Filosofi Bak Truk yang Relevan di Era FOMO & JOMO

February 1, 2026 by  
Filed under Opini

Oleh : Riyawan S.hut *)

Di tengah perjalanan panjang di jalan raya, sering kali mata kita tertumbuk pada tulisan sederhana di bak truk. Kalimatnya singkat, bahasanya lugas, tapi maknanya dalam. Salah satunya berbunyi “ora perlu tenar, ora perlu sangar, ora perlu kowar-kowar, seng penteng rezeki lancar.”

Kalimat ini bukan sekadar hiasan atau candaan. Ia adalah potret cara pandang hidup yang jujur, membumi, dan tanpa disadari kalimat tersebut sangat relevan dengan fenomena modern seperti FOMO dan JOMO.

Tulisan di bak truk adalah suara jalanan. Ia lahir dari peluh, jam kerja panjang, dan realitas hidup yang tidak selalu ramah. Bagi para sopir, bak truk adalah kanvas, tempat menuangkan filosofi hidup yang tidak diajarkan di ruang seminar, tapi ditempa langsung di aspal panas. Dari situlah kita belajar bahwa hidup tidak selalu tentang terlihat hebat, tapi tentang bisa pulang dengan rezeki yang cukup dan hati yang tenang.

Makna “Ora Perlu Tenar, Ora Perlu Sangar, Ora Perlu Kowar-Kowar”

Di era digital, popularitas sering dianggap sebagai tolok ukur kesuksesan. Banyak orang berlomba-lomba tampil, bersuara keras, dan membangun citra. Namun, filosofi bak truk justru melawan arus itu dengan tenang.

“Ora perlu tenar” bukan berarti anti-sukses atau menolak kemajuan. Ini adalah pengingat bahwa tidak semua pencapaian harus disorot. Banyak pekerjaan penting yang berjalan dalam senyap. Sopir truk, misalnya, mungkin tak dikenal namanya, tapi tanpa mereka roda ekonomi bisa macet. Nilai seseorang tidak selalu sebanding dengan jumlah pengikut atau seberapa sering namanya disebut.

Lalu “ora perlu sangar” mengajarkan bahwa galak dan keras bukanlah simbol kekuatan. Di jalan raya, emosi mudah tersulut. Tapi mereka yang bertahan lama justru adalah yang sabar dan mampu menahan diri. Sikap tenang bukan tanda kalah, melainkan kecerdasan emosional. Hidup akan terasa lebih ringan saat kita berhenti merasa harus selalu terlihat dominan.

Sementara itu, “ora perlu kowar-kowar” menegaskan pentingnya tindakan dibandingkan omongan. Banyak orang terjebak dalam budaya pamer rencana dan pencapaian, padahal kerja nyata sering terjadi dalam diam. Prinsip ini mengajarkan fokus pada hasil, bukan validasi. Diam bukan berarti tidak punya apa-apa, tapi sedang sibuk membangun sesuatu.

Keseluruhan pesan ini mengarah pada satu tujuan utama yakni hidup yang tidak ribet, tidak penuh drama, dan tidak terkuras oleh tuntutan sosial yang tidak perlu.

Dari Bak Truk ke Media Sosial: FOMO yang Melelahkan

Kalau filosofi bak truk itu diterjemahkan ke konteks modern, ia seperti kritik halus terhadap FOMO (Fear of Missing Out). FOMO adalah rasa takut tertinggal, takut tidak ikut tren, takut tidak dianggap. Media sosial memperparah kondisi ini. Kita merasa harus selalu update, selalu terlihat sibuk, selalu punya cerita menarik.

Ironisnya, semakin kita mengejar pengakuan, semakin capek rasanya. Hidup jadi ajang perbandingan tanpa akhir. Melihat orang lain liburan, sukses, atau viral, kita lupa bahwa apa yang terlihat belum tentu utuh. FOMO membuat kita merasa kurang, padahal sebenarnya kita sedang baik-baik saja.

Di sinilah nasihat “ora perlu tenar” terasa menampar dengan lembut. Tidak semua momen harus dipamerkan. Tidak semua proses butuh penonton. Hidup bukan lomba siapa paling ramai, tapi siapa paling kuat bertahan.

Sikap “ora perlu sangar” juga relevan. FOMO sering memicu emosi berlebihan seperti iri, cemas, bahkan marah pada diri sendiri. Padahal, ketenangan adalah aset besar. Orang yang tenang cenderung lebih fokus, lebih jernih mengambil keputusan, dan tidak mudah goyah oleh hiruk-pikuk luar.

Sedangkan “ora perlu kowar-kowar” seolah berkata berhentilah menjelaskan hidupmu pada semua orang. Tidak semua orang perlu tahu rencanamu, dan tidak semua validasi itu penting. Energi yang kamu simpan bisa jadi bahan bakar untuk hal yang lebih berarti.

JOMO: Jalan Tenang Menuju Rezeki yang Lancar

Jika FOMO adalah kebisingan, maka JOMO (Joy of Missing Out) adalah ketenangan. JOMO mengajarkan kebahagiaan dari memilih untuk tidak selalu ikut. Bukan karena tidak mampu, tapi karena sadar apa yang benar-benar dibutuhkan.

JOMO sejalan dengan kalimat pamungkas bak truk “sing penting rezeki lancar.” Rezeki yang lancar bukan hanya soal uang, tapi juga ketenangan batin, kesehatan, dan waktu bersama keluarga. Semua itu sulit didapat jika hidup terus dikejar rasa takut ketinggalan.

Dengan JOMO, kita belajar memilah. Tidak semua undangan harus dihadiri, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua perdebatan perlu dimenangkan. Kita mulai menghargai hidup yang cukup, bukan hidup yang kelihatan wah.

Penerapannya sederhana. Kurangi notifikasi yang tidak perlu. Nikmati waktu tanpa harus mendokumentasikan segalanya. Fokus pada pekerjaan dengan sungguh-sungguh, meski tidak selalu terlihat. Seperti sopir truk yang tetap melaju, meski namanya tak pernah terpampang di baliho.

Pada akhirnya, filosofi bak truk dan konsep JOMO bertemu di satu titik yakni hidup yang jujur pada diri sendiri. Tidak sibuk membuktikan apa-apa, tidak terjebak dalam kebisingan sosial, dan tidak lupa tujuan utama, rezeki yang lancar dan hati yang lapang.

Di dunia yang serba cepat, mungkin kita memang tidak perlu tenar, tidak perlu sangar, dan tidak perlu kowar-kowar. Karena sering kali, yang paling berharga justru datang pada mereka yang berjalan pelan, fokus, dan tahu kapan harus “ketinggalan”.

*) Pemerhati Sosial & Budaya

 

Roy Marten ke Banjar

January 31, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SETELAH nonton film Kuyank, Kamis (29/1), saya terbang ke Banjarmasin. Saya bersama M Alinoer Parewasi bergabung dengan rombongan Roy Marten yang terbang dari Jakarta. Kami memenuhi undangan mantan bupati Kota Baru Sayed Jafar Alaydrus (SJA) yang sekarang menjadi ketua DPD Partai Hanura Kalsel.

Roy Marten dan Sayed Jafar diwawancarai di Lontong Sayur Orari.

Roy Marten yang saya sebut, tak lain adalah aktor gaek berusia 73 tahun yang masih menarik perhatian. Aktor kelahiran Salatiga 1 Maret 1952 yang bernama lengkap Roy Wicaksono Abdul Salam itu tiada lain   adalah ayah Gading Marten, aktor muda yang dikenal juga sebagai presenter, penyanyi, dan pengusaha.

Saya dulu tergila-gila nonton filmnya Roy Marten. Salah satu yang saya ingat betul ketika dia main di film Cintaku di Kampus Biru (CKB) tahun 1976. Film itu mengambil lokasi di kampus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, yang sekarang lagi heboh dengan kasus ijazah.

Waktu itu saya masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Meski CKB film drama percintaan, tapi juga menggambarkan kehidupan mahasiswa tahun 70-an. Ada adegan aksi demonya. Tahun 1974 ada peristiwa Malari, Malapetaka 15 Januari 1974. Demo besar-besaran dari mahasiswa menentang kedatangan PM Jepang Kakuei Tanaka, yang menyebabkan 11 orang tewas, 137 luka-luka dan 750 orang ditangkap.

Di CKB, Roy bermain dengan artis Rae Sita dan Yatti Octavia. Lewat film ini Roy Marten pertama kali naik daun. Film ini diadaptasi dari novel berjudul Cintaku di Kampus Biru, karya novelis Indonesia Ashadi Siregar. Kebetulan Ashadi juga alumnus kampus UGM, Bulak Sumur.

Novel lain dari Ashadi yang juga difilmkan di antaranya Kugapai Cintamu, Terminal Cinta Terakhir, dan Sang Jagoan. Roy juga menjadi bintang utama dalam film Kugapai Cintamu.

Saya jadi akrab dengan Roy Marten

Dari pemain film, Roy juga dikenal di panggung politik. Juga pengusaha. Dia banyak kenal dengan berbagai kalangan elite. Mulai menteri sampai presiden. Juga berbagai tokoh pengusaha. Maklum dia tokoh hiburan populer.  Pernah meraih penghargaan Pemeran Utama Pria Terbaik pada FFI 1983 dan Aktor Terfavorit Panasonic Awards.

AKRAB DENGAN ANWAR FUADY

Kami sama-sama senang datang ke Banjarmasin atas undangan SJA. “Senang sekali bisa datang ke Banjar karena ini daerah menarik dan memesona, menarik perkembangan kotanya, menarik pariwisatanya dan menarik makanannya,” kata Roy dengan wajah semringah.

Roy datang bersama dua rekannya, yaitu Ali Imron dan Rames Hasmara. Rames berdarah India, dikenal juga sebagai produser film dan pengusaha fasilitas olahraga di antaranya cabang golf. “Saya mau bikin lapangan golf bagus dekat Bandara Sepinggan Balikpapan,” kata Rames.

Sosok Bupati SJA juga tak kalah menariknya. Meski tanah kelahirannya Kota Baru,  dia lama dibesarkan di Kampung Baru, Balikpapan. Dia berkembang menjadi pengusaha minyak dari Kampung Baru. Sama seperti keluarga Bani Mas’ud yang sekarang menjadi penguasa Kaltim. “Saya kenal dengan Pak Mas’ud, ayah mereka,” kata SJA.

Setelah purnatugas sebagai bupati, SJA aktif kembali sebagai pengusaha. Puluhan SPBU-nya ada di Kota Baru. Juga dia punya kapal feri penyeberangan dan dermaga dok kapal. Selain tetap aktif di panggung politik dengan memimpin Partai Hanura Kalsel.

Dulunya SJA aktif di Golkar lalu hijrah ke Hanura. “Hanura itu satu-satunya partai nasional berdarah Kalimantan. Soalnya ketua umumnya, Oesman Sapta Odang (OSO) dari Kalbar. Jadi wajib kita bela dan perjuangkan,” katanya bersemangat.

Sebagai “komandan” baru di Hanura Kalsel, selain melakukan konsolidasi organisasi, SJA secara masif mengampanyekan misi dan garis perjuangan Hanura di tengah masyarakat. Itu pula sebabnya dia juga mengundang Roy Marten yang akrab dengan pimpinan Hanura di pusat, baik dengan OSO maupun Anwar Fuady, orang film yang kini menjadi wakil ketua Dewan Penasihat DPP Hanura.

Dengan membawa Roy, masyarakat Kalsel jadi ramai menyambutnya. Sebagian besar minta foto bersama. SJA memanfaatkan momen itu dengan memperkenalkan Hanura dan menarik kader baru. “Saatnya Hanura di Kalsel merebut kursi di DPRD dan DPR RI. Tidak tertutup kemungkinan juga kursi gubernur,” jelasnya.

Roy sempat diajak ikut dalam kegiatan bakti sosial dengan menyerahkan bantuan kepada warga di Desa Teluk Selong Ulu, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar. Sebagian besar mereka terdampak musibah banjir yang terjadi beberapa waktu lalu. “Terima kasih Pak Sayed Jafar, terima kasih Pak Roy mau datang ke kampung kami,” kata warga bersemangat.

SJA juga mengajak Roy Marten berwisata kuliner. Sempat mau ke Pasar Terapung, akhirnya pesta makan Soto Bang Amat dan Lontong Sayur Orari. “Wow, enak banget,” kata Roy. Dia sempat tertawa melihat Pak Rames makan begitu lahap di Lontong Sayur Orari. Lima potong iwak haruan disikatnya.  “Luar biasa,” katanya berpeluhan.

Iwak haruan atau gabus dikenal sebagai salah satu ikan air tawar Kalimantan. Nama ilmiahnya Channa striata. Berkeluarga dengan ikan toman (Channa micropeltes), yang dikenal berkhasiat untuk meningkatkan sistem imun, agar tubuh lebih kuat melawan infeksi dan penyakit. Juga menyerap kalsium lebih baik, sehingga tulang dan gigi tetap kuat.

Sekretaris DPD Hanura, Hj Syarifah Santiyansyah, SH, M.Si yang juga adik kandung SJA bersama putra SJA, Sayed Sultan Yasin Alaydrus bahu membahu mempersiapkan acara di lapangan. Hj Santi pernah di Dewan dan sangat cekatan. Sedang Sultan dipersiapkan menjadi ketua DPC Hanura Kota Baru dengan misi merebut kursi di DPRD dan maju sebagai calon bupati. “Saya siap berjuang,” katanya penuh semangat. Saat ini Sultan juga aktif menjabat sebagai wakil ketua dan bendahara DPD Laskar Muda Hanura Kalsel.

Ketika saya share foto saya bersama Roy Marten, teman-teman di Group Domino KKSS bilang saya mau diajak main film sama Roy. Apalagi saya baru saja berteman dengan sutradara film “Kuyank”, Johansyah Jumberan dan produser film Rames Hasmara. Bisa jadi judulnya “Mantan Wali Kota.” He…(*)

Redy Borong Seribu Tiket Kuyank

January 27, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

JANGAN lupa dua hari lagi. Yaitu, Kamis, 29 Januari 2026. Ada pemutaran film menarik di seluruh bioskop di Indonesia terutama di Kalimantan. Mau tahu? Judulnya “Kuyank,” yang disutradarai anak Banjar yang mempunyai ngaran  Johansyah Jumberan.

H Redy Asmara bersama sutradara Johansyah Jumberan dan Jolene Marie serta bubuhan Banua Balikpapan setelah nonton bareng film Kuyank

Johan asli urang Banjar. Kalau bapander R-nya “betagar.” Tapi dia hebat. Memulai karier dari penulis skenario. Film pertamanya meledak dan heboh. Judulnya “Saranjana,” kota gaib di kawasan Pulat Laut, Kota Baru, Kalsel. Jumlah yang menonton di atas satu juta orang.

Kuyank dibaca kuyang sepertinya bakal menyamai Saranjana. Bahkan bisa lebih. Karena sudah viral di jagad media sosial. Ini cerita memang menarik dan penuh mistis. Hampir semua orang tahu, kuyang adalah sejenis hantu yang melegenda terutama di Kalimantan Selatan. Dia suka menghisap darah wanita hamil, orang yang tengah melahirkan atau anak-anak balita.

Dalam film Kuyank, Rusmiati yang diperankan Putri Intan Kasela terpaksa mempelajari ajian kuyang demi kecantikan dan keabadian. Ini gara-gara mertuanya mendorong sang suami, Badri (diperankan Rio Dewanto) disuruh poligami  alias babini dua untuk mendapatkan keturunan. Rusmiati gaer kehilangan Badri, sehingga dia nekat menjadi kuyang. Ceritanya menjadi seru karena Rusmiati “Kuyank” akhirnya diburu masyarakat, sementara Badri berusaha melindungi istrinya yang sangat dia cintai.

Adegan penyiraman air kembang ke Rusmiati di dalam guci untuk menjadi kuyang

Meski bergenre film horor, tapi Kuyank juga menghibur. Banyak adegan dan dialog yang mengundang tawa khususnya bagi mereka yang mengerti bahasa Banjar. Ada istilah bungas, yang menggambarkan wanita cantik. Ada lelaki baung yang menggambarkan lelaki kijil atau lanji.

Sutradara Kuyank, Johansyah Jumberan, Senin kemarin ada di Balikpapan. Dia datang bersama dua pemain yaitu Jolene Marie dan Dayu Wijanto. “Tadinya Rio Dewanto mau datang. Tapi terhalang jadwal syuting sinetron yang padat,” ujarnya.

Jolene Marie adalah ratu kecantikan, penyanyi dan runner-up kontes Puteri Indonesia 2019. Dia dilahirkan di Santa Ana, California. Dalam Kuyank, dia berperan sebagai Husnah, yang mengantarkan  Rusmiati menjadi kuyang. Dia juga kuyang. Sedang Dayu Wijanto adalah orang Jawa yang menyukai bidang seni dan olahraga. Pernah tinggal di New York dan pernah bekerja dengan BJ Habibie. Dia banyak ikut membintangi film nasional. Dalam Kuyank dia berperan sebagai Hj Saidah, mamanya Badri. Tampil nora dengan tangan dan leher penuh perhiasan emas. Maklum ceritanya mereka keluarga pedagang emas.

Johan sempat singgah di rumah tokoh senior Banjar Balikpapan, pengusaha H Redy Asmara di Balikpapan Baru. Di situ ada juga saya dan beberapa tokoh Banjar lainnya. Ada Bu Titis, Bu Erna, Rudi, H Syukur, Yatim dan lainnya. Sambil menikmati beberapa wadai Banjar, Johan bekesah sekitar film Kuyank, yang segera tayang di seluruh bioskop di Tanah Air.

Johan sempat membagi kaus dan pin Kuyank kepada H Redy. Ada juga parfum Kuyank. “Biar taingat terus dengan film Kuyank dan semua mau menonton,” ajaknya.

Menurut Johan, penggarapan film Kuyank benar-benar penuh perjuangan. Para pemain dia angkut dari Jakarta dan berdiam sebulan di Banjar. Biar mengerti budaya dan Bahasa Banjar. Propertinya tidak tanggung-tanggung. Beratnya sekitar satu setengah ton. “Semua kita bawa agar film Kuyank benar-benar bisa ditonton dan menarik,” ujarnya.

H Redy meyakini film Kuyank bakal sukses. Tidak saja disukai orang Banjar, tapi juga masyarakat Indonesia lain. Kuyang itu mirip parakang di Sulawesi Selatan atau leak di Bali.

Untuk memberikan dukungan, H Redy memborong seribu tiket Kuyank. Nanti akan dia bagi gratis kepada semua anak buah dan pekerjanya. “Biar semua bisa menonton dan film Kuyank sukses di Tanah Air terutama Kalimantan,” katanya bersemangat.

Tadi malam Johansyah mengajak H Redy dan bubuhan Banua Balikpapan menonton pemutaran perdana film Kuyank di XXI Balcony. Ratusan orang datang dan memuji film Kuyank memang menarik dan menunjukkan ada anak Banjar yang jago maulah film berlatar belakang kisah budaya daerah.

Dari Balikpapan, hari ini Johan bersama dua artisnya meneruskan kunjungan promosinya ke Samarinda. Dia tahu orang Samarinda juga tak sabar untuk menonton Kuyank. “Ajak bubuhan kita semua menonton Kuyank.  Sudah waktunya film Kalimantan juga berjaya di layar nasional,” kata Johan bahimat.

USUL FILM “BUAYA KUNING”

Sebagai urang Kalua, H Redy tertarik mengajak Johansyah menggarap film Buaya Kuning.  Dia siap bekerjasama karena cerita buaya kuning juga melegenda di Kalimantan Selatan termasuk di wilayah Kalimantan lainnya.

Kabarnya masih ada masyarakat tradisional Banjar yang maharagu buaya kuning. Adat ini masih dilestarikan di sepanjang Sungai Tabalong oleh masyarakat Kalua dan Amuntai. Sebagian orang percaya bahwa buaya kuning adalah jelmaan  para datu yang telah hidup sejak zaman Putri Junjung Buih. Ada juga yang mendapatkan buaya kuning melalui kembaran saat lahir.

Bagi orang Banjar, buaya kuning dipercaya sebagai mahluk gaib yang melakukan perjanjian dengan manusia berkaitan dengan ilmu kesaktian, kemakmuran atau kekayaan hingga panjang umur. Sebagai gantinya manusia dan anak cucunya kelak harus merawat dan memelihara buaya kuning tersebut melalui ritual Malabuh.

Upacara Malabuh itu ditandai dengan melarungkan sejumlah makanan di antara lakatan (ketan), hintalu bejarang (telur rebus), pisang, bubur habang dan bubur putih serta sejumlah makanan lainnya. Kalau ini tidak dilakukan, maka bakal ada anggota keluarga yang mengalami sakit atau bahkan kematian.

Menurut H Redy, jika legenda buaya kuning difilmkan, dia optimistis juga meledak di pasaran. Karena ceritanya sangat menarik dan penuh aroma mistis.

Johan sendiri mengaku tertarik memfilmkan buaya kuning, apalagi mendapatkan dukungan dari pengusaha H Redy. “Kita perlu mengangkat berbagai cerita dan budaya Banjar, biar orang tahu bahwa suku Banjar di Kalimantan juga kaya dengan budayanya termasuk cerita mistisnya,” kata Johansyah dengan wajah bahagia.

Sepulang nonton film Kuyank malam tadi, saya tidur dengan lampu yang terang. Saya takut tengah malam kuyang masuk ke kamar saya. Soalnya sejak dulu saya takut hantu. Ada kawal begayaan. “Kada usah takut, kuyang kada mau mahisap darah orang tuha. Darahnya pahit, kuyangnya bisa keracunan” katanya tertawa.(*)

Jaksa Agung Undang Bu Mei

January 26, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

JAKSA AGUNG ST Burhanuddin berkunjung ke Kaltim, pekan lalu. Ada mantan pejabat Pemprov Kaltim mendapat undangan khusus bertemu dengannya. Semua yang melihat kaget. Siapa dia dan ada perkara apa?

Mantan pejabat yang dimaksud adalah Dr Hj Meiliana, yang akrab dipanggil Bu Mei. Dia sudah purnatugas. Jabatan terakhir Bu Mei sebagai Pj Sekdaprov Kaltim. Tapi dia juga pernah menjadi Plt Wali Kota Samarinda, Pelaksana Harian (Plh) Gubernur Kaltim, Kepala LAN Samarinda dan Asisten III Sekprov.

Bu Mei bersama Jaksa Agung ST Burhanuddin dan Ibu Suparmi, jaksa yang diperbantukan menjadi kepala Biro Hukum Sekdaprov Kaltim.

Bu Mei sekarang ini aktif dalam beberapa organisasi sosial di antaranya  wakil ketua 3 BKOW Kaltim, ketua PPUMI, ketua LK2S, Lembaga Kesejahteraan Sosial Kaltim, ketua LASQI dan wakil ketua IKA Unmul. Selain itu juga menjadi penasihat Tim Pengembangan Pulau Maratua.

“Ya saya yang diundang beliau. Kami bertemu di kantor Kejaksaan Negeri Samarinda hari Kamis (22/1),” kata Bu Mei tersenyum.

Menurut Bu Mei, sebelum Jaksa Agung datang ke Samarinda, dia sudah diberitahu melalui pesan WhatsApp (WA). “Saya akan berkunjung ke Kaltim, kalau ada kesempatan nanti kita bertemu,” begitu pesan  Jaksa Agung kepada Bu Mei.

Kenapa Bu Mei mendapat perhatian khusus  Jaksa Agung? “He..he.. Pak Jaksa Agung itu teman lama saya ketika kami sama-sama mengikuti Diklatpim 2 dan 1 di LAN RI Pejompongan Jakarta tahun 2003 dan 2008,” jelasnya.

Waktu itu, lanjut Bu Mei, Pak ST Burhanuddin masih muda. Ketika Dilatpim 2, ST Burhanuddin  memangku jabatan kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Cilacap. Sedang pada Dilatpim 1, dia memangku jabatan wakil kajati Aceh.

“Kami akrab, sama-sama berjuang dengan teman-teman lainnya termasuk dengan Pak Burhanuddin. Beliau memang hebat dan cerdas, sampai akhirnya jadi Jaksa Agung seperti sekarang ini,” jelasnya.

Bu Mei mengaku mengapresiasi dan merasa terhormat bisa bertemu dengan Jaksa Agung. Meski dalam keadaan sibuk dan sudah menjadi pejabat tinggi negara masih ingat dengan teman-teman lama. “Saya tersanjung atas perhatian beliau dan beliau masih ingat dengan teman seperjuangan,” tambahnya.

Ketika bertemu di Kejari Samarinda, Jaksa Agung ST Burhanuddin didampingi Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kaltim Dr Supardi, SH, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Samarinda Firmansyah Subhanm SH, MH  dan Ibu Hj Suparmi, SH, kepala Biro Hukum Kantor Gubernur, yang masih berstatus aparat Kejaksaan.

Dr Supardi terbilang Kajati baru. Dia dilantik Jaksa Agung sekitar September 2025 menggantikan pejabat lama, Dr Iman Wijaya, SH, M.Hum. Sebelumnya dia pernah menjadi direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus).

Sementara Kajari Samarinda baru saja mendapat apresiasi masyarakat atas keberhasilannya memulihkan keuangan negara senilai Rp2,51 miliar lewat Perusda Pertambangan Bara milik Pemprov Kaltim setelah adanya putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Samarinda.

Menurut Firmansyah, keberhasilan pengembalian dana ini merupakan wujud nyata komitmen Kejaksaan dalam memulihkan keuangan negara maupun daerah.

Kajari juga menerima penghargaan dari Kapolresta Samarinda sebagai bentuk apresiasi atas sinergitas dan dalam penegakan hukum di wilayah Kota Samarinda, yang berlangsung lancar dan efektif.

Sekitar satu jam bertemu Jaksa Agung, aku Bu Mei, tidak ada pembicaraan serius berkaitan masalah hukum di daerah. Mereka hanya bicara hal-hal ringan dan nostalgia masa lalu. “Saya ke Kaltim untuk melihat dan menyemangati aparat Kejaksaan di sini dalam menjalankan tugasnya terutama berkaitan dengan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi,” kata ST Burhanuddin.

Dalam kunjungan 2 hari itu, Jaksa Agung sempat menikmati buah durian dan lai. Buah lai adalah jenis buah durian asli Kalimantan. Nama botanisnya Durio kutejensis. Artinya durian dari Kutai. Selain itu, dia juga sempat bernyanyi saat menginap di Hotel Fugo Samarinda sambil melihat ratusan tongkang batu bara melintas di bawah Jembatan Mahakam.

ATENSI KORUPSI SDA

Kedatangan Jaksa Agung ST Burhanuddin ke Kaltim mendapat perhatian khusus  para awak media. Ada yang menyebut itu kunjungan mendadak, sehingga ada kemungkinan besar ada kasus atau peristiwa hukum yang disasar.

Kepada para wartawan, Jaksa Agung melalui Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Anang Supriana menjelaskan, kedatangannya ke Kaltim dalam rangka memantau langsung kesiapan personel serta mengukur capaian kinerja Kejaksaan Tinggi maupun Kejaksaan Negeri di wilayahnya masing-masing.

“Jaksa Agung menegaskan agar jajaran di daerah memberikan perhatian khusus pada perkara yang menyangkut hajat hidup orang banyak, lingkungan serta sektor energi,” kata Anang.

Berkaitan dengan hal itu, Jaksa Agung menuntut penegakan hukum yang tidak hanya profesional dan berintegritas, tetapi juga mampu menuntaskan berbagai tunggakan perkara lama.

Ia juga mengatakan bahwa tindak pidana korupsi di wilayah Kalimantan Timur tergolong cukup besar dengan nilai kerugian negara yang signifikan.

Kejaksaan Agung, kata Anang, memberikan dukungan atas penertiban kasus-kasus krusial, seperti tambang ilegal melalui sinergi dengan aparat penegak hukum lainnya. Selain itu pihaknya juga memberikan perhatian khusus terhadap kasus dugaan penyelewengan dana hibah Desain Besar Olahraga Nasional, yang melibatkan kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim.

Dalam pengarahannya, Jaksa Agung menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kerja keras jajaran Kajati Kaltim dalam meningkatkan citra Kejaksaan sebagai Lembaga penegak hukum yang profesional dan terpercaya.

Jaksa Agung dan rombongan datang dan pulang melalui Bandara APT Pranoto Samarinda. Dia sempat disambut Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro, Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono, Kajati Kaltim Dr Supardi dan Wali Kota Samarinda Andi Harun.

Selain ke Samarinda, dia Sempat melakukan kunjungan kerja ke Kejari Balikpapan dan Kutai Kartanegara. Dia menekankan agar aparat Kejaksaan bisa menjaga diri dari perbuatan tercela dan mampu melaksanakan tugasnya sebagai aparat penegak hukum terutama dalam pemberantasan korupsi dan penyelamatan aset negara.(*)

Planga-Plongo

January 25, 2026 by  
Filed under Opini

Oleh: Jaya Suprana

ASKARA – Dua debat termashur sepanjang sejarah iptek adalah antara Niels Bohr lawan Albert Einstein tentang kuantum serta Noam Chomsky versus B.F Skinner tentang proses belajar. Saya pribadi lebih berpihak ke Bohr dan Chomsky meski saya tetap menghormati dan menghargai Einstein dan Skinner.

Sebagai warga awam yang dibesarkan di lingkungan kebudayaan Jawa, wajar saya berikhtiar memelajari psikolinguistik Jawa tanpa berani dumeh  merasa diri pasti benar. Di ranah protopsikologi Jawa dikenal beberapa istilah terkait karakter manusia yang menggunakan kata-ulang saling mirip meski tidak sama (lazimnya beda satu huruf) yaitu morat-marit, petakal-petakil, mencla-mencle, cengangas-cengenges, cekat-ceket, sat-set, gasrak-gusruk, compang-camping, gedebak-gedebuk atau plonga-plongo.

Akhir-akhir ini berkat jasa atau dosa seorang pejabat tinggi Indonesia yang tidak perlu saya sebut namanya di sini namun semua pasti tahu siapa beliau, istilah plonga-plongo menjadi popular. Wajar di alam kebebasan berpendapat semesta demokratis, hadir pula para antisimpatisan dan simpatisan sang pejabat tinggi sehingga muncul dualisme dalam tafsir terhadap plonga-plongo.

Para antisimpatisan menganggap plonga-plongo adalah sikap kepribadian buruk citra kedunguan, kegoblokan, kebodohan, kebebalan, kepandiran yang ditampilkan oleh para “bolo  dupak” semisal Buto Cakil dan Burisrawa pada mitologi pewayangan. Pendek kata, plonga-plongo tidak pantas bagi seorang pejabat tinggi yang seharusnya menjadi panutan rakyat.

Sebaliknya, para simpatisan meyakini plonga-plongo adalah sikap kepribadian jati diri citra kejujuran, ketulusan, indera humor tinggi, kerendahan hati, kearifan seperti yang ditampilkan oleh para Punakawan pada mitologi pewayangan yang sangat dihormati oleh para kesatria bahkan dewata. Gejala sikap plonga-plonga juga tampak pada diri Batara Narada yang senantiasa setia mendampingi Batara Guru. Pendek kata, plonga-plongo pada saat-saat tertentu dianggap pantas bagi seorang pejabat tinggi yang seharusnya menjadi panutan rakyat jelata seperti halnya para Punakawan terutama pada diri Bagong yang mewarisi sikap arif bijaksana Ki Semar Badranaya, di balik tabir citra keplonga-plongoannya. Menurut versi wayang purwa,  Ki Semar Badranaya dalam hal kesaktian flatulisme alias angin perut atau  kentut tiada tanding di jagad raya ini.

Sungguh di luar niatan naskah sederhana ini untuk berani melibatkan diri ke dalam kemelut polemik plonga-plonga secara politis. Sungguh tidak ada mens rea menyelinap di lubuk sanubari saya. Naskah sederhana ini sekadar secara subyektif ingin mengungkap rasa hormat, kagum dan takjub saya pribadi terhadap daya kreatifitas kakek-nenek moyang Nusantara dalam menggunakan tutur-kata kaya makna dan matra.

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1316121
    Users Today : 5940
    Users Yesterday : 6221
    This Year : 252630
    Total Users : 1316120
    Total views : 12012292
    Who's Online : 33
    Your IP Address : 216.73.216.15
    Server Time : 2026-02-12