Kolaborasi Belantara Foundation dengan Universitas Pakuan dan Kebun Raya Bogor Edukasi Generasi Muda Jepang Lewat Pendataan Fauna-Flora

August 4, 2026 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com, Bogor – Belantara Foundation bekerja sama dengan Universitas Pakuan dan PT. Mitra Natura Raya sebagai pengelola Kebun Raya Bogor memberikan edukasi dan peningkatan kapasitas kepada pelajar dan mahasiswa dari Jepang.

Mereka berasal dari University of Tsukuba Senior High School (UTSS) at Sakado, Ehime University Senior High School dan University of Tsukuba lewat aksi mengidentifikasi fauna dan flora di kawasan urban yang dikemas melaui kegiatan Belantara Biodiversity Class (BBC) di Kebun Raya Bogor pada Sabtu (1/8/2026).

Pelaksanaan BBC kali ini merupakan aksi nyata dari Belantara bersama mitra untuk mendukung pemerintah dalam memeriahkan perayaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 yang diperingati pada 10 Agustus setiap tahunnya. Dengan tema “Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia”.

HKAN 2026 ini menekankan pelestarian alam dan biodiversitas merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan multi pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat khususnya generasi muda.

Hal ini sangat sejalan dengan tujuan utama BBC, yaitu meningkatkan kesadaran (awareness) dan pemahaman masyarakat khususnya generasi muda akan pentingnya menjaga dan melestarikan biodiversitas, khususnya yang ada di kawasan perkotaan.

Rangkaian kegiatan BBC diawali dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta sebanyak 25 pelajar dan mahasiswa dari Jepang mengenai hewan dan tumbuhan di Kebun Raya Bogor.

Selanjutnya, para peserta dibagi menjadi empat kelompok, dan setiap kelompok menjelajahi empat jalur pengamatan yang telah ditentukan pada pukul 07.30 – 09.30 WIB. Masing-masing jalur pengamatan panjangnya sekitar 1 kilometer, dan para siwa dan mahasiswa dibekali dengan binokuler/teropong, leflet panduan identifikasi fauna-flora, serta buku catatan hasil pendataan.

Pada saat pengamatan lapangan, para peserta dipandu oleh fasilitator dari Belantara, mahasiswa dan dosen dari Prodi Biologi Fakultas MIPA, Prodi Pendidikan Biologi Fakultas KIP, Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Prodi Pendidikan IPA Sekolah Pascasarjana, Prodi Pendidikan Dasar Sekolah Pascasarjana, dan Prodi Manajemen Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan serta Kebun Raya Bogor. Selain itu, turut membantu sebagai penerjemah yaitu mahasiswa dan dosen dari Prodi Bahasa & Sastra Jepang FISIB Universitas Pakuan.

Setelah seluruh data terkumpul, peserta mengikuti sesi diskusi untuk memaparkan hasil observasi lapangannya. Kegiatan ditutup dengan peserta mengikuti post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Pada sambutannya, Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan Kebun Raya Bogor, yang merupakan salah satu pusat konservasi tumbuhan tertua dan terpenting di Asia Tenggara, memiliki peran yang sangat strategis, bukan hanya sebagai pusat konservasi tumbuhan, tetapi juga sebagai ruang terbuka hijau terluas di Kota Bogor. Dengan luas sekitar 87 hektar, Kebun Raya Bogor memberikan berbagai manfaat ekologis, edukatif, ilmiah, dan sosial bagi masyarakat.

“Keberadaan ruang terbuka hijau seperti Kebun Raya Bogor dapat berkontribusi dalam menjaga kualitas udara, mengatur iklim mikro dan menjadi habitat bagi beragam fauna dan flora, serta menyediakan laboratorium alam, tempat menimba ilmu bagi pelajar khususnya bidang biologi,”ujar Dolly yang juga sebagai pengajar Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.

Dolly menambahkan, pembelajaran langsung di lapangan dapat memberikan pengalaman yang lebih berkesan karena peserta tidak hanya mengenal kekayaan biodiversitas Indonesia, tetapi juga memahami pentingnya data satwa dan tumbuhan sebagai dasar dalam upaya konservasinya.

“Konservasi tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Konservasi hanya akan berhasil apabila dibangun melalui kemitraan yang kuat, saling percaya, dan berbagi pengetahuan”, imbuhnya.

Salah satu komponen biodiversitas, yaitu satwa liar memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan ekosistem. Misalnya, burung dapat membantu dalam penyebaran biji (seeds dispersal), kupu-kupu berperan penting sebagai pollinator, yaitu agen penyerbuk alami bagi bunga dan herpetofauna (reptil dan amfibi) dapat membantu pengendali hama (biokontrol). Selain itu, burung, kupu-kupu dan herpetofauna dapat menjadi indikator baik atau tidaknya kualitas suatu lingkungan (bioindikator).

Akan tetapi, seiring pesatnya pembangunan, biodiversitas khususnya satwa liar menghadapi ancaman seperti kehilangan habitat, perburuan dan perdagangan secara ilegal, pencemaran lingkungan, perubahan iklim global, serta kerusakan ekosistem yang berdampak pada produktivitas dan kesehatan habitat mereka. Dalam penutup sambutan yang menggunakan bahasa campuran Jepang dan Indonesia, Dolly berpesan, “Alam bukanlah warisan yang kita terima dari nenek moyang kita, melainkan titipan yang kita pinjam dari generasi yang akan datang”.

“Saya percaya bahwa apa yang kita lihat, rasakan, dan pelajari hari ini akan menjadi kekuatan untuk menjaga bumi kita di masa depan. Saya juga berharap kita semua dapat menjadi Global Biodiversity Ambassadors—Duta Global Keanekaragaman Hayati—yang menyebarluaskan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati kepada masyarakat dunia,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Head Teacher of International Studies Senior High School at Sakado, University of Tsukuba, Yoshikazu Tatemoto mengatakan program ini memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi para siswa dan mahasiswa karena mereka dapat menghubungkan teori yang dipelajari di sekolah dengan praktik lapangan.

Di sela-sela kegiatan, perwakilan peserta dari University of Tsukuba Senior High School at Sakado, Kobayashi Mia mengatakan setiap spesies memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Pengalaman ini membuatnya semakin memahami pentingnya melindungi alam dan biodiversitas.

Pada waktu yang sama, salah satu peserta dari Ehime University Senior High School, Yoshinaga Uta mengatakan bahwa melihat secara langsung begitu banyak jenis tumbuhan dan satwa liar di Kebun Raya Bogor memberikan pengalaman yang sangat mengesankan. Dia belajar bahwa konservasi membutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk generasi muda.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa dari University of Tsukuba, Kobori Hayato mengutarakan kegiatan ini menunjukkan bahwa pendataan biodiversitas merupakan langkah awal yang sangat penting dalam upaya konservasi. Pengalaman pengamatan biodiversitas dan berdiskusi bersama para peserta menjadi pembelajaran yang sangat berharga baginya.

SPV Pengembangan Konservasi Kebun Raya Bogor, Saniyatun Mar’atus Solihah, mengatakan bahwa Kebun Raya Bogor memiliki peranan penting sebagai pusat konservasi tumbuhan sekaligus ruang belajar bagi masyarakat.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena dapat memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk belajar mengenali biodiversitas secara langsung. Semoga pengalaman ini dapat menumbuhkan kepedulian dan komitmen terhadap pelestarian biodiversitas di tingkat global,” tandas Saniyatun.(vb/yul)

 

Mengenal Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Nasional 2026-2055 Menyambut Hari Mangrove Sedunia 2026

July 27, 2026 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Belantara Foundation menyelenggarakan acara serah terima bantuan berupa alat dan modal usaha bagi Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) pada lima desa, yaitu Desa Sungai Bela, Desa Concong Dalam, Desa Concong Tengah, Desa Kampung Baru, dan Desa Panglima Raja, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau pada 6-7 Juli 2026. Kawasan lima desa tersebut didominasi oleh hutan mangrove..

Vivaborneo.com, Indonesia merupakan negara yang memiliki ekosistem mangrove terbesar di dunia. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2025, Indonesia memiliki tutupan mangrove seluas 3.45 juta hektare, yang mencakup sekitar 20% dari total luasan ekosistem mangrove dunia. Jumlah luasan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 594 Tahun 2025 tentang Peta Mangrove Nasional Tahun 2025.

Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup baru-baru ini mengesahkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPEM) Nasional 2026-2055 melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 2412 Tahun 2026 tertanggal 25 Mei 2026.

RPPEM Nasional 2026-2055 merupakan sebuah dokumen perencanaan nasional jangka panjang yang menjadi pijakan penting dalam memastikan keberlanjutan ekosistem mangrove Indonesia selama tiga dekade ke depan yang disusun sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.

Dokumen tersebut merupakan langkah strategis dalam memperkuat perlindungan ekosistem mangrove sebagai bagian dari pembangunan nasional yang berketahanan iklim, mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045. Ini memperkuat implementasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, mendukung pencapaian Enhanced Nationally Determined Contribution (Enhanced NDC) Indonesia, serta berkontribusi terhadap target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 dan berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Sebagai negara yang memiliki salah satu kawasan mangrove terluas di dunia, Indonesia memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas iklim global sekaligus melindungi kehidupan masyarakat pesisir. Mangrove merupakan benteng alami yang mampu mengurangi risiko abrasi pantai, meredam energi gelombang dan badai, menahan intrusi air laut, menjadi habitat berbagai spesies penting, serta menyimpan karbon dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan banyak ekosistem daratan.

Selain fungsi ekologisnya, mangrove juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial melalui sektor perikanan, ekowisata, hasil hutan bukan kayu, hingga berbagai usaha berbasis masyarakat yang mendukung penghidupan berkelanjutan.

Namun demikian, berbagai tekanan terhadap ekosistem mangrove masih terus terjadi, antara lain akibat perubahan penggunaan lahan, pembangunan kawasan pesisir yang tidak berkelanjutan, pencemaran, degradasi habitat, serta dampak perubahan iklim. Tantangan tersebut memerlukan kebijakan jangka panjang yang mampu mengintegrasikan aspek perlindungan, pemulihan, pemanfaatan berkelanjutan, serta penguatan tata kelola secara menyeluruh.

Merespon hal tersebut, Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan bahwa RPPEM Nasional 2026–2055 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki visi jangka panjang dalam menjaga salah satu aset alam paling penting yang kita miliki. Tantangan pengelolaan mangrove saat ini tidak lagi dapat diselesaikan secara sektoral. Dibutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, lembaga filantropi, media, dan organisasi masyarakat sipil agar perlindungan mangrove menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional.

“Belantara Foundation memandang RPPEM Nasional sebagai peluang untuk memperkuat pendekatan kolaboratif yang selama ini kami dorong, yaitu menghubungkan kepentingan konservasi biodiversitas dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kami percaya bahwa mangrove yang sehat bukan hanya menghasilkan manfaat ekologis, tetapi juga menciptakan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, dan memperkuat pencapaian target pembangunan berkelanjutan Indonesia”, ujar Dolly. “Sebagai aksi nyata, sejak 2023 kami, Belantara Foundation, mendampingi masyarakat pesisir melalui skema Hutan Desa di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, yang kawasannya didominasi hutan mangrove dalam mengembangkan berbagai potensi ekonomi yang ada,” lanjut Dolly.

“Oleh karena itu, Belantara Foundation berkolaborasi dengan Klaster Lingkungan Hidup dan Konservasi Filantropi Indonesia menginisiasi rangkaian kegiatan kampanye dan edukasi memperingati Hari Mangrove Sedunia 2026 yang diperingati pada 26 Juli setiap tahunnya. Kami mengusung tema “Jaga Mangrove, Kehidupan Lestari”, yang bertujuan untuk memberikan penyadartahuan dan edukasi kepada publik akan pentingnya menjaga dan mengelola ekosistem mangrove secara lestari dan berkelanjutan. Rangkaian kegiatan kampanye dan edukasi ini dilaksanakan secara luring dan daring, yaitu edukasi bagi siswa tingkat sekolah dasar melalui kunjungan ke hutan mangrove, penyadartahuan dan kampanye digital, seminar/webinar nasional inspiratif dan penanaman mangrove,” pungkas Dolly, yang juga pengajar Manajemen Lingkungan di Sekolah Pcasarjana Universitas Pakuan.

Sementara itu, (Plt.) Direktur Eksekutif Perhimpunan Filantropi Indonesia, Rully Amrullah, menuturkan bahwa Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) memiliki peran strategis dalam memperkuat upaya pelestarian lingkungan melalui kolaborasi program yang inovatif, penguatan kapasitas, kampanye aksi iklim dan lingkungan, serta implementasi program lingkungan yang lebih berdampak. PFI juga mendorong kolaborasi multipihak yang melibatkan komunitas, pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil untuk memastikan keberlanjutan program lingkungan sehingga intervensi yang dilakukan lebih tepat sasaran, partisipatif, dan inklusif.

“RPPEM Nasional 2026–2055 membuka ruang yang lebih luas bagi lembaga filantropi untuk berkontribusi secara terarah dalam mendukung konservasi mangrove. Kami berharap semakin banyak organisasi filantropi, sektor swasta, komunitas, dan masyarakat yang berinvestasi dalam perlindungan ekosistem mangrove sebagai investasi bagi ketahanan iklim, kesejahteraan masyarakat, dan masa depan Indonesia,” tandas Rully.

Chief Executive Officer Rumah Zakat dan Koordinator Klaster Lingkungan Hidup dan Konservasi Filantropi Indonesia, Irvan Nugraha menegaskan perlindungan mangrove tidak hanya berbicara mengenai pelestarian lingkungan, tetapi juga tentang peningkatan kualitas hidup masyarakat yang bergantung pada ekosistem pesisir. Rumah Zakat melihat bahwa pemberdayaan masyarakat harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari implementasi RPPEM Nasional 2026-2055. Melalui kolaborasi lintas sektor, kita dapat menciptakan program-program yang memberikan manfaat ekologis sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.(vb/rls/adv)

Belantara Foundation Serahkan Bantuan Alat dan Modal Usaha Tani Bagi Lima Desa di Indragiri Hilir Riau

July 11, 2026 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com, Riau — Belantara Foundation menyelenggarakan acara serah terima bantuan berupa alat dan modal usaha bagi Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) pada lima desa, yaitu Desa Sungai Bela, Desa Concong Dalam, Desa Concong Tengah, Desa Kampung Baru, dan Desa Panglima Raja, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau pada 6-7 Juli 2026.

Bantuan yang diberikan kepada masing-masing desa, didasarkan atas hasil asesmen potensi aktivitas ekonomi kelompok masyarakatnya, yang dilakukan oleh Belantara Foundation sebelumnya, di desa-desa yang kawasannya didominasi ekosistem mangrove tersebut.

Belantara Foundation memberikan bantuan berupa alat dan modal usaha untuk pengembangan usaha kerupuk udang kepada KUPS Pakan Makmur di Desa Sungai Bela. Sedangkan untuk KUPS Bina Keluarga, di Desa Panglima Raja untuk pengembangan usaha kerupuk amplang.

Selain itu, Belantara Foundation juga memberikan bantuan alat dan modal usaha kepada KUPS Kepiting Alam Berkah, di Desa Concong Dalam dan KUPS Kepiting Lestari, di Desa Concong Tengah, masing-masing untuk pengembangan usaha budi daya kepiting (ketam), sedangkan KUPS Nipah Pesisir, Desa Kampung Baru untuk pengembangan usaha pucuk dan lidi nipah.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, saat memberikan sambutan pada acara serah terima bantuan secara simbolis mengatakan bahwa program ini bertujuan untuk membantu pemberdayaan masyarakat agar pada satu saat akan mampu mengelola hutan desa secara berkelanjutan, sekaligus mengurangi laju deforestasi, memulihkan kawasan hutan yang terdegradasi, meningkatkan manfaat jasa ekosistem, serta memperkuat mata pencaharian masyarakat.

Program ini juga mendorong upaya perlindungan dan pemulihan ekosistem hutan beserta biodiversitas, yang merupakan fondasi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dalam upaya mendukung FOLU Net Sink 2030, serta tujuan pembanguan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.

Sejak 2023, Belantara telah menjalankan program pengelolaan hutan desa berkelanjutan, yang merupakan wujud komitmen Belantara dalam mendukung target Perhutanan Sosial pemerintah melalui penguatan tata kelola hutan berbasis masyarakat, khususnya pada enam hutan desa di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Dalam implementasi kegiatan yang telah berjalan sekitar 3 tahun ini, Belantara berhasil memfasilitasi pengusulan hingga mendapat Surat Keputusan (SK) hutan desa di enam desa di Indragiri Hilir, Riau. Enam desa tersebut yaitu Desa Concong Dalam, Desa Panglima Raja, Desa Kuala Gaung, Desa Kampung Baru, Desa Concong Tengah, dan Desa Sungai Bela dengan total kawasan seluas 10.087 hektar. Saat ini, Belantara juga masih membantu memfasilitasi pengusulan hutan desa baru di Desa Sungai Bela.

Lebih dari itu, Belantara telah memfasilitasi berbagai kegiatan, mulai dari pembentukan enam pengelola hutan desa dengan melibatkan 124 anggota masyarakat, menyusun rencana pengelolaannya, memberikan peningkatan kapasitas pengelola hutan desa, hingga pembentukan enam Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dengan melibatkan 74 anggota masyarakat.

“Saat ini, program pengelolaan hutan desa berkelanjutan berfokus untuk mendukung target SDGs ke 13 yaitu mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya,” jelas Dolly.

Target SDGs ke 15 yaitu melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem, serta target SDGs ke 17 yaitu menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.

Pada waktu yang sama, Penyuluh Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Mandah, Bapak Syamsi Mahdi mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik dan mengapresiasi program yang dijalankan Belantara dan para mitra dalam upaya memperkuat program perhutanan sosial yang telah dijalankan pemerintah, khususnya dalam pengelolaan hutan desa berkelanjutan di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

“Kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk mendorong sinergi antara pelestarian kawasan hutan, pemberdayaan masyarakat, serta pembangunan desa yang berorientasi pada keberlanjutan”, ujar Bapak Syamsi.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Desa Concong Tengah, Kecamatan Concong, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Bapak M. Asikin, S.Sos., menyampaikan apresiasi atas dukungan Belantara dalam memperkuat pengelolaan desa berkelanjutan di wilayah nya.

Pendampingan ini menjadi peluang yang sangat baik bagi desa untuk meningkatkan kapasitas dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Senada dengan Bapak M. Asikin, S.Sos., Kepala Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuala Indragiri, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Bapak Erwandi, S.H., mengatakan sebagai desa yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar, pihaknya menyadari bahwa pengelolaannya harus dilakukan secara berkelanjutan agar dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat tanpa mengurangi fungsi ekologis lingkungan.

Kepala Desa Panglima Raja, Kecamatan Concong, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Bapak H. Haliar, mengucapkan terima kasih atas hadirnya Belantara Foundation yang memberikan pendampingan pada LPHD dan KUPS di desanya. Ia juga berharap potensi wisata mangrove di desanya dapat dibantu untuk dikembangkan.

Ketua KUPS Bina Keluarga, Desa Panglima Raja, Ibu Yusnizar mengungkapkan melalui dukungan Belantara, kami berharap dapat meningkatkan ekonomi keluarga dan juga para anggota KUPS.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua KUPS Nipah Pesisir, Ibu Zuraida mengatakan pendampingan dari Belantara bukan hanya memberikan penguatan kelompok ibu-ibu, tetapi juga membuka peluang untuk mengembangkan usaha yang lestari.(vb/rls/adv)

 

 

 

 

 

Sambut Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia 2026, Belantara Foundation Ajak Sektor Swasta Jepang Tanam Pohon

June 13, 2026 by  
Filed under Hukum & Kriminal

Vivaborneo.com, Riau — Belantara Foundation mengajak mitra sektor swasta Jepang menanam bibit pohon secara simbolis di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), Provinsi Riau pada Kamis (11 Juni 2026). Kegiatan ini menyambut Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia 2026,

Aksi tanam pohon ini terselenggara atas kerja sama dengan Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura serta Kelompok Tani Hutan yang menjadi mitra Tahura SSH.

Salah satu jenis bibit pohon yang ditanam adalah balangeran (Shorea balangeran), yang termasuk dalam kategori spesies pohon langka yang perlu dilestarikan. Penanaman ini merupakan salah satu bentuk aksi nyata kerja sama multipihak dalam upaya restorasi hutan yang terdegradasi.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan, restorasi ekosistem merupakan salah satu isu global yang sangat penting dan mendesak saat ini. Ditambahkan, jika dunia telah menargetkan pemulihan seluas 1,5 miliar hektar lahan terdegradasi pada 2030. Restorasi ekosistem dianggap sebagai salah satu langkah strategis dan efektif untuk memitigasi perubahan iklim, meningkatkan ketahanan pangan, menjaga suplai air, serta melindungi biodiversitas.

Dengan tema “Rangelands: Recognize. Respect. Restore” atau “Padang Rumput: Kenali. Hormati. Pulihkan”, Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia yang jatuh pada 17 Juni  2026.

Ini diharapkan menjadi momentum penting guna membangun dan meningkatkan kesadaran masyarakat global untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga dan melestarikan lingkungan. Lebih dari itu, peringatan ini bisa menjadi kesempatan bagi semua elemen masyarakat, termasuk sektor swasta, untuk berkontribusi dalam upaya pemulihan lahan yang terdegradasi.

Tujuan utama penanaman simbolis ini adalah untuk memperluas keterlibatan sektor swasta dalam kerja sama pada program restorasi hutan yang terdegradasi untuk mendukung beberapa Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan melestarikan jenis pohon lokal terancam punah serta mengurangi dampak perubahan iklim.

Lebih lanjut, Dolly, yang juga merupakan pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan menegaskan bahwa kegiatan seremonial penanaman bibit pohon bersama mitra sektor swasta Jepang ini merupakan bagian dari program “Forest Restoration Project: SDGs Together!” yang dijalankan sejak 2020 lalu.

Program ini merupakan program pemulihan hutan yang terdegradasi yang diharapkan dapat membantu upaya mengembalikan fungsi iklim mikro dan pengaturan tata air pada ekosistem hutan, mengurangi resiko kerusakan lingkungan seperti tanah longsor dan erosi, tercemarnya sumber air, turunnya muka air tanah, kebakaran lahan, serta polusi udara.

Selain itu, restorasi hutan terdegradasi juga dapat memperbaiki kualitas lingkungan, termasuk kualitas udara, kualitas air, pohon, tanah, dan populasi satwa liar beserta habitat alaminya. Tidak hanya mendukung restorasi hutan terdegradasi, program ini juga diharapkan mampu mendorong peningkatan sosial-ekonomi masyarakat lokal secara berkelanjutan.

“Sesuai dengan misi dari United Nation Sustainable Development Goals (UN SDGs) atau Persatuan Bangsa-Bangsa atau yaitu no one left behind dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, kami menggunakan pendekatan kolaborasi multipihak, salah satunya dengan menggandeng sektor swasta dari Jepang untuk mendukung gerakan restorasi hutan terdegradasi di Pulau Sumatra khususnya di Provinsi Riau”, tegas Dolly yang juga​ anggota Commission on Ecosystem Management IUCN.

Pada kesempatan yang sama, Representative Director APP Japan Ltd., Tan Ui Sian mengatakan pihaknya akan lebih gencar mengajak multi-stakeholders di Jepang untuk mendukung Forest Restoration Project: SDGs Together ini.

Saat ini, program tersebut berfokus untuk mendukung SDGs ke 12 yaitu memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, target SDGs ke 13 yaitu mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya dan target SDGs ke 15 yaitu melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem serta target SDGs ke 17 yaitu menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.

“Bagi kami kerja sama dengan KPHP Minas Tahura ini telah memberikan nilai tambah lebih besar untuk mengembangkan program dengan melibatkan semua pemangku kepentingan di Jepang. Kami berharap dapat mengajak multi-stakeholders dari mancanegara lebih luas lagi untuk mendukung program Forest Restoration Project: SDGs Together,” tandas Tan.

Sementara itu, Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, S.Sos., M.Si., menuturkan jika kawasan Tahura SSH merupakan kawasan konservasi alam yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 1999. Tahura SSH memiliki luas kawasan lebih dari 6.000 hektar. Sayangnya, saat ini sebagian besar wilayah tersebut telah mengalami deforestasi dan degradasi akibat aktivitas ilegal seperti perambahan lahan, pembalakan liar dan lain sebagainya.

“Kami terus melakukan pengawasan dan pemulihan fungsi kawasan Tahura SSH melalui program perlindungan dan restorasi hutan yang terdegradasi. Upaya ini tidak bisa kami lakukan sendiri, namun perlu adanya sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Misalnya, pada pertengahan 2022 lalu, kami  bersama Belantara Foundation dan pemangku kepentingan di Jepang menggagas program yaitu Forest Restoration Project: SDGs Together. Program ini bertujuan untuk memulihkan kawasan hutan yang terdegradasi agar dapat berkontribusi pada upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta mendukung pemenuhan Nationally Determined Contribution (NDC) Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi karbon di Provinsi Riau,” pungkas Sri.(*/adv)

 

 

Universitas Pakuan dan Belantara Foundation Angkat Potensi Bioprospeksi untuk Pembangunan Berkelanjutan

May 22, 2026 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com — Belantara Foundation bekerja sama dengan Program Studi (Prodi) Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Prodi Biologi FMIPA dan Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Pakuan menyelenggarakan kegiatan Belantara Learning Series Episode 15 (BLS Eps.15) dengan tema “Bioprospeksi untuk Bioekonomi Berkelanjutan di Indonesia: Menjembatani Konservasi, Inovasi dan Keadilan Manfaat”.

Acara yang berlangsung pada ada Rabu, 20 Mei 2026, BLS Eps.15 secara luring dipusatkan di Auditorium Lantai 3 Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan di Bogor, sedangkan daring melalui aplikasi Zoom dan live streaming Youtube Belantara Foundation. Sebanyak 968 peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang digelar secara hybrid tersebut.

Kegiatan ini juga didukung oleh Teras Mitra, Perkumpulan Pelajar Indonesia Dunia Kawasan Timur Tengah dan Afrika (PPIDK Timtengka) serta menggandeng tujuh perguruan tinggi lainnya sebagai kolaborator yang mengadakan acara “Nonton dan Belajar Bareng” BLS Eps.15 bagi mahasiswa dan dosen di masing-masing universitas.

Tujuh universitas tersebut yaitu Universitas Riau, Universitas Sumatera Utara, Universitas Syiah Kuala, Universitas Negeri Makassar, Universitas Antakusuma, Universitas Tanjungpura dan Universitas Muhammadiyah Kuningan.

Kegiatan BLS Eps.15 secara khusus dilaksanakan dalam menyambut Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026 yang jatuh pada 22 Mei setiap tahunnya. Tema yang diusung adalah “Acting Locally for Global Impact” atau Bertindak di Tingkat Lokal untuk Dampak Global”, menyoroti pentingnya partisipasi aktif multi pihak dalam menghentikan dan membalikkan laju hilangnya keanekaragaman hayati serta memanfaatkan keanekaragaman hayati secara lestari dan berkelanjutan. Salah satu pemanfaatan keanekaragaman hayati tersebut melalui bioprospeksi.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, dalam sambutannya menegaskan bioprospeksi harus dilaksanakan dengan prinsip kehati-hatian guna menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memastikan keadilan bagi masyarakat lokal.

“Bioprospeksi tidak hanya berbicara tentang eksplorasi potensi ekonomi dari kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga tentang bagaimana memastikan masyarakat lokal sebagai penjaga utama hutan dan ekosistem memperoleh manfaat yang adil dan berkelanjutan,” ujar Dolly.

Dolly, yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan Universitas Pakuan, menambahkan Belantara Foundation secara konsisten mendorong penguatan pemahaman dan implementasi praktik bioprospeksi yang berwawasan lingkungan.

Melalui berbagai program edukasi, penelitian, dan konservasi, Belantara Foundation mengajak seluruh pemangku kepentingan—mulai dari akademisi, pemerintah, sektor swasta, hingga generasi muda—untuk bersinergi dalam memanfaatkan keanekaragaman hayati secara bijak dan bertanggung jawab.

“Transformasi menuju bioekonomi berkelanjutan membutuhkan dukungan regulasi yang kuat, tata kelola yang baik, serta riset berbasis ilmu pengetahuan yang komprehensif. Belantara Foundation meyakini bahwa perpaduan antara riset, inovasi, dan kearifan lokal dapat melahirkan solusi bernilai ekonomi tinggi tanpa mengorbankan kelestarian alam. Sudah saatnya kekayaan biodiversitas Indonesia menjadi lokomotif bioekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang,” tutup Dolly.

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia harus dikelola secara bertanggung jawab melalui pendekatan yang terintegrasi dari konservasi hingga hilirisasi.

Menurutnya, transformasi dari sekadar bioresources (sumber daya hayati) menuju bioeconomy (ekonomi berbasis hayati) memerlukan kolaborasi lintas sektor yang kuat antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat lokal dan adat, serta media sebagai bagian dari pendekatan pentahelix.

“Pengembangan bioekonomi bukan hanya transformasi ekonomi, tetapi juga transformasi sosial yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat. Karena itu, pengembangan bioprospeksi harus dilakukan secara terintegrasi,” jelas Deputi Teguh.

Lebih lanjut, Deputi Teguh menyampaikan pemerintah juga tengah mendorong pengembangan bioprospeksi sektoral melalui inisiatif seperti Peta Jalan Blue Economy Indonesia 2025–2045, Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025–2045, dan penguatan industri bioteknologi berbasis sumber daya hayati.

Rektor Universitas Pakuan, Prof. Dr. rer.pol. Ir. Didik Notosudjono, M.Sc., IPU, ASEAN Eng., dalam paparannya menegaskan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pengembangan bioprospeksi untuk mendukung bioekonomi berkelanjutan di Indonesia melalui riset-riset berbasis biodiversitas lokal yang menghasilkan inovasi aplikatif dan bermanfaat bagi masyarakat serta dunia industri.

Sementara itu, pada waktu yang sama, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Ir. Hadi Sukadi Alikodra, MS., menjelaskan bioprospeksi adalah penelusuran, klasifikasi, dan investigasi secara sistematik produk yang berguna seperti senyawa kimia baru, bahan aktif, gen, protein, serta informasi genetik lain untuk tujuan komersil dengan nilai ekonomi aktual dan potensial yang ditemukan dalam keragaman hayati.

“Melalui komersialisasi bioprospeksi diharapkan dapat memperkuat ekonomi nasional secara berkelanjutan, karena kegiatannya dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian dengan tetap menjaga kelestarian keanekaragaman hayati. Dari sistem royalti yang dihasilkannya, bioprospeksi dapat menjadi dukungan finansial bagi kegiatan perlindungan dan pelestarian hutan, termasuk perlindungan masyarakat hukum adat,”, ujar Prof. Hadi S. Alikodra.

Dalam opening speech-nya, Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Prof. Dr. Sri Setyaningsih, M.Si., berharap bahwa seminar/webinar nasional yang dikemas melalui BLS Eps.15 ini dapat menjadi wadah bagi semua pihak untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta gagasan baru, tentang bioprospeksi untuk bioekonomi berkelanjutan di Indonesia.

Turut hadir sebagai narasumber yang memiliki pengalaman dalam bioprospeksi di Indonesia secara berturut-turut yaitu Ketua LPPM Universitas Pakuan, Dr. apt., Lusi Agus Setiani, M.Farm.; Heads Corporate Advance Research and Evaluation Centre Martha Tilaar Group, Maily, S.Si., M.Biomed.; dan  Marketing Manager PT. Alam Siak Lestari, Fahmi Afdhi Zaky,  Acara BLS Eps.15 ini dipandu oleh Pemimpin Redaksi Majalah Trubus (2020-2023), Sardi Duryatmo.(vb/yul)

 

 

Next Page »

  • vb