Jasa Raharja Pasang Spanduk Keselamatan Lalu Lintas di Jalan Poros Samarinda-Bontang

February 13, 2026 by  
Filed under Samarinda

SAMARINDA – PT Jasa Raharja secara rutin melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya tertib berlalu lintas. Kegiatan yang dilakukan PT Jasa Raharja yaitu memasang spanduk keselamatan lalu lintas jalan di kawasan Jalan Poros Samarinda Bontang, Samarinda, Jumat (27/2/2026)

Kegiatan tersebut dilaksanakan petugas Jasa Raharja, Rivaldy Arvelsa Landarto, sebagai bagian dari upaya preventif untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas di wilayah rawan kecelakaan. Spanduk yang dipasang berisi pesan-pesan imbauan keselamatan, seperti “Hati-hati daerah rawan kecelakaan”

Pemasangan spanduk dilakukan di titik-titik strategis yang memiliki mobilitas kendaraan cukup tinggi, sehingga diharapkan dapat menarik perhatian para pengguna jalan dan meningkatkan kewaspadaan saat berkendara.

Rivaldy Arvelsa Landarto menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Jasa Raharja dalam mendukung terciptanya budaya tertib berlalu lintas. Menurutnya, upaya pencegahan melalui edukasi dan imbauan keselamatan menjadi langkah penting untuk meminimalisir risiko kecelakaan di jalan raya.

Melalui kegiatan ini, Jasa Raharja berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya keselamatan sebagai kebutuhan bersama, sehingga dapat mewujudkan lalu lintas yang aman, tertib, dan berkeselamatan di Kota Samarinda. (*)

Kesiapan Digital Indonesia Masih Dihadapkan pada Tantangan IT dan Keamanan Siber

February 13, 2026 by  
Filed under Nusantara

JAKARTA – Selama 2025, transformasi digital di Indonesia sudah berada pada tahap yang berbeda. Tantangannya bukan lagi soal skala atau adopsi, karena sistem digital kini telah menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi, layanan publik, hingga operasional perusahaan di tingkat nasional. Perubahan paling signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya adalah tingkat ketergantungan yang semakin dalam.

Memasuki 2026, berbagai keputusan di area enterprise IT yang diambil sepanjang 2024 dan 2025 mulai menunjukkan dampaknya. Risiko yang muncul bukan lagi bersifat teoritis atau semata-mata ancaman siber, melainkan persoalan nyata dalam operasional dan tata kelola yang berdampak pada keberlanjutan, kepercayaan, dan daya saing Indonesia di tingkat global.

Ketergantungan Indonesia terhadap sistem digital tercermin dari ekonomi digitalnya. Laporan e-Conomy SEA 2025 memproyeksikan nilai ekonomi digital Indonesia mendekati USD 100 miliar pada 2025, terbesar di Asia Tenggara. E-commerce menjadi kontributor utama, disusul layanan keuangan digital dan media online, menegaskan tingginya ketergantungan aktivitas bisnis pada platform digital.

Dari sisi masyarakat, data nasional menunjukkan bahwa infrastruktur digital telah menjadi bagian dari keseharian. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lebih dari 70 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Dengan tingkat penetrasi ini, gangguan sistem, kebocoran data, atau terhentinya layanan tidak lagi berdampak terbatas pada fungsi IT semata, tetapi berpotensi menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang lebih luas.

Dari sisi tata kelola, laju adopsi digital di Indonesia belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan pengelolaannya. Sejumlah kajian internasional, termasuk laporan Bank Dunia, mencatat bahwa pengelolaan digital masih terfragmentasi, kapasitas keamanan siber belum merata, dan koordinasi antar lembaga masih terbatas. Akibatnya, meskipun sistem digital terus berkembang, kemampuan institusi dalam mengelola risiko dan memastikan keterhubungan antar sistem masih menjadi tantangan, terutama di tengah ketergantungan digital yang semakin tinggi.

Di sisi lain, Indonesia juga mencatat tren peningkatan insiden siber yang menyasar sistem sektor publik maupun swasta. Tekanan ini semakin besar bagi organisasi yang sejak awal memiliki keterbatasan visibilitas keamanan dan kemampuan respons. Skala adopsi digital yang masif juga membuka kembali berbagai keputusan yang diambil saat fase ekspansi cepat di 2024 dan 2025. Banyak organisasi memprioritaskan kecepatan dengan meluncurkan platform baru, membuka akses kerja jarak jauh, dan memigrasikan sistem tanpa diimbangi investasi yang memadai pada integrasi, tata kelola, dan arsitektur keamanan jangka panjang. Kompleksitas pun menumpuk tanpa disadari dan pada 2025 mulai muncul sebagai risiko struktural, bukan sekadar tantangan sementara.

 

Menjelang 2026, salah satu tantangan yang paling terasa adalah sistem pemantauan IT dan keamanan yang masih terpisah-pisah. Banyak organisasi menggunakan alat berbeda untuk memantau jaringan, mengelola perangkat, mengatur akses, hingga mendeteksi ancaman, sehingga gambaran kondisi sistem secara menyeluruh sering kali tidak terlihat. Ketika insiden terjadi, keterbatasan visibilitas ini membuat proses analisis dan penanganan menjadi lebih lambat, yang pada akhirnya memperpanjang downtime yaitu kondisi ketika sistem atau layanan tidak dapat digunakan dan mengganggu operasional bisnis. Tantangan tersebut semakin besar karena keterbatasan talenta di bidang IT dan keamanan siber untuk mengelola lingkungan yang semakin kompleks.

Pengelolaan identitas dan akses juga menjadi titik lemah yang krusial. Adopsi cloud, integrasi dengan pihak ketiga, serta pola kerja hybrid memperbanyak titik akses di dalam organisasi. Tanpa pengawasan identitas yang terpusat dan penegakan kebijakan yang konsisten, hak akses sering kali dibiarkan aktif lebih lama dari yang diperlukan, meningkatkan risiko penyalahgunaan atau kebocoran. Di banyak organisasi, sistem identitas berkembang secara bertahap tanpa perencanaan strategis yang matang, sehingga muncul kesenjangan antara kebijakan dan implementasi teknis.

Di sisi anggaran, tantangan lain muncul secara lebih tersembunyi. Meskipun belanja teknologi digital terus meningkat, manfaat yang diperoleh sering kali tidak optimal akibat tumpang tindih fungsi dan platform yang kurang dimanfaatkan. Investasi yang dilakukan secara terpisah tanpa keselarasan antara kebutuhan operasional IT dan tujuan keamanan berujung pada biaya yang tinggi tanpa peningkatan ketahanan yang sepadan. Di tengah tekanan ekonomi, kondisi ini semakin sulit dipertahankan dihadapan manajemen.

Berbagai celah tersebut kini mulai berdampak langsung pada bisnis. Sistem yang belum terintegrasi dengan baik membuat risiko gangguan layanan semakin besar, sementara insiden keamanan dapat dengan cepat memengaruhi reputasi. Di sisi lain, tata kelola yang lemah juga menyulitkan organisasi untuk memenuhi ketentuan digital nasional maupun sektor publik, seperti Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik. Ketika layanan digital sudah menjadi fondasi utama bisnis dan pemerintahan, toleransi terhadap gangguan pun semakin kecil.

Menatap 2026, fokus strategis para pemimpin di Indonesia perlu bergeser dari ekspansi menuju konsolidasi. Penyatuan fungsi operasional IT dan keamanan siber dalam satu pandangan operasional memungkinkan deteksi yang lebih cepat, tanggung jawab yang lebih jelas, serta penerapan kebijakan yang lebih konsisten. Pendekatan pengelolaan ancaman yang proaktif, didukung pemantauan berkelanjutan dan otomatisasi, menjadi semakin penting karena model respons reaktif tidak lagi memadai di lingkungan yang kompleks. Di saat yang sama, pengelolaan endpoint dan akses berbasis kebijakan membantu menutup celah yang muncul dari kerja terdistribusi dan infrastruktur hybrid.

Dalam konteks ini, platform IT dan keamanan yang terintegrasi berperan sebagai pendukung utama. Dengan menyatukan pemantauan, otomatisasi, dan kepatuhan dalam satu sistem, solusi seperti yang ditawarkan ManageEngine membantu organisasi mengurangi kompleksitas penggunaan banyak alat, meningkatkan efisiensi operasional, dan memastikan praktik keamanan tetap sejalan dengan kebutuhan tata kelola. Pendekatannya bukan menambah teknologi baru, melainkan mengoptimalkan sistem yang sudah ada agar dapat bekerja lebih selaras.

Menjelang 2026, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah transformasi digital perlu dilanjutkan, melainkan apakah fondasi yang ada cukup kuat untuk menopang fase pertumbuhan berikutnya. Tahun-tahun ke depan akan berpihak pada organisasi yang mampu meningkatkan efisiensi, menyederhanakan sistem, dan membangun ketahanan dengan dukungan AI. Sebaliknya, menunda pembenahan struktural justru berisiko memperbesar kerentanan di tengah ekonomi yang semakin digital. Bertindak sekarang bukan sekadar mengejar inovasi, tetapi memastikan fondasi digital yang sudah ada benar-benar aman dan siap digunakan. (*)

Jasa Raharja Pasang Spanduk Keselamatan Lalu Lintas di Loa Janan Ilir

February 13, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya tertib berlalu lintas terus menerus disosialisasikan PT Jasa Raharja. Salah satu cara yaitu dengan melakukan pemasangan spanduk keselamatan lalu lintas jalan di kawasan Harapan Baru, Loa Janan Ilir, Samarinda, Jumat (27/2/2026)

Kegiatan tersebut dilaksanakan petugas Jasa Raharja, Rivaldy Arvelsa Landarto, sebagai bagian dari upaya preventif untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas di wilayah rawan kecelakaan. Spanduk yang dipasang berisi pesan-pesan imbauan keselamatan, seperti “Hati-hati daerah rawan kecelakaan”

Pemasangan spanduk dilakukan di titik-titik strategis yang memiliki mobilitas kendaraan cukup tinggi, sehingga diharapkan dapat menarik perhatian para pengguna jalan dan meningkatkan kewaspadaan saat berkendara.

Rivaldy Arvelsa Landarto menyampaikan, kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Jasa Raharja dalam mendukung terciptanya budaya tertib berlalu lintas. Menurutnya, upaya pencegahan melalui edukasi dan imbauan keselamatan menjadi langkah penting untuk meminimalisir risiko kecelakaan di jalan raya.

Melalui kegiatan ini, Jasa Raharja berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya keselamatan sebagai kebutuhan bersama, sehingga dapat mewujudkan lalu lintas yang aman, tertib, dan berkeselamatan di Kota Samarinda. (*)

Perpustakaan Kota Samarinda Masih Ramai di Tengah Gempuran Layar

February 13, 2026 by  
Filed under Berita

SAMARINDA — Di tengah meningkatnya durasi penggunaan gawai di kalangan generasi muda, Perpustakaan Kota Samarinda justru mencatat tren positif. Jumlah pengunjung harian berkisar 100 hingga 200 orang, dengan lonjakan signifikan sejak diberlakukannya layanan hingga malam hari pada 2025.

Suasana tersebut terasa ketika berkunjung ke gedung perpustakaan dua lantai yang berlokasi di pusat kota. Area baca, mulai dari meja belajar, sofa, hingga lesehan, tampak dipenuhi pelajar SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum yang larut dalam buku masing-masing. Di tengah derasnya arus digital, ruang sunyi ini tetap hidup oleh aktivitas literasi.

Kepala Bidang Pengolahan, Layanan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda, Dewi Astuti Anggraeni, menjelaskan, rata-rata kunjungan reguler harian berada di angka 100 hingga 150 orang. Angka tersebut dapat meningkat ketika ada kunjungan sekolah maupun kampus yang dalam satu kali kedatangan bisa mencapai 50 sampai 100 orang.

“Sejak layanan malam diterapkan pada 2025, jumlah anggota dan peminjaman buku meningkat cukup signifikan. Ini memang kebutuhan masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa yang baru memiliki waktu luang setelah aktivitas di siang hari,” ujarnya saat ditemui di ruangannya, Kamis (12/2/2026).

Berdasarkan data 2025, sebelum adanya penambahan jam layanan malam, penambahan anggota tercatat sebanyak 4.529 orang. Setelah layanan diperpanjang hingga pukul 20.00 WITA pada Senin hingga Kamis, jumlah anggota meningkat menjadi lebih dari 6.000 orang. Sementara angka peminjaman buku melonjak dari 5.160 menjadi 10.519 peminjaman atau naik sekitar 103 persen.

Perpustakaan buka pada Senin-Kamis pukul 08.00–20.00 WITA, Jumat pukul 08.00–15.00 WITA, dan Sabtu pukul 09.00–13.00 WITA. Pada Minggu dan hari libur nasional, layanan tatap muka ditiadakan, namun perpustakaan tetap hadir melalui mobil perpustakaan keliling di area Car Free Day.

Dewi menyebut, komposisi pengunjung relatif merata antara pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. “Tidak ada dominasi kelompok tertentu. Semua kalangan memanfaatkan fasilitas yang ada,” katanya.

Selain koleksi buku, perpustakaan menyediakan lebih dari 30 unit komputer yang tersebar di dua lantai, ruang multimedia, akses internet gratis, serta ruang baca yang nyaman. Fasilitas tersebut banyak dimanfaatkan mahasiswa untuk mengerjakan tugas maupun riset.

Dari sisi sistem, mulai 2026 perpustakaan tidak lagi menggunakan kartu anggota fisik. Pendaftaran dilakukan secara daring dengan melampirkan kartu identitas, kemudian kartu elektronik dikirim melalui email masing-masing anggota. Keanggotaan terbuka bagi siapa saja yang berdomisili di Samarinda, termasuk mahasiswa perantau.

Menurut Dewi, perpustakaan bukan sekadar tempat meminjam buku, tetapi ruang wisata edukatif yang dapat menjadi alternatif aktivitas produktif di tengah dominasi layar digital. Ia mengimbau orang tua untuk mulai mengenalkan anak-anak pada perpustakaan sejak dini.

“Perpustakaan itu bukan tempat yang membosankan. Justru di sini masyarakat bisa mendapatkan banyak manfaat, baik untuk belajar maupun mengembangkan diri,” tuturnya.

Di tengah era serba cepat dan instan, denyut literasi di Perpustakaan Kota Samarinda menunjukkan, buku fisik belum kehilangan pembacanya. (intan)

SMAN 5 Samarinda Luncurkan SMALA-DIGI dan Rimba Etam

February 13, 2026 by  
Filed under Samarinda

SAMARINDA – SMA Negeri 5 Samarinda meluncurkan aplikasi SMALA-DIGI (Digital Integration for Growth and Innovation), menghadirkan Sistem Informasi Pengaduan Sekolah, melakukan penanaman SMALA Rimba Etam, serta menggelar Pagelaran Seni Jelajah Nusantara II, Kamis (12/2/2026), sebagai langkah penguatan layanan berbasis digital dan lingkungan sekolah.

Plt. Kepala SMA Negeri 5 Samarinda, Ageng Tri Wahyuni, mengatakan peluncuran SMALA-DIGI menjadi bagian dari transformasi manajemen sekolah menuju sistem berbasis data dan real-time.

“SMALA-DIGI ini adalah aplikasi terintegrasi untuk mendukung pertumbuhan pelayanan dan inovasi guru. Manajemennya berbasis data dan sistemnya real-time online,” ujarnya.

Selain itu, SMA Negeri 5 Samarinda juga memperkenalkan Sistem Informasi Pengaduan Sekolah yang memungkinkan laporan disampaikan secara langsung melalui platform digital.

“Jumlah siswa kami lebih dari seribu. Tidak mudah mengelola secara manual. Melalui sistem ini, siswa bisa melaporkan kerusakan fasilitas seperti kipas angin, wifi, pintu, maupun persoalan lain termasuk perundungan. Penanganannya bisa lebih cepat dan terpantau,” jelasnya.

Menurut Ageng, digitalisasi ini bukan sekadar mengikuti tren, tetapi upaya membangun tata kelola sekolah yang lebih efisien dan terukur. Ia berharap SMA Negeri 5 ke depan dapat dikenal sebagai sekolah berbasis digital dengan sistem manajemen yang terdokumentasi dan berkelanjutan.

Selain penguatan sistem digital, sekolah juga meresmikan SMALA Rimba Etam, taman terbuka hijau yang ditanami lebih dari 200 bibit tanaman endemik Kalimantan pada tahap pertama, termasuk ulin dan tanaman buah lokal.

“Taman ini bukan hanya penghijauan, tetapi ruang belajar alternatif. Siswa bisa belajar, berdiskusi, hingga melakukan kegiatan seni dan teknologi dalam skala kelas di ruang terbuka,” katanya.

Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya menuju sekolah sehat, ramah anak, dan berwawasan lingkungan (Adiwiyata).

Rangkaian kegiatan turut diisi Pagelaran Seni Jelajah Nusantara II yang menampilkan karya siswa kelas XII sebagai bentuk implementasi hasil pembelajaran selama di bangku sekolah.

Ageng menambahkan, pengembangan sistem digital di SMAN 5 berangkat dari pengalaman dan risetnya saat menjadi guru kimia sejak 2018. Ia mengaku telah mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran, mulai dari bahan ajar, video, strategi pembelajaran, hingga aplikasi jurnal mengajar dan tes daring.

“Bagi saya, pekerjaan guru itu investasi. Sistem yang kita bangun hari ini akan memudahkan pekerjaan secara terus-menerus dan meningkatkan kualitas pembelajaran,” tutupnya. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb