Bukan Sekadar Memberi, Aksi Berbagi Takjil TKIT Raudhatul Jannah Jadi Sarana Didik Karakter Anak

March 11, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Tak hanya satu titik, dibantu para pengasuh KB-TKIT Raudhatul Jannah juga menyebar ke titik-titik lain masih dalam kawasan Jalan P. Suryanata Samarinda.

SAMARINDA – Riuh rendah suara keceriaan memecah hiruk-pikuk sore di kawasan Air Putih, Samarinda, Selasa (10/3/2026). Di tepi Jalan P. Suryanata, puluhan guru, pengurus komite, hingga wali murid KB-TKIT Raudhatul Jannah tampak sibuk menyusun bungkusan-bungkusan kecil berisi penganan berbuka puasa.

Bukan sekadar berbagi makanan, aksi sore itu adalah sebuah “kelas terbuka” bagi anak-anak usia dini untuk belajar tentang arti ketulusan dan tangan di atas.

Gotong Royong di Balik Paket Takjil
Sejak matahari masih menyengat hingga perlahan condong ke barat, semangat kebersamaan begitu terasa. Para wali murid bahu-membahu bersama pihak sekolah menyiapkan ratusan paket takjil. Tak ada sekat antara pendidik dan orang tua; semuanya larut dalam satu niat: menebar keberkahan di bulan suci.

Begitu mendekati waktu berbuka, deretan kendaraan yang melintas mulai melambat. Dengan senyum ramah, satu per satu paket takjil berpindah tangan ke para pengendara roda dua maupun roda empat. Sapaan hangat “Selamat berbuka puasa” disambut dengan senyum tulus dan ucapan terima kasih dari para warga yang melintas.

Ketua Komite KB/TK-IT Raudhatul Jannah Bunda Kellen sebagai koordinator kegiatan menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian vital dari pendidikan karakter. “Melalui aksi nyata ini, anak-anak diajak menyaksikan langsung bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya datang saat menerima sesuatu, tetapi justru saat mampu memberi manfaat bagi orang lain.” ucap Bunda Kellen.

Kami ingin menanamkan nilai empati dan kepedulian sejak dini. “Melalui langkah sederhana ini, anak-anak belajar bahwa setiap jahitan kebaikan yang kita buat akan menghadirkan harapan dan senyum bagi sesama,” tambahnya.

Selain sebagai sarana edukasi bagi siswa, momen ini juga menjadi ajang mempererat tali silaturahim antara pihak sekolah dan wali murid. “Hubungan yang harmonis ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mendukung proses tumbuh kembang anak di lingkungan sekolah,” ucap Bunda

Apresiasi untuk Kebersamaan
KB-TKIT Raudhatul Jannah menyampaikan apresiasi sedalam-dalamnya kepada komite sekolah dan seluruh wali murid yang telah menyisihkan waktu serta materi untuk menyukseskan agenda ini.

“Kami tak menyangka antusias para wali murid bersama pengurus Komite KB/TK-IT Raudhatul Jannah begitu luar biasa, sejak sebelum dzuhur telah menyiapkan semuanya, hingga turun langsung ke jalan berbagi takjil dengan mengajak anak-anak untuk melihat langsung,” ungkap Inmas Devi Merdekawati, pengelola KB/TK-IT Raudhatul Jannah Samarinda.

Sore itu, Jalan P. Suryanata tidak hanya menjadi jalur lalu lintas yang padat, tetapi juga saksi bisu bagaimana sebuah niat tulus untuk berbagi dapat mencairkan suasana dan membawa keberkahan bagi masyarakat luas. Semoga semangat “tangan di atas” ini terus tumbuh, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi menjadi identitas bagi generasi masa depan Kaltim.(idm/mn)

Salimah Kaltim Gelar Gerakan Berbagi 1 Juta Takjil, Tebar Kebaikan di Bulan Ramadhan

March 11, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Gerakan berbagi 1 juta takjik PD Salimah Kalimantan Timur tidak hanya di Jalan, tetapi juga menyasar ke rumah-rumah warga di pelosok.

SAMARINDA – Pimpinan Wilayah (PW) Salimah Kalimantan Timur menggelar Gerakan Berbagi 1 Juta Takjil pada Minggu (8/3/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program Ramadhan yang mengusung tema “Ramadhan Maslahat Berdampak”.

Ketua Dewan Pengawas Aswita Emmawati didampingi Humas PD Salimah Kalimantan Timur, Inmas Devi Merdekawati mengatakan, aksi sosial tersebut juga menjadi momentum istimewa bagi Salimah yang kini memasuki usia ke-26 tahun dalam perjalanan pengabdiannya kepada umat.

“Selama lebih dari dua dekade, Salimah terus berkomitmen memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam upaya mengokohkan keluarga Indonesia melalui berbagai program sosial, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan,” ujar Aswita, Minggu (8/3/2026).

Dalam kegiatan Gerakan Berbagi 1 juta takjil ini, para pengurus dan relawan Salimah turun langsung ke masyarakat untuk membagikan takjil kepada pengguna jalan, warga sekitar, serta masyarakat yang membutuhkan.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk kepedulian terhadap sesama yang sedang menjalankan ibadah puasa, tetapi juga menjadi sarana mempererat ukhuwah serta menumbuhkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.

Menurutnya, Ramadhan merupakan momen yang tepat untuk memperbanyak amal kebaikan sekaligus memperkuat nilai kepedulian sosial.
Melalui gerakan ini, Salimah berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk berbagi rezeki dan menebarkan manfaat kepada sesama.

Program berbagi takjil ini merupakan bagian dari gerakan nasional Salimah yang dilaksanakan secara serentak di berbagai daerah di Indonesia. Target pembagian 1 juta takjil menjadi simbol semangat gotong royong dan kepedulian terhadap masyarakat, khususnya bagi mereka yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka puasa.

Selain kegiatan berbagi takjil, Salimah juga terus mengembangkan berbagai program yang berfokus pada penguatan keluarga, pendidikan anak, pemberdayaan perempuan, serta kegiatan sosial kemasyarakatan.

Memasuki usia ke-26 tahun, Salimah semakin memperkuat komitmennya untuk terus hadir dan berkontribusi bagi umat. Dengan semangat “Ramadhan Maslahat Berdampak”, Salimah Kalimantan Timur berharap setiap kegiatan yang dilakukan dapat membawa keberkahan, mempererat persaudaraan, serta menginspirasi masyarakat untuk terus menebarkan kebaikan di bulan suci Ramadhan.(idm)

Safari Masjid di Ramadan Pertama di Samarinda

March 5, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SAMARINDA – Ramadan tahun ini terasa berbeda bagiku. Meski sudah hampir tiga tahun tinggal di Samarinda, ini adalah pertama kalinya bagi saya, Intan Tarbiatul Wardah, benar-benar menjalani Ramadan di kota ini. Sebelumnya, dua Ramadan terakhir dihabiskan di sebuah pesantren di Tasikmalaya. Sementara untuk Iduladha, sudah dua kali merayakannya di Samarinda.

Sebagai perempuan kelahiran Bogor, pengalaman Ramadan di pesantren tentu memiliki warna tersendiri. Hari-hari di sana dipenuhi dengan jadwal yang padat, mulai dari tadarus, kajian, hingga berbagai program pesantren yang membuat waktu terasa berjalan begitu cepat. Ramadan di pesantren ibarat sebuah orkestra yang ritmenya sudah tersusun rapi: sahur, subuh berjamaah, kajian, hingga ibadah malam berjalan dalam alur yang hampir tak pernah berhenti.

Sebenarnya saat itu saya punya kesempatan untuk pulang ke rumah. Namun aku memilih tetap tinggal di pesantren, bahkan sampai merayakan Idulfitri di sana. Keputusan itu kuambil karena ingin benar-benar merasakan atmosfer Ramadan hingga Lebaran di lingkungan pesantren.

“Di pesantren, Ramadan itu penuh kegiatan. Dari sahur sampai malam selalu ada program. Walaupun sebenarnya bisa pulang, waktu itu aku memilih tetap di sana karena ingin merasakan pengalaman berlebaran di pesantren,” kenangku.

Tahun ini ceritanya berbeda. Tanpa rutinitas pesantren yang padat, aku justru mencoba menikmati Ramadan dengan cara lain menjelajahi berbagai masjid di Samarinda melalui semacam safari ibadah, dari satu masjid ke masjid lainnya. Jika di pesantren Ramadan terasa seperti satu ruang yang penuh aktivitas, maka di Samarinda aku merasakannya seperti perjalanan kecil yang membuka banyak pintu pengalaman.

Perjalanan itu dimulai dari Masjid Baitul Muttaqien Islamic Center Samarinda, masjid megah yang berdiri di tepi Sungai Mahakam. Masjid ini dikenal sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia, dengan luas kompleks mencapai puluhan hektare dan mampu menampung puluhan ribu jamaah. Kubah besarnya yang berwarna biru sering menjadi penanda bagi siapa pun yang melintas di tepian sungai.

Tarawih di sana menghadirkan suasana yang sangat ramai. Jamaah datang dari berbagai penjuru kota mulai dari keluarga, mahasiswa, hingga para pekerja yang baru saja pulang dari aktivitasnya.

“Pertama kali tarawih di Islamic Center rasanya luar biasa. Jamaahnya sangat banyak dan suasananya terasa megah. Tapi justru di situ terasa sekali kebersamaan Ramadan,” ceritaku.

Dari sana, langkahku juga sampai ke Masjid Nurul Mu’minin Pemprov Kaltim, masjid yang berada di kawasan kantor Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Suasana di sana terasa lebih tenang, dengan jamaah yang sebagian besar berasal dari lingkungan perkantoran dan warga sekitar.

Perjalanan itu berlanjut ke kawasan Simpang Lembuswana, kemudian ke daerah Loa Bakung untuk menunaikan salat di Masjid Jami’ Nurul Huda Loa Bakung. Di beberapa tempat, aku melihat hal-hal kecil yang justru membuat Ramadan terasa hangat seperti anak-anak yang berlarian di halaman masjid, atau jamaah yang saling menyapa setelah salam terakhir.

Sementara itu, salah satu masjid yang juga sempat aku kunjungi adalah Masjid Jami’ Shiratal Mustaqiem, yang dikenal sebagai masjid tertua di Samarinda dan berdiri sejak akhir abad ke-19. Masjid kayu itu menjadi saksi perjalanan panjang penyebaran Islam di kota tepian.

Namun saat berkunjung ke sana, aku hanya sempat menunaikan salat Magrib. Jaraknya yang cukup jauh dari tempat tinggalku membuatku tidak melanjutkan hingga salat tarawih.

“Waktu itu aku hanya sempat salat Magrib di Shiratal Mustaqiem karena jaraknya lumayan jauh. Tapi suasananya terasa sangat khas. Ada rasa tenang yang berbeda ketika berada di masjid yang sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu,” ungkapku.

Selain masjid besar dan bersejarah, aku juga sering beribadah di masjid yang paling dekat dengan tempat tinggalku, yakni Masjid Nurul Inayaat di Jalan A. Wahab Syahranie, Sempaja. Di sana suasananya terasa lebih akrab karena jamaahnya sebagian besar adalah warga sekitar.

Bagiku, secara teknis ibadah tarawih tentu sama di mana pun, rakaatnya sama, bacaannya sama, dan tata caranya pun tidak berubah. Namun yang membuat pengalaman di setiap masjid terasa berbeda adalah suasana yang hadir di dalamnya.

Ada masjid yang terasa seperti lautan manusia, ada pula yang terasa seperti ruang kecil yang hangat. Seperti langit malam yang sama, tetapi setiap bintang memancarkan cahaya dengan caranya sendiri.

“Aku selalu tertarik dengan keindahan masjid-masjidnya dan suasana yang berbeda di setiap tempat. Walaupun salatnya sama, tapi atmosfernya selalu punya cerita sendiri,” kataku.

Safari masjid ini akhirnya membuat Ramadan pertamaku di Samarinda terasa lebih berwarna. Dari satu masjid ke masjid lainnya, aku merasa seperti sedang merangkai potongan-potongan pengalaman yang perlahan membentuk kenangan baru tentang Ramadan di kota ini. (intan)

LPTQ Gelar Khatam Qur’an dan Berbagi Takzil Semarakan Ramadan

March 2, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SAMARINDA — Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Kalimantan Timur menggelar Buka Puasa Bersama yang diisi dengan rangkaian khataman Al Qur’an, pembagian takzil, serta tausiah, dan pembacaan manaqib Sayidah Hadijah Al Kubro dan Manaqib Sayidah Fathimah Az-Zahra.

“Tujuan utamanya tidak lain menyemarakkan Ramadhan dengan kegiatan positif. Sesuai peran sebagai lembaga pengembangan Tilawatil Qur’an, maka kita mengajak seluruh pengurus khataman Al Quran bersama binaan LPTQ,” ujar Ketua LPTQ Kalimantan Timur Sri Wahyuni saat Khatam Qur’an dan Buka Puasa Bersama Keluarga Besar LPTQ Provinsi Kalimantan Timur, Minggu (1/3/2026).

Sebelumnya, seluruh pengurus membaca Al-Qur’an masing-masing sesuai pembagian juz ditetapkan. Dan pada hari H kegiatan hanya dilanjut prosesi khataman bersama keluarga besar pengurus dan anak-anak binaan LPTQ.

Dia berharap kegiatan serupa terus dilanjutkan tidak sebatas bulan Ramadan. Ini sesuai saran Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji pada buka puasa bersama tahun lalu yang meminta agar Sekretariat LPTQ harus aktif diisi kegiatan pengembangan Tilawatil Qur’an.

Selama Ramadan anak binaan LPTQ Kaltim juga diminta memakmurkan Masjid Negara IKN dan masjid-masjid besar lainnya di dalam dan luar daerah Kaltim. (am)

Pasien Penyakit Didominasi Usia 25-34 tahun

February 28, 2026 by  
Filed under Kesehatan

JAKARTA – Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Pusat, Annisa Pohan Yudhoyono mengajak semua peserta Webinar dalam rangka ulang tahun Klub Jantung Sehat (KJS) ke 48 untuk terus menjaga kesehatan jantung. Imbauan ini disampaikan dihadapan ribuan peserta webinar dari Sabang sampai Merauke yang diikuti oleh para Pengurus YJI Pusat, YJI Cabang Provinsi, maupun YJI Cabang Kabupaten/Kota serta Klub-Klub Jantung Sehat di seluruh Indonesia.

Menariknya, Annisa Pohan yang juga sebagai istri Menko Infrastruktur dan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono menyampaikan data yang cukup mencengangkan. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023, jumlah pasien penyakit jantung berdasarkan kelompok usia 25-34 tahun mendominasi dengan jumlah 140.206 orang. Jumlah ini sedikit di atas kelompok usia 15-24 tahun yang mencapai 139.891 orang.

Fakta ini tentu saja sangat memprihatinkan, mengingat penyakit jantung biasanya didominasi pada usia yang lebih tua. Namun kenyataan menunjukkan bahwa kelompok usia muda, khususnya usia 25-34 tahun dan usia 15-24 tahun menjadi kelompok yang paling banyak terkena penyakit jantung. Salah satu faktor yang menjadi penyebab tingginya penderita penyakit jantung di kalangan anak muda adalah gaya hidup yang tidak sehat. Seperti kurangnya aktivitas fisik. Budaya ”mager”, malas gerak. Pola makan yang tidak seimbang, serta tingginya konsumsi alkohol dan rokok, termasuk rokok elektrik.

Pada bagian lain, Prof. Dr. dr. Dede Kusmana, Sp.JP., FACC., salah satu pendiri Klub Jantung Sehat (KJS) pada tanggal 28 Februari Tahun 1978 menjelaskan, bahwa selama 1 tahun, anggota KJS Jakarta baru sebanyak 35 orang, dan saat ini sudah puluhan ribu jumlah anggotanya di seluruh Indonesia.

Prof. Dede diangkat sebagai guru besar Universitas Indonesia pada Tahun 2003 dan mendedikasikan pada pengayaan ilmu kedokteran di almamaternya, yaitu Universitas Indonesia. Saat ini Prof Dede di kepengurusan YJI didaulat sebagai Pembina.  Prof. Dede telah berusia 83 tahun. Pria yang cukup relegius masih enerjik ini sudah ratusan kali menjadi pembicara pada seminar atau pertemuan nasional maupun internasional dan tidak terhitung lagi publikasi ilmiah di bidang kesehatan jantung. Beliau banyak menjelaskan tentang sejarah berdirinya Yayasan Jantung Indonesia sejak Tahun 1974 hingga sekarang.

Pembicara kedua, dr. Bambang Dwiputra. Dokter Bambang adalah seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang sangat berpengalaman. Sehari-hari bekerja di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Ia memiliki keahlian di bidang kardiologi intervensi. Selain itu, dr. Bambang juga aktif dalam berbagai organisasi profesional, seperti Indonesia Heart Association dan European Society of Cardiology. Beliau juga telah banyak melakukan penelitian dan publikasi ilmiah di bidang kardiologi, terutama tentang rehabilitasi jantung dan pencegahan penyakit kardiovaskular.

Pada sesi kedua ini, dr. Bambang mengawali paparan dengan menampilkan slide, bahwa makanan enak dan terkenal di dunia pada peringkat satu dan dua, berasal dari Indonesia, yaitu makanan rendang dan nasi goreng.  Beliau hanya mengingatkan bahwa pola makan itu dapat mempengaruhi kesehatan jantung.

Menurut dr. Bambang, banyak faktor resiko yang menyebabkan seseorang terkena penyakit jantung di Indonesia. Prevalensi terbesar adalah akibat kurang aktivitas, atau ”mager”, malas gerak mencapai 34,3%, obesitas (kegemukan/over weight) sebesar 30,5%, hipertensi atau tekanan darah tinggi sebesar 29,6%, merokok 28,3% dan karena diabetis melitus sebesar 1,8%.

ia menjelaskan bahwa ada tanda-tanda atau gejala seseorang terkena penyakit jantung. Di antaranya, (1) nyeri dada atau dada tidak nyaman; (2) sempoyongan/pusing, mual atau muntah; (3) nyeri menjalar pada rahang, leher atau tembus ke punggung; (4) nyeri menjalar hingga ke lengan/bahu kiri; dan (5) sesak nafas.

Dr. Bambang menyarankan agar rutin berolahraga aerobik (lari, jalan, senam) setiap minggu antara 150 – 300 menit atau kalau dirata-ratakan setiap hari sekitar 30 menit. Namun dua hari di antaranya diselingi dengan olahraga beban, supaya kekuatan otot tetap terjaga.

Di akhir paparannya, dr. Bambang menjelaskan mengapa Ramadhan baik untuk jantung? Pertama, karena perubahan pola makan. Makan menjadi teratur dan ada saatnya istirahat tidak makan untuk jangka waktu tertentu. Ini dapat memperbaiki metabolisme. Kedua, saat puasa tubuh mengalami beberapa perubahan positif, seperti proses pembersihan sel-sel rusak, membuat tubuh lebih sehat. Ketiga, membantu kontrol gula darah dan membantu peningkatan pembakaran lemak. Pada akhirnya puasa dapat membantu menurunkan berat badan. Tidak kalah pentingnya puasa menjadi momentum membentuk kebiasaan sehat.

Terakhir, dr. Bambang memberikan tips tentang bagaimana sahur yang ramah jantung? ”Makan karbo hidrat kompleks (oat, nasi merah). Protein cukup (telur, ikan, tahu/tempe). Makanan berserat tinggi (sayur dan buah-buahan). Hindari garam dan gorengan berlebihan”, pungkas dr. Bambang Dwiputra, dokter spesialis jantung dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

Webinar yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam diikuti oleh seluruh peserta dengan sangat antusias. Karena kapasitas atau kuota zoom meeting tidak mampu menampung seluruh peserta, maka dari YJI Pusat juga menyediakan fasilitias melalui YouTube YJI live streaming.

Jauhar Efendi selaku Sekretaris YJI Kaltim, melaporkan bahwa Pengurus YJI Kaltim termasuk Kabupaten/Kota dan Klub-Klub Jantung Sehat yang ada di Kaltim juga turut menyimak dengan sungguh-sungguh. Setelah paparan dua narasumber, kemudian diberikan kesempatan sesi tanya jawab.

Di akhir webinar, Panitia yang diketuai dr. Gobind membagikan doorprize sebanyak 20 untuk dipilih secara acak kepada seluruh peserta, khususnya peserta dari Klub Jantung Sehat. #MJE

Next Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1465649
    Users Today : 2612
    Users Yesterday : 4643
    This Year : 402159
    Total Users : 1465649
    Total views : 12898427
    Who's Online : 45
    Your IP Address : 216.73.216.56
    Server Time : 2026-03-12