dan manusia diberi ruang untuk berjalan.

Berjalan kaki menjadi pengalaman yang tak terpisahkan dari ibadah. Dari hotel menuju masjid, dari satu gerbang ke gerbang lain, langkah kaki terasa menyatu dengan doa. Tanpa motor yang menyelip atau klakson yang memotong konsentrasi, suasana menjadi lebih tenang, meski tetap ramai.

Di Madinah, suasana ini bahkan terasa lebih lembut. Bus dan mobil tetap ada, tetapi bergerak perlahan dan tertib. Jamaah berjalan beriringan menuju Masjid Nabawi, seolah kota ini memang dirancang untuk membuat orang melambat, bukan mempercepat.

Ketiadaan motor di area inti bukan sekadar kebijakan lalu lintas. Ia membentuk pengalaman spiritual yang berbeda. Di kota yang biasanya identik dengan kecepatan, Mekkah dan Madinah justru mengajarkan satu hal sederhana: ibadah tidak butuh tergesa, dan kedekatan tidak selalu ditempuh dengan kendaraan tercepat. (intan)

Jejak Kuliner Sunda dan Jawa di Mekkah–Madinah

February 4, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Madinah, Arab Saudi — Tanah Suci tak hanya mempertemukan jamaah dengan ritual ibadah dan jejak sejarah Islam, tetapi juga menghadirkan kejutan kecil yang terasa akrab, makanan. Di antara sajian khas Timur Tengah, aroma bumbu Nusantara justru kerap muncul di sudut-sudut kota suci, seolah menjadi penawar rindu bagi jamaah Indonesia.

Salah satu pengalaman paling membekas saya temukan di Madinah, tepatnya di kawasan kebun kurma. Di sana berdiri sebuah warung sederhana bernuansa Sunda, yang menjual bakso dan bala-bala, menu yang nyaris identik dengan keseharian masyarakat Jawa Barat.

Bakso tersebut dijual seharga 20 riyal per porsi, atau setara sekitar Rp100 ribu. Dengan porsi standar, semangkuk bakso itu disajikan lengkap dengan kuah hangat dan isian khas. Rasanya, bagi lidah saya yang terbiasa dengan cita rasa Sunda, terasa cukup otentik.

“Pas suapan pertama, rasanya kayak lagi di Indonesia,” ujar saya dalam hati. Di tengah suasana Madinah yang tenang dan penuh kekhusyukan, semangkuk bakso menjadi pengingat, jarak ribuan kilometer tak selalu mampu memutus ingatan rasa.

Fenomena kuliner Nusantara di Tanah Suci bukanlah hal baru. Restoran Sunda dan Jawa kini cukup mudah ditemukan, baik di Madinah maupun Mekkah, terutama di kawasan yang menjadi langganan jamaah Asia Tenggara. Kehadiran mereka menjadi bagian dari ekosistem ekonomi jamaah, menyesuaikan dengan selera ribuan peziarah Indonesia yang datang setiap tahun.

Tak hanya di warung kecil, kuliner Indonesia juga merambah hotel-hotel tempat jamaah menginap. Di Mekkah, saya menemukan satu kejutan lain yang tak kalah unik, seblak.

Menu ini tersaji di salah satu restoran hotel tempat saya menginap. Jujur, ekspektasi awal tidak terlalu tinggi. Namun begitu mencicipi, rasanya justru mengundang senyum. Pedasnya pas, bumbunya terasa, dan teksturnya tidak jauh berbeda dengan seblak yang biasa saya temui di tanah Sunda.

Sebagai orang Sunda, saya cukup peka terhadap rasa. Dan seblak itu, meski disajikan ribuan kilometer dari Bandung tetap terasa “pulang”.

Tak jarang, warung-warung ini menjadi tempat berkumpul informal jamaah Indonesia. Percakapan mengalir, logat daerah terdengar bebas, dan suasana sejenak terasa seperti di rumah sendiri. (intan)

Air Zamzam, Mata Air Keajaiban di Jantung Tanah Suci

February 4, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Makkah, Arab Saudi — Air Zamzam bukan sekadar air biasa. Ia adalah cerita yang mengalir bersama sejarah, keyakinan, dan pengalaman jutaan manusia yang datang ke jantung Tanah Suci. Di antara bangunan-bangunan megah dan ritme tawaf yang bergerak tak henti, mata air Zamzam berdiri sebagai satu hal yang tak pernah luput dicari seperti magnet yang mengikat hajat dan harapan jamaah.

Kisah Zamzam bermula ribuan tahun silam, saat Nabi Ibrahim AS diperintahkan oleh Allah SWT untuk meninggalkan istri dan putranya, Ismail, di padang pasir yang kemudian dikenal sebagai Makkah. Ketika Hajar mencari air untuk anaknya yang kehausan, ia berlari antara dua bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Ketika langkah kaki keduanya hampir putus asa, Allah mengirimkan mata air di bawah kaki Ismail.

Mata air itu disebut Zamzam, yang dalam bahasa Arab berarti “berdesir” atau “mendesis”, menggambarkan bunyi air yang keluar dari perut bumi. Sejak saat itu, Zamzam menjadi sumber kehidupan di tengah gurun, menjadi alasan berdirinya kota Makkah, dan kemudian magnet bagi umat Islam dari seluruh penjuru dunia.

Hingga kini, aliran air Zamzam berhasil dipertahankan melalui sistem sumur dan pemompaan modern yang sangat terjaga. Di sekitar Masjidil Haram, terdapat puluhan titik penyajian air Zamzam, mulai dari kran-kran kecil di area tawaf, dispenser otomatis di tempat-tempat strategis, hingga wadah besar yang dijaga petugas khusus.

Sebagian besar titik itu berada di area bawah tanah (bawah mata lantai marmer) yang dikenal sebagai Tannur Zamzam. Dari sini, jutaan liter air dipompa dan didistribusikan setiap hari selama jam ibadah, baik siang maupun malam termasuk pada saat kunjungan saya pada pertengahan Januari 2026, ketika Masjidil Haram dipenuhi jutaan jamaah dari seluruh dunia.

Secara spiritual, umat Islam percaya bahwa air Zamzam memiliki keberkahan besar. Dalam banyak riwayat, Nabi SAW. menganjurkan minum air Zamzam dengan niat yang tulus:

“Air Zamzam itu untuk apa ia diminum.”
(HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Artinya, setiap orang boleh mengambil maksud yang berbeda saat minum air Zamzam, apakah itu untuk kesehatan, kelancaran hajat, atau ketenangan batin selama niatnya baik dan sesuai syariat.

Secara ilmiah, sejumlah penelitian menunjukkan, air Zamzam memiliki kandungan mineral yang unik, termasuk kalsium, magnesium, natrium, dan bikarbonat, yang menjadikannya air yang relatif stabil dan aman dikonsumsi. Meski demikian, penelitian ilmiah tidak serta-merta membuktikan keberkahan spiritualnya, kepercayaan itu tetap berada di ranah keyakinan umat Islam.

Minum air Zam-zam adalah momen yang tidak ingin aku lewatkan, hari itu ketika aku selesai shalat, aku menghampiri salah satu titik air Zamzam di area Masjidil Haram pada siang hari yang sangat ramai. Antrian panjang terlihat mengular, mengular, hampir setengah mengelilingi lorong yang dipenuhi kran-kran kecil itu. Banyak jamaah tampak sabar menunggu giliran, berdiri di bawah terik matahari atau di sela-sela kerumunan yang bergerak pelan.

Aku pun berniat ikut mengantri, dengan harapan bisa menyeruput air itu seperti yang selama ini kuimpikan. Namun ketika aku hampir bergabung di belakang barisan panjang itu, sesuatu yang menakjubkan terjadi.

Seorang petugas yang menjaga titik air itu mendekat, berbicara dalam bahasa Arab sambil menunjuk ke arah air Zam-zam.
“Mau minum?,” ujarnya dalam bahasa Arab.

Aku hanya bisa mengangguk.

“Tentu,” ujar lelaki itu, kemudian mengambilkan segelas air Zamzam dan menyerahkannya kepadaku.

Masya Allah.

Di tengah kerumunan yang padat, ketika semua berjalan lambat dan penuh sabar, aku mendapatkan air itu dengan mudah. Tanpa antrian panjang, tanpa jeda panjang menunggu giliran. Semua itu, aku yakin, adalah pertolongan Allah, yang datang dalam bentuk yang paling sederhana dan penuh makna. Di antara jutaan langkah kaki yang berputar di sekitar Ka’bah, aku merasa seolah Allah berkata: “Ambillah ini sekarang.”

Air itu terasa manis di tenggorokan, bersih, dan sejuk. Dalam setiap tegukan, aku menaruh doa panjang yang tak terucap doa untuk keluarga di rumah, doa untuk perjalanan hidup yang belum usai, doa agar segala usaha jadi lebih berarti.

Sumur Zamzam tidak pernah kering, meski telah mengalir selama lebih dari 4.000 tahun. Lokasi asalnya tetap di bawah Ka’bah, meskipun sistem distribusi telah diperluas secara modern.

Air Zamzam adalah air mineral alami, tidak melalui proses penyaringan kimiawi; sumbernya langsung dari tanah suci.

Jumlah konsumsi per hari bisa mencapai jutaan liter, terutama saat musim haji dan umrah.

Setiap jamaah boleh membawa pulang air Zamzam, sesuai ketentuan masing-masing negara namun tetap ada batasan tertentu demi keselamatan transportasi udara. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb