Banyak Dicoba, Ini Asal-usul Ritual Anggur Tahun Baru

January 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Di berbagai belahan dunia, pergantian tahun kerap dirayakan dengan tradisi simbolik. Salah satunya adalah makan anggur saat tengah malam, sebuah kebiasaan lama yang masih ramai dilakukan oleh sebagian orang.

Tradisi makan anggur saat malam Tahun Baru pada dasarnya berasal dari Spanyol, dikenal dengan nama Las Doce Uvas de la Suerte atau “dua belas anggur keberuntungan.”

Praktik ini telah ada sejak akhir abad ke-19 dan populer di awal abad ke-20, ketika para petani di Alicante mencoba meningkatkan penjualan buah anggur yang berlimpah. Setiap butir anggur melambangkan satu bulan di tahun yang akan datang, dan orang-orang berusaha menghabiskan 12 buah anggur di saat dentang jam tengah malam untuk menarik keberuntungan sepanjang tahun.

Tradisi ini kemudian menyebar dari Spanyol ke berbagai negara di Amerika Latin dan bahkan dunia, terutama melalui diaspora dan adaptasi budaya.

Dalam versi tradisionalnya, makan 12 anggur dilakukan saat lonceng tengah malam berdentang, satu anggur untuk setiap bulan di tahun baru yang dipercaya membawa keberuntungan, rezeki, kesehatan, dan kesuksesan.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, tren itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih playful di media sosial, terutama di platform seperti TikTok dan Instagram.

Para pengguna media sosial membagikan video mereka melakukan ritual ini, baik sebagai bagian dari perayaan bersama teman maupun pasangan, atau sekadar sebagai tantangan lucu menjelang pergantian tahun. Beberapa bahkan melakukan ritual ini sambil berdoa atau menuliskan harapan mereka untuk setiap anggur yang dimakan agar “semua impian tercapai.”

Beberapa netizen mencatat pengalaman mereka: “Aku makan anggur di bawah meja dan sampai sekarang aku belum nemu jodoh, tapi aku mendapat proyek kerja baru yang luar biasa,” kata salah satu warganet dalam diskusi online.

Selaras dengan itu, Wardahtan seorang pengguna sosial media juga ikut mengomentari

“Sejujurnya saya belum pernah melakukan tradisi makan anggur di bawah meja saat Tahun Baru. Saya lebih memilih melakukan ibadah seperti shalat hajat dan shalat taubat di pergantian tahun. Bagi saya, cara itu lebih bermakna dalam menyambut awal tahun yang baru,” ujarnya. (intan)

Musik, Teman Setia Peredam Stres

January 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Musik bukan sekadar pengisi kesunyian. Dalam keseharian, ia hadir sebagai teman setia yang menemani berbagai suasana hati, saat gembira, lelah, bahkan ketika stres menumpuk. Tak heran jika banyak orang merasa hari terasa hampa tanpa alunan nada.

Fenomena kedekatan manusia dengan musik ini bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan didukung oleh bukti ilmiah. Sejumlah penelitian menunjukkan, musik memiliki peran nyata dalam menurunkan tingkat stres dan memperbaiki suasana hati (mood).

Salah satu rujukan kuat datang dari meta-analisis yang dipublikasikan dalam Journal of Music Therapy pada 2019, yang dilakukan oleh tim peneliti lintas negara. Studi ini menganalisis 104 penelitian uji klinis acak (randomized controlled trials) dan menyimpulkan, intervensi musik secara signifikan menurunkan stres, baik secara psikologis maupun fisiologis, seperti detak jantung dan kadar hormon kortisol.

Sementara itu, National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), Amerika Serikat, dalam ringkasan ilmiahnya pada 2022, juga menyebutkan bahwa terapi musik memiliki efek sedang hingga besar dalam mengurangi stres, kecemasan, dan ketegangan emosional, berdasarkan tinjauan puluhan penelitian sebelumnya.

Secara ilmiah, musik bekerja langsung pada sistem saraf. Penjelasan ini diuraikan dalam berbagai kajian neurosains, salah satunya dalam jurnal Nature Neuroscience. Musik yang disukai terbukti mengaktifkan sistem reward di otak dan memicu pelepasan dopamin, neurotransmitter yang berperan dalam rasa senang dan relaksasi.

Selain itu, ritme dan tempo musik juga memengaruhi sistem saraf otonom. Musik dengan tempo lambat cenderung menurunkan detak jantung dan membuat tubuh lebih tenang, sementara musik cepat dapat meningkatkan energi dan motivasi. Inilah yang membuat musik kerap digunakan sebagai alat regulasi emosi secara alami.

Dalam praktiknya, musik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas banyak orang—dari perjalanan pagi, waktu belajar, hingga saat menenangkan diri sebelum tidur.

Hal itu dirasakan langsung oleh Liana, seorang ibu yang senang mendengarkan musik.

“Kalau lagi capek atau stres, aku pasti pakai headset. Dengar lagu itu kayak nenangin kepala. Rasanya kalau nggak ada musik, suasana jadi sepi dan kosong,” ujarnya.

Dengan memilih musik yang sesuai kebutuhan, seseorang dapat memanfaatkannya sebagai bentuk self-care yang mudah diakses kapan saja.

Di tengah kehidupan yang kian bising dan penuh tekanan, musik menjadi ruang aman tempat pikiran beristirahat sejenak, dan perasaan menemukan kembali nadanya. (intan)

Cara Gen Z Menyambut Tahun Baru lewat Resolusi dan Refleksi Diri

January 4, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Memasuki pergantian tahun, resolusi kerap menjadi ritual tahunan bagi banyak orang. Media sosial dipenuhi daftar target, rencana hidup, hingga refleksi diri. Namun, di tengah budaya menetapkan tujuan tersebut, tak sedikit pula yang memilih menjalani tahun baru tanpa resolusi, dengan prinsip hidup mengalir apa adanya.

Sejumlah penelitian menunjukkan, resolusi tahun baru masih menjadi kebiasaan populer. Studi dari University of Scranton, Amerika Serikat, menyebutkan sekitar 40 persen orang dewasa membuat resolusi di awal tahun, meski hanya sebagian kecil yang mampu mempertahankannya hingga akhir tahun. Resolusi yang paling umum berkaitan dengan kesehatan, keuangan, karier, dan pengembangan diri.

Meski begitu, efektivitas resolusi kerap diperdebatkan. Psikolog perilaku menilai, resolusi bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memberi arah dan motivasi. Di sisi lain, target yang terlalu tinggi justru berpotensi memicu stres dan rasa gagal.

Pandangan berbeda soal resolusi ini juga dirasakan Jalia, salah satu generasi muda yang memilih tidak menjadikan resolusi sebagai pegangan hidup. Ia mengaku lebih nyaman menjalani hidup tanpa daftar target tahunan.

“Aku sih bukan tim yang suka bikin resolusi-resolusi gitu sih. Aku anaknya enjoy flow aja, ngalir aja gitu,” ujar Jalia.

Menurutnya, hidup yang terlalu terikat target justru membuatnya mudah terbebani. Ia lebih memilih fokus pada proses harian dan menyesuaikan diri dengan situasi yang terus berubah, layaknya air yang mengikuti bentuk wadahnya.

Berbeda dengan Jalia, Intan justru menjadikan resolusi tahunan sebagai kompas hidup. Setiap awal tahun, ia rutin mencatat pencapaian selama setahun ke belakang, sekaligus menyusun rencana dan target untuk satu tahun ke depan.

“Kalau aku tim yang suka bikin yearly resolution sih, soalnya aku ngerasa jadi punya target dan merasa semangatku terpacu,” kata Intan.

Ia menambahkan, resolusi membantunya memahami arah langkah yang harus diambil.

“Dengan itu aku jadi tahu harus melakukan apa dan mencari cara agar targetku tercapai,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan, resolusi tahun baru tak melulu soal benar atau salah. Seperti peribahasa lain ladang lain belalang, setiap orang memiliki cara sendiri dalam memaknai awal tahun. Bagi sebagian orang, resolusi adalah peta perjalanan. Bagi yang lain, hidup tanpa resolusi justru terasa lebih merdeka. (intan)

Gorengan Malam Hari Disebut Ganggu Konsentrasi Belajar

January 1, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Kebiasaan ngemil gorengan pada malam hari kerap dianggap sepele. Padahal, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans menjelang waktu istirahat berpotensi menurunkan konsentrasi belajar dan daya fokus otak, terutama pada pelajar dan mahasiswa.

Sejumlah penelitian menunjukkan asupan lemak jahat secara berlebihan dapat memicu peradangan ringan pada otak. Studi yang dipublikasikan dalam The Journal of Neuroscience menjelaskan, pola makan tinggi lemak jenuh berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif, termasuk memori dan kemampuan belajar. Lemak jenis ini diketahui mengganggu kerja hippocampus, bagian otak yang berperan penting dalam proses mengingat dan memahami informasi.

Penelitian lain dari American Journal of Clinical Nutrition juga menyebutkan konsumsi makanan berlemak tinggi pada malam hari dapat mengganggu kualitas tidur. Padahal, tidur yang tidak optimal akan berdampak langsung pada fokus dan konsentrasi keesokan harinya. Ibarat mesin yang dipaksa bekerja tanpa pelumas yang baik, otak menjadi cepat lelah dan sulit diajak berpikir jernih.

Kondisi tersebut kerap terjadi di kalangan anak muda yang terbiasa belajar atau mengerjakan tugas hingga larut malam sambil ditemani gorengan. Kebiasaan ini dinilai kurang tepat karena tubuh justru membutuhkan asupan ringan yang mudah dicerna menjelang waktu istirahat.

Hal itu diakui oleh Aminah, salah satu mahasiswa yang gemar memakan gorengan. Ia mengaku sering mengonsumsi gorengan saat belajar malam, namun merasakan dampak negatifnya.

“Kalau malam ngemil gorengan, awalnya kenyang, tapi pas belajar malah ngantuk dan susah fokus. Besoknya juga kerasa kepala berat,” ujar Aminah.

Menurut Aminah, setelah mengurangi gorengan dan menggantinya dengan camilan yang lebih ringan, seperti buah atau kacang rebus, konsentrasinya saat belajar mulai membaik. “Lebih enak mikirnya, nggak gampang capek,” katanya. (intan)

Saat Kecerdasan Perempuan Bikin Pria Gentar

December 31, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

Di era modern saat ini, ideal pasangan dengan kecerdasan tinggi dianggap salah satu kualitas yang menarik. Namun, sebagian pria ternyata merasa terintimidasi atau kurang nyaman jika pasangannya terlalu pintar.

Menurut pengakuan seorang pria berinisial R (25), kecerdasan perempuan memang menarik secara umum, tetapi ada batas tertentu yang menurutnya penting.

“Nggak juga sih nggak suka perempuan pinter. Suka aja kalau lihat perempuan pintar, tapi kalau terlalu pintar juga takut nggak bisa ngimbangi,” ujarnya saat ngobrol santai di Samarinda, Selasa (30/12/2025). Pengakuan itu mencerminkan ambivalensi yang kerap terjadi dalam dinamika pemilihan pasangan.

Fenomena ini bukan semata pengalaman personal. Sejumlah studi psikologi menunjukkan, pria menyatakan kecerdasan sebagai kualitas yang mereka hargai, tetapi reaksi mereka berubah ketika dihadapkan dengan perempuan yang secara nyata lebih pintar dari mereka.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Personality and Social Psychology Bulletin menunjukkan, dalam kondisi hipotetik, banyak pria merasa tertarik pada wanita yang lebih cerdas daripada mereka.

Namun saat bertemu langsung atau saat interaksi nyata terjadi, daya tarik itu menurun dan pria cenderung merasa kurang nyaman atau justru kurang tertarik pada wanita yang lebih unggul secara intelektual. Para peneliti menyimpulkan rasa terancam terhadap perasaan maskulinitas bisa menjadi salah satu faktor di balik respons ini.

Namun, penelitian lain memperlihatkan  ketika kecerdasan dipadukan dengan kualitas lain seperti daya tarik fisik atau kecocokan emosional kecerdasan tidak selalu menjadi faktor penolakan.

Misalnya, satu penelitian menemukan pria masih dapat tertarik kepada perempuan yang pintar selama mereka menilai perempuan itu juga memiliki tingkat daya tarik fisik tinggi.

Selain itu, psikologi hubungan modern menekankan preferensi terhadap pasangan jauh lebih kompleks daripada sekadar kecerdasan. Komunikasi emosional, kesetaraan, empati, dan kecocokan nilai sering menjadi variabel penting dalam kesuksesan hubungan jangka panjang.

R (25) menutup dengan refleksi sederhana, “Yang penting bisa saling ngehargain. Pintar itu bagus, tapi kalau bikin salah satu pihak nggak nyaman ya jadinya rumit juga,” pungkasnya.

Next Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1084548
    Users Today : 2649
    Users Yesterday : 5615
    This Year : 21058
    Total Users : 1084548
    Total views : 10635723
    Who's Online : 33
    Your IP Address : 216.73.216.174
    Server Time : 2026-01-05