IPPRISIA Kaltim Perkuat Sinergi dan Kolaborasi untuk Pemberdayaan Masyarakat

August 9, 2026 by  
Filed under Kalimantan Timur

SAMARINDA – Dewan Pengurus Daerah Ikatan Penata Persona Indonesia (DPD IPPRISIA) Kalimantan Timur menggelar Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026 di Golden Season Hotel Samarinda, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan mengusung tema “Membangun Sinergi Pengurus DPD IPPRISIA Kalimantan Timur dalam Mewujudkan Organisasi yang Profesional, Berdaya Saing, dan Berdampak bagi Masyarakat.”

Raker tersebut dihadiri penasihat DPD IPPRISIA Kaltim yang juga istri Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Hj. Wahyu Hernaningsih Seno Aji, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim Syarifah Alawiyah, yang akrab disapa Yuyun, Ketua DPD IPPRISIA Kaltim Marliana Wahyuningrum, serta sejumlah perwakilan perangkat daerah, pembina dan penasihat organisasi, jajaran pengurus dan keluarga besar IPPRISIA Kaltim. Kegiatan tersebut diketuai Fitri Ekadinanti selaku ketua panitia.

Rapat kerja menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus menyusun program kerja yang diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ketua DPD IPPRISIA Kaltim Marliana Wahyuningrum mengatakan, forum tersebut tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi, tetapi menjadi ruang untuk mengevaluasi kegiatan sekaligus menentukan arah kebijakan organisasi ke depan.

“Forum ini bukan sekadar memenuhi agenda organisasi, tetapi merupakan momentum strategis untuk menentukan arah kebijakan organisasi, memperkuat koordinasi, serta menyusun program kerja yang realistis, terukur dan berdampak nyata kepada masyarakat,” ujarnya.

Marliana menjelaskan, IPPRISIA telah mengalami transformasi organisasi sejak 2025. Jika sebelumnya lebih berfokus pada pengembangan kepribadian, kini gerakan organisasi diperluas pada pemberdayaan masyarakat dan bidang humaniora.

Perluasan tersebut membuat program IPPRISIA mencakup berbagai bidang, antara lain pemberdayaan perempuan, pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, perlindungan anak dan pengembangan sumber daya manusia.

Menurutnya, organisasi juga terus membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai lembaga lainnya. Hal tersebut penting karena pemberdayaan masyarakat tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri.

“Bagi kami, organisasi ini sifatnya humanis, bukan organisasi yang profitable. Lebih kepada apa yang bisa kami berikan untuk sesama,” katanya.

Sejumlah program IPPRISIA juga dipaparkan dalam raker, di antaranya DICINTAI atau Dapur Ibu Cerdas Indonesia Tanpa Stunting. Program tersebut telah dilaksanakan melalui roadshow dan sosialisasi di sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.

Selain itu, terdapat program SIAP Berdaya yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan Dinas Sosial. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pengetahuan dan keterampilan agar mampu mandiri dan memiliki daya saing.

Kepala DP3A Kaltim Syarifah Alawiyah atau Yuyun memberikan apresiasi terhadap kiprah IPPRISIA. Ia menilai berbagai program yang dijalankan organisasi memiliki keterkaitan erat dengan tugas pemerintah daerah, khususnya dalam pemberdayaan perempuan, perlindungan anak dan penguatan ketahanan keluarga.

“Saya sangat memberikan apresiasi kepada IPPRISIA. Setelah mendengarkan pemaparan Ketua, ternyata organisasi ini sangat terorganisir dan program-programnya berjalan dengan baik,” kata Yuyun.

Menurutnya, pemerintah membutuhkan dukungan organisasi masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan sosial. Persoalan kekerasan, pelecehan, stunting, pendidikan hingga ketahanan ekonomi keluarga membutuhkan keterlibatan banyak pihak dengan kompetensi yang beragam.

“DP3A tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa adanya bantuan dari organisasi seperti ini,” ujarnya.

Yuyun bahkan mendorong agar berbagai organisasi yang memiliki perhatian terhadap perempuan, anak dan persoalan sosial di Kalimantan Timur dapat dihimpun dalam sebuah wadah kolaborasi.

Ia mengatakan telah meminta jajarannya mendata organisasi-organisasi yang memiliki visi dan misi sejalan untuk kemudian dipertemukan dan duduk bersama. Konsep tersebut nantinya dapat diwujudkan melalui pembentukan kelompok kerja yang melibatkan berbagai organisasi dan tenaga dengan latar belakang keahlian berbeda.

Gagasan itu, kata Yuyun, telah disampaikan kepada Gubernur Kalimantan Timur melalui tim percepatan gubernur. Harapannya, wadah kolaborasi tersebut dapat diperkuat melalui keputusan gubernur.

Kelompok kerja tersebut nantinya diharapkan tidak hanya menjalankan koordinasi, tetapi juga turun langsung ke masyarakat. Pemetaan wilayah dapat dilakukan bersama pemerintah kecamatan, kelurahan dan kepolisian untuk mengetahui kawasan yang membutuhkan perhatian khusus, seperti wilayah rawan kekerasan, pelecehan, stunting maupun persoalan sosial lainnya.

“Tidak hanya kita kumpulkan masyarakat untuk edukasi. Kalau ditemukan keluarga yang membutuhkan perhatian khusus, tim bisa turun langsung ke rumah tersebut,” jelasnya.

Yuyun menilai kekuatan organisasi akan semakin besar apabila setiap lembaga membawa kompetensi masing-masing. Ada organisasi yang bergerak di bidang kesehatan, pendidikan, literasi, keterampilan, sosial maupun pemberdayaan ekonomi.

“Dengan adanya kekuatan dari organisasi-organisasi ini, kalau kita bersatu tentu semakin kuat,” tegasnya.

Sementara itu, penasihat DPD IPPRISIA Kaltim Hj. Wahyu Hernaningsih Seno Aji juga mendorong pengurus memperkuat kolaborasi, kemandirian dan profesionalisme organisasi.

Ia mengapresiasi berbagai kegiatan IPPRISIA yang selama ini banyak dijalankan melalui kemampuan dan swadaya organisasi. Menurutnya, keterbatasan anggaran pemerintah tidak boleh menjadi alasan bagi organisasi masyarakat untuk berhenti bergerak dan berinovasi.

“Saya sangat salut. Dari mana semua kegiatan ini dananya? Ternyata dari kemandirian organisasi. Kalau kita hanya mengandalkan pemerintah, tentu banyak keterbatasan. Karena itu kita harus terus berinovasi dan menggandeng organisasi lain,” ujarnya.

Wahyu juga mengingatkan pengurus agar menjadikan organisasi sebagai rumah bersama untuk bertukar gagasan, membangun jaringan dan melahirkan program yang bermanfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, pemberdayaan perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun keluarga dan menyiapkan generasi masa depan. Namun, upaya tersebut juga membutuhkan keterlibatan laki-laki dalam keluarga.

“Dengan ibu yang tangguh dan hebat, ibu menjadi guru utama di rumah. Tetapi bapak-bapak juga memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga,” katanya.

Ia berharap IPPRISIA mampu melahirkan kader-kader yang kompeten, berkarakter, memiliki integritas dan kepedulian terhadap pembangunan Kalimantan Timur.

Melalui raker tersebut, IPPRISIA Kaltim menargetkan program kerja yang disusun tidak berhenti sebagai dokumen organisasi, tetapi benar-benar dapat dilaksanakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Penguatan jejaring dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, dunia usaha dan berbagai komunitas juga akan menjadi bagian penting dalam pengembangan program IPPRISIA ke depan.

Dengan mengedepankan sinergi, profesionalisme, kemandirian dan kolaborasi, IPPRISIA Kaltim diharapkan semakin mampu mengambil peran dalam pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, penguatan keluarga serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kalimantan Timur. (fnd)

IPPRISIA Kaltim Tegaskan Organisasi Harus Humanis dan Berdampak Nyata bagi Masyarakat

April 26, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Ikatan Penata Persona Indonesia (IPPRISIA) Kalimantan Timur menggelar kegiatan Halalbihalal dan Penguatan Organisasi di Lotus Garden Samarinda, Sabtu, 25 April 2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat nilai organisasi, soliditas pengurus, serta arah gerak organisasi agar lebih berdampak bagi masyarakat.

Kegiatan ini tidak hanya diikuti Dewan Pengurus Provinsi IPPRISIA Kalimantan Timur, tetapi juga dihadiri Dewan Pengurus Cabang IPPRISIA Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan Kabupaten Kutai Timur.

Ketua IPPRISIA Kaltim, Marliana Wahyuningrum, menyampaikan bahwa halalbihalal bukan sekadar ajang berkumpul dan bersilaturahmi, melainkan upaya meneguhkan kembali nilai, makna, dan tujuan organisasi yang dibangun bersama.

Menurutnya, IPPRISIA bukan hanya berbicara mengenai struktur dan program kerja, tetapi bagaimana organisasi mampu hadir memberi arti dan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

“Organisasi bukan hanya soal program kerja, tetapi bagaimana membawa dampak perubahan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, IPPRISIA pada awalnya berfokus pada pengembangan kepribadian. Namun seiring perkembangan, organisasi bertransformasi menjadi wadah untuk menata persona setiap individu dengan mengedepankan nilai kemanusiaan dan budaya Indonesia.

“Bagaimana menciptakan nilai humanis. Kita berbicara tentang orientasi pada manusia dan empati agar orang lain bisa menjadi lebih baik,” katanya.

Marliana menilai, peran pengurus provinsi maupun kabupaten/kota sangat strategis dalam menghidupkan misi organisasi melalui tindakan nyata. Karena itu, ia mengajak seluruh anggota mulai menggeser pola kegiatan yang hanya bersifat formalitas tanpa dampak berkelanjutan.

“Tidak perlu banyak kegiatan, cukup satu kegiatan tetapi benar-benar berdampak. Yang kita kejar bukan kuantitas, tetapi kualitas,” tegasnya.

Ia menambahkan, program organisasi seharusnya tidak hanya berdasarkan keinginan ketua atau individu tertentu, melainkan menyesuaikan kebutuhan masyarakat di daerah masing-masing agar dapat memberi manfaat luas dan membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak.

Salah satu contoh yang disampaikan yakni menjadikan Trisari sebagai kampung percontohan untuk membangun karakter masyarakat melalui peningkatan pendidikan, kesehatan, komunikasi keluarga, hingga keterampilan masyarakat.

Menurutnya, kegiatan yang dekat dengan masyarakat dan dilakukan secara berkelanjutan akan lebih mudah diterima serta mampu menciptakan perubahan secara alami.

“Kalau masyarakat merasa dekat dan menerima keberadaan kita, maka peningkatan kualitas hidup akan berjalan otomatis. Kita harus menjadi agen perubahan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Marliana juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam berorganisasi. Ia menekankan bahwa pengurus harus mampu menjadi contoh sebelum memberikan arahan kepada orang lain.

“Perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Terang itu dari dalam, bukan dari luar. Kita harus berani berpikir, belajar, berbicara, dan selangkah lebih maju,” tuturnya.

Ia juga menyinggung pentingnya soliditas dan kepemimpinan dalam organisasi. Menurutnya, pemimpin di IPPRISIA bukan untuk dilayani, melainkan hadir untuk melayani dan memberdayakan anggota.

“Saya yakin dan percaya, ketika kita bekerja bersama dengan empati dan komitmen yang tinggi, maka manfaat yang dirasakan akan jauh lebih besar dari yang dibayangkan,” katanya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut juga digelar seminar dan penguatan organisasi dengan menghadirkan trainer IPPRISIA, Endro S Efendi. Materi yang disampaikan tidak hanya dikemas secara komunikatif dan interaktif, tetapi juga diselingi berbagai permainan yang sarat makna guna memperkuat kebersamaan, kepemimpinan, empati, serta pola pikir anggota organisasi.

Melalui kegiatan itu, IPPRISIA Kaltim berharap langkah-langkah kecil yang dilakukan hari ini dapat menjadi awal perubahan besar di masa mendatang serta semakin memperkuat soliditas organisasi dalam memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

  • vb