Mengolah Limbah Tali Kapal Menjadi Lebih “Berumur Panjang”

August 25, 2022 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Seorang pekerja pemintalan tali daur ulang di Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, sedang mengurai dan memisahkan tali-tali limbah untuk dipintal ulang.

Posisi geografis Provinsi Kalimantan Timur  yang berbatasan laut dengan beberapa provinsi lain di Pulau Sulawesi, menjadikan Selat Sulawesi ramai dilayari kapal-kapal niaga maupun kapal penumpang berukuran besar.

Di Kalimantan Timur (Kaltim) sejak beberapa dekade telah menjadi daerah industri. Sebut saja Kota Balikpapan yang telah menemukan sumber minyak pertama tahun 1897 yang diberi nama Sumur Mathilda oleh kolonial Belanda.

Setelah kemerdekaan, di masa Orde Baru, Kota Bontang yang langsung berhadapan dengan laut Sulawesi, ditemukan sumber minyak dan gas (migas) dengan cadangan sangat besar. Pemerintah kemudian membangun kilang migas dan berbagai produk turunannya seperti pabrik pupuk maupun  Liquefied Petroleum Gas atau LPG.

Sejak tahun 2000-an, saat booming “emas hitam” batubara, ratusan kapal besar berlayar ke perairan Kaltim mulai dari muara Sungai Mahakam di Samarinda, perairan Kecamatan Muara Badak, perairan Bontang dan Sangatta, Kabupaten Kutai Timur hingga ke utara di perairan Kabupaten Berau.

Dari ribuan unit kapal besar dan super besar tersebut, ternyata ada ancaman tersembunyi bagi lingkungan berupa limbah tali kapal yang apabila dibuang ke laut akan dapat merusak ekosistem laut dan perairan pantai.

Menurut  Sahabuddin (52), seorang pengrajin limbah tali bekas kapal asal Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, terdapat tiga jenis unsur yang terdapat di dalam sebuah tali kapal besar yaitu bahan sutra, plastik sintetis dan gabungan keduanya.

“Bahan plastik ini yang sangat berbahaya karena tidak dapat diurai oleh alam. Jadi limbah tali kapal ini sebagian tidak dapat diuraikan dan sebagian lagi dari bahan sutera relatif dapat terurai. Namun biasanya tali kapal bekas ini juga mengandung bekas minyak pelumas yang tidak baik bagi lingkungan,” ujarnya.

Sahabuddin menjadi satu-satunya warga di Kecamatan Muara Badak yang mendapatkan bantuan dari PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS), karena telah memulai usaha pengolahan limbah tali bekas dari kapal-kapal besar.

Ternyata, dibalik kesusahan dan kesempitan hidup, setiap individu akan berusaha untuk survive untuk kelangsungan hidupnya. Begitulah yang ditunjukkan oleh sosok Sahabuddin, yang sebelum 2020 adalah salah satu karyawan kontrak di PHSS.

Sahabuddin, pemilik usaha tali daur ualng tengah memeriksa bahan baku usahanya yang diap untuk diurai dan dipintal ulang menjadi tali yang berukuran lebih kecil.

Disaat kontrak kerjanya berakhir, dan tidak diperpanjang bertepatan dengan awal pandemi Covid-19, dirinya terkena pemutusan hubungan kontrak kerja sehingga tidak dapat melanjutkan pekerjaan sebagai main power atau penyedia jasa tenaga kerja sebelum PT PHSS, yaitu PT Virginia Indonesia Company (Vico Indonesia).

Berbekal tabungan yang dimiliki, lelaki asal Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polmas, Sulawesi Barat ini menyempatkan pulang kampung di Sulawesi Barat. Karena ia ingat jika ada usaha pemintalan tali bekas serupa yang dikerjakan sebagian warga desa.

“Saya sengaja pulang kampung karena  ingat di kampung saya ada pengrajin tali bekas. Saya mencoba belajar bagaimana caranya karena saya melihat peluang pengolahan tali bekas ini terbuka lebar di tempat tinggal saya di Muara Badak,” ujarnya mengingat-ingat awal usahanya.

Dengan mengajak dua orang pekerja dari kampung halamannya, Sahabuddin membuka usaha  pemintalan ulang tali tambang kapal yang sudah tidak terpakai untuk didaur ulang menjadi tali pengikat rumpon atau bagan ikan di lautan.

Ia melihat peluang ini karena di kecamatan tersebut banyak pengumpul tali bekas tambang kapal yang dibeli pengepul. Biasanya satu kilogram tali bekas ini dibelinya antara Rp 8.000 hingga Rp 10.000, tergantung dari kerusakannya. Satu tali dapat mencapai 100-an kilogram.

Tali-tali ini kemudian dipotong menjadi beberapa bagian sepanjang 20 meter untuk diurai, dipisah-pisahkan. Untaian yang terlihat baru dan mulus tanpa lecet gesekan, nantinya akan menjadi “kulit” luar tali. Sedangkan bagian yang kotor karena pelumas akan menjadi inti tali. Dari pengalaman dan keahlian para pekerja, tali-tali ini dipintal ulang agar kembali menjadi tali “setengah baru”.

“Setengah baru karena ini sebenarnya tali bekas. Namun, masih dapat dipakai oleh para nelayan untuk mengikat rumpon ikan dan pengikat bagan di tengah laut,” jelasnya.

Setiap tali yang dibeli, diurai kembali dan dipintal ulang menggunakan peralatan sederhana seperti bor listrik untuk mengurai dan memintal tali. Dari pengalaman dan inovasinya,  Sahabuddin juga menciptakan  satu alat sederhana yang sudah didaftarkan untuk dapat dipatenkan.

Alat berupa tiang kayu yang diberi dinamo mesin ini berfungsi memintal untaian tali sepanjang ratusan meter. Alat ini rencananya akan dipatenkan karena tidak terdapat pada proses pemintalan ulang tali tambang sejenisnya di seluruh Indonesia.

Sahabuddin kini mempekerjakan delapan orang tenaga kerja setempat yang umumnya adalah ibu-ibu rumah tangga. Setiap pekerja diupah sebesar Rp 80 ribu per harinya atau  Rp 2,4 juta per bulan jika tidak ada libur kerja. Pekerja dibagi dalam dua shift yaitu dari pukul 8 pagi hingga 13 siang dan dilanjut dari pukul 13 hingga pukul 5 sore.

Setiap gulungan tali tambang bekas ini mula-mula diurai dan disatukan kembali dengan ukuran panjang 20 meter dan diameter 20 inchi.  Setiap tali yang dipintal ulang juga harus diatur agar mengandung serat sutera, nilon dan kombinasi sutra-nilon.

Lelaki yang memiliki motto hidup ”bagaimana memberdayakan orang lain disekitarnya ” ini, telah memiliki pasar tetap  di Kota Bontang, yang memang geografisnya berhadapan langsung dengan laut Sulawesi.

Bantuan PHSS di tahun 2020 dan 2021, berupa bantuan bahan baku dan bangunan kerja sepanjang 120 meter serta bantuan peralatan lainnya, untuk mempercepat pekerjaan.

Dalam hitungannya,  lelaki yang kini memiliki teman di Facebook sebanyak 4,3 ribu orang, usahanya  mampu memproduksi kurang lebih 300 roll tali bekas yang masih memiliki masa pakai untuk beberapa keperluan.

Sebagai usaha yang inovatif, PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) sangat mengapresiasi ide usaha yang memang tidak pernah ada sebelumnya. Apalagi limbah tali dari kapal-kapal besar di Kecamatan Muara Badak dan sekitarnya, sangat berlimpah.

Head of Comrel and CID PT Pertamina Hulu Sanga Sanga, Elis Fauziah.

Sementara itu, Head of Comrel and CID PT Pertamina Hulu Sanga Sanga, Elis Fauziah, menjelaskan jika bantuan usaha pemintalan limbah tali kapal ini adalah program unggulan dari PHSS  dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di Kecamatan Muara Badak.

Menurut Elis, ada beberapa program unggulan yang menjadi fokus kegiatan PHSS, diantaranya usaha peternakan ulat maggot, dan water system treatment atau lebih dikenal masyarakat dengan nama Pamsimas atau Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat.

Usaha pemintalan tali daur ulang ini adalah salah satu program unggulan Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) karena usaha ini memanfaatkan limbah yang tidak berguna lagi pabi pemilik kapal besar namun masih dapat dimanfaatkan untuk nelayan slake kecil dan menengah.

“Alhamdulillahnya usaha bapak-ibu di sini telah membuahkan hasil dengan memiliki pasar yang bisa dibilang permanen karena suplay nya terus diminta oleh pembeli terhadap usaha ini,” ujar Ellis.

Ibarat kata pepatah, usaha pemintalan tali ini gayung bersambut karena sejalan dengan komitmen PHSS untuk program pengembangan masyarakat yang mencari ide-ide khas dan inovatif dari masyarakat.

Apalagi pasar dari penjualan tali tambang daur ulang ini dapat dikatakan permanen karena pasarnya masih terbuka luas di seluruh Kaltim dan tidak menutup kemungkinan ke luar daerah.

“Kami dari sisi anggaran selalu dievaluasi  sesuai dengan kebutuhan secara bertahap kepada kelompok misalnya di tahun pertama diberikan bantuan fasilitasnya. Bahkan kami akan fasilitasi mesin karya Pak Sahabuddin  ke Kementerian Hukum dan HAM untuk didaftarkan hak patennya,” ucapnya.

Elis berharap usaha ini dapat menyerap tenaga kerja sekitar yang lebih banyak lagi. Berbagai cara promosi dan penjualan dilakukan agar tali “setengah baru” ini masih memiliki nilai lebih panjang untuk digunakan,  daripada harus dibuang dan menjadi bahan perusak lingkungan.(Penulis : Yuliawan Andrianto)

 

SDN 012 Samarinda Ulu Buktikan Prestasi Menuju Adiwiyata Mandiri 2022

July 16, 2022 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com, Samarinda  —  Kegiatan Adiwiyata di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 012 Samarinda Ulu terus ditingkatkan. SDN 12 merupakan sekolah yang telah mencapai Prestasi Adiwiyata hingga Tingkat Nasional menuju Sekolah Adiwiyata Mandiri.

Mariati Nurjumiti selaku Kepala SDN 012 Samarinda Ulu mengatakan Adiwiyata adalah salah satu program yang berbasis Sekolah Bersih dan  Sehat, yang mencintai lingkungan baik di sekolah maupun di rumah. Adiwiyata sendiri bertujuan mendidik anak-anak untuk mencintai lingkungan.

“Kegiatan bersih lingkungan sekolah rutin dilakukan dan memang sekolah memiliki pokja sendiri-sendiri yang dibantu oleh para wali kelas yang mana pembelajaranya berkaitan langsung dengan RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran,” ungkapnya pada Sabtu (16/7/2022).

Dijelaskannya, sekolah SDN 12  sudah mengikuti kegiatan sejak tahun 2017 dari tingkat kota, provinsi, nasional  dan terakhir sekarang untuk tingkat Mandiri. SDN 012 sangat membanggakan karena menjadi satu-satunya sekolah yang mengikuti Adiwiyata tingkat Mandiri di Samarinda Ulu.

Mariati juga sudah melakukan kerjasama baik dengan guru, wali murid, anggota Komite Sekolah, pihak kelurahan, kecamatan, Puskesmas dan Dinas Pendidikan Kota Samarinda serta masyarakat di lingkungan yang memberikan dukungan dalam kegiatan Adiwiyata ini.

“Minggu lalu sudah diantarkan MOU ke kelurahan, kecamatan, Puskesmas, dan Dinas Pendidikan Kota Samarinda. Dan semua memberikan dukungan yang luar biasa. Kami sangat bangga,” tambahnya.

Mariati tidak menampik, banyak terjadi kendala selama proses menuju Adiwiyata Mandiri. Namun Mariati optimis memperjuangkan, karena tahap Adiwiyata Mandiri adalah tahapan terakhir yang harus diselesaikan. Dengan dukungan dari berbagai pihak, sekolah terus meningkatkan semangat murid mewujudkan Sekolah Adiwiyata.

Ditemui ditempat yang sama, Ratnasari selaku Ketua Komite Sekolah yang didampingi Bendahara Komite Martini menyampaikan,  dukungan kepada sekolah atas berjalannya kegiatan tersebut. Komite sekolah mendukung penuh kegiatan dengan terus memberikan pemahaman serta informasi bagi para orang tua.

Sebagai pengurus komite Ratnasari mengakui banyak wali murid yang masih tidak memahami tujuan program ini, namun melihat usaha sekolah dan  manfaat yang didapatkan anak-anak membuat pengurus komite yakin bahwa sekolah bersih sekolah berkualitas akan mampu mencetak anak luar biasa di masa depan.

“Sebagai orang tua kami bangga dengan sekolah, mampu memberikan perhatian kepada anak didik. Tidak hanya tentang akademik, namun juga berkaitan dengan kebiasaan hidup bersih yang terbawa hingga ke rumah,” ujarnya. (Vb/Ria/YL)

 

PWI – SMSI Partisipasi Bersih Lingkungan di Lingkar Masabang

April 8, 2022 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com, Samarinda — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kutai Timur dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kutim melangsungkan kegiatan  bersih-bersih lingkungan. Ternyata ibadah puasa di bulan Ramadan tidak menghalangi anggotanya untuk melaksankan bakti sosial kemsyarakatan.

PWI dan SMSI ikut tergabung dalam beberapa instansi untuk menjaga lingkungan pasca banjir di Kota Sangatta. Kegiatan dilaksanakan mulai pukul 16.00 Wita-17.30 Wita, Jumat  sore (8/4/2022).

Tak hanya PWI dan SMSI, beberapa instansi seperti Kodim 0909 Kutim, Polres Kutim, Desa Sangatta Selatan, Gerakan Peduli Air dan Sampah (G-PAS), dan Bidak pun ikut mensukseskan acara perdana tersebut. Sedikitnya lebih dari 30 orang yang melaksanakan   Gerakan Jumat Bersih tersebut.

Kepala Desa Sangatta Selatan, Roni Wahyudi mengucapkan terimakasih lantaran semua pihak sudah terlibat dalam bersih-bersih lingkungan di desanya. Tentu saja ia memberikan apresiasi. “Semoga saja kegiatan ini terus berlanjut lagi setelah lebaran nanti,” harap Roni.

Ditempat yang sama, Dandim 0909 Kutim, Letkol Czi Heru Aprianto diwakili Pasi Intel Bagus Aji Suryanata Kusuma mengatakan jika pihaknya sangat mendukung bersih lingkungan tersebut.  Sekitar 20 orang lebih anggota Kodim yang dikerahkan. “Tentu kami sangat mendukung. Semoga saja masyarakat sadar dan membuang sampah tepat waktu dan pada tempatnya,” katanya.

Ketua PWI Kutim, Ibnu Djuraid pun mengaku siap terlibat kapanpun dalam bersih lingkungan. Ditambahkan Ibnu, kegiatan bakti sosial kemasyarakatan merupakan salah satu program PWI Kutim.

“Kutim kerap banjir. Terakhir beberapa pekan lalu. Banjir sangat besar sekali. Untuk itu, perlu kita menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Apalagi ke sungai,” pesannya.

Ketua SMSI Kutim, Dhedy,SP pun mendukung program bersih lingkungan. Hal ini wajib digalakkan. Minimal sepekan sekali. Sehingga masyarakat sadar dan mencontoh langkah tersebut.

Iapun meminta kepada pemerintah agar memberikan sangsi tegas kepada mereka yang membuang sampah sembarangan khususnya ke sungai. Jelas hal itu melanggar dan pastinya membahayakan lingkungan.

“Kami juga fokus pada bersih lingkungan, termasuk bersih-bersih sungai. Tentu saja kita berharap masyarakat sadar bahwa sampah merupakan salah satu penyebab banjir. Berikan sangsi tegas. Jika tidak, maka sungai akan tercemar dan dangkal. Apalagi diketahui, kita menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya. (vb/*)

Ekowisata Mangrove Kampung Baru Dilengkapi Display Informasi

March 9, 2022 by  
Filed under Lingkungan Hidup, Wisata

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Sri Wahyuni saat melihat display informasi yan gterpasang di Ekowisata Mangrove Kampung Baru Penajam Paser Utara.(Foto:Ist)

Vivaborneo.com, Penajam — Ekowisata Mangrove Kampung Baru di Penajam Paser Utara mendapatkan informasi edukatif dalam bentuk display yang terpasang di beberapa titik jembatan kayu ulin tersebut.

Display ini memberikan informasi tentang flora dan fauna yang ada di Ekowisata Kampung Baru, untuk memudahkan wisatawan mendapatkan informasi tentang jenis mangrove, jenis satwa liar dan peran mangrove untuk pelestarian lingkungan.

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Sri Wahyuni berkesempatan mengunjungi ekowisata yang berada di pesisir pantai tersebut. Dikatakannya, display informasi yang terpasang berjumlah 15 unit.

“Informasinya sangat edukatif dengan ragam info tentang jenis mangrove, jenis satwa liar yang ada serta dan peran mangrove untuk kelestarian lingkungan sekitarnya. Ada 15 titik display informasi edukatif di jalur trecking wisata ini yang tersebar sesuai dengan keberadaan mangrove dan satwa liar di masing-masing titiknya,” jelasnya.

“Suasana asri, khas mangrove cocok untuk liburan keluarga. Tempat yang bagus, lokasi cukup jauh. Tanpa biaya masuk, tempat ini bagus untuk anda yang ingin mencari kesunyian dan kesejukan hutan mangrove yang luar biasa” ungkap Sri Wahyuni, Sabtu (5/3/2022).

Ditambahkan Sri, pemasangan display ini bekerjasama dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dan Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim, dengan tujuan memudahkan wisatawan yang berkunjung mendapatkan informasi.

“Jadi pengunjung tidak saja bisa mendengarkan beberapa kicau burung yang menghuni hutan tersebut, tetapi juga dapat melihat beberapa ikan laut yang berenang di dasarnya.  Dengan adanya display, selain menjadi tempat untuk wisata keluarga, pengunjung juga mendapatkan edukasi tentang jenis satwa dan jenis tumbuhan,” ujarnya.

Ekowisata Mangrove Kampung Baru ini memiliki jalur pejalan kaki sepanjang 400 meter dengan  jembatan yang melintasi hutan bakau. Terdapat dua unit gazebo dan dua menara pantai setinggi 10 meter.

Di tempat ini juga dapat dijumpai primata khas Kalimantan yaitu Bekantan hidung panjang, berbagai jenis burung, dan berbagai jenis ikan, terutama jenis ikan Tempakul yang banyak bermain di area lumpur saat terjadi air pasang-surut.

Bahkan baru-baru ini, Duta Besar Kanada datang berkunjung ke wisata Mangrove tersebut. Masuk dalam kabupaten yang akan berkembang setelah penetapan ibu kota Negara,   sangat senang dan mengapresiasi display informasi yang tersedia dalam dua bahasa (Indonesia – Inggris) serta adanya barcode informasi lanjutan yang lebih lengkap.

Ke depannya,  Dinas Pariwisata Kaltim akan membangun display informasi edukatif serupa di tempat lain. Karena melihat display yang ada di Ekowisata Mangrove Kampung Baru ini sangat bermanfaat bagi pengunjung.(Vb/*)

Puluhan Relawan Gempur Sarang Nyamuk DBD di Kelurahan Sempaja Timur Samarinda

January 23, 2022 by  
Filed under Lingkungan Hidup

SAMARINDA – Puluhan relawan dari berbagai organisasi bersatu padu turun ke lapangan mengempur  daerah Kelurahan Sempaja Timur Kecamatan Samarinda Utara, menyusul adanya laporan warga masyarakat yang ada di puluhan RT di kelurahan tersebut positif DBD akibat tergigit nyamuk Aedes aegypti pembawa virus demam berdarah dengue (DBD).

Abdurahman (28) warga RT 53 Kelurahan Sempaja Timur mengatakan bahwa dilingkungan tempat tinggalnya sudah ada dua anak yang positif DBD sampai dirawat rumah sakit, namun anehnya adanya kejadian ini tidak membuat instansi terkait melaksanakan antisipasi jangan sampai ada warga-warga yang lain yang turut terserang virus yang dibawa oleh nyamuk dengan ciri ukurannya kecil berwarna hitam dengan belang putih di sekujur tubuhnya.

Gempuran pertama menggunakan alat pengasapan (Fogging) dengan merek Swingfog buatan German atas pinjaman dari Dinas Kesehatan Kota Samarinda dilaksanakan di Kelurahan Sempaja Timur dengan di komandani Camat Samarinda Utara Syamsu Alam menyusur beberapa tempat, terutama di sekitar rumah anggota warga yang telah terdeteksi DBD, antara lain di lingkungan RT 53, 26,28, 40, 41, 06, 50 dan 39, Ahad pagi 23 Januari 2022.

Camat Samarinda Utara, Syamsu Alam mengatakan, gempuran terhadap demam berdarah di daerah yang dipimpinnya ini murni diinisiasi oleh beberapa relawan yang ada di Kota Samarinda. “Saya paham, mereka sangat perduli akan kesehatan saudara-saudaranya, mereka yang berusaha mencari alat dengan meminjam ke berbagai pihak, mereka juga yang bergotong royong menyediakan perlengkapan untuk penyemprotan seperti solar, cairan pembesmi nyamuk. Bantuan cairan pembasmi nyamuk ini, kita dibantu dari Yayasan Karya Insani,” jelas Syamsu Alam saat ditemui media ini di sela-sela aksi bhakti sosial ini.

Menurut Syamsu Alam ini relawan bergerak sebenarnya untuk memancing pihak lain agar bergerak, jangan sampai timbul korban jiwa baru dinyatakan KLB. “Pihak yang terkait seharusnya tergerak adanya relawan turun tangan. Kenapa relawan turun tangan karena ada kasus dilaporkan tetapi tidak mendapat tanggapan. Semoga kedepan jika ada kasus DBD pihak RT harus segera lapor ke kelurahan, dilanjutkan ke puskesmas,” Jelas Syamsul Alam.

Para relawan yang turun aktif bahu-membahu dalam kegiatan bhakti sosial fogging menyusul adanya 19 anak yang dinyatakan terkena DBD ini antara lain tampak Ahmad Sopian Noor anggota DPRD Kota Samarinda, dari lembaga swadaya masyarakat LPM, FMP, PPK Annur, FLDM, Raudhatul Jannah, Mako 10, Tagana, KPJ, Relindo, dan PWI Kaltim Peduli.

Beberapa relawan yang ditemui media ini mengatakan bahwa upaya meminjam alat fogging sudah diupayakan ke UPDT Puskesmas di berbagai tempat, namun pihak puskesmas dengan alasan khawatir tidak ada yang bertanggung jawab terhadap alat itu sehingga tidak bersedia meminjamkan. “Kami sudah berupaya mencari peminjaman alat fogging ke berbagai puskesmas, terakhir yang saya lobby Puskesmas Air Putih, namun karena alasan tertentu, khawatir tidak ada yang bertanggung jawab sehingga tidak bersedia meminjamkan alat fogging yang dimilikinya,” jelas Munanto salah seorang relawan dari PWI Kaltim Peduli.

Hal demikian juga disampaikan Rully yang melobbi puskesmas Wonorejo untuk meminjan alat fogging.

Upaya para relawan untuk mendapatkan alat fogging yang termasuk barang langka dan harganya lumayan mahal ini, tidak mundur walaupun di tolak berbagai puskesmas yang diketahui memiliki alat ini. Melalui upaya lobby Ahmad Sopian Noor anggota DPRD Kota Samarinda dapil Samarinda Utara, DKK merelakan satu alatnya untuk dipinjamkan.

Riyad, tehnisi yang menanganani alat Fogging di Dinas Kesehatan Kota Samarinda saat proses meminjamkan alat fogging ini, Sabtu, 22 Januari di Posko KPJ mengatakan bahwa sebenarnya alat fogging di setiap Puskesmas itu ada, namun karena pengoperasiannya yang memerlukan keterampilan khusus sehingga puskesmas tidak akan melepas alatnya sembarangan untuk dipinjamkan ke pihak lain, harus dengan petugasnya, dan mereka punya ketentuan sendiri dimana perlu disemprot dan dimana tidak.

Saat proses peminjaman Riyad juga melatih operator yang akan menggunakan alat ini, mulai bagaimana cari mengidupkan, mengoperasikan, mematikan alat Fogging buatan German, hingga mengoplos cairan yang digunakan untuk pembasmi nyamuk DBD ini. “Khusus untuk cairan pengasapan ini terdiri dari Solar 20 liter dicampur dengan Cinoff 1 liter, dikocok hingga rata baru dimasukkan ke dalam tangki fogging,” jelas Riyad.(man)

« Previous PageNext Page »

  • vb