Musik, Teman Setia Peredam Stres

January 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Musik bukan sekadar pengisi kesunyian. Dalam keseharian, ia hadir sebagai teman setia yang menemani berbagai suasana hati, saat gembira, lelah, bahkan ketika stres menumpuk. Tak heran jika banyak orang merasa hari terasa hampa tanpa alunan nada.

Fenomena kedekatan manusia dengan musik ini bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan didukung oleh bukti ilmiah. Sejumlah penelitian menunjukkan, musik memiliki peran nyata dalam menurunkan tingkat stres dan memperbaiki suasana hati (mood).

Salah satu rujukan kuat datang dari meta-analisis yang dipublikasikan dalam Journal of Music Therapy pada 2019, yang dilakukan oleh tim peneliti lintas negara. Studi ini menganalisis 104 penelitian uji klinis acak (randomized controlled trials) dan menyimpulkan, intervensi musik secara signifikan menurunkan stres, baik secara psikologis maupun fisiologis, seperti detak jantung dan kadar hormon kortisol.

Sementara itu, National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), Amerika Serikat, dalam ringkasan ilmiahnya pada 2022, juga menyebutkan bahwa terapi musik memiliki efek sedang hingga besar dalam mengurangi stres, kecemasan, dan ketegangan emosional, berdasarkan tinjauan puluhan penelitian sebelumnya.

Secara ilmiah, musik bekerja langsung pada sistem saraf. Penjelasan ini diuraikan dalam berbagai kajian neurosains, salah satunya dalam jurnal Nature Neuroscience. Musik yang disukai terbukti mengaktifkan sistem reward di otak dan memicu pelepasan dopamin, neurotransmitter yang berperan dalam rasa senang dan relaksasi.

Selain itu, ritme dan tempo musik juga memengaruhi sistem saraf otonom. Musik dengan tempo lambat cenderung menurunkan detak jantung dan membuat tubuh lebih tenang, sementara musik cepat dapat meningkatkan energi dan motivasi. Inilah yang membuat musik kerap digunakan sebagai alat regulasi emosi secara alami.

Dalam praktiknya, musik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas banyak orang—dari perjalanan pagi, waktu belajar, hingga saat menenangkan diri sebelum tidur.

Hal itu dirasakan langsung oleh Liana, seorang ibu yang senang mendengarkan musik.

“Kalau lagi capek atau stres, aku pasti pakai headset. Dengar lagu itu kayak nenangin kepala. Rasanya kalau nggak ada musik, suasana jadi sepi dan kosong,” ujarnya.

Dengan memilih musik yang sesuai kebutuhan, seseorang dapat memanfaatkannya sebagai bentuk self-care yang mudah diakses kapan saja.

Di tengah kehidupan yang kian bising dan penuh tekanan, musik menjadi ruang aman tempat pikiran beristirahat sejenak, dan perasaan menemukan kembali nadanya. (intan)

Cara Gen Z Menyambut Tahun Baru lewat Resolusi dan Refleksi Diri

January 4, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Memasuki pergantian tahun, resolusi kerap menjadi ritual tahunan bagi banyak orang. Media sosial dipenuhi daftar target, rencana hidup, hingga refleksi diri. Namun, di tengah budaya menetapkan tujuan tersebut, tak sedikit pula yang memilih menjalani tahun baru tanpa resolusi, dengan prinsip hidup mengalir apa adanya.

Sejumlah penelitian menunjukkan, resolusi tahun baru masih menjadi kebiasaan populer. Studi dari University of Scranton, Amerika Serikat, menyebutkan sekitar 40 persen orang dewasa membuat resolusi di awal tahun, meski hanya sebagian kecil yang mampu mempertahankannya hingga akhir tahun. Resolusi yang paling umum berkaitan dengan kesehatan, keuangan, karier, dan pengembangan diri.

Meski begitu, efektivitas resolusi kerap diperdebatkan. Psikolog perilaku menilai, resolusi bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memberi arah dan motivasi. Di sisi lain, target yang terlalu tinggi justru berpotensi memicu stres dan rasa gagal.

Pandangan berbeda soal resolusi ini juga dirasakan Jalia, salah satu generasi muda yang memilih tidak menjadikan resolusi sebagai pegangan hidup. Ia mengaku lebih nyaman menjalani hidup tanpa daftar target tahunan.

“Aku sih bukan tim yang suka bikin resolusi-resolusi gitu sih. Aku anaknya enjoy flow aja, ngalir aja gitu,” ujar Jalia.

Menurutnya, hidup yang terlalu terikat target justru membuatnya mudah terbebani. Ia lebih memilih fokus pada proses harian dan menyesuaikan diri dengan situasi yang terus berubah, layaknya air yang mengikuti bentuk wadahnya.

Berbeda dengan Jalia, Intan justru menjadikan resolusi tahunan sebagai kompas hidup. Setiap awal tahun, ia rutin mencatat pencapaian selama setahun ke belakang, sekaligus menyusun rencana dan target untuk satu tahun ke depan.

“Kalau aku tim yang suka bikin yearly resolution sih, soalnya aku ngerasa jadi punya target dan merasa semangatku terpacu,” kata Intan.

Ia menambahkan, resolusi membantunya memahami arah langkah yang harus diambil.

“Dengan itu aku jadi tahu harus melakukan apa dan mencari cara agar targetku tercapai,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan, resolusi tahun baru tak melulu soal benar atau salah. Seperti peribahasa lain ladang lain belalang, setiap orang memiliki cara sendiri dalam memaknai awal tahun. Bagi sebagian orang, resolusi adalah peta perjalanan. Bagi yang lain, hidup tanpa resolusi justru terasa lebih merdeka. (intan)

Kopi Jadi Pelarian Gen Z di Tengah Tekanan

January 4, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

Generasi Z atau Gen Z (lahir pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an) kini semakin sering dikaitkan dengan isu stres dan perilaku konsumsi kopi sebagai pelarian sehari-hari. Tekanan akademik, pekerjaan awal, serta tuntutan sosial media disebut menjadi faktor yang memperparah kondisi mental generasi ini.

Menurut hasil survei Jakpat Insight, sekitar 78% Gen Z mengonsumsi kopi, dengan puncak waktu minum kopi banyak terjadi pada sore hingga malam hari, yakni antara 18.00–21.00 waktu yang erat dengan stres kerja atau tugas kampus selesai hari itu.

Data lain menunjukkan, Gen Z kini menjadi salah satu kelompok konsumen yang berkontribusi besar dalam tren kopi global. Survei oleh GlobalData mencatat bahwa 31% generasi ini termasuk pengeluaran kopi yang “cukup tinggi/ sangat tinggi”, sebuah indikasi bahwa kopi kini bukan sekadar minuman biasa, namun sudah menjadi bagian penting dari gaya hidup mereka.

Fenomena ini juga tampak dalam tren pilihan minuman kopi yang berkembang. Laporan tren minuman global menyebut, Gen Z kini mencari kopi yang bisa memberikan fungsi lebih dari sekadar energi, termasuk dorongan suasana hati dan relaksasi indikasi bahwa kopi dipakai sebagai alat bantu mengatasi tekanan pikiran.

Namun, fenomena ini tidak semata tentang selera. Stres menjadi salah satu alasan kuat di balik konsumsi kopi di kalangan Gen Z. Sebuah laporan oleh American Psychological Association menyebut, sebagian besar Gen Z melaporkan tanda-tanda stres emosional dan fisik yang intens dibandingkan generasi lain walaupun fokus utamanya bukan data Indonesia, tetapi menggambarkan tren global generasi ini.

Hal itu dibenarkan oleh seorang Gen Z bernama Farhan, ia menyampaikan, kopi menjadi hal yang wajib dikonsumsi setiap hari.

“Kadang kalau tugas kuliah numpuk atau deadline kerjaan mepet, kopi itu kayak penenang dulu sebelum mulai ngerjain. Aku minumnya bukan cuma buat begadang, tapi buat tenangin pikiran juga,” ujar Farhan.

Farhan menambahkan, rutinitas kopi baginya kini lebih dari sekadar kebiasaan.

“Kalau hari itu aku belum ngopi, rasanya belum lengkap. Kaya harus ada ritual ngopi dulu biar bisa fokus dan kurangi rasa panik karena banyak kerjaan,” tambahnya.

Tak bisa dipungkiri, kebiasaan ini membawa sisi positif dan negatif. Kopi agak membantu fokus, tetapi juga bisa memicu gangguan tidur atau masalah pencernaan bila dikonsumsi berlebihan, terutama di malam hari.

Sementara sebagian Gen Z menggunakannya sebagai alat bantu konsentrasi, ada pula penelitian yang menunjukkan risiko kesehatan seperti gastritis atau masalah pencernaan ketika kopi diminum secara terus-menerus tanpa memperhatikan batas wajar. (intan)

Tren Slow Living Semakin Dilirik Generasi Milenial dan Gen Z

January 4, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

Di tengah ritme hidup serba cepat, notifikasi tanpa henti, serta budaya produktivitas yang kerap memuja kesibukan, generasi Milenial dan Gen Z mulai melirik gaya hidup slow living sebagai alternatif menjalani hidup yang lebih seimbang dan bermakna.

Slow living adalah konsep hidup yang menekankan kesadaran dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Bukan berarti hidup menjadi lamban atau malas, melainkan memilih untuk tidak tergesa-gesa, memprioritaskan kualitas dibanding kuantitas, serta memberi ruang bagi kesehatan mental, relasi sosial, dan refleksi diri. Filosofi ini mendorong seseorang untuk “hadir sepenuhnya” dalam setiap proses hidup yang dijalani.

Tren ini tumbuh seiring meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap dampak negatif gaya hidup serba cepat. Penelitian American Psychological Association (APA) menunjukkan generasi muda saat ini mengalami tingkat stres dan kecemasan lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya, terutama akibat tekanan akademik, pekerjaan, serta paparan media digital yang berlebihan. Kondisi tersebut mendorong pencarian pola hidup yang lebih berimbang dan berkelanjutan.

Fenomena serupa juga tercermin dalam riset Global Web Index yang mencatat Gen Z dan Milenial kini lebih memprioritaskan kesejahteraan mental dan waktu pribadi dibanding sekadar pencapaian materi. Bagi mereka, hidup bukan lagi soal siapa paling sibuk, melainkan siapa yang paling mampu menjaga kendali atas waktu dan energi.

“Buat saya, slow living itu bukan berhenti bergerak, tapi berhenti terburu-buru,” ujar Apip, seorang Gen Z yang bercita-cita menjalani hidup dengan prinsip slow living. “Kita sering kayak lari maraton tanpa sadar ke mana garis akhirnya. Padahal hidup itu bukan lomba cepat-cepatan,” katanya.

Apip menilai budaya serba cepat justru membuat banyak anak muda kehilangan arah dan makna. Ia mengibaratkan hidup seperti menikmati secangkir kopi. “Kalau diminum tergesa-gesa, rasanya pahit dan cuma panasnya yang terasa. Tapi kalau pelan-pelan, aromanya keluar, rasanya lebih nikmat,” tuturnya.

Pada praktiknya, slow living diwujudkan melalui langkah-langkah sederhana, seperti membatasi waktu layar gawai, menikmati aktivitas tanpa multitasking berlebihan, memilih pekerjaan yang selaras dengan nilai pribadi, hingga meluangkan waktu untuk diri sendiri dan orang terdekat.

Prinsip ini sejalan dengan pepatah lama, “alon-alon waton kelakon”, pelan-pelan asal tercapai, yang menekankan ketekunan dan kesadaran dalam proses.

Meski belum menjadi arus utama, slow living mulai terlihat di kalangan urban melalui meningkatnya minat terhadap gaya hidup minimalis, journaling, digital detox, hingga aktivitas berbasis alam. Bagi generasi muda, pendekatan ini dianggap sebagai cara bertahan di tengah dunia yang menuntut segalanya serba cepat.

“Kalau hidup terus dikejar-kejar, lama-lama capek sendiri. Slow living itu seperti menarik napas panjang sebelum melangkah lagi,” ujar Apip. “Biar langkahnya nggak cuma cepat, tapi juga punya arah.” (intan)

Gorengan Malam Hari Disebut Ganggu Konsentrasi Belajar

January 1, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Kebiasaan ngemil gorengan pada malam hari kerap dianggap sepele. Padahal, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans menjelang waktu istirahat berpotensi menurunkan konsentrasi belajar dan daya fokus otak, terutama pada pelajar dan mahasiswa.

Sejumlah penelitian menunjukkan asupan lemak jahat secara berlebihan dapat memicu peradangan ringan pada otak. Studi yang dipublikasikan dalam The Journal of Neuroscience menjelaskan, pola makan tinggi lemak jenuh berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif, termasuk memori dan kemampuan belajar. Lemak jenis ini diketahui mengganggu kerja hippocampus, bagian otak yang berperan penting dalam proses mengingat dan memahami informasi.

Penelitian lain dari American Journal of Clinical Nutrition juga menyebutkan konsumsi makanan berlemak tinggi pada malam hari dapat mengganggu kualitas tidur. Padahal, tidur yang tidak optimal akan berdampak langsung pada fokus dan konsentrasi keesokan harinya. Ibarat mesin yang dipaksa bekerja tanpa pelumas yang baik, otak menjadi cepat lelah dan sulit diajak berpikir jernih.

Kondisi tersebut kerap terjadi di kalangan anak muda yang terbiasa belajar atau mengerjakan tugas hingga larut malam sambil ditemani gorengan. Kebiasaan ini dinilai kurang tepat karena tubuh justru membutuhkan asupan ringan yang mudah dicerna menjelang waktu istirahat.

Hal itu diakui oleh Aminah, salah satu mahasiswa yang gemar memakan gorengan. Ia mengaku sering mengonsumsi gorengan saat belajar malam, namun merasakan dampak negatifnya.

“Kalau malam ngemil gorengan, awalnya kenyang, tapi pas belajar malah ngantuk dan susah fokus. Besoknya juga kerasa kepala berat,” ujar Aminah.

Menurut Aminah, setelah mengurangi gorengan dan menggantinya dengan camilan yang lebih ringan, seperti buah atau kacang rebus, konsentrasinya saat belajar mulai membaik. “Lebih enak mikirnya, nggak gampang capek,” katanya. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1715535
    Users Today : 2690
    Users Yesterday : 4532
    This Year : 652045
    Total Users : 1715535
    Total views : 14533563
    Who's Online : 38
    Your IP Address : 216.73.216.235
    Server Time : 2026-04-27