Kaltim Masuk 10 Besar Provinsi dengan Pemuda Jomblo Terbanyak

December 27, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Kalimantan Timur masuk dalam daftar 10 besar provinsi dengan persentase pemuda jomblo tertinggi di Indonesia pada 2025.  Data yang dirilis GoodStats.id berdasarkan laporan Statistik Pemuda Indonesia 2025 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sebanyak 75,66 persen pemuda berusia 16–30 tahun di Kaltim tercatat belum menikah.

Dengan capaian tersebut, Kalimantan Timur menempati peringkat kedelapan nasional, berada di bawah Papua (83,96 persen), DKI Jakarta (83,27 persen), Aceh (78,24 persen), Banten (78,13 persen), Papua Tengah (77,61 persen), Sumatera Utara (77,12 persen), dan Papua Pegunungan (76,69 persen). Angka Kaltim juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 61,82 persen.

Fenomena tingginya angka pemuda belum menikah ini dinilai tidak bisa dilihat secara tunggal sebagai persoalan sosial, melainkan berkaitan erat dengan dinamika pendidikan, ekonomi, hingga perubahan orientasi hidup generasi muda. Urbanisasi, tuntutan karier, serta biaya hidup yang meningkat turut memengaruhi keputusan pemuda dalam menunda pernikahan.

Salah satu pemuda di Samarinda, Adi (23), mengaku memilih untuk tetap single karena ingin memprioritaskan pengembangan karier.

“Bukan gamau menikah, tapi sekarang aku masih fokus kerja dan pengen mandiri secara finansial dulu. Menikah itu tanggung jawab besar, jadi aku pengin siap,” ujarnya.

Menurut Adi, pandangan generasi muda saat ini terhadap pernikahan cenderung lebih realistis. Banyak pemuda tidak lagi menjadikan usia sebagai patokan utama, melainkan kesiapan mental dan ekonomi. (intan)

Jasa Raharja Samarinda Selenggarakan Pelatihan PPGD

December 26, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Sebagai upaya memperkuat keselamatan berlalu lintas, PT Jasa Raharja Cabang Samarinda menggelar Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) bagi para pengemudi angkutan umum di Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, Selasa, (23/12/2025). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan pengemudi dalam menghadapi situasi darurat di jalan raya.

Melalui pelatihan PPGD, para peserta dibekali pengetahuan serta keterampilan dasar mengenai penanganan awal korban kecelakaan lalu lintas. Materi yang disampaikan meliputi penanganan korban tidak sadar, penghentian pendarahan, hingga tindakan pertolongan pertama sebelum korban memperoleh penanganan medis lanjutan.

Penanggung Jawab Pelayanan Jasa Raharja Samarinda, Rivaldy Arvelsa Landarto, menyampaikan, pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen Jasa Raharja dalam mendorong peran aktif pengemudi terhadap keselamatan lalu lintas.

“Kami berharap para pengemudi tidak hanya mengutamakan keselamatan dalam berkendara, tetapi juga memiliki kepedulian serta kemampuan dasar untuk memberikan pertolongan kepada sesama saat terjadi kecelakaan. Respons awal yang cepat dan tepat sangat berpengaruh terhadap keselamatan korban,” ungkap Arvel.

Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi praktik dan simulasi penanganan kondisi gawat darurat yang berpotensi terjadi di jalan raya. Dengan praktik langsung tersebut, peserta diharapkan mampu memahami sekaligus menerapkan ilmu yang diperoleh secara optimal.

Melalui pelaksanaan kegiatan ini, Jasa Raharja Cabang Samarinda menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan perusahaan angkutan umum serta para pemangku kepentingan lainnya, guna meningkatkan keselamatan berlalu lintas, menekan angka kecelakaan, dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Kota Samarinda. (*)

Jasa Raharja Samarinda Bekali Masyarakat Sangatta Utara dengan Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat

December 26, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SANGATTA – Sebagai bentuk komitmen dalam menekan tingkat fatalitas korban kecelakaan lalu lintas, Jasa Raharja Cabang Samarinda Wilayah Kabupaten Kutai Timur menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) di Sangatta Utara, Rabu (24/12/2025).

Pada kegiatan tersebut, perwakilan Jasa Raharja Kutai Timur, Hur Rahman, menyampaikan paparan mengenai peran dan fungsi Jasa Raharja, sekaligus menjelaskan tujuan utama pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan PPGD. Kegiatan diawali dengan penyampaian materi, kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik pertolongan pertama gawat darurat yang dirancang untuk memberikan pemahaman dan keterampilan dasar kepada para peserta.

Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab, serta terlibat langsung dalam praktik penanganan awal korban kecelakaan. Pelatihan PPGD ini merupakan bagian dari Program Keselamatan Transportasi Jasa Raharja yang bertujuan meminimalkan tingkat fatalitas kecelakaan, khususnya di wilayah yang tergolong rawan kecelakaan lalu lintas.

Selain memberikan pembekalan materi dan keterampilan PPGD, Jasa Raharja juga menyampaikan imbauan kepada seluruh peserta agar senantiasa mematuhi peraturan lalu lintas dan mengutamakan keselamatan dalam berkendara. Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu memberikan pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan, tetapi juga semakin sadar akan pentingnya perilaku berlalu lintas yang aman dan tertib.

Melalui terselenggaranya kegiatan ini, Jasa Raharja berharap dapat berkontribusi dalam menurunkan angka kecelakaan serta tingkat fatalitas korban, mengurangi jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas, dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk patuh terhadap aturan demi terciptanya lalu lintas yang aman, tertib, dan nyaman. (*)

Warga Binaan Lapas Bontang Terima Remisi Khusus Natal 2025

December 26, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

BONTANG – Suasana penuh sukacita menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bontang pada peringatan Hari Raya Natal, Kamis (25/12)/2025.

Sebanyak 136 warga binaan yang beragama Kristen dan Katolik menerima Remisi Khusus (RK) Natal Tahun 2025. Dari jumlah tersebut, satu orang di antaranya dipastikan langsung menghirup udara bebas.

Pemberian remisi ini merupakan bentuk apresiasi negara kepada Warga Binaan yang telah menunjukkan perubahan perilaku positif dan memenuhi syarat administratif maupun substantif selama menjalani masa pidana. Penyerahan itu diberikan langsung secara simbolis Kepala Lapas Kelas IIA Bontang, Suranto, kepada perwakilan warga binaan di Gereja Oikumene Lapas Bontang.

Suranto menegaskan, remisi bukan sekadar pengurangan masa hukuman, melainkan hak yang diberikan atas pencapaian warga bnaan dalam mengikuti program pembinaan. Untuk itu dirinya mengingatkan kepada seluruh WBP untuk terus menunjukkan sikap terbaik dalam menjalani masa tahanan. Bahkan kata dia, pemberian remisi ini harus mengikuti beberapa aturan yang sudah ditetapkan.

“Remisi ini adalah reward dari pemerintah atas kesungguhan dalam mengikuti pembinaan di Lapas. Khusus bagi satu orang yang langsung bebas hari ini (RK II), kami ucapkan selamat kembali ke keluarga. Jadikan pengalaman di sini sebagai pelajaran berharga untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tengah masyarakat,” ungkap Suranto.

Suranto juga menyebut seluruh proses pengusulan remisi dilakukan secara transparan melalui Sistem Database Pemasyarakatan (SDP) tanpa dipungut biaya apapun. Ia berharap momen Natal ini dapat menjadi motivasi bagi Warga Binaan lainnya untuk terus berkelakuan baik dan produktif selama berada di dalam Lapas.

“Jadikan momen ini untuk terus berbuat baik dalam menjalani masa hukuman,”harapnya.

Adapun rincian perolehan remisi bagi 136 warga binaan tersebut yaitu Remisi Khusus I (Pengurangan Sebagian) sebanyak 135 orang dan remisi Khusus II (Langsung Bebas) sebanyak satu orang.

Besaran pengurangan masa pidana yang diterima bervariasi, mulai dari 15 hari hingga 2 bulan, sesuai dengan masa pengabdian dan ketentuan yang berlaku. Kegiatan pemberian remisi diakhiri dengan doa bersama dan ibadah Natal, yang berlangsung dengan khidmat serta dalam pengawasan keamanan yang kondusif. (wan)

Ketika Cita-cita Tak Sampai Tujuan, Tapi Takdir Menemukan Jalan

December 25, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

Tidak semua orang berjalan lurus menuju cita-citanya. Sebagian justru tiba di persimpangan yang tak pernah mereka rencanakan, lalu menetap di sana dan tumbuh. Intan Tarbiatul Wardah adalah salah satunya. Mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Program Studi Manajemen semester lima ini tak pernah memasukkan profesi jurnalis dalam daftar impian hidupnya. Bahkan, dunia jurnalistik sama sekali tidak pernah ada dalam ceklis masa depannya.

Perempuan asal Bogor ini menghabiskan masa remajanya dengan mimpi yang jauh dari ruang redaksi. Ia ingin menjadi dokter, mengenakan jas putih, dan menempuh pendidikan kedokteran. Cita-cita itu tumbuh sejak sekolah menengah, sebelum arah hidupnya perlahan bergeser.

“Jujur saja, jadi jurnalis itu tidak pernah ada di bayangan hidup saya. Dulu saya ingin sekali jadi dokter, kuliah di kedokteran, pakai jas putih, dan fokus menolong orang,” ujar Intan.

Selepas SMA, Intan melanjutkan pendidikan ke Tasikmalaya dan menempuh pendidikan di salah satu pesantren. Di saat yang sama, ia tetap melanjutkan studi formal dengan berkuliah di Universitas Terbuka Bandung, mengambil Program Studi Manajemen. Dari lingkungan pesantren inilah, takdirnya mulai menemukan jalannya sendiri.

Langkah pertama Intan ke dunia jurnalistik bermula dari program santri jurnalistik yang diikuti di pesantren. Program tersebut membuka ruang baru baginya untuk mengenal dunia media sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia rencanakan. Dari sanalah ia mulai belajar dasar-dasar jurnalistik, memahami cara kerja media, hingga menyadari bahwa informasi memiliki tanggung jawab sosial yang besar.

“Awalnya hanya ikut kegiatan saja. Tapi dari situ saya mulai paham, ternyata menyampaikan informasi itu ada etikanya, ada bebannya, dan ada dampaknya,” tuturnya.

Sejak 2022, Intan mulai aktif terjun di dunia jurnalistik. Perjalanannya tidak langsung dimulai sebagai reporter, melainkan dari peran uploader. Dari posisi itu, ia perlahan mengenal ekosistem media, mengelola konten, memahami ritme kerja redaksi, hingga belajar menulis berita secara bertahap.

“Saya belajar bahwa informasi itu bukan sekadar cepat, tapi harus benar. Di situ saya mulai merasa, jurnalisme itu berat, tapi bermakna,” katanya.

Pada tahun 2023, Intan mengambil keputusan besar, terbang ke Kalimantan Timur. Ia menetap dan bergabung sebagai jurnalis di salah satu media lokal. Lingkungan baru, wilayah liputan baru, dan tanggung jawab baru datang bersamaan. Jalur ini bukan jalur yang pernah ia gambar di masa lalu, namun ia memilih bertahan dan menjalaninya.

Fenomena seperti Intan bukanlah cerita tunggal. Di tengah realitas hari ini, profesi jurnalis kerap menjadi cita-cita yang terpinggirkan bukan karena tak penting, melainkan karena jarang disebut sebagai tujuan utama. Banyak jurnalis lahir bukan dari mimpi masa kecil, melainkan dari pertemuan antara kesempatan, kebutuhan hidup, dan panggilan nilai.

“Kalau ditanya sekarang, menyesal atau tidak tidak jadi dokter? Tidak juga,” kata Intan. “Mungkin saya tidak menyembuhkan orang lewat medis, tapi lewat berita saya berharap bisa membuka mata banyak orang.”

Hingga kini, Intan masih menetap di Kalimantan dan aktif menjalani profesi sebagai jurnalis, sembari melanjutkan studinya di Universitas Terbuka. Baginya, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang untuk terus belajar dan memberi makna.

Tak ada rotan, akar pun jadi, bukan dalam makna keterpaksaan, tetapi sebagai simbol kemampuan manusia beradaptasi dan memberi arti pada jalan yang tersedia.

Cita-cita boleh bergeser, bahkan terpinggirkan oleh keadaan. Namun bukan berarti ia gagal. Dalam beberapa kasus, ia justru bertransformasi.

“Sekarang saya percaya, tidak semua orang bekerja sesuai cita-citanya, tapi setiap orang bisa bekerja dengan makna,” tutupnya. (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1071459
    Users Today : 3876
    Users Yesterday : 4093
    This Year : 7969
    Total Users : 1071459
    Total views : 10552870
    Who's Online : 94
    Your IP Address : 216.73.216.188
    Server Time : 2026-01-02