HPN 2025 Kalsel : Buku, Puisi dan Ziarah Para Wali

February 18, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Hery Farmansyah (Wakil Direktur Anugerah PWI Pusat)

BERSYUKUR dan berterima kasih.  Hanya dua kata tersebut rasanya yang layak diungkapkan atas kesuksesan Hari Pers Nasional (HPN) 2025 di Kalimantan Selatan dengan segala rangkaian kegiatan yang “membumikan”  PWI dibawah kepemimpinan Hendry Ch Bangun sebagai Ketua Umum dan M Iqbal Irsyad sebagai sebagai Sekjen.

Bersyukur kesuksesan HPN 2025 Kalsel atas Karunia Allah SWT semata dengan berkah Bumi Lambung Mangkurat sebagai Bumi para Wali dan Berterima kasih karena bisa bersama para wartawan hebat yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pers tanah air.

Ditengah kompleksitas yang tinggi, dengan gaya kepemimpinan yang khas, pria yang akrab disapa Bang Hendry ini,  mendapat dukungan penuh dari tim solid dibawah komando Bang Raja Pane sebagai Panglima (Ketua Panitia Pusat) didampingi  dua “Smiling General” M Sarwani sebagai Sekretaris dan H M Nasir sebagai Bendahara dan  Panitia Daerah yang luar biasa dibawah Komando Ketua PWI Kalsel Zainal Helmie dan Toto Fachrudin sebagai Sekretaris PWI Kalsel yang mengkoordinir semua panitia daerah.

Sejumlah rangkaian kegiatan HPN 2025 Kalsel dapat dilaksanakan dengan baik dan sesuai harapan, seperti Jalan Bersama dari titik 0 dan Pembagian Bibit Sayur untuk Ketahanan Pangan yang diikuti ribuan warga yang tidak hanya dari Banjarmasin tapi juga daerah sekitar.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Pemeritah Provinsi Kalsel melalui Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan (Plh Sekda Kalsel), Muhammad Syarifuddin, “Dengan kolaborasi ini, kita berharap dapat mendorong masyarakat untuk lebih mandiri dalam pemenuhan kebutuhan pangan, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan,”sampai sekda.

Melalui HPN 2025 juga menyumbang pemikiran-pemikiran kolektif melalui Diskusi Adinegoro & Pelatihan Pers Kampus dari Adinegoro yang melibatkan mahasiswa dan akademisi di Universitas Lambung Mangkurat. Seminar Nasional “Pers Mendorong Terwujudnya Ketahanan Pangan Nusantara”, Media Sustainability di Era Kecerdasan Buatan dan “Ekonomi Pancasila Prabowonomics” dengan narasumber TOP.  Salah satunya Dahlan Iskan.

Kita dapat merasakan kesuksesan perayaan puncak HPN 2025  di Ibukota Kalimantan Selatan Kota Banjarbaru, 09 Februari 2025, dengan venue yang luas dan refresentatif dihadiri Menteri Kebudayaan Fadli Zon mewakili Presiden RI serta dipadati 3000-an orang yang terdiri dari unsur Pengurus PWI 30 Provinsi, wartawan dan keluarga, Forkopimda Kalsel dan jajarannya serta sejumlah tamu undangan penting lainnya.

 

Buku HPN 2025 “Bumi Lambung Mangkurat Dalam Genggaman”

Salah satu tradisi HPN panitia menerbitkan beberapa buku sebagai “Mahkota” para wartawan.  Dan tahun ini karena keterbatasan waktu hanya menerbitkan satu buku sebagai oleh-oleh HPN 2025 Kalsel. Sama seperti HPN 2024,  Saya turut serta dalam tim buku untuk HPN di Jakarta.  Setelah absen lama pernah menjadi tim buku HPN 2012 di Jambi.

Dalam catatannya, Ketua Tim Buku HPN 2025 Kalsel A.R Loebis menyampaikan Persiapan menerbitkan buku ini, relatif cepat, hanya sekitar dua bulan, sehingga butuh kerja ekstra keras dan tim sregep yang bisa dengan cepat menjalin cerita dan yang paling utama memiliki waktu luang.

Ada dua penulis dari Jakarta, saya dan Djunaedi Tjunti Agus, yang merangkap sebagai editor, kemudian rekan Eka Putra dari Pakanbaru dan Hery Farmansyah dari Jambi.

Penulis lain berasal dari tuan rumah Kalimantan Selatan. Nama mereka adalah: Jamaluddin, Muhammad Syarafuddin, Jainal Mutaqien, Rizal Dahfi Rizki, Shella, Fara Sela, Hani, Aya Sugianto (fotografer), Jumain.

Malam Puisi Untuk Seribu Sungai di Bumi Lambung Mangkurat

Sejak dibuka pendaftaran untuk mengikuti baca puisi Hari Pers Nasiona (HPN) 2025 Kalsel, dengan penuh percaya diri saya mendaftarkan diri untuk turut meramaikan salah satu kegiatan pavorit saya setiap mengikuti rangkaian dari HPN ke HPN lainnya.

Sebagai bentuk apresiasi untuk para penyair tanah air, di setiap media yang kami Kelola jaringan “Asri Media Network” memberikan ruang khusus untuk publikasi  karya puisi.  Dan di sumateradaily.com ada redaktur khusus seorang penyair Saidiy Poe yang mengelola karya puisi yang dikirim ke redaksi.

Secara khusus saya minta kepada Saidy Poe untuk membuatkan saya satu puisi “Bhineka Tunggal Ika, Masih Adakah?” untuk saya bacakan pada malam puisi untuk Seribu Sungai di Bumi Lambung Mangkurat”

Tapi malam puisi yang digawangi Beny Benke di Kalsel bersama 25 penyair wartawan tanah air itu ternyata area “Killing Zone” bagi saya karena mereka yang tampil malam itu benar-benar para wartawan penyair yang luar biasa. Kepercayaan diri saya langsung “melorot”.

Di antara nama-nama para peserta baca puisi itu tercatat Rita Sri Hastuti, Umi Sjarifah, Heryanto Aseng dari Jakarta, Hery Farmansyah dari Jambi, Idris Pasaribu dari Sumatera Utara dan penyair tuan tumah Ratna Sari, Rini Muliana, Rahmi Indah Wati, Raudah Anisya, Mariana, Salmah Nina Megasari Rini Dewi Masmuda, Suroto, dan lainnya.

“Saya kirim wartawan penyair Kalsel yang top-top” tutur Ketua PWI Kalsel bang Zainal Helmi saat ngobrol dan saya cerita kondisi malam puisi tersebut.

 

Ziarah Para Wali

Salah satu daya tarik dan berkah tanah Kalsel adalah keberadaan para ulama yang diyakini masyarakat banjar sebagai Wali Allah yang tersebar di Bumi Lambung Mangkurat tersebut.

Dalam tradisi masyarakat Banjarmasin ada tradisi menziarahi para wali di Kalsel yang dikenal sebagai empat pilar utama; Al Habib Hamid Bin Abbas Bahasyim atau dikenal Syech Basiri di Sungai Lulut. Dari sang ulama ada pembelajaran utama bagaimana keramatnya seorang ibu, dan mengajarkan tata ekonomi serta syiar Islam yang bermukim di Sungai Lulut.

Sultan Suriansyah merupakan raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Dan dari syiar yang terus dilakukan sang Sultan, masyarakat Banjarmasin menjadi mayoritas beragama Islam.

Al-Alimul Al-Allamah Al-Arif Billah Asy-Syaikh Muhammad dikenal dengan nama Datu Kalampayan. Beliau yang menanamkan nilai-nilai tauhid yang kuat dan fiqih Mazhab Syafii.

Muhammad Zaini Abdul Ghani atau lebih populer dengan sebutan Guru Sekumpul atau Guru Ijai.  Beliau ini merupakan magnit Kalsel Paling Populer sebagai ulama yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan penuh gotong royong serta peduli pada sesame melalui keutamaan ibadah sedekah.

Hanya saja urut-urutan ziarah ke para wali tersebut tidak dapat dilakukan sebagaimana tradisinya, terpaksa dilakukan secara acak karena menyesuaikan dengan mengikuti kegiatan utama rangkaian kegiatan HPN 2025 di Kalsel. Dimulai ziarah perdana sejak menapaki kaki di Kalsel ke Datu Kelampayan, Mesjid Sultan Suriansyah, Tuan Guru Sekumpul Martapura dan Syech Basiri di Sungai Lutut.

Bersyukur dan berterima kasih sajalah untuk semua kesuksesan HPN 2025 di Banjarmasin Kalsel (*)

Jambi, 18 Februari 2025.

Surata dan Pringgondani

February 18, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA kaget tiap hari libur ribuan warga Balikpapan dan tamu luar singgah ke Taman Pringgondani. Itu bukan taman wisata religi dan pertapaan yang ada di kaki Gunung Lawu Blumbang Tawangmangu, Jateng, tetapi kawasan taman wisata dan kebun penelitian agronomi yang dibangun Dr Surata di Gunung Binjai, Teritip, Balikpapan Timur.

Dr Surata adalah mantan kepala sekolah dan lurah pada era saya jadi wali kota. Pelan-pelan dia membangun Taman Pringgondani di atas lahan seluas 2 hektare sejak 2006. Di sana dia tanami ratusan bahkan ribuan pohon berbagai jenis terutama pohon khas Kalimantan seperti ulin, meranti, bengkirai, dan gaharu. Selain itu ada pohon asam jawa dan asam kuranji, pohon durian, cempedak, dan lai. Banyak lagi jenis lainnya.

Pak Maman dan istri beli jambu bol di Pasar Tumpah Pringgondani

Ternyata usahanya itu berhasil. Taman itu tumbuh dan berkembang, apalagi tiap hari ibur Sabtu dan Minggu dia buka Pasar Tumpah yang memfasilitasi 150 UMKM di Teritip berjualan berbagai jenis makanan dan minuman di sela-sela pohon yang ditanam. Juga ada yang jual buah dan sayur-sayuran  hasil tanaman petani setempat.

Ada 9 ribuan pengunjung datang sehari. Sekitar seribu kendaraan yang masuk ke sana. Itu menunjukkan warga kota dan tamu sudah tahu ada Taman Wisata Pringgondani yang menarik dan patut dikunjungi. Taman itu diresmikan Wali Kota Rahmad Mas’ud menjelang HUT ke-127 Kota Balikpapan tahun 2024 lalu.

Maklum Dr Surata berdarah Jawa, maka taman itu dia seting bernuansa Jawa. Semua petugas dan pelaku usaha di sana mengenakan baju lurik Jawa. Yang pria mengenakan blangkon dan yang wanita menggunakan topi caping.

Surata juga membuka kios baju Jawa di sana. Yang menjaga dan mengusahakan adalah istrinya, Ibu Sumiyati. “Biar yang mau menggunakan busana Jawa tidak repot mencarinya,” kata lelaki kelahiran Ngawi, Jatim, 25 Mei 1964 ini.

Sebagian makanan yang dijajakan UMKM juga khas Jawa seperti pecel, lupis, getuk,  mendoan, dan jamu. Tapi ada juga yang jualan makanan khas Bugis dan Banjar. Saya kaget ada yang jualan kapurung dan papeda. Termasuk soto banjar, yang menjadi makanan favorit saya. Uniknya sang penjual tetap menggunakan busana Jawa.

Sayur-sayurannya yang dijajakan juga khas. Di situ ada genjer, daun kelor, pakis dan kelakai. Ada yang tahu kelakai? Boleh dibilang sejenis pakis merah. Nama ilmiahnya Stenochlaena  palustris. Konon berasal dari Kalteng. Saya suka. Kelakai bermanfaat untuk mencegah kekurangan darah (anemia), membuat menstruasi teratur, antidiare serta pereda demam. Juga meningkatkan produksi ASI bagi ibu yang lagi menyusui.

Uniknya belanja di Pasar Tumpah Pringgondani tidak bisa menggunakan uang kertas atau koin. Tapi ditukar dulu dengan uang kayu yang disediakan pengelola. Jika masih tersisa bisa ditukar kembali di loket.

Saya datang ke Taman Pringgondani bersama Ibu Sri Asril, pengusaha yang juga ketua perkumpulan Sahabat Kecil dan pengajian Miftahul Jannah. Ditemani Pak Andi Mappapuli, mantan ketua LPM Teritip. Pak Surata langsung yang menyambut bersama direktur pengelola taman itu, Mariana.

“Pak Rizal sudah lama tidak ke sini, pohon ulin yang ditanam Pak Rizal tetap tumbuh dan terus kami pelihara,” kata Pak Surata bersemangat menyambut saya.

Masuk ke Taman Pringgondani, pengunjung dikenai tarif masuk Rp6 ribu per orang. Jika wisatawan asing Rp10 ribu. “Itu untuk biaya kebersihan dan petugas,” kata Mariana.

Waktu saya jadi wali kota saya sempat meresmikan Pendopo Awa Mangkuruku di Taman Pringgondani sambil menanam pohon ulin di sana.

Pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) adalah pohon endemik Kalimantan yang berumur ratusan tahun. Ada juga yang menyebutnya kayu besi karena daya tahannya sangat kuat untuk konstruksi bangunan. Tapi sudah hampir punah, karena itu ulin termasuk pohon yang dilindungi. Sayangnya pencurian kayu ulin tetap marak sampai saat ini.

DIJAMU MAKAN DURIAN

Pak Surata sempat menjamu saya dengan menyediakan buah manggis dan durian. Ada juga lai durian, hasil perkawinan pohon durian dan lai. Itu buah buruan saya. Sangat jarang. Lai buah khas Kalimantan. Nama latinnya menyinggung nama Kutai yaitu Durio kutejensis.

Sebelumnya saya makan pecel punten. Ada sayur bunga daun turi. Enak sekali. Daun turi (Sesbania grandiflora) bermanfaat untuk mengobati gangguan pencernaan.  Masyarakat Yunani kabarnya juga menggunakan daun turi untuk hal yang sama.  Air seduhan bunga turi juga bagus untuk mengatasi radang usus.

Andi Puli yang akrab kami panggil Pak Kumis sempat membelikan saya jambu bol atau jambu jamaika. Warnanya merah menyala. Di rumah saya buat rujak dengan cucu saya Defa. Wah, Defa bilang, luar biasa rasanya.

Bu Sri suka sekali ketika diajak ke pendopo Awa Mangkuruku Pringgondani. Di situ ada sejumlah anak-anak yang menampilkan beberapa tarian. Mereka anak-anak  warga setempat yang dilatih Bu Diana dan Kumdatus dari Perkumpulan Dayak Meratus. Bu Sri sempat menyanyi beberapa lagu Jawa, yang memang menjadi hobinya. Anak-anak langsung ikut bergoyang. Ramai sekali. Apalagi sehabis nyanyi, Bu Sri ikut nyawer untuk anak-anak penari.

Menurut Mariana, pihaknya perlu mendapat dukungan Pemkot Balikpapan agar jalan masuk ke Taman Pringgondani bisa mulus. Selain itu Dinas Perhubungan bisa mendukung agar Taksi No 7 yang beroperasi di Balikpapan Timur bisa masuk sampai ke lokasi taman. Jadi mereka yang tidak punya kendaraan pribadi tetap bisa mengunjungi Taman Pringgondani.

Beberapa program menarik tengah dikembangkan di Taman Pringgondani. Di antaranya mereka lagi mengajak investor yang mau ikut membangun fasilitas glamping dengan sistem bagi hasil. “Investasi rumah glampingnya Rp100 juta per unit. Silakan yang berminat, kita kontrak selama 8 tahun,” kata Mariana.

Gadis penjual jajanan Jawa di depan jualannya

Selain itu ada program adopsi pohon. Atau menjadi wali pohon selama 10 tahun. Caranya kita membayar iuran sebesar Rp85 ribu sebulan. Nanti pohonnya dipelihara oleh staf Taman Pringgondani. Sang wali mendapat sertifikat dan bisa memonitor pohonnya lewat online. “Dengan cara ini kita ikut menyumbang program penurunan emisi karbon yang sudah menjadi kesepakatan dunia termasuk Indonesia,” kata Surata.

Kaltim adalah provinsi pertama di Indonesia yang mendapat dana karbon dari Bank Dunia sebesar Rp130 miliar di tahun 2024.  Itu berkat kesediaan Kaltim memelihara hutannya, tidak semuanya dibabat untuk kebutuhan kayu, perkebunan kelapa sawit dan penambangan batu bara. Secara keseluruhan total dana karbon yang akan diterima mencapai 110 juta US dolar.

Selama di Taman Pringgondani, saya banyak bertemu warga kota. Mereka mendaulat saya foto bersama. “Tetap kita panggil Pak Wali ya Pak?” kata mereka bersemangat. Ada seorang nenek yang titip salam kepada Bunda Arita. Saya bilang ibu lagi umrah.

Saya sempat bertemu Pak Maman bersama istri dan 2 anaknya. Itu pasangan Bugis-Banjar. Sempat membuka warung Sehati di Balikpapan Baru. Teman saya main gaple juga. Ternyata suka juga datang ke Taman Pringgondani. “Asyik ke tempat ini bersama keluarga. Murah dan menarik,” katanya penuh keceriaan. Lebaran nanti pasti orang berjubel ke sana. Cucu saya juga sudah order. Mudah-mudahan duriannya masih ada. Kalau tidak minimal  rambai, buah terakhir musim buah.(*)

Dinasti Jalan, Stafsus Dilarang

February 15, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

KAMIS (20/2) nanti menjadi hari amat bersejarah. Jika tak ada perubahan Presiden Prabowo Subianto melantik 505 kepala daerah hasil Pilkada Serentak 2024. Pelantikan yang berlangsung di Istana Negara Jakarta itu, untuk pertama kali digabung. Selain gubernur, juga wali kota dan bupati.

Biasanya Presiden hanya melantik dan mengambil sumpah gubernur saja. Sedang bupati dan wali kota dilakukan oleh Mendagri atau gubernur. Tapi kali ini semuanya dilakukan presiden. Para kepala daerah itu dilantik bersama wakilnya.

Dari 505 kepala daerah yang dilantik, terdapat 8 kepala daerah dari Kaltim. Mereka adalah pasangan Rudy Mas’ud-Seno Aji sebagai gubernur dan wakil gubernur Kaltim, Rahmad Mas’ud-Bagus Susetyo sebagai wali kota dan wakil wali kota Balikpapan, Andi HarunSaefuddin Zuhri sebagai wali kota dan wakil wali kota Samarinda serta Neni Moerniaeni-Agus Haris sebagai wali kota dan wakil wali kota Bontang.

Selain itu, juga dilantik Mudyat Noor-Abdul Waris Muin sebagai bupati dan wakil bupati Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Fahmi Fadli-Ikhwan Antasari sebagai bupati dan wakil bupati Kabupaten Paser, Ardiansyah Sulaiman-Mahyunadi sebagai bupati dan wakil bupati Kabupaten Kutai Timur serta Frederick Edwin-Nanang Adriani sebagai bupati dan wakil bupati Kabupaten Kutai Barat (Kubar).

Tiga kabupaten lainnya, yaitu Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu)  dan Kabupaten Berau masih dalam proses persidangan perselisihan hasil Pilkada di MK Jakarta.

Presiden Prabowo Subianto bersama para menteri saat melaksanakan retret di Magelang, Jawa Tengah.

Pemenang sementara Pilkada di 3 kabupaten itu adalah Edi Damansyah-Rendi Solihin (Kukar), Sri Juniarsih-Gamalis (Berau) dan Owena Mayang Shari Belawan-Stanisiaus Liah (Mahulu). Tapi mereka digugat oleh lawan-lawannya dan masih berproses sidangnya di MK Jakarta.

Mendagri menjadwalkan pelantikan kepala daerah pasca putusan MK pada bulan Maret atau April nanti. Itu pelantikan tahap kedua sekaligus tahap terakhir. Setelah itu tak ada lagi pelantikan, karena semuanya sudah dilaksanakan.

Masa tugas  atau masa bakti kepala daerah yang dilantik akan full dijalani selama 5 tahun. Yaitu 2025-2030. Tidak seperti periode lalu sebagian hanya tiga tahun lebih saja karena adanya Pilkada Serentak.

Pelantikan kepala daerah hasil Pilkada Serentak juga menandai era politik dinasti yang kental dalam pelaksanaan pemerintahan di Kaltim.

Keluarga Sofyan Hasdam “menguasai” pemerintahan di Bontang. Istrinya Bunda Neni menjadi wali kota kembali sementara putranya,  Andi Faizal Sofyan (39) duduk sebagai Ketua DPRD Bontang. Sofyan Hasdam  sendiri terpilih sebagai anggota DPD RI Dapil Kaltim. Dan satu lagi putranya, Andi Satya Saputra (32) duduk di DPRD Kaltim.

Sementara di Kabupaten Paser, Fahmi Fadli (48) untuk kedua kalinya dilantik menjadi bupati Paser. Hal yang sama dialami adiknya,  Hendra Wahyudi yang terpilih kembali sebagai ketua DPRD Paser. Istri Fahmi, Sinta Rosma Yenti juga terpilih sebagai anggota DPD RI dapil Kaltim.

Yang paling menarik perhatian tentu saja keluarga Bani Mas’ud. Rudy Mas’ud sebagai gubernur Kaltim, kakaknya Hasanuddin Mas’ud menjadi ketua DPRD Kaltim dan Rahmad Mas’ud menjadi wali kota Balikpapan.

Istri Rudy, Syarifah Suraidah terpilih sebagai anggota DPR RI dapil Kaltim menggantikan Rudy. Lalu satu anggota Bani Mas’ud lagi yaitu Hj Syahariah Mas’ud menjadi anggota DPRD Kaltim dapil PPU. Sepupu mereka, Alwy Al Qadri menjadi ketua DPRD Balikpapan dan H Yusri, adik ipar mereka menjadi ketua Komisi 3 DPRD Balikpapan.

Kalau tidak terganjal KPK, masih ada anggota paling bungsu Bani Mas’ud yang berada di pemerintahan. Yaitu Abdul Gafur Mas’ud (AGM). Sayang dia kandas di tengah jalan sebagai bupati PPU gara-gara OTT KPK.

Rudy Mas’ud adalah ketua DPD Golkar Kaltim, sedang Hasanuddin Mas’ud sebagai ketua DPC Golkar Kukar dan Rahmad Mas’ud sebagai ketua DPC Golkar Balikpapan.

Apakah politik dinasti boleh? Secara ketentuan perundang-undang tidak ada larangan. Jadi bisa berjalan. Tapi sebagian orang merasa waswas karena pengalaman memberikan indikasi lebih banyak mudaratnya di lapangan. Apa benar begitu? Ya kita lihat saja apa yang terjadi ke depan.

LARANG STAFSUS DAN TENAGA AHLI

Sementara itu, banyak yang mempertanyakan apakah pelantikan serentak di Jakarta memenuhi prinsip efisiensi seperti yang sudah ditetapkan menjadi garis kebijakan Presiden Prabowo yang tertuang dalam Inpres Nomor 1/2025.

Kalau saja tiap kepala daerah dilantik memboyong keluarga dan staf sebanyak 20 orang dikali 505 kepala daerah, itu berarti yang berangkat ke Jakarta sudah lebih 10.000 orang.  Belum lagi KPU dan Bawaslu masing-masing daerah.

Kepala daerah dan wakilnya mengikuti pelantikan bersama para istri atau suami masing-masing. Juga diundang ketua DPRD bersama istri atau suami.

Sebelum ke Istana, para kepala daerah itu menjalani pemeriksaan kesehatan dulu di Kemendagri. Mereka juga akan mengikuti gladi kotor di Istana Kepresidenan, 18 Februari.

Penerbangan dan hotel di Jakarta tentu sangat suka dan panen. Termasuk rumah makan, restoran, dan mall. Tapi apa itu tidak boros? Belum lagi setelah pulang ke daerah ada lagi proses serah terima jabatan serta syukuran dan pisah sambut.

Selain itu ada pihak yang menyorot kebijakan pelarangan pengangkatan staf khusus (Stafsus) dan tenaga ahli. Terkesan diskriminatif dan tidak konsisten. Di daerah dilarang akan tetapi di pusat masih berlangsung alias dibenarkan.

Soal ini semakin ramai menyusul dilantiknya enam staf khusus Menteri Pertahanan Syafrie Syamsudin, Selasa (11/2) lalu. Salah satu staf khusus yang disorot warganet itu adalah Deddy Corbuzier, yang dikenal sebagai pesulap dan belakangan menjadi podcaster dengan jutaan pengikut. Lalu orang mempertanyakan kompetensinya.

Kepala Badan Kepegawaian Nasional (BKN) Prof Zudan Arif Fakhrullah menegaskan, semua kepala daerah yang baru dilantik dilarang mengangkat tenaga honorer baru, staf khusus (Stafsus) dan tenaga ahli.

“Anggaran yang ada kita fokuskan untuk pengangkatan P3K, jadi jangan ada pengangkatan tenaga honorer baru termasuk staf khusus dan tenaga ahli baik yang nempel di kepala daerah maupun yang ditempelkan di OPD-OPD,” kata Zudan kepada awak media di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (12/2) lalu.

Berdasarkan pengalaman, pos staf khusus dan tenaga ahli itu diada-adakan oleh kepala daerah untuk mengakomodasi sejumlah anggota tim sukses Pilkada, yang dianggap berjasa memenangkan mereka.

Sementara itu, P3K yang dimaksud Zudan adalah Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja. Mereka adalah tenaga honorer yang diangkat seperti CPNS berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan. Saat ini ada sekitar 1,7 juta tenaga non-ASN, yang nasibnya masih menggantung.

Menurut Zudan, jika ada kepala daerah yang tetap melanggar aturan yang telah disampaikan, maka akan dikenakan sanksi berat oleh pemerintah pusat. “Banyak yang bilang anggaran daerah terbatas, tapi kok masih angkat staf khusus dan tenaga ahli. Ini kan jelas-jelas tidak masuk akal,” tegasnya.

Selesai dilantik, kepala daerah baru langsung mengikuti acara retret atau pembekalan selama seminggu di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jawa Tengah. Seperti para menteri tempo hari. Tadinya waktu pembekalan selama 14 hari, tapi demi efisiensi dipadatkan jadi 7 hari saja.

Soal anggaran retret sempat viral karena tiap kepala daerah diminta menyetor sebesar Rp22 juta. Belakangan diralat oleh Kemendagri. Anggaran selama kegiatan retret ditanggung Kemendagri (APBN) kecuali biaya perjalanan kepala daerah melalui APBD masing-masing. “Jadi yang sudah telanjur nyetor kita kembalikan,” kata Wakil Mendagri Bima Arya.

Sepulang dari Magelang, para kepala daerah yang baru dilantik harus segera mempelototi APBD 2025 yang sudah disahkan. Soalnya dana transfer tahun 2025 dipangkas sekitar Rp50,59 triliun. Dana transfer itu salah satu sumber pendapatan APBD di antaranya melalui dana bagi hasil (DBH), dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK), dana insentif daerah (DID) termasuk dana desa.(*)

Hotman Mau Dansa di IKN

February 12, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

PENGACARA mewah Hotman Paris Hutapea mau bangun tempat dansa di Ibu Kota Nusantara (IKN). Rencana itu dia utarakan ketika meninjau lokasi IKN di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU), Minggu (9/2) lalu.

“Biar tidak stres Bapak Presiden,” katanya dalam video beredar di media sosial. Dia berdiri dengan latar belakang Istana Garuda sambil menunjukkan beberapa gedung di sana di antaranya kantor Menko dan Kementerian PUPR.

Hotman Paris ketika berada di lokasi IKN, Sepaku

Hotman datang ke IKN mengenakan jas lengkap dan mahal. Warnanya biru muda berbulu. Dia baru pulang dari Tenggarong menghadiri acara Kaseh Selamat atau HUT ke-74 Sultan Kutai Adji Muhammad Arifin. Dia tampak ceria dan menarik perhatian banyak orang yang berada di IKN.

“Ini adalah Istana Negara, nanti rumah Presiden Prabowo di sana. Mudah-mudahan Prabowo masih ingat  dengan pengacaranya, temannya berkonsultasi selama 25 tahun. Kalau dia pindah, aku berharap saya yang pertama yang diundang makan malam di Istana,” katanya lantang.

Dia juga menunjuk sejumlah fasilitas yang ada di IKN seperti Universitas Gunadarma dan tempat ngopi Excelso Nusantara. Gunadarma adalah universitas pertama yang masuk ke IKN. Sudah menerima 200 mahasiswa baru.

“Yang belum ada Pak Jokowi sama Pak Prabowo, aku mau bikin club di sini biar bisa dansa. Kalau ngga stress Pak, kalau ngga ada tempat berdansa. Agar aku sering ke sini. Jadi Hotman ke sini cari tempat untuk berdansa, untuk membangun Holywings,” katanya sambil menggoyang-goyangkan tangannya.

Selain sebagai pengacara kondang, Hotman juga pengusaha bisnis hiburan. Holywings yang dia sebut itu adalah tempat hiburan malam yang pertama dia bangun di Jakarta bersama artis Nikita Mirzani. Belakangan karena ricuh ditutup Pemda DKI Jakarta dan berganti nama menjadi W Superclub.

Sudah buka di beberapa daerah termasuk Bali dan Batam. Bahkan juga mau buka di Balikpapan dan Samarinda. Tapi yang di Makassar sempat ditutup karena ada penolakan masyarakat. Lalu ganti nama menjadi Atlas Beach Fest.

Nama Hotman beberapa hari ini ramai menghiasi jagat media karena perseteruannya dengan pengacara tak kalah garangnya yaitu Razman Arief Nasution. Bahkan dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta beberapa waktu lalu, ada tim Razman yang nekat sampai naik dan berdiri di meja persidangan.

Hotman datang ke Balikpapan, Sabtu (8/2). Malamnya meresmikan penggantian nama Kopi Johny milik Ibu Yunita di Gunung Bakaran menjadi Kopi Hotman911. Mereka berdua sangat akrab. “Saya berteman dengan Bang Hotman dan istrinya sejak muda,” katanya begitu.

Bersama Bu Yunita, Hotman sempat melihat beberapa lokasi di Balikpapan, yang memungkinkan dibelinya untuk pengembangan usaha di bidang hiburan.

NASIB PEMBANGUNAN IKN

Di akhir videonya tentang IKN, Hotman mengklaim pembangunan IKN sudah hampir rampung. “Ternyata IKN sudah hampir rampung, lanjutkan IKN, mantap Pak Prabowo. Salam Hotman Paris,” katanya begitu dengan suara mantap.

Apakah IKN memang sudah hampir rampung? Mungkin Hotman hanya berkomentar sebatas yang dia lihat. Sudah ada Istana Negara dan Istana Garuda. Sudah ada kantor Menko, universitas, hotel, rusun dan rumah menteri serta tempat ngopi. Padahal masih banyak fasilitas infrastruktur yang belum ada atau kalaupun ada masih tahap pembangunan dan penyelesaian.

Keinginan Presiden Jokowi segera pindah ke IKN tidak sama dengan Presiden Prabowo. Sampai sekarang Keppres perpindahan ibu kota negara dari Jakarta ke IKN Sepaku belum ditandatangani Prabowo. Rencana kepindahan ASN juga tertunda terus. “Jadi ibu kota negara masih Jakarta,” kata Mendagri Tito Karnavian beberapa waktu lalu.

Prabowo sendiri sejak pelantikan 20 Oktober 2024 sampai sekarang belum pernah menginjakkan kakinya di IKN. Kabarnya dia tidak terlalu suka adanya groundbreaking di sana. Apalagi kelanjutannya tidak begitu jelas. Dia menargetkan IKN baru berfungsi tahun 2028 setelah sejumlah fasilitas infrastruktur terlengkapi di antaranya untuk kepentingan aktivitas legislatif dan yudikatif.

Otorita IKN beberapa kali mengatakan Presiden Prabowo akan datang ke IKN untuk melaksanakan groundbreaking dan peresmian sejumlah proyek IKN. Bahkan Presiden Jokowi sengaja tidak meresmikan Istana Garuda demi kedatangan Prabowo. Tapi faktanya sampai Februari ini belum ada kabar yang pasti soal kedatangannya.

Saya sempat tanya dengan Burhanuddin Abdullah, mantan gubernur Bank Indonesia yang terlibat sebagai penasihat ekonomi. Bagaimana sikap Prabowo soal IKN? Dia bilang selama dia berdiskusi soal pembangunan ekonomi, tak sekalipun menyinggung soal IKN. “Jadi silakan terjemahkan sendiri,” katanya.

IKN makin gonjang-ganjing dan tak jelas nasibnya menyusul keterangan Menteri PU Dody Hanggodo yang menyatakan anggaran IKN selain terkena imbas pemangkasan juga lagi diblokir oleh Kementerian Keuangan.

“Kok tanya progres? Anggarannya saja belum ada, masih diblokir Menteri Keuangan. Anggaran yang ada hanya untuk beli makan siang saja,” kata Dody setengah bercanda kepada para wartawan. Pernyataan itu menjadi viral karena dikonotasikan orang bahwa Prabowo tidak memprioritaskan pembangunan IKN.

Kepala Kantor Kepresidenan Hasan Nasbi (Hasbi) menegaskan, proyek IKN tetap dilanjutkan Presiden Prabowo. Berkaitan dengan pemblokiran, dia menjelaskan sebenarnya hanya sebatas belum dibuka. “Kalau diblokir itu bukan berarti anggarannya tidak ada, tapi anggarannya belum dibuka,” jelasnya.

Menurut Hasbi, anggaran IKN ada di Kementerian PU dan Otorita IKN. Seperti dijelaskan sebelumnya, anggaran IKN selama 5 tahun ke depan berjumlah Rp48,8 triliun. “Itu komitmen selama lima tahun,” tandasnya.

Dalam keterangan lain, Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengusulkan tambahan Rp8,1 triliun untuk memulakan pembangunan gedung-gedung  yudikatif dan legislatif serta infrastruktur lainnya. Tapi usulan ini kabarnya belum direspon Kementerian Keuangan.

Kabarnya juga DIPA murni Otorita IKN tahun anggaran 2025 yang semula Rp6,3 triliun mendapat pemangkasan sekitar Rp4,8 triliun. Jadi sisa anggaran yang bisa dikelola hanya sekitar Rp1,59 triliun.

Ada yang bilang Otorita IKN bernasib sial atau nahas. Ketika mulai tahun ini semua kegiatan pembangunan infrastruktur IKN dilaksanakan oleh Otorita IKN bukan Kementerian PU atau kementerian lainnya, tahu-tahunya terbit Inpres No 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja, yang membuat napas IKN  tersengal. Kita tunggu saja bagaimana kelanjutannya.(*)

Rektor ITK dan HUT Kota

February 11, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA hadir di acara HUT ke-128 Kota Balikpapan, Senin (10/2) kemarin. Sudah 3 tahun saya absen di tahun-tahun sebelumnya. Sengaja saya datang tahun ini, karena ada yang ingin saya  lihat. Banyak yang kaget.

Pukul 07.00 rekan saya Zaenal Abidin sudah menjemput. Pagi sekali. “Biar ngga terlambat,” katanya. Tapi saya bilang kita datang 30 menit kemudian sesuai jadwal di undangan. Acara sendiri akhirnya baru dimulakan pukul 09.30 Wita.

Saya sempat disambangi sejumlah ketua RT yang “menguningkan” kursi undangan. Maklum mereka diberi baju batik berwarna kuning. Serasi dengan backdrop upacara yang dominan warna kuning. Sebagian mendaulat saya foto bersama. “Kita lama ngga lihat Pak Rizal hadir di HUT Kota,” katanya.

Ketika saya menuju kursi undangan banyak yang menyalami saya. Sebagian ibu-ibu menanyakan istri saya, Bunda Arita. “Mohon maaf Ibu lagi umrah,” kata saya. Mereka maklum. Bunda Arita sekarang berada di Madinah lagi mau menuju Mekkah untuk melaksanakan umrah.

Bersama Rektor ITK Prof Agus Rubiyanto (paling kiri), anggota DPRD Kaltim dapil Balikpapan, Nurhadi Saputra, H Baba, H Sabaruddin Panrecalle, dan H Yusuf Mustafa.

Di barisan saya duduk, ada mantan wakil wali kota Heru Bambang dan istri. Ada juga Ibu Yetti Tjutjup Suparna, istri Wali Kota Balikpapan Tjutjup Suparna (1991-2001) dan Ibu Zaenal Abidin, istri mantan Ketua DPRD Balikpapan Zaenal Abidin.

Yang tidak kelihatan Ibu Ratna Syarifuddin Yoes, istri Wali Kota Balikpapan Syarifudin Yoes (1981-1989). Biasanya beliau rajin datang dari Jakarta. Saya mendapat informasi kesehatannya kurang memungkinkan, sehingga tahun ini absen di HUT Kota.

Bertindak sebagai komandan upacara Camat Balikpapan Utara Muhammad Fadli Fathurrahman, yang pada perayaan HUT ke-68 Provinsi Kaltim, 9 Januari lalu terpilih sebagai Camat Teladan se-Kaltim. Sayangnya peserta upacara didominasi barisan Angkatan. Tak ada unsur pelajar, mahasiswa, dan pemuda. Juga tak ada barisan paguyuban yang menggambarkan keragaman di Balikpapan.

Yang istimewa saat menyanyikan lagu Hymne Balikpapan. Karena dipimpin langsung sang penciptanya, Raden Muhammad Sjamsudin Hardjakusumah alias Syam Bimbo. Waktu Syam bernyanyi sound systemnya agak kurang sempurna.

“Saya diminta Pak Tjutjup Suparna menciptakan lagu Hymne Balikpapan,” kata Syam mengenang. Si sulung dalam keluarga Bimbo ini senang melihat perkembangan kota Balikpapan yang hidup. “Saya juga membuat lagu IKN berjudul Bumiku Nusantara,” tambah  musisi legendaris penerima gelar doktor honoris causa dari ITB ini.

Syam sudah berusia 83 tahun dan sudah beberapa kali menghadiri HUT Kota Balikpapan. Di era saya menjadi wali kota, dia juga sempat diundang menerima penghargaan atas karyanya yang sangat luar biasa. “Sebagai warga negara yang baik saya mencoba berkontribusi sesuai keahlian saya,” katanya merendah.

Wali Kota Rahmad Mas’ud selain menyampaikan amanat, juga menyerahkan sejumlah penghargaan. Di antaranya diberikan kepada Ketua PWI Balikpapan, Debi dan Ketua HIPMI Adam Dustin Bhakti. “Tentu ini menjadi kebanggaan,” kata mereka penuh semangat.

Adam adalah CEO Lexa Event Organizer (LEO), yang banyak mendapat kepercayaan melaksanakan berbagai event di IKN. “Ya agak terasa juga berpengaruh dengan adanya pemangkasan anggaran dari pemerintah,” katanya sempat bertemu saya seusai upacara.

Acara ditutup dengan pembacaan doa oleh Kepala Kementerian Agama Kota Balikpapan H Masrivani, S.Ag, MH.  Dia membacakan doa full bahasa Arab dan agak panjang. Tidak seperti lazimnya doa ada bagian bahasa Indonesia. Kabarnya itu memang permintaannya begitu.

HUT ke-128 Kota Balikpapan mengambil tema: Harmoni Berkelanjutan. Ketua panitianya Asisten 3 Pemkot dr Andi Sri Juliarty atau dr Dio.  “Harmoni Berkelanjutan memiliki makna yang mendalam, di mana kita sebagai entitas dengan beragam latar belakang diharapkan mampu bersatu dalam keharmonisan disertai progres pembangunan untuk yang hidup di masa sekarang maupun generasi mendatang,” ujar Rahmad Mas’ud.

Seusai upacara, Wali Kota meresmikan sejumlah proyek pembangunan di antaranya gedung SMP 27, SMP 28, Kantor Kelurahan Sepinggan Baru, aula kantor Gunung Bahagia dan Puskesmas Gunung Bahagia. Saya dengar beberapa gedung bernilai miliaran rupiah itu tidak terlalu sempurna pengerjaannya karena ada yang bocor. Juga mengorbankan bendali di situ.

DISKUSI PERKEMBANGAN ITK

Di saat upacara, saya berdampingan dengan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Prof Dr rer.nat Agus Rubiyanto, M.Eng.Sc. Kebetulan juga satu deretan dengan anggota DPRD Kaltim dapil Balikpapan di antaranya H Sabarudin Panrecalle, Nurhadi Saputra, H Baba, dan H Yusuf Mustafa.

“Tiga ketua komisi di DPRD Kaltim diborong anggota Dewan dapil Balikpapan,” kata Nurhadi. Yaitu Abdulloh (Golkar) sebagai Ketua Komisi III, Sabaruddin (Gerindra) sebagai Ketua Komisi II dan H Baba (PDIP) sebagai Ketua Komisi IV.

Saya mengenalkan Rektor ITK kepada mereka. ITK perlu mendapat dukungan dari Pemprov Kaltim termasuk DPRD karena ITK lahir berkat perjuangan Pemprov Kaltim di era Gubernur Awang Faroek Ishak dan Pemkot Balikpapan di era saya.

Pemprov Kaltim dan Balikpapan berjanji menyediakan lahan seluas 300 hektare untuk pembangunan kampus ITK di Km 15, Karang Joang, Balikpapan Utara. Tapi sampai sekarang belum dapat dipenuhi. Saya bilang  janji ini harus tetap dipenuhi meski kepala daerahnya sudah berganti.

Menurut Prof Agus, ITK sangat perlu dikembangkan dan dimantapkan. Karena berkaitan dengan peningkatan SDM putra-putra Kaltim sendiri. Apalagi jika dikaitkan dengan adanya pembangunan IKN. “Karena itu ITK butuh dukungan dari semua stakeholder di Kaltim baik dari pemerintah daerah maupun kalangan swasta,” jelasnya.

Meski ITK baru berusia 10 tahun,  prestasinya sangat membanggakan dan berkelas. Di tahun 2024 lalu, ITK meraih penghargaan bergengsi sebagai peringkat 1 dalam kategori Penggunaaan Cash Management System (CSM).

Dalam ajang Anugerah Diktisaintek 2024, ITK memborong 7 penghargaan. Yaitu Anugerah Kerjasama Diktisaintek 2024 kategori Satker terdiri silver winner untuk perguruan tinggi (PT) dengan Kerjasama Pemerintah/Lembaga Swadaya Masyarakat Terbaik, serta Bronze Winner untuk PT dengan Kerjasama industri terbaik.

Selain itu dalam Anugerah Humas Diktisaintek 2024 meraih gold winner untuk siaran pers, media sosial, majalah dan laman. Serta bronze winner untuk insan humas terbaik atas nama Saputro Dewo Santoso.

Pada Malam Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2024, ITK juga meraih penghargaan sebagai Badan Publik Informatif.

“Penghargaan itu mencerminkan dedikasi ITK dalam memperkuat peran sebagai PT unggul, tidak hanya di bidang akademik tetapi juga dalam menjalin kerjasama strategis dan meningkatkan kehumasan,” kata Agus Rubiyanto, yang pernah menjadi Atase Pendidikan di Jerman.

Baru setahun menjadi Rektor, ada 8 dari 22 program studi (prodi) di ITK meraih akreditasi internasional dari ASIIN Jerman. Yaitu Teknik Mesin, Teknik Kimia, Teknik Material dan Metalurgi, Teknik Sipil, Perencanaan Wilayah Kota, Teknik Elektro serta Sistem Informasi dan Informatika. “Tahun ini ITK akan membuka program magister manajemen teknik,” kata Prof Agus.

Dalam kesempatan kemarin, Rektor ITK juga saya perkenalkan dengan Ibu Inggrid Assa, yang sekarang Ketua Perkumpulan Pengembang Kepribadian dan Karakter Indonesia (PRIBADI) Kaltim dan Ibu Dra Dwita Salvery, MM, Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kaltim. Mereka sepakat menjalin kerjasama untuk kemajuan bersama. Selamat untuk ITK dan selamat HUT ke-128 Kota Balikpapan.(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb