Pemimpin Harus mampu Menjadi Pendengar

July 31, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Sekda Provinsi Kalimantan Timur,  Farisya Yana membuka pelatihan Coaching for Leaders di Aula Besar BPSDM Kaltim, Samarinda, (29/7/2026). Kegiatan ini diikuti pejabat Administrator dan Pejabat Fungsional Widyaiswara Ahli Madya dan Ahli Utama serta Bimbingan Teknis bagi Koordinator dan Operator Inovasi Daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Sekretaris Daerah Kalimantan Timur, Sri Wahyuni dalam sambutan tertulis mengingatkan tentang keharusan pemimpin memiliki kemampuan untuk mendengar, membuka ruang diskusi, membangun kepercayaan serta membantu bawahan menemukan solusi dan mengembangkan kepasitas dirinya.

Farisya Yana usai membacakan sambutan tertulis memberikan pembekalan singkat kepada peserta pelatihan tentang pentingnya memahami tiga kontinum psikologis manusia.

Pertama, area minus, yaitu kondisi tidak sehat secara psikologis, seperti trauma atau depresi berat. Kedua, area netral, yaitu kondisi sehat dan normal, namun belum memiliki keterampilan dasar (basic konwledge & skills). Ketiga area plus, yaitu kondisi sehat, sudah memiliki keterampilan, namun membutuhkan optimasi untuk mencapai potensi maksimal.

“Tugas coach bukan menggurui. Ketika melakukan coaching hendaknya menjauhi kebiasaan memberikan nasehat secara langsung,” kata Yana.

Seorang coach dalam melaksanakan coaching disarankan untuk melakukan pendekatan inkuiri, yaitu menggunakan pertanyaan-pertanyaan strategis untuk mengajak coachee berpikir dan menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Sementara itu, Kepala BPSDM Kaltim, Nina Dewi, menyampaikan, peserta pelatihan coaching  for leaders sebanyak 44 orang. Sedangkan untuk Bimtek bagi Koordinator dan operator diikuti oleh 77 orang peserta utusan dari seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemprov. Kaltim.

Tujuan kedua pelatihan tersebut adalah untuk meningkatkan ekosistem inovasi di Provinsi Kalimantan Timur untuk mendukung percepatan transformasi birokrasi, meningkatkan kompetensi teknis aparatur serta mendorong budaya kerja ASN yang kreatif, inovatif dan adaptif.

Pelatihan Coaching for Leaders dipandu Coach Nasional yang sudah sangat terkenal di bidang peningkatan dan pengembangan budaya kerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), yaitu Agung Solihin beserta Tim. Materi yang disampaikan selama 16 jam pelajaran (JP), meliputi Culture Design Review, The Important of Coaching, Teknik Coaching, Review Materi H1, Coaching Model, dan Roolplay Coaching.

Sedangkan Bimbingan Teknis bagi Koordinator dan Operator Inovasi Daerah menghadirkan narasumber dari Badan Kebijakan Strategi Dalam Negeri Kemendagri. Materi yang disampaikan tentang (1) Penjelasan Indikator Inovasi; (2)  Teori dan Praktik Menyusun Profil Inovasi.

Narasumber berikutnya dari  Pusat Pembelajaran Strategi Kebijakan Pelayanan Publik Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (Pusjar SKPP LAN-RI). Materi yang disampaikan tentang Inovasi untuk Pendekatan Pelayanan dan Mempermudah Pekerjaan.

Sedangkan narasumber Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah, mengangkat materi tentang membangun ekosistem inovasi. Adapun materi yang disampaikan oleh narasumber yang berasal dari BPSDM Kaltim adalah tentang Konsep-konsep dasar inovasi. Selama dua hari pelatihan, peserta mendapatkan e-sertifikat sebanyak 17 jam pelajaran (JP).

Jauhar Efendi, Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim sebagai salah satu peserta Coaching for Leader menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kepala BPSDM Kaltim yang telah memberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi saya pribadi ketika menjadi Coach di berbagai pelatihan, karena bisa membedakan kapan harus bertindak sebagai trainer, mentor, konsultan dan sebagai coach,” kata Jauhar.

Sementara itu, Syahrial Hidayat, Pejabat Administrator yang diberi kepercayaan sebagai Kepala Bidang Keperawatan dari Rumah Sakit Abdoel Wahab Sjachranie, Samarinda, mengaku bersyukur mengikuti Pelatihan Coaching for Leader. Hal ini dikarenakan dapat menambah wawasan menjadi lebih luas, terutama dalam membangun budaya organisasi, khususnya melalui metode coaching.

Dengan kekuatan 975 tenaga perawat dan bidan yang menjadi tanggungjawabnya, Syahrial semakin yakin ilmu coaching yang dia peroleh selama dua hari pelatihan akan lebih mudah diterapkan dalam mewujudkan budaya organisasi yang beorientasi pada pelayanan.

“Saya semakin memahami bahwa budaya organisasi yang baik tidak terbentuk secara instan, melainkan lahir dari kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari di lingkungan kerja” ujar Syahrial.

Pelajaran lain yang ia petik adalah perubahan organisasi bukan dikerjakan atau dilakukan oleh satu orang saja, tetapi dilakukan bersama-sama, dengan terus membiasakan perbaikan di setiap proses kerja. (*)

GAWIYAN Angkat Isu Identitas Dayak

July 28, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Yayasan Genta Warisan Budaya Alam Nusantara (GAWIYAN) menghadirkan pendekatan baru dalam pelestarian budaya melalui program Artist Residency “Dayak Eksodus: Jejak Tanah, Identitas, dan Perubahan” pada ajang Raya Budaya Etam 2026 yang berlangsung di Hotel Harris Samarinda.

Program tersebut menjadi salah satu rangkaian dalam festival budaya terbesar di Kalimantan Timur dengan menghadirkan residensi seni yang melibatkan tiga pelukis untuk tinggal, melakukan riset lapangan, berinteraksi dengan masyarakat, serta menghasilkan karya yang berangkat dari dinamika kehidupan masyarakat Dayak di tengah perubahan sosial, budaya, dan lingkungan.

Producer Program GAWIYAN, Fatqurozi, mengatakan konsep “Dayak Eksodus” lahir dari keinginan menghadirkan karya seni yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi dokumentasi budaya yang lahir dari pengalaman langsung para seniman di lapangan.

“Kami ingin para seniman tidak sekadar datang untuk melukis, tetapi hidup bersama masyarakat, mendengar cerita mereka, memahami perubahan yang terjadi, lalu menerjemahkan seluruh pengalaman itu menjadi karya seni. Dengan cara itu, karya yang lahir bukan hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga menjadi media edukasi dan ruang refleksi bagi publik,” ujarnya, Jumat (24/7).

Menurut Fatqurozi, istilah “eksodus” dalam program tersebut tidak dimaknai sebagai perpindahan atau meninggalkan kampung halaman, melainkan perjalanan untuk menemukan kembali jejak identitas, memaknai hubungan masyarakat Dayak dengan tanah leluhur, serta membaca perubahan yang sedang berlangsung di Kalimantan.

Selama residensi berlangsung, para seniman akan melakukan riset bersama tokoh adat, budayawan, akademisi, komunitas lokal, hingga masyarakat. Seluruh proses kreatif itu nantinya dipresentasikan kepada publik melalui pameran karya, workshop budaya, dialog publik, serta sesi interaksi terbuka bersama para seniman.

Sementara itu, Pembina Yayasan GAWIYAN, Marliana Wahyuningrum, mengatakan keikutsertaan GAWIYAN dalam Raya Budaya Etam 2026 merupakan bentuk komitmen untuk memperkuat pelestarian budaya melalui pendekatan yang kreatif, kolaboratif, dan berbasis riset.

Menurutnya, seni memiliki peran penting sebagai media untuk merekam ingatan kolektif masyarakat sekaligus membangun kesadaran generasi muda terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

“Melalui program ini kami ingin mengajak masyarakat untuk melihat bahwa budaya Dayak bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi bagi masa depan. Kami berharap kolaborasi antara seniman, masyarakat, akademisi, dan komunitas mampu melahirkan karya-karya yang memperkuat identitas budaya Kalimantan Timur,” kata Marliana.

Selain menghadirkan karya hasil residensi, GAWIYAN juga menyelenggarakan pameran lukisan, workshop budaya, dialog publik, serta berbagai kegiatan edukatif yang memungkinkan pengunjung menyaksikan secara langsung proses kreatif para seniman selama pelaksanaan Raya Budaya Etam 2026 di Hotel Harris Samarinda.

Program ini didukung oleh Tiwi Latifffah sebagai Producer Event, Zaenal Abidin sebagai perwakilan artist sekaligus pelukis, Bisri Mustafa sebagai perwakilan pengurus yayasan, serta Mira Farenola sebagai Bendahara Yayasan.

Melalui Artist Residency “Dayak Eksodus: Jejak Tanah, Identitas, dan Perubahan”, GAWIYAN berharap seni dapat menjadi jembatan yang menghubungkan sejarah, identitas, dan masa depan masyarakat Dayak, sekaligus memperkuat posisi Kalimantan Timur sebagai pusat tumbuhnya gagasan-gagasan budaya yang berakar pada kearifan lokal. (fnd)

PPAI Gelar HUT Ke-7 Tingkat Nasional di Kota Batu, Fokus Tingkatkan Kompetensi Pengemudi Ambulans

July 25, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Kusharyanto (kanan) didampingi Arif saat memberikan penjelasan pelaksanaan kegiatan puncak peringatan HUT ke-7 PPAI Tingkat Nasional.

‎KOTA BATU – Persaudaraan Pengemudi Ambulance Indonesia (PPAI) menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-7 tingkat nasional di Pondok Anugrah Homestay, Kelurahan Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur, pada 25–26 Juli 2026.

‎Kegiatan yang diikuti anggota PPAI dari berbagai daerah di Indonesia tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus peningkatan kapasitas bagi para pengemudi ambulans.

‎Ketua Panitia Pelaksana yang juga Ketua DPW PPAI Jawa Timur, Kusharyanto, mengatakan perhelatan tahun ini menjadi yang pertama kali digelar secara nasional di Jawa Timur.

‎“Ini agenda PPAI pertama di Jawa Timur secara nasional. Berbagai kegiatan yang bermanfaat untuk peningkatan kapasitas anggota PPAI secara nasional kami laksanakan,” ujar Kusharyanto di Kota Batu, Jumat (24/7/2026).

‎Menurutnya, peringatan HUT ke-7 PPAI tidak hanya diisi kegiatan seremonial, tetapi juga sejumlah agenda edukatif yang bertujuan meningkatkan profesionalisme pengemudi ambulans.

‎Kegiatan tersebut antara lain Seminar Nasional Keselamatan dan Etika Pengemudi Ambulans yang menghadirkan narasumber dari Satuan Lalu Lintas Polres Batu, pelatihan keselamatan berkendara (safety driving), pelatihan penanganan kegawatdaruratan bersama Dinas Kesehatan dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Batu, serta pelatihan teknis pengemudi ambulans.

‎Kusharyanto menjelaskan sejumlah peserta dari berbagai daerah telah tiba di lokasi kegiatan. Di antaranya perwakilan PPAI dari Balikpapan dan Samarinda, Kalimantan Timur, serta peserta dari Sidoarjo, Surabaya, dan Pacitan.

‎Sementara itu, delegasi dari sejumlah wilayah di Sumatera, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta dijadwalkan menyusul hingga menjelang pembukaan kegiatan.

‎“Semoga seluruh peserta sudah tiba di Kota Batu sesuai jadwal, termasuk Ketua Umum PPAI Pusat Zulhardi dan jajaran pengurus pusat,” katanya.

‎Pelaksanaan HUT ke-7 PPAI mendapat dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Pemerintah Kota Batu, Polres Batu, Dinas Kesehatan, PMI, BPBD Kota Batu, Tagana Indonesia, sejumlah rumah sakit dan klinik, serta berbagai komunitas relawan di Malang Raya.

‎Melalui kegiatan ini, PPAI berharap solidaritas antaranggota semakin kuat sekaligus meningkatkan kompetensi dan profesionalisme pengemudi ambulans dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.(mn)

Bintang dan Bulan Buktikan Potensi Anak Indonesia Mendunia

July 23, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Tema Hari Anak Nasional (HAN) 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan,” mengingatkan bahwa setiap anak berhak memperoleh kasih sayang, perlindungan, pendidikan yang berkualitas, serta kesempatan untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Ketika keluarga, sekolah, dan lingkungan berjalan beriringan, anak-anak Indonesia mampu tumbuh menjadi generasi berkarakter yang siap bersaing di tingkat global.

Semangat itulah yang tercermin dari perjalanan kakak beradik asal Samarinda, Muhammad Bintang Prabu Adinata dan Maharatu Bulan Adinata, yang berhasil mengharumkan nama Indonesia pada Llangollen International Musical Eisteddfod 2026 di Wales, Britania Raya.

Festival yang berlangsung pada 7–12 Juli 2026 di Royal International Pavilion, Llangollen, North Wales, tersebut merupakan salah satu festival musik dan tari internasional paling bergengsi di dunia. Diselenggarakan sejak 1947, ajang yang diikuti peserta dari sekitar 50 negara itu telah menjadi simbol persahabatan antarbangsa melalui seni dan budaya, sekaligus menjadi panggung bagi ribuan seniman dunia untuk memperkenalkan identitas budaya masing-masing.

Bersama Yayasan Kiny Kultura, Bintang dan Bulan menjadi bagian dari 26 anggota Delegasi Indonesia. Dari seluruh peserta, keduanya merupakan satu-satunya delegasi asal Samarinda yang mewakili Kalimantan Timur.

Delegasi Indonesia tampil membawakan kekayaan budaya Nusantara melalui tarian tradisional, musik, serta busana adat yang memikat perhatian penonton internasional. Penampilan tersebut membuahkan hasil membanggakan dengan meraih Juara I Folk Dance Group Category dan Juara III Children Folk Dance Category. Selain membawa pulang piala dan sertifikat, delegasi Indonesia juga menerima penghargaan berupa uang pembinaan dan sponsorship dari penyelenggara.

Selama festival, Bintang dan Bulan turut memperkenalkan budaya Indonesia melalui busana adat Dayak Kalimantan yang dikenakan dalam berbagai penampilan dan kegiatan budaya. Keikutsertaan mereka bukan sekadar mengikuti kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia, memperkenalkan keberagaman tradisi Nusantara sekaligus membangun persahabatan dengan peserta dari berbagai negara.

Sebagai bagian dari delegasi Indonesia, keduanya tidak hanya tampil pada sesi kompetisi, tetapi juga mengikuti parade budaya, pertunjukan persahabatan, dan berbagai kegiatan pertukaran budaya bersama peserta dari berbagai belahan dunia. Pengalaman tersebut menjadi ruang belajar yang memperkaya wawasan internasional sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya bangsa.

Di balik keberhasilan tersebut tersimpan perjuangan yang tidak ringan. Seluruh biaya perjalanan ke Britania Raya, mulai dari tiket pesawat, akomodasi, konsumsi, hingga kebutuhan selama mengikuti festival, ditanggung secara mandiri oleh keluarga tanpa dukungan pendanaan dari instansi maupun lembaga pemerintah. Meski demikian, keterbatasan itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk membawa Merah Putih berkibar di panggung dunia.

Keberhasilan itu juga tidak diraih secara instan. Selama berbulan-bulan, seluruh anggota delegasi menjalani latihan intensif untuk menyempurnakan teknik tari, kekompakan tim, ekspresi, hingga penguasaan panggung. Disiplin, kerja keras, konsistensi, dan semangat belajar menjadi fondasi yang mengantarkan mereka meraih prestasi di tingkat internasional.

Bagi keluarga, pencapaian tersebut merupakan buah dari proses pembinaan yang dilakukan sejak usia dini. Sang ibu, Nia Nuswantari, secara konsisten mendampingi kedua anaknya mengembangkan bakat di berbagai bidang, mulai dari seni, olahraga, akademik, teknologi, komunikasi, hingga keterampilan hidup. Baginya, tujuan utama bukan sekadar mengejar gelar juara, melainkan membentuk karakter anak yang disiplin, mandiri, kreatif, serta berani menghadapi tantangan.

“Kami tidak pernah menargetkan anak-anak harus menjadi juara. Yang kami tanamkan adalah keberanian untuk mencoba, disiplin menjalani proses, dan terus belajar. Prestasi hanyalah bonus dari usaha dan doa,” ujar Nia.

Perjalanan Muhammad Bintang Prabu Adinata, yang lahir di Samarinda pada 13 Januari 2014, menunjukkan bagaimana pembinaan yang konsisten mampu melahirkan prestasi di berbagai bidang. Kini ia menempuh pendidikan di Thursina Islamic International Boarding School, Malang.

Sebelum mengharumkan nama Indonesia di Wales, Bintang telah menjadi Delegasi UNESCO Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) di Kuala Lumpur, Malaysia, sekaligus meraih penghargaan Best Dress berkat busana adat Dayak Kenyah Kalimantan Timur yang dikenakannya dalam forum internasional tersebut.

Ia juga mengikuti berbagai program pengembangan kepemimpinan dan teknologi di Jepang melalui Schoters by Ruangguru, antara lain di Keio University, Waseda University, dan The Institute of Science Tokyo, dengan materi kepemimpinan, quantum computing, coding, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan machine learning. Di bidang olahraga, Bintang pernah mengikuti pembinaan di Real Madrid Foundation, Cruzeiro FC Brazil Soccer Academy, dan Barça Academy Camps, selain aktif dalam sepak bola, basket, renang, catur, bela diri, serta berbagai cabang olahraga lainnya.

Ketertarikannya juga berkembang pada seni tari, permainan alat musik sape dan drum, penguasaan Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang, public speaking melalui Model United Nations, debat, dan pidato. Di luar itu, ia membekali diri dengan berbagai keterampilan hidup seperti fotografi, memasak, baking, barista, pertanian, pertukangan, pelatihan pertolongan pertama (first aid), serta kemampuan di bidang web development, coding, programming, dan desain digital.

Sementara itu, Maharatu Bulan Adinata, yang lahir di Samarinda pada 27 November 2016, saat ini bersekolah di SD Islamic Center Samarinda. Meski usianya masih belia, Bulan telah mengoleksi berbagai prestasi di tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Ia pernah menjadi finalis Olimpiade Omni Sains Indonesia (OSI) tingkat kota dan Provinsi Kalimantan Timur, meraih berbagai penghargaan pada kompetisi fashion show, menjadi Juara II Public Speaking Championship, Juara III English News Reading Competition, serta Juara Harapan I Lomba Dongeng Cerita Rakyat Kalimantan Timur tingkat provinsi.

Di bidang seni tari, Bulan juga meraih Bronze Prize pada World Dance Festival Indonesia 2026 sebelum akhirnya mengantarkan Indonesia meraih prestasi di Wales. Kemampuannya terus berkembang melalui seni tari, menyanyi, memainkan drum dan alat musik sape, membatik, serta aktif sebagai master of ceremony (MC), pendongeng, news presenter cilik, dan voice over talent. Selain itu, ia juga mengembangkan keterampilan di bidang fashion design, fotografi, baking, memasak, pottery, merajut, makrame, meronce, bertani, serta mulai diperkenalkan pada coding, desain digital, dan pengembangan web.

Prestasi mereka di Britania Raya tidak berhenti pada kompetisi seni. Selama berada di Inggris, Bintang dan Bulan juga mengikuti Meta Artificial Intelligence Program 2026 yang diselenggarakan oleh Meta untuk memperkenalkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan kepada generasi muda. Keduanya juga mengikuti Leadership Program yang diselenggarakan oleh CIE Oxford di Oxford, Inggris, yang membekali peserta dengan wawasan kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, dan perspektif global.

Perjalanan Bintang dan Bulan menunjukkan bahwa pengembangan potensi anak tidak perlu dibatasi hanya pada satu bidang. Keduanya dibimbing untuk bertumbuh secara seimbang melalui seni, akademik, olahraga, teknologi, bahasa asing, kepemimpinan, komunikasi, serta berbagai keterampilan hidup. Pendekatan tersebut tidak hanya melahirkan prestasi, tetapi juga membentuk karakter anak yang mandiri, kreatif, adaptif, dan memiliki kepedulian terhadap budaya serta masyarakat.

Dalam membangun kemampuan komunikasi, Bintang dan Bulan juga mengikuti pelatihan private public speaking di Semesta Academy Samarinda. Direktur sekaligus Co-Founder Semesta Academy, Endro S. Efendi, mengatakan keberhasilan kedua anak tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan pengembangan karakter mampu melahirkan generasi yang siap bersaing di tingkat internasional.

“Tema Hari Anak Nasional tahun ini mengingatkan bahwa bentuk kasih sayang terbaik kepada anak bukan hanya memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga memberikan ruang untuk belajar, berlatih, membangun karakter, dan mengembangkan potensinya. Prestasi Bintang dan Bulan membuktikan bahwa ketika keluarga, sekolah, dan lembaga pengembangan karakter berjalan beriringan, anak-anak Indonesia mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berkarakter, serta siap menjadi warga dunia tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” ujar Endro.

Kisah Muhammad Bintang Prabu Adinata dan Maharatu Bulan Adinata membuktikan bahwa prestasi anak tidak lahir secara instan. Di balik setiap penghargaan terdapat keluarga yang terus mendampingi, guru yang membimbing, lingkungan yang mendukung, serta kesempatan yang diberikan kepada anak untuk belajar, berlatih, dan berkarya.

Semangat itulah yang sejalan dengan tema Hari Anak Nasional 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.” Ketika anak diberi ruang untuk bermimpi, mengembangkan potensi, dan mengekspresikan kemampuannya, mereka tidak hanya mampu mengharumkan nama daerah dan bangsa, tetapi juga menjadi duta budaya Indonesia yang membawa pesan persahabatan, kolaborasi, dan harapan di panggung dunia. (*)

MUI Kaltim Waspadai Pelecehan Berkedok Agama

July 16, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Timur menerbitkan tausiyah tentang kewaspadaan terhadap modus pelecehan seksual berkedok ajaran agama, sekaligus mengeluarkan fatwa yang menegaskan praktik “nikah batin” atau “nikah Daud” tanpa wali dan saksi adalah haram dan tidak sah menurut syariat Islam.

Ketua MUI Kaltim, KH. Muhammad Rasyid menyampaikan, penerbitan tausiyah tersebut dilatarbelakangi laporan masyarakat yang diterima MUI Kalimantan Timur pada 22 Mei 2026 mengenai dugaan kasus pencabulan di salah satu pondok pesantren di Kalimantan Timur. Dugaan tindak pidana tersebut disebut dilakukan dengan menyalahgunakan ajaran agama serta memanfaatkan relasi guru dan murid. Selain itu, MUI Kaltim juga memperhatikan sejumlah kasus pelecehan seksual serupa yang terjadi di pondok pesantren di luar Kalimantan Timur.

MUI menilai laporan dan berbagai kasus tersebut telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat muslim, mencederai kehormatan lembaga pendidikan agama, serta berpotensi mengurangi kepercayaan umat terhadap institusi pesantren dan para ulama.

“Atas dasar itu, MUI Kalimantan Timur memandang perlu mengeluarkan tausiyah sebagai pedoman bagi masyarakat agar dapat menjalankan ajaran Islam secara benar dan tidak mudah terjebak dalam penyimpangan yang mengatasnamakan agama,” kata KH. Muhammad Rasyid, Rabu (15/07/2026).

Dalam tausiyahnya, MUI mengungkap sejumlah modus yang diduga digunakan pelaku, di antaranya memanfaatkan kepatuhan murid kepada guru, memelintir ayat Al-Qur’an dan hadis untuk membenarkan tindakan maksiat, mencatut nama ulama, meminta “kaffarah” berupa harta maupun kehormatan diri, hingga melakukan praktik “nikah batin” tanpa memenuhi rukun dan syarat sah pernikahan.

Sejalan dengan itu, Komisi Fatwa MUI Kalimantan Timur menerbitkan Fatwa Nomor Kep-025/DP-P/XX/VII/2026 tentang “Nikah Batin” atau “Nikah Daud” (Nikah Tanpa Wali dan/atau Tanpa Saksi). Fatwa tersebut menegaskan baha pernikahan tanpa wali yang sah dan tanpa dua orang saksi adalah batal dan tidak sah menurut syariat Islam.

“MUI juga menegaskan, praktik “nikah batin” hukumnya haram dan batal secara mutlak. Hubungan seksual yang dilakukan atas dasar praktik tersebut dikategorikan sebagai zina. Selain itu, klaim yang menyebut praktik tersebut sah berdasarkan pendapat Imam Dawud az-Zahiri dinyatakan tidak memiliki dasar yang benar dan merupakan pemutarbalikan ajaran agama,” ujarnya.

Melalui tausiyah dan fatwa tersebut, MUI Kalimantan Timur mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai ajaran yang membenarkan pelecehan seksual maupun praktik keagamaan yang menyimpang. Masyarakat juga diminta lebih selektif dalam memilih guru agama serta memastikan setiap ajaran memiliki dasar syariat yang benar dan sanad keilmuan yang jelas. (RAD)

« Previous PageNext Page »

  • vb