Pamali yang Dulu Ditakuti, Kini Sekadar Cerita Sebelum Tidur

February 11, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Pamali pernah menjadi semacam “alarm sosial” di tengah kehidupan masyarakat Nusantara. Larangan-larangan yang diwariskan secara lisan itu dulu dipercaya mampu menjaga keteraturan hidup, mulai dari etika, keselamatan, hingga harmoni dengan alam.

Namun seiring waktu, pamali perlahan bergeser makna dari sesuatu yang ditakuti, menjadi cerita yang hanya terdengar menjelang tidur.

Istilah pamali banyak ditemukan dalam budaya Sunda, Jawa, dan beberapa wilayah di Kalimantan serta Sulawesi. Secara umum, pamali berarti pantangan atau larangan adat yang tidak boleh dilanggar karena diyakini akan membawa akibat buruk.

Dalam budaya Sunda, pamali kerap dikaitkan dengan tata krama dan keselamatan. Sementara dalam tradisi Jawa, pamali sering diselipkan sebagai bentuk pengendalian perilaku anak-anak agar patuh pada norma keluarga.

Pamali lahir dari kebutuhan masyarakat tradisional untuk menyampaikan nilai tanpa penjelasan panjang. Pada masa lalu, ketika pendidikan formal belum merata, larangan yang dibungkus unsur mistis dianggap lebih efektif. Duduk di ambang pintu, misalnya, dianggap pamali karena bisa menghalangi jalan dan membahayakan orang lain. Sementara larangan memotong kuku di malam hari diyakini berkaitan dengan kondisi penerangan zaman dulu yang minim, sehingga berisiko melukai diri sendiri.

Larangan-larangan lain yang akrab di telinga generasi lama antara lain menyapu di malam hari, bersiul di dalam rumah, hingga tidur tengkurap. Meski alasannya kerap terdengar irasional, banyak pamali memiliki akar logis jika ditelusuri lebih dalam, mulai dari menjaga kebersihan, etika sosial, hingga kesehatan.

Namun, di tengah derasnya arus digital dan pola pikir yang semakin rasional, pamali tak lagi dipahami sebagai aturan mutlak. Bagi generasi Z, pamali lebih sering hadir sebagai nostalgia masa kecil.

“Aku dulu sering banget dibilang pamali sama ibuku. Duduk di lawang pintu, potong kuku malam-malam, itu pasti ditegur,” kata Aisyah (22), seorang mahasiswa asal Bandung. “Sekarang sih nggak takut, tapi anehnya kebiasaan itu tetap kebawa. Kayak refleks aja.”

Hal serupa diungkapkan Rizky (24), pekerja kreatif di Tasikmalaya. Menurutnya, pamali bukan lagi soal takut celaka, melainkan bentuk memori kolektif. “Pamali sekarang lebih kayak cerita pengantar tidur. Kita dengarnya sambil ketawa, tapi dulu itu serius banget,” ujarnya.

Pergeseran makna pamali menunjukkan perubahan cara generasi memahami tradisi. Pamali tidak sepenuhnya hilang, tetapi bertransformasi. Ia tetap hidup dalam bahasa ibu, dalam cerita keluarga, dan dalam ingatan masa kecil meski tak lagi berdiri sebagai aturan yang mengikat. (intan)

PWI Kubar Gelar Bhakti Sosial Donor Darah

February 9, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SENDAWAR – PWI Kabupaten Kutai Barat (Kubar) menggelar kegiatan bakti sosial donor darah, bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Rumah Sakit Umum, Harapan Insan Sendawar (RSUD HIS), Kubar, Senin (9/2/2026).

Kegiatan donor darah yang dibuka Bupati Kubar, Frederik Edwin merupakan rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dan Hari Ulang Tahun PWI ke 80 tahun 2026,

Ketua PWI Kubar, Alfian Nur menyampaikan, aksi donor darah tersebut merupakan wujud kepedulian insan pers terhadap masyarakat. PWI Kubar menargetkan pengumpulan 80 kantong darah, sejalan dengan peringatan HUT ke-80 PWI.

“Pers tidak hanya menyampaikan informasi semata, tetapi juga harus hadir dengan kepedulian sosial, seperti donor darah ini menjadi bentuk nyata kontribusi pers untuk kemanusiaan,”ujarnya..

Sementara Bupati Kubar, Frederik Edwin mengatakan, kegiatan  ini sebagai momentum semangat solidaritas kemanusiaan, dalam pemenuhan kebutuhan stok darah di unit transfusi darah PMI RSUD HIS Kutai Barat. Sekaligus memperkuat peran PWI dalam pembangunan daerah.

Ia menyebut, peringatan HPN bukan sekedar peringatan seremonial tahunan semata, melainkan memiliki track record  penting bagi insan pers dalam berbangsa dan bernegara. Pers bukan hanya sekedar penyanji informasi, tetapi juga kritisi pemerintah pemgawal demokrasi, serta penegak sosial di tengah masyarakat.

“Melalui tema, Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat. Kita diajak untuk memahami bahwa jika Pers sehat, profesional dan bermartabat akan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar, tidak hanya sebagai gatekeeper dalam pembangunan berdemokrasi,”ujarnya.

Dikatakan, setetes darah yang di sumbangkan hari ini, sungguh sangat berarti bagi saudara saudari yang membutuhkan, dan menjadi bukti bahwa Pers hadir dan berbuat langsung di tengah masyarakat.

“Menyadari fakta penting dari kegiatan ini, saya mau menyampaikan pesan dan juga harapan, pertama agar insan pers terus menjaga profesionalisme,  integritas dan kesehatan, sehinnga mampu menjalankan fungsi jurnalistik secara bertanggung jawab dan bermartabat,”bebernya.

Bupati berharap kegiatan sosial kemanusiaan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai penggiat dari pengabdian  Pers kepada masyarakat dan daerah. Selain itu kegitan ini dapat memperkuat sinergi antara Pers, Pemda, serta seluruh masyarakat dalam mendukung pembangunan, menjaga persatuan, dan meningkatkan kepedulian, hususnya kepada penyelenggaraan pembangunan,”ungkapnya. (*)

Di Balik Sederhana, Kuliner Sunda Menyimpan Cerita dan Filosofi Hidup

February 5, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Tasikmalaya – Kuliner Sunda kerap dikenal sederhana, jauh dari tampilan mewah atau bumbu yang berlapis-lapis. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan cerita panjang tentang cara hidup masyarakat Sunda yang menjunjung kebersahajaan, kebersamaan, dan kedekatan dengan alam.

Makanan khas Sunda umumnya lahir dari bahan-bahan lokal yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar, seperti singkong, oncom, sayuran segar, hingga ikan air tawar. Cara pengolahannya pun tidak rumit. Meski demikian, setiap hidangan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pemenuhan rasa lapar.

Sebagai contoh, nasi liwet yang sering disajikan saat ngaliwet mencerminkan nilai kebersamaan. Hidangan ini tidak dimakan sendiri, melainkan dinikmati bersama-sama dalam satu hamparan daun pisang. Tidak ada porsi khusus, tidak ada pembeda. Semua duduk sejajar, berbagi lauk dan cerita.

Kesederhanaan juga tercermin pada kudapan tradisional seperti combro, misro, atau colenak. Combro, yang berasal dari istilah oncom di jero (isian oncom di dalam), menggambarkan cara masyarakat Sunda memanfaatkan bahan pangan hasil fermentasi menjadi hidangan bernilai rasa tinggi.

Misro dengan isian gula aren menghadirkan filosofi keseimbangan antara manis dan gurih, sementara colenak mengajarkan, singkong bahan yang sering dipandang biasa bisa menjadi sajian istimewa bila diolah dengan tepat.

Bagi Wardah, pecinta kuliner Sunda yang kini tinggal di Kalimantan, makanan-makanan tersebut menyimpan makna emosional tersendiri.
“Kuliner Sunda itu kelihatannya sederhana, tapi rasanya jujur. Nggak dibuat-buat,” ujarnya. Menurut Wardah, setiap kali pulang ke Jawa Barat, ia selalu menyempatkan diri mencari makanan khas Sunda. “Ada rasa tenang waktu makan makanan kampung sendiri. Kayak lagi diingatkan buat hidup nggak berlebihan,” katanya.

Wardah menilai kuliner Sunda mengajarkan cara menikmati hidup secara perlahan. “Makanannya nggak ribet, tapi bikin nyaman. Dari situ aku ngerasa, hidup juga seharusnya begitu,” ucapnya.

Selain bahan dan rasa, filosofi kuliner Sunda juga terlihat dari cara penyajiannya. Lalapan mentah, misalnya, menunjukkan kedekatan masyarakat Sunda dengan alam serta kebiasaan mengonsumsi makanan segar tanpa banyak proses. Sambal dadak yang dibuat secara langsung mencerminkan spontanitas dan kejujuran rasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, makanan bukan hanya soal selera, tetapi juga sarana menjaga hubungan sosial. Banyak hidangan Sunda disiapkan untuk dimakan bersama, baik dalam keluarga, lingkungan tetangga, maupun komunitas. Tradisi ini menegaskan, makan adalah aktivitas sosial yang mempererat ikatan, bukan sekadar rutinitas individual. (intan)

Perempuan Sunda dan Seni Menjaga Harmoni dalam Kehidupan Sehari-hari

February 5, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Tasikmalaya – Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, perempuan Sunda kerap tampil sebagai penjaga keseimbangan. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tetapi juga dalam relasi sosial dan ruang publik. Harmoni, bagi perempuan Sunda, bukan sekadar konsep budaya, melainkan cara hidup yang dijalani secara sadar dari hari ke hari.

Nilai someah hade ka semah—ramah terhadap siapa pun—menjadi fondasi yang masih dipegang kuat. Sikap ini tercermin dalam cara bertutur yang halus, gestur yang terukur, serta kebiasaan membaca situasi sebelum bertindak. Dalam keseharian, perempuan Sunda terbiasa mengelola emosi dan memilih jalan yang tidak menimbulkan gesekan, demi menjaga suasana tetap teduh.

Dalam lingkup keluarga, perempuan Sunda kerap menjadi poros pengikat. Mereka mengatur ritme rumah tangga tanpa banyak suara, menyelesaikan persoalan dengan dialog, dan menempatkan empati sebagai pendekatan utama. Harmoni dibangun melalui kebiasaan sederhana, mendengarkan lebih banyak, menahan diri saat emosi memuncak, serta memberi ruang bagi anggota keluarga untuk berkembang.

Namun, nilai kelembutan itu tidak identik dengan keterbatasan ruang gerak. Di era sekarang, banyak perempuan Sunda yang justru berani melangkah keluar dari zona nyaman. Salah satunya Intan, perempuan Sunda yang memilih merantau dan mengeksplorasi banyak tempat, bahkan hingga ke luar pulau dan luar negeri.

“Sebagai perempuan Sunda, aku diajarkan untuk santun dan menjaga sikap. Tapi itu tidak pernah membatasi mimpi,” ujar Intan. Menurutnya, harmoni bukan berarti berhenti melangkah. “Aku bisa tetap membawa nilai kesopanan, tapi juga berani mengambil keputusan besar, termasuk merantau jauh dari rumah.”

Pengalaman merantau membuat Intan belajar banyak tentang keberagaman karakter dan budaya. Ia menilai nilai harmoni yang ia bawa sejak kecil justru membantunya beradaptasi di lingkungan baru.

“Saat kita bisa menempatkan diri, menghargai orang lain, dan tidak reaktif, itu memudahkan kita diterima di mana pun,” katanya. (intan)

Jejak Kuliner Sunda dan Jawa di Mekkah–Madinah

February 4, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Madinah, Arab Saudi — Tanah Suci tak hanya mempertemukan jamaah dengan ritual ibadah dan jejak sejarah Islam, tetapi juga menghadirkan kejutan kecil yang terasa akrab, makanan. Di antara sajian khas Timur Tengah, aroma bumbu Nusantara justru kerap muncul di sudut-sudut kota suci, seolah menjadi penawar rindu bagi jamaah Indonesia.

Salah satu pengalaman paling membekas saya temukan di Madinah, tepatnya di kawasan kebun kurma. Di sana berdiri sebuah warung sederhana bernuansa Sunda, yang menjual bakso dan bala-bala, menu yang nyaris identik dengan keseharian masyarakat Jawa Barat.

Bakso tersebut dijual seharga 20 riyal per porsi, atau setara sekitar Rp100 ribu. Dengan porsi standar, semangkuk bakso itu disajikan lengkap dengan kuah hangat dan isian khas. Rasanya, bagi lidah saya yang terbiasa dengan cita rasa Sunda, terasa cukup otentik.

“Pas suapan pertama, rasanya kayak lagi di Indonesia,” ujar saya dalam hati. Di tengah suasana Madinah yang tenang dan penuh kekhusyukan, semangkuk bakso menjadi pengingat, jarak ribuan kilometer tak selalu mampu memutus ingatan rasa.

Fenomena kuliner Nusantara di Tanah Suci bukanlah hal baru. Restoran Sunda dan Jawa kini cukup mudah ditemukan, baik di Madinah maupun Mekkah, terutama di kawasan yang menjadi langganan jamaah Asia Tenggara. Kehadiran mereka menjadi bagian dari ekosistem ekonomi jamaah, menyesuaikan dengan selera ribuan peziarah Indonesia yang datang setiap tahun.

Tak hanya di warung kecil, kuliner Indonesia juga merambah hotel-hotel tempat jamaah menginap. Di Mekkah, saya menemukan satu kejutan lain yang tak kalah unik, seblak.

Menu ini tersaji di salah satu restoran hotel tempat saya menginap. Jujur, ekspektasi awal tidak terlalu tinggi. Namun begitu mencicipi, rasanya justru mengundang senyum. Pedasnya pas, bumbunya terasa, dan teksturnya tidak jauh berbeda dengan seblak yang biasa saya temui di tanah Sunda.

Sebagai orang Sunda, saya cukup peka terhadap rasa. Dan seblak itu, meski disajikan ribuan kilometer dari Bandung tetap terasa “pulang”.

Tak jarang, warung-warung ini menjadi tempat berkumpul informal jamaah Indonesia. Percakapan mengalir, logat daerah terdengar bebas, dan suasana sejenak terasa seperti di rumah sendiri. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1343847
    Users Today : 5878
    Users Yesterday : 5462
    This Year : 280357
    Total Users : 1343847
    Total views : 12200070
    Who's Online : 60
    Your IP Address : 216.73.216.15
    Server Time : 2026-02-17