Kolaborasi Belantara Foundation dengan Universitas Pakuan dan Kebun Raya Bogor Edukasi Generasi Muda Jepang Lewat Pendataan Fauna-Flora

August 4, 2026 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com, Bogor – Belantara Foundation bekerja sama dengan Universitas Pakuan dan PT. Mitra Natura Raya sebagai pengelola Kebun Raya Bogor memberikan edukasi dan peningkatan kapasitas kepada pelajar dan mahasiswa dari Jepang.

Mereka berasal dari University of Tsukuba Senior High School (UTSS) at Sakado, Ehime University Senior High School dan University of Tsukuba lewat aksi mengidentifikasi fauna dan flora di kawasan urban yang dikemas melaui kegiatan Belantara Biodiversity Class (BBC) di Kebun Raya Bogor pada Sabtu (1/8/2026).

Pelaksanaan BBC kali ini merupakan aksi nyata dari Belantara bersama mitra untuk mendukung pemerintah dalam memeriahkan perayaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 yang diperingati pada 10 Agustus setiap tahunnya. Dengan tema “Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia”.

HKAN 2026 ini menekankan pelestarian alam dan biodiversitas merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan multi pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat khususnya generasi muda.

Hal ini sangat sejalan dengan tujuan utama BBC, yaitu meningkatkan kesadaran (awareness) dan pemahaman masyarakat khususnya generasi muda akan pentingnya menjaga dan melestarikan biodiversitas, khususnya yang ada di kawasan perkotaan.

Rangkaian kegiatan BBC diawali dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta sebanyak 25 pelajar dan mahasiswa dari Jepang mengenai hewan dan tumbuhan di Kebun Raya Bogor.

Selanjutnya, para peserta dibagi menjadi empat kelompok, dan setiap kelompok menjelajahi empat jalur pengamatan yang telah ditentukan pada pukul 07.30 – 09.30 WIB. Masing-masing jalur pengamatan panjangnya sekitar 1 kilometer, dan para siwa dan mahasiswa dibekali dengan binokuler/teropong, leflet panduan identifikasi fauna-flora, serta buku catatan hasil pendataan.

Pada saat pengamatan lapangan, para peserta dipandu oleh fasilitator dari Belantara, mahasiswa dan dosen dari Prodi Biologi Fakultas MIPA, Prodi Pendidikan Biologi Fakultas KIP, Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Prodi Pendidikan IPA Sekolah Pascasarjana, Prodi Pendidikan Dasar Sekolah Pascasarjana, dan Prodi Manajemen Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan serta Kebun Raya Bogor. Selain itu, turut membantu sebagai penerjemah yaitu mahasiswa dan dosen dari Prodi Bahasa & Sastra Jepang FISIB Universitas Pakuan.

Setelah seluruh data terkumpul, peserta mengikuti sesi diskusi untuk memaparkan hasil observasi lapangannya. Kegiatan ditutup dengan peserta mengikuti post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Pada sambutannya, Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan Kebun Raya Bogor, yang merupakan salah satu pusat konservasi tumbuhan tertua dan terpenting di Asia Tenggara, memiliki peran yang sangat strategis, bukan hanya sebagai pusat konservasi tumbuhan, tetapi juga sebagai ruang terbuka hijau terluas di Kota Bogor. Dengan luas sekitar 87 hektar, Kebun Raya Bogor memberikan berbagai manfaat ekologis, edukatif, ilmiah, dan sosial bagi masyarakat.

“Keberadaan ruang terbuka hijau seperti Kebun Raya Bogor dapat berkontribusi dalam menjaga kualitas udara, mengatur iklim mikro dan menjadi habitat bagi beragam fauna dan flora, serta menyediakan laboratorium alam, tempat menimba ilmu bagi pelajar khususnya bidang biologi,”ujar Dolly yang juga sebagai pengajar Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.

Dolly menambahkan, pembelajaran langsung di lapangan dapat memberikan pengalaman yang lebih berkesan karena peserta tidak hanya mengenal kekayaan biodiversitas Indonesia, tetapi juga memahami pentingnya data satwa dan tumbuhan sebagai dasar dalam upaya konservasinya.

“Konservasi tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Konservasi hanya akan berhasil apabila dibangun melalui kemitraan yang kuat, saling percaya, dan berbagi pengetahuan”, imbuhnya.

Salah satu komponen biodiversitas, yaitu satwa liar memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan ekosistem. Misalnya, burung dapat membantu dalam penyebaran biji (seeds dispersal), kupu-kupu berperan penting sebagai pollinator, yaitu agen penyerbuk alami bagi bunga dan herpetofauna (reptil dan amfibi) dapat membantu pengendali hama (biokontrol). Selain itu, burung, kupu-kupu dan herpetofauna dapat menjadi indikator baik atau tidaknya kualitas suatu lingkungan (bioindikator).

Akan tetapi, seiring pesatnya pembangunan, biodiversitas khususnya satwa liar menghadapi ancaman seperti kehilangan habitat, perburuan dan perdagangan secara ilegal, pencemaran lingkungan, perubahan iklim global, serta kerusakan ekosistem yang berdampak pada produktivitas dan kesehatan habitat mereka. Dalam penutup sambutan yang menggunakan bahasa campuran Jepang dan Indonesia, Dolly berpesan, “Alam bukanlah warisan yang kita terima dari nenek moyang kita, melainkan titipan yang kita pinjam dari generasi yang akan datang”.

“Saya percaya bahwa apa yang kita lihat, rasakan, dan pelajari hari ini akan menjadi kekuatan untuk menjaga bumi kita di masa depan. Saya juga berharap kita semua dapat menjadi Global Biodiversity Ambassadors—Duta Global Keanekaragaman Hayati—yang menyebarluaskan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati kepada masyarakat dunia,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Head Teacher of International Studies Senior High School at Sakado, University of Tsukuba, Yoshikazu Tatemoto mengatakan program ini memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi para siswa dan mahasiswa karena mereka dapat menghubungkan teori yang dipelajari di sekolah dengan praktik lapangan.

Di sela-sela kegiatan, perwakilan peserta dari University of Tsukuba Senior High School at Sakado, Kobayashi Mia mengatakan setiap spesies memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Pengalaman ini membuatnya semakin memahami pentingnya melindungi alam dan biodiversitas.

Pada waktu yang sama, salah satu peserta dari Ehime University Senior High School, Yoshinaga Uta mengatakan bahwa melihat secara langsung begitu banyak jenis tumbuhan dan satwa liar di Kebun Raya Bogor memberikan pengalaman yang sangat mengesankan. Dia belajar bahwa konservasi membutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk generasi muda.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa dari University of Tsukuba, Kobori Hayato mengutarakan kegiatan ini menunjukkan bahwa pendataan biodiversitas merupakan langkah awal yang sangat penting dalam upaya konservasi. Pengalaman pengamatan biodiversitas dan berdiskusi bersama para peserta menjadi pembelajaran yang sangat berharga baginya.

SPV Pengembangan Konservasi Kebun Raya Bogor, Saniyatun Mar’atus Solihah, mengatakan bahwa Kebun Raya Bogor memiliki peranan penting sebagai pusat konservasi tumbuhan sekaligus ruang belajar bagi masyarakat.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena dapat memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk belajar mengenali biodiversitas secara langsung. Semoga pengalaman ini dapat menumbuhkan kepedulian dan komitmen terhadap pelestarian biodiversitas di tingkat global,” tandas Saniyatun.(vb/yul)

 

Universitas Pakuan dan Belantara Foundation Angkat Potensi Bioprospeksi untuk Pembangunan Berkelanjutan

May 22, 2026 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com — Belantara Foundation bekerja sama dengan Program Studi (Prodi) Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Prodi Biologi FMIPA dan Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Pakuan menyelenggarakan kegiatan Belantara Learning Series Episode 15 (BLS Eps.15) dengan tema “Bioprospeksi untuk Bioekonomi Berkelanjutan di Indonesia: Menjembatani Konservasi, Inovasi dan Keadilan Manfaat”.

Acara yang berlangsung pada ada Rabu, 20 Mei 2026, BLS Eps.15 secara luring dipusatkan di Auditorium Lantai 3 Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan di Bogor, sedangkan daring melalui aplikasi Zoom dan live streaming Youtube Belantara Foundation. Sebanyak 968 peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang digelar secara hybrid tersebut.

Kegiatan ini juga didukung oleh Teras Mitra, Perkumpulan Pelajar Indonesia Dunia Kawasan Timur Tengah dan Afrika (PPIDK Timtengka) serta menggandeng tujuh perguruan tinggi lainnya sebagai kolaborator yang mengadakan acara “Nonton dan Belajar Bareng” BLS Eps.15 bagi mahasiswa dan dosen di masing-masing universitas.

Tujuh universitas tersebut yaitu Universitas Riau, Universitas Sumatera Utara, Universitas Syiah Kuala, Universitas Negeri Makassar, Universitas Antakusuma, Universitas Tanjungpura dan Universitas Muhammadiyah Kuningan.

Kegiatan BLS Eps.15 secara khusus dilaksanakan dalam menyambut Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026 yang jatuh pada 22 Mei setiap tahunnya. Tema yang diusung adalah “Acting Locally for Global Impact” atau Bertindak di Tingkat Lokal untuk Dampak Global”, menyoroti pentingnya partisipasi aktif multi pihak dalam menghentikan dan membalikkan laju hilangnya keanekaragaman hayati serta memanfaatkan keanekaragaman hayati secara lestari dan berkelanjutan. Salah satu pemanfaatan keanekaragaman hayati tersebut melalui bioprospeksi.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, dalam sambutannya menegaskan bioprospeksi harus dilaksanakan dengan prinsip kehati-hatian guna menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memastikan keadilan bagi masyarakat lokal.

“Bioprospeksi tidak hanya berbicara tentang eksplorasi potensi ekonomi dari kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga tentang bagaimana memastikan masyarakat lokal sebagai penjaga utama hutan dan ekosistem memperoleh manfaat yang adil dan berkelanjutan,” ujar Dolly.

Dolly, yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan Universitas Pakuan, menambahkan Belantara Foundation secara konsisten mendorong penguatan pemahaman dan implementasi praktik bioprospeksi yang berwawasan lingkungan.

Melalui berbagai program edukasi, penelitian, dan konservasi, Belantara Foundation mengajak seluruh pemangku kepentingan—mulai dari akademisi, pemerintah, sektor swasta, hingga generasi muda—untuk bersinergi dalam memanfaatkan keanekaragaman hayati secara bijak dan bertanggung jawab.

“Transformasi menuju bioekonomi berkelanjutan membutuhkan dukungan regulasi yang kuat, tata kelola yang baik, serta riset berbasis ilmu pengetahuan yang komprehensif. Belantara Foundation meyakini bahwa perpaduan antara riset, inovasi, dan kearifan lokal dapat melahirkan solusi bernilai ekonomi tinggi tanpa mengorbankan kelestarian alam. Sudah saatnya kekayaan biodiversitas Indonesia menjadi lokomotif bioekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang,” tutup Dolly.

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia harus dikelola secara bertanggung jawab melalui pendekatan yang terintegrasi dari konservasi hingga hilirisasi.

Menurutnya, transformasi dari sekadar bioresources (sumber daya hayati) menuju bioeconomy (ekonomi berbasis hayati) memerlukan kolaborasi lintas sektor yang kuat antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat lokal dan adat, serta media sebagai bagian dari pendekatan pentahelix.

“Pengembangan bioekonomi bukan hanya transformasi ekonomi, tetapi juga transformasi sosial yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat. Karena itu, pengembangan bioprospeksi harus dilakukan secara terintegrasi,” jelas Deputi Teguh.

Lebih lanjut, Deputi Teguh menyampaikan pemerintah juga tengah mendorong pengembangan bioprospeksi sektoral melalui inisiatif seperti Peta Jalan Blue Economy Indonesia 2025–2045, Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025–2045, dan penguatan industri bioteknologi berbasis sumber daya hayati.

Rektor Universitas Pakuan, Prof. Dr. rer.pol. Ir. Didik Notosudjono, M.Sc., IPU, ASEAN Eng., dalam paparannya menegaskan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pengembangan bioprospeksi untuk mendukung bioekonomi berkelanjutan di Indonesia melalui riset-riset berbasis biodiversitas lokal yang menghasilkan inovasi aplikatif dan bermanfaat bagi masyarakat serta dunia industri.

Sementara itu, pada waktu yang sama, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Ir. Hadi Sukadi Alikodra, MS., menjelaskan bioprospeksi adalah penelusuran, klasifikasi, dan investigasi secara sistematik produk yang berguna seperti senyawa kimia baru, bahan aktif, gen, protein, serta informasi genetik lain untuk tujuan komersil dengan nilai ekonomi aktual dan potensial yang ditemukan dalam keragaman hayati.

“Melalui komersialisasi bioprospeksi diharapkan dapat memperkuat ekonomi nasional secara berkelanjutan, karena kegiatannya dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian dengan tetap menjaga kelestarian keanekaragaman hayati. Dari sistem royalti yang dihasilkannya, bioprospeksi dapat menjadi dukungan finansial bagi kegiatan perlindungan dan pelestarian hutan, termasuk perlindungan masyarakat hukum adat,”, ujar Prof. Hadi S. Alikodra.

Dalam opening speech-nya, Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Prof. Dr. Sri Setyaningsih, M.Si., berharap bahwa seminar/webinar nasional yang dikemas melalui BLS Eps.15 ini dapat menjadi wadah bagi semua pihak untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta gagasan baru, tentang bioprospeksi untuk bioekonomi berkelanjutan di Indonesia.

Turut hadir sebagai narasumber yang memiliki pengalaman dalam bioprospeksi di Indonesia secara berturut-turut yaitu Ketua LPPM Universitas Pakuan, Dr. apt., Lusi Agus Setiani, M.Farm.; Heads Corporate Advance Research and Evaluation Centre Martha Tilaar Group, Maily, S.Si., M.Biomed.; dan  Marketing Manager PT. Alam Siak Lestari, Fahmi Afdhi Zaky,  Acara BLS Eps.15 ini dipandu oleh Pemimpin Redaksi Majalah Trubus (2020-2023), Sardi Duryatmo.(vb/yul)

 

 

Universitas Pakuan dan Belantara Foundation Edukasi Siswa SMA di Kabupaten Bogor Lewat Pendataan Biodiversitas

November 21, 2024 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com, Bogor — Universitas Pakuan melalui Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Prodi Biologi, dan Prodi Ilmu Komputer Fakultas MIPA, menggandeng Belantara Foundation untuk mengedukasi puluhan siswa SMA Negeri 1 Sukaraja di Kabupaten Bogor melalui pendataan keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan sekolahnya pada Selasa, (19/11/2024).

Pendataan keanekaragaman hayati atau biodiversitas ini merupakan kegiatan lanjutan dari implementasi program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dosen dan mahasiswa Universitas Pakuan terkait peningkatan literasi siswa tentang keanekaragaman hayati Indonesia di SMA Negeri 1 Sukaraja Kabupaten Bogor. Program PKM yang telah berjalan sejak 23 Oktober 2024 lalu, menggandeng Belantara Foundation sebagai mitra, yang juga memiliki misi yang sama melalui program unggulannya, “Belantara Goes To School”.

Dosen Universitas Pakuan yang juga Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna di sela-sela acara mengatakan bahwa tujuan utama kegiatan ini untuk meningkatkan penyadartahuan (awereness) dan edukasi untuk menumbuhkan kepedulian dan kecintaan siswa sekolah pada keanekaragaman hayati Indonesia yang amat beragam dengan berjuta manfaat.

Siswa sekolah adalah generasi muda yang akan turut menentukan nasib biodiversitas negara kita, oleh karenanya kita perlu mulai mengenalkan keanekaragaman hayati mulai dari lingkungan sekolah mereka.

“Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang.  Kami ingin mengajak siswa untuk mendata, mengidentifikasi, dan mendokumentasikan keanekaragaman hayati di lingkungan sekolahnya melalui cara yang menyenangkan. Jika mereka sudah mengenal, kemungkinan besar akan tumbuh kepedulian dan kecintaan, sehingga akan berupaya untuk menjaga dan melestarikannya. Ini merupakan upaya kecil yang bisa kami lakukan untuk meningkatkan literasi siswa tentang keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia”, imbuh Dolly.

Dolly, yang juga sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pakuan menegaskan aksi ini juga sekaligus untuk memberikan inspirasi kepada para guru, khususnya di SMA Negeri 1 Sukaraja Kabupaten Bogor, agar memanfaatkan pekarangan sekolah sebagai laboratorium alam yang dapat dijadikan sarana pembelajaran bagi siswa khususnya di bidang biologi.

Pada kesempatan yang sama, Kepala SMA Negeri 1 Sukaraja Kabupaten Bogor, Dra. Hj. Emi Rosmiami, M.Pd., mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Pakuan dan Belantara Foundation atas gagasan dan inisiatif yang dilakukan dalam upaya peningkatan literasi tentang keanekaragaman hayati Indonesia bagi siswa di sekolahnya.

Emi menegaskan kegiatan inspiratif seperti ini penting dilakukan sebagai salah satu upaya mengajak siswa dalam mengoptimalkan kawasan ruang terbuka hijau yang ada di lingkungan sekolah sebagai sarana pendidikan yang interaktif.

Cici Nurhikmah, salah satu peserta kegiatan dari kelas XII IPA 2 SMA Negeri 1 Sukaraja Kabupaten Bogor mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan hal yang baru, seru dan sangat menyenangkan bagi dirinya karena dapat terlibat langsung mengamati biodiversitas.

Selain itu, pengamatan ini dapat memudahkan kami dalam mengingat dan mengenal keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan sekolah sehingga dapat berpartisipasi aktif menjaga dan melestarikannya.

“Saya berharap pengamatan biodiversitas ini tidak berhenti sampai disini dan dapat dilakukan secara berkelanjutan”, ujar Cici.

Kegiatan pengamatan biodiversitas ini diikuti oleh 87 orang siswa yang dibagi menjadi 10 kelompok, dan setiap kelompok didampingi oleh seorang mentor. Para mentor berasal dari Belantara Foundation dan Himpunan Mahasiswa Biologi Helianthus Universitas Pakuan. Tugas para mentor atau pendamping adalah  memandu tentang bagaimana mengamati satwa dengan baik, serta mengajari mengidentifikasi tumbuhan dan satwa liar yang berhasil diamati.

Pengamatan lapangan yang berlangsung beberapa jam di lingkungan sekolah berhasil menemukan dan mengidentifikasi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar. Jenis tumbuhan yang berhasil diidentifikasi seperti pohon rambutan (Nephelium lappaceum), kersen (Muntingia calabura), mangga (Mangifera indica), beringin (Ficus benjamina) dan ketapang (Terminalia catappa).

Jenis satwa burung yang dijumpai antara lain burung cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier), cabai jawa (Dicaeum trochileum), bondol haji (Lonchura maja), walet linchi (Collocalia linchi) dan burung gereja erasia (Passer montanus) serta jenis kupu-kupu yang dijumpai seperti Appias olferna, Catopsilia pomona, Papilio demoleus, Leptosia nina dan Graphium agamemnon.

Jenis herpetofauna yang berhasil diidentifikasi antara lain cicak rumah (Hemidactylus frenatus), tokek rumah (Gekko gecko), bunglon surai (Bronchocela jubata), bunglon taman (Calotes versicolor), kadal kebun (Mabouya multifasciata), katak sawah (Fejervarya cancrivora) dan bangkong kolong (Duttaprynus melanostictus).

Untuk membuat pendokumentasian hasil pengamatan menjadi lebih atraktif dan informatif, setiap kelompok didorong mengembangkan kreativitasnya melalui perancangan poster dan video reels untuk diupload di media sosial yaitu Instagram.

Agar para siswa lebih bersemangat, poster-poster dan video reels  hasil karya kreativitas para siswa tersebut juga dikompetisikan. Setiap perwakilan kelompok wajib mengunggah karyanya di Instagram untuk mendapatkan penilaian dari dewan juri yang berasal dari Belantara Foundation.

Dewan juri akan memilih tiga karya terbaik dari masing-masing kategori sebagai pemenangnya. Karya desain poster dan video reels bertemakan lestarikan keanekaragaman hayati SMA Negeri 1 Sukaraja ini akan dimanfaatkan sebagai bahan kampanye pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia dan dapat dimanfaatkan sebagai media promosi SMA 1 Negeri Sukaraja, Kabupaten Bogor.(*/yul)

Hari Habitat Sedunia 2024, Belantara Foundation Gandeng Mitra Sektor Swasta Jepang Tanam Pohon di Tahura SSH Riau

October 19, 2024 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com — Belantara Foundation menggandeng mitra sektor swasta Jepang menanam bibit pohon secara simbolis di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), Provinsi Riau pada Rabu, 16 Oktober 2024.

Penanaman simbolis ini terselenggara atas kerja sama dengan Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura dan Kelompok Tani Hutan SSH serta pemangku kepentingan setempat.

Jenis bibit pohon yang ditanam adalah merawan (Hopea mengarawan), balam (Palaquium hexandrum), balangeran (Shorea balangeran) dan giam (Cotylelobium melanoxylon). Jenis-jenis tersebut termasuk dalam kategori pohon langka yang perlu dilestarikan.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan gerakan penanaman ini secara khusus dilakukan dalam rangka memperingati Hari Habitat Sedunia yang jatuh pada 7 Oktober 2024 lalu.

Peringatan ini merupakan momentum untuk mendorong multipihak, termasuk sektor swasta untuk berkontribusi nyata dalam menciptakan lingkungan hidup yang lestari dan berkelanjutan.

“Oleh karenanya, tujuan penanaman simbolis ini untuk memperluas keterlibatan sektor swasta dalam kerja sama pada program restorasi atau pemulihan hutan untuk mendukung beberapa SDGs dan melestarikan jenis pohon lokal yang terancam punah,” ucapnya.

Lebih lanjut, Dolly, yang juga sebagai pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan menjelaskan pemulihan hutan dapat mengembalikan fungsi pengaturan tata air dan iklim mikro ekosistem hutan, mengurangi risiko kerusakan lingkungan seperti erosi, tanah longsor, tercemarnya sumber air, turunnya muka air tanah, kebakaran lahan, dan polusi udara.

Selain itu, pemulihan hutan juga dapat memperbaiki kualitas lingkungan, termasuk kualitas udara, kualitas air, pohon, tanah, serta habitat dan populasi satwa liar.

“Sesuai dengan misi dari UNSDGs yaitu no one left behind dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, kami menggunakan pendekatan kolaborasi multipihak, salah satunya dengan menggandeng sektor swasta dari Jepang untuk mendukung gerakan pemulihan hutan di Pulau Sumatra khususnya di Provinsi Riau”, tegas Dolly yang juga anggota Commission on Ecosystem Management IUCN.

Representative Director APP Japan Ltd., Tan Ui Sian mengatakan pada tahun ini kegiatan penanaman simbolis telah dilakukan empat kali. Penanaman simbolis yang pertama telah dilakukan bersama beberapa perusahaan Jepang di kawasan Tahura SSH pada 16 Juli 2024. Penanaman simbolis kedua bersama Senior High School at Sakado, University of Tsukuba dan Ehime University Senior High School pada 30 Juli 2024. Penanaman simbolis ketiga bersama sektor swasta Jepang, yaitu Vanfu pada 21 Agustus 2024.

“Kami akan lebih gencar mengajak multi-stakeholders di Jepang untuk berpartisipasi aktif serta mendukung program Forest Restoration Project: SDGs Together ini,” ujarnya.

Lanjutnya, saat ini, program tersebut berfokus untuk mendukung SDGs ke 12 yaitu memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, target SDGs ke 13 yaitu mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya dan target SDGs ke 15 yaitu melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem serta target SDGs ke 17 yaitu menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, S.Sos., M.Si., menuturkan  kawasan Tahura SSH merupakan kawasan konservasi alam yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 1999 dengan luas lebih dari 6.000 hektar.

“Kami terus menjaga dan memulihkan fungsi kawasan Tahura SSH melalui program perlindungan dan restorasi hutan. Upaya ini tentunya tidak bisa kami lakukan sendiri, namun perlu adanya sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Misalnya, pada pertengahan 2022 lalu, kami menggagas program bersama Belantara Foundation dan pemangku kepentingan di Jepang yaitu Forest Restoration Project: SDGs Together,” jelasnya.(vb/*)

 

Ekowisata Satwa Liar Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia

September 14, 2024 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com — Belantara Foundation menyelenggarakan webinar internasional yang dikemas melalui kegiatan Belantara Learning Series Episode 11 (BLS Eps.11) dengan tema “Ekowisata Satwa Liar Berkelanjutan: Pembelajaran Dari Asia” pada Rabu, 11 September 2024.

Acara ini bekerja sama dengan Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Prodi Biologi FMIPA, Prodi Pendidikan Biologi FKIP dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pakuan.

Webinar Internasional secara luring diadakan di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung Rektorat Universitas Pakuan di Bogor, sedangkan daring melalui aplikasi Zoom dan live streaming Youtube Belantara Foundation.

Kegiatan ini berkolaborasi dengan Indonesia Ecotourism Network (Indecon), Indonesia; Darrang College, Assam, India; Turtle Conservation and Research Programme, India; Borneo Eco Tours, Malaysia dan Department of Zoology Jahangirnagar University, Bangladesh.

Kolaborasi ini juga menggandeng lima universitas sebagai kolaborator yang mengadakan acara “nonton dan belajar bareng” BLS Eps.11 bagi mahasiswa dan dosen di masing-masing universitas. Lima universitas tersebut yaitu Universitas Pakuan, Universitas Riau, Universitas Andalas, Universitas Tanjungpura dan Universitas Nusa Bangsa.

Webinar Internasional-BLS Eps.11 diselenggarakan secara khusus dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional yang diperingati setiap 10 Agustus, Global Tiger Day yang jatuh pada 29 Juli, World Elephant Day yang diperingati setiap 12 Agustus, dan International Orangutan Day yang jatuh pada setiap tanggal 19 Agustus serta Hari Pariwisata Sedunia yang jatuh pada 27 September.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna saat memberikan sambutan mengatakan tujuan utama webinar internasional ini adalah untuk meningkatkan pemahaman stakeholders tentang makna sesungguhnya dari ekowisata satwa liar berkelanjutan.

Sehingga diharapkan dapat memotivasi dan menumbuhkan inspirasi peserta akan pentingnya berpartisipasi aktif dalam mengembangkan ekowisata satwa liar berkelanjutan di kawasan Asia khususnya di Indonesia.

“Kini, ekowisata satwa liar telah menjadi bagian dalam mendukung dan mengembangkan pembangunan berkelanjutan, di tengah semakin rusak dan kritisnya sumber daya hayati”, imbuh Dolly, yang juga Pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.”

Rektor Universitas Pakuan, Prof. Dr. rer.pol. Ir. Didik Notosudjono, M.Sc., IPU, Asean Eng., APEC Eng., pada saat memberikan keynote speech menjelaskan bahwa praktik ekowisata berkelanjutan di Indonesia telah menunjukkan perkembangan positif di beberapa wilayah.

Namun tantangan besar masih harus diatasi, terutama dalam hal pengawasan, infrastruktur, dan kesadaran. Untuk memastikan bahwa ekowisata benar-benar berkelanjutan, Indonesia perlu memperkuat regulasi, meningkatkan pendidikan lingkungan, dan memastikan bahwa pariwisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal dan lingkungan secara jangka panjang.

“Dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada, Perguruan Tinggi dapat berkontribusi dalam mengembangkan ekowisata berkelanjutan. Dengan demikian, melalui peran-peran tersebut, perguruan tinggi tidak hanya dapat mendukung pengembangan ekowisata berkelanjutan, tetapi juga dapat berkontribusi dalam melestarikan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,” ujar Prof. Didik.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Ir. Hadi Sukadi Alikodra, MS. mengatakan pentingnya kolaborasi antarpihak dalam mencapai tujuan dengan konsep triple helix pada program ekowisata dan bioprospeksi hidupan liar untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Konsep tersebut menggabungkan peran akademisi, sektor bisnis, dan pemerintah.

Pada kesempatan yang sama, Pendiri dan Direktur Eksekutif Indecon, Drs. Ary S. Suhandi, M.Par., mengatakan bahwa wisata satwa liar telah menjadi tren signifikan di tingkat global yang didorong oleh meningkatnya minat masyarakat terhadap alam, konservasi, dan wisata berkelanjutan.

“Ekowisata juga dapat dimanfaatkan untuk berkontribusi pada upaya pelestarian alam maupun budaya. Namun hal itu jika pariwisata dikelola dengan baik dan benar. Jika tidak, maka pariwisata juga memiliki resiko menimbulkan dampak negatif baik pada lingkungan maupun sosial budaya. Oleh karena itu,  peningkatan kapasitas dan kesadaran masyarakat menjadi krusial didahulukan”, ujar Ary.

Setelah webinar internasional – Belantara Learning Series Eps.11, dilakukan penandatanganan kerja sama antara Universitas Pakuan dengan Darrang College, Assam, India. Kerja sama yang ditandatangani meliputi aspek-aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.(vb/*)

 

 

 

Next Page »

  • vb