Dinas Pariwisata Kaltim Siapkan SDM Pariwisata Berstandar Nasional

February 12, 2026 by  
Filed under Wisata

SAMARINDA – Dinas Pariwisata Kalimantan Timur menggelar pra-asesmen dan uji sertifikasi kompetensi bagi tour leader se-Kalimantan Timur selama tiga hari, 11-13 Februari 2026, Kegiatan ini diikuti perwakilan dari delapan kabupaten/kota, sementara Mahakam Ulu dan Kutai Barat belum berpartisipasi. Bertempat di Hotel Horison, Jalan Imam Bonjol, Samarinda. Rabu (11/2/26).

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, menegaskan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia pariwisata, khususnya tour leader, sebagai garda depan pelayanan wisatawan.

“hari ini kita mengadakan sertifikasi kompetensi assesment dan tour leader se Kaltim 2026, ini menjadi garda terdepan pelayanan pariwisata di kaltim,” ujarnya.

Ia menekankan sektor pariwisata berperan strategis pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Karena itu, kualitas SDM menjadi faktor penentu keberhasilan layanan wisata.

“Industri pariwisata merupakan salah satu sektor strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta promosi budaya dan citra bangsa di mata dunia. Keberhasilan pariwisata sangatlah ditentukan pada kualitas sumber daya manusia, khususnya tenaga profesional yang berhadapan langsung dengan wisatawan, dan salah satunya adalah tour leader,” tegasnya.

Menurutnya, tour leader tidak hanya memimpin perjalanan, tetapi juga bertanggung jawab pada pelayanan, keamanan, ketertiban, dan penyampaian informasi yang akurat.

“Seorang tour leader tidak hanya bertugas memimpin perjalanan wisata, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar memberikan pelayanan prima, mengelola perjalanan dengan aman dan tertib, menyampaikan informasi yang akurat, serta menjadi duta bangsa,” katanya.

Ririn menambahkan, pra-asesmen dirancang sebagai pembekalan komprehensif.

“Pra assesment berupa pelatihan ini bertujuan membekali peserta dengan pemahaman peran dan tanggung jawab seorang tour leader, mulai dari perencanaan perjalanan, teknik pelayanan, komunikasi, penanganan keluhan wisatawan,” ujarnya.

Kepala Bidang Pengembangan SDM Dispar Kaltim, Dahlia, menjelaskan tahapan kegiatan meliputi penyegaran materi dan uji sertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pramindo dari Jakarta.

“Pra-asesmen dari tanggal 11 sampai 12 untuk penyegaran materi. Tanggal 13 langsung asesmen atau uji sertifikasi. LSP-nya hanya satu untuk pramuwisata, yaitu Pramindo,” jelasnya.

Peserta diseleksi berdasarkan pengalaman dan rekomendasi organisasi profesi.

“Kami sudah menyeleksi berdasarkan CV. Peserta sudah berpengalaman dan semua anggota HPI. Rekomendasinya dari HPI kabupaten/kota,” katanya.

Ia menegaskan sertifikat akan meningkatkan daya saing.

“Sudah pasti menambah nilai jual. Travel agent biasanya minta tour leader yang sudah tersertifikasi.”

Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kaltim, Awang Jumri, mengatakan materi mengacu SKKNI Kepmenaker Nomor 221 Tahun 2023 dengan 33 unit kompetensi.

“Kami membedah tiga SKKNI penting, yaitu pengembangan informasi destinasi wisata, menangani keluhan selama tur, dan membuat laporan,” ujarnya.

Ia menegaskan peran tour leader sangat krusial.

“Jangan sampai tamu merasa tidak nyaman. Tour leader harus andal karena dia pemimpin perjalanan dan wakil dari travel,” kata Awang.

Menurutnya, banyak peserta telah berpengalaman membawa rombongan hingga ke luar negeri, termasuk perjalanan religi dan negara-negara Barat. Kegiatan ini diharapkan melahirkan tour leader Kaltim yang profesional dan berstandar nasional. (yud)

Bogor dan Cara Menikmati Hujan Tanpa Terburu-buru

February 5, 2026 by  
Filed under Wisata

Bogor — Hujan bukan hal asing bagi Bogor. Kota yang lekat dengan julukan Kota Hujan ini justru menjadikan rintik sebagai bagian dari keseharian. Alih-alih dianggap penghalang aktivitas, hujan di Bogor kerap dinikmati sebagai ritme yang mengajak orang berjalan lebih pelan.

Julukan Kota Hujan bukan sekadar ungkapan puitis. Secara geografis, Bogor berada di kaki Gunung Salak dan Gunung Gede-Pangrango, kawasan yang memicu fenomena orographic rainfall atau hujan pegunungan. Uap air yang terbawa angin dari Laut Jawa terangkat ketika melewati pegunungan, lalu mengembun dan jatuh sebagai hujan. Kondisi ini membuat curah hujan di Bogor termasuk yang tertinggi di Indonesia, dengan hari hujan yang bisa terjadi lebih dari 300 hari dalam setahun.

Letak geografis tersebut membentuk pola hidup masyarakatnya. Aktivitas tidak selalu dihentikan saat hujan turun, melainkan disesuaikan. Payung, jas hujan, dan langkah yang lebih santai menjadi pemandangan biasa di sudut-sudut kota. Hujan seolah sudah menjadi kesepakatan diam-diam antara alam dan warganya.

Di Bogor, hujan sering kali menjadi alasan untuk berhenti sejenak. Warung kopi, kedai sederhana, hingga teras rumah berubah menjadi ruang singgah. Orang-orang duduk, berbincang, atau sekadar memandang jalan yang basah. Tidak ada keharusan untuk segera pergi. Waktu seolah diberi ruang untuk menunggu.

Bagi Intan, hujan di Bogor justru menghadirkan ketenangan tersendiri.
“Kalau hujan di Bogor, rasanya kayak diingatkan buat nggak buru-buru,” ujarnya. Menurut Intan, suasana hujan membuat aktivitas sederhana terasa lebih bermakna. “Duduk, minum hangat, terus ngobrol. Itu sudah cukup,” katanya.

Kebiasaan menikmati hujan juga tercermin dari kuliner yang banyak dicari saat cuaca dingin. Makanan berkuah hangat, gorengan, hingga minuman tradisional menjadi teman setia hujan. Bukan sekadar menghangatkan tubuh, tetapi juga menciptakan suasana kebersamaan yang lahir secara alami.

Hujan turut memengaruhi wajah kota. Pepohonan tampak lebih hijau, udara terasa lebih segar, dan aroma tanah basah sering menghadirkan nostalgia. Tak sedikit orang yang justru mengenal Bogor dari hujannya sebuah ciri yang membedakan kota ini dari daerah lain.

Tasikmalaya, Kota Tenang yang Menawarkan Wisata Alam Tanpa Riuh

February 5, 2026 by  
Filed under Wisata

Tasikmalaya – Di tengah tren wisata yang identik dengan keramaian dan hiruk pikuk, Tasikmalaya hadir sebagai pilihan berbeda. Kota dan kabupaten di wilayah selatan Jawa Barat ini menawarkan wisata alam yang tenang, jauh dari kesan ramai, sekaligus memberi ruang bagi pengunjung untuk bernapas lebih pelan.

Tasikmalaya dikenal memiliki bentang alam yang beragam. Dari pegunungan, sawah, sungai, hingga pantai di wilayah selatan, semua hadir dengan karakter yang masih alami. Banyak destinasi belum tersentuh komersialisasi berlebihan, sehingga suasana hening dan kedekatan dengan alam tetap terjaga.

Beberapa lokasi seperti kawasan perbukitan di kaki Gunung Galunggung, aliran sungai jernih, hingga pantai-pantai selatan Tasikmalaya kerap menjadi tujuan wisatawan yang mencari ketenangan. Di tempat-tempat ini, suara angin, air, dan langkah kaki lebih dominan dibandingkan bising kendaraan atau keramaian manusia.

Bagi Syifa, perempuan yang sudah lama tinggal di Tasikmalaya, ketenangan justru menjadi daya tarik utama daerahnya.
“Wisata di Tasik itu nggak bikin capek. Kita bisa datang, duduk, lihat alam, terus pulang dengan perasaan lebih ringan,” ujarnya. Menurut Syifa, Tasikmalaya cocok bagi mereka yang ingin menikmati alam tanpa harus terburu-buru. “Nggak perlu ke mana-mana, cukup menikmati yang ada,” katanya.

Ia menilai karakter masyarakat Tasikmalaya yang cenderung tenang dan bersahaja turut memengaruhi pengalaman berwisata. Interaksi dengan warga lokal terasa hangat dan tidak dibuat-buat. Wisatawan sering disambut dengan senyum dan sikap ramah, menciptakan suasana yang nyaman.

Selain alam, Tasikmalaya juga menawarkan wisata berbasis kearifan lokal. Desa-desa wisata, persawahan, serta kawasan pedesaan menjadi alternatif bagi pengunjung yang ingin merasakan suasana hidup yang lebih sederhana. Aktivitas seperti berjalan kaki menyusuri kampung, menikmati senja, atau sekadar duduk di saung menjadi pengalaman yang justru dicari banyak orang.

Fakta menariknya, Tasikmalaya juga dikenal sebagai daerah dengan budaya religius yang kuat. Hal ini turut membentuk ritme kehidupan yang lebih tertib dan tenang. Banyak wisatawan mengaku merasa aman dan nyaman karena suasana yang kondusif dan jauh dari kesan gaduh.

Bogor dalam Sepiring Kenangan, Jejak Rasa Sunda di Kota Hujan

February 5, 2026 by  
Filed under Wisata

Bogor – Bogor kerap dikenang sebagai kota hujan, kota dengan udara sejuk dan ritme hidup yang cenderung pelan. Namun bagi banyak orang, Bogor juga hidup dalam sepiring makanan. Di balik kabut dan rintik hujan, jejak rasa Sunda bertahan sebagai bagian dari ingatan kolektif warganya.

Kuliner khas Sunda di Bogor tumbuh dari kedekatan masyarakat dengan alam. Bahan-bahan segar seperti sayuran, ikan air tawar, dan hasil kebun menjadi fondasi utama. Olahannya sederhana, tidak berlebihan bumbu, namun kuat dalam rasa. Dari situlah muncul hidangan-hidangan yang tak hanya mengenyangkan, tetapi juga menghadirkan rasa pulang.

Menu seperti nasi timbel, pepes ikan, sayur asem, hingga sambal dadak menjadi wajah keseharian kuliner Bogor. Lalapan segar hampir selalu hadir, menegaskan kebiasaan masyarakat Sunda yang akrab dengan alam dan kesegaran bahan pangan. Cara makannya pun sering kali bersifat komunal, dimakan bersama dalam suasana santai.

Bagi Intan, perempuan Sunda yang kerap singgah di Bogor, makanan-makanan tersebut menyimpan kenangan personal.

“Kalau makan makanan Sunda di Bogor, rasanya beda. Ada suasana yang ikut yang tidak bisa dijelaskan,” ujarnya. Menurut Intan, hujan dan udara sejuk membuat pengalaman makan menjadi lebih bermakna. “Sederhana, tapi bikin tenang,” katanya.

Ia menilai kuliner Sunda di Bogor tidak bisa dilepaskan dari suasana kotanya. “Bogor itu pelan. Makanannya juga ngajarin kita buat nggak buru-buru,” ucapnya. Intan menyebut, banyak kenangan tentang obrolan panjang, tawa, dan kebersamaan yang tercipta justru saat duduk mengelilingi satu meja makan sederhana.

Selain makanan utama, Bogor juga dikenal dengan jajanan khas yang melekat dalam ingatan banyak orang. Asinan Bogor dengan rasa segar-asam, talas olahan, hingga berbagai kudapan berbahan singkong menjadi bagian dari perjalanan rasa kota ini. Jajanan tersebut kerap dijumpai di sudut-sudut kota, pasar tradisional, hingga pinggir jalan.

Fakta menariknya, kuliner Sunda di Bogor tidak hanya bertahan sebagai tradisi lama, tetapi juga terus beradaptasi. Banyak warung dan rumah makan yang tetap mempertahankan resep turun-temurun, meski berada di tengah kota yang terus berkembang. Di sanalah identitas rasa dijaga, meski zaman berubah. (*)

Dispar Kaltim Hadirkan Wadah Ekspresi dan Kolaborasi Anak Muda

January 25, 2026 by  
Filed under Wisata

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispar Kaltim, Awang Khalik

SAMARINDA – Upaya mendorong kreativitas dan kolaborasi generasi muda terus diperkuat Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kalimantan Timur melalui gelaran Ruang Akhir Pekan, sebuah ruang ekspresi lintas komunitas yang berlangsung selama tiga hari, 23–25 Januari 2026, di Temindung Creative Hub, kawasan Bandara Temindung, Kecamatan Sungai Pinang. Kegiatan ini dibuka, Jumat (23/1/26) malam.

Ruang Akhir Pekan dirancang sebagai ajang kolaborasi lintas komunitas dengan memadukan unsur tradisional, modern, dan seni kontemporer. Beragam aktivitas disuguhkan, mulai dari kompetisi gim Mobile Legends, pemutaran film, pertunjukan tari kontemporer, bazar tematik, lomba mewarnai, hingga penampilan musik, baca puisi, gelar wicara, senam zumba, line dance, dan monolog.

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispar Kaltim, Awang Khalik, menjelaskan, kegiatan ini diinisiasi sebagai ruang berkelanjutan bagi para pelaku ekonomi kreatif, khususnya komunitas seni dan anak muda.

“Sebenarnya Ruang Akhir Pekan ini kita inisiasi untuk teman-teman pelaku ekonomi kreatif. Waktu akhir tahun kemarin kami berkumpul dengan komunitas ‘Seraung’, yang isinya lintas sektor, mulai dari seni pertunjukan, film, musik, game developer, wastra, hingga kriya. Harapannya, setiap bulan kegiatan mereka tidak terputus,” ujarnya.

Ia menyebutkan, Dispar Kaltim memberikan ruang seluas-luasnya kepada komunitas agar berkegiatan, termasuk dukungan fasilitas tanpa pungutan biaya, namun tetap melalui proses kurasi. Pada hari pembukaan, agenda difokuskan pada seni pertunjukan dan pemutaran film yang melibatkan sejumlah komunitas dan seniman lokal.

“Ini ruang apresiasi untuk mereka. Audiens yang kita bidik memang anak-anak muda, pelajar SMA, SMK, hingga mahasiswa. Harapannya, mereka tidak hanya berkumpul, tapi berdiskusi, berproses, lalu melahirkan karya dan produksi baru,” jelasnya.

Menurutnya, Ruang Akhir Pekan juga dirancang sebagai wadah penguatan jejaring dan inkubasi ide kreatif. Para pelaku yang sudah mapan diharapkan dapat berbagi pengalaman dengan komunitas yang masih berkembang, termasuk membuka peluang pasar yang lebih luas.

“Ke depan, karya-karya ini diharapkan punya kualitas dan nilai ekonomi. Dari hobi bisa menghasilkan cuan. Ini salah satu ruangnya,” tambahnya.

Ia menegaskan, Ruang Akhir Pekan akan menjadi agenda rutin yang digelar setiap bulan. Bahkan, pada Februari hingga Maret mendatang, Dispar Kaltim berencana menghadirkan Pasar Raya Kreatif Ramadan yang juga melibatkan komunitas ekonomi kreatif di Kalimantan Timur.

“Ini yang pertama, sebagai pembuka awal tahun. Ke depan akan terus berlanjut. Temindung Creative Hub kami dorong menjadi wahana baru untuk transformasi karya dan produksi kreatif anak-anak muda Kaltim,” pungkasnya. (yud)

Next Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1452845
    Users Today : 4859
    Users Yesterday : 3617
    This Year : 389355
    Total Users : 1452845
    Total views : 12808716
    Who's Online : 65
    Your IP Address : 216.73.216.167
    Server Time : 2026-03-09