PT GSDI-GSYM Tegaskan Komitmen Berkelanjutan Lewat Peringatan Hari Buruh

May 4, 2026 by  
Filed under Nusantara

Kotawaringin Barat – Dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional (May Day), PT GSDI-GSYM menegaskan komitmennya dalam membangun lingkungan kerja yang aman, sehat, dan berkelanjutan melalui rangkaian kegiatan bertema “Integrity dan Budaya Safety Kunci Produktivitas Tinggi.” Peringatan ini tidak sekadar seremoni, melainkan menjadi wujud nyata upaya perusahaan dalam memperkuat nilai integritas, budaya keselamatan, serta kepedulian sosial di seluruh lini operasional.

Kegiatan diawali dengan jalan sehat yang melibatkan karyawan bersama keluarga. Partisipasi ini mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan sekaligus mengingatkan bahwa kesehatan fisik merupakan fondasi penting dalam menjaga produktivitas kerja yang optimal.

Sebagai bagian dari kontribusi sosial perusahaan, PT GSDI-GSYM juga menyelenggarakan aksi donor darah bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) setempat. Dari total 90 karyawan yang berpartisipasi, sebanyak 67 orang berhasil mendonorkan darah setelah melalui proses pemeriksaan kesehatan. Hasil ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan stok darah di wilayah sekitar, sekaligus mempertegas peran perusahaan dalam memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Komitmen terhadap keselamatan juga diwujudkan melalui pembagian helm safety bagi anak-anak dan orang dewasa. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam menanamkan kesadaran akan pentingnya keselamatan, tidak hanya di tempat kerja tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat berkendara.

Administratur PT GSDI-GSYM, Galang Bayu Amanda Putra, menyampaikan bahwa peringatan Hari Buruh merupakan momentum penting untuk memperkuat nilai kemanusiaan dalam dunia kerja. “Hari Buruh bukan hanya tentang produktivitas, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga keselamatan dan menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Ini adalah bagian dari komitmen perusahaan untuk memastikan setiap insan dapat bekerja dan hidup dengan aman,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini mencerminkan konsistensi PT GSDI-GSYM dalam mengintegrasikan budaya safety dan nilai sosial ke dalam operasional perusahaan. Partisipasi aktif manajemen, termasuk keterlibatannya dalam kegiatan donor darah, menjadi simbol bahwa komitmen tersebut dijalankan secara nyata, bukan sekadar wacana.

Melalui peringatan ini, PT GSDI-GSYM menegaskan bahwa keberlanjutan bisnis tidak terlepas dari kualitas sumber daya manusia dan lingkungan kerja yang kondusif. Dengan terus memperkuat integritas, budaya keselamatan, dan kepedulian sosial, perusahaan optimistis dapat mendorong produktivitas yang berkelanjutan sekaligus memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan. (*)

Menangi Race dan Pimpin Klasemen, Modal Positif Yamaha Awali Kejurnas Mandalika Racing Series 2026

May 4, 2026 by  
Filed under Olahraga

Pembalap-pembalap Yamaha berhasil memenangi race dan memimpin klasemen sementara Kejurnas Mandalika Racing Series setelah selesai digelar seri 1 di sirkuit internasional Mandalika, 25-26 April 2026. Fadli Rigani, Rendi Oding dan M.Abid Ashar Musyafa tampil menonjol di kelas yang diikuti hingga dapat memuncaki standing point. Pencapaian ini menjadi awal yang baik menjalani Kejurnas Mandalika Racing Series musim ini.

”Seri perdana Kejurnas Mandalika Racing Series 2026 ini berjalan positif buat Yamaha. Kami mampu memuncaki klasemen setelah merebut kemenangan race dan podium di kelas utama dan supporting. Tim dan pembalap telah bekerja keras untuk mencapai hasil optimal. Ajang ini juga bagus sebagai wadah pembinaan dan menambah pengalaman rider muda. Kami harapkan akan improve lagi pada seri-seri berikutnya,” ungkap Wahyu Rusmayadi, Manager Motorsport PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Rider Yamaha menguasai kelas National Sport 150cc, Junior Sport 250cc U-18 dan Underbone 150cc. Duo tim Yamaha LFN HP969 RCB UMA SSS KoizumiI Trastar Cargloss, Fadli Rigani dan Fahmi Basam, bergantian finish pertama di kelas national Sport 150cc menggunakan Yamaha YZF-R15. Race 1 dan superpole race dimenangi Fahmi Basam, sedangkan Fadli Rigani konsisten naik podium memenangi race 2, podium 3 race 1 dan podium 2 superpole race. Fadli Rigani menduduki posisi 1 klasemen, disusul Aldiaz Aqsal Ismaya (Yamaha Yamalube Nolimit MCR Adelin RBT34 The Strokes 55) yang sukses meraih podium 2 race 1 dan podium 3 race 2. Di posisi 3 klasemen ditempati oleh Fahmi Basam.

”Senang sekali dengan hasil seri 1 Kejurnas Mandalika Racing Series karena saya bisa menjuarai race dan podium. Support tim dan set up motor R15 yang sesuai membuat saya bisa balapan dengan maksimal. Ini jadi modal positif agar performa saya tetap bagus pada lanjutan seri kompetisi ini,” papar Fadli Rigani.

Di kategori lainnya, rider binaan Yamaha Racing Indonesia berhasil naik podium di kelas National Sport 600cc dan National Sport 250cc. M Faerozi (Yamaha Pikoli Global Ondolomon DRS) bersama Yamaha YZF-R6 finish ke-2 race 1 dan superpole race kelas National Sport 600cc. Dia ada di posisi 3 klasemen. Penampilan mumpuni juga diperlihatkan Candra Hermawan (Yamaha Yamalube SCM Grup Aditama NHK STSJ RK RBT34 GDT Berau) yang konsisten podium 3 race 1, superpole race dan race 2 kelas National Sport 250cc menggeber Yamaha YZF-R3. Hasil ini mengantarkannya di peringkat 2 klasemen.

”Saya berupaya semaksimal mungkin dan mencapai hasil baik untuk membuka musim Kejurnas Mandalika Racing Series ini. Pencapaian ini menggembirakan dan saya berharap hasilnya meningkat di putaran selanjutnya. Saat ini saya ada dalam kondisi terbaik, setelah perolehan podium di seri 1 ARRC Sepang lalu dapat tampil bagus di kejurnas ini,” tutur Candra Hermawan.

Arai Agaska yang musim ini balapan di World Sportbike, ikut bertarung di kelas National Sport 600cc sebagai kesempatan baginya berlatih dengan big bike. Bergabung dengan tim Yamaha Nitiracing Pikoli DRS Dynavolt RCB AHRS HDS Racing, dia finish ke-5 race 1 lalu ke-4 superpole race dan DNF race 2 yang membawanya berada di urutan 5 klasemen sementara.

Di kelas supporting baru Junior Sport 250 U-18, M. Abid Ashar Musyafa yang menggeber Yamaha YZF-R3, tampil superior menyapu bersih posisi 1 mulai dari kualifikasi hingga race 1 dan race 2. Rider tim Yamaha Nitiracing DRS35 Pikoli Dynavolt RCB KYT itu menunjukkan skill terbaik dalam persaingan dengan pembalap-pembalap lainnya.

Hasil di kelas Underbone 150cc menjadi pembuktian dominasi Yamaha yang menempatkan rider di 4 besar teratas klasemen. Memakai Yamaha MX King 150, Rendi Oding (AS Tuan Muda PRK The Strokes 55) di posisi teratas, diikuti oleh Fadli Rigani (Yamaha LFN HP969 RCB UMA SSS KoizumiI Trastar Cargloss), Dimas Juliatmoko (Bintang Mandiri Aceh RMP Racetech RCB Racing Team) dan M Jordan Badaru (Yamaha Yamalube Nolimit MCR Adelin RBT34 The Strokes 55).

Arah Pendidikan Indonesia yang Kian Kabur Refleksi Kritis Hari Pendidikan Nasional

May 4, 2026 by  
Filed under Opini

Oleh: Marliana Wahyuningrum *)

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Upacara digelar, pidato dibacakan, dan optimisme tentang masa depan pendidikan kembali dikumandangkan. Namun di tengah semua itu, muncul pertanyaan yang semakin sulit dihindari: ke mana sebenarnya arah pendidikan Indonesia bergerak?

Marliana Wahyuningrum

Alih-alih menunjukkan arah yang jelas, pendidikan nasional justru tampak berjalan dalam ketidakpastian. Berbagai program diluncurkan, istilah baru diperkenalkan, dan kebijakan silih berganti. Namun di tingkat praktik, persoalan mendasar tetap bertahan—bahkan cenderung berulang.

Kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil masih menjadi kenyataan yang mencolok. Di satu sisi, sekolah-sekolah di kota besar terus berkembang dengan fasilitas dan akses yang lebih baik. Di sisi lain, banyak sekolah di daerah masih bergulat dengan keterbatasan guru, sarana, dan dukungan infrastruktur. Ketimpangan ini tidak hanya mencerminkan perbedaan kondisi, tetapi juga menunjukkan belum adanya arah kebijakan yang konsisten dalam mewujudkan keadilan pendidikan.

Di tengah situasi tersebut, muncul berbagai gagasan baru seperti “Sekolah Rakyat” yang diklaim sebagai solusi pemerataan. Secara konseptual, ide ini menawarkan harapan akan pendidikan yang lebih inklusif. Namun tanpa perencanaan yang matang dan integrasi dengan sistem yang ada, gagasan tersebut berisiko menjadi sekadar simbol kebijakan. Alih-alih menyelesaikan masalah, ia justru dapat mempertegas perbedaan antara kelompok yang memiliki akses dan yang tidak.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah orientasi pendidikan yang semakin sempit. Sistem yang ada masih menempatkan nilai ujian, peringkat, dan akreditasi sebagai ukuran utama keberhasilan. Akibatnya, proses belajar cenderung diarahkan pada pencapaian angka, bukan pada pemahaman yang mendalam. Siswa dilatih untuk menjawab soal, tetapi tidak selalu didorong untuk berpikir kritis.

Dalam konteks ini, pendidikan Indonesia tampak semakin menjauh dari gagasan yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Pendidikan seharusnya menjadi proses yang memerdekakan—membangun manusia yang mandiri, kreatif, dan berkarakter. Namun yang terjadi justru sebaliknya: pendidikan sering kali menjadi mekanisme yang menyeragamkan dan membatasi ruang berpikir.

Kondisi ini diperparah oleh kebijakan yang kerap berubah tanpa arah yang jelas. Pergantian kurikulum yang berulang, pendekatan yang terlalu administratif, serta minimnya pelibatan guru dalam proses pengambilan keputusan menunjukkan bahwa pendidikan lebih dikelola sebagai sistem birokrasi daripada sebagai proses pembelajaran yang hidup.

Momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi ruang refleksi yang jujur. Pendidikan Indonesia saat ini tidak kekurangan program, tetapi kekurangan konsistensi dan arah. Tanpa pembenahan yang menyentuh akar persoalan—ketimpangan, orientasi yang keliru, dan kebijakan yang tidak berkelanjutan—setiap inisiatif baru hanya akan menjadi pengulangan dari pola lama.

Arah pendidikan yang kabur bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan masa depan bangsa. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas pendidikan, tetapi juga kemampuan Indonesia untuk bersaing dan bertahan di tengah perubahan global.

Sudah saatnya pendidikan tidak lagi dikelola sebagai proyek jangka pendek atau simbol politik. Ia harus ditempatkan sebagai prioritas strategis dengan arah yang jelas, kebijakan yang konsisten, dan komitmen yang kuat dari semua pihak. Tanpa itu, pendidikan Indonesia akan terus berjalan tanpa tujuan yang pasti—dan generasi mendatanglah yang akan menanggung akibatnya. (*)
*) akademisi, pemerhati pendidikan Kalimantan Timur.

Peringati HUT TAGANA ke 22, Dinsos Gelar TMS di Pasantren Hidayatullah Samarinda

May 4, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SAMARINDA – Dinas Sosial Kalimantan Timur menggelar Tagana Masuk Sekolah (TMS) dalam rangka HUT TAGANA ke 22 tahun 2026. Kegiatan yang diikuti sekitar 800 orang tersebut dipusatkan di Kompleks Pasantren Hidayatullah Samarinda, 26 – 29 April 2026.

“Ini kegiatan rutin kita dalam rangka peningkatan kesiapsiagaan masyarakat termasuk di dalamnya anak usia sekolah melalui kegiatan edukasi mitigasi bencana sejak dini melalui Kegiatan Tagana Masuk Sekolah (TMS),” ujar Kepala Dinas Sosial Kalimantan Timur melalui Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Achmad Rasyidi saat menjadi Pembina Apel HUT TAGANA dan Pembukaan TMS, di Kompleks Pasantrean Hidayatullah Samarinda, Rabu (29/4/2026).

Langkah ini dianggap sebagai “investasi jangka panjang” dalam perlindungan sosial, agar masyarakat lebih tangguh dan siap menghadapi risiko bencana yang ada di wilayah masing-masing.

Maksudnya tidak lain sebagai semangat untuk melindungi hak-hak anak atas perlindungan, keamanan dan kelangsungan hidup dan juga hak untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berkualitas dan berkesinambungan untuk memberikan pemahaman mendasar mengenai potensi bencana di lingkungan sekitarnya.

“Pada saatnya diharapkan dapat tertanam budaya sadar bencana sehingga menjadi bagian dari gaya hidup,” katanya.

Untuk diketahui sejarah pelaksanaan Kegiatan TMS merupakan tindak lanjut arahan Presiden Joko Widodo saat menghadiri acara Apel Siaga Bencana di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Beliau menginstruksikan agar Kementerian Sosial (melalui Tagana) dan kementerian terkait lainnya untuk memberikan latihan kesiapsiagaan secara rutin di sekolah-sekolah.

Edukasi bencana tidak boleh hanya dilakukan saat terjadi darurat, melainkan harus dimulai dari bangku sekolah.

Masyarakat, terutama anak-anak, harus memiliki “literasi bencana” agar tahu apa yang harus dilakukan secara spontan saat tanda-tanda bencana muncul.

“Bapak Presiden mengingatkan bahwa simulasi tidak boleh hanya dilakukan sekali, melainkan harus berkelanjutan agar prosedur evakuasi menjadi memori otot (muscle memory),” katanya.

Sejak instruksi tersebut, personel Tagana di seluruh Indonesia (termasuk di daerah-daerah rawan seperti Kalimantan Timur) diberi peran tambahan sebagai instruktur atau guru tamu di sekolah-sekolah.

Mereka membekali siswa dan guru dengan materi Pemetaan jalur evakuasi sekolah, Simulasi perlindungan diri saat gempa atau banjir, maupun kebakaran di lingkungan sekolah, serta Pengenalan peralatan logistik kebencanaan.

Instruksi di Cibubur tersebut juga menjadi dasar sinergi antara Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, guna memastikan kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler kebencanaan dapat masuk secara resmi ke lingkungan pendidikan formal.

Kemudian ditindaklanjuti menerbitkan Surat Edaran Bersama  Menteri Pendidikan Nomor 4 Tahun 2019 dan Surat Edaran Bersama Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Mitigasi Kebencanaan di Satuan  Pendidikan Melalui Program Tagana Masuk Sekolah (TMS) sebagai dasar pelaksanaan kegiatan hingga saat ini.

Pelaksanaan Kegiatan Peningkataan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana, serta Sosialisasi dan Edukasi Penanggulangan Bencana pada Anak Usia Sekolah ini juga dirangkai dengan Peringatan HUT TAGANA ke 22 Tingkat Provinsi Kalimantan Timur yang sudah kita laksanakan sejak 26 April 2026.

“Serangkaian kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan antara lain bersih-bersih lingkungan sekolah, foging, apel siaga, sosialisasi dan simulasi kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta penyediaan dapur umum lapangan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar permakanan,” paparnya.

Tema HUT Tagana tahun ini membawa pesan kuat bagi kita semua untuk terus memperkuat sinergi dan kesiapsiagaan. Tantangan bencana ke depan tidaklah semakin ringan. Perubahan iklim dan dinamika geografis menuntut kita untuk tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan berbasis masyarakat.

Kekuatan utama Tagana terletak pada filosofi “One Command, One Rule, One Corp”. Kedisiplinan dan kesatupaduan inilah yang membuat Tagana tetap eksis dan dipercaya oleh masyarakat.

“Tagana adalah bagian dari Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) Mereka relawan – Namun bekerja dengan dedikasi luar biasa. Diman hadir paling cepat, bekerja paling keras dan pulang paling akhir,”.

Pada kesempatan itu dia menyampaikan enam pesan penting Menteri Sosial RI bagi Tagana, pertama Siaga Tanpa Kompromi yakni Tagana harus menjadi yang pertama hadir tidak boleh ada keterlambatan dan tidak boleh ada keraguan. Kedua Profesional dan Terlatih, Tingkatkatkan kapasitas evakuasi, logistik, dapur umum dan dukungan psikososial karena dimedan bencana yang kita hadapi bukan simulasi tetapi nyawa manusia.

Ketiga Solid dan terintegrasi. Tidak ada bencana yang bisa ditangani sendiri, perkuat kolaborasi lintas sektor, bencana harus dilawan dengan gotong royong. Keempat Berbasis data dan Sistem, Respon bencana tidak cukup dengan cepat saja tetapi harus cepat dan tepat, data yang akurat dilapangan digunakan untuk memastikan bantuan tepat sasaran.

Kelima Integritas Tanpa Tawar, tidak boleh ada penyimpangan, tidak boleh ada penyalahgunaan dan tidak ada ruang kompromi dalam amanah kemanusiaan. “Terakhir atau yang Keenam Humanis dan Berempati, lebih dari sekedar bantuan Tagana  harus hadirkan empati, hadirkan kehangatan, dan Tagana bukan hanya menolong tetapi menguatkan,” serunya. (*)

KKP Rampungkan 65 Kampung Nelayan Merah Putih Tahap I

May 4, 2026 by  
Filed under Nasional

KKP rampungkan 65 Kampung Nelayan Merah Putih Tahap I, Satgas dikerahkan percepat operasional. (Dok. Istimewa)

Vivaborneo.com, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menuntaskan pembangunan 65 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tahap pertama hingga akhir April 2026. Pencapaian tersebut memperkuat langkah pemerintah dalam membangun ekosistem perikanan terpadu yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Ketua Tim Koordinasi Pelaksanaan Pembangunan KNMP Tahap I dan II, Trian Yunanda, menegaskan seluruh pekerjaan konstruksi telah selesai sepenuhnya. “Kami melaporkan bahwa pekerjaan konstruksi KNMP Tahap 1 pada 65 lokasi telah selesai sepenuhnya 100% per akhir April 2026,” ujar Trian kepada awak media pada Sabtu (2/5/2026).

KKP juga menerbitkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 20 Tahun 2026 tentang Satgas Operasionalisasi KNMP. Kebijakan tersebut memberikan landasan kuat untuk memastikan pengelolaan berjalan lebih terarah, sistematis, efektif, dan efisien sesuai sasaran pembangunan nasional.

Program KNMP dirancang untuk mendorong swasembada pangan nasional melalui penguatan sektor kelautan dan perikanan. Inisiatif tersebut juga berperan sebagai penggerak ekonomi biru, pencipta lapangan kerja, pemerataan ekonomi, serta pengentasan kemiskinan di wilayah pesisir.

KKP memastikan seluruh fasilitas yang telah dibangun dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan. “Kami pastikan seluruh fasilitas dapat segera berfungsi secara optimal. Selanjutnya Satgas akan memastikan kesiapan operasionalisasi KNMP dapat berjalan efektif,” ungkap Trian.

Dalam kesempatan tersebut, Trian menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan penyelesaian di sejumlah lokasi. Tantangan geografis wilayah pesisir yang terpencil serta berbagai dinamika lapangan menjadi faktor utama yang memengaruhi jadwal pembangunan.

Selain itu, proses pembangunan menghadapi kendala berupa klaim lahan dan kondisi cuaca ekstrem yang berlangsung hingga awal 2026. Situasi tersebut menuntut penyesuaian strategi pelaksanaan agar proyek tetap dapat diselesaikan dengan kualitas optimal.

Trian menegaskan komitmen KKP untuk mengawal pembangunan tahap berikutnya secara lebih ketat. “Kami memohon maaf atas keterlambatan penyelesaian, dan akan melakukan pemantauan ketat terhadap pelaksanaan penyelesaian KNMP Tahap 2 di 35 lokasi lainnya,” ujar Trian.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menekankan pentingnya kualitas dalam setiap pembangunan fasilitas KNMP. Berbagai sarana seperti pabrik es, gudang beku, sentra kuliner, bengkel kapal, serta kios perbekalan nelayan diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pesisir secara signifikan.(vb/Fadhli)

« Previous PageNext Page »

  • vb