Lebih dari Satu Abad, Bubur Peca di Masjid Tertua Samarinda Tetap Terjaga

February 23, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

bubur peca

SAMARINDA – Tradisi memasak dan membagikan bubur peca di Masjid Shiratal Mustaqiem kembali berlangsung pada Ramadan tahun ini. Tradisi yang telah ada lebih dari 100 tahun tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah masjid tertua di Kota Samarinda.

Masjid yang dibangun sejak 1881 dan rampung pada 1891 oleh Habib Abdurrahman bin Hasan Al-Habsyi itu tidak hanya dikenal sebagai ikon cagar budaya, tetapi juga sebagai pusat pelestarian kuliner khas Ramadan yang hanya muncul setahun sekali.

Bubur peca dimasak menggunakan beras, santan, serta racikan bawang dan rempah yang dihaluskan terlebih dahulu. Teksturnya lebih padat dibanding bubur ayam pada umumnya, dengan cita rasa gurih-rempah yang kuat. Proses memasak dilakukan menggunakan tungku kayu karena dianggap menghasilkan kekentalan dan aroma yang berbeda dibanding kompor gas.

Kepala juru masak, Mardiana Alus (60), mengatakan ia telah mengabdikan diri lebih dari dua dekade dalam tradisi ini dan merupakan generasi keempat penerus resep bubur peca.

“Rasanya seperti ada kebahagiaan tersendiri ketika saya memasak bubur peca di sini. Karena untuk dibagi-bagikan juga, untuk orang berbuka puasa,” ujarnya ketika ditemui, Sabtu (21/2/2026).

Setiap hari, tim memasak 25 kilogram beras atau sekitar 300 piring bubur. Jumlah itu bisa meningkat hingga 40 kilogram saat jamaah dari luar daerah datang. Dalam sehari, 18 kilogram bawang diolah, dengan proses memasak berlangsung sejak pukul 08.00 Wita dan distribusi dimulai selepas Dzuhur.

Pendanaan tradisi ini awalnya banyak dibantu oleh Haji Muhyar, tokoh masyarakat Samarinda Seberang, serta dukungan swadaya warga. Hingga kini, tradisi tersebut tetap bertahan berkat partisipasi jamaah dan komitmen pengurus masjid. (intan)

Misteri Gunung Padang Babak Baru, Penggalian Tembus 20 Meter

February 23, 2026 by  
Filed under Nusantara

Cianjur – Tim Penelitian dan Pemugaran Situs Megalitikum Gunung Padang memastikan kajian dan proses pemugaran akan kembali dilanjutkan sepanjang 2026. Fokus penelitian tahun ini diarahkan pada pengungkapan lapisan budaya yang diperkirakan berusia ribuan tahun sebelum Masehi, sementara pemugaran fisik dilakukan di teras keempat.

Ketua Tim Penelitian dan Pemugaran, Ali Akbar, menyatakan saat ini pihaknya tengah melakukan berbagai rapat koordinasi dengan instansi terkait guna mematangkan rencana kajian lanjutan tersebut.

“Kami akan melakukan penggalian lebih dalam untuk mengungkap dugaan adanya struktur yang lebih tua lagi di dalam tanah. Sebelumnya hanya struktur di kedalaman 4–5 meter yang kami gali karena keterbatasan waktu. Tahun ini kami rencanakan penggalian bisa mencapai lebih dari 20 meter,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).

Menurut Ali, langkah tersebut diambil untuk menelusuri kemungkinan adanya lapisan budaya yang lebih tua dari temuan sebelumnya. Pada tahun lalu, tim telah melakukan pemugaran pada teras kelima yang diperkirakan berusia sekitar 500 tahun sebelum Masehi.

Tahun ini, pemugaran akan dilanjutkan pada teras keempat yang berada di samping teras lima, dan secara bertahap akan berlanjut ke teras berikutnya. Kegiatan penelitian dan pemugaran dijadwalkan berlangsung sejak Maret hingga Desember 2026.

Dalam pelaksanaannya, sekitar 100 ahli akan dilibatkan, dengan komposisi tim yang relatif sama seperti tahun sebelumnya. Namun, akan ada tambahan peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset. Warga setempat juga kembali dilibatkan dalam proses kegiatan tersebut.

Ali berharap kajian lanjutan ini dapat mengungkap lebih banyak fakta baru mengenai sejarah dan peradaban di kawasan Gunung Padang.

“Kami berharap semakin banyak temuan penting yang bisa memperkaya pemahaman kita tentang situs ini,” katanya.

Sementara itu, pada bulan-bulan awal pelaksanaan penelitian, kawasan situs masih dapat dikunjungi wisatawan dengan pengaturan tertentu, sebelum memasuki tahap intensif kegiatan lapangan hingga akhir Desember 2026. (*)

Run The City by Grand Filano Jadi Cara Baru Anak Muda untuk Menikmati Olahraga Sambil Hangout Bareng

February 23, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

BONE – Gaya hidup anak muda kini terus berkembang begitu cepat dan semakin beragam seperti senang berkumpul atau hangout bersama teman sejawatnya dalam bentuk nongkrong di cafe, riding bareng, hingga olahraga bersama untuk membuat momen kumpul bersama teman, membangun komunitas positif, hingga menunjukkan outfit lari yang fashionable dan kalcer. Melalui tren tersebut, Yamaha menghadirkan Run The City by Grand Filano Hybrid yang mengajak ratusan anak muda untuk bisa melaksanakan Fun Run dan seru-seruan bareng lewat beragam aktivitas lainnya sekaligus memperkenalkan warna terbaru Grand Filano Hybrid yang kalcer. Dan Kabupaten Bone membuka acara ini secara perdana (15/2) dengan sukses hingga mendapatkan antusiasme besar dari para generasi muda setempat serta sambutan positif dari pemerintah atas acara yang menyatukan antara olahraga dan lifestyle.

Kegiatan Run The City yang berlangsung di Bumi Arung Palakka ini dihadiri lebih dari 250 anak muda yang ikut ambil bagian dalam Fun Run ini sehingga menjadikan acara ini sebagai salah satu aktivitas olahraga paling semarak di awal tahun. Menariknya, animo yang begitu besar bukan hanya berasal dari rekan-rekan komunitas lari, tetapi juga dari para pengendara Grand Filano Hybrid yang berasal dari berbagai daerah dan telah menanti-nantikan kegiatan ini sehingga semakin mempertegas bahwa sebagian besar pengendara Grand Filano Hybrid merupakan anak muda yang menganggap gaya hidup sehat dan mobilitas harian dengan stylish kini semakin berjalan beriringan.

“Acara Run The City by Grand Filano ini menjadi acara yang sangat luar biasa karena selain terdapat rangkaian aktivitas seru seperti Fun Run, ngopi bareng hingga mendatangkan bintang tamu spesial, acara ini juga direspon dengan semangat yang luar biasa dari ratusan anak muda yang hadir khususnya para pengendara Grand Filano Hybrid yang punya gaya kalcer dan stylish serta gemar dengan olahraga lari yang sedang hype. Lewat acara ini, harapannya semakin banyak kawula muda yang mengetahui dan mengenal skutik kalcer Yamaha lebih jauh yang punya gaya stylish tapi tetap fungsional,” ujar Rifki Maulana, Manager PR, YRA & Community, PT Yamaha Indonesia Motor Mfg.

Kesuksesan acara Run The City by Grand Filano ini semakin terbukti dengan kehadiran pemerintah setempat, yaitu H. Andi Asman Sulaiman, Bupati Bone yang secara langsung membuka acara dan melepas peserta melalui flag off sehingga menjadi simbol apresiasi atas insiatif kuat untuk mengajak anak muda lebih aktif dan bugar. Titik start atau kumpul dari acara ini juga semakin memperkuat nuansa lifestyle anak muda karena berkolaborasi dengan Caf? Kavi yang merupakan salah satu caf? yang sedang menjadi favorit anak muda Bone sehingga olahraga, ruang nongkrong, dan interaksi sosial menyatu dalam satu pengalaman.

Selain diajak untuk berlari bersama, para peserta juga berkesempatan untuk mendapatkan berbagai merchandise menarik, salah satunya jersey lari dengan desain yang modern dan kalcer. Rangkaian acara Run The City by Grand Filano pun semakin lengkap dengan hadirnya hiburan khas anak muda, yaitu penampilan spesial DJ menjadi penutup yang menyegarkan, membantu para peserta melepas lelah setelah berlari sambil tetap menikmati suasana santai dan penuh energi.

”Rasanya acara hari ini lengkap banget karena bisa berolahraga sekaligus seru-seruan bareng teman-teman baru yang ternyata sefrekuensi soalnya masih muda semua sehingga mulai dari gaya penampilan hingga gaya hidup sehari-hari itu mirip-mirip dan pastinya semakin bangga lagi punya Grand Filano Hybrid yang selalu bisa dukung saya untuk mobilitas sehari-hari contohnya buat olahraga lari kaya gini yang butuh bawa banyak barang tapi bagasinya yang luas bikin saya jadi tidak perlu pusing-pusing untuk membawanya,” ujar Andi, peserta Run The City by Grand Filano sekaligus pengendara Grand Filano Hybrid Neo berwarna White.

Dengan terselenggaranya Run The City by Grand Filano di Bone, Yamaha membuka babak baru dalam menghadirkan aktivitas lifestyle yang dekat dengan anak muda. Keseruan aktivitas ini akan terus berlanjut hingga bulan Maret 2026 dan menyambangi kota-kota berikutnya yang pasti tidak kalah serunya. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai keseruan Run The City by Grand Filano, dapat ikuti terus Instagram resmi @yamahaindonesia dan @yamaha.classy.

Grand Filano Hybrid
Yamaha Grand Filano Hybrid dikenal sebagai skuter matik yang Fashionable dan Functional. Hal itu dikarenakan Yamaha Grand Filano Hybrid hadir dengan desain klasik yang timeless dan elegan, tapi tetap modern karena memiliki beragam fitur canggih seperti sudah menggunakan teknologi Blue Core Hybrid 125 cc yang irit dan powerful, TFT Sub Display pada speedometer dan lampunya sudah Full LED serta Smart Key System. Skutik yang punya beragam warna menarik ini tidak hanya stylish tapi juga praktis karena memiliki fitur Smart Front Refuel sehingga pengisian bahan bakar lebih praktis dan punya kapasitas bagasi terbesar di kelasnya yaitu 27 Liter serta fitur Electric Power Socket dengan USB Type A guna mendukung para pengendaranya bisa tetap online terkoneksi selama berkendara. Yamaha Grand Filano Hybrid hadir dalam dua varian, yaitu tipe Hybrid Lux dan tipe Hybrid Neo. Untuk tipe Hybrid Lux punya 2 pilihan warna, yaitu Magma Black dan Royal Iron. Sementara tipe Standard punya 4 pilihan warna menarik yang meliputi Greenish Gray, Pink Mauve, Prime Gray, dan White. (*)

Ramadan Jadi Strategi Pariwisata, Dispar Kaltim Gerakkan UMKM dan Komunitas

February 22, 2026 by  
Filed under Kalimantan Timur

SAMARINDA – Dinas Pariwisata Kalimantan Timur resmi membuka Kampung Ramadan Temindung 2026 bertajuk Gebyar Ekonomi Kreatif & Kuliner Ramadan Kalimantan Timur di halaman Temindung Creative Hub, Sabtu (21/2/2026) malam.

Kegiatan yang digelar selama 20 hari penuh ini diharapkan menjadi penggerak ekonomi kreatif sekaligus destinasi ngabuburit baru bagi masyarakat Samarinda.

Pembukaan Kampung Ramadan Temindung 2026 turut diramaikan dengan berbagai rangkaian kegiatan, salah satunya tradisi Begerakan Sahur yang menjadi daya tarik budaya agar memeriahkan bulan suci.

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, mengapresiasi penyelenggara kegiatan, yakni Gekraf Kalimantan Timur dan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) atas kolaborasi yang terjalin.

“Kegiatan ini bukan sekadar pasar Ramadan, tetapi gerakan ekonomi, ruang kolaborasi, dan etalase kreativitas Kalimantan Timur,” ujar Ririn.

Menurutnya, kawasan eks Bandara Temindung selama Ramadan didorong menjadi destinasi kreatif dan pusat aktivitas masyarakat. Dengan melibatkan puluhan pelaku UMKM dan komunitas kreatif, event ini menjadi bukti bahwa sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat tumbuh berdampingan serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Pariwisata hari ini bukan hanya tentang objek wisata, tetapi tentang pengalaman. Kampung Ramadan Temindung menghadirkan pengalaman lengkap, mulai dari kuliner khas Ramadan, bazar fesyen muslim, kerajinan lokal, hingga festival budaya seperti Begerakan Sahur, pawai obor, dan halal lifestyle festival,” jelasnya.

Ia menambahkan, event berbasis budaya dan religi seperti ini memiliki potensi besar dalam meningkatkan kunjungan masyarakat sekaligus perputaran ekonomi lokal.

Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dinas Pariwisata pun berkomitmen mendorong kegiatan serupa masuk dalam kalender tetap pariwisata daerah.

“Kita ingin setiap momentum, termasuk Ramadan, menjadi peluang untuk meningkatkan okupansi hotel, menghidupkan sektor transportasi dan kuliner, serta membuka ruang transaksi bagi UMKM,” katanya.

Ririn juga menegaskan, penguatan ekonomi kreatif menjadi prioritas, seiring posisi Kalimantan Timur sebagai gerbang masa depan Indonesia. Produk fesyen muslim, kuliner khas daerah, kerajinan tangan, hingga pertunjukan seni dinilai sebagai identitas sekaligus kekuatan ekonomi daerah.

Ia berharap Kampung Ramadan Temindung 2026 mampu meningkatkan omzet UMKM secara signifikan, menciptakan destinasi Ramadan yang ikonik dan berkelanjutan, menjadi contoh kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha, serta memperkuat citra Kaltim sebagai provinsi kreatif dan religius.

“Kepada seluruh masyarakat, mari kita ramaikan dan sukseskan kegiatan ini. Belanja di UMKM lokal berarti kita menggerakkan ekonomi tetangga kita sendiri. Hadir di event ini berarti kita ikut membangun ekosistem ekonomi kreatif daerah,” pungkasnya.

Kampung Ramadan Temindung 2026 diharapkan tidak hanya membawa keberkahan selama bulan suci, tetapi juga meningkatkan kunjungan wisata dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat Kalimantan Timur. (yud)

Mengapa Meminta Maaf ?

February 22, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Ramadhan Hendry Ch Bangun

Beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadhan, di grup WA atau di ponsel kita, penuh dengan permintaan maaf, mohon dimaafkan bila memiliki kesalahan disengaja atau tidak sengaja, berupa kata-kata ataupun tindakan. Konon, agar ketika menjalankan ibadah sebulan penuh ini tidak ada lagi ganjalan di hati sehingga ibadahnya lancar dan diterima Allah Subhana wa taala.

Hendry Ch. Bangun

Fenomena ini sudah berlangsung lama, tidak tahu persis kapan dimulai, tetapi agaknya ketika telpon seluler menjadi milik semua, bukan lagi barang ekslusif seperti era Motorolla yang dimiliki hanya segelintir orang kaya. Ketika ponsel semakin cerdas tidak lagi hanya kata atau kalimat, ada gambar, ikon, meme, simbol, meramaikan ucapan itu.

Menurut ahli, meminta maaf atau menerima maaf mengurangi stress dan kecemasan, membuat lega dan seperti lepas dari himpitan perasaan bersalah, serta meningkatkan kesehatan mental. Dan apabila dilakukan secara personal, tatap muka, dapat mengembalikan kualitas hubungan interpersonal. Tercipta saling menghargai dan bisa jadi hubungan yang tadinya buruk kembali membaik, menjadi teman baru lagi, dan ada manfaat bagi keduanya ke depan.

(Meski dalam ilmu manajemen diingatkan, orang yang bertindak buruk kepadamu, jangan lagi dijadikan teman, jangan dipercaya, karena sewaktu-waktu, entah kapan, dia kembali akan menyakitimu. Itulah sifat manusia. Oleh karena itu, forget it. Coret dari daftar kontak).

Tetapi di bulan baik ini, meminta maaf tentu perbuatan mulia. Bahkan menurut salah satu hadis, orang yang mau memaafkan orang yang berbuat salah, berbuat dosa kepadanya, akan dibangunkan istana dari emas di surga. Memberi maaf bukan merendahkan diri, justru dikatakan bakal mengangkat derajat seseorang. Dan pemaaf adalah satu ciri orang bertaqwa, sesuatu yang ingin dimiliki oleh setiap manusia.

Dan kalau bicara soal pahala, khsususnyadi Ramadhan ini, pastilah akan berlipat ganda karena dia seperti membuat dosa antarmanusia, seorang dengan seseorang, sudah hilang. Tentu kita semua tahu, Allah itu Maha Pemaaf (Al Afuww), Maha Pengampun (Al Ghaffar), apabila ada kesalahan kepadaNya, kalau kita meminta, pasti dimaafkan dan dosa kita diampuni. Sebesar apapun itu, bahkan sebanyak buih di samudera.

Tetapi dosa sesama manusia itu, hanya bisa dihapus kalau orang yang disakiti mau memberi maaf. Kalau tidak mau, tidak sempat, maka itu urusannya di akhirat sana. Maka dikatakan ada orang yang sepertinya amalnya sedikit, tetapi ketika dihisab nanti, hartanya di sana seperti emas sebesar gunung. Sebab semasa hidup di bumi, dia selalu dibully, dianiaya, digossipi, dipandang rendah, dan itu semua menjadi pahala baginya. Yang otomatis mengurangi pahala para pelaku, pembully, penganiaya, pemfitnah, sadar atau tidak sadar. Di sinilah sebenarnya, tradisi saling memaafkan, apalagi dilakukan secara fisik, menjadi sangat krusial kita lakukan. Kalau via WA, atau Instagram, Telegram, apalagi kalau bersifat generik, ya kadarnya sedikit. Itupun kalau diterima. *
Saya ingat suatu ketika KH Aqil Siradj diundang ke PWI Pusat diinisiasi Ilham Bintang, Dewan Kehormatan PWI, untuk mendapatkan masukan ahli agama itu tentang profesi wartawan. Waktu itu PWI satu-satunya organisasi wartawan yang mengakui bahwa pekerja media entertainmen sebagai wartawan. Yang lain masih menganggap bukan, karena pekerjaannya hanya menulis hal-hal tidak penting, tidak terkait dengan kepentingan publik, ecek-ecek.
Dalam kesempatan tersebut tokoh NU itu ditanya soal berita tentang artis, penyanyi, pesohor, yang kadang bersifat hura-hura, isyu perselingkuhan, perceraian, gossip rumah tangga dan sejenisnya.
“Berita seperti itu ghibah. Dan ghibah itu dosa,” katanya tegas.
“Kalau itu fakta, Pak Kyai ?”
“Fakta ya dosa. Apalagi kalau belum tentu kebenarannya. Membicarakan seseorang itu berdosa walaupun itu benar.”
Akhirnya hadirin mati kutu. Maksud hati ingin justifikasi pemberitaan entertainmen sebagai produk jurnalistik yang standar, menjadi goyah. Tapi setidaknya wartawan yang hadir, umumnya pengurus, sudah mendapatkan kepastian dari sisi hukum agama.
Apakah lalu media entertainmen surut? Ya tidak. Masalahnya fulus. Sudah banyak yang untung milyaran rupiah per bulan pada waktu itu, ya tentu saja apa yang disampaikan KH Aqil Siradj hanya dianggap masukan untuk dipikirkan. Keputusan tetap di tangan manajemen. Soal dosa itu urusan nanti. Dunia dulu Boss, mungkin begitu pikir si pemilik media.
Ya kalau dipikir-pikir, artis-artis, pemain sinetron, para penyanyi, yang diberitakan tentang hal yang benar, apalagi yang belum pasti sesuai fakta, mendapat pahala bertumpuk di akhirat nanti dari karya jurnalistik media entertainmen. Apakah pernah ada permintaan maaf secara individu dari pekerja pers, awak media kepada mereka, rasanya sih tidak. Mudah-mudahan ada dan juga mudah-mudahan sadar untuk minta maaf mumpung bulan baik dan masih ada nafas.
Bagaimana pula dengan media yang dalam pemberitaannya banyak memberikan label negatif, menghakimi tanpa konfirmasi, mengambil untung dari rasa takut narasumber, bahkan dengan sengaja melakukan fitnah tanpa dasar? Kalau ini jelas. Dari sisi Kode Etik Jurnalistik (KEJ) saja sudah melanggar pasal-pasal tertentu dan ada sanksinya. Termasuk kewajiban minta maaf apabila tidak akurat, ada itikad buruk. Maaf di sini sebagai upaya menyenangkan hati, menyembuhkan luka dari orang tersakiti oleh berita, sekaligus menunjukkan kualitas, kedewasaan, harkat dan martabat media, yang memberitakan.
Tetapi apakah kalau medianya sudah meminta maaf berarti “dosa” maka si wartawan yang menulis, atau editor yang “meloloskan” bahkan mungkin “mengarahkan” berita insinuatif, bohong, tidak akurat, sudah hilang? Itu urusan Yang Di Atas.
Kalau mekanisme kerja, proses jurnalistik, sudah jelas. Karya jurnalistik adalah satu produk hasil mata rantai panjang, mulai dari perencanaan, pengumpulan fakta dan data di lapangan, proses penulisan, proses editing, dan akhirnya persetujuan diberitakan atau disiarkan. Setiap titik itu ada peran. Semua terlibat, meski penanggungjawab akhir ada di tangan pengambil keputusan bahwa berita layak ditayangkan. *
Dalam banyak hal harus diakui kualitas media dan wartawan kita secara umum masih terdapat kualitas yang njomplang. Ada yang mutunya bisa disamakan dengan media-media di negara maju seperti AS, Eropa, Jepang, yang jelas proses rekruitmen, jelas pelatihan rutin, jelas proses pematangan dengan liputan-liputan bertahap, dst. Ada yang sama sekali tidak bermutu, main tunjuk seseorang menjadi wartawan, tidak dibekali pemahaman KEJ, tidak dilatih, tidak diberi pengarahan. Langsung terjun ke lapangan. Cakupannya dari A sampai Z.
Dengan kondisi seperti ini, pemahaman tentang tanggungjawab moral dan etika ya bervariasi juga. Ada yang peka terhadap nama baik, privasi individu, dan menahan diri untuk menerobos wilayah pribadi meskipun mungkin orang yang akan jadi narasumber itu pejabat atau memiliki tugas berurusan dengan publik. Ada yang terpaksa menabrak batas karena kewajiban kantor untuk melengkapi berita yang akan disiarkan, atau minimal memberi ruang konfirmasi. Ada yang tidak peduli karena bagi mereka, berita harus menjadi viral, banyak klik, lebih penting.
Ada media yang sudah jelas mengambil posisi tertentu sehingga mau benar atau salah maka sosok tertentu selalu dicari sisi negatifnya. Ada yang karena unsur tertentu sebaliknya mengambil sisi positif dan sepihak atas kegiatan-kegiatan sosok atau kelompok itu. Nilai berita menjadi nisbi disesuaikan dengan kepentingan.
Maka media bisa menjadi pembawa kabar baik, berita menyenangkan, memberi gairah, memberi inspirasi, dan semangat. Ada yang membuat sakit kepala, meningkatkan emosi, sampai ke proses hukum karena dianggap sudah merusak nama baik. Ini tidak lepas dari visi misi media, ketika didirikan, ataupun menyesuaikan diri dengan kondisi sosial politik dan pendapatan.
Sambil menunggu berbuka puasa, yang dianjurkan berzikir dan membaca doa, sebagai orang yang menyebut dirinya wartawan, bagus juga kita melihat ulang ke belakang. Masih adakah kesalahan, kelalaian, yang telah membuat orang sakit hati, entah itu narasumber, masyarakat, rekan kerja, rekan satu organisasi, yang belum kita mintakan maafnya? Mari tanyakan ke hati nurani.
Itupun kalau dianggap perlu. Semua terserah Anda. Wallahu a’lam bishawab.
Ciputat 22 Februari 2026.

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1379436
    Users Today : 537
    Users Yesterday : 6369
    This Year : 315945
    Total Users : 1379436
    Total views : 12412866
    Who's Online : 47
    Your IP Address : 216.73.216.50
    Server Time : 2026-02-25