Fenomena Burnout Perempuan Muda di Era Digital

December 12, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

Ilustrasi Fenomena Burnout

Di tengah ritme kerja yang serba cepat dan dunia digital yang nyaris tak pernah tidur, banyak perempuan muda menjalani hari-hari yang dipenuhi tuntutan tinggi. Notifikasi pekerjaan yang muncul sepanjang waktu, standar kesempurnaan di media sosial, hingga ekspektasi untuk selalu produktif membuat keseharian mereka terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir.

Dalam lingkungan seperti itulah, burnout perlahan tumbuh menjadi beban baru bagi perempuan usia 18–30 tahun, terutama mereka yang bekerja di sektor digital, kreatif, layanan, dan pekerjaan berbasis daring.

Riset global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang sama. Forbes (Februari 2025) mencatat lebih dari 80% pekerja muda usia 18–34 tahun menunjukkan gejala burnout, menjadikannya kelompok paling terdampak dibanding generasi lainnya. Tren ini sejalan dengan laporan berbagai lembaga riset kesehatan mental internasional yang menyoroti meningkatnya kelelahan emosional di kalangan perempuan muda yang bekerja penuh waktu.

Di Indonesia, fenomena serupa juga teridentifikasi. Sejumlah studi dari universitas negeri mencatat beban kerja tinggi, tekanan peran sosial sebagai perempuan, serta ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi pemicu dominan burnout. Ketika jam kerja melebar hingga ke ranah pribadi dan ekspektasi sosial menumpuk, perempuan muda memiliki risiko lebih tinggi mengalami kelelahan psikologis berkepanjangan.

Peneliti Islamidiena Dheananda Putri dalam jurnal “Effect of Burnout and Work–Life Balance on Psychological Well-Being in Full-Time Working Women” menegaskan burnout berdampak langsung pada penurunan kesejahteraan psikologis perempuan pekerja. Dukungan organisasi dan work-life balance yang baik disebut berperan penting dalam mencegah kondisi tersebut.

Hal serupa juga disampaikan Gebrina Rezki dalam studinya “Burnout Among Working Mothers”. Ia menemukan, minimnya dukungan lingkungan kerja dan beban peran ganda membuat perempuan lebih rentan mengalami burnout tingkat tinggi.

Masuknya generasi muda ke industri digital pun membawa tantangan baru. Australia’s Women Agenda (2025) mencatat perempuan usia 20–30 tahun merupakan kelompok yang paling sering mempertimbangkan resign karena kelelahan mental akibat digital overload mulai dari pekerjaan yang tak mengenal jam selesai, hingga tekanan tampil sempurna di platform daring.

Alfi (24 tahun), pekerja kreatif, menyebut burnout sebagai “teman lama yang sering datang tanpa permisi”.

“Kerjaan online itu kelihatannya fleksibel, tapi sebenarnya tuntutannya besar. Notifikasi chat, revisi mendadak, deadline yang mepet, semuanya bisa muncul kapan saja. Aku jadi merasa harus selalu standby,” ungkapnya.

Ia bercerita, tekanan tidak hanya datang dari pekerjaan, tapi juga dari dunia digital itu sendiri.

“Melihat teman-teman lain aktif, produktif, dan kelihatan sukses itu bikin aku merasa harus bisa seperti mereka. Akhirnya, ada masa di mana aku capek banget, kehilangan semangat, bahkan bingung mau mulai dari mana,” katanya.

Alfi sempat mengambil cuti beberapa hari saat gejalanya makin berat.

“Aku akhirnya sadar, kalau enggak berhenti sebentar, aku bisa benar-benar jatuh. Setelah rehat, aku belajar batasin diri. Enggak semua hal harus direspons cepat,” tambahnya.

Burnout yang tidak ditangani dapat memicu sejumlah kondisi, seperti gangguan tidur, kelelahan emosional, menurunnya produktivitas, kecemasan dan depresi, serta melemahnya sistem imun. Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi relasi sosial dan kualitas hidup sehari-hari. (intan)

Tekanan Usia 20-an Hantam Gen Z, Ekspektasi Hidup Jadi Sumber Kecemasan

December 11, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

Ilustrasi Gen Z menghadapi tekanan hidup

SAMARINDA — Memasuki usia dewasa awal seharusnya menjadi masa eksplorasi dan pencarian arah hidup. Namun bagi Gen Z, fase ini justru dipenuhi kecemasan, kebimbangan, dan tekanan yang datang dari berbagai penjuru. Dorongan untuk segera stabil secara finansial, berkarier gemilang, tampil sempurna, hingga memiliki rencana hidup yang “rapi” membuat masa 20-an terasa jauh dari kata ringan. Kondisi ini dikenal sebagai quarter-life pressure, fenomena yang kini makin sering muncul dalam percakapan anak muda Indonesia.

Quarter-life pressure merupakan periode ketika seseorang beralih dari masa remaja menuju kedewasaan, rentang usia 18–30 tahun. Pada fase ini, banyak perempuan mulai mempertanyakan arah hidup mereka, karier seperti apa yang harus diraih, bagaimana mengelola keuangan, relasi apa yang harus dipertahankan, hingga identitas diri yang masih mencari bentuk.

Temuan tersebut turut diperkuat sebuah studi bertajuk “Social Comparison and Quarter-Life Crisis in Generation Z, A Study of Instagram Users” (2025) oleh Maharani & Merida. Penelitian yang melibatkan 164 responden usia 20–28 tahun di Bekasi menunjukkan adanya hubungan kuat antara kebiasaan membandingkan diri di Instagram dengan meningkatnya gejala quarter-life crisis. Semakin sering seseorang terpancing menilai hidup berdasarkan pencapaian orang lain di media sosial, semakin besar tekanan psikologis yang mereka rasakan.

Tak hanya faktor internal, kondisi eksternal seperti ekonomi yang berfluktuasi, persaingan ketat di dunia kerja, serta dukungan sosial yang minim turut memicu meningkatnya tekanan pada generasi ini.

Salah satu perempuan muda yang merasakannya adalah “Tan” (23), warga Samarinda. Selepas kuliah, ia sering merasa tertinggal dari teman-teman sebayanya yang tampak lebih mapan. “Scroll Instagram malam-malam rasanya bikin sesak. Teman-teman sudah punya kerja tetap, pasangan, bahkan bisa travelling. Sementara aku merasa masih jauh dari semua itu,” ungkapnya.

Cerita Tan bukan pengecualian. Banyak Gen Z kini berada pada persimpangan antara tuntutan keluarga, kebutuhan finansial, dan keinginan menjalani hidup sesuai ritme sendiri kondisi yang sering meninggalkan rasa bingung dan kelelahan mental.

Media sosial sebagai pemicu tekanan
Paparan konten pencapaian membuat standar kesuksesan terasa semakin tinggi. Banyak anak muda merasa tertinggal hanya karena melihat unggahan orang lain yang tampak sempurna.

Ekonomi yang tidak menentu
Persaingan kerja yang semakin ketat dan kurangnya kepastian finansial membuat perempuan muda merasa harus mencapai stabilitas secepat mungkin, meski secara mental belum siap.

Minimnya ruang dukungan
Tekanan keluarga, tuntutan budaya, dan kurangnya figur pendamping membuat banyak perempuan 20-an memikul beban tersebut sendirian.

Meski demikian, berbagai penelitian menegaskan dukungan dari lingkungan baik keluarga, sahabat, maupun komunitas menjadi faktor penting dalam meredakan beban quarter-life pressure.

Seni Bantu Perempuan Berani Bicara

December 9, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

Dwi Styaningsih Halid

SAMARINDA – Seni semakin diakui sebagai elemen penting dalam public speaking untuk membantu perempuan membangun kepercayaan diri sebelum masuk pada teknik berbicara yang formal. Pendekatan berbasis seni diyakini mampu membuka ruang ekspresi yang lebih aman dan alami bagi perempuan untuk berani menyuarakan pemikiran mereka.

Dwi Styaningsih Halid atau dikenal dengan Disya dari Perempuan Mahardika Samarinda menyampaikan, seni bukan sekadar aktivitas pelengkap, tetapi pintu pertama untuk menumbuhkan keberanian perempuan tampil di ruang publik.

“Kita mulai dari seni, karena lewat menggambar, menyanyi sampai teater, peserta bisa menyampaikan emosi tanpa takut dihakimi. Setelah itu, keberanian berbicara akan mengikuti,” ujar Disya saat Pelatihan Public Speaking yang digelar Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim berkolaborasi dengan Komunitas Emak Peduli Anak Kaltim di Kantor PWI Kaltim, Selasa (9/12/2025).

Menurutnya, banyak perempuan sebenarnya kaya gagasan dan pengalaman, namun terhambat karena belum percaya diri. Dengan seni, mereka dapat mengekspresikan emosi dan membangun keberanian secara bertahap, terutama bagi mereka yang memiliki pengalaman sensitif atau tekanan psikologis.

Disya juga menekankan, seni selalu menjadi bagian dari public speaking termasuk dalam dunia konten kreator. Ia mencontohkan bagaimana pembawaan harus menyesuaikan jenis konten.

“Kalau kontennya horor, pembawaannya harus mengikuti rasa genre itu. Begitu pun genre lain. Di situ ada seni dalam berbicara,” jelasnya.

Ia mengingatkan pentingnya mengenal diri sendiri saat berbicara di depan publik, bukan memaksakan karakter yang bukan diri kita. Disya menganalogikan fenomena konten kreator mukbang.

“Kalau orang tahu porsi makannya sedikit tapi memaksa bikin konten mukbang, justru menyakiti dirinya. Public speaking juga begitu, jangan memaksa menjadi orang lain,” tegasnya. (intan)

Anak Tumbuh Tanpa Peran Ayah Terus Meningkat

December 9, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA — Jumlah anak yang tumbuh tanpa peran ayah yang memadai terus meningkat di Indonesia. Fenomena yang dikenal sebagai fatherless ini kini menjadi perhatian para pemerhati pendidikan dan pengasuhan karena berdampak langsung pada perkembangan emosional, sosial, dan karakter anak.

Di tengah kesibukan kerja, perubahan gaya hidup, hingga pola komunikasi digital, banyak anak yang tumbuh dengan ibu sebagai pusat pengasuhan, sementara sosok ayah makin menjauh dari dinamika kehidupan sehari-hari.

Data nasional terbaru menunjukkan, 15,9 juta anak di Indonesia masuk kategori fatherless. Dari angka tersebut, 4,4 juta anak hidup tanpa ayah sama sekali, sedangkan 11,5 juta lainnya tinggal bersama ayah yang waktu kerjanya melebihi 60 jam per minggu, sehingga keterlibatan dalam pengasuhan hampir tidak terbangun. Kondisi ini menegaskan, fatherless bukan hanya terjadi karena perpisahan atau kehilangan, tetapi juga karena minimnya interaksi emosional meski ayah berada di bawah satu atap.

Fenomena ini dipandang ikut memengaruhi karakter generasi muda dari pembentukan rasa percaya diri, kemampuan bersosialisasi, hingga pencapaian akademik. Para pemerhati anak menyebut, hilangnya figur ayah memberikan dampak jangka panjang pada pola pikir, kepribadian, dan kesehatan mental anak.

Abd. Wahab Syahrani

Di Kalimantan Timur, isu ini turut menjadi perhatian serius praktisi parenting dan pendidik. Kepala SMA Islam Terpadu (SMAIT) Granada sekaligus pakar parenting, Abd. Wahab Syahrani, menyebut peran ayah hari ini bukan hanya penting, tetapi krusial bagi keseimbangan tumbuh kembang anak.

“Fatherless tidak berarti ayah biologis menghilang. Ayah bisa ada di rumah setiap hari, namun jika tidak ada kedekatan, komunikasi, dan keterlibatan dalam pendidikan anak, itu tetap termasuk fatherless. Absen secara emosional sama beratnya dengan absen secara fisik,” ujar Wahab dalam Seminar Parenting.

Menurutnya, ayah berfungsi sebagai penunjuk arah dan pembentuk karakter, memberi anak fondasi moral, rasa tanggung jawab, dan identitas diri. Ketika ayah tidak mengambil peran ini, banyak anak kehilangan pegangan emosional dan arah hidup. Dampaknya terlihat dalam perilaku sosial, ketahanan mental, hingga keputusan-keputusan penting ketika memasuki usia remaja.

Wahab menilai, budaya “ayah hanya pencari nafkah” perlu diluruskan. Pengasuhan ideal adalah kolaborasi ayah dan ibu. Ayah sebagai navigator nilai dan teladan hidup, ibu sebagai pendidik harian dan pendamping emosi. Ketika beban pengasuhan sepenuhnya dibebankan kepada ibu, maka ruang fatherless semakin terbuka.

Ia mengajak para orang tua untuk memaknai kembali konsep ayah dalam keluarga, bukan sekadar pencari rezeki, tetapi hadir secara utuh mendengarkan, membimbing, mengasihi, dan terlibat dalam proses pembentukan karakter anak.

“Bagi anak, sosok ayah bukan hanya tentang ikatan darah. Yang mereka butuhkan adalah teladan hidup, pelukan yang menenangkan, dan figur yang membuat mereka merasa aman menjalani dunia,” pungkasnya. (intan)

Kepala Desa Long Kali Ikuti Bintek Pengembangan Kompetensi

December 9, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Sebanyak 79 orang Kepala Desa dan Perangkat Desa se Kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser mengikuti Bimbingan Teknis pengembangan kompetensi di SwissBell Hotel Samarinda, 4 hingga 8 Desember 2025

Bimbingan Teknis difokuskan pada Penyusunan Perencanaan Pembangunan Desa (Perhitungan Rancana Anggaran Belanja/RAB), dan Pengadaan Barang dan Jasa di Desa.. Di tempat dan tanggal yang sama juga dilakukan Bimtek Peningkatan Kapasitas anggota Badan Permusyawaratan Desa se Kecamatan Long Kali. Bimtek tersebut diikuti oleh 30 orang peserta.

Kegiatan tersebut terlaksana atas kerjasama dan kolaborasi Lembaga Pelatihan Zaldi Institusi Indonesia dengan Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD), Asosiasi Pemerintah Desa Indonesia (APDESI) Kecamatan Long Kali.

Camat Long Kali, M. Arfah berharap melalui Bimtek ini kompetensi para perangkat desa maupun kapasitas BPD mengalami peningkatan dalam melaksanakan tugas sehari-hari,” pungkas M. Arfah.

Selama mengikuti bimbingan teknis, para peserta Bimtek Kepala Desa dan Perangkat Desa mendapatkan materi dari narusumber yang kompeten di bidangnya. Untuk Kelas Aparatur Desa, materi yang diberikan meliputi Tata Cara Pembuatan Gambar Desain Konstruksi Jalan dan Jembatan Sederhana, Tata Cara Perhitungan RAB Bangunan Sederhana, Tata Cara Perhitungan RAB Jalan/Jembatan Sederhana. Selain itu juga diberikan materi Mekanisme Pengadaan Barang dan Jasa di Desa sesuai Peraturan Bupati Nomor 48 Tahun 2020, Prosedur Pengadaan Barang dan Jasa untuk Kegiatan Non-Fisik; Prosedur Pengadaan Barang dan Jasa untuk Kegiatan Fisik.

Instruktur Bimtek bagi perangkat desa, antara lain Ikhwanuddin, Tenaga Ahli Teknik Sipil yang sudah lama bergelut melakukan pendampingan desa di Kabupaten Kutai Kartanegara. Beberapa contoh pembuatan gambar dan desain konstruksi jalan/jembatan sederhana serta Tata Cara Perhitungan RAB Bangunan Sederhana maupun RAB Jalan/Jembatan Sederhana disampaikan kepada peserta.

Materi juga disampaikan Muhammad Mizzamy Anshary, pendamping desa pemberdayaan dari Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Menurut Ikhwanuddin,  pemahaman peserta terkait teknik sipil tentang konsep RAB masih kurang, sehingga daya serapnya kurang maksimal. Karena itu, pelatihan harus ditingkatkan pada tahap 2 tentang penyusan RAB dan desain. Selain itu, ia berharap waktu pelatihan RAB bisa diperpanjang, karena tidak cukup untuk membahas semua materi.

Banyak peserta tidak membawa perangkat laptop dalam pelatihan. Ia menyarankan semua peserta membawa laptop, sehingga memudahkan proses pembelajaran.

Pada materi Pengadaan Barang dan Jasa disampaikan Andi Muhammad Arpan, Widyaiswara Ahli Madya BPSDM Kaltim.  Ia  berharap Peraturan Bupati Paser, Nomor 48 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pengadaan Barang dan Jasa di Desa, segera diperbaharui, sehingga tidak terlalu membebani perangkat desa di dalam melaksanakan peng-SPJ-an. Apalagi Perbub tersebut telah berusia 5 tahun sejak ditetapkan.

”Saatnya melakukan penyesuaian dengan hal-hal yang baru,” ujarnya.

Sedangkan peserta Bimtek Peningkatan Kapasitas BPD, dipandu Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim, Jauhar Efendi. Jauhar yang pernah menjadi Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Provinsi Kalimantan Timur memiliki pengalaman panjang di bidang pembinaan pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, Jauhar juga pernah menjadi Camat Kepala Wilayah Babulu dan Penajam, tentu tidak asing lagi dengan tugas-tugas BPD.

Jauhar juga menyarankan ke depan agar peserta peningkatan kapasitas BPD juga bisa membawa laptop.

Pimpinan Lembaga Pelatihan Zaldi Institusi Indonesia, Muhammad Rizal menyambut baik usulan tersebut, untuk mengingatkan peserta agar membawa laptop agar pelaksanaan Bimtek berjalan lebih optimal. Ia juga mempertimbangkan durasi waktu pelatihan bisa diperpanjang, sehingga cukup waktu untuk pendalaman materi.

Sahman selaku Ketua BKAD Kecamatan Long Kali berharap Bimtek dapat diadakan lagi setiap tahun anggaran untuk meningkatkan SDM para perangkat desa, BPD, dan Kelembagaan Desa, demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa.

Sementara Ketua APDESI Kecamatan Long Kali, Kris Setio Adi, sangat mendukung atas terlaksananya ini dan berharap ada kelanjutan tahun berikutnya untuk mendukung Pemerintah Kabupaten Paser. (MJE)

 

 

« Previous PageNext Page »

  • vb