Yayasan Harum Center Bantu Bedah Rumah Warga

May 22, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA –  Nama Maria Mercedes menjadi nama populer dan menjadi perhatian publik usai viral di media sosial karena ikut dalam aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur.

Perhatian diberikan Organisasi Baladika Mulawarman bersama Ketua PKK Kalimantan Timur, Syarifah Suraidah. Kepedulian diberikan melalui program bedah rumah untuk Maria yang selama ini tinggal di rumah tak layak huni. Hal tersebut dilakukan Syarifah Suraidah saat berkunjung ke rumah Maria di Gang Masjid, Jalan Lambung Mangkurat, Samarinda, Jumat (22/5/2026).

Pada kunjungan tersebur Syarifah melihat kondisi rumah Maria yang dinilai memprihatinkan dan membutuhkan perbaikan. Sebagai bentuk kepedulian, Yayasan Harum Center yang didirikan oleh Syarifah Suraidah memberikan bantuan bedah rumah agar rumahnya menjadi lebih layak huni.

Kehadiran Syarifah disambut hangat oleh Maria dan warga sekitar. Momen tersebut pun ramai dibagikan di media sosial dan menuai beragam respons dari masyarakat. Banyak warga menilai bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian sosial tanpa melihat latar belakang maupun perbedaan pandangan politik.

Bantuan bedah rumah dari Yayasan Harum Center diharapkan dapat membantu meringankan beban Maria sekaligus memperbaiki kualitas tempat tinggalnya agar lebih nyaman dan aman ditempati.

Tak hanya memperbaiki bangunan rumah, bantuan juga mencakup penggantian sejumlah perabot rumah tangga yang sudah rusak dan tidak layak pakai. Kasur, meja, bantal, hingga guling disiapkan untuk menunjang kebutuhan Maria setelah renovasi selesai dilakukan. (*)

The Oracle of Usadha Menjawab Pertanyaan yang Selama Ini Tak Berani Ditanyakan Generasi Muda Bali tentang Tradisi Leluhurnya

May 22, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

DENPASAR — Ada sesuatu yang tidak biasa di Ruang Praja Sabha, Kantor Gubernur Bali, Senin sore itu. Di ruangan yang biasanya diisi rapat-rapat kebijakan dan seremoni pemerintahan, hari itu yang duduk berdampingan adalah seorang rohaniwan senior, dua orang profesor sains, dan seorang dokter muda yang tumbuh besar dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berani ia tanyakan kepada leluhurnya.

Yang menyatukan mereka adalah sebuah buku. The Oracle of Usadha — karya Dr. dr. I Gusti Ngurah Putra Eka Santosa, M.Fis, yang lebih akrab disapa dokter Ngurah — adalah buku yang lahir dari kegelisahan. Bukan kegelisahan yang melumpuhkan, melainkan kegelisahan yang mendorong seseorang masuk ke laboratorium dan bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi ketika orang Bali melukat, meditasi, atau menjalani ritual pebayuhan?

Forum bedah buku yang dihadiri akademisi, pejabat Dinas Kesehatan, dekan-dekan Fakultas Kedokteran, dan para direktur rumah sakit se-Bali itu terasa lebih seperti reuni intelektual antargenerasi. Di kursi-kursi yang melingkar rapi, hadir pula tokoh-tokoh: Ida Dalem Semaraputra dari Puri Klungkung, A.A. Bagus Djelantik dari Puri Ageng Karangasem, dr. Anak Agung Martha Sp.OG dari Puri Nyalian, tokoh nasional Dr. I Gede Subawa, M.Kes., AAK — mantan Direktur Askes sekaligus Komisaris RS Wisma Prasanti Tabanan — serta dr. Wayan Mustika sebagai Komisaris Independen PT Varash Sadan Nusantara. Wajah-wajah yang selama ini memimpin kebijakan dan pelayanan kesehatan Bali, kini duduk sebagai pendengar yang penasaran.

Pembedah pertama, Ida Shri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, membuka diskusi bukan dengan teori — melainkan dengan pengakuan.

“Dalam berbagai teks Usadha, kemampuan menyembuhkan diri sendiri itu memang ada,” katanya, suaranya tenang dan berwibawa. “Saya sendiri pernah membuktikannya. Saat jatuh dari ketinggian tujuh meter, tulang servikal saya patah dan saya lumpuh. Saya masih menggunakan aksara sebagai media penyembuhan.”

Ruangan hening sesaat. Bukan hening yang canggung — melainkan hening yang penuh.
Inilah yang membuat forum ini berbeda dari seminar akademis biasa: ia tidak dimulai dari data, tetapi dari pengalaman. Pengalaman seorang tokoh spiritual yang telah menghabiskan hidupnya menekuni teks-teks Usadha, dan yang kini berdiri di depan para dokter dan profesor untuk berkata: ini bukan sekadar ritual, ini bekerja.

“Kita Tidak Mau Menerima ‘Nak Mula Keto'”

Dokter Ngurah, penulis buku sekaligus akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Mahasaraswati Denpasar, menjelaskan dari mana buku ini berasal.

“Kita sebagai milenial tidak mau menerima budaya nak mula keto,” ujarnya usai acara, dengan nada yang campuran antara humor dan kesungguhan. “Jadi kami mencoba mencari dasar ilmiah dari apa yang sudah dilakukan leluhur kita.”

Akademisi sekaligus praktisi ini menggambarkan perjalanan intelektualnya bukan sebagai penolakan terhadap tradisi, melainkan sebagai bentuk penghormatan yang lebih dalam. Jika leluhur sudah tahu sesuatu bekerja, maka generasi ini bertugas menjelaskan mengapa ia bekerja.
Dan penjelasan itu, kata dokter Ngurah, kini mulai tersedia.

“Dengan majunya penelitian di bidang biomedik, kita menemukan titik temunya. Usadha Bali dengan kedokteran bertemu pada regenerative medicine,” jelasnya. Meditasi yang menurunkan kadar stres oksidatif. Proses melukat yang bekerja melalui modulasi sistem saraf otonom. Ritual pebayuhan yang menyentuh jalur epigenetik. Semua, katanya, kini mulai dapat buktikan secara kuantitatif di laboratorium.

Dua pembedah berikutnya membawa substansi buku ke dalam percakapan saintifik yang lebih dalam.
Prof. Dr. dr. I Made Jawi, M.Kes, menilai buku ini berhasil melakukan sesuatu yang jarang berhasil dilakukan: meletakkan fondasi yang solid bagi integrasi Usadha ke dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Bukan sebagai lampiran anekdotal pada protokol medis, melainkan sebagai kontributor utama dengan mekanisme yang dapat diverifikasi.

Prof. apt. Dr. rer. nat. I Made Agus Gelgel Wirasuta, M.Si, membawa perspektif yang lebih luas. Bagi Prof Gelgel, The Oracle of Usadha memberikan sesuatu yang selama ini absen dalam diskusi integrasi pengobatan tradisional dan modern: peta aksiologi. Sebuah kerangka nilai yang dapat dijadikan acuan oleh para praktisi ketika mereka harus membuat keputusan di persimpangan antara Usadha dan kedokteran berbasis bukti dalam lanskap layanan medical wellness masa depan.

I.B. Ketut Kiana, tokoh masyarakat asal Sanur yang hadir sebagai peserta, merangkumnya dengan cara yang paling sederhana dan paling mengena.

“Yang dulunya hanya berdasarkan warisan dan keyakinan, sekarang dijelaskan dan dibuktikan secara ilmiah,” katanya. “Saya melihat keberanian anak muda dalam buku ini untuk mengangkat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dari dulu tersimpan mengenai kearifan lokal Bali.”

Itulah mungkin kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi di Ruang Praja Sabha hari itu. Bukan revolusi. Bukan pertentangan antara tradisi dan modernitas. Melainkan sebuah rekonsiliasi yang telah lama ditunggu — antara apa yang leluhur sudah rasakan benar, dan apa yang sains kini mulai mampu buktikan.

Dokter Ngurah menutup hari itu dengan harapan yang sederhana namun berat maknanya: “Kita berharap buku ini menjadi pemantik diskusi antargenerasi, sehingga kita sebagai orang Bali lebih mencintai Bali — dan melaksanakan budaya Bali tidak sebagai formalitas, namun lebih dalam memaknainya.”

Di luar jendela, sore Bali turun perlahan. Di dalam, diskusi masih berlanjut — sebagaimana seharusnya percakapan yang benar-benar penting: tidak mudah selesai, tidak ingin berhenti. (esf)

Tidak Kuat Menanjak, Truk Kecelakaan di Jalan Trans Kaltim

May 21, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SENDAWAR – Laka lantas terjadi di jalan Trans Kaltim, di daerah Kampung Jengan Danum, RT. 04 , Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kamis (21/5/2026).

Saksi mata yang merupakan salah satu warga Kampung Jengan Danum, Presyadi yang juga Sekretaris Desa kampung setempat mengatakan, mobil truk tersebut tidak mampu menanjak karena kelebihan muatan yang dibawa. Kondisi jalan yang terjal juga menyebabkan truk mengalami kecelakaan.

“Truk tua dengan kelebihan muatan memang sangat rawan dengan kondisi jalan yang rusak,” kata Presyadi.

Sementara itu Kanit Keamanan dan Keselamatan (Kamsel) Polres Kutai Barat Aipda Toni mengatakan, truk Mitsubishi DA 8714 GK diakui kelebihan muatan. Truk yang membawa kasur tersebut tidak kuat menanjak dengan kondisi jalan rusak.

“Akhirnya mobil mundur dan sopirnya terjepit,” kata Toni.

Sopir Bernama Lendi berusia kurang lebih 45 tahun asal dari Jawa Tengah meninggal di tempat kejadian, sementara kernet selamat karena meloncat saat truk mundur.

Dijelaskan, muatan kasur tersebut dari Jawa Barat (Garut) dan akan dibawa ke toko yang ada Kampung Mencimai, Kecamatan Barong Tongkok, Kubar, Kaltim. Menurut keterangan, sopir tersebut baru pertama kali membawa muatan ke Kutai Barat. (arf)

DPD PSI Samarinda Optimistis Palaran Jadi Basis Kekuatan Baru Partai

May 21, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Penguatan struktur partai di tingkat kecamatan terus dilakukan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia Kota Samarinda. Salah satu langkah yang dilakukan yakni dengan menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepengurusan kepada jajaran Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PSI Kecamatan Palaran dalam agenda konsolidasi yang digelar di Kedai Paradise, Jalan Adi Sucipto, Kelurahan Rawa Makmur, Palaran, Selasa (19/5/26) malam.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya PSI Samarinda memperkuat mesin organisasi hingga tingkat bawah sebagai persiapan menghadapi agenda politik ke depan. Konsolidasi internal itu juga dihadiri pengurus DPD serta kader PSI di wilayah Palaran.

Ketua DPD PSI Samarinda, David Jingga, mengatakan penguatan struktur partai harus dibarengi dengan kerja keras seluruh kader. Menurutnya, keterbatasan yang dimiliki partai tidak boleh menjadi penghalang untuk terus memperbesar basis dukungan masyarakat.

“Walaupun ada berbagai keterbatasan, kader tetap harus memiliki semangat besar dan bekerja lebih maksimal untuk membesarkan partai,” ujarnya.

David menilai Kecamatan Palaran memiliki potensi politik yang cukup besar bagi PSI. Hal itu didukung keberadaan sejumlah pengurus yang dinilai memiliki pengalaman dalam kontestasi politik sebelumnya serta kedekatan dengan masyarakat setempat.

“Wilayah ini punya peluang yang cukup baik karena beberapa kader memang memiliki basis dukungan di sini dan sudah punya pengalaman pada pemilu sebelumnya,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Bendahara DPD PSI Samarinda, Renny Astuti, menyoroti pentingnya menjaga kekompakan antarstruktur partai. Ia menegaskan koordinasi antara DPD dan DPC perlu terus diperkuat agar program organisasi dapat berjalan efektif.

Menurutnya, percepatan pembentukan Dewan Pimpinan Ranting (DPRt) juga menjadi fokus utama dalam pengembangan struktur partai di tingkat kelurahan.

“Soliditas kader harus tetap dijaga, termasuk meningkatkan koordinasi dan mempercepat pembentukan struktur DPRt di setiap wilayah,” katanya.

Renny menambahkan, DPD PSI Samarinda akan terus melakukan pendampingan terhadap pengurus kecamatan agar proses pemetaan kader dapat berjalan lebih terarah dan kuat.

Di sisi lain, Ketua DPC PSI Palaran yang baru menerima mandat, M. Adam Damara, mengaku siap menjalankan tugas organisasi dan memperkuat keberadaan PSI hingga tingkat lingkungan masyarakat.

Ia menyebut pembentukan DPRt di tiap kelurahan menjadi salah satu target utama kepengurusan baru.

“Kami ingin seluruh kader tetap kompak dan bergerak bersama. Ke depan, target kami adalah membentuk DPRt di setiap kelurahan agar keberadaan partai bisa semakin dirasakan masyarakat,” ucapnya.

Hal senada disampaikan anggota DPC PSI Palaran, Sofyan. Ia berharap kepengurusan yang baru mampu menjadi jembatan aspirasi warga sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat Palaran.

“Harapannya PSI dapat terus bersinergi dengan masyarakat dan hadir membantu menyerap berbagai keluhan warga, khususnya di wilayah Palaran,” tutup Sofyan. (yud)

Seribu Mawar di Aksi Damai

May 20, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Seribu mawar dibagikan Drupadi Baladika Kaltim ketia menggelar aksi damai dan pentas seni di depan Kantor Gubernur Kaltim, Rabu (20/5/2026).

Ketua Drupadi Baladika Kaltim, Lilis Latif mengatakan aksi damai ini diikuti 1.600 massa aksi  menampilkan pentas seni dari berbagai macam adat. Melalui pentas seni ini ia ingin menyampaikan, meski kita berbeda-beda, tetapi tetap satu, dan damai.

Dikatakan Lilis, sebanyak seribu mawar dibagi kepada pengendara yang melintas, sebagi bentuk ajakan menjaga kondusifitas di Samarinda, di tengah gelombang demo. Ia berharap aspirasi yang disampaikan bisa berjalan dengan tetap menjaga ketertiban.

“Silahkan sampaikan aspirasinya, tetapi jangan sampai disusupi provokator, yang bisa memecah belah. Karena, tentu kita berharap Kaltim ke depan bisa lebih baik lagi,” tutupnya. (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb