Motor Yamaha Gear Ultima 125 Hybrid Bisa Dibawa Pulang dengan DP Rp800 Ribuan

December 16, 2025 by  
Filed under Gaya Hidup

BALIKPAPAN– Yamaha kembali menghadirkan program menarik bagi masyarakat melalui event bertajuk Yamaha NgeGrebek. Dalam kegiatan ini, pengunjung berkesempatan membawa pulang Yamaha Gear Ultima 125 Hybrid, motor berkonsep Motor Hebat, Kuat, No Debat, dengan uang muka yang sangat terjangkau.

PT Surya Timur Sakti Jatim (STSJ) selaku Main Dealer Yamaha wilayah Kalimantan Timur menyebutkan bahwa konsumen hanya cukup bayar Rp800 ribuan untuk bisa memiliki Yamaha Gear Ultima 125 Hybrid.

Asisten Manajer promosi STSJ Yamaha Kaltim, Efendy Ariadi, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memudahkan masyarakat memiliki sepeda motor Yamaha.

“Dengan uang muka Rp800 ribu, kalian sudah bisa membawa pulang Yamaha Gear Ultima 125. Angsurannya pun ringan, hanya sekitar Rp1 juta per bulan,” ujarnya.

Untuk mendukung program tersebut, Yamaha Kaltim menggelar event Yamaha NgeGrebek yang terbuka untuk umum dan gratis tanpa biaya pendaftaran. Kegiatan ini berlokasi di Lapangan Klamono RT 55 berlangsung pada Minggu (14/12/2025).

Beragam perlombaan dari pagi hari hingga menjelanga sore, banyak games menarik disiapkan panitia, di antaranya ada Senam Sehat, Lomba Memasak, lomba memasukkan barang terbanyak ke bagasi Gear Ultima, lari membawa kelereng, makan kerupuk, memasukkan paku, joget balon, yang berhadiah total jutaan rupiah.

“Dalam kegiatan Yamaha NgeGrebek ini, kami menyiapkan total hadiah hingga jutaan rupiah, dan juga ada program CSR pemberian Tempat Sampah yang langsung di terima Pa RT 55. Dan setelah event di Balikpapan aka nada event yang sama di kota samarinda, Karena semua ini bukti komitmen kuat Yamaha untuk terus memanjakan masyarakat dan customer setianya,” tegas Efendy. (*)

Gen Z Kian Andalkan QRIS

December 16, 2025 by  
Filed under Gaya Hidup

SAMARINDA — Sistem pembayaran berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kian melekat dalam keseharian Generasi Z. Kelompok usia muda ini memandang metode pembayaran scan sebagai solusi transaksi yang praktis, cepat, dan sejalan dengan pola hidup digital yang serba instan.

Berdasarkan data Bank Indonesia, hingga Semester I 2025, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 57 juta orang dengan cakupan 39,3 juta merchant di seluruh Indonesia. Sepanjang periode tersebut, volume transaksi tercatat menembus 6,05 miliar kali dengan nilai akumulasi sebesar Rp579 triliun. Angka ini disampaikan BI melalui laporan resmi kinerja sistem pembayaran yang dirilis pertengahan Juli 2025.

Tingginya adopsi QRIS di kalangan Gen Z juga diperkuat oleh hasil kajian akademik. Studi yang dipublikasikan melalui arXiv pada 2025 menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan, manfaat langsung yang dirasakan, serta tingkat kepercayaan terhadap keamanan sistem menjadi faktor utama yang mendorong generasi muda memilih QRIS. Dukungan regulasi dari otoritas terkait turut memperkuat kepercayaan pengguna.

“Sekarang hampir semua transaksi pakai QRIS. Tinggal scan, selesai. Lebih simpel dan gak ribet bawa uang tunai,” kata Syifa (18).

Ia menambahkan, QRIS memudahkan pengelolaan keuangan karena riwayat transaksi tercatat langsung di aplikasi. “Mau nongkrong, bayar ojek, sampai jajan kecil, QRIS selalu kepakai,” ujarnya.

Dari sisi pertumbuhan transaksi, IDX Channel mencatat nilai transaksi QRIS sepanjang paruh pertama 2025 mengalami peningkatan signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tren ini menandakan QRIS semakin menguat sebagai pilihan utama, khususnya di kalangan anak muda dan pelaku usaha skala kecil.

Sementara itu, laporan konsumen digital nasional 2024–2025 menunjukkan bahwa Gen Z cenderung memilih metode pembayaran instan untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari split bill, donasi, hingga transaksi bernilai kecil seperti minuman, transportasi, dan jajan harian. Fitur tambahan berupa promo, cashback, serta integrasi dengan dompet digital turut memperkuat daya tarik QRIS.

Meski pertumbuhannya pesat, penggunaan QRIS masih menyisakan tantangan. Penelitian arXiv 2025 mencatat, literasi keuangan digital belum merata, terutama di kalangan pelaku UMKM. Pendampingan dinilai penting agar penggunaan QRIS tidak hanya sebatas pemasangan kode, tetapi juga diiringi pemahaman pengelolaan dan pemanfaatan sistem pembayaran digital secara optimal. (intan)

Lonjakan Penggunaan AI Picu Kekhawatiran Konsumsi Energi

December 16, 2025 by  
Filed under Gaya Hidup

SAMARINDA – Hari gini siapa yang tidak pernah pakai AI? Mulai dari menjawab soal pekerjaan rumah, bikin konten, menulis surat, sampai sekadar bertanya “aku lagi galau, gimana dong?”. Ya, generatif AI seperti ChatGPT telah menjadi mainan sehari-hari kita, murah dan tampak gratis.

Tapi jangan salah, penggunaan AI secara gratis itu sebenarnya tidak benar-benar gratis. Ada harga besar yang dibayar oleh planet ini, sering kali tanpa kita sadari.

Pada April 2025, CEO OpenAI, Sam Altman, menjawab sebuah tweet yang mempertanyakan biaya operasi AI ketika orang menggunakan kata sopan seperti “tolong” dan “terima kasih” dalam permintaan mereka.

“I wonder how much money OpenAI has lost in electricity costs from people saying “please” and “thank you” to their models,” ujar Tomie dengan akun @tomieinlove dalam tweet nya.

Maksudnya, banyak orang sering menambahkan basa-basi sopan ketika berinteraksi dengan chatbot, padahal jawabannya diberikan oleh mesin bukan manusia.

Lalu Altman pun membalas singkat pertanyaan dengan jawaban yang sontak saja bikin kaget para pembaca tweet nya.

“tens of millions of dollars well spent — you never know,” balasnya.

Yang berarti, puluhan juta dolar biaya listrik yang dikeluarkan, mungkin sepadan, tapi itu jumlah yang besar sekali.

Jika dikonversi secara kasaran, puluhan juta dolar itu bisa bernilai ratusan miliar rupiah, tergantung nilai tukar dan fluktuasi. Itu baru untuk listrik saja, belum termasuk biaya infrastruktur lain.

AI modern, terutama model generatif seperti ChatGPT, bukan perangkat kecil yang bisa dijalankan di ponselmu sendirian. Ia bergantung pada pusat data besar (data centers) penuh dengan ribuan chip GPU yang bekerja sepanjang waktu untuk memproses setiap permintaan.

Satu permintaan ChatGPT menggunakan hampir 10 kali listrik lebih banyak dibanding pencarian Google biasa.

Melansir dari International Energy Agency (IEA) dalam laporan Energy and AI. Data center global diperkirakan akan menggunakan sekitar 945 TWh listrik pada 2030, naik dari sekitar 415 TWh di 2024, dengan porsi besar karena AI.

Pusat data sudah menyumbang sekitar 1–2% konsumsi listrik global, dan persentase ini diproyeksikan naik dalam beberapa tahun mendatang karena AI berkembang pesat.

Angka-angka ini menunjukkan setiap operasi AI dari pelatihan model besar sampai memenuhi ratusan juta permintaan sehari memerlukan energi dalam jumlah besar, dan itu otomatis mengakibatkan biaya nyata, baik dari sudut listrik, emisi karbon, maupun sumber daya yang dipakai.

Energi yang digunakan AI umumnya masih bersumber dari jaringan listrik yang banyak mengandalkan bahan bakar fosil. Itu berarti semakin besar energi yang dibutuhkan, semakin banyak emisi karbon dan jejak lingkungan yang dihasilkan.

Jejak karbon AI dan pusat data sudah menyumbang sekitar lebih dari 2% emisi global, setara atau lebih tinggi dari sektor penerbangan.

Permintaan energi dari pusat data diprediksi bisa mencapai 3–4% total konsumsi listrik global pada 2030 jika tren saat ini berlanjut.

Belum lagi air yang digunakan untuk mendinginkan fasilitas fisik ini, sebuah aspek yang sering diabaikan namun tak kalah penting dalam pembicaraan lingkungan.

Maka dari itu muncul ironi besar, meskipun layanan AI tampak gratis karena kita tidak membayar langsung dengan kartu kredit, planet ini yang menanggung sebagian biayanya. Bukan hanya energi dan emisi tetapi juga potensi tekanan terhadap industri energi, persaingan pemakaian listrik dengan sektor lain, dan perluasan infrastruktur yang menggusur ruang hijau.

Beberapa tren penggunaan AI yang “iseng” seperti diminta menghitung dari 1 sampai 1 juta, sebenarnya membebani sistem lebih besar dari yang diduga. Setiap request sekecil apa pun tetap perlu komputasi intensif di pusat data di belakang layar. Semakin sering digunakan, semakin besar pula total energinya.

Bukan berarti kita harus menolak AI mentah-mentah. Teknologi ini sebenarnya punya potensi besar membantu solusi dunia, dari pengoptimalan penggunaan energi, penemuan inovasi bersih, hingga efisiensi sumber daya.

Namun, yang kita butuhkan adalah, kesadaran penggunaan AI yang bijak, tidak asal eksperimen tanpa tujuan.

Karena pada akhirnya, ketika “gratis” tampak terlalu nikmat, sering kali yang membayar adalah bumi kita sendiri. (tan)

Bukan Sekadar Tren, Buku Self Improvement Jadi Penjaga Kewarasan Anak Muda

December 16, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA — Di tengah ritme hidup yang kian cepat dan tekanan sosial yang datang silih berganti, membaca perlahan kembali menemukan maknanya. Bagi sebagian anak muda, buku khususnya genre self improvement bukan lagi sekadar bacaan populer, melainkan ruang aman untuk menata pikiran dan menjaga kesehatan mental.

Pengalaman itu dirasakan Wardah (22), yang sejak SMA mulai menjadikan membaca sebagai bagian dari kesehariannya. Kini, di sela aktivitas yang padat, buku justru menjadi tempatnya berhenti sejenak, meredam riuh, dan memahami diri sendiri.

“Baca buku self improvement itu bukan buat jadi sempurna. Lebih ke pengingat supaya tetap waras dan sadar sama proses hidup,” ujar Wardah.

Ia menuturkan, buku-buku yang membahas pengelolaan emosi dan pola pikir sering membantunya melihat persoalan dengan sudut pandang yang lebih tenang. Salah satunya saat membaca Filosofi Teras karya Henry Manampiring, yang memperkenalkannya pada prinsip stoik tentang menerima hal-hal di luar kendali. Dari sana, Wardah belajar membedakan mana yang patut dipikirkan dan mana yang cukup dilepaskan.

Pada kesempatan lain, buku Atomic Habits karya James Clear juga memberinya kesadaran bahwa perubahan besar tidak selalu harus dimulai dengan langkah drastis.

“Dari situ aku ngerti, hal kecil yang konsisten justru lebih realistis dan bikin nggak gampang nyalahin diri sendiri,” katanya.

Apa yang dialami Wardah sejalan dengan temuan akademik. Penelitian University of Toronto yang dipublikasikan dalam Creativity Research Journal (2013) menunjukkan bahwa membaca literatur reflektif dan psikologis dapat meningkatkan empati serta fleksibilitas berpikir. Sementara itu, National Endowment for the Arts mencatat bahwa individu yang rutin membaca cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis lebih baik dan tingkat stres yang lebih rendah.

Di era media sosial, buku self improvement juga kerap menjadi penyeimbang. Wardah mengaku, bacaan seperti Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson membantunya menyadari, tidak semua hal perlu direspons berlebihan.

“Kadang kita terlalu sibuk mikirin penilaian orang. Lewat buku, aku diajak buat memilah mana yang penting dan mana yang cuma bikin capek,” ujarnya.

Buku lain seperti Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga pun disebut memberi perspektif baru tentang kebebasan berpikir dan keberanian menerima diri sendiri tanpa terus-menerus bergantung pada pengakuan eksternal.

Meski kerap dicap sebagai tren sesaat, bagi Wardah dan banyak pembaca muda lainnya, self improvement justru menjadi bekal bertumbuh. Membaca bukan lagi soal mencari jawaban instan, melainkan proses berdialog dengan diri sendiri. (*)

Wakil Gubernur Kaltim Nilai Banjir Kutim–Berau Dinilai Multifaktor

December 15, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji

SAMARINDA – Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, meluruskan adanya isu terkait isu soal aktivitas pertambangan yang dinilai menjadi penyebab hadirnya banjir di Kabupaten Kutai Timur dan Berau. Menurutnya banjir di daerah tersebut disebabkan banyak faktor.

Dikatakan Seno, pemerintah tidak pernah menutup mata bahwa pertambangan memiliki potensi dampak lingkungan, terutama jika tidak dikelola sesuai aturan. Namun, ia mengingatkan potensi tidak bisa serta-merta disamakan dengan penyebab langsung suatu bencana.

“Tambang memang bisa berdampak pada lingkungan bila melanggar kaidah. Itu fakta. Tapi banjir adalah peristiwa hidrologi yang kompleks, tidak bisa ditarik kesimpulan hanya dari satu faktor,” ujar Seno.

Ia menjelaskan, banjir dipengaruhi oleh banyak variabel, mulai dari curah hujan ekstrem, kondisi daerah aliran sungai (DAS), perubahan tata ruang, sedimentasi sungai, hingga sistem drainase dan daya tampung wilayah.

Dalam konteks banjir di Kutai Timur dan Berau, Seno menilai perlu kajian menyeluruh berbasis data, bukan asumsi.

“Kalau hujan dengan intensitas tinggi terjadi berhari-hari di wilayah tangkapan air yang luas, maka risiko banjir meningkat. Itu hukum alam. Kita tidak bisa langsung menunjuk satu aktivitas sebagai kambing hitam tanpa kajian teknis,” tegasnya.

Dia juga katakan bahwa secara demografis dan geografis, Kabupaten Berau dan Kutai Timur merupakan wilayah yang sejak lama memiliki tingkat kerentanan banjir cukup tinggi.

Kedua daerah ini memiliki bentang alam luas dengan dominasi daerah aliran sungai (DAS), dataran rendah, serta permukiman yang tumbuh mengikuti alur sungai, pola yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Kutai Timur memiliki sejumlah kecamatan seperti Muara Wahau, Telen, dan Kongbeng yang berada di kawasan hulu dan tengah DAS besar.

Sementara di Berau, wilayah Segah, Kelay, Sambaliung, dan Gunung Tabur berada di sepanjang Sungai Berau yang menerima aliran air dari daerah tangkapan yang sangat luas. Dalam kondisi hujan berintensitas tinggi dan berlangsung berhari-hari, volume air dari hulu secara alamiah akan meluap ke kawasan hilir.

Seno juga meluruskan mispersepsi publik yang kerap menggeneralisasi seluruh aktivitas pertambangan sebagai penyebab kerusakan lingkungan. Ia menekankan bahwa ada perbedaan mendasar antara tambang legal yang diawasi dan tambang ilegal yang tidak terkendali.

“Yang sering menjadi masalah justru tambang ilegal yang tidak punya izin, tidak melakukan reklamasi, dan tidak berada dalam sistem pengawasan negara. Ini yang harus dibedakan secara jujur,” katanya.

Meski demikian, Seno menegaskan sikap pemerintah tetap tegas terhadap pelanggaran. Ia memastikan negara tidak akan melindungi perusahaan mana pun yang terbukti melanggar ketentuan lingkungan.

“Kalau ada perusahaan tambang yang terbukti melanggar aturan, merusak lingkungan, atau abai terhadap kewajiban reklamasi, pasti ditindak. Negara hadir untuk itu,” ujarnya.

Di sisi lain, Seno menilai penyelesaian persoalan banjir tidak bisa berhenti pada saling tuding.

Pemerintah, kata dia, justru sedang fokus pada langkah konkret, mulai dari penertiban tambang ilegal, evaluasi izin aktif, pemulihan DAS, hingga perbaikan tata ruang dan infrastruktur pengendali banjir.

“Isu lingkungan tidak bisa disederhanakan. Yang dibutuhkan adalah solusi berbasis data, kebijakan yang adil, dan kerja bersama semua pihak,” pungkasnya.

Seno Aji menyampaikan, dirinya sudah mendapatkan informasi adanya puluhan izin tambang yang berlokasi di Berau. Data JATAM mencatat terdapat 94 konsesi tambang di Kabupaten Berau. Dari jumlah tersebut, 93 berstatus Izin Usaha Pertambangan dan satu konsesi PKP2B, dengan total luas sekitar 400 ribu hektare.

Data ini, ia katakan akan dilakukan pengecekan lebih lanjut, untuk bisa memahami detail, soal mana saja yang sesuai aturan, dan mana saja yang berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan ekologis.,

Pemprov, akan bergerak jika data soal ini sudah diketahui lebih detail berdasarkan pemantauan dan pengecekan pihak terkait.

“Seperti yang saya bilang, negara harus hadir jika memang ada pihak pemilik IUP yang tidak sesuai regulasi dan abai akan pengembalian fungsi lingkungan.” ucapnya.

Kolaborasi Lintas Pemda untuk Penanganan Banjir

Sementara itu, Seno Aji sampaikan bahwa pihak Pemprov Kaltim terus berkoordinasi dengan Pemkab setempat dalam penanganan banjir.

Pemprov Kaltim memastikan seluruh upaya penanganan banjir di Kabupaten Berau dan Kutai Timur (Kutim) berjalan maksimal. Koordinasi lintas sektor terus dilakukan guna memastikan masyarakat terdampak mendapat penanganan cepat dan terukur.

Banjir yang terjadi di Segah dan Kelay (Berau), serta Telen dan Wahau (Kutim) sudah ditangani oleh tim gabungan.

“Informasi terakhir, sebanyak 451 jiwa sudah diamankan dan sebagian mulai dipulangkan ke rumah masing-masing,” ujar Seno Aji.

Ia juga menyampaikan Pemprov telah memantau kejadian banjir ini sejak empat hari sebelumnya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim dan kabupaten juga kota terus melakukan komunikasi untuk memastikan bantuan dan peralatan yang diperlukan dapat segera disalurkan. (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1638624
    Users Today : 986
    Users Yesterday : 4138
    This Year : 575134
    Total Users : 1638624
    Total views : 14017636
    Who's Online : 62
    Your IP Address : 216.73.216.27
    Server Time : 2026-04-12