Sahur dalam Tabuhan Tradisi

March 4, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA — Bulan Ramadan bukan sekadar soal ibadah puasa, tetapi juga dipenuhi tradisi-tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun. Di Indonesia, salah satu tradisi yang paling dikenal menjelang waktu sahur adalah tradisi beduk sahur, sebuah kebiasaan komunitas muslim yang membangunkan warga untuk makan sahur dengan cara menabuh beduk atau alat pukul lain sambil berteriak “Sahur! Sahur!”. Tradisi ini tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga bagian dari kebersamaan muslim di berbagai daerah.

Di berbagai kampung, suara beduk, kentongan, hingga ember plastik yang dipukul bertalu-talu menjadi alarm tradisional sebelum azan Subuh berkumandang. Anak-anak hingga pemuda biasanya berkeliling lingkungan sambil menabuh alat seadanya. Tak jarang, kegiatan ini berubah menjadi arak-arakan kecil yang penuh semangat.

“Kalau di Indonesia itu biasanya ramai sekali,” ujar Afif Luthfi Murtadho, Mahasiswa asal Indonesia yang pernah menempuh pendidikan di Turki saat diwawancarai, Selasa (3/3/2026).

Menurutnya, tradisi ini tumbuh dari kultur komunal masyarakat Indonesia yang menjadikan Ramadan sebagai momentum kebersamaan, bukan hanya ibadah personal.

Menariknya, tradisi membangunkan sahur dengan tabuhan alat pukul juga ditemukan di Turki. Sejak era Kesultanan Ottoman, masyarakat di sana mengenal penabuh drum sahur yang disebut davulcu. Mereka berjalan kaki menyusuri permukiman pada dini hari sambil menabuh davul (drum tradisional) untuk mengingatkan warga agar bangun sahur.

Tradisi ini masih bertahan hingga kini, termasuk di kota besar seperti Istanbul. Para penabuh drum biasanya mengenakan pakaian khas dan memainkan ritme tertentu yang sudah dikenal warga setempat.

“Tradisi beduk sahur di Turki juga ada, cuma yang membedakan disini tidak seramai di Indonesia, beberapa pemuda menabuh drum seperti drum band. Tidak ada arak-arakan besar atau teriakan keras seperti di kampung-kampung Indonesia,” terangnya.

Meski atmosfernya berbeda, esensi keduanya tetap sama, membangunkan umat Muslim agar tidak melewatkan sahur sebelum fajar.

Di Indonesia, beduk sahur identik dengan riuh dan kebersamaan lintas usia. Sementara di Turki, tabuhan davul menjadi simbol warisan budaya yang dijaga sejak berabad-abad lalu. (intan)

Polres Kutai Barat Panen Raya Jagung di Siluq Ngurai

March 4, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

KUTAI BARAT – Polres Kutai Barat melaksanakan kegiatan Panen Raya Jagung serentak triwulan I Tahun 2026 di lahan industri pertanian Kampung Muhur, Kecamatan Siluq Ngurai, Kabupaten Kutai Barat, Selasa (3/3/2026).

Panen raya jagung dilaksanakan di lahan seluas kurang lebih 4,5 hektare dengan capaian hasil panen sekitar 2,3 ton jagung. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama antara Polri, TNI, dan masyarakat dalam mendukung program ketahanan pangan serta pemanfaatan lahan produktif di wilayah Kabupaten Kutai Barat.

Kegiatan panen raya dihadiri Kabag Ops Polres Kutai Barat Kompol Teguh, Kabag SDM Polres Kutai Barat AKP Ahmad Said, Kapolsek Jempang Iptu Andi Ahmad, Kapolsek Siluq Ngurai Ipda Ginanjar Wahyu Utomo, Kasat Samapta Polres Kutai Barat Iptu Nurman, serta perwakilan dari unsur TNI di antaranya Kapten Edi dari Brigif TP 85/BTC, Letda Czi David Nikkolas Gurusinga, dari Yon TP 827/MCY, dan Serma Subadilah dari Koramil Muara Pahu.

Turut hadir Ketua Kelompok Tani Juata Muhur, Nasir, perwakilan BPP Kecamatan Siluq Ngurai Fatnurrahman Fitrah Anuar, serta personel Polsek Siluq Ngurai dan Polsek Jempang yang ikut mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. (arf)

Empat Tahun di Turki, Mahasiswa Asal Indonesia Kisahkan Suasana Ramadan

March 3, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Empat tahun menempuh pendidikan di Turki memberi pengalaman berbeda bagi Luthfi Afif Murtadho dalam memaknai bulan suci Ramadan. Pria kelahiran Sragen, Jawa Timur itu merasakan langsung bagaimana suasana Ramadan di Negeri Dua Benua berjalan dengan ritme yang tak sama seperti di Indonesia.

Pria yang akrab di sapa Afif itu memulai ceritanya dari hal paling sederhana yaitu waktu berbuka puasa.

Luthfi Afif Murtadho

“Kalau di Indonesia, sore hari itu identik dengan ngabuburit. Orang-orang keluar rumah, cari takjil, jalanan macet. Di Turki tidak seperti itu,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).

Ia menjelaskan, menjelang Magrib suasana justru cenderung tenang. Warga lebih banyak berada di rumah atau berkumpul bersama keluarga. Tidak ada hiruk pikuk “war takjil” sebagaimana lazim ditemui di berbagai kota di Indonesia.

Menu berbuka pun sederhana. Air putih dan kurma menjadi pembuka, disusul sup hangat. Salah satu yang paling umum adalah mercimek çorbası, sup lentil khas Turki yang lembut dan gurih. Sup itu hampir selalu hadir di meja makan selama Ramadan.

“Biasanya tidak langsung makan berat. Setelah minum dan makan sup, kami bersiap ke masjid,” katanya.

Selepas salat Magrib dan Isya, jamaah langsung melanjutkan tarawih. Namun justru setelah rangkaian ibadah itu, suasana berubah menjadi lebih semarak.

Afif menggambarkan bagaimana kawasan masjid di berbagai kota, termasuk di Sivas tempat ia tinggal, dipenuhi warga. Anak-anak muda berkumpul, keluarga berjalan santai di pelataran masjid, dan masyarakat bercengkerama di sepanjang jalan.

“Ramainya itu malam hari. Orang-orang nongkrong, pemuda kumpul, masjid penuh, jalanan juga hidup,” tuturnya.

Ia menambahkan, makan berat justru lebih sering dilakukan setelah salat, bahkan ada yang menunggu hingga selesai tarawih untuk menikmati hidangan utama bersama keluarga atau teman.

Menurutnya, jika di Indonesia denyut Ramadan terasa kuat menjelang berbuka, di Turki justru atmosfer kebersamaan menguat setelah malam tiba. Aktivitas sosial dan interaksi masyarakat berlangsung hingga larut, namun tetap dalam suasana yang tertib dan religius.

Selain soal tradisi, durasi puasa di Turki juga kerap berbeda dengan di Indonesia karena dipengaruhi oleh musim dan letak geografis. Saat Ramadan jatuh di musim panas, waktu puasa dapat sangat panjang karena durasi siang yang lebih lama, beberapa pelajar Indonesia di sana pernah mencatat puasa bisa mencapai sekitar 18 jam saat musim panas. Sebaliknya, ketika Ramadan berlangsung di musim dingin atau awal musim semi, durasi puasa bisa lebih pendek, sekitar 12–13 jam per hari sesuai waktu matahari terbit dan terbenam setempat. (intan)

PT Pamapersada Nusantara Laksanakan Kegiatan Karyawan Mengajar

March 3, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SENDAWAR – Salah satu program PT Pamapersada Nusantara yaitu karyawan mengajar yang dilaksanakan di SMK Negeri 2 Sendawar, Kelurahan Simpang Raya, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat (Kubar). Kegiatan diikuti seluruh siswa kelas dua belas sebagai pembekalan materi memasuki dunia industri.

Kepala sekolah SMK Negeri 2 Sendawar, Jusran Attan saat ditemui di ruangannya menyampaikan, kerjasama antara sekolah dan dunia usaha ini bisa berlanjut, karena sekolah kejuruan ini sangat membutuhkan sekali bermitra dengan dunia usaha. Dihatapkan, siswa setelah lulus bisa mandiri.

“Jika  mau melanjutkan kuliah  ke perguruan tinggi itu lebih bagus, tapi bagi yang mau bekerja setidaknya sudah punya pengetahuan atau sedikit bekal dari kegiatan karyawan mengajar ini,” kata Jusran, Senin (2/3/2026).

Ia berharap kedepannya bukan hanya karyawan mengajar atau guru tamu saja yang datang.   Kesempatan nantinya bisa diberikan kepada guru magang ke dunia industri. Karena kedepannya setiap guru harus mempunyai sertifikat kompetensi dari dunia usaha, ketika para guru sudah kompeten mereka harus mempunyai sertifikat yang resmi dari dunia usaha.

“Agar sekolah ini menjadi sekolah unggulan, syaratnya guru harus kompeten dan linier, baik dari dunia usaha maupun dari pemerintah,” ungkapnya.

Dikatakan, saat ini mungkin dunia usaha selalu memperbaharui perkembangan terbaru dari industri. Semoga seiring dengan perkembangan di industri para guru tamu bisa mengajarkan kepada siswa sebagai bekal bekerja di industri.

“Kami berharap kepada perusahaan, setelah siswa ini lulus nanti mungkin ada yang bisa diterima di perusahaan,”harapnya.

Ia menjelaskan, siswa sudah pernah mengikuti uji kompetensi dari pemerintah dan sudah mendapatkan sertifikat kompeten dari pemerintah. Ini salah satu modal masuk dan melamar ke dunia usaha atau industri.

Ia menyebut, saat ini yang menjadi pertanyaan siswa sudah kompeten dan sudah mempunyai sertifikat tetapi belum bisa diterima dunia usaha atau industri. Menurutnya siswa perlu diberi kesempatan.

“Apalagi mereka sudah memiliki sertifikat kompetensi yang dikeluarkan resmi dari pemerintah,” ujarnya.

Ditemui di sela kegiatan, CSR Officer PT Pamapersada Nusantara Rudyanto Putra menyampaikan kegiatan ini menjadi salah satu upaya perusahaan dalam memberikan bekal kepada siswa SMK khususnya di sekolah binaan agar lebih siap dalam menghadapi persiapan dunia kerja

“Kegiatain ini sifatnya rangkaian dan transfer ilmu. Materi yang disampaikan mengenalkan proses seleksi dan administrasi yang diperlukan sehingga ketika lulus dan berniat mencari kerja sudah paham tahapan dan administrasi yang harus dilengkapi”.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program PAMA SAFE School dimana SAFE sendiri adalah singkatan dari Safety (Keselamatan), Active and Fit, (Aftif dan sehat), serta Eco-friendly (Ramah lingkungan)

“Kami menjalin kerja sama dengan SMKN 2 Sendawar dengan harapan program ini nantinya dapat SMKN 2 Sendawar menjadi percontohan untuk menerapkan budaya keselamatan, kesehatan, dan peduli lingkungan tidak hanya di siswa, namun juga untuk seluruh elemen di sekolah,” ucapnya. (arf)

Riding & Bukber Fazio di Samarinda, Yamaha Kaltim Rangkul Generasi Muda Lewat Kelas Kreatif

March 3, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

SAMARINDA – Main Dealer Yamaha Kaltimtara (PT. Surya Timur Sakti Jatim) menggelar kegiatan buka puasa bersama (bukber) dan riding bareng pengguna Yamaha Fazzio di Ya Kun Kaya Toast Samarinda, Area 77 Sport Hub, Jalan Pipit, Bandara, Sungai Pinang, Sabtu (28/2/26).

Kegiatan ini diikuti 18 konsumen Fazzio serta 13 peserta dari pengguna roda 2 Merk Lain.

Asisten Manajer Promosi/Area PT Surya Timur Sakti Jatim (STSJ) Main Dealer Yamaha Kaltim, Efendy Ariadi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin untuk mempererat silaturahmi antar konsumen Yamaha, khususnya pengguna Fazzio.

“Event ini rutin kami laksanakan agar mempererat silaturahmi konsumen Yamaha Fazzio. Kami ingin membangun kedekatan yang lebih kuat dengan para pengguna,” ujar Efendy.

Kegiatan diawali dengan rolling city dari Yamaha Sentral Samarinda jalan Agus Salim menuju lokasi acara. Peserta kemudian mengikuti kelas kreatif yang terbagi pada dua pilihan, yakni pelatihan pembuatan Chunky Bag dan Flower Bucket, sebelum ditutup dengan buka puasa bersama.

Area Marketing Development (AMD) STSJ Kalimantan, Ilham Sintang, menjelaskan konsep kegiatan dirancang menyasar generasi muda, terutama segmen milenial dan Gen Z yang menjadi target pasar Fazzio.

“Segmen Fazzio ini kan youngster. Jadi kami ingin lebih dekat dengan anak-anak muda, terutama yang aktif dan kreatif. Mereka sekarang mencari kegiatan yang bisa menambah value diri. Harapannya kegiatan ini sama-sama memberikan manfaat,” katanya.

Menurutnya, Yamaha juga mulai mengundang pengguna merek lain agar bergabung pada kegiatan tersebut. Langkah ini dilakukan untuk memperluas jaringan serta memperkenalkan Fazzio kepada calon konsumen baru.

“Kalau sebelumnya fokus ke pengguna Fazzio, sekarang kami kombinasikan dengan pengguna non-Fazzio. Harapannya mereka bisa membangun circle baru dan ke depan tertarik menggunakan Fazzio. Kami juga akan mengolah database untuk menawarkan program khusus agar semakin memikat konsumen,” jelasnya.

Dirinua menambahkan, kegiatan serupa direncanakan digelar secara berkala, dengan target maksimal 12 kali dalam setahun, menyesuaikan minat peserta dan lokasi pelaksanaan.

Salah satu peserta dari pengguna non-Fazzio, Salsabila Cahya Isnani, mengaku tertarik mengikuti kelas Flower Bucket karena sesuai dengan minatnya.

“Saya ikut kelas Flower Bucket, merangkai bunga segar. Saya lebih suka bunga karena bisa jadi pajangan,” ujarnya.

Mahasiswi tersebut berharap kegiatan serupa kembali digelar dengan variasi kelas yang lebih beragam.

“Semoga ke depan bisa diadakan lagi dan mungkin ditambah kelas baru selain Chunky Bag dan Flower Bucket,” tambahnya.

Ia juga mengaku tertarik beralih ke Yamaha Fazzio jika memiliki kesempatan.

Sementara itu, Yulianti, pengguna Fazzio yang telah menggunakan motor tersebut selama setahun, mengaku sudah tiga kali mengikuti kegiatan serupa. Ia menilai acara tersebut menarik dan bermanfaat.

“Ini yang ketiga kali saya ikut. Sebelumnya di Big Mall. Acaranya asik, semoga ada terus setiap bulan dan makin ramai,” katanya.

Yulianti menambahkan, selama menggunakan Fazzio tidak mengalami kendala berarti.

“Sudah setahun pakai, tidak ada kendala. Servis rutinnya juga bagus. Tadi saya ikut pelatihan Chunky Bag, tasnya bisa langsung dipakai, dan juga menambah pengalaman baru,” tutupnya. (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb