Tangisnya Ibu Sri Mulyani

September 19, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

IBU SRI MULYANI INDRAWATI (SMI) menangis. Kepalanya jatuh di dada sang suami, Tonny Sumartono. Suasana itu terjadi di tangga Kantor Kementerian Keuangan Jakarta, di detik-detik dia meninggalkan kantor tersebut setelah 14 tahun “berumah” di sana.

Ngga jadi Menkeu lagi, yang ngulak sambal di dapur

Sri Mulyani sejak Senin (8/9) lalu tak lagi menjadi Menteri Keuangan (Menkeu) dalam Kabinet Merah Putih. Presiden Prabowo melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai penggantinya. Lalu serah terima jabatan dilakukan sehari kemudian di Kantor Menkeu, Jl Dr Wahidin Raya No 1, Jakarta Pusat.

Purbaya orang Bogor. Usianya 61 tahun. Meraih gelar sarjana teknik elektro di ITB. Lalu master (MSc) dan doktor ilmu ekonomi dari Universitas Purdue, Indiana, Amerika Serikat. Jabatan terakhirnya Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) 2020-2025.

Selepas serah terima, Sri Mulyani yang akrab dipanggil Bu Ani dilepas oleh ribuan anak buahnya, staf Kemenkeu. Mereka kompak menyanyikan Bahasa Kalbu, lagu Andi Rianto yang dinyanyikan manis oleh Raisa. Liriknya terasa dalam. Air mata wanita perkasa itu luruh. Beberapa kali dia mengusapnya dengan sapu tangan. Suaminya merangkul membesarkan jiwanya.

“Ibu Sri Mulyani tidak sekedar seorang Menteri Keuangan, tapi dia adalah sosok teladan bagi kami. Teladan integritas. Selamat jalan ibu, kami sayang ibu,” begitu narasi yang diucapkan oleh karyawannya.

Wanita kelahiran Bandar Lampung 63 tahun silam itu, menjadi Menkeu terlama dalam sejarah pemerintahan di Indonesia. Bayangkan tahun 2005 dia sudah memangku jabatan tersebut di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Lalu lanjut 10 tahun di era Presiden Jokowi. Nyambung lagi di era Presiden Prabowo Subianto sejak 20 Oktober 2024.

Di sela itu, dia sempat menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia (2010-2016). Ia juga pernah menjabat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bapennas (2004-2005) dari Kabinet Indonesia Bersatu SBY. Pernah juga menjadi Plt Menko Perekonomian (2008-2009).

Ribuan staf Kemenkeu melepas Sri Mulyani penuh kesedihan

Sebelum berada di pemerintahan, SMI  yang alumnus Universitas Indonesia (UI) dan University of Illionis Urbana Champaign  ini, pernah menjadi pengamat ekonomi dan Ketua Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi UI.

Atas berbagai prestasinya, Sri Mulyani dinobatkan sebagai Menteri Keuangan Terbaik Asia pada tahun 2006 oleh Emerging Markets di sela Sidang tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura, Wanita Paling Berpengaruh ke-23 di Dunia versi majalah Forbes dan Wanita Paling Berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia Oktober 2007.

RUMAHNYA IKUT DIGRUDUK

Baru 11 bulan membantu Presiden Prabowo, Sri mulai mendapat sorotan publik. Ini gara-gara dia ingin menaikkan pajak dan memajaki berbagai kegiatan rakyat untuk mendongkrak kantong keuangan negara yang didera kenaikan defisit. Apalagi target pajak sendiri juga tidak terlalu tercapai.

Dua ucapan Sri terakhir juga ramai digunjingkan. Pertama soal dia terkesan menyamakan pajak dengan zakat. Kedua, soal narasi guru yang dianggap menjadi beban negara. Kontan dia ramai di-bully netizen dan mendapat berbagai sorotan.

Dalam aksi demo besar yang berlangsung akhir Agustus lalu, rumah Sri termasuk yang digruduk dan dijarah massa. Sri kecewa berat, karena kabarnya sudah minta bantuan tapi ternyata tidak direspon maksimal. Karena itu dia memutuskan meminta pengunduran diri atau resign.

“Banyak yang hilang dalam penjarahan itu. Salah satu yang yang berharga adalah rasa aman, kepastian hukum, perikemanusiaan yang adil dan beradab,” katanya berkomentar. Pasti dengan wajah masgul.

Istana tidak berkomentar jelas apakah Sri mundur atau dicopot?. “Bukan mundur, bukan dicopot. Pak Presiden selaku kepala negara dan kepala pemerintahan punya hak prerogatif. Maka kemudian atas evaluasi, beliau memutuskan ada perubahan formasi,” kilah Mensesneg Prasetyo Hadi.

Isu Sri mau mundur sudah lama tercium. Tapi kabarnya dia ditahan dengan alasan untuk menjaga kepercayaan pasar. Itu sebabnya dia tetap mau bergabung di era Presiden Prabowo meski dulu dia agak berseberangan.

Sri pernah mundur ketika menjadi Menkeu era SBY. Dia disorot karena keterkaitannya dalam Skandal Bank Century. Isunya tenggelam ketika dia diangkat jadi Direktur Pelaksana Bank Dunia. Belakangan dia ditarik kembali oleh Presiden Jokowi untuk kembali mengisi pos Menkeu.

Ada yang menganalisis tangisnya Sri Mulyani menyimpan banyak makna. Ada yang tersirat tapi ada juga yang perlu ilmu tafsir.

Pertama, wajar kalau SMI sedih. Maklum sudah belasan tahun berada di sana. Kita lihat sendiri ribuan stafnya melepas dengan sedih dan bangga. Sedih karena ditinggalkan ibunya yang hebat dan perkasa. Bangga karena Ibu Ani dinilai kuat memegang amanah sebagai pejabat yang menjaga integritas dan punya kualitas tinggi. Karena itu dia diakui dunia. Staf Kemenkeu benar-benar merasa kehilangan. Hampir tak pernah ada Menteri yang dilepas stafnya begitu dramatik kecuali SMI.

Kedua, bisa jadi Bu Ani sedih karena dia was-was kantong kas negara bakal jebol sepeninggalnya. Selama ini dia berhati-hati menjaga pintu keuangan negara. Tapi dia tahu kebutuhan belanja Pemerintahan Prabowo besar. Takutnya batas defisit APBN sebesar 3 persen terlampui. Mau menaikkan pajak atau mencari objek pajak baru ditentang masyarakat. Bu Ani sudah memperkirakan penerimaan pajak 2025 bakal tak mencapai target. Jangan-jangan utang ke luar negeri yang bakal lebih besar lagi sembari program efisiensi terus digalakkan.

Ketiga, bisa jadi Bu Ani sedih karena  kiblat kebijakan ekonomi Indonesia bergeser. Bu Ani dianggap “orangnya” IMF dan Bank Dunia. Jadinya alirannya ke dunia barat. Sementara Prabowo bergeser ke poros Brics+, di mana di situ ada China dan Rusia. Karena itu Prabowo mengangkat Purbaya menggantikan Sri Mulyani. Orangnya lebih berani beraksi dan agresif. Ada yang bilang mazhabnya SMI dengan Purbaya memang sangat beda. Soal perbedaan mazhab ini juga diungkapkan Presiden ke-7 Jokowi. “Ya mazhabnya berbeda karena perbedaan generasi,” katanya Jokowi ketika ditanya wartawan.

Keempat, bisa jadi Bu Sri menyadari bahwa orang mulai bosan. Soalnya dia sudah terlalu lama duduk di kursi Menkeu mulai era SBY, Jokowi sampai Prabowo. Sementara perekonomian kita lagi tidak baik-baik saja. Jadi orang merasa perlu suasana baru atau orang baru. Terlepas apakah penggantinya lebih baik dari SMI masih kita tunggu pembuktiannya. Tapi Purbaya memang tampil beda. Ceplas-ceplos. Malah dia ngakunya memang koboi. Dia optimistis bisa mengangkat kembali perekonomian Indonesia. Salah satu gebrakannya menggelontorkan dana Pemerintah sebesar Rp200 triliun ke Bank Himbara, bank-bank milik negara. Biar dana itu disalurkan kepada pengusaha dan masyarakat. Jadi pasar bergairah lagi. Investasi jalan, lapangan kerja terbuka dan daya beli masyarakat naik lagi.   Apakah di lapangan hasilnya seperti itu? Ya kita tunggu biar Indonesia tidak gelap lagi.(*)

Lima Pasal Kontroversi dan Multitafsir RUU Perampasan Aset

September 17, 2025 by  
Filed under Opini

Oleh : Prof. Dr. Harris Arthur Hedar, SH, MH.

Guru Besar Universitas Negeri Makassar,

Ketua Dewan Pembina Serikat Media Siber Indonesia (SMSI)

 

Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset yang akan disahkan mendapat sorotan luas. Sebab RUU yang digadang-gadang sebagai senjata ampuh negara untuk melawan korupsi dan kejahatan luar biasa itu bisa disalahgunakan. Hal ini karena adanya beberapa pasal yang kontroversi dan multitafsir.

RUU ini punya tujuan mulia. Tetapi ada 5 pasal yang harus dicermati karena hukum bisa menjadi menakutkan daripada fungsi melindungi. Ini bisa menurunkan kepercayaan rakyat terhadap hukum dan negara. Sebelum disahkan, sebaiknya pasal-pasal tersebut diperbaiki.

Prof. Dr. Harris Arthur Hedar, SH, MH,

Pasal 2 mendalilkan negara bisa merampas aset tanpa menunggu putusan pidana. Masalah yang timbul adalah menggeser asas praduga tak bersalah. Risikonya, pedagang atau pengusaha yang lemah dalam administrasi pembukuan, kekayaannya bisa dianggap ‘tidak sah’.

Demikian juga Pasal 3, yang menyatakan aset dapat dirampas meskipun proses pidana terhadap orangnya tetap berjalan. Ini akan menimbulkan dualisme hukum perdata dan pidana. Risikonya masyarakat bisa merasa dihukum dua kali: aset dirampas, sementara dirinya tetap diadili.

Berikutnya Pasal 5 ayat (2) huruf a, mengatakan perampasan dilakukan bila jumlah harta dianggap ‘tidak seimbang’ dengan penghasilan sah. Persoalannya frasa kalimat ‘tidak seimbang’ sangat subjektif. Risikonya seorang petani yang mewarisi tanah tanpa dokumen lengkap bisa dicurigai, karena asetnya dianggap lebih besar dari penghasilan hariannya.

Pasal 6 ayat (1) juga perlu dicermati. Aset bernilai minimal Rp 100 juta bisa dirampas. Persoalannya ambang batas nominal bisa salah sasaran. Karena seorang buruh yang berhasil membeli rumah sederhana Rp 150 juta bisa terjerat, sementara penjahat bisa menyiasati dengan memecah aset di bawah Rp 100 juta.

Selanjutnya Pasal 7 ayat (1) yang menyatakan aset tetap bisa dirampas meskipun tersangka meninggal, kabur, atau dibebaskan. Persoalannya hal ini bisa merugikan ahli waris dan pihak ketiga yang beritikad baik. Risikonya, anak-anak bisa kehilangan rumah warisan satu-satunya karena orang tuanya pernah dituduh tindak pidana.

Yang juga penting untuk dicermati adalah prosedur perampasan (blokir, sita, pembuktian), di mana didalilkan setelah aset disita, pihak yang keberatan harus membuktikan bahwa harta itu sah (reverse burden of proof). Ini membalik beban pembuktian ke rakyat. Risikonya, rakyat yang tidak paham hukum bisa kehilangan aset karena tidak mampu menunjukkan dokumen formal.

Karena itu, saya menyarankan pembahasan RUU memperjelas definisi pasal-pasal yang kontroversial tersebut. Mulai dari Istilah ‘tidak seimbang’, di mana harus punya ukuran objektif, laporan pajak, standar profesi, atau data ekonomi. Juga perlindungan kepada pihak ketiga dan ahli waris, untuk ditegaskan bahwa harta orang beritikad baik tidak boleh dirampas.

Pun demikian soal pembuktian. Harus tetap menjadi beban aparat penegak hukum. Karena siapa yang menuduh wajib membuktikan, bukan rakyat. Termasuk harus ada putusan pengadilan independen sebagai syarat mutlak perampasan, karena tidak boleh ada perampasan tanpa persetujuan hakim.

Begitu pula proses perampasan, harus transparan dan mengutamakan akuntabilitas publik sehingga proses perampasan harus terbuka, diawasi media dan masyarakat. Negara juga harus menyediakan bantuan hukum gratis, terutama bagi rakyat kecil yang terdampak.

Terakhir, sosialisasi dan literasi hukum harus dikerjakan masif. Rakyat harus diedukasi agar tahu hak-haknya, sehingga tidak mudah ditakut-takuti. Karena ibarat pedang bermata dua, rakyat kecil bisa dikriminalisasi hanya karena lemah administrasi. Sedangkan orang kaya bisa melindungi aset dengan pengacara dan dokumen. (*)

Hotel Maxone Makin “One”

September 16, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

HOTEL Maxone Balikpapan berulang tahun ke-7, Senin (15/9) kemarin. Acaranya berlangsung sederhana, tapi tetap menarik walau bersahaja. “Kami masih dalam suasana berduka, jadi perayaan kami lakukan terbatas. Yang penting bisa mengundang semua relasi,” kata Chingta Dewi Stanley mewakili owner.

Ayah Chingta, pengusaha Ludy  Stanley meninggal dunia dalam perjalanan wisata ke Tibet, 27 Juli 2025 lalu. Jenazahnya kemudian diterbangkan ke Balikpapan. Saya dan istri, Bunda Arita sempat datang ke rumah duka di kompleks perumahan Balikpapan Baru (BB) sebelum dimakamkan di pemakaman Km 16, Balikpapan Utara.

Saya datang ke  Nusantara Grand Ballroom Hotel Maxone, tempat acara HUT sengaja mengenakan kemeja berlogo Manchester United (MU), klub sepakbola Inggris kebanggaan saya. Meski malam sebelumya MU dibantai tim sekota, Manchester City 0-3.

Pemain legendaris MU seperti Eric Cantona, David Beckham dan Cristiano Ronaldo selalu mengenakan jersi bernomor punggung 7. Angka 7 itu kata orang adalah angka kesempurnaan dan keberuntungan. Karena itu saya doakan Maxone yang berulang tahun ke-7 selalu mendapat keberuntungan.

Saya punya hubungan emosional dengan Maxone. Soalnya yang meresmikan hotel bintang 3 dengan 115 kamar itu adalah saya ketika masih menjadi Wali Kota Balikpapan, 15 September 2018. “Ya sampai sekarang prasastinya masih ada,” kata GM Hotel Maxone, Fernando Hutapea.

Foto kenangan ketika saya sebagai Wali Kota Balikpapan meresmikam Hotel Maxone

Hotel Maxone Balikpapan yang masuk dalam Milestone Pasific Hotel Group (MPHG) punya ciri khas yang membedakan dengan hotel lain. Hotel ini tidak sekadar menyediakan gedung dan kamar saja, tetapi juga mengedepankan human emotional, value, characteristic dan personality.

Human emitional itu dituangkan ke dalam tipe kamar. Ada yang disebut happiness, max happiness, warm, max warm dan love. “Kebahagiaan, kehangatan dan kasih sayang,” kata sang GM.

Pada waktu peresmian, saya bersama Pak Ludy Stanley dan istri, Cindy Goutama melakukan pengguntingan pita. Pak Ludy tampak bahagia karena cita-citanya memiliki bisnis hotel terwujud. Saya masih bertemu Pak Ludy dalam perayaan Imlek, 29 Januari 2025 lalu.

Istri saya, Bunda Arita juga kenal Pak Ludy. Dia menjadi salah satu nasabah premium BCA Balikpapan. Kebetulan saat itu istri saya menjadi Kepala Cabang (Kacab). Bisnis utama keluarga Ludy Stanley adalah pemasaran oli dengan bendera Oli 76.

Kepala Disparpora Balikpapan CI Ratih Kusuma, owner Chingta Dewi Stanley, Ketua Iwapi Kaltim Ernawaty Gafar dan tamu lainnya berfoto bersama

Menurut Chingta, semasa hidup ayahnya berpesan agar dia bersama 84 karyawan yang ada sekarang menjaga dan terus mengembangkan hotel. “Jaga hotel ini baik-baik,” begitu pesan Pak Ludy dengan penuh kebapakan.

Pada tanggal 13 September lalu tepat 49 hari kepergian Pak Ludy. Tim manajemen dan karyawan sempat melakukan ziarah ke pemakaman Km 16. “Sambil tabur bunga kita mendoakan beliau dan mengenang jasa-jasanya,” kata Chingta.

ADA DONOR DARAH

Saya lihat sejumlah relasi dan pejabat Pemerintah Kota Balikpapan datang memberikan ucapan selamat ultah kepada  manajemen Hotel Maxone. “Selamat dan sukses buat Maxone,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga  (Kadisparpora) Balikpapan, drg CI Ratih Kusuma W.

Hal yang sama juga disampaikan oleh tamu yang lain. Saya sempat bertemu Kepala Imigrasi Balikpapan Fachruddin Romi Noviar Saputra, SH, MH dan Direktur Hotel Platinum Soegianto, yang juga ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan. Datang juga Ketua Iwapi Kaltim Hj Ernawaty Gafar, SE dan wanita pengusaha  lainnya.

Fachruddin yang sebelumnya pernah bertugas di Aceh, Medan dan Surabaya mengaku kagum atas kemajuan Balikpapan. Tugasnya di Imigrasi di kota ini juga cukup berat karena harus melayani tidak saja mereka yang tinggal di Balikpapan, juga Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser. “Karena itu kita lagi berjuang agar Kantor Imigrasi Balikpapan bisa naik kelas,” jelasnya.

Soegianto memuji kemajuan yang dicapai Maxone. Tapi dia mengakui bisnis perhotelan di Indonesia termasuk di Balikpapan masih harus berjuang karena adanya kebijakan efisiensi di pemerintahan yang berimbas kepada okupansi hotel.

Menurut Fernando Hutapea, tema HUT ke-7 Maxone tahun ini adalah “Years of Joyful.” Tahun penuh kegembiraan dan menyenangkan. Bagaimana mereka bisa melayani semua tamu dengan semangat seperti itu.

Sejumlah kegiatan diadakan meski tidak terlalu banyak. Ada kegiatan donor darah yang diikuti masyarakat umum, jasa online, organisasi dan karyawan Maxone. “Kita menyadari setetes darah sangat berarti untuk menyelamatkan saudara kita,” kata Fernando.

Lalu ada Fun Coloring untuk anak-anak TK. Lebih 150 anak yang mengikuti kegiatan ini penuh kegembiraan. Termasuk orang tuanya yang begitu antusias.

Selain mengadakan open house dengan mengundang rekan bisnis, stakeholder, pemerintah, wartawan, dan sesama manajemen perhotelan dan restoran,  Maxone juga menggelar staff gathering malam tadi dengan mengadakan pemilihan The Best Employee, persembahan talenta dan berbagi doorprize.

Saya sempat berfoto dengan Chingta dan tim manajemen Maxone lainnya. Saya bilang selamat ulang tahun buat Maxone. Sukses dan maju terus. Ada yang bilang dengan segala fasilitas yang ada termasuk Nusantara Grand Ballroom dengan kepasitas lebih seribu orang, membuat Maxone makin “one” di Kota Balikpapan.(*)

Nikah Bertabur Sayur dan Buah

September 15, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

RESEPSI pernikahan bertabur buah dan sayur. Itu dilakukan pasangan Doris Eko Rian Desyanto, SE dengan Rahmatia, SM, MM. Mereka menggelar pernikahan dan resepsi di Balikpapan Sport and Convention Center (Dome) Balikpapan, Sabtu (18/9).

Saya datang bersama rekan Zaenal Abidin, juga bareng mantan ketua DPRD Balikpapan Andi Burhanuddin Solong (ABS) dan mantan anggota DPRD Kaltim Ir Adam Sinte, yang juga ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Balikpapan. Kebetulan mempelai wanita, Tia berdarah Bugis.  Dia putri kedua dari H Muhammad Sulhan (H Rahim) dan Hj Appe. Sedang mempelai pria, Doris berdarah Jawa Madura, putra pertama keluarga Iskandar (alm) dan Ibu Riati Tunggal Dewi.

Berfoto bersama sang pengantin. Ada ABS dan Adam Sinte

Yang menarik kedua pasangan ini sama-sama anggota DPRD Balikpapan. Doris anggota Dewan dari Partai Golkar. Sedang Tia anggota Dewan dari Partai Gerindra. “Ini yang namanya koalisi permanen,” kata rekan-rekannya, yang datang bersama ketua Dewan, Alwi Al Qadri setengah bercanda.

Tidak saja anggota DPRD Balikpapan yang datang, juga sejumlah anggota DPRD Kaltim. Di antaranya mantan ketua DPRD Balikpapan Abdulloh, yang sekarang menjadi ketua Komisi III DPRD Kaltim. Abdulloh  datang bersama istrinya, Hj Yuliati Endah Sari. Saya pulang duluan jadi tak sempat melihat pejabat dan tokoh lain yang hadir. Apalagi undangan sangat banyak sekali.

Ketika memasuki gedung, kedua mempelai disambut tarian paduppa. Ini memang tarian tradisional dari masyarakat Bugis-Makassar yang dipersembahkan sebagai tarian selamat datang untuk menyambut tamu kehormatan.  Sang mempelai yang mengenakan baju khas Bugis itu tampak serasi melangkah perlahan sampai melambaikan tangan kepada undangan yang berdiri di sisi kiri dan kanan.

Pemandu acaranya Riri, yang saat ini sudah bermukim di Bali. Dia duet bersama Reval, protokol dari Pemkot Balikpapan. Dalam acara sebelumnya pranikah, MC Dani juga ikut memandu penuh ceria.

Setelah memberikan ucapan selamat, saya diajak Pak Adam menikmati salah satu sajian khas masyarakat Bugis yaitu sokko mandoti dan nasu likku. Saya sangat bersemangat.

Sokko Mandoti atau lengkapnya Sokko Pulu Mandoti adalah makanan tradisional khas masyarakat Massenrempulu, khususnya dari Enrekang yang terbuat dari beras ketan wangi lokal bernama Pulu Mandoti. Sedang Nasu Likku adalah ayam kampung yang dimasak dengan berbagai rempah-rempah khas, serta parutan lengkuas muda.

Pak Adam dan saya sama-sama suka ketan. Baik ketan putih maupun ketan merah.  “Pulu Mandoti adalah jenis beras ketan wangi yang hanya bisa tumbuh di daerah pegunungan Enrekang, khususnya di Desa Salukanan dan Kendenan,” kata  Ketua KKSS Balikpapan itu.

Wah saya lahap sekali menikmati sokko mandoti dengan nasu likku. Kalau tidak malu, pinginnya mau menambah. Apalagi minumnya kita diberi jus buah naga.

Sekarang ini saya dan Pak Adam sering makan sokko di Warjogz, tempat kami bermain domino atau guplah di Balikpapan Baru (BB). Terkadang juga melahap kue Taripang yang manis dan lezat. Taripang adalah kue tradisional dari Bugis yang terbuat dari adonan tepung beras ketan dan kelapa parut, kemudian digoreng dan dilapisi dengan cairan gula merah.

GUNUNGAN SAYUR DAN BUAH

Yang membuat saya senang dan takjub, suasana Dome dikemas Doris dan Tia penuh hiasan aneka sayur dan buah. Maklum orang tua Tia dikenal sebagai juragan sayur dan buah di Pasar Klandasan. Sampai ada yang bilang: “Wah, hari ini stok sayur dan buah di Pasar Klandasan bisa habis kalau melihat dekorasi di sini,” kata sejumlah undangan yang datang ke Dome tersenyum.

Di bagian pintu depan Dome, undangan disambut dengan gunungan sayur dan buah yang cukup tinggi. Saya lihat jenis sayur dan buahnya beragam. Ada lombok merah, kacang panjang, terong, wortel, pare, timun, pisang, jeruk, kentang, jagung, kol, labu merah dan putih, tomat, buah naga sampai nenas.  Semuanya segar-segar.

Gunungan  biasanya kita lihat dalam acara Grebeg Keraton Yogyakarta, yang dinarasikan sebagai simbol dari kemakmuran. Dalam satu tahun biasanya Keraton Yogyakarta menggelar tiga kali upacara grebeg yaitu Grebeg Maulud, Grebeg Syawal, dan Grebeg Besar.

Di akhir acara gunungan itu diperebutkan warga. Yang mendapatkan sayur atau buah itu pertanda mendapat berkah. Makanya dalam perebutan semuanya penuh keceriaan, tak ada yang marah meski tergencet dan berdesak-desakan. Makin banyak dapat buah dan sayur, makin banyak berkahnya.

Di depan panggung mempelai, juga semua dihiasi dengan sayur dan buah-buahan dari jenis yang sama. Sangat meriah dan penuh warna. Sebagian undangan mengaku takjub karena biasanya dekor pengantin penuh dengan aroma bunga bukan sayur dan buah.

Di atas meja undangan kehormatan (VIP) juga ada hiasan buah dan sayur. Ada kacang panjangnya dan terong. Dan ketika undangan pulang, cenderamatanya juga sekeranjang buah dan sayur. Semuanya yang datang sangat bahagia dan merasa dapat hadiah yang surprised.

Hanya satu jenih buah yang saya lihat tidak ada. Yaitu buah pepaya mini khas Balikpapan, yang di era saya jadi wali kota, saya patenkan sebagai “Pepaya Miba” yaitu pepaya mini Balikpapan.

Pepaya Miba sudah dikenal secara nasional bahkan mancanegara. Dikenal lebih manis dari berbagai jenis pepaya. Dulu setiap tamu yang datang, sengaja saya beri hadiah sekeranjang buah pepaya Miba. Bahkan upacara HUT Kota Balikpapan pernah bertema pepaya Miba. Buah ini juga masuk dalam daftar menu di Istana Negara Jakarta.

Salah satu petani pepaya Miba yang saya kenal adalah Pak Agus Basuki, yang tinggal di Km 12, Balikpapan Utara. Tak jauh dari Kawasan Waduk Manggar. Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik sempat datang ke Kebun Agus. Dia melihat prospeknya sangat bagus jika terus dikembangkan.

Terlepas soal papaya Miba, sekali lagi saya senang datang ke perkawinan Doris dan Tia bertema sayur dan buah. Sangat baik ditradisikan. Waktu putri saya Febi menikah, salah satu mas kawinnya pohon mangga. Jika mangganya berbuah, itu tandanya cinta kasih mereka juga berbuah kebahagiaan. Selamat berbahagia  Doris dan Tia. Pasti sekarang “reses” untuk berbulan madu. Jangan lupa makan sayur dan buah. Biar tambah kuat, eh fresh, he..he.(*)

Doktor “Dokter” Rendi Ismail

August 20, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

PULANG dari mengikuti peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Indonesia di IKN, Minggu, 17 Agustus 2025, saya dan Pak Zaenal Abidin langsung singgah ke Rumah Ampiek di Kompleks Balikpapan Permai (BP). Pesan istri saya, Bunda Arita ada undangan syukuran di sana.

Rumah Ampiek adalah toko batik milik Ibu Hj Syarifah Emi Alaydrus, istri Dr H Rendi Susilo Ismail, SE, SH, MH, ketua Yayasan Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi Dharwa Wirawan, yang mengelola dan membawahkan Universitas Balikpapan (Uniba).

Saya pikir acara syukuran HUT Kemerdekaan. Saya sengaja pakai kaus merah bertuliskan “Merdeka 80.” Ternyata bukan. Ini syukuran hari ulang tahun atau milad ke-62 Pak Rendi, yang persis jatuh di Hari Kemerdekaan. “Ya hari kelahiran saya persis di tanggal 17 Agustus,” katanya dengan wajah ceria.

Saya, Eddy Tarmo dan istri ikut mengucapkan selamat milad ke Rendi Ismail.

Rendi dilahirkan di Desa Gunung Rejo – Giri Mukti Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), 17 Agustus 1963. Dia anak pertama dari 3 bersaudara, buah pernikahan pasangan Ismail dan Kastiah Sucarmo. Sang ayah dari Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Kalsel), sedang ibunya warga transmigran asal Pemalang, Jawa Tengah.

Jadi dia ini orang “Jabar.”  Perpaduan darah Jawa dengan orang Banjar. Makanya Rendi terkadang berada di Kerukunan Orang Banjar, tetapi akrab juga di komunitas warga Jawa. Tak heran kalau terkadang dia menggelar wayangan atau kuda lumping.

Saya didaulat memberikan ucapan selamat. Saya bilang selamat milad, semoga sukses, murah rezeki dan berumur panjang. Tak lupa saya kutip kata bijak yang menarik dari penyanyi legendaris The Beatles, John Lennon. Dia bilang: “Hitunglah umurmu dengan teman bukan tahun, hitunglah hidupmu dengan senyum bukan air mata.”

Milad Rendi dirayakan oleh rektor dan para dosen di kampus Uniba

Selain itu ada doa politik dari saya. Semoga tahun 2030 nanti Rendi kembali ikut mencalonkan diri di Pilwali Balikpapan. Pada Pilwali 2024 lalu, Rendi berpasangan dengan Eddy Tarmo dari PDIP menjadi salah satu paslon. Sayang mereka belum berhasil.

Eddy dan istrinya, Hj Lia juga datang ke Rumah Ampiek. Dia mengucapkan selamat kepada Rendi. Mereka tetap kompak dan bersahabat. Tidak saja waktu Pilkada, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Eddy sebelumnya anggota DPRD Kaltim dua periode.

Sebelum ke Rumah Ampiek, Rendi berada di kampus Uniba. Di sana juga dirayakan miladnya. Ada pemotongan kue dan ucapan selamat dari Rektor Uniba Dr Isradi Zainal, para dekan dan dosen serta mahasiswa. Suasana berlangsung meriah di tengah merayakan Hari Kemerdekaan.

Di Rumah Ampiek, Rendi disambut ibu-ibu. Sebagian besar dari komunitas UMKM Batik Mangrove, binaan istrinya. Batik Mangrove dan Batik Beruang Madu, dua dari 35 motif batik ciptaan Emy Alaydrus yang akrab dipanggil Umi Emi. Dulu dikembangkan bersama istri saya ketika menjadi Ketua Dekranasda Balikpapan.

Bersama Eddy, saya diajak Rendi menikmati tumpeng udang galah air tawar. Ini pertama kali saya melihat nasi tumpeng yang topping-nya udang galah. Menarik dan nyaman sekali. Saya sempat melahap tiga ekor. Udang galah  (Macrobrachium rosenbergii) adalah udang besar air tawar. Biasanya banyak dari pedalaman Mahakam terutama dari Danau Semayang dan sekitarnya. Daging udang galah semakin enak kalau dalam musim bertelur.

KADO FAKULTAS KEDOKTERAN

Mengenakan baju ala Bung Karno, Rendi tampak sangat bahagia. Salah satu kado bahagia yang dia dapat di hari ulang tahunnya adalah keberhasilan Uniba diizinkan membuka Fakultas Kedokteran. Itu memang perjuangan dia berdarah-darah. “Saya mengucapkan syukur kepada Allah, akhirnya Uniba bisa  membuka Fakultas Kedokteran,” katanya berbunga-bunga.

Rasanya perjuangan itu Rendi rintis sejak saya masih menjadi Wali Kota Balikpapan. Dia sudah melakukan berbagai persiapan dan meminta surat dukungan dari berbagai pihak. Padahal waktu itu ada moratorium di mana pemerintah menyetop sementara pembukaan Fakultas Kedokteran di berbagai perguruan tinggi.

Menurut Rendi, ada berbagai pihak yang jasanya luar biasa membantu Uniba sehingga akhirnya Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) memberi izin. Salah satunya Ketua Komisi X DPR RI Dr Hetifah Syaefudian, wakil rakyat dapil Kaltim dari Golkar. “Berkat dukungan Bu Hetifah, akhirnya Mendiktisaintek menandatangani SK pembukaan Fakultas Kedokteran Uniba,” jelasnya.

Selain itu rektor Unmul, terutama dekan Fakultas Kedokteran. “Mereka juga men-support habis-habisan kepada Uniba, sehingga kita dibimbing dan dikawal dalam melakukan persiapan dan pemenuhan persyaratan,” kata Rendi.

Sekarang Fakultas Kedokteran Uniba resmi membuka pendaftaran untuk mahasiswa baru. Kuotanya di tahun perdana ini hanya 50 orang. Pada pendaftaran tahap pertama sudah lebih separuh yang mendaftar. Sebagian besar putra-putri daerah. “Ini kita buka pendaftaran tahap kedua,” kata Rendi.

Dalam waktu bersamaan Uniba juga tengah mempersiapkan para pengajarnya. Dia berburu ke berbagai universitas dan rumah sakit. Alhamdulillah bisa terpenuhi. Uniba juga bermitra dengan RS Inche Abdoel Moeis Samarinda sebagai rumah sakit pendidikan. “Kelak kita akan membangun rumah sakit sendiri,” kata Rendi.

Ketika dia sekolah di SMA Muhammadiyah, Rendi juga mendaftar di Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Balikpapan. Barangkali itu yang menginspirasi dia sehingga punya cita-cita yang kuat mendirikan Fakultas Kedokteran ketika berada di Uniba.

Bagi orang Balikpapan, kiprah Rendi sudah lama dikenal. Di zaman Wali Kota Balikpapan Syarifuddin Yoes di tahun 1980-an, dia sudah menjadi ketua KNPI. Saya masih menjadi wartawan. Dia aktivis di berbagai organisasi. Kalau tidak salah, ada 24 organisasi dilakoninya.

Pernah menjadi ketua HMI, ketua Kadin, ketua ASPEKINDO, ketua Pencak Silat, ketua Pickleball, ketua KPU, Wakil Ketua DPD Golkar sampai Ketua Kosgoro Kaltim. Dan masih banyak lagi jabatan ketuanya.

Pengalaman hidupnya memang penuh warna. Dia merintis usaha mulai dari bawah.  Pernah jualan es kelapa, PKL sampai loper koran. Lalu menjadi direktur dan komisaris dari berbagai perusahaan. Di waktu yang sama dia juga dosen dan pengacara.

Dia sarjana ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kosgoro Situbondo dan sarjana hukum dari Universitas Abdurachman Saleh, Jember. Lalu magister hukum (S2) di Universitas Brawijaya Malang. Di kampus yang sama dia berhasil meraih gelar doktor (S3) ilmu hukum.

Melihat pengalaman dan kapasitasnya, banyak orang mendukung dia menjadi wakil rakyat atau pemimpin daerah. Rendi sudah cukup banyak berbuat. Selamat ulang tahun Pak Rendi! Perkenankan saya memanggilnya “Bapak Doktor ‘dokter’ Rendi Ismail.”(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1604859
    Users Today : 4479
    Users Yesterday : 7365
    This Year : 541369
    Total Users : 1604859
    Total views : 13796537
    Who's Online : 52
    Your IP Address : 216.73.216.54
    Server Time : 2026-04-05