Festival Nasi Bekepor Seribu Kenceng

June 28, 2024 by  
Filed under Wisata

TENGGARONG– Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) menggelar Festival Cerau Nasi Bekepor Seribu Kenceng, Rabu (26/6/24) di Halaman Kampus Unikarta.

Nasi Bekepor adalah hidangan khas Kutai mirip nasi liwet dengan proses memasaknya memakai kayu bakar atau arang, sehingga aroma masakan ini sungguh menggoda dan khas. Nasi bekepor biasanya dicampur dengan ikan dan rempah-rempah dan dihidangkan langsung dari kenceng (tempat memasak mirip panci bulat).

Acara dibuka Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kutai Kartanegara (Kukar) Akhmad Taufik Hidayat ditandai menyalakan api tungku memakai obor.

Panitia kegiatan itu Fatima Ila mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang berpartisipasi mensukseskan kegiatan itu yakni sejumlah OPD Pemkab Kukar. Ia berharap kegiatan ini kedepannya lebih baik lagi dan menjadi agenda tahunan.

Sementara, Pemkab Kukar melalui Asisten I menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, khususnya kepada Civitas Akademika Unikarta yang telah banyak membantu Pemkab, baik sumbangsih pemikiran, kajian, dan kegiatan yang dalam rangka pembangunan dan pelestarian budaya di Kukar salah satunya kegiatan seperti ini.

Dikatakan, Kukar memiliki keanekaragaman budaya dan kuliner khas, penyelenggaraan kegiatan seperti ini, tentunya menjadi bagian dari upaya pembinaan dan pelestarian adat budaya daerah.

“Harapan Saya, kegiatan seperti ini bukan hanya sebagai upaya pelestarian budaya, akan tetapi bisa kita kembangkan menjadi “Atraksi” Daya Tarik Wisata bagi wisatawan yang akan datang di Kukar,” ujar Akhmad Taufik menyampaikan sambutan Bupati Edi Damansyah.

Menurutnya, di tengah perkembangan zaman yang cepat ini, banyak sekali adat dan budaya yang bisa menjadi terlupakan oleh generasi yang akan datang.  Festival Nasi Bekepor ini, diharapkan dapat membantu Pemkab untuk menjadi promotor dalam melestarikan seni, budaya dan adat tradisi Kutai Kartanegara dikalangan generasi muda.

Ia kemudian mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama merumuskan langkah kreatif dan nyata, untuk menjadikan budaya sebagai marwah dari perilaku kehidupan sehari-hari.

“Jaga dan lestarikan budaya guna mewujudkan Kukar menjadi daerah yang berbudaya, serta menjadi daerah yang maju, mandiri, sejahtera dan berkeadilan, dengan mengambil peran kita masing-masing guna terciptanya sinergi yang baik antara pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat dan pelaku usaha,” demikian pesannya.

Hadir pada acara itu dari sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kukar, jajaran Rektorat Unikarta, Dekan Fisip Unikarta, Ketua SEMPEKAT Keroan Kutai, dan para mahasiswa. Serta juga diikuti masyarakat umum. (kk04)

Bangun Bumi Perkemahan, Desa Muara Ritan Berharap Jadi Desa Wisata

May 11, 2024 by  
Filed under Wisata

SAMBOJA – Desa Muara Ritan berharap dapat menjadi desa wisata pada tahun 2025 mendatang. Salah satu upaya yang saat ini dilakukan yaitu membangun Bumi Perkemahan Karangan dan terus mengembangkan potensi wisata yang ada.

Salah satu upaya Desa Muara Ritan memaksimalkan pengelolaan dan pengembangan destinasi wisata adalah dengan membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesona Belayan, yang kini hanya tinggal menunggu surat keputusan (SK) dari kabupaten.

Tak hanya itu, Pemdes pun bakal menggandeng tim ahli atau arsitektur untuk merancang desain pembangunan yang cocok dan menarik di kawasan wisata Bumi Perkemahan Karangan.

“Kita akan meminta bantuan tim ahli untuk mendesain proyek pembangunan di sana seperti apa, dan harapannya di 2025 kita bisa mulai pembangunan,” kata Kades Muara Ritan, Ardy Maroni, Jumat (10/5/2024).

Dijelaskan Ardy, dalam menarik pengunjung datang ke desanya yang berada di hulu Kutai Kartanegara, salah satu konsennya yaitu menyiapkan infrastruktur dasar di kawasan wisata. Kemudian membuat homestay di rumah warga sebagai sarana penunjang desa wisata.

“Karena di Desa Muara Ritan belum ada spesifik homestay. Makanya kami dorong dulu tahun ini,” sambungnya.

Desa Muara Ritan juga berkolaborasi dengan perusahaan setempat dalam mendukung dan membantu pengembangan potensi wisatanya. Perusahaan pun menyambut baik rencana tersebut dan siap membantu kebutuhan yang diperlukan.

“Hanya tinggal menunggu konsep apa yang akan dilakukan oleh desa, jadi nanti mereka tinggal support mengenai apa yang kita butuhkan,” kuncinya. (ADV/Diskominfo Kukar)

Netas Garapan Kemenparekraf dan Komisi X DPR Dukung Komunitas sebagai ‘Local Hero Parekraf’

April 29, 2024 by  
Filed under Wisata

JAKARTA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf RI) mengumumkan penyelenggaraan acara Netas (Nemuin Komunitas) yang akan diadakan di Balikpapan pada tanggal 1 Mei 2024. Acara kolaboratif ini merupakan kegiatan diskusi dengan para pegiat pariwisata dan pelaku ekonomi kreatif yang rencananya akan dihadiri langsung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Uno. Kegiatan ini bertujuan untuk menyerap masukan terkait pemajuan pariwisata di Kalimantan Timur.

Acara Netas tahun ini menjadi istimewa dengan adanya kolaborasi strategis antara Kemenparekraf RI dan Hetifah Sjaifudian, Wakil Ketua Komisi X DPR RI yang menandai komitmen bersama dalam menguatkan sektor parekraf melalui pemberdayaan komunitas lokal, untuk mengangkat serta memberdayakan komunitas lokal sebagai pionir juga pahlawan pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata di Indonesia.

Hetifah Sjaifudian yang juga Waketum Partai Golkar, menyatakan dukungan pihaknya terhadap acara ini. Hetifah menilai spot wisata daerah ini sangat potensial dikembangkan, sehingga perlu  perhatian besar dalam  pengembangannya. Termasuk dalam potensi pariwisata ekonomi kreatifnya.

“Ini adalah kesempatan emas bagi komunitas lokal untuk memperlihatkan kapasitas mereka sebagai motor penggerak pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah masing-masing,” ujar Hetifah.

Kemenparekraf RI telah menyiapkan serangkaian kegiatan dalam acara ini yang mencakup workshop, diskusi panel dan pameran karya serta penampilan dari komunitas lokal yang telah berhasil menunjukkan inovasi serta kreativitas dalam bidang parekraf. Acara ini diharapkan akan menjadi platform pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara komunitas dari berbagai wilayah di Kalimantan Timur.

Hetifah dalam keterangannya menegaskan, bahwa kegiatan yang akan dilaksanakan ini merupakan kunci dalam menciptakan ekosistem yang mendukung  komunitas lokal pelaku parekraf di Kaltim.

“Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran serta komunitas sebagai pahlawan lokal dalam memajukan ekonomi kreatif, sekaligus memperkuat identitas pariwisata Kaltim, apalagi di Kaltim akan ada Ibu Kota Nusantara kedepannya,” ungkap Hetifah.

Kegiatan ini juga rencananya akan melibatkan para ahli dan praktisi dari sektor parekraf. Tenaga ahli sektor ini akan memberikan wawasan serta strategi dalam mengembangkan dan mempromosikan produk lokal ke kancah yang lebih luas. Diharapkan, acara ini dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi komunitas lokal lainnya untuk berkembang dan berinovasi.

Acara Netas juga akan dihadiri oleh stakeholder penting dalam bidang parekraf termasuk pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi dan media. Pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah.

“Acara Netas ini tidak hanya menjadi wadah perayaan keberhasilan komunitas lokal, tetapi juga sebagai langkah maju dalam mengukir sejarah baru sektor parekraf Indonesia. Ini juga menjadi kesempatan buat saya selaku perwakilan Kaltim di Senayan untuk menyerap aspirasi dan masukan dari para komunitas pelaku parekraf di Kaltim,” tutup Hetifah.

Politisi partai beringin tersebut juga mengundang seluruh media dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam acara ini, baik secara langsung maupun melalui kanal digital yang akan disediakan. (ni)

Grebek Kupat Hidupkan Tradisi dan Kearifan Lokal di Kota Wisata Batu

April 17, 2024 by  
Filed under Wisata

BATU – Kota Wisata Batu menyelenggarakan acara Grebek Kupat sebagai bagian dari perayaan tradisional yang kaya akan makna, berlangsung di Alun- Alun Batu, Rabu sore ( 17/4/2024 ).

Acara gelaran perdana ini  digagas Dinas Pariwisata Batu dan didukung pelaku wisata yang ada. Salah satu elemen yang mencolok dari perayaan ini adalah gunungan setinggi 2 meter yang dibuat dari kupat matang. Gunungan tersebut tidak hanya menjadi simbol keberlimpahan hasil bumi, tetapi juga mencerminkan keberagaman budaya dan kekayaan tradisi lokal.

Gunungan Kupat, dibuat dengan teliti oleh para ahli pembuat kupat.  Gunungan tersebut merupakan karya seni yang memukau. Ditaruh di atas mobil hias, gunungan tersebut menjadi pusat perhatian saat diarak melalui jalanan dari rumah Dinas PJ. Walikota Batu menuju Alun- Alun Kota Batu.

Di belakangnya, terdapat pula gunungan kecil yang dibuat dari berbagai buah-buahan seperti tomat, apel, wortel, dan jeruk. Buah-buahan ini bukan hanya sekadar hiasan, tetapi juga merupakan representasi nyata dari hasil bumi yang melimpah di Kota Wisata Batu.

Tomat, dengan warna merah cerahnya, melambangkan semangat dan keberanian untuk berinovasi dalam mengembangkan pariwisata daerah. Apel, dengan rasa manisnya, menggambarkan keramahan dan kehangatan masyarakat Batu dalam menyambut para wisatawan.

Wortel, yang kaya akan nutrisi, mencerminkan komitmen untuk menjaga keberlangsungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan jeruk, dengan keasamannya yang menyegarkan, mengingatkan akan pentingnya mempertahankan tradisi dan nilai-nilai budaya dalam menghadapi arus globalisasi.

Kepala Dinas Pariwisata Arief As Sidiq,  ketua Panitia dalam laporannya menyebutkan melalui Grebek Kupat, masyarakat Kota Wisata Batu tidak hanya merayakan keberagaman dan kekayaan alam, tetapi juga menghormati warisan leluhur serta menjaga kelestarian lingkungan.

“Acara ini akan dilangsungkan setiap tahun sebagai agenda rutin setiap memperingati hari lebaran ketujuh atau lebaran ketupat. Tentu akan melibatkan semua komponen masyarakat ” ungkap Arief.

Disebutkan, acara ini menjadi momentum untuk memperkuat rasa kebersamaan dan identitas lokal, sambil tetap terbuka untuk merangkul perubahan dan kemajuan.

Grebek Kupat bukan hanya sekadar acara tahunan, tetapi sebuah perayaan yang menghidupkan tradisi dan kearifan lokal yang tak ternilai harganya.

Sekretaris Daerah yang mewakili PJ.Walikota Batu, Zadim Effisiensi mengapresiasi gagasan menggelar Grebek Kupat sebagai upaya uri-uri budaya. Diharapkan acara budaya ini terus dikembangkan dengan melibatlan semua komponen masyarakat dan dengan persiapan yang matang.

“Acara ini menarik dan sebagai upaya melestarikan atau uri- uri.budaya kearifan lokal. Saya berharap lebih banyak lagi masyarakat yang terlibat sehingga menjadi daya taril wisata ” tandas Zadim.

Grebek kupat berhasil mengundang warga dari berbagai lapisan masyarakat untuk merayakan keberagaman budaya yang dimiliki Kota Batu.

Kupat tumpeng, hidangan khas Jawa Timur yang identik dengan momen-momen spesial, menjadi pusat perhatian dalam acara tersebut.

Dengan paduan rasa yang kaya dan aroma yang menggugah selera, hidangan ini tidak hanya mengundang decak kagum dari para peserta, tetapi juga menyatukan mereka dalam kebersamaan dan kegembiraan.

Grebek Kupat Tumpeng Syawalan” juga menampilkan beragam pertunjukan seni dan budaya lokal. Mulai dari drum band,  musik daerah, hingga prosesi adat Jawa dan doa-doanya ( ujub ).

Yang menarik dalam acara Grebek Kupat adalah rebutan Gunungan Kupat maupun gunungan buah- buahan.

Usai sang Kyai membacakan doa bahkan doa belum selesai masyarakat yang sejak siang berkumpul di Alun- Alun sudah tak sabar lagi, langsung merebut gunungan, suasana jadi ribut saling rebutan.

Khusnul warga asal Kalimantan sedang berlibur menyebutkan dia berebut gunungan buah dan sayur karena ini mendapat berkah dari acara ini dan ungkapan kegembiraan.

“Senang sekali dan saya ingin mendapatkan berkah dari membawh hasil pertanian ini ” ungkapnya sambil membopong hasil rebutannya.

Dalam keramaian di Alun-Alun Kota Batu, berbagai suku, agama, dan budaya berkumpul dalam semangat persaudaraan, mengukuhkan komitmen untuk menjaga harmoni dan toleransi di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

Rebutan gunungan Kupat dan Buah-buahan menjadi simbol kebersamaan dan keberkahan dalam hidup.

Rebutan Gunungan Kupat dan Buah-buahan bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga representasi dari kearifan lokal dan kebersamaan masyarakat.Tradisi ini telah mengikat generasi-generasi dalam sebuah ikatan yang kuat. Oleh karena itu, penting  untuk terus menjaga dan merayakan warisan budaya ini sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan sebagai bangsa.

Melalui “Grebek Kupat Tumpeng Syawalan perdana”, Kota Batu membuktikan dirinya sebagai pusat kegiatan budaya yang bersemangat dan inklusif. (Buang Supeno).

Wisatawan Ke Pusat Wisata Petik Strawberry Naik 40 Persen

April 16, 2024 by  
Filed under Wisata

BATU – Lonjakan  jumlah wisatawan yang berkunjung ke Destinasi Pusat Wisata Petik Strawberry di Kebun Lumbung Strawberry, Desa Pandanrejo kecamatan Bumiaji Batu  Selama liburan lebaran Idhul Fitri 1445 H sangat menakjubkan. Betapa tidak, kenaikannya mencapai 40 persen.

Andre Irawan, penanggung jawab Kebun Lumbung Strawberry, mengungkapkan jumlah wisatawan yang memanen strawberry mencapai angka 5.600 orang selama liburan Idul Fitri.

Menurut Andre, peningkatan ini 40 persen dari bulan sebelumnya, menunjukkan antusiasme masyarakat yang terus meningkat terhadap destinasi ini. “Keberhasilan destinasi ini dalam menarik ribuan pengunjung seiring berjalannya waktu menjadi indikasi positif atas keberlanjutan dan popularitas Pusat Wisata Petik Strawberry di Kebun Lumbung Strawberry,” ungkapnya, Senin ( 15/4/2024 ).

Paket wisata petik strawberry yang ditawarkan dengan harga terjangkau, hanya Rp 25 ribu per orang, telah menjadi daya tarik utama. Paket ini tidak hanya menawarkan pengalaman unik dalam petik buah, tetapi juga memberikan hadiah menarik berupa 3 buah strawberry dan segelas juice strawberry segar. Pengunjung juga dapat membawa pulang hasil petikannya dengan harga yang sangat terjangkau, per onsnya hanya Rp 6 ribu, atau satu kilogram seharga Rp 60 ribu.

Namun, tantangan yang dihadapi adalah dampak dari perubahan cuaca, terutama hujan dengan intensitas tinggi, yang mengakibatkan produksi buah strawberry menjadi terganggu. Produksi rata-rata harian mencapai 70-80 Kg, namun untuk mengatasi kelebihan produksi, sebagian hasil dijual melalui platform online.

Menjelang liburan Idhul Fitri, permintaan olahan sari strawberry juga meningkat drastis. Kelompok wanita tani (KWT) diharuskan memproduksi 500-800 karton untuk memenuhi permintaan warga Batu saja.

“Permintaan Sari Strawberry 500 – 800 karton, habis untuk memenuhi permintaan konsumen warga Batu saja guna keperluan lebaran,“ lanjutnya.

Wisatawan yang datang dari berbagai daerah, bahkan luar Jawa, menunjukkan daya tarik yang dimiliki destinasi ini. Mereka datang untuk menikmati sensasi petik strawberry langsung dari kebunnya. Seperti yang disampaikan Pundika dari Balikpapan, yang menyebut pengalaman ini sebagai sesuatu yang luar biasa

“Kegembiraan tak ternilai ketika kita turun ke kebun, apalagi  mulai memetik strawberry perasaan puas dan gembira, seakan petik kebun sendiri. Bisa kesana kemari sambil berselfi, “ ungkap Pundika asal Balikpapan ini.

Demikian pula dengan  Lusi dan dodys pasangan muda dari Surabaya ini, dia tertarik ke Lumbung Strawberry setelah melihat istagram. “ senang disaat metik strawberry,ini merupakan pengalaman pertama dating ke Batu dan menikmati wisata petik strawberry. Pokoknya seru dan bisa berselfie, murah lagi “ tandas Lusi.

Dengan paket wisata petik strawberry , pengunjung tidak hanya menikmati suasana alam yang segar dan kegembiraan petik buah langsung dari pohon strawberry, tetapi juga membawa pulang hasil petikan mereka dengan harga yang sangat terjangkau. Moment ini menjadi sesuatu bagi wisatawan yang  merasakan langsung kelezatan buah strawberry segar dan alami dari kebun yang subur dan indah.

Destinasi ini tidak hanya menawarkan pengalaman alam yang segar dan kegembiraan dalam petik buah langsung dari pohon strawberry, tetapi juga menjadi pusat ekonomi lokal yang memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat setempat.

Diresmikan pada bulan Desember 2019, Lumbung Strawberry dengan luas lahan 2,3 hektar melibatkan 45 petani dari kampung Pandan. Selain menjadi tempat berpetik, destinasi ini juga menjadi simbol keberhasilan dalam mengembangkan pariwisata di Kota Batu. (Buang Supeno)

« Previous PageNext Page »

  • vb