Dewi Yull Ziarahi Norbaiti

February 3, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

PENYANYI dan pemeran film senior Dewi Yull beberapa hari lalu datang ke Samarinda. Misinya bukan hiburan, tapi syiar agama. Dia dibawa oleh Sahabat Dakwah Almahyra (SDA), yang berkedudukan di Cimahi, Jawa Barat.

Dari informasi di media sosial, SDA adalah tim dakwah yang aktif menyelenggarakan safari kajian, renovasi masjid, wakaf Quran serta aksi sosial di antaranya bagi-bagi beras gratis dan air bersih. Tim ini berkolaborasi  dengan berbagai pihak, termasuk Al-Azhar 30 dan  menghadirkan pemateri terkemuka seperti Habib Ahmad Al Habsy termasuk Dewi Yull dan Mommy Angie.

Dewi Yull bersama Hj Debby dan Bu Mei di pengajian Majelis Nurhasanah

Di Samarinda, Dewi Yull di antaranya mengisi acara di rumah Bunda Hj  Debby di Ruko Griya Niaga, Sempaja. Hj Debby punya kelompok pengajian bernama Majelis Nurhasanah. Mereka menggelar acara bersama Dewi Yull dengan tema : “Yakin Saja dengan Skenario-Nya.”

Tema itu sepertinya langsung terkait dengan jalan hidup yang dialami Dewi Yull. Sangat baik untuk menginspirasi dan memotivasi  sebuah keluarga yang mengalami kekurangan atau cobaan dari Tuhan.

Saat ini, Dewi Yull dalam usia 64 tahun mengalami kebutaan mata sebelah kanan akibat ablasi retina. Kondisi ini terjadi karena minus mata yang sangat tinggi mencapai minus 25.

“Di usia saya, Tuhan ambil dan cabut satu penglihatan saya. Paru-paru saya bagus, jantung saya  alhamdulillah juga bagus. Jadi disyukurin ajalah. Ngga ada manusia yang sempurna. Robot aja ngga sempurna,” kata Dewi Yull.

Menurutnya, semua orang di keluarganya punya kondisi khusus dan mereka saling mendukung satu sama lain. “Kita itu sama-sama cacat. Kita itu sama-sama punya kelemahan. Kalau ngga pakai kacamata dulu ngga bisa melihat, jadi Surya Sahetapy (tunarungu) sama almarhum kakaknya, Gizca juga tunarungu dan harus pakai alat bantu dengar. Kita sama-sama dari mereka kecil, sama-sama butuh alat bantu,” jelasnya.

Dewi Yull dengan nama asli Raden Ajeng Dewi Pudjijati dikenal sebagai artis empat dekade. Dia penyanyi pop sejak tahun 1977. Lagu duetnya yang terkenal bersama Broery Marantika di tahun 1995 dan 1988 adalah “Jangan Ada Dusta di Antara Kita” dan “Rindu yang Terlarang.” Berkat lagu itu dia mendapat Anugerah Musik Indonesia sebagai penyanyi duo Pop Terbaik.

Aktingnya di layar lebar juga mengesankan. Dia sempat dinominasikan sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik pada FFI tahun 1985 dan 1987 ketika bermain dalam film Kembang Kertas dan Penyesalan Seumur Hidup.”

Tahun 1979, Titiek Puspa mempertemukan Dewi dengan aktor kawakan Ray Sahetapy. Lalu mereka menikah dan dikaruniai 4 anak. Sayang perkawinan yang sudah berlangsung 23 tahun itu, akhirnya kandas. Mereka bercerai di tahun 2004.

Dalam acara pengajian di kediaman Bunda Hj Debby itu, banyak jamaah mengikuti program waqaf Al Quran. Mereka bersedekah dengan mendapatkan satu cetakan Kitab Al Quran. Sedekahnya bervariasi sesuai kemampuan masing-masing. “Saya bersedekah 3 juta rupiah. Ada yang sampai 5 juta,” kata Hj Meiliana atau Bu Mei, mantan Pj Sekdaprov Kaltim yang sekarang aktif di berbagai lembaga sosial.

Menurut Dewi Yull, dana yang terhimpun dimanfaatkan SDA untuk aksi syiar Islam. Membantu pembangunan rumah ibadah, pesantren termasuk juga berbagi beras gratis dan air bersih.

Hj Debby mengaku senang bisa mendatangkan Dewi Yull  bersama SDA. “Tentu bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran kami dalam melaksanakan syiar Islam dan memahami serta menerima apa yang digariskan Allah kepada kami. Kita yakin skenario Allah itu terbaik untuk kita,” ujarnya.

SERING DIUNDANG PEMPROV

Hj Dewi Yull sering datang ke Kaltim. Dia salah satu penyanyi yang disukai Pemprov sejak era Gubernur Awang Faroek Ishak. Kebetulan Pak Awang suka bernyanyi, klop dengan kehadiran Dewi Yull dengan lagu-lagu lawasnya. Keakraban itu juga terjalin dengan Gubernur Isran Noor dan Ibu Hj Norbaiti Isran.

Itu sebabnya ketika berada di Samarinda kemarin, Dewi Yull menyempatkan diri melakukan ziarah ke makam almarhumah Ibu Hj Norbaiti di kediaman Pak Isran di Jl Adipura, Sungai Kunjang. Dia ditemani sejumlah ibu-ibu termasuk Bu Mei.

Norbaiti meninggal dunia pada Rabu, 24 Mei 2023 di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta karena sakit. Atas kesepakatan keluarga, jenazahnya dimakamkan di halaman samping rumah untuk memudahkan keluarga berziarah.

Sambil menaburkan bunga di pusara, Dewi Yull juga memanjatkan doa agar almarhumah hidup tenang di sisi Allah SWT. “Insyaallah beliau dalam keadaan husnul khotimah,” katanya dengan suara tenang.

Semasa hidupnya, Norbaiti dikenang sebagai istri gubernur yang sangat bersahaja dan disukai banyak orang. Dia sangat aktif sebagai ketua PKK dan Dekranasda. Juga sempat menjadi anggota DPR RI.

Sayang ketika dia berziarah, Pak Isran sudah berangkat ke Jakarta. Belakangan ini Pak Isran banyak tinggal di sana bersama anak cucunya. Beberapa hari sebelumnya Pak Isran pulang ke Samarinda di antaranya untuk memenuhi undangan Milad ke-21 Persekutuan Suku Asli Kalimantan (PUSAKA).

Pak Isran datang bersama mantan wakil gubernur Hadi Mulyadi. Kebetulan mereka berdua duduk sebagai Dewan Kehormatan. Ketua Umum DPP PUSAKA adalah Prof Dr Abdunnur, yang sekarang ini menjabat Rektor Universitas Mulawarman (UNMUL). Isran mendapat potongan pertama nasi tumpeng yang dilakukan Abdunnur.

“Semoga PUSAKA terus maju dan mampu berbuat terbaik untuk memperkuat persatuan masyarakat adat di Kalimantan khususnya Kaltim,” kata Isran.

Ketika akan meninggalkan acara di GOR Segiri, Isran sempat dicegat wartawan. Para wartawan memanggilnya “Kai.” Sebutan akrab untuk Pak Isran. Dia ditanya soal program Beasiswa Kaltim Tuntas (BKT) yang sukses dilaksanakannya dengan program Gratispol yang dikembangkan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wagub Seno Aji.

Gaya Pak Isran tak berubah seperti dulu. Dia sengaja memberi kesan menghindar untuk memberi jawaban. Dia lebih banyak berkata:  “Apa itu? Hah. Aku tetulian wayah ini,” katanya tersenyum. Lalu dia mengucapkan potongan kalimat untuk diterjemahkan awak media sendiri. “Mulai anak yang dikandung sampai mahasiswa S7 dapat, pokoknya,” katanya sambil meninggalkan kerumunan awak media. Sehat selalu Pak Isran.(*)

Ditunjuk Jadi Tuan Rumah MTQ Tahun 2026, Kecamatan Damai Gelar Rapat

February 3, 2026 by  
Filed under Kutai Barat

SENDAWAR – Kecamatan Damai ditunjuk menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan  Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten pada tahun 2026.

Rapat persiapan dilakukan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) beserta Muspika dan dan juga tokoh agama dan tokoh masyarakat, Kampung Damai Kota, di Aula Kantor Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat, Selasa (3/1/2026).

Camat Damai, Iman Setiadi menyampaikan hasil rapat pembahasan, LPTQ Kecamatan Damai pada prinsipnya  memiliki komitmen dan semangat untuk berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan MTQ tingkat Kabupaten.

Ia menyebut, berdasarkan hasil inventarisasi dan evaluasi bersama masih terdapat beberapa keterbatasan dan kebutuhan yang belum dapat di penuhi secara optimal.

“Diantaranya kami belum siap sarana dan prasarana utama dan pendukung, sumberdaya manusia dan kepanitiaan, serta kepastian dukungan anggaran  dan lintas sektor,”ungkapnya.

Dijelaskannya, LPTQ Kecamatan Damai menyimpulkan, saat ini Kecamatan Damai belum siap untuk ditetapkan sebagai tuan rumah MTQ tingkat kabupaten tahun 2026 ini.

“Kami dari Kecamatan Damai akan melakukan pembenahan dan persiapan bertahap dulu, serta melakukan koordinasi lanjutan dengan LPTQ kabupaten dan perangkat daerah terkait,”jelasnya.

Ia menegaskan, Kecamatan Damai dapat di pertimbangkan kembali pada pelaksanaan MTQ di tahun berikutnya, setelah semua persyaratan terpenuhi.

“Kami akan berbenah dulu dari semua sektor,”tandasnya. (arf)

Dua Rakaat di Masjid Quba

February 3, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

MADINAH – Masjid Quba berdiri sekitar lima kilometer dari Masjid Nabawi, Madinah. Jaraknya tidak jauh, namun cukup untuk membuat perjalanan ke sana terasa sebagai sebuah niat. Bangunannya kini tampil bersih dan lapang, dengan deretan kubah putih yang tersusun simetris. Tidak berusaha menyaingi kemegahan masjid besar lain di Madinah, tetapi menawarkan ketenangan yang langsung terasa sejak kaki menapak di pelatarannya.

Masjid Quba tercatat sebagai masjid pertama dalam sejarah Islam. Ia dibangun pada tahun 622 M, bertepatan dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. dari Makkah ke Madinah. Dalam perjalanan hijrah itu, Rasulullah SAW. singgah selama beberapa hari di perkampungan Quba. Di tempat inilah beliau bersama para sahabat meletakkan batu pertama pembangunan masjid, sebuah langkah awal yang menandai babak baru kehidupan umat Islam.

Sejarah tersebut membuat Masjid Quba tidak sekadar menjadi tempat ibadah, melainkan simbol permulaan. Di sinilah hijrah dimulai bukan dengan pidato atau penaklukan, tetapi dengan mendirikan ruang sujud.

Keutamaan Masjid Quba disebutkan secara tegas dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat Ibnu Majah dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba dan shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya pahala seperti umrah.”

Hadis ini yang kemudian melekat kuat dalam ingatan jamaah, dua rakaat yang setara umrah. Tidak ada syarat yang rumit. Tidak pula amalan yang panjang. Cukup bersuci, datang, dan shalat dua rakaat dengan niat yang sadar.

Di Masjid Quba, waktu terasa melambat. Jamaah datang dengan langkah pelan. Banyak yang memilih duduk sejenak sebelum shalat, menenangkan napas dan pikiran. Tidak ada dorongan untuk segera bangkit atau bergegas. Masjid ini seperti ruang singgah, tempat orang-orang mengingat kembali mengapa mereka datang jauh-jauh ke Madinah.

Sebagai jamaah perempuan yang pertama kali menginjakkan kaki di sini, saya merasakan, Masjid Quba menghadirkan suasana yang berbeda. Tidak ramai oleh lalu-lalang, tidak pula hiruk oleh suara. Dua rakaat shalat di masjid ini terasa sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia mengajarkan awal yang besar sering kali lahir dari langkah yang kecil.

“Shalat di Quba itu rasanya sangat berkesan ,” ujar seorang jamaah asal Indonesia yang saya temui di pelataran masjid. Kalimat singkat itu terasa mewakili banyak pengalaman serupa ibadah yang tidak melelahkan, tetapi meninggalkan jejak dalam hati.

Masjid Quba juga disebut dalam Al-Qur’an sebagai masjid yang dibangun atas dasar ketakwaan. Allah berfirman:

“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih pantas kamu shalat di dalamnya.”
(QS. At-Taubah: 108)

Banyak ulama menafsirkan ayat ini merujuk pada Masjid Quba. Sejak awal, masjid ini dibangun bukan hanya dengan batu dan tanah, tetapi dengan niat yang jernih dan tujuan yang lurus.

Seiring waktu, Masjid Quba telah mengalami beberapa kali perluasan dan renovasi. Kapasitasnya kini mampu menampung puluhan ribu jamaah, terutama pada akhir pekan. Namun nilai historis dan spiritualnya tidak berubah. Jamaah dari berbagai negara tetap datang dengan tujuan yang sama, menunaikan dua rakaat shalat sunnah, lalu berdoa. Tidak sedikit pula yang kembali datang lebih dari sekali selama berada di Madinah. (intan)

Pintu Romantis 338 Masjid Nabawi

February 3, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

MADINAH – Di antara lebih dari 40 pintu yang mengelilingi Masjid Nabawi di Madinah, satu nomor menjadi pembicaraan tersendiri di kalangan jamaah Indonesia, Pintu 338. Tak ada catatan sejarah resmi yang menjulukinya dengan nama tertentu, namun di media sosial dan banyak tulisan perjalanan jamaah, angka ini kerap disebut sebagai “pintu romantis”. Istilah itu muncul bukan karena arsitekturnya, melainkan karena cerita sederhana yang berulang dari banyak pasangan.

Masjid Nabawi memiliki banyak gerbang yang diberi nomor dan warna tertentu untuk memudahkan jamaah mengenali arah dan lokasi. Pintu 338 sendiri berada di sisi selatan bangunan masjid, dekat kawasan perhotelan dan deretan pertokoan di sekitar kompleks Masjid Nabawi.

Secara fungsional, pintu ini tidak berbeda dengan pintu lain. Namun secara praktik, ia menjadi salah satu titik temu yang sering dipilih oleh suami dan istri setelah salat berjamaah. Aturan pemisahan area salat laki-laki dan perempuan membuat sebagian jamaah keluar melalui jalur yang berbeda. Di sinilah Pintu 338 dipilih sebagai tempat bertemu kembali. “Selesai salat, ketemunya di sini saja,” ujar seorang jamaah asal Jawa Barat yang saya temui di luar Masjid Nabawi, menyingkap kebiasaan yang kemudian viral di kanal media sosial.

Fenomena ini kemudian berkembang menjadi simbol yang sederhana dan dekat, kesabaran, kebersamaan, dan keharmonisan dalam ibadah. Tidak ada aturan tertulis, tidak ada ritual khusus. Yang ada adalah praktik berulang yang menjadi semacam kesepakatan tak resmi di antara jamaah.

Bagi saya, sebagai perempuan berusia 23 tahun yang juga pernah berjalan di sekitar Masjid Nabawi, Pintu 338 bukan sekadar angka di denah masjid. Saat itu saya melihat suami yang berdiri menunggu, dengan mata yang sesekali menatap jam tangan, dan istri yang datang dengan senyum ringan sehabis salat.

Momen ini berlangsung beberapa menit, tetapi bagi pasangan itu, sekilas tatap dan langkah bersama terasa seperti pengingat, ibadah dilakukan bersama, meski secara teknis dilakukan terpisah untuk sementara. Moment itu saya ingat bukan sebagai drama romantis, tetapi fragmen kecil kehidupan yang mencerminkan bagaimana manusia menata kebersamaan di tengah kerumunan yang besar.

“Saya ingin suatu hari datang bersama pasangan saya,” ujar seorang teman yang berada disamping saya.

Pintu 338 juga menunjukkan hal lain, bagaimana ruang publik bisa diberi makna oleh pengalaman kolektif. Ia tidak dicatat dalam sejarah, tidak dipatenkan dalam peta resmi sebagai “tempat romantis”, namun dari kebiasaan kecil, lahirlah cerita yang terus dibicarakan. Beberapa pasangan bahkan mengambil foto di depan pintu ini, bukan sebagai bentuk selebrasi emosional, tetapi sebagai tanda, mereka telah mengalami satu fragmen perjalanan spiritual bersama, bertemu kembali setelah sujud, setelah doa, setelah menjalani ritme ibadah yang intens.

Tentu semua itu tetap berlangsung dalam koridor kesopanan dan tatanan sosial yang berlaku. Tidak ada tindakan yang melanggar ketentuan tempat ibadah, semuanya berjalan dengan tertib dan penuh rasa hormat kepada sesama jamaah. (intan)

Program Beasiswa PHM Capai 700 Penerima Manfaat

February 3, 2026 by  
Filed under Nusantara

KUKAR – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah operasi Kalimantan Timur. Melalui acara simbolis yang digelar di Samarinda, Rabu (21/1/2026), anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) ini menyalurkan bantuan pendidikan kepada 99 mahasiswa yang berasal dari keluarga prasejahtera. Program ini mencakup dua inisiatif utama, yaitu Bantuan Pendidikan Mahakam yang diperuntukkan bagi mahasiswa jenjang D3 hingga S2, serta Program Pendampingan Sarjana Pesisir khusus bagi lulusan SMA di wilayah pesisir untuk melanjutkan ke jenjang kuliah.

Penerima manfaat tahun ini tersebar di lima kecamatan strategis sekitar wilayah operasi perusahaan, yakni Samboja, Muara Jawa, Sangasanga, Anggana, dan Muara Badak. Program ini tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga menjalin kemitraan dengan 15 perguruan tinggi yang berlokasi di Samarinda, Balikpapan, dan Tenggarong. Sejak pertama kali dicanangkan pada tahun 2018, inisiatif tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR) ini telah menjangkau lebih dari 700 mahasiswa, menciptakan dampak berkelanjutan bagi kemandirian ekonomi daerah melalui pendidikan berkualitas.

Senior Manager Subsurface Development & Planning PHM, Susan Syahdina, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4, yakni pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata. Langkah ini juga didukung penuh oleh SKK Migas sebagai wujud nyata kontribusi industri hulu migas terhadap pembangunan daerah. Dengan memberikan akses pendidikan tinggi bagi putra-putri daerah, PHM berharap dapat mencetak agen perubahan yang mampu berkontribusi pada kemajuan ekonomi lokal dan nasional.

Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara, Sunggono, memberikan apresiasi atas konsistensi PHM dalam menjalankan program ini secara rutin setiap tahun. Ia menekankan bahwa keterbatasan ekonomi dan geografis tidak boleh menjadi penghalang bagi generasi muda untuk meraih gelar sarjana. Senada dengan hal tersebut, manajemen PHI juga memperkenalkan Program Beasiswa Sobat Bumi Kalimantan (BSBK) sebagai tambahan akses beasiswa penuh. Sinergi antara dunia industri, pemerintah, dan akademisi ini diharapkan terus memperkuat ketahanan energi nasional melalui ketersediaan SDM lokal yang unggul dan berdaya saing global.

« Previous PageNext Page »

  • vb