Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia, Kenali Forest Restoration Project: SDGs Together

January 11, 2024 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com — Setiap tanggal 10 Januari seluruh lapisan masyarakat di berbagai negara memperingati Hari Gerakan Sejuta Pohon sedunia. Pada tingkat global, peringatan ini dilakukan pertama kali pada 10 Januari 1872. Pada tingkat nasional, peringatan Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia dilakukan pertama kali di Indonesia pada 10 Januari 1993 masa kepemimpinan Presiden Soeharto.

Dalam pidatonya, Presiden Soeharto mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi aktif melakukan Gerakan Satu Juta Pohon yaitu menanam dan merawat pohon hingga mencapai satu juta pohon di tiap provinsi.

Tujuan utama Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia adalah untuk meningkatkan kesadaran dan memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya menanam dan merawat pohon sebagai salah satu aksi pelestarian alam dan lingkungan hidup yang ada di lingkungan sekitar.

Terkait program penanaman dan perawatan pohon, Belantara Foundation bekerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura, Kelompok Tani Hutan Tahura Sultan Syarif Hasyim dan pemangku kepentingan setempat didukung oleh APP Group menggagas program bernama “Forest Restoration Project: SDGs Together” di Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), wilayah Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Riau.

Forest Restoration Project: SDGs Together merupakan program yang dijalankan melalui donasi sebagian hasil penjualan produk yang dibuat oleh produsen kertas Indonesia, APP Group kepada Belantara Foundation untuk menanam serta memelihara bibit pohon spesies asli dan langka yang perlu dilestarikan di hutan Sumatra yang telah terdegradasi akibat aktivitas ilegal dan kebakaran hutan. Program donasi ini telah berjalan sejak Agustus 2020.

Program tersebut berfokus pada penanaman dan perawatan pohon, serta perlindungan kawasan secara lestari dan berkelanjutan. Saat ini, Forest Restoration Project: SDGs Together telah berjalan selama tiga tahun. Dalam tiga tahun terakhir, telah dilakukan penanaman dan perawatan bibit pohon sebanyak 31.391 pohon seluas 94 ha. Kegiatan lain yang telah dilakukan yaitu memasang papan nama proyek, membangun rumah pembibitan, membangun pondok kerja, patroli hutan, memberikan peningkatan kapasitas bagi masyarakat, serta melakukan monitoring dan evaluasi.

Setidaknya terdapat 31 jenis pohon yang telah ditanam, diantaranya adalah merawan (Hopea mengarawan), ramin (Gonystylus bancanus) dan balam (Palaquium burckii) yang masuk ke dalam status kategori kritis / Critically Endangered (CR), balangeran (Shorea balangeran) masuk ke dalam kategori rentan / Vulnerable (VU) dan meranti lambai (Shorea acuminata) masuk ke dalam kategori hampir terancam punah / Near Threatened (NT) menurut daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan bahwa restorasi hutan merupakan salah satu langkah efektif untuk memitigasi perubahan iklim dan meningkatkan ketahanan pangan, menjaga suplai air serta melindungi keanekaragaman hayati. Kami ingin mempromosikan restorasi hutan untuk turut berkontribusi dalam aksi iklim global.

Inisiatif ini mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) ke 15, yaitu melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem; target SDGs ke 12 yaitu produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab, target ke 13 yaitu mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya, target ke 15 yaitu menjaga kehidupan di daratan, serta target SDGs ke 17 yaitu menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan”.

“Restorasi hutan juga perlu memerhatikan dimensi sosial-ekonomi masyarakat sehingga tidak hanya mengembalikan fungsi ekologis tetapi juga mengembalikan fungsi hutan sebagai sumber mata pencaharian yang berkelanjutan bagi masyarakat. Dengan tata kelola yang tepat, restorasi hutan dapat mendukung pemulihan fungsi hutan sebagai penyedia manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat”, kata Dolly, yang juga pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.

Senada dengan Dolly, Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, S.Sos., M.Si., mengemukakan bahwa upaya untuk memulihkan ekosistem hutan, khususnya di Tahura SSH menjadi tanggung jawab bersama. Tak hanya pemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat saja, pihak swasta dan masyarakat juga harus berpartisipasi aktif dalam upaya tersebut.

“Dengan adanya pemulihan hutan, maka ekosistem hutan dapat berkontribusi untuk upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta mendukung pemenuhan Nationally Determined Contribution (NDC) Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi karbon di Provinsi Riau”, ujar Sri.

Chief Sustainability Officer APP Group, Elim Sritaba menegaskan bahwa sektor swasta turut berperan dalam mendukung program restorasi serta perlindungan hutan dan biodiversitas di Indonesia dengan berkolaborasi bersama pihak yang berkepentingan. Hal ini juga dalam upaya mendukung pemerintah mencapai NDC termasuk FOLU Net Sink 2030.

“Melalui kolaborasi multi-pihak, baik dari dalam maupun luar negeri pada program restorasi, merupakan salah satu upaya kami dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui kegiatan-kegiatan yang berdampak positif bagi lingkungan dan juga masyarakat sekitar. Kegiatan ini juga sejalan dengan Sustainability Roadmap Vision (SRV) 2030 yang telah kami canangkan,” ujar Elim.(*)

 

 

 

Pameran SDGs Week 2023 di Jepang, Belantara Foundation Sosialisasikan Forest Restoration Project

December 12, 2023 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com, Belantara Foundation berpartisipasi pada Pameran SDGs Week 2023 – EcoPro yang digelar di Tokyo Big Sight (Tokyo International Exhibition Center), Jepang, 6-8 Desember 2023.

Dalam rilis yang diterima, dijelaskan jika perhelatan SDGs Week EXPO 2023 – EcoPro ke-25 ini merupakan ajang pameran yang diikuti ratusan peserta untuk memperbarui inovasi-inovasi yang dilakukan para pihak di Jepang, termasuk sektor swasta, universitas, NGO, serta pemerintah, untuk menuju sustainability dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.

Pada pameran SDGs Week 2023 – EcoPro yang berlangsung tiga hari dan dihadiri oleh 66.826 pengunjung ini, Belantara Foundation bersama Asia Pulp & Paper Japan Ltd. (APPJ) memamerkan capaian sekaligus menyosialisasikan serta mempromosikan program “Forest Restoration Project: SDGs Together” kepada dunia internasional.

Ini dimaksudkan untuk mengajak mitra-mitra APPJ lebih luas lagi dalam mendukung upaya pemulihan hutan tropis yang telah terdegradasi di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau, yang menjadi lokasi kerja sama pemulihan hutan antara Belantara Foundation dengan mitra-mitra APPJ di Jepang.

Selain upaya promosi program “Forest Restoration Project: SDGs Together”, dalam pameran SDGs Week 2023 – EcoPro tersebut Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, juga melakukan presentasi  mengenai manfaat restorasi dan pemulihan hutan tropis dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim, kepada siswa-siswa Sakado High School University of Tsukuba Jepang.

Tidak hanya itu, Dolly, mewakili Belantara Foundation, memberikan sertifikat tanda apresiasi kepada seluruh perusahaan di Jepang yang telah berkontribusi dan mendukung program “Forest Restoration Project: SDGs Together”, yang berlokasi di Tahura Sultan Syarif Hasyim, Riau.

Belantara Foundation bekerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura, Kelompok Tani Hutan (KTH) Tahura Sultan Syarif Hasyim dan pemangku kepentingan setempat didukung oleh APPJ menggagas program bernama “Forest Restoration Project: SDGs Together” di Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), wilayah Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB), Riau.

GSK-BB merupakan cagar biosfer yang ditetapkan oleh UNESCO pada 2009 lalu, termasuk salah satu hutan gambut tropis terbesar di Sumatra yang memiliki peran penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta mengubah gaya hidup masyarakat lokal ke arah penghidupan yang lestari dan berkelanjutan. Di samping itu, kawasan ini juga merupakan habitat bagi satwa liar karismatik seperti harimau sumatera, gajah sumatera, beruang madu dan tapir.

Forest Restoration Project: SDGs Together merupakan program yang dijalankan melalui donasi sebagian hasil penjualan produk yang dibuat oleh produsen kertas Indonesia, APP (termasuk beberapa produk pabrik APP China) kepada Belantara Foundation untuk menanam serta memelihara bibit pohon spesies asli dan langka yang perlu dilestarikan di hutan Sumatra yang telah terdegradasi akibat aktivitas ilegal dan kebakaran hutan. Program donasi ini telah berjalan sejak Agustus 2020.

Program tersebut berfokus pada penanaman dan perawatan pohon, serta perlindungan kawasan secara lestari dan berkelanjutan. Saat ini, Forest Restoration Project: SDGs Together telah berjalan selama tiga tahun. Dalam tiga tahun terakhir, telah dilakukan penanaman dan perawatan bibit pohon langka yang perlu dilestarikan seluas 69 ha.

Jenis bibit pohon tersebut meliputi merawan (Hopea mengarawan), ramin (Gonystylus bancanus) dan balam (Palaquium burckii) yang masuk ke dalam status kategori kritis / Critically Endangered (CR), balangeran (Shorea balangeran) masuk ke dalam kategori rentan / Vulnerable (VU) dan meranti lambai (Shorea acuminata) masuk ke dalam kategori hampir terancam punah / Near Threatened (NT) menurut daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Selain itu, telah dilakukan memasang papan nama proyek, membangun rumah pembibitan, membangun pondok kerja, patroli hutan, memberikan peningkatan kapasitas bagi masyarakat, serta melakukan monitoring dan evaluasi.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan restorasi ekosistem merupakan salah satu isu global yang penting saat ini. Sidang Majelis Umum PBB telah mendeklarasikan the UN decade on ecosystem restoration untuk menyinergikan upaya restorasi ekosistem secara masif pada ekosistem yang rusak dan terganggu pada periode 2021-2030. Restorasi ekosistem dianggap sebagai salah satu langkah efektif untuk memitigasi perubahan iklim dan meningkatkan ketahanan pangan, menjaga suplai air serta melindungi keanekaragaman hayati.

“Restorasi ekosistem juga perlu memerhatikan dimensi sosial-ekonomi masyarakat sehingga tidak hanya mengembalikan fungsi ekologis tetapi juga mengembalikan fungsi hutan sebagai sumber mata pencaharian yang berkelanjutan bagi masyarakat. Dengan tata kelola yang tepat, restorasi ekosistem dapat mendukung pemulihan fungsi hutan sebagai penyedia manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat”, kata Dolly, yang juga pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.

Sementara itu, Representative Director APPJ, Tan Ui Sian mengatakan Forest Restoration Project: SDGs Together merupakan salah satu bentuk dukungan dan langkah nyata APPJ untuk berkontribusi dalam restorasi ekosistem di wilayah Cagar Biosfer GSK-BB, Riau yang akan dilakukan secara berkelanjutan hingga 2024.

“Forest Restoration Project: SDGs Together juga mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) ke 15, yaitu melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem; target SDGs ke 12 yaitu produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab, kemudian target ke 13 yaitu mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya, target ke 15 yaitu kehidupan di daratan, serta target SDGs ke 17 yaitu menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan”, imbuh Tan.

Pada tempat terpisah, Kepala KPHP Minas Tahura, Dr. Matnuril, S.Ip., M.Si. mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi dan mendukung penuh upaya restorasi ekosistem yang dilakukan bersama Belantara Foundation dan KTH Tahura Sultan Syarif Hasyim yang didukung oleh APPJ dan pemangku kepantingan yang lain.

“Upaya ini diharapkan akan mampu memberikan kontribusi signifikan bagi penambahan luasan kawasan hutan terdegradasi yang telah dipulihkan di Provinsi Riau”, kata Matnuril.

Turut hadir berkunjung ke booth APPJ – Belantara Foundation di Pameran SDGs Week 2023 – EcoPro adalah Merry Astrid Indriasari, Atase Perdagangan KBRI Tokyo Jepang dan Yudhi Zufrial, General Manager Bank BNI Cabang Tokyo Jepang.

Kegiatan EcoPro 2023 merupakan bagian dari SDGs Week Expo 2023 merupakan pameran lingkungan yang komprehensif, yang menggelar informasi terkini mengenai teknologi-teknologi masa depan, produk serta layanan, kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility), kebijakan-kebijakan perlindungan lingkungan, kolaborasi pemerintah-akademisi-industri, serta berbagai inisiatif yang dilakukan baik oleh dunia usaha serta organisasi lain dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan / Sustainable Development Goals (SDGs).

Peringati Hari Menanam Pohon Indonesia, Belantara Foundation Ajak Mitra Sektor Swasta Jepang Tanam Pohon di Tahura Sultan Syarif Hasyim, Riau

December 2, 2023 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com — Belantara Foundation dan Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura serta pemangku kepentingan setempat yang didukung oleh Asia Pulp & Paper Japan Ltd. (APPJ) dan APP Sinarmas mengajak mitra sektor swasta Jepang, Saraya Co. Ltd. melakukan penanaman simbolis di kawasan Tahura Sultan Syarif Hasyim (SSH), Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Provinsi Riau, Rabu (29/11/2023).

Kegiatan ini dilakukan secara khusus dalam rangka memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia yang jatuh pada 28 November setiap tahunnya. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran (awareness) dan kepedulian kepada masyarakat pentingnya pemulihan kerusakan sumber daya hutan dan lahan yang terdegradasi melalui penanaman pohon.

Hal tersebut selaras dengan tujuan penanaman simbolis kali ini yaitu mengajak lebih luas sektor swasta berkolaborasi mengenai program pemulihan hutan untuk mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan / Sustainable Development Goals (SDGs) dan melestarikan jenis pohon yang terancam punah yang telah dicanangkan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau bersama Belantara Foundation pada pertengahan tahun lalu.

Jenis pohon yang digunakan antara lain balangeran (Shorea balangeran) dan meranti bunga (Shorea leprosula) sebanyak 20 pohon, yang keduanya termasuk dalam kategori pohon langka yang perlu dilestarikan.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan bahwa kami akan terus mengampanyekan dan mengajak berbagai pihak terutama sektor swasta untuk berkontribusi pada pemenuhan Nationally Determined Contribution (NDC) Pemerintah Indonesia dalam pengurangan emisi gas rumah kaca di Indonesia khususnya Pulau Sumatra, salah satunya melalui program pemulihan hutan.

Penanaman pohon di kawasan Tahura SSH sangat penting karena bermanfaat sebagai penghasil oksigen, mencegah erosi, menyediakan habitat bagi satwa liar, menyediakan sumber pangan dan obat-obatan serta menyerap karbon dioksida.

“Diperlukan kolaborasi, dukungan dan komitmen multi-pihak, baik pemerintah, akademisi, sektor swasta, masyarakat, NGO maupun seluruh aktor kehutanan dalam mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca di Indonesia khususnya Provinsi Riau,” tegas Dolly yang juga​ sebagai pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau, Tahura SSH merupakan kawasan hutan konservasi yang berada di wilayah Kampar, Siak, dan Pekanbaru, Provinsi Riau. Tahura SSH memiliki keanekaragaman jenis flora dan fauna yang cukup tinggi. Sedikitnya terdapat 127 jenis tumbuhan asli di kawasan hutan tersebut, empat jenis reptilia, 16 jenis mamalia dan 42 jenis burung.

Tumbuhan asli di Tahura SSH didominasi dari keluarga Dipterocarpaceae, Lauraceae, Euphorpeaceae, Anacardiaceae, Guttiferae, Sapotaceae dan Myrtaceae. Selain itu, dari 42 jenis burung yang ada di Tahura SSH, terdapat satu jenis yang menjadi fauna identitas Provinsi Riau, yaitu serindit melayu (Loriculus galgulus).

Pada kesempatan yang sama, Kepala KPHP Minas Tahura, Dr. Matnuril, S.Ip., M.Si. mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik dan mendukung penuh upaya pemulihan hutan di Tahura SSH yang dilakukan bersama Belantara Foundation dan pemangku kepentingan lainnya.

“Upaya ini diharapkan dapat menjadi pengingat atas komitmen kita terhadap masa depan yang lestari dan berkelanjutan serta dapat menginspirasi semua pihak untuk melindungi dan melestarikan lingkungan,” ujar Matnuril.

Pada tempat terpisah, Representative Director APPJ, Tan Ui Sian mengemukakan bahwa pihaknya akan terus mendorong customer nya yang berada di Jepang agar berpartisipasi dan berkontribusi pada program pemulihan hutan di Indonesia, khususnya di kawasan Tahura SSH, Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Riau.

“Kami berharap upaya tersebut dapat mendukung target SDGs ke 15, yaitu melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem; target SDGs ke 13 yaitu mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya ; dan target SDGs ke 17, yaitu menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan,” imbuh Tan.

Pada tahun ini, kegiatan penanaman simbolis telah dilakukan empat kali. Penanaman simbolis yang pertama telah dilakukan di Tahura SSH pada 17 Januari 2023, penanaman kedua pada 28 Februari 2023 dan penanaman ketiga pada 7 November 2023 lalu. Bibit pohon yang ditanam yaitu balangeran (Shorea balangeran), merbau (Intsia bijuga) dan meranti (Shorea leprosula).

Turut hadir pada kegiatan penanaman simbolis kali ini yaitu Kepala KPHP Minas Tahura, Dr. Matnuril, S.Ip., M.Si Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna; dan Managing Director of Saraya, Ms. Yoko Yoshida beserta jajarannya.(*)

 

 

Belantara Foundation bersama LPPM Universitas Pakuan Gaungkan Pentingnya Peran Multi-Pihak Dalam Mitigasi Perubahan Iklim lewat Perdagangan Karbon

November 8, 2023 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com, Belantara Foundation bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Pakuan, dan PT. Syslab, menyelenggarakan seminar nasional tentang pengenalan dan perkembangan perdagangan karbon di Indonesia secara hybrid (luring dan daring) pada Senin (6/11/2023).

Seminar hibryd yang dikombinasikan dengan training ini didukung oleh berbagai pihak antara lain Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jawa Barat (BPD HIPMI Jabar) dan PT. Gaia Eko Daya Buana.

Seminar nasional secara luring diadakan di Ruang Teater Lantai 10 Gedung Graha Pakuan Siliwangi (GPS) Universitas Pakuan di Bogor, sedangkan daring diadakan melalui aplikasi zoom dan live streaming youtube Belantara Foundation. Acara ini dikemas melalui kegiatan Belantara Learning Series Eps.8 (BLS Eps.8).

Pada perhelatan kali ini, panitia pelaksana menggandeng 6 universitas sebagai kolaborator yang mengadakan acara “nonton dan diskusi bareng” BLS Eps.8 bagi mahasiswa dan dosen di masing-masing universitas. 6 universitas tersebut yaitu Universitas Pakuan, Universitas Riau, Universitas Andalas, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Tanjungpura dan Universitas Nusa Bangsa.

Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) dari Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) baru-baru ini menerbitkan Laporan Sintesis atas Laporan Penilaian Keenam mengenai situasi iklim terkini pada Senin, 20 Maret 2023.

Dalam laporan tersebut memperingatkan bahwa pemanasan global di abad ini telah mencapai 1,1 derajat celcius dan akan melampaui batas 1,5 derajat celcius jika tidak ada penurunan drastis pada emisi gas rumah kaca (GRK). Bagi banyak negara, perubahan iklim telah terlihat dan seringkali melanda masyarakat yang paling rentan.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat Indonesia semakin khawatir dengan dampak perubahan iklim. Akan tetapi, penyebaran pengetahuan tentang lingkungan dan perubahan iklim yang tidak merata telah menghambat beberapa upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Kegiatan diseminasi pengetahuan perlu dilaksanakan dengan baik untuk melengkapi kerangka peraturan perubahan iklim yang telah diterbitkan oleh pemerintah Indonesia.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna yang menjadi salah satu keynote speaker pada acara ini mengatakan bahwa seminar nasional ini tujuan utamanya untuk meningkatkan penyadartahuan dan pemahaman stakeholders mengenai regulasi dan kebijakan serta prosedur dan mekanisme perdagangan karbon di Indonesia.

Tujuan lain untuk meningkatkan kapasitas stakeholders terkait penghitungan nilai ekonomi karbon terutama pada sektor kehutanan dan energi, serta bagaimana tata cara perdagangannya melalui bursa karbon yang mekanismenya telah diatur oleh pemerintah.

Dolly yang juga pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan menyebutkan salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yaitu melalui implementasi kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK), termasuk di dalamnya yaitu mekanisme penurunan emisi dengan skema perdagangan karbon.

“Perdagangan karbon dan mitigasi perubahan iklim sangat erat kaitannya, karena perdagangan karbon merupakan salah satu mekanisme berbasis pasar yang digunakan untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Diperlukan kolaborasi, dukungan dan komitmen multi-pihak, baik pemerintah, akademisi, sektor swasta, masyarakat, NGO maupun seluruh aktor kehutanan dan energi”, tutur Dolly.

Sementara itu, Deputy Operation Manager PT. Syslab, Arief Setiawan, ST., M.Si., mengatakan manajemen PT. Syslab memiliki visi dan misi untuk ikut peran serta dalam pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. Dalam kegiatannya, kami tidak hanya business profit oriented dalam pengelolaan lingkungan akan tetapi kami ikut peran serta dengan edukasi dan seminar melalui Syslab Learning Institute.

Terkait tema kali ini yakni Perdagangan Karbon (Carbon Trading) di Indonesia sepatutnya perlu menjadi perhatian agar kebermanfaatannya dapat dirasakan untuk masyarakat Indonesia dan Global.

“Kami sendiri mengembangkan untuk pendampingan teknis bagi perusahaan yang akan menjalankan pengelolaan dan perdagangan karbon melalui Syslab Study Team. Sesuai dengan tagline Syslab: Science for Nature dengan pengertian bahwa pengelolaan lingkungan hidup membutuhkan kolaborasi berbagai lintas ilmu,” ujarnya.

Pada waktu yang sama, Direktur Mobilisasi Sumber Daya Sektoral dan Regional pada Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dr. Wahyu Marjaka, M.Eng., menjelaskan pada presentasinya bahwa sejak Protokol Kyoto bahkan jauh sebelum itu, Indonesia sudah mulai secara bertahap melakukan komitmen untuk penguatan pengurangan gas emisi rumah kaca. Pada tahun 2015, pemerintah di seluruh dunia berkomitmen lebih kuat lagi untuk pengendalian emisi gas rumah kaca secara global.

Indonesia meratifikasi Paris Agreement melalui Undang Undang No. 16 tahun 2016 tentang pengesahan Paris Agreement To The United Nations Framework Convention on Climate Change (Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim). Semenjak itu, Indonesia mendesain berbagai tataran tahap demi tahap regulasi menjadi dasar implementasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK).

“NEK sangat penting menjadi salah satu dari berbagai regulasi atau substansial yang akan dilakukan Indonesia termasuk di dalamnya dari berbagai sektor NDC. Tidak hanya menjadi ukuran komitmen Indonesia tetapi juga menjadi dasar-dasar keberlanjutan di berbagai pembangunan di Indonesia”, ujar Wahyu.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Pakuan, Prof. Dr. rer. Pol. Ir. Didik Notosudjono, M.Sc. menyampaikan dalam paparannya bahwa insan perguruan tinggi memiliki peran penting yang strategis dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Selain penyadartahuan (awareness) dan edukasi kepada masyarakat melalui program KKN, PKM, dan MBKM, para dosen dan mahasiswa juga dapat melakukan riset-riset dengan memanfaatkan teknologi terkini, yang dapat membantu dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim menjadi lebih efektif. “Melalui upaya tersebut, harapannya akan muncul kesadaran masyarakat untuk mengurangi emisi GRK”, pungkas Didik.

Kepala Unit Pengembangan Carbon Trading & Inisiatif Baru Bursa Efek Indonesia, Edwin Hartanto, S.E., M.A., CFP., menjelaskan IDXCarbon berupaya untuk memberikan transparansi, keandalan, dan keamanan dalam memberikan solusi terbaik bagi perdagangan karbon di Indonesia sehingga tercipta perdagangan yang teratur, wajar, dan efisien. IDXCarbon memiliki 4 mekanisme atau jenis pasar yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku perdagangan yaitu Pasar Reguler, Pasar Negosiasi, Pasar Lelang, dan Marketplace.

“Harapan kami, selain kemudahan, keamanan, dan reliability, para pelaku perdagangan karbon akan memiliki fleksibilitas yang pada akhirnya akan mendorong perdagangan sesuai visi dan misi Pemerintah, OJK, dan Bursa Efek Indonesia,” ujar Edwin Hartanto.(*)

Belantara Foundation Kampanyekan “Mencintai Satwa Liar Dengan Tidak Harus Memiliki”

September 10, 2023 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com, Belantara Foundation menyelenggarakan kegiatan bertajuk Pameran Konservasi Indonesia Maju dengan Konservasi untuk Kini dan Masa Depan Generasi pada 9-10 September 2023 di Mall Sarinah, Jakarta.

Pameran ini merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan Muda Mudi Konservasi, yang meliputi kontes foto di backdrop bergambar satwa liar kharismatik dan tumbuhan terancam punah di Indonesia pada 8-17 Agustus 2023 serta kuliah umum bertemakan Konservasi Biodiversitas dan Satwa Liar di Indonesia pada 10 Agustus 2023 di Universitas Pakuan.

Selain itu, juga digelar lomba fotografi bertajuk Belantara Snapshot bertemakan Pesona Satwa Liar Indonesia pada 23 – 31 Agustus 2023 di Instagram, serta Belantara Learning Series Episode 7 dengan tema Metode Kajian Orangutan dan Kisah dari Lapangan pada 30 Agustus 2023 secara luring dan daring yang dikuti oleh hampir 500 peserta. Secara luring diadakan di Universitas Pakuan, sedangkan daring via aplikasi zoom dan live streaming di channel Youtube Belantara Foundation.

Acara ini diselenggarakan secara khusus dalam rangka Global Tiger Day yang diperingati setiap 29 Juli, Hari Konservasi Alam Nasional/HKAN yang diperingati setiap 10 Agustus dan World Elephant Day yang diperingati setiap 12 Agustus serta International Orangutan Day yang diperingati setiap 19 Agustus.

Pameran yang diselingi talkshow ini diselenggarakan atas kolaborasi dengan Forum HarimauKita (FHK), Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Forum Konservasi Orangutan Indonesia (FORINA), Eat & Run, Biologeek.

Selain itu juga didukung organisasi penggiat konservasi satwa liar lainnya dan peran swasta seperti APP Sinar Mas, PT Sharp Electronics Indonesia dan Pristine. Turut mendukung juga sebagai media partner yaitu Tempo.co, Majalah Trubus, Forest Insights, Klik Hijau dan Sorot Jakarta.

Kegiatan talkshow sendiri mengangkat tema Aksi Generasi Muda Dalam Pelestarian Satwa Liar di Indonesia. Dengan subtema talkshow hari ke1 pada 9 September 2023 yaitu Peran Multipihak dalam Pelestarian Satwa Liar di Indonesia dan subtema talkshow hari ke 2 pada 10 September 2023 yaitu Mencintai Satwa Liar Tidak Harus Memiliki.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna pada sambutannya di acara pembukaan mengatakan bahwa acara Muda Mudi Konservasi ini merupakan gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman publik khususnya generasi muda akan pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati dan satwa liar beserta habitatnya di Indonesia.

Dolly yang juga pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan menjelaskan keanekaragaman hayati dan satwa liar di Indonesia juga menghadapi berbagai ancaman, salah satunya akibat maraknya perburuan dan perdagangan satwa liar oleh masyarakat, lalu dijadikan sebagai hewan peliharaan. Tak jarang, pemelihara satwa liar berasal dari kalangan tokoh publik/public figure.

“Situasi ini diperparah dengan banyaknya kasus satwa liar peliharaan yang dijadikan sebagai konten media sosial. Secara tidak langsung, hal ini dapat menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda, yang beranggapan satwa liar boleh dijadikan hewan peliharaan. Padahal, mencintai satwa liar tidak harus memiliki. Ancaman lainnya yaitu degradasi habitat, hama dan penyakit, pencemaran, perubahan iklim, serta kerusakan lingkungan lainnya”, tambah Dolly yang juga ​ anggota Commission on Ecosystem Management IUCN.

Di tempat terpisah, sebagai sponsor utama pameran ini, Chief Sustainability Officer APP Sinar Mas, Elim Sritaba mengatakan pihaknya sejak tahun 2013 sudah menerapkan Kebijakan Konservasi Hutan atau Forest Conservation Policy (FCP) yang diimplementasikan di seluruh rantai pasok usaha pulp dan kertas APP Sinar Mas. Salah satunya dengan melakukan kajian dan mengelola areal-areal High Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stock (HCS) di dalam operasional Hutan Tanaman Industrinya. Jadi, kegiatan pameran ini sangat sejalan dengan implementasi kebijakan FCP.

“APP Sinar Mas berkomitmen turut serta melindungi keanekaragaman hayati yang berada di lokasi operasional kami dengan menjalankan berbagai upaya mitigasi, perlindungan dan juga peningkatan kapasitas termasuk bekerja sama dengan para pemangku kepentingan mendukung program pemerintah dibawah kepemimpinan KLHK” tegas Elim.

Turut hadir tokoh publik dan praktisi konservasi satwa liar sebagai narasumber yang memiliki pengalaman dan terlibat aktif dalam penyadartahuan (awareness), edukasi dan kampanye pelestarian satwa liar beserta habitatnya di Indonesia yaitu TuanTigaBelas, musisi (rapper); Fade2Black, BOSF Awareness Campaigner; Gita Syahrani, Penggiat Gotong Royong – Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) 2017 – 2023; drh. Nur Purba Priambada (vet), Kepala Divisi Profesi ASLIQEWAN, Davina Veronica, BOSF Awareness Campaigner; dan Ramon Y.Tungka, Explorer & Environmentalist.(vb/yul)

« Previous PageNext Page »

  • vb