Langkah Kaki Jamaah di Lorong Belanja Mekkah dan Madinah

February 4, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Arab Saudi – Berbelanja di Tanah Suci ternyata bukan sekadar soal transaksi. Ia menjelma pengalaman sosial, budaya, bahkan emosional yang tak terduga. Di antara niat ibadah yang khusyuk, lorong-lorong toko di Mekkah dan Madinah justru menghadirkan cerita kecil yang membuat perjalanan ini terasa lebih hidup.

Salah satu hal yang paling mengejutkan adalah kemampuan para pedagang berbahasa Indonesia. Dari sapaan sederhana seperti, “Silakan, Mbak,” hingga tawar-menawar ringan dengan logat khas, semuanya terdengar akrab. Tak sedikit pula yang dengan santai menerima uang rupiah, terutama di kawasan yang ramai jamaah Indonesia. Meski nilai tukarnya tentu disesuaikan, pemandangan ini menjadi bukti betapa besarnya peran jamaah asal Indonesia dalam denyut ekonomi Tanah Suci.

Yang lebih unik, sapaan mereka bukan lagi “sister” atau “madam”, melainkan satu kata yang terasa begitu Gen Z, “Bestie.”
“Bestie, sini lihat dulu,” kata seorang pedagang sambil tersenyum.
Dari satu toko ke toko lain, sapaan itu berulang. Bahkan, dari obrolan ringan yang berlanjut jadi keakraban, aku sampai mendapat julukan khusus dari seorang pedagang kurma: “Bestie original.”

Sapaan itu mungkin terdengar sederhana, tapi di tengah hiruk-pikuk jamaah dari berbagai negara, ia terasa seperti pengakuan kecil bahwa kami bukan sekadar pembeli, tapi bagian dari arus manusia yang mereka kenal betul.

Dari dua kota suci, Madinah terasa lebih ramah untuk urusan belanja. Harga oleh-oleh relatif lebih murah dibanding Mekkah. Hal ini mudah dikenali dari banyaknya toko serba satu riyal yang menjual tasbih, sajadah kecil, gantungan kunci, hingga souvenir sederhana lainnya. Konsep toko murah ini menjamur di sekitar Masjid Nabawi, menjadikannya surga bagi jamaah yang ingin berbagi oleh-oleh tanpa menguras kantong.

Di Madinah pula aku lebih banyak menghabiskan waktu berburu abaya. Modelnya beragam, bahannya ringan, dan harganya lebih bersahabat. Beberapa pedagang bahkan dengan cekatan menyesuaikan ukuran sambil tetap melontarkan candaan khas mereka. Berbelanja di Madinah terasa lebih santai, tidak terlalu terburu-buru, tidak terlalu riuh.

Berbeda dengan Madinah, Mekkah memiliki ritme yang lebih cepat dan lebih padat. Harga cenderung lebih tinggi, terlihat dari dominasi toko serba tiga riyal untuk barang-barang kecil. Namun Mekkah punya daya tarik lain yang sulit ditolak.

Di kawasan Zamzam Tower, pusat perbelanjaan modern yang berdiri megah tak jauh dari Masjidil Haram, aku justru menemukan “godaan” terbesarku, parfum. Alih-alih memborong tumbler yang sedang viral di kalangan jamaah, aku justru menghabiskan cukup banyak riyal untuk aroma-aroma khas Timur Tengah.

Minyak wangi oud, musk, amber, hingga parfum campuran dengan aroma manis dan hangat tersusun rapi di etalase. Para penjual dengan cekatan menawarkan tester, menjelaskan karakter aroma, bahkan mencampur beberapa varian sesuai selera pembeli. Bagi pecinta parfum, Mekkah adalah tempat di mana aroma bukan sekadar wangi ia menjadi identitas dan kenangan. (intan)

Detik Pertama Melihat Ka’bah dan Luruhnya Segala Kendali

February 4, 2026 by  
Filed under Opini

Makkah — Tidak ada foto, video, atau cerita perjalanan yang benar-benar mampu menyiapkan seseorang pada detik pertama melihat Ka’bah. Semua bayangan yang pernah dibangun sebelumnya runtuh begitu saya berdiri di pelataran Masjidil Haram tempat jutaan manusia datang untuk sujud, berdoa, dan meleburkan diri dalam ritme ibadah yang sama.

Ketika saya tiba di sini pada pertengahan Januari 2026, suasana sudah sangat ramai. Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh General Authority for the Care of the Affairs of the Grand Mosque and the Prophet’s Mosque, selama bulan Rajab 1447 Hijriah (sekitar Januari 2026), lebih dari 78,8 juta jamaah mengunjungi Dua Masjid Suci (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi). Dari total itu, hampir 35 juta jamaah beribadah di Masjidil Haram sendiri, angka yang mencerminkan tingginya kunjungan di luar musim haji puncak sekalipun.

Malam itu, Masjidil Haram dipenuhi jamaah dari berbagai negara. Suara langkah kaki beradu dengan lantunan doa yang dilafalkan dalam berbagai bahasa. Lampu-lampu menerangi marmer putih yang dingin, sementara Ka’bah berdiri tegak di pusatnya.

Saya datang sebagai perempuan yang pertama kali menunaikan umrah. Di antara kerumunan yang padat, saya berjalan dengan perasaan yang tidak sepenuhnya bisa dinamai. Bukan takut, bukan pula percaya diri, lebih mirip pasrah yang sedang belajar caranya sendiri.

Ketika Ka’bah akhirnya terlihat tanpa penghalang, tubuh saya bereaksi lebih cepat daripada pikiran. Langkah melambat. Napas tertahan. Dada terasa sesak bukan karena lelah, melainkan karena segala pretensi tentang diri, tentang kuat, tentang rencana, tentang kendali seolah luruh tanpa diminta.

Masjidil Haram, masjid terbesar di dunia dan pusat ibadah umat Islam, tidak menawarkan keheningan mutlak. Suaranya hidup, lantunan doa, langkah kaki yang berpindah, isak yang tertahan, bahkan desis desakan ketika jamaah menyesuaikan posisi. Namun justru di tengah keramaian itulah, kesunyian batin terasa paling nyata. Saya menyadari, ini bukan tentang seberapa dekat posisi tubuh dengan Ka’bah, melainkan tentang seberapa jujur seseorang berdiri di hadapan Tuhannya.

Tawaf pertama saya dimulai dengan langkah yang belum sepenuhnya mantap. Putaran demi putaran mengelilingi Ka’bah membawa ritme sendiri. Arus manusia bergerak tanpa henti, memaksa setiap jamaah untuk menyesuaikan diri bukan saling mendahului.

Kerumunan yang padat bukan sekadar statistik, tetapi realitas yang nyata. Banyak jamaah harus berhenti beberapa kali untuk memberi ruang, menunggu celah, atau sekadar mencari tempat untuk menarik napas. Di antara dorongan halus dan arus manusia itu, saya merasa tawaf bukan hanya ritual fisik, tetapi juga pelajaran tentang kesabaran dan kebersamaan.

Sebagai perempuan, ada batas-batas yang harus dipahami dan kesabaran yang diuji. Tidak semua ruang mudah diraih, dan tidak semua doa terucap dalam keadaan nyaman. Namun dari situ saya memahami bahwa ketulusan sering lahir dari situasi yang tidak sempurna.

“Yang penting terus bergerak dan menjaga niat,” ujar seorang jamaah perempuan asal Indonesia yang berjalan di samping saya, suaranya tenggelam oleh lantunan takbir namun terasa teguh.

Masjidil Haram mempertemukan saya dengan wajah-wajah yang asing namun terasa dekat. Seorang perempuan lanjut usia yang berdoa sambil duduk di tepi jalur tawaf. Jamaah muda yang membaca doa dari layar ponsel. Seorang ibu yang menuntun anaknya, berusaha menjaga langkah kecil itu tetap seirama dengan arus. Di hadapan Ka’bah, perbedaan latar belakang, usia, dan bahasa melebur. Tidak ada penanda status, yang terlihat hanyalah manusia datang dengan harapan, pulang dengan doa yang dititipkan.

Ka’bah menjadi titik pusat arah kiblat sekaligus titik temu manusia dengan dirinya sendiri. (intan)

Romantisme Jabal Rahmah di Padang Arafah

February 4, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Mekah — Di tengah bentangan Padang Arafah yang luas dan nyaris tanpa naungan, Jabal Rahmah berdiri tenang sebagai saksi bisu pertemuan manusia dengan dirinya sendiri. Bukan karena statusnya sebagai rukun haji, melainkan karena makna emosional yang melekat, bukit setinggi sekitar 70 meter ini kerap menjadi ruang romantisme spiritual bagi jamaah, tempat doa, air mata, dan janji pulang disimpan dalam diam.

Jabal Rahmah, yang berarti Bukit Kasih Sayang, telah lama hidup dalam ingatan kolektif umat Islam. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, bukit ini diyakini sebagai tempat pertemuan kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah lama terpisah. Meski tidak didukung dalil sahih yang tegas, narasi tersebut membangun simbol kuat tentang taubat, ampunan, dan harapan akan rahmat Allah, sebuah romantisme spiritual yang terus diwariskan lintas generasi.

“Begitu melihat Jabal Rahmah dari kejauhan, rasanya hati langsung berbeda,” ujarku dalam hati.

Secara geografis, Jabal Rahmah berada sekitar 25 kilometer dari Kota Makkah, di sisi tenggara Padang Arafah. Di puncaknya berdiri sebuah tugu putih yang dibangun semata sebagai penanda lokasi, bukan objek ibadah. Para pembimbing haji secara konsisten mengingatkan, tidak ada anjuran khusus untuk naik atau berdoa di titik tertentu di bukit tersebut.

Petugas dan ulama terus mengingatkan jamaah agar tidak terjebak pada praktik yang tidak berdasar, seperti mengusap batu, menyentuh tugu, atau meyakini doa di puncak bukit lebih mustajab. Imbauan ini disampaikan rutin setiap musim haji, mengingat masih adanya kesalahpahaman di kalangan jamaah.

Dalam beberapa tahun terakhir, suasana di sekitar Jabal Rahmah ikut berubah. Area sekitarnya dipenuhi pedagang cenderamata. Ponsel kerap terangkat, mengabadikan momen yang dianggap bersejarah secara pribadi.

Namun di balik hiruk-pikuk itu, Jabal Rahmah tetap berdiri sunyi. Ia tidak menjanjikan jawaban, tidak pula menawarkan keistimewaan ritual. Bukit ini hanya menjadi saksi, atas doa-doa yang dipanjatkan, air mata yang jatuh, dan manusia-manusia yang menyimpan harapan untuk pulang dengan hati yang lebih bersih. (intan)

Dukung Keberlanjutan Swasembada Pangan, Pupuk Indonesia Resmikan Modernisasi Pabrik Tertua Pupuk Kaltim

February 3, 2026 by  
Filed under Nusantara

BONTANG – PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui anak usahanya PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) meresmikan Revamping Ammonia Pabrik-2 sebagai bagian dari program revitalisasi industri pupuk nasional. Melalui langkah strategis peremajaan pabrik ini, Pupuk Indonesia Group dapat meningkatkan efisiensi energi dan memperkuat keandalan operasi pabrik guna menjaga keberlanjutan swasembada pangan.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi mengatakan, modernisasi Pabrik-2 Pupuk Kaltim mampu menurunkan konsumsi gas sebesar 4 MMBtu per ton amonia atau lebih dari 10% dari kondisi sebelumnya. Peningkatan efisiensi tersebut membuat produksi amonia sebagai bahan baku pupuk menjadi lebih hemat biaya dan mampu mengurangi emisi karbon sebanyak 110.000 ton CO2 per tahun.

“Modernisasi pabrik ini merupakan cerminan visi besar negara dalam membangun kemandirian industri pupuk sebagai fondasi keberlanjutan swasembada pangan, sebuah visi yang terus kami lanjutkan hingga hari ini,” ujar Rahmad.

Pupuk Indonesia bersama Pupuk Kaltim memulai proyek Revamping Ammonia Pabrik-2 pada November 2023 terhadap pabrik yang telah beroperasi sejak 1984 tersebut. Selama ini, Pabrik-2 Pupuk Kaltim menjadi salah satu tulang punggung produksi perusahaan dengan kapasitas tahunan mencapai 595 ribu ton amonia dan 570 ribu ton urea per tahun.

Modernisasi dilakukan melalui penggantian peralatan utama, meliputi pembaruan proses di shift converter, Ammonia Converter, dan CO2 removal system yang mampu meningkatkan efisiensi dan keandalan pabrik. Pabrik ini kini didukung otomatisasi dan digitalisasi sistem kontrol melalui penerapan Distributed Control System (DCS), yang memungkinkan pengendalian proses lebih akurat, pemantauan real-time, serta meningkatkan keandalan operasi dan kemudahan analisis gangguan. Secara keseluruhan, peremajaan ini mampu memperpanjang umur teknis pabrik hingga 15 tahun ke depan.

Revamping dapat terlaksana berkat dukungan Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 yang mempercepat program revitalisasi industri pupuk nasional melalui skema subsidi pupuk yang lebih adaptif, sehingga memberi ruang bagi Pupuk Indonesia memodernisasi pabrik. Selain Revamping Ammonia Pabrik-2, dalam lima tahun ke depan perusahaan menargetkan peremajaan dan Pembangunan 6 pabrik lainnya, seperti Revitalisasi Pusri 3B, pengembangan NPK Phonska VI Petrokimia Gresik, Pabrik Amurea PIM III, serta Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak.

“Revamping Ammonia Pabrik-2 merupakan proyek pertama yang diresmikan dari tujuh komitmen revitalisasi dan penguatan industri pupuk yang akan dijalankan Pupuk Indonesia Group hingga tahun 2029,” kata dia.

Direktur Utama Pupuk Kaltim, Gusrizal mengatakan Revamping Ammonia Pabrik-2 memiliki arti strategis bagi perusahaan. Melalui digitalisasi dan penerapan teknologi terbaru, pabrik kini beroperasi lebih efisien dan optimal, sehingga mampu memastikan pemenuhan kebutuhan bahan baku pupuk nasional secara berkesinambungan.

Melalui peremajaan ini, Pupuk Kaltim menegaskan komitmennya untuk mendukung program revitalisasi industri pupuk yang tengah dijalankan Pupuk Indonesia. Program tersebut menargetkan revitalisasi terhadap tujuh pabrik guna menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional.

“Modernisasi pabrik ini merupakan investasi jangka panjang untuk menghadirkan produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Melalui program ini, kami optimistis dapat menjaga pasokan pupuk nasional untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia secara berkelanjutan,” ujar Gusrizal.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam kesempatan yang sama mengapresiasi langkah Pupuk Indonesia dan Pupuk Kaltim dalam melakukan revitalisasi terhadap Pabrik-2. Menurutnya, proyek revamping ini sejalan dengan arahan Presiden untuk merevitalisasi industri pupuk nasional sebagai fondasi penguatan swasembada pangan.

“Capaian ini merupakan gagasan besar Bapak Presiden, yaitu Indonesia lumbung pangan dunia. Syarat menjadi lumbung pangan dunia, kita harus merevitalisasi industri pupuk kita,” kata Amran.

Dukungan serupa juga disampaikan Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto. Bagi Komisi IV DPR RI, keberlanjutan industri pupuk berkaitan erat dengan nasib petani dan masa depan bangsa. Oleh karena itu, pembaruan pabrik merupakan investasi jangka panjang yang penting untuk kedaulatan pangan nasional dan kemandirian industri strategis.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada Pupuk Kaltim dan Pupuk Indonesia Group yang tidak hanya menjaga warisan industri bangsa, tetapi juga memperbaruinya dengan visi masa depan. Karena yang kita rawat bukan sekadar mesin dan fasilitas melainkan harapan jutaan petani indonesia,” tutur dia. (*)

FWK Tegaskan 9 Februari Tetap Hari Pers Nasional, Soroti Sejarah dan Desak Revisi UU Pers

February 3, 2026 by  
Filed under Berita

Raja Parlindungan Pane dan Hendri Ch. Bangun

JAKARTA — Forum Wartawan Kebangsaan menilai peringatan Hari Pers Nasional (HPN) pada 9 Februari harus tetap dipertahankan. FWK menyebut tanggal itu berdasar sejarah perjuangan pers, bukan sekadar bertepatan dengan hari lahir organisasi.

Salah satu pendiri FWK, Hendry CH Bangun, mengatakan gugatan dari sejumlah pihak seperti Aliansi Jurnalis Independen dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia sah dalam demokrasi. Namun ia menegaskan 9 Februari 1946 di Solo menjadi momen penting ketika 120 wartawan berkongres dan menyatakan bersatu mendukung kedaulatan bangsa. Saat itu Republik menghadapi ancaman penjajahan kembali oleh Belanda dan isu Indonesia dibahas di PBB. Media seperti Kedaulatan Rakyat, Harian Merdeka, dan RRI berperan menyuarakan bahwa Indonesia masih ada. “Itu sejarahnya,” ujar Hendry di Jakarta, Selasa (3/2).

Hendry menambahkan, setelah reformasi dan lahir UU Pers 1999, pers bebas membentuk organisasi. Banyak organisasi wartawan dan perusahaan pers berdiri. PWI tidak lagi menjadi organisasi tunggal. Menurut FWK, seluruh organisasi pers, baik konstituen Dewan Pers maupun bukan, harus bekerja bersama menghadapi tekanan ekonomi, perubahan pola baca, konsumsi informasi, dan perilaku pasar. Dewan Pers diminta lebih peka terhadap kehidupan media, kesejahteraan, dan keselamatan wartawan.

Dalam diskusi di Jakarta, Koordinator Nasional FWK Raja Parlindungan Pane menyatakan sudah waktunya amandemen UU No.40/1999. Regulasi lama dinilai belum menampung perkembangan, termasuk perlindungan hukum wartawan. Ia merujuk putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 145/PUU-XXIII/2025 dari uji materi oleh Iwakum yang menilai Pasal 8 UU Pers belum lengkap.

FWK juga mendesak pemerintah bertindak cepat agar penutupan perusahaan pers berkurang. Media arus utama dinilai makin tertinggal dari media sosial dan platform digital. Jika tidak ditangani serius bersama organisasi pers dan pemerintah, narasi publik dikhawatirkan dipenuhi informasi bias dan kepentingan global. FWK mengusulkan pembentukan Gugus Tugas Penyelamatan Media Massa yang dipimpin Kementerian Politik dan Keamanan, melibatkan media, wartawan, dan akademisi.

« Previous PageNext Page »

  • vb