RSUD dr Abdul Rivai Kekurangan Ruang Cuci Darah

June 22, 2026 by  
Filed under Berau

Share this news

RSUD dr Abdul Rivai

Tanjung Redeb – Bagi sebagian orang, rumah sakit adalah tempat paling aman untuk bersandar saat tubuh digerogoti penyakit. Namun, bagi sedikitnya 58 warga Kabupaten Berau penderita gagal ginjal, rumah sakit justru menjadi tempat yang teramat jauh. Demi menyambung nyawa, setiap minggu mereka harus mengemasi tas, pamit pada keluarga, dan menempuh perjalanan ratusan kilometer menuju Tarakan, Balikpapan, atau Samarinda.

Ironisnya, kepergian mereka bukan karena Berau tidak memiliki dokter ahli, bukan pula karena daerah ini kekurangan mesin cuci darah. Mereka terpaksa harus ke kota lain hanya karena ruang pelayanan di RSUD dr Abdul Rivai tak lagi mampu menampung pasien.

Kondisi dilematis ini diakui Wakil Bupati Berau, Gamalis. Ia menyebut, lonjakan jumlah pasien gagal ginjal yang membutuhkan terapi seumur hidup kini berjalan lebih cepat ketimbang kesiapan fasilitas ruangan di rumah sakit daerah.

“Masalahnya bukan pada alat atau tenaga kesehatan. Semuanya sudah tersedia. Yang menjadi kendala adalah ruang pelayanan yang belum memadai untuk penambahan unit layanan,” ujar Gamalis dengan nada prihatin, Minggu (21/6/2026).

Saat ini, ruang hemodialisa di RSUD dr Abdul Rivai penuh sesak. Dengan hanya mengandalkan delapan tempat tidur, fasilitas tersebut harus melayani pasien rutin yang wajib melakukan cuci darah dua kali dalam seminggu. Bagi pasien baru yang terus berdatangan, pintu pelayanan hampir selalu tertutup karena jadwal yang tak pernah lengang.

Dampaknya, puluhan warga Berau harus menjalani takdir pengobatan di luar daerah. Di perantauan, mereka tidak hanya bertaruh nyawa melawan penyakit, tetapi juga harus bertahan dari himpitan ekonomi.

Biaya transportasi, sewa kamar kos di dekat rumah sakit, hingga biaya hidup sehari-hari di luar kota menjadi beban berlapis yang harus ditanggung. Saat kondisi fisik sedang lemah, mereka harus menguras batin karena  kehilangan waktu bersama keluarga di rumah.

Kepiluan ini terasa semakin menyengat ketika mengetahui di RSUD dr Abdul Rivai, sebenarnya ada lima mesin cuci darah tambahan yang siap beroperasi. Humas RSUD dr Abdul Rivai, Dani Apriat Maja, mengungkapkan, mesin-mesin tersebut kini hanya bisa terdiam di sudut ruangan.

Mesin itu belum boleh menyala karena terbentur aturan ketat BPJS Kesehatan mengenai standardisasi luas ruangan dan jarak aman antar-alat kesehatan. Sebuah aturan yang di satu sisi demi keselamatan pasien, namun di sisi lain terasa begitu menjegal di tengah situasi darurat ini.

“Kalau ruangannya memungkinkan, kapasitas layanan bisa langsung ditambah. Mesin sudah ada dan siap digunakan,” tutur Dani, menyiratkan kepasrahan sekaligus harapan.

Pemerintah Kabupaten Berau kini tengah berkejaran dengan waktu untuk mencari jalan keluar. Langkah-langkah darurat mulai dikebut. Pemkab berencana mengoptimalkan Gedung Walet untuk merelokasi beberapa layanan lain, agar ruangannya bisa dialihkan untuk pasien cuci darah. Tak hanya itu, bangunan IGD lama pun kini sedang dikaji agar bisa segera disulap menjadi ruang hemodialisa tambahan.

Ikhtiar ini bukan sekadar tentang memperluas bangunan fisik, melainkan tentang menjemput kembali puluhan warga Berau yang saat ini sedang berjuang sendirian di kota orang. Pemerintah daerah menargetkan, dalam waktu dekat, tidak ada lagi warga Berau yang harus meneteskan air mata di jalanan trans-Kalimantan hanya untuk menyambung nyawa.

“Harapan kami, masyarakat yang saat ini masih cuci darah di luar daerah bisa segera kembali mendapatkan pelayanan di Berau. Lebih dekat dengan keluarga, berobat dengan tenang, dan tanpa harus menanggung beban tambahan yang menjepit hidup mereka,” pungkas Gamalis. (*)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb