KONI Kaltim: Muara Belajar yang Paripurna

March 31, 2026 by  
Filed under Opini

​Oleh: Rusdiansyah Aras

​Perjalanan waktu sering kali melaju lebih cepat dari yang kita duga. Tidak terasa, sudah empat tahun dua bulan saya mengemban amanah sebagai nakhoda di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur. Bagi saya, gedung ini bukan sekadar kantor organisasi, melainkan sebuah tempat belajar yang paripurna.

Rusdiansyah Aras

​Dunia media adalah akar saya. Sejak memulai karier sebagai jurnalis pada Januari 1988 di SKH Manuntung—yang kini bertransformasi menjadi Kaltim Post—hingga dipercaya menjadi Direktur selama 17 tahun, saya mengira telah melihat segalanya tentang kepemimpinan.

Namun, KONI Kaltim memberikan dimensi baru dalam hidup saya.
​Mengelola olahraga di Bumi Etam ibarat menakhodai kapal besar dengan awak kapal (ABK) yang memiliki latar belakang yang sangat beragam.

Di sini, saya bertemu dengan kawan-kawan pengurus yang multi-talenta, dengan karakter dan ego sektoral yang berbeda-beda. Namun, berkat pengalaman panjang di dunia pers, saya belajar untuk memahami setiap frekuensi tersebut.

​Meski latar belakang kita berbeda, kapal ini tetap melaju lurus karena satu kompas yang sama: Membawa prestasi olahraga Kalimantan Timur menjadi yang terbaik di luar Pulau Jawa.

​Kita patut bersyukur, di tengah dinamika yang ada, semangat kebersamaan itulah yang membuat Kaltim tetap disegani di kancah nasional. Saya merasa bangga dan terhormat bisa berada di tengah-tengah kawan-kawan yang super hebat—para patriot olahraga yang mewakafkan waktu dan pikirannya demi martabat daerah.

​Namun, sebagai manusia biasa, saya menyadari bahwa dalam masa kepemimpinan ini, tentu ada “salah langkah” yang saya ambil. Ada ucapan yang mungkin menyinggung, ada laku yang kurang berkenan, serta kebijakan yang mungkin tidak memuaskan semua pihak. Dari hati yang paling dalam, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekhilafan tersebut.

​Jabatan ada batasnya, namun dedikasi tidak mengenal titik henti. Saya mungkin akan menepi dari kursi pimpinan, tetapi identitas saya tidak akan berubah: Saya adalah seorang jurnalis dan saya adalah pelaku olahraga hingga akhir hayat.

​Terima kasih kepada seluruh unsur pimpinan KONI Kaltim, para Ketua dan Wakil Ketua Bidang, serta seluruh anggota pengurus yang telah bahu-membahu selama ini.
​Teruslah melaju, teruslah berprestasi. Salam hormat saya untuk kalian semua.

​Samarinda, Maret 2026

Pak Gub, Ingat Unmul Dong!

March 31, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

UNIVERSITAS MULAWARMAN (UNMUL) itu memang hebat. Tiga gubernur Kaltim terakhir semuanya orang Unmul. Mereka adalah Prof Dr Awang Faroek Ishak, Dr Isran Noor dan Dr H Rudy Mas’ud (HARUM).

Mantan Gubernur Kaltara, Dr Irianto Lambrie, yang sekarang menjadi Ketua Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) Kaltim juga dari Unmul. Sejumlah wali kota dan bupati di Kaltim juga alumni Unmul.

Itu menunjukkan bahwa Unmul bukan universitas kaleng-kaleng. Bisa mencetak pemimpin daerah yang andal. Tidak saja di jabatan pemerintahan tapi juga di berbagi lembaga. Saya bersyukur juga menjadi alumnus Unmul dan sekarang dipercaya teman-teman menjadi Ketua Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Ekonomi & Bisnis (FEB).

Pidato Dr Rudy Mas’ud sebagai Gubernur Kaltim pada acara wisuda Unmul di GOR 27 September, Kampus Gunung Kelua, Sabtu, 12 April 2025.

Hasil pengukuran dan pencatatan Webometrics, Unmul konsisten masuk dalam daftar universitas terbaik di Indonesia, termasuk peringkat 36 dari ribuan perguruan tinggi di Tanah Air.

Unmul juga berhasil meraih akreditasi “Unggul” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi  (BAN-PT), yang menempatkannya dalam jajaran 5 persen perguruan tinggi terbaik  di Indonesia.

Akreditasi unggul itu adalah peringkat tertinggi dalam sistem akreditasi perguruan tinggi/prodi di Indonesia yang ditetapkan BAN-PT. Predikat ini menunjukkan kualitas Unmul luar biasa, memenuhi 9 standar evaluasi dan inovatif.

Laporan Rektor menyebutkan, 30 program studi di Unmul telah meraih predikat unggul, sementara 7 lainnya telah terakreditasi secara internasional.

Unmul diakui sebagai salah satu universitas teratas di Pulau Kalimantan dengan jumlah mahasiswa terbanyak, yaitu mencapai sekitar 37 ribu orang. Tiap tahun Unmul tidak kurang menerima 6.000 mahasiswa baru.

Rektor Unmul Prof Abdunnur atau lengkapnya Prof Dr Ir H Abdunnur, M.Si, IPU, ASEAN.Eng dinobatkan sebagai salah satu dari “25 Tokoh Pilihan Kampus Indonesia 2025” oleh Majalah Kampus Indonesia. Abdunnur adalah putra daerah, kelahiran Bulungan, 7 Maret 1967. Dia rektor pertama alumnus Fakultas Pertanian Unmul.

Komitmen Awang Faroek dan Isran Noor terhadap Unmul sangat kuat. Baik dalam dukungan dana hibah dan program infrastruktur maupun penggunaan SDM Unmul. Banyak lulusan Unmul menjadi tulang punggung di jajaran Pemprov Kaltim. Awang Faroek pernah menjadi Pembantu Rektor (Purek) III dan Isran Noor sampai sekarang mengabdi sebagai Ketua Umum IKA Unmul.

Menjadi pertanyaan kita bagaimana dengan HARUM? Perlu kita ketahui, gelar kesarjanaan Rudy Mas’ud mulai S1, S2 atau magister sampai S3 atau doktor semuanya diraih di FEB Unmul. Jadi “darah sarjananya” full  dari kampus Unmul Gunung Kelua.

Hal yang sama juga dijalani kakak kandungnya, Hasanuddin Mas’ud (HAMAS) yang sekarang Ketua DPRD Kaltim. Dia meraih S1 di Fakultas Kehutanan, lalu S2 dan S3 di FEB. Begitu juga dengan Rahmad Mas’ud (RM) yang sekarang Wali Kota Balikpapan. Dia juga meraih S2 dan S3-nya di FEB Unmul. Sedang S1 Rahmad dari Universitas Tridharma (Untri) Balikpapan.

Saat meraih gelar S2 di FEB Unmul, anggota Bani Mas’ud malah berlima. Rekor menarik dan luar biasa. Selain HARUM, HAMAS dan RM, juga Hj Siti Aisyah Mas’ud dan Hj Yuliana Mas’ud. Saya belum tahu apakah Aisyah dan Yuli juga mengambil program S3.

TIGA KASUS MENONJOL

Saat ini ada 3 kasus menonjol yang membuat orang mempertanyakan komitmen atau kepedulian Gubernur HARUM dengan almamaternya.

Pertama, soal pengangkatan dua dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) Makassar, Dr Syahrir A Pasinringi sebagai Ketua Dewan Pengawas (Dewas) RSUD A Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda dan  Dr Fridawaty Rivai sebagai anggota Dewas  RSUD dr Kanujoso Balikpapan.

Kebijakan ini jadi sorotan baik dari DPRD maupun akademisi. Dekan FKM Unmul Prof Iwan Muhammad Ramdan menyayangkan karena ahli lokal sangat mampu dan lebih memahami karateristik masyarakat Kaltim. Jadi mengapa harus mengambil tenaga luar. Lagi pula FKM Unmul memiliki SDM dengan kualifikasi yang dibutuhkan.

Penunjukan Dr Syahrir yang akrab dipanggil Prof Cali (meski belum guru besar) dan Fridawaty disebut-sebut ada kaitan dengan peran Hijrah, adik Gubernur yang sekarang diangkat jadi Wakil Ketua Tim TAGUPP. Hijrah bersama suaminya, dr Ifransyah Fuadi dua tahun lalu mengambil program magister rumah sakit (MARS) di FKM Unhas. Gelar MARS sangat dibutuhkan Ifran, karena dia diangkat menjadi Direktur RSUD Beriman milik Pemkot Balikpapan.

Selain di Dewas, Prof Cali juga diangkat menjadi Koordinator Bidang SDM dan Kesejahteraan Rakyat di TAGUPP.  Jadi dia benar-benar sangat istimewa. Dapat honor “triple.” Honor di Ketua Dewas RSUD, honor di TAGUPP dan kabarnya juga dapat proyek pendampingan kesehatan Rp4,2 miliar.

Kedua, soal pembentukan TAGUPP. Dari sudut apapun pembentukan TAGUPP memang pantas dipersoalkan. Selain dinilai menabrak peringatan dan larangan Kemendagri, juga terkesan pemborosan dengan personal sangat gemuk. Bayangkan jumlahnya 43 orang. (47 orang dengan 4 tenaga pendamping).  Anggarannya menguras lebih Rp10 miliar dari kantong APBD. Honor tiap orang antara 20 sampai 45 juta rupiah per bulan. Dibayar surut sejak Januari, meski SK-nya terbit Februari. Ini juga semacam program “balas jasa” Gubernur kepada tim suksesnya. Banyak orang luar ditarik. Banyak yang bukan berkualifikasi “ahli.” Bayangan dari 8 anggota Dewan Penasihat, hanya satu dari Kaltim.  Hampir tidak ada akademisi murni dari Unmul.

Saya heran akademisi FEB Unmul sekelas Dr Adji Sofyan Effendi (ASE), yang juga Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Kaltim tak mendapat tempat di TAGUPP. Dia sempat ditarik di Tim Transisi, tapi kemudian disisihkan. Padahal dia menguasai konsep Transformasi Pembangunan Ekonomi Kaltim. Juga sejumlah ahli sosial dan lingkungan Unmul.

Gubernur sempat mengatakan kepada wartawan, pembentukan TAGUPP itu bukan “cost” melainkan investasi. Dia menjelaskan fungsi TAGUPP untuk mengawal dan memberi masukan terhadap rencana pembangunan Kaltim agar benar-benar mencapai sasaran.

Ketiga, soal rencana percepatan penggantian Dirut Bankaltimtara M Yamin. Dia alumnus FEB Unmul. Sama dengan Gubernur. Ayahnya Kharuddin Annas dulu adalah dosen di FEB. Yamin merintis karier bertahun-tahun di Bankaltimtara. Mulai dari bawah sampai ke jabatan puncak. IKA FEB Unmul segera mengirim surat ke Gubernur. Sepanjang tidak ada masalah teknis dan hukum yang sangat mendasar, IKA FEB meminta agar kebijakan mengganti M Yamin sebelum berakhir masa tugasnya (2028) dibatalkan atau ditunda.

Dalam keterangan terbaru kepada awak media, Senin (30/3), Gubernur mengatakan, pemilihan direksi dan komisaris Bankaltimtara melalui pansel. Siapa saja boleh mendaftar. “Jangan salahkan saya kalau tak ada putra daerah yang mendaftar. Ada yang mendaftar tapi gugur di seleksi Pansel,” jelasnya.

Apa yang menjadi alasan mempercepat penggantian Dirut? “Kalau saya buka nanti ribut, tapi okelah saya jelaskan beberapa alasan saja di antaranya,” kata Gubernur.

Pertama, di Kaltara terjadi tindak pidana korupsi. Itu yang harus Anda bunyikan. Orangnya ditahan. Uangnya Bankaltimtara atau uang rakyat Kaltim hilang ratusan miliar. “Masa mau dibiarin,” ungkap HARUM.

Kedua, kinerja Bankaltimtara di tahun 2024 dibanding 2025 turunnya 32 persen. (Mungkin maksud Gubernur kinerja tahun 2025 dibanding 2024).  Dalam APBD, kita masukkan penerimaan deviden dari Bankaltimtara  sebesar Rp338 miliar, tetapi yang dapat hanya Rp191 miliar. “Bagaimana mau kita pertahankan,” tandasnya.

Kabarnya Gubernur mau mengangkat Amri Mauraga, mantan Dirut Bank Sulselbar (Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat) sebagai pengganti Yamin. Dia sudah lulus tes OJK. Lalu HARUM akan mengganti Plt Komisaris Utama (Komut) Bankaltimtara Prof Eny Rochaida (guru besar FEB Unmul) dengan calonnya, Achmad Syamsuddin, mantan Dirut BPD Sumsel Babel (Sumatera Selatan dan Bangka Belitung).

Banyak pihak yang mempertanyakan kebijakan Gubernur yang kurang berpihak kepada SDM lokal atau daerah dengan beberapa kasus tadi. Ada alumnus yang mengingatkan dia. “Jangan terkesan hanya mencari gelarnya saja di Unmul.”

Malah mulai ada yang yang mempertanyakan bagaimana proses meraih gelar-gelarnya. Apalagi ada surat permintaan klarifikasi dari Inspektorat Jenderal Kemendiktisaintek kepada Rektor Unmul No 0815/E.E4/WS.01.01/2025 tertanggal 6 Oktober 2025. Isinya disebutkan: Berdasarkan pengaduan masyarakat, maka diperlukan klarifikasi adanya dugaan Ijazah S3 yang terindikasi tidak sah. Di situ disebutkan jabatannya (tidak beserta nama). Ada 4 jabatan termasuk Gubernur Kaltim, lalu ketua Dewan, wali kota dan bupati.

Ketika dikonfirmasi melalui WhatsApp (WA) kemarin, Rektor Unmul Prof Abdunnur menjelaskan, hasil klarifikasi melalui surat yang dibuat dan ditandatangani langsung oleh Kaprodi (Ketua Program Studi) S2 Ilmu Ekonomi FEB Unmul melalui aplikasi LAPOR, Kaprodi mengakui ada hal-hal yang tidak terpenuhi.

“Sekarang kami menunggu arahan tindaklanjut dari Irjen Kemendikti atas penjelasan yang telah diberikan Kaprodi.  Namun demikian secara paralel di internal universitas juga sedang melakukan proses evaluasi melalui Komisi Etika Akademik Senat Universitas Mulawarman terhadap case tersebut di atas, yang hasilnya nanti disampaikan ke pimpinan universitas sebagai pertimbangan dan rekomendasi untuk ditindaklanjuti. Terima kasih,” begitu jawab Rektor Abdunnur.(*)

Patah, Orang Dalam Bankaltimtara

March 23, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

HANYA menunggu waktu Direktur Utama Bankaltimtara segera diganti. Malah Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud (HARUM) terkesan sudah tak sabar. Bocoran dari RUPS terakhir sebelum lebaran begitu. Hanya Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang yang meminta prosesnya setelah lebaran saja.

Yamin dan Gubernur Rudy Mas’ud ketika menerima tropi TOP CEO BUMD 2025 dan TOP Pembina BUMD 2025.

Kursi Dirut Bankaltimtara saat ini diduduki Muhammad Yamin. Dia orang daerah, lulusan Fakultas Ekonomi Unmul dan lama berkarier di Bankaltimtara. Dia dilantik 11 September 2020 menjadi dirut ke-6 setelah Zainuddin Fanani. Sebenarnya masih dua tahun lagi masa jabatan Yamin di periode kedua ini (2024-2028), tapi Gubernur HARUM mewakili pemegang saham terbesar atau pemegang saham pengendali (PSP) dalam RUPS Tahun Buku 2025 meminta dilakukan percepatan penggantian.

Alasan penggantian M Yamin masih belum jelas. Ketua Komisi II DPRD Kaltim, Sabaruddin Panrecalle menyatakan pihaknya belum mendapat penjelasan resmi dari pemegang saham. “Kami Komisi II tidak dilibatkan dalam prosesnya. Bahkan kami baru mengetahui dari pemberitaan media,” katanya seperti ditulis SELASAR.CO.

Dalam RUPS lalu, Gubernur HARUM juga tidak menjelaskan secara rinci di balik percepatan penggantian dirut tersebut. “Banyak kepala daerah yang mewakili pemegang saham minoritas bertanya-tanya,” tulis NIAGA.ASIA.

Awan, founder SELASAR.CO membuat video berjudul: “Ada Utang di Balik Batu??” Judul itu dia kaitkan dengan penggantian Dirut Bankaltimtara. Saya tidak tahu apa maksudnya? Apa dia menyenggol kakak Gubernur yaitu Hasanuddin Mas’ud yang juga Ketua DPRD Kaltim. Kalau tidak salah Hasan masih punya sangkutan di atas Rp150 miliar di bank tersebut sejak 2010.

Calon pengganti Yamin ada dua. Yaitu Romy Wijayanto dan Amri Mauraga. Sudah lulus tes dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi tinggal dipilih oleh Gubernur sebagai penguasa PSP.

Amri pernah menjabat sebagai Dirut Bank Sulselbar (Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat), tapi mengundurkan diri dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Februari 2022. Alasannya tidak begitu jelas. Tapi pasti ada sesuatu sampai dia mundur.

Dalam catatan media, Amri dikenal akrab dengan mantan Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah. Bank Sulselbar yang dipimpinnya pernah memberikan bantuan Rp400 juta ke masjid milik sang gubernur di Kawasan Pucak Maros. Ketika Nurdin diadili dalam kasus korupsi infrastruktur, Amri  sempat ditarik sebagai saksi.

Sedang Romy datang dari Jakarta. Dia mantan Direktur Keuangan & Strategi Bank DKI. Sebagai bukti keandalannya, dia banyak meraih penghargaan. Di antaranya  Best Chief Financial Sustainability Through Inclusive Growth and Risk Management. Dia juga merupakan salah satu dari 20 Direktur Keuangan/Chief Financial Officer  (CFO) terbaik dari berbagai industri.

Selain Amri,  Romy menurut kabar juga sempat bermasalah. Dia juga keluar dari Bank DKI karena sesuatu. Hebatnya, keluar dari Banksulselbar dan Bank DKI, tapi bisa tembus alias ditampung di Bankaltimtara.

Karena itu, siapapun yang terpilih dari kedua calon ini, kita tidak “happy.” Kualitasnya mungkin oke, tapi ada sesuatu yang hilang.  Tradisi kepemimpinan di Bankaltimtara yang selama ini  selalu dari SDM lokal atau daerah akhirnya terpatahkan. Padahal itu yang kita banggakan, kualitas orang daerah tidak kalah dengan orang luar.

Sebelum Yamin, ada Zainuddin Fanani. Di belakangnya lagi ada Aminuddin. Mereka semuanya jadi Dirut dengan merintis karier bertahun-tahun di Bankaltimtara.  Jadi mereka tahu betul kondisi Kaltim dan Bankaltimtara. Darah mereka asli darah Kaltim. Darah Bankaltimtara.

Tapi Gubernur Rudy Mas’ud sepertinya punya interest lain. Meski dia sendiri lulusan Unmul sampai doktornya, tapi terkesan mengesampingkan sumber lokal. Yang penting sesuai hasratnya, meski harus “impor” pemimpin dari luar atau daerah tertentu. Mungkin ini termasuk konsepnya untuk menjaga “marwahnya” Kaltim.

Apa tidak ada calon dari Bankaltimtara? Ternyata ada, baik di pos Dirut maupun Komisaris Utama (Komut). Dia adalah Ivan Kusnandar, Pemimpin Divisi Pengelolaan Aset Tetap dan Ismunandar Azis, mantan Direktur Kredit. Tapi keduanya terlempar. Apakah di tahapan penilaian teknis atau karena unsur like and dislike dari PSP? Kita tidak tahu persis. Tapi nuansa itu terasa memang ada.

Calon Komut baru adalah Achmad Syamsuddin. Dia mantan Dirut BPD Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel Babel). Dia pernah menjadi Managing Director PT Bank Syariah Mandiri, Senior Vice President/Project Manager PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan Financial Technology for Syariah Segment including Consultancy & Education.

YAMIN TAHAN COVID

Yamin dilantik menjadi Dirut Bankaltimtara, 11 September 2020 di saat wabah Covid 19 merajalela. Semua orang tahu, saat itu sektor perekonomian ikut sakit berat termasuk industri perbankan.

Sudah urusan kantor yang mumet, Yamin juga ikut terpapar. “Sepulang perjalanan tugas dari Jakarta saya membawa virus Covid. Saya terkena, lalu menyebar ke istri dan 2 anak saya yang berkebutuhan khusus. Apa saya tidak panik,” kenangnya.

Tapi berkat kerja keras, doa dan semangat serta kerjasama yang kompak, Yamin lulus ujian. Bankaltimtara tetap survive dan terus berkembang seperti kemajuan yang dicapai sekarang.

Yamin berhasil meyakinkan Pemprov dan DPRD Kaltim, sehingga pada APBD Perubahan Tahun 2023, Pemprov Kaltim di era Gubernur Isran Noor berkenan melakukan tambahan atau pemenuhan penyertaan modal sebesar Rp3,4 triliun. Dengan tambahan itu, maka penyertaan modal dari Pemprov Kaltim menjadi Rp5,1 triliun atau 66,49 persen dari total modal yang disetor.

Berkat itu pula, maka posisi Bankaltimtara masuk dalam kelompok Bank Kategori KBMI 2. Yaitu kelompok bank dengan modal inti dengan ekuitas antara 6 sampai 14 triliun rupiah.

Yamin juga membawa Bankaltimtara ikut berkiprah di Ibu Kota Nusantara (IKN). Dia merencanakan membangun kantor cabang khusus di IKN. Tidak tanggung-tanggung, karena Presiden Jokowi yang langsung melakukan grounbreaking pada 1 Maret 2024.

Karena dianggap sukses, Yamin dipercaya oleh pemegang saham meneruskan masa jabatannya ke periode kedua 2024-2028. Periode pertama 2020 sampai 2024.

Dengan berbagai keberhasilannya itu, Yamin juga banyak dianugerahi berbagai penghargaan, baik untuk Bankaltimtara maupun dia pribadi sebagai seorang pemimpin bank daerah yang sangat menonjol.

Majalah Infobank pernah menobatkannya sebagai salah satu TOP 100 CEO Terbaik 2023. Terakhir pada tahun 2025, Yamin juga dinobatkan sebagai TOP CEO BUMD 2025 oleh majalah TopBusiness. Pada saat yang sama, Gubernur Rudy Mas’ud bersama Gubernur Kaltimtara Zainal Arifin Paliwang menerima penghargaan TOP Pembina BUMD 2025.

Dalam kaitan “ngebon” pemimpin luar, saya jadi teringat narasi yang disampaikan Sudarno, mantan juru bicara Tim Kemenangan Rudy Mas’ud-Seno Aji, yang sekarang ada di Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP).

Sudarno sempat mengkritisi masuknya dua dosen Unhas ke Dewan Pengawas (Dewas) rumah sakit milik Pemprov Kaltim. Dia bilang selain beraroma capital outflow atau pelarian uang ke luar, juga menyakiti atau menzalimi SDM lokal atau orang daerah. Tapi dalam kasus Dirut Bankaltimtara saya tidak tahu apakah Sudarno masih bisa berteriak vokal seperti kemarin?????.(*)

Ketika Presiden Sentil Gubernur Kaltim

March 22, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

LENGKAP sudah orang yang mengkritik Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud (HARUM) gara-gara membeli mobil dinas mahal dan mewah seharga Rp8,5 miliar. Sekali ini datangnya tidak tanggung-tanggung. Dari orang Nomor 1 di Republik ini. Siapa lagi  kalau bukan Presiden Prabowo Subianto.

Mimik Presiden Prabowo Subianto sambil menunjuk-nunjuk ketika menyinggung pembelian mobil mewah gubernur

Rasanya baru pertama kali ada Gubernur Kaltim sampai disindir atau disentil Kepala Negara. Ini pelajaran penting bagi HARUM bahwa ukuran yang dia pakai tidak cocok dan salah dengan semangat pemerintah dan masyarakat yang ingin melihat pemimpinnya tidak memboros-boroskan anggaran.

Sebelumnya hampir semua netizen dan pemerhati di Tanah Air menghujat HARUM. Apalagi HARUM sempat berkomentar seakan-akan mobil mewah itu bagian dari menjaga marwahnya Kaltim. “Kalau mau pakai mobil mewah ya pakai uang pribadi jangan dibebankan ke APBD,” kata Gubernur Kaltim 2018-2023, Isran Noor.

Presiden sendiri menyentil HARUM ketika dia mengumumkan kebijakan Pemerintah berkaitan pemotongan anggaran guna mengurangi risiko penyalahgunaan dana negara dan penghematan fiskal, Kamis (17/3) malam di kediamannya, Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Nama HARUM dan Kaltim memang tidak disebut secara langsung oleh Presiden Prabowo, tapi semua orang tahu arah ucapan Kepala Negara tersebut.

Sambil menunjuk-nunjuk, Presiden menegaskan banyak pejabat bekerja tidak efisien. “Ada kabupaten eh Pemerintah Daerah beli mobil dinas gubernur 8M. Saya saja Presiden Republik Indonesia pakai mobil Maung buatan Indonesia. Harganya Rp700 juta. Dengan anti pelurunya mungkin menghabiskan 1M. Tapi tidak 8M. Coba kita selidiki semua, tidak efisien,” tandas Prabowo dengan mimik serius.

Habis itu kunjungan kerja, kunjungan kerja. “Sudahlan itu yang kita minta kesadaran dan rasa tanggungjawab kita semua. Bupati kerja untuk rakyatmu, Gubernur kerja untuk rakyatmu. Itu yang kita minta,” tegas Prabowo lagi.

Presiden menegaskan bahwa Pemerintah mengambil langkah pemotongan anggaran untuk meningkatkan efisiensi fiskal sekaligus menutup celah penyalahgunaan dana negara. Dengan langkah ini Pemerintah berhasil menghemat Rp308 triliun.

“Penghematan itu berasal dari pengeluaran yang tidak masuk akal. Jika tidak dipotong dana tersebut  berpotensi besar mengarah pada korupsi,” jelasnya.

Dia menyebut pengeluaran tidak masuk akal itu di antaranya acara seremonial, pembelian perlengkapan kantor, pertemuan dan seminar di luar kantor termasuk kunjungan kerja.

Sebagai langkah tambahan untuk mengurangi biaya operasional ujar Presiden, pemerintah juga mempertimbangkan pengaturan kerja baru, termasuk minggu kerja yang lebih pendek dan adopsi kerja jarak jauh yang lebih luas.

Dicegat awak media usai salat Idul Fitri di Masjid Islamic Center Samarinda, Sabtu (21/3), Gubernur Rudy Mas’ud memberikan tanggapan berkaitan dengan sentilan terbuka dari Kepala Negara.

“Berkaitan dengan statement Bapak Presiden, tentunya mengingatkan kepada semua kepala daerah seluruh Indonesia bahwa efisiensi itu penting,” katanya sedikit berkilah. Saat itu HARUM di antaranya didampingi Ketua Pengelola Masjid Islamic Center, Irianto Lambrie, yang juga Ketua Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP).

Harum menjelaskan, tanggal 2 Maret lalu dia sudah mengembalikan mobil tersebut  dan pada 11 Maret proses administrasinya sudah selesai. “Semua sudah kita kembalikan ke kas daerah dan mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk kegiatan pembangunan yang sifatnya adalah standar pelayanan minimum mulai dari pendidikan, kesehatan, infrastruktur termasuk juga kegiatan-kegiatan sosial lainnya,” katanya begitu.

Belum terkonfirmasi apakah proses administrasi yang dikatakan Gubernur sudah selesai, maka uang Rp8,5 sudah semuanya masuk ke kas daerah. Sebab sebelumnya, Kadis Kominfo M Faisal mengatakan, uang yang masuk ke kas daerah baru Rp7,5 miliar. Sisanya masih menunggu restitusi dari Kantor Pajak Pratama Samarinda.

Kepada seluruh masyarakat Kalimantan Timur dan masyarakat Indonesia, ujar Gubernur lagi, dia siap menerima saran dan kritik.  “Jika ada yang kurang kami siap dikritik. Tolong kami dikawal dan didoakan. Kita mulai nol-nol lagi,” katanya merendah.

BUBARKAN TAGUPP

Jika memang siap menerima saran dan kritik, maka Gubernur seyogianya meninjau kembali kebijakan pembentukan TAGUPP, yang dinilai amat kontroversial.

Berbagai pihak menilai TAGUPP tidak efektif. Selain dianggap menabrak larangan dari Mendagri, juga jumlah anggotanya terlalu banyak. Sekitar 47 orang. Selain itu tidak seluruh anggota tim masuk kategori tenaga ahli serta menghabiskan anggaran yang sangat besar.

Bayangkan, tiap orang diberi honor antara 20 sampai 45 juta rupiah per bulan. Dihitung surut sejak Januari. Total anggarannya mencapai Rp10,7 miliar terdiri  Rp8,3 miliar untuk honor atau uang kehormatan dan Rp2,4 miliar untuk anggaran perjalanan dinas.

Demi penghematan, anggaran TAGUPP dipangkas 50 persen. Jadi besarnya honor juga turun 50 persen. Biar dananya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih mendasar. Juga  SK-nya tidak berlaku surut.

Ada yang mengusulkan agar TAGUPP dibubarkan saja atau minimal direvisi menjadi tim kecil dengan keahlian yang terukur. Misalnya hanya 20 orang. Juga harus ada klarifikasi  resmi dari Kemendagri, apakah pembentukan TAGUPP masih dibenarkan atau dilarang.

Sejumlah orang heran dengan masuknya tokoh penggiat antikorupsi yaitu Bambang Widjojanto, yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua KPK.

Sangat disayangkan Bambang tidak cermat dan peka terhadap eksistensi lembaga TAGUPP, yang berpotensi menabrak aturan serta menguras anggaran daerah yang cukup besar. Sebagai seorang penasihat, Bambang akan menerima honor sebesar Rp45 juta per bulan. Nikmat sekali.

Banyak anggota masyarakat berharap DPRD Kaltim menjalankan fungsi kontrolnya dengan baik dan efektif. Mereka bisa menegur Gubernur. Tapi sepertinya jauh panggang dari api. Soalnya ketua DPRD-nya adalah Hasanuddin Mas’ud, tak lain adalah kakak kandung Gubernur Rudy Mas’ud.

Bukannya menegur, Hasanuddin malah punya semangat yang lebih ekstrim lagi. “Kalau saya jadi gubernur, saya bahkan beli helikopter,”   katanya kepada wartawan yang pernah menanyainya.

Hasanuddin pernah ikut Pilgub Sulbar 2017. Dia dalam posisi cawagub mendampingi Salim S. Mengga dari Partai Golkar.  Hasilnya kalah, lalu orientasi politiknya pindah ke Kaltim sampai menjadi Ketua DPRD Kaltim.

Dalam periode pertamanya sebagai Ketua Dewan, Hasanuddin yang akrab dipanggil HAMAS berhasil menggusur tokoh senior Golkar Kaltim asal Berau, Makmur HAPK. Sedang pada periode kedua, dia mengesampingkan tokoh Golkar Balikpapan, Abdulloh yang meraih suara terbanyak.

HAMAS juga disorot karena DPRD Kaltim ternyata ikut menguras APBD sebesar Rp6,8 miliar untuk pembelian mobil pimpinan Dewan. Karena itu ada yang bilang, kelakukan Gubernur dan DPRD ibarat pepatah yang berbunyi: Setali Tiga Uang. Artinya, kelakuan sama saja.(*)

Salat Idul Fitri di IKN

March 21, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

ALHAMDULILLAH,  saya bisa salat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Ibu Kota Nusantara (IKN), Sabtu (21/3) pagi. Niat ini sudah setahun lalu ketika Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono bilang Masjid IKN sudah siap. Tapi sayangnya baru tahun ini bisa dilaksanakan.

Masjid Negara Nusantara di waktu subuh menjelang salat Idul Fitri 1447 Hijriah

Saya berangkat dari Balikpapan sekitar pukul 04.00 dini hari. Ditemani  anak muda, yang namanya juga Rizal. Dia merintis usaha di bidang usaha event organizer (EO) khususnya dalam penyiapan peralatan atau properti acara. Sudah beberapa kali terlibat di kegiatan IKN bersama Ketua HIPMI Balikpapan, Adam Dustin Bhakti. Rizal berharap pasca lebaran, event di IKN marak lagi.

Tol IKN khusus di hari Idul Fitri dibuka sejak 4.30 dini hari. Meski sebagian masih gelap, perjalanan cukup lancar.  Hanya memakan waktu 60 menit atau 1 jam saya sudah sampai di Masjid IKN, yang namanya Masjid Negara Nusantara. Tak jauh dari Istana Garuda. Segar sekali udara di sana.

Seperti juga di tempat lain, salat Id dimulai pukul 07.00. Bertindak sebagai imam, Dr Ahmad Muzakir, dosen Universitas PTIQ Jakarta, yang juga Imam Istiqlal. Sedang tampil sebagai khatib adalah Prof Muhammad Abzar Duraesa, Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, UIN Aji Muhammad Idris Samarinda.

Panitia mempersiapkan cadangan untuk imam sekaligus khatib adalah Dr M Aroka Fadli, SQ, M.Ag, dosen Universitas STAI Al-Muhajirin, Purwakarta. Bukan Purwokerto. Purwakarta adalah kabupaten di Provinsi Jawa Barat.

Untuk petugas bilal atau muazin, panitia mempercayakan kepada juara MTQ, Ustaz  M Rasky Raehan dan Ustaz Muhammad Rifki Iksani.

Masuk ke Masjid IKN kita disambut sejumlah remaja mengenakan stelan jas. Rapi sekali. Saya sempat kaget karena yang putri tidak mengenakan kerudung. Ternyata mereka non muslim, yang sukarela bertugas agar saudaranya yang Islam bisa salat Idul Fitri dengan lancar.

Suasana pelaksanaan salat Id di Masjid Nusantara mirip seperti yang dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta. Maklum Masjid Nusantara pada saatnya nanti akan menggantikan posisi Istiqlal sebagai Masjid Negara.

Jamaah yang datang juga membludak. Ribuan orang. Tidak saja pekerja dan staf IKN, tapi juga warga PPU, Paser, Balikpapan dan Samarinda. “Niat kita mau menjadi orang pertama yang salat Idul Fitri di Masjid IKN,” kata Ibu Rohayah dari Samarinda penuh semangat. Dia berangkat dari Samarinda bersama keluarganya sejak pukul 02.00 dinihari.

Niat yang sama diutarakan Pak Hasan, warga Muara Rapak Balikpapan. Dia kaget saya duduk di sampingnya. Pak Hasan datang dengan dua cucunya yang baru tiba dari Surabaya. Mereka senang sekali bisa salat Id di Masjid IKN.

Bersama Pak Bas seusai salat Idul Fitri di Masjid Negara Nusantara

Kapasitas Masjid Nusantara mampu menampung 29 ribu jamaah. Malah dikembangkan dua kali lipat, sehingga nantinya bisa disalati 60 sampai 65 ribu orang. Khusus di ruang ibadah utama, kira-kira bisa dimuati 6 ribuan jamaah.

Masjid ini dirancang seniman Bali, I Nyoman Nuarta dengan ciri khas berbentuk sorban. Sebagai pelaksana pekerjaan adalah PT Hutama Karya (Persero) melalui Kerjasama Operasi (KSO) dengan PT Adhi Karya  (Persero) Tbk dengan biaya di atas Rp900 miliar atau mendekati 1 triliun rupiah.

Kompeks Masjid Nusantara sengaja dirancang inklusif. Selain area utama ibadah, tersedia juga bangunan panjang untuk ruang serba guna, area komersial UMKM hingga fasilitas literasi digital. Saya sempat beli roti besumap di sana untuk ganjal perut.

Nikmat sekali wudhu di Masjid Nusantara. Mirip seperti di Istiqlal. Toiletnya juga sangat modern dan bersih. Membuat kita nyaman dan takjub menggunakan fasilitas di situ.

IKN KIBLAT PERADABAN

Sebelum salat Id dimulai, Deputi Bidang Sosial, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin selaku Ketua Panitia Ramadan Masjid IKN sempat memberikan laporan.

Dia mengatakan, pelaksanaan ibadah Ramadan di Masjid Negara IKN berlangsung sejak awal Ramadan. Mulai buka puasa bersama, salat tarawih sampai penerimaan zakat. “Alhamdulillah semua berjalan lancar, jadi akan kita lanjutkan dengan kegiatan ibadah lainnya di hari-hari mendatang,” jelasnya.

Yang menarik penarikan infaq masjid tidak mengedarkan kotak amal seperti masjid lainnya. Tetapi cukup melalui aplikasi QRIS. “Alhamdulillah terhimpun dana lebih 200 juta rupiah,” kata Alimuddin, yang sebelumnya pejabat di Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Isi khotbah Idul Fitri yang disampaikan Prof M Abzar Duraesa cukup menarik. Dia menyinggung pembangunan IKN sebagai kiblat peradaban. Karena konsep pembangunan IKN mencerminkan keharmonisan dengan alam (forest city), pemerataan pembangunan dan kecerdasan dalam penerapan teknologi (smart city).

Berkaitan dengan makna Idul Fitri, dia mengatakan sebagai momen umat Islam merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. “Kita bukan berperang dengan orang lain, tapi berperang dengan diri sendiri, dengan hawa nafsu,” kata Prof Abzar.

Seusai salat, saya sempat bertemu Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono, yang akrab dipanggil Pak Bas. “Apa kabar Mas,” tanyanya. Pas Bas dikerubuti jamaah yang ingin foto bersama. Dia melayani satu persatu. Malah ada sejumlah anak-anak dapat THR dari Pak Bas.

Pak Bas mengaku senang pelaksanaan salat Idul Fitri di Masjid IKN berlangsung lancar.  “Alhamdulillah akhirnya Masjid Nusantara untuk pertama kalinya kita gunakan untuk salat Idul Fitri,” katanya.

Mantan Menteri PU era Presiden Jokowi ini menyatakan optimis IKN siap berfungsi sebagai Ibu Kota Politik pada tahun 2028 seperti target yang diberikan Presiden Prabowo.

Pulang dari IKN, saya langsung ke rumah ibu saya di kompleks Bangun Reksa, Km 6 Balikpapan Utara. Di sana bergabung semua keluarga. Kami ramai-ramai makan soto Banjar. Dulu Ibu yang bikin. Tapi karena usianya sudah lanjut, maka  dibuat adik-adik. Enak juga sambil bermaaf-maafan. Sambil mengucapkan takbir: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillah Ilham.(*)

Next Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1598414
    Users Today : 5399
    Users Yesterday : 6385
    This Year : 534924
    Total Users : 1598414
    Total views : 13752046
    Who's Online : 49
    Your IP Address : 216.73.216.54
    Server Time : 2026-04-04