Polres Mahakam Ulu Gelar Doa Bersama Lintas Agama

December 31, 2025 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Mahakam Ulu – Polres Mahakam Ulu menggelar kegiatan doa bersama lintas agama sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap para korban bencana alam yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kegiatan tersebut dilaksanakan di lingkungan Polres Mahakam Ulu dan dihadiri unsur Forkopimda, TNI, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta personel Polres Mahakam Ulu, Rabu (31/12/2025)

Doa bersama lintas agama dipimpin perwakilan tokoh agama, dengan tujuan memohon keselamatan, kekuatan, serta ketabahan bagi saudara-saudara yang terdampak bencana alam, sekaligus sebagai wujud kebersamaan dan toleransi antarumat beragama di Kabupaten Mahakam Ulu.

Kapolres Mahulu AKBP Eko Alamsyah juga mengajak seluruh masyarakat untuk turut serta mendoakan para korban, khususnya menjelang perayaan malam Tahun Baru.

“Warga masyarakat Mahakam Ulu yang melaksanakan tahun baru di mohon untuk meluangkan waktunya untuk berdoa untuk saudara-saudara kita yang ada di Aceh,” pesan Eko.

Kapolres Mahakam Ulu melalui kegiatan ini menegaskan bahwa kepedulian sosial dan rasa kemanusiaan harus senantiasa dijaga, terutama di tengah musibah yang menimpa saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat.

Kegiatan doa bersama berlangsung dengan khidmat, aman, dan tertib, serta diharapkan dapat memberikan kekuatan moril bagi para korban bencana alam serta menumbuhkan rasa empati dan persaudaraan di tengah masyarakat. (*)

Fenomena “Sukses dengan Cara Gelap”, Psikologi Ungkap Alasan di Baliknya

December 27, 2025 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SAMARINDA — Maraknya kasus penipuan, manipulasi, hingga kebohongan publik yang melibatkan figur-figur berlabel sukses kembali menyita perhatian. Mulai dari dunia bisnis, media sosial, hingga industri hiburan global, publik kerap dibuat terkejut ketika sosok yang dipuja ternyata terseret skandal. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar, apakah ada tipe kepribadian tertentu yang membuat seseorang bisa terlihat sukses meski dibangun di atas kebohongan?

Dalam psikologi kepribadian, terdapat konsep yang dikenal sebagai Dark Triad, yakni tiga sifat kepribadian yang kerap dikaitkan dengan perilaku manipulatif dan minim empati. Tiga sifat tersebut meliputi narsisme, Machiavellianisme, dan psikopati.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Vocational Behavior mengungkapkan tidak semua sisi gelap kepribadian selalu berujung kegagalan. Namun, dampaknya berbeda-beda terhadap kesuksesan karier.

“Our results suggest that the three dark traits affect career success in a very distinct manner. While narcissism predicts success in a positive way, Machiavellianism is unrelated and psychopathy is negatively related to career success,” tulis para peneliti dalam jurnal tersebut.

Artinya, individu dengan kecenderungan narsistik justru dapat menunjukkan pencapaian karier yang lebih tinggi, terutama karena kepercayaan diri, kemampuan tampil meyakinkan, dan dorongan untuk diakui. Namun, sifat Machiavellian yang manipulatif tidak menunjukkan korelasi kuat dengan kesuksesan jangka panjang, sementara psikopati justru berdampak negatif.

Fenomena ini juga terlihat dalam berbagai kasus yang sempat viral secara global, salah satunya kisah Anna Sorokin yang diangkat dalam film Inventing Anna. Ia berhasil menembus lingkaran elite New York dengan identitas palsu dan hampir memperoleh pendanaan besar sebelum akhirnya terbongkar.

Psikolog menilai, individu dengan sifat Dark Triad cenderung memiliki political skill atau kecakapan sosial strategis yang tinggi. Hal ini membuat mereka mampu membaca situasi, membangun citra, dan memengaruhi orang lain.

Penelitian lain yang dimuat dalam BMC Psychology menyebutkan sifat narsisme dan Machiavellianisme dapat berfungsi sebagai sumber daya personal dalam dunia kerja.

Meski demikian, para ahli menegaskan keberhasilan yang didorong oleh sifat-sifat tersebut sering kali bersifat sementara. Lingkungan kerja yang minim pengawasan, longgar secara etika, dan sangat kompetitif memang memberi ruang lebih besar bagi individu dengan kecenderungan Dark Triad untuk melesat cepat.

Namun, dalam jangka panjang, reputasi, relasi sosial, dan integritas menjadi faktor penentu keberlanjutan karier.

Psikolog juga mengingatkan psikopati bukan semata soal kekerasan fisik seperti yang kerap digambarkan dalam film. Ciri utamanya justru terletak pada ketiadaan rasa bersalah dan empati, yang membuat seseorang mampu melakukan penipuan tanpa beban emosional.

Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat  gemerlap kesuksesan di ruang publik, terutama media sosial, tidak selalu mencerminkan proses yang sehat. Keberhasilan instan yang dibangun tanpa fondasi etika berpotensi runtuh sewaktu-waktu ketika fakta mulai terkuak.

Di tengah derasnya arus pencitraan dan ambisi, para ahli menilai penting bagi masyarakat untuk tidak hanya menilai kesuksesan dari tampilan luar, tetapi juga dari nilai, proses, dan dampak yang ditinggalkan. (intan)

Gula, “Silent Killer” yang Luput dari Regulasi Ketat

December 27, 2025 by  
Filed under Kesehatan

SAMARINDA — Rokok, alkohol, dan narkoba selama ini dikenal sebagai tiga zat berbahaya yang peredarannya diawasi ketat karena sifatnya yang adiktif dan berisiko mematikan. Namun di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, ada satu zat lain yang dikonsumsi hampir setiap hari, bersifat adiktif, berdampak serius bagi kesehatan, tetapi nyaris dianggap biasa, gula.

Gula hadir di hampir seluruh dapur masyarakat Indonesia, baik dalam bentuk gula pasir, gula aren, hingga gula yang tersembunyi dalam nasi, minuman kemasan, dan makanan olahan. Di balik rasanya yang manis, konsumsi gula berlebih dikaitkan dengan meningkatnya kasus obesitas dan diabetes, dua penyakit kronis yang kini menjadi ancaman serius kesehatan nasional.

Data kesehatan menunjukkan, dalam dua dekade terakhir, prevalensi obesitas di Indonesia meningkat hampir dua kali lipat. Diabetes melitus tipe 2 pun kini masuk dalam jajaran penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI menyebut konsumsi gula berlebih sebagai salah satu faktor risiko utamanya.

“Konsumsi gula berlebihan merupakan faktor risiko utama diabetes melitus tipe 2 dan obesitas,” tulis Kementerian Kesehatan RI dalam sejumlah materi edukasi GERMAS.

Peringatan soal bahaya gula sebenarnya bukan hal baru. Sejak 1972, profesor nutrisi asal Inggris, John Yudkin, telah mengingatkan dunia lewat bukunya Pure, White and Deadly. Dalam buku tersebut, Yudkin secara terang-terangan mengkritik konsumsi gula yang berlebihan dan dampaknya terhadap kesehatan manusia.

“If only a small fraction of what we now know about the effects of sugar were revealed in relation to any other substance, that substance would be immediately banned,” tulis Yudkin.
(Jika hanya sebagian kecil dari dampak gula terjadi pada zat lain, maka zat tersebut sudah lama dilarang).

Pernyataan tersebut menuai kontroversi besar pada masanya. Yudkin bahkan mendapat tekanan dari banyak ilmuwan dan industri pangan karena berani mengungkap sisi gelap gula. Meski telah berlalu lebih dari 50 tahun, peringatan itu dinilai masih relevan hingga hari ini.

Profesor Nutrisi dan Epidemiologi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, Dr. Frank Hu, menegaskan gula bukan sekadar persoalan berat badan.

“Sugary drinks are a major contributor to obesity, type 2 diabetes, and heart disease,” ujar Hu.

Artinya, minuman manis menyumbang asupan gula tinggi tanpa memberi rasa kenyang, sehingga meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung secara bertahap.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah lama mengeluarkan peringatan serupa. WHO menyebut tingginya konsumsi gula bebas sebagai ancaman serius bagi kualitas gizi dan kesehatan masyarakat.

WHO merekomendasikan konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 10 persen total asupan energi harian, bahkan idealnya ditekan hingga 5 persen.

Berbeda dengan rokok dan alkohol, gula memiliki posisi unik karena secara alami terkandung dalam bahan pangan pokok seperti nasi, buah, dan umbi-umbian. Tubuh manusia memang membutuhkan glukosa sebagai sumber energi. Namun, masalah muncul ketika gula tambahan dikonsumsi secara berlebihan melalui minuman manis, makanan olahan, dan camilan populer.

Selain itu, gula telah menjadi bagian dari budaya makan, industri pangan, dan ekonomi global. Inilah yang membuat regulasi terhadap gula jauh lebih kompleks dibandingkan zat adiktif lainnya.

Kementerian Kesehatan RI sendiri menetapkan batas konsumsi gula harian maksimal 50 gram per orang per hari, atau setara dengan empat sendok makan. Namun dalam praktiknya, angka tersebut kerap terlampaui tanpa disadari, terutama karena gula tersembunyi dalam produk makanan dan minuman kemasan.

Meski bukti ilmiah terus bertambah dan kesadaran masyarakat mulai tumbuh, gula masih kerap dianggap ancaman sepele. Padahal, para ahli sepakat bahwa dampak gula bekerja perlahan, tanpa gejala instan, namun berujung pada penyakit kronis yang mematikan. (intan)

Tren Sosmed Detox, Jeda Digital Demi Kesehatan Mental

December 27, 2025 by  
Filed under Kesehatan

SAMARINDA — Di tengah dominasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari, istilah sosmed detox kini menjadi tren positif yang mulai banyak dilirik oleh generasi muda hingga profesional. Praktik ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan ada dukungan penelitian ilmiah yang menunjukkan manfaatnya bagi kesejahteraan mental.

Social media detox atau sosmed detox secara sederhana adalah periode waktu ketika seseorang secara sukarela menahan diri dari menggunakan platform media sosial, seperti TikTok, Instagram, Facebook atau X, untuk sementara waktu. Tujuan utamanya adalah mengurangi dampak negatif dari penggunaan berlebihan, termasuk stres, kecemasan, gangguan tidur, hingga perasaan kehilangan kendali setelah terlalu lama melakukan scrolling.

Beberapa studi terbaru menunjukkan, melakukan jeda dari media sosial membawa efek baik terhadap kesehatan mental.

Penelitian JAMA Network Open, sebuah penelitian terhadap ratusan orang dewasa muda menemukan bahwa melakukan sosmed detox selama satu minggu mampu mengurangi gejala depresi hingga hampir 25%, kecemasan 16%, dan masalah tidur sekitar 14%. Ini menunjukka jeda pendek dari media sosial dapat membantu menurunkan beban psikologis yang terkait dengan penggunaannya.

Namun, efek terhadap kepuasan hidup dan stres bisa bervariasi tergantung kondisi masing-masing individu, menunjukkan sosmed detox bukan solusi tunggal, melainkan bagian dari pendekatan kesejahteraan digital yang lebih luas.

Sosmed detox adalah mengurangi atau menghentikan sementara penggunaan media sosial untuk mendapatkan kembali kontrol atas waktu dan kesehatan mental. Ini bisa dilakukan dengan uninstal aplikasi sementara, menonaktifkan notifikasi, dan menetapkan jam tanpa layar (screen-free time).

Fokus pada aktivitas di luar dunia digital
Praktik ini seringkali dilakukan secara sukarela dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu.

Wardah, seorang pekerja kreatif berusia 23 tahun, mengaku rutin melakukan sosmed detox ketika merasa burnout dan kehilangan kendali akibat terlalu banyak scrolling.

“Kalau sudah mulai merasa scrolling time makin panjang, screen time tidak terkendali, dan mood turun, aku langsung uninstall TikTok dan Instagram dari ponsel untuk beberapa hari,” ujarnya.

Wardah mengatakan, langkah sederhana itu sering kali membuatnya merasa lebih tenang, fokus kembali, dan jauh lebih produktif tanpa tekanan konten yang terus berdatangan dari feed sosial media.

Menurutnya, sosmed detox bukan berarti berhenti total dari internet, tetapi menata ulang bagaimana teknologi digunakan, sehingga tidak lagi menjadi sumber stres atau kecanduan.

Dalam era digital seperti sekarang, media sosial bisa memberi dampak positif seperti informasi terbaru, koneksi sosial, atau hiburan. Namun, keterlibatan berlebihan dengan platform-platform tersebut juga bisa menimbulkan “tekanan psikologis yang tak terlihat”, termasuk kecemasan, gangguan tidur, atau perasaan tidak pernah cukup. Penelitian tentang dampak interaksi sosial digital terus berkembang untuk memahami hubungan kompleks antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental.

Dengan tren sosmed detox yang makin populer ini, banyak orang kini mulai menyadari pentingnya menyeimbangkan kehidupan digital dan offline, sehingga pengalaman teknologi jadi sesuatu yang lebih bermakna, bukan sekadar rutinitas yang melelahkan. (intan)

Konten Nikah Kemenag Ramai, Generasi Muda Disentil Soal Pernikahan

December 25, 2025 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SAMARINDA – Kementerian Agama (Kemenag) RI belakangan mencuri perhatian warganet lewat unggahan di Instagram resminya yang menyentil generasi muda agar tidak takut menikah. Konten tersebut kemudian diikuti oleh akun-akun Kemenag daerah hingga Kantor Urusan Agama (KUA) dengan gaya serupa, bahkan dikemas secara humoris.

Tak hanya di media sosial, sejumlah KUA di berbagai daerah juga disebut mulai turun langsung ke ruang publik, salah satunya di kawasan Car Free Day (CFD), untuk menyampaikan pesan ajakan menikah dengan pendekatan santai dan dekat dengan anak muda.

Respons netizen pun beragam. Sebagian besar menilai gaya komunikasi tersebut menghibur. “Gawat, Kemenag sudah mulai turun jalan buat marketing,” tulis salah satu netizen.

Komentar lain menyebut, “Tenangin diri lu para Gen Z, marketing KUA udah ugal-ugalan,” yang ramai disukai pengguna media sosial lainnya.

Fenomena ini sejalan dengan kondisi sosial yang tengah terjadi. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Abdul Khaliq, mengakui adanya tren penurunan angka pernikahan, khususnya di kalangan anak muda.

“Saat ini memang terlihat tren pernikahan menurun. Banyak orang, khususnya anak muda, yang seakan-akan merasa takut untuk menikah,” ujarnya saat ditemui belum lama ini.

Ia menjelaskan, ketakutan tersebut kerap dipicu berbagai faktor, mulai dari ketidaksiapan mental, ekonomi, hingga paparan narasi negatif tentang pernikahan di media sosial. Padahal, menurutnya, pernikahan merupakan bagian dari sunnah Rasulullah yang perlu dipahami secara matang.

“Pernikahan perlu didorong dengan kesiapan mental, ekonomi, dan pemahaman yang baik. Jangan takut menikah,” pungkasnya. (intan)

Next Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1070891
    Users Today : 3308
    Users Yesterday : 4093
    This Year : 7401
    Total Users : 1070891
    Total views : 10546201
    Who's Online : 57
    Your IP Address : 216.73.216.188
    Server Time : 2026-01-02