PDC Raih Bronze Winner di PRIA 2026

February 23, 2026 by  
Filed under Nusantara

Yogyakarta — PT Patra Drilling Contractor (PDC) meraih Bronze Winner pada Kategori Kanal Digital, Subkategori Media Sosial dalam ajang Public Relations Indonesia Awards (PRIA) 2026. Penghargaan tersebut diserahkan di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta.

Partisipasi PDC dalam PRIA bukanlah yang pertama. Namun tahun ini menjadi momen istimewa karena untuk pertama kalinya PDC meraih penghargaan di kategori media sosial. Prestasi ini mencerminkan konsistensi PDC dalam mengelola komunikasi digital secara strategis, terukur, dan berkelanjutan.

PRIA 2026 diikuti lebih dari 580 karya dari instansi pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, hingga lembaga pendidikan yang bersaing dalam 11 kategori. Ajang ini menjadi salah satu tolok ukur kredibel dalam menilai kinerja komunikasi dan kehumasan di Indonesia, dengan indikator penilaian meliputi inovasi, kreativitas, serta efektivitas strategi komunikasi.

Penghargaan ini menjadi pengakuan atas komitmen PDC dalam menghadirkan komunikasi digital yang informatif, edukatif, dan relevan bagi para pemangku kepentingan.

Melalui pengelolaan media sosial—khususnya Instagram—PDC dinilai mampu memperkuat reputasi perusahaan, meningkatkan keterlibatan publik, serta menyampaikan informasi operasional dan program tanggung jawab sosial secara transparan.

Corporate Secretary PDC, Ani Aryani, menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi tim dengan dukungan manajemen dalam memperkuat peran komunikasi PDC di ruang digital.

“Penghargaan ini menjadi kebanggaan sekaligus cerminan komitmen kami dalam membangun komunikasi yang transparan, informatif, dan bernilai. Media sosial kami tidak hanya menjadi sarana publikasi, tetapi juga ruang untuk memperkuat reputasi perusahaan serta menegaskan dedikasi kami terhadap keselamatan kerja, profesionalisme, dan keberlanjutan,” ujarnya.

Ani menambahkan, capaian ini menjadi motivasi bagi PDC untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan media sosial, sehingga lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan publik.

Ke depan, PDC akan terus mengembangkan strategi komunikasi digital melalui penguatan storytelling korporasi, optimalisasi pemanfaatan data analitik, serta peningkatan interaksi yang lebih aktif dan responsif.

Prestasi ini diharapkan semakin memperkuat reputasi PDC sebagai perusahaan jasa penunjang industri energi yang adaptif dalam komunikasi digital, sekaligus membangun hubungan yang transparan dan berdampak positif bagi para pemangku kepentingan. (*)

Menapaki Malam Ramadan di Islamic Center

February 23, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Masjid Islamic Centre Samarinda

SAMARINDA — Malam kelima Ramadan di Masjid Islamic Center Samarinda berlangsung khusyuk. Ribuan jamaah memadati area dalam dan pelataran masjid yang berdiri megah di tepi Sungai Mahakam tersebut.

Masjid yang dikenal sebagai salah satu ikon Kota Samarinda itu memiliki arsitektur bergaya Timur Tengah dengan kubah utama besar berwarna hijau kebiruan yang menjulang, dikelilingi menara tinggi yang terlihat dari berbagai sudut kota. Pilar-pilar kokoh serta ruang utama yang luas memberi kesan agung, namun tetap terbuka bagi siapa saja yang datang beribadah.

Diresmikan pada awal 2000-an, masjid ini dibangun sebagai pusat kegiatan keagamaan dan syiar Islam di Kalimantan Timur. Sejak itu, Islamic Center tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang pertemuan umat dalam berbagai momentum keislaman.

Di antara jamaah malam itu, Thalia (24), warga Samarinda Seberang, mengaku baru pertama kali melaksanakan tarawih di masjid tersebut. Ia sengaja datang untuk merasakan langsung suasana ibadah di lokasi yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.

“Ingin merasakan suasana bertarawih di ikon Kota Samarinda. Sebelumnya belum pernah juga salat di sini, jadi ingin merasakan salat di masjid ini,” ujarnya usai salat.

Menurutnya, suasana tarawih terasa berbeda. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di ruang utama yang luas. Fasilitas kipas angin yang tersebar membuat jamaah tetap nyaman meski jumlahnya cukup banyak.

“Nyaman aja kok, banyak kipas juga jadi enggak gerah,” terangnya.

Tak hanya menjadi ruang spiritual, kawasan sekitar masjid juga hidup dengan aktivitas ekonomi Ramadan. Usai tarawih, jamaah berbaur di area bazar dan Pasar Ramadan yang menawarkan beragam jajanan. Thalia pun memanfaatkan momen tersebut untuk sekadar melihat-lihat dan membeli camilan. (intan)

Bubur Peca dan Rindu Ramadan Lama di Masjid Shiratal Mustaqiem

February 23, 2026 by  
Filed under Berita

SAMARINDA – Tradisi berbuka puasa dengan bubur peca di Masjid Shiratal Mustaqiem tidak hanya menarik jamaah sekitar Samarinda Seberang, tetapi juga warga dari berbagai penjuru kota yang datang untuk merasakan suasana Ramadan yang dinilai semakin jarang ditemui.

Sejak siang hari, bubur peca mulai dibagikan kepada jamaah. Menu khas yang hanya hadir saat Ramadan ini dikenal dengan tekstur lebih padat dan cita rasa gurih-rempah yang kuat, berbeda dari bubur pada umumnya. Dimasak menggunakan tungku kayu, aroma khasnya menjadi bagian dari pengalaman berbuka di masjid tertua di Samarinda tersebut.

Anjani (24), warga KS Tubun, mengaku sengaja datang untuk merasakan atmosfer Ramadan yang kental.

“Saya datang ke sini untuk ikut merasakan berbuka puasa dengan vibes yang sangat kental. Ketika berbuka di sini bisa mengingatkan saya pada masa kecil,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).

Hal serupa disampaikan Eka (40), warga Bengkuring, yang menjadikan kunjungan ke masjid ini sebagai agenda rutin setidaknya setahun sekali bersama keluarga.

“Saya senang datang ke sini karena suasananya beda. Ramadan-nya sangat terasa,” katanya.

Menurutnya, suasana kebersamaan seperti ini sudah semakin sulit ditemukan di kota-kota besar. Karena itu, ia ingin anak-anaknya ikut merasakan pengalaman yang sama.

“Saya juga mau mengajarkan anak-anak biar ikut merasakan suasana Ramadan yang berbeda di sini. Saya pertama kali makan bubur peca justru di sini,” ujarnya.

Tradisi bubur peca yang telah berlangsung lebih dari satu abad itu kini bukan sekadar warisan kuliner, tetapi juga ruang nostalgia bagi warga. Di tengah geliat kota yang terus berkembang, Masjid Shiratal Mustaqiem menghadirkan suasana Ramadan yang tetap sederhana, hangat, dan sarat makna. (intan)

Lebih dari Satu Abad, Bubur Peca di Masjid Tertua Samarinda Tetap Terjaga

February 23, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

bubur peca

SAMARINDA – Tradisi memasak dan membagikan bubur peca di Masjid Shiratal Mustaqiem kembali berlangsung pada Ramadan tahun ini. Tradisi yang telah ada lebih dari 100 tahun tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah masjid tertua di Kota Samarinda.

Masjid yang dibangun sejak 1881 dan rampung pada 1891 oleh Habib Abdurrahman bin Hasan Al-Habsyi itu tidak hanya dikenal sebagai ikon cagar budaya, tetapi juga sebagai pusat pelestarian kuliner khas Ramadan yang hanya muncul setahun sekali.

Bubur peca dimasak menggunakan beras, santan, serta racikan bawang dan rempah yang dihaluskan terlebih dahulu. Teksturnya lebih padat dibanding bubur ayam pada umumnya, dengan cita rasa gurih-rempah yang kuat. Proses memasak dilakukan menggunakan tungku kayu karena dianggap menghasilkan kekentalan dan aroma yang berbeda dibanding kompor gas.

Kepala juru masak, Mardiana Alus (60), mengatakan ia telah mengabdikan diri lebih dari dua dekade dalam tradisi ini dan merupakan generasi keempat penerus resep bubur peca.

“Rasanya seperti ada kebahagiaan tersendiri ketika saya memasak bubur peca di sini. Karena untuk dibagi-bagikan juga, untuk orang berbuka puasa,” ujarnya ketika ditemui, Sabtu (21/2/2026).

Setiap hari, tim memasak 25 kilogram beras atau sekitar 300 piring bubur. Jumlah itu bisa meningkat hingga 40 kilogram saat jamaah dari luar daerah datang. Dalam sehari, 18 kilogram bawang diolah, dengan proses memasak berlangsung sejak pukul 08.00 Wita dan distribusi dimulai selepas Dzuhur.

Pendanaan tradisi ini awalnya banyak dibantu oleh Haji Muhyar, tokoh masyarakat Samarinda Seberang, serta dukungan swadaya warga. Hingga kini, tradisi tersebut tetap bertahan berkat partisipasi jamaah dan komitmen pengurus masjid. (intan)

Misteri Gunung Padang Babak Baru, Penggalian Tembus 20 Meter

February 23, 2026 by  
Filed under Nusantara

Cianjur – Tim Penelitian dan Pemugaran Situs Megalitikum Gunung Padang memastikan kajian dan proses pemugaran akan kembali dilanjutkan sepanjang 2026. Fokus penelitian tahun ini diarahkan pada pengungkapan lapisan budaya yang diperkirakan berusia ribuan tahun sebelum Masehi, sementara pemugaran fisik dilakukan di teras keempat.

Ketua Tim Penelitian dan Pemugaran, Ali Akbar, menyatakan saat ini pihaknya tengah melakukan berbagai rapat koordinasi dengan instansi terkait guna mematangkan rencana kajian lanjutan tersebut.

“Kami akan melakukan penggalian lebih dalam untuk mengungkap dugaan adanya struktur yang lebih tua lagi di dalam tanah. Sebelumnya hanya struktur di kedalaman 4–5 meter yang kami gali karena keterbatasan waktu. Tahun ini kami rencanakan penggalian bisa mencapai lebih dari 20 meter,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).

Menurut Ali, langkah tersebut diambil untuk menelusuri kemungkinan adanya lapisan budaya yang lebih tua dari temuan sebelumnya. Pada tahun lalu, tim telah melakukan pemugaran pada teras kelima yang diperkirakan berusia sekitar 500 tahun sebelum Masehi.

Tahun ini, pemugaran akan dilanjutkan pada teras keempat yang berada di samping teras lima, dan secara bertahap akan berlanjut ke teras berikutnya. Kegiatan penelitian dan pemugaran dijadwalkan berlangsung sejak Maret hingga Desember 2026.

Dalam pelaksanaannya, sekitar 100 ahli akan dilibatkan, dengan komposisi tim yang relatif sama seperti tahun sebelumnya. Namun, akan ada tambahan peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset. Warga setempat juga kembali dilibatkan dalam proses kegiatan tersebut.

Ali berharap kajian lanjutan ini dapat mengungkap lebih banyak fakta baru mengenai sejarah dan peradaban di kawasan Gunung Padang.

“Kami berharap semakin banyak temuan penting yang bisa memperkaya pemahaman kita tentang situs ini,” katanya.

Sementara itu, pada bulan-bulan awal pelaksanaan penelitian, kawasan situs masih dapat dikunjungi wisatawan dengan pengaturan tertentu, sebelum memasuki tahap intensif kegiatan lapangan hingga akhir Desember 2026. (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb