Isran Noor Tampil di Sidang MK

January 10, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

ADA suasana berbeda di Samarinda dan Jakarta hari Kamis (9/1) kemarin. Di Samarinda sedang berlangsung Upacara peringatan HUT ke-68 Provinsi Kalimantan Timur, sementara  di Jakarta  berlangsung sidang gugatan Pilgub Kaltim hasil Pilkada Serentak 2024.

Isran Noor, gubernur Kaltim 2018-2023 tidak bisa hadir di HUT Kaltim, lantaran dia bersama  tim hukumnya yang dipimpin Refly Harun harus hadir di sidang Mahkamah Konstitusi (MK). Sedang Hadi Mulyadi mendampingi istrinya yang baru selesai menjalani operasi.

Gedung MK RI di Jl Merdeka Barat No 6 Jakarta Pusat benar-benar ramai dan seru. Saya lihat sejumlah petugas keamanan dikerahkan untuk berjaga-jaga. Ada juga panser ditempatkan. Soalnya ada 309 lebih gugatan perkara Pilkada yang tengah diproses. Termasuk 5 perkara dari Kaltim yang terdiri dari satu gugatan pemilihan gubernur (Pilgub) dan 4 gugatan pemilihan bupati (Pilbup).

Satu gugatan Pilgub itu datangnya dari pasangan calon (Paslon) No 1 Isran Noor-Hadi Mulyadi. Sedang 4 gugatan Pilbup diajukan oleh 2 pasang dari Pilbup Kukar, yaitu paslon No 2 Awang Yacoub Lukman-Akhmad Zais dan paslon No 3 Dendi Suryadi-Alif Turiadi, satu paslon dari Pilbup Berau atas nama paslon No 1 Madri Pani-Agus Wahyudi serta satu pasang lagi dari Pilbup Mahakam Ulu (Mahulu) atas nama paslon No 2 Novita Bulan-Artya Fathra Marthin.

Dari hasil rekapitulasi Pilgub Kaltim 2024, paslon nomor urut 1. Isran Noor-Hadi Mulyadi memperoleh 793.793 suara (44,34 persen) dan No 2 Rudy Mas’ud-Seno Aji meraih 996.399 suara (55,55 persen).

Sedang hasil rekapitulasi Pilbup Kukar 2024: Paslon No 1 Edi Damansyah-Rendi Solihin meraih 259.489 suara (66,17 persen), No 2 Awang Yacoub Lukman-Akhmad Zais 74.448 suara (18,99 persen) dan No 3 Dendi Suryadi-Alif Turiadi 83.153 suara (21,3 persen).

Sementara hasil rekapitulasi Pilbup Berau: Paslon No 1 Madri Pani-Agus Wahyudi 64.894 suara (48,32 persen) dan No 2 Sri Juniarsih Mas-Gamalis 65.590 suara (48,42 persen).

Hasil rekapitulasi Pilbup Mahulu: 1. Owena Mayang Shari-Stanislaus Liah 9.930 suara (44,39 persen), No 2 Novita Bulan-Artya Fathra 8.307 suara (37,42 persen) dan 3. Yohanes Avun-Y Juan Jenau 4.117 suara (17,42 persen).

Melalui kuasa hukumnya, Isran-Hadi meminta MK menganulir Keputusan KPU Kaltim Nomor 149 Tahun 2024 tentang Penetapan Hasil Pilgub Kaltim 2024 dan mendiskualifikasi paslon No 2 Rudy Mas’ud-Seno Aji atas sejumlah pelanggaran dan kecurangan. Yaitu adanya kartel politik, money politics, keterlibatan aparat atau struktur pemerintahan serta tidak netral atau tidak profesionalnya penyelenggara Pemilu.

Tim hukum Isran-Hadi diketuai Dr Refly Harun, SH, LLM bersama asistennya Raden Violla Reininda Hafidz, SH, LLM serta Dr Jaidun, SH, MH, Agus Sugiono, SH, MH, Minton Situngkir, SH, MH, Jaenal Muttaqin,SH dan Yahya Ubay, SH, MH.

Menurut Refly, ada upaya memborong semua partai politik supaya terjadi calon tunggal. Tapi akhirnya ada dua calon. Tapi dia melihat ada negosiasi, yang menyebabkan Pilkada itu sudah tidak fair lagi atau tidak jujur lagi karena keterlibatan kartel politik yang ingin memenangi Pilkada  tidak saja di Kaltim, tapi  juga di tempat lain.

Refly juga mengungkapkan pihaknya menemukan fenomena money politics yang luar biasa sambil menunjukkan satu bundel data yang berjudul: ”Laporan Pertanggungjawaban Siraman Kabupaten Kutai Kartanegara Rudy Mas’ud-Seno Aji,”

Di situ tercantum ribuan orang yang menerima money politics. “Ada gambarnya, ada nomor handphone-nya serta ada KTP dan kartu keluarganya. Itu baru satu kabupaten,” ungkap Refly.

Dia juga menyebut ada ketidaknetralan aparat penyelenggara dan pengawas Pilgub Kaltim 2024. Karena  tidak ada satu pun laporan politik uang yang dianggap terbukti oleh Bawaslu. Padahal sangat mudah  untuk membuktikannya.

Dr Jaidun, salah seorang tim hukum Isran-Hadi menyatakan optimis gugatan yang diajukan pihaknya  lolos dari sidang pendahuluan, sehingga perkara ini bisa dilanjutkan sampai tingkat pemeriksaan saksi dan bukti yang diajukan.

ANWAR USMAN DIGANTI

Istilah di MK, gugatan Pilkada itu adalah perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Kepala Daerah disingkat PHP Kada. Perkara PHP Kada yang diproses MK adalah permohonan yang diajukan paslon yang sudah teregistrasi.

Menurut Kepala Biro Humas dan Protokol MK Pan Mohamad Faiz, dari 314 permohonan yang masuk, 309 lolos tahapan registrasi. Selanjutnya setelah Hakim Konstitusi menetapkan para pihak terkait, maka sejak Rabu (8/1) kemarin proses perkara di MK memasuki tahap pemeriksaan pendahuluan.

Dalam tahap pemeriksaan pendahuluan, MK melakukan pemeriksaan kelengkapan dan kejelasan materi permohonan serta memeriksa dan mengesahkan alat bukti pemohon.

Baru 17 Januari sampai 4 Februari nanti sidang memasuki tahap penting dengan agenda pemeriksaan di antaranya MK mendengarkan jawaban dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Daerah selaku pihak termohon. Selain itu juga akan didengarkan keterangan dari pihak terkait.

Selanjutnya tanggal 5-10 Februari 2025, hakim MK dijadwalkan menggelar rapat permusyawarahan hakim (RPH). Lalu pada 11-13 Februari mengumumkan putusannya apakah perkara dilanjutkan atau tidak.

Bagi perkara yang tidak gugur, maka berlanjut ke tahap pemeriksaan persidangan lanjutan yang dijadwalkan pada 14-28 Februari. Di sini agendanya mendengarkan keterangan saksi/ahli serta memeriksa dan mengesahkan alat bukti tambahan.

Setelah itu, hakim MK kembali menggelar RPH untuk mengambil keputusan akhir. Sidang pengucapan putusan/ketetapan akhir digelar pada 7-11 Maret 2025.

Sidang PHP Pilgub Kaltim ditangani tim hakim MK Panel 3 yang diketuai Prof Dr Arief Hidayat, SH, MS. Dua anggotanya selain Prof Dr Enny Nurbaningsih, SH, M.Hum, juga ada mantan ketua MK Prof  Dr Anwar Usman, SH, MH. Tapi Anwar terpaksa digantikan Dr Ridwan Mansyur karena mendadak diopname di rumah sakit akibat terjatuh di kamar mandi.(*)

Lai Durian dari Tanjung

January 8, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA kaget beli durian di Jl MT Haryono Balikpapan, Senin (6/1) sore. Saya kira semuanya durian. Ternyata di antaranya ada jenis lai durian. Sepintas tak ada bedanya, karena kulitnya sama kehijau-hijauan. “Tapi itu lai durian,” kata Haji Arsyad, sang penjual meyakinkan saya.

Haji Arsyad sudah lama kenal saya. Sejak saya masih menjabat wali kota. Dia selalu memberi dukungan politik kepada saya. “Maju terus Pak Wali, saya siap mendukung,” katanya bersemangat setiap bertemu.

Haji Arsyad bersama saya dengan lai duriannya yang dijualnya di Jl MT Haryono Balikpapan

Beberapa hari ini ribuan durian lagi menyerbu Balikpapan. Bisa jadi juga kota lainnya di Kaltim termasuk Samarinda. Diangkut puluhan truk. Menurut Pak Haji Arsyad, durian itu datangnya dari Tanjung, Kalimantan Selatan (Kalsel). Tanjung selama ini memang dikenal sebagai lumbungnya buah-buahan, yang banyak menyuplai ke Kaltim.

Buah durian banyak ditanam warga Tanjung terutama di Desa Bintang Ara, Kecamatan Bintang Ara. Mulai durian biasa sampai hasil persilangan. Di antaranya durian murung king, silanjung, kamundai, mahrawin dan lainnya. Yang menjadi primadona adalah kamundai karena rasanya yang gurih dan legit.

Tanjung adalah ibu kota Kabupaten Tabalong. Terletak di tepi Sungai Tabalong dan berjarak 232 kilometer dari Banjarmasin. Tapi lebih dekat ke Kabupaten Paser, Kaltim. Jaraknya sekitar 136,9 kilometer. Ditempuh 3 jam 36 menit lewat jalan trans Kalimantan.

Ingat Tanjung ingat Guru Jaro atau KH Anwar Sanusi, yang sering ceramah di Kaltim. Guru Jaro dari Tanjung. Di sana ada pondok pesantrennya bernama Pondok Pesantren Terpadu Nurul Musthofa. Sangat terkenal. Banyak pejabat, tokoh terkenal termasuk gubernur dan bupati yang datang ke pondok Guru Jaro.

Penyanyi dan penggubah lagu lejen yang kini berusia 87 tahun, Titiek Puspa juga kelahiran Tanjung. Nama aslinya dari kampung adalah Hj Sudarwati. Ayahnya Tugeno Puspowidjojo orang Jawa, tapi ibunya Siti Mariam sepertinya asli Banjar Tanjung.

Saya surprise dengan lai durian Tanjung yang dijual Haji Arsyad. Menurut saya, itu varietas baru. Hasil perkawinan silang buah lai dengan durian yang cukup sukses. Saya sudah lama tahu ada lai durian, tapi baru sekali ini saya melihat kulitnya tak jauh beda dengan durian biasa. Hanya bentuknya cenderung lonjong tidak bulat.

Dagingnya lumayan tebal. Warnanya lebih mirip buah lai, cenderung kuning. Rasa dan aromanya juga khas dan manis, maklum hasil perkawinan antara lai dan durian.

Lai durian dari Tanjung, Kalsel yang banyak dijual di Kaltim.

Buah lai asli disebut orang durian khas Kalimantan. Karena itu nama latinnya atau nama ilmiahnya adalah Durio Kutejensis. Memberi indikasi berasal dari Kutai. Ada yang menyebut buah lai adalah durian kuning, karena kulit dan dagingnya berwarna kuning.  Ada juga yang menyebut Pampakin atau Pampaken.

Dari hasil penelitian, buah lai memberi manfaat untuk kesehatan. Mulai atasi  insomnia, lancarkan pencernaan, menjaga kesehatan kulit hingga membantu mencegah kanker. Buah lai tergolong dalam buah yang rendah alkohol dan tidak mengandung kolesterol.

Ketika saya masih wali Kota Balikpapan, saya pernah menghadiahi Duta Besar India di Jakarta buah lai. Saya juga pernah menanam bibit lai dalam acara penanaman bersama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Kampus Unair.

Senin kemarin, lai durian dijual Rp100 ribu per 3 buah. Sebelumnya Rp50 ribu per buah. Sama dengan harga durian biasa. Karena buahnya tidak terlalu besar sehingga harganya tidak terlalu mahal.

Saya teringat ada penggalan pantun terkait lai durian. Bunyinya begini: “Lai durian, siapa lalai kedudian.” Kedudian itu bahasa Banjar. Artinya terlambat atau tertinggal.

ANEKA DURIAN HUTAN

Ketika makan malam bersama Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik sebelum acara Wartawan Legend Bedapatan 3, akhir tahun 2024 lalu, saya dan Syafril Teha Noer (STN) sempat berdiskusi tentang buah langka di Kalimantan, khususnya Kaltim.

Saya angkat jempol untuk Bung STN, wartawan yang juga seniman. Lantaran di rumahnya ada dua pohon kuini atau kuweni (Mangifera odorata) yang sudah besar dan berbuah. Itu mangga asli Kalimantan. Sekarang cenderung punah karena kalah dengan kemanisan dan kepopuleran mangga, yang sekarang ini merajai pasar buah. Apalagi hampir di setiap rumah orang menanam mangga.

Seorang pembeli durian memperlihatkan durian merah yang disebut tabelak.(Ist)

Pohon kuini berbuah banyak. Saya beberapa kali dikirimi Bung STN. Banyak yang tanya itu jenis buah apa. Ke mana-mana saya bawa dalam mobil. Sekalian jadi pengharum, meski cucu saya Dafin tidak terlalu suka.

Ketika bertemu Pj Gubernur, saya banyak bercerita tentang durian hutan Kalimantan, yang terancam punah. Maklum tak terdengar ada upaya budi daya yang intensif dari Balai Litbang Dinas Perkebunan atau Pertanian.

Syukur buah lai sudah dikembangkan. Malah sudah ada jenis bibit unggul yang diperjualbelikan. Tapi jenis lainnya saya tidak pernah mendengar terutama karantungan dan lahung. Tapi saya lihat ada juga yang sudah jual bibitnya, meski tidak banyak yang berminat. Mungkin nilai ekonominya tidak sebagus durian biasa atau durian cangkokan.

Lahung dalam bahasa ilmiahnya disebut Durio dulcis. Rata-rata bentuknya bulat, tapi kulitnya cukup menarik karena berwarna merah maron dengan duri yang tajam. Daging buahnya berwarna kuning dan memiliki aroma sangat yang khas.

Ada yang bilang lahung sebagai buah khas suku Dayak. Namanya merangang. Soalnya pohon lahung banyak tumbuh di tengah hutan, di mana suku Dayak dulu banyak bermukim dan bercocok tanam atau berburu. Lahung tak bisa dibuka seperti durian. Jadi langsung dibelah dua. Sayang dagingnya agak tipis. Tapi ada yang bilang lahung paling manis di antara semua jenis durian.

Saya agak bingung. Dalam bahasa Banjar, lahung juga punya pengertian lain yang negatif. Lahung dimaknai sebagai profesi kurang baik yaitu semacam PSK. Coba berani mengatai perempuan lahung, kita bisa dikejar sampai ke lobang buaya.

Berbeda dengan lahung, sedang karantungan berwarna hijau seperti durian. Orang Kutai menyebutnya kertongan. Hanya durinya lebih panjang dan tidak terlalu tajam. Posturnya tidak terlalu besar. Warna dagingnya putih kekuningan, tapi rasanya tidak terlalu manis. Karantungan atau durian daun ini bahasa ilmiahnya disebut Durio oxleyanus.

Mirip karantungan tapi lebih kecil lagi yaitu Terotong alias Kelawit.  Ada juga yang menyebutnya Kuroyiat. Disebut durian mini karena size-nya yang memang kecil. Warna kulitnya juga hijau. Tidak bergas seperti kita makan durian biasa, terutama saat bersendawa.

Satu lagi durian hutan yang hampir punah sama sekali yaitu Tabelak (Durio graveolens). Durinya panjang seperti karantungan. Tapi warnanya macam-macam. Ada yang hijau, kuning, cokelat atau merah. Namun yang unik, buahnya tetap sama berwarna merah.

Tabelak disebut durian merah karena dagingnya yang berwarna merah. Tekstur dagingnya halus, lembut, manis, tapi kering. Baunya tidak terlalu tajam. Karena itu orang Kalimantan menyebut durian merah ini adalah tabelak atau sukang.

Pohon durian alam termasuk lahung, karantungan dan tabelak umumnya tinggi antara 25 sampai 40 meter. Beda dengan pohon lai relatif rendah dengan cabang melebar ke samping. Mirip pohon manggis. Saya sama sekali tidak berani dan tidak bisa menaiki pohon durian alam. Paling banter menunggu buahnya jatuh.

Dinas Pertanian Kutai Kartanegara (Kukar) pernah merilis, sedikitnya ada 18 atau 19 jenis durian tumbuh di hutan Kaltim. “Semuanya masih bisa ditemukan di hutan-hutan,” kata Agus, yang bertugas di Balai Penyuluhan Pertanian Loa Janan, Kukar seperti diberitakan Liputan 6 beberapa waktu lalu.

Sepulang dari Labuan Bajo, perut saya agak nggak beres. Rasanya mules dan badan meriang. “Itu kebanyakan makan durian,” kata Dr Meiliana, mantan Pj Sekdaprov Kaltim menggoda saya lewat WA. Rupanya dia membaca tulisan saya, yang sempat melahap 2 buah durian sebelum bertualang ke Pulau Komodo.(*)

Legenda Orah dan Komodo

January 7, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

TUJUAN utama wisatawan ke Labuan Bajo tentu ingin melihat kadal raksasa yang disebut komodo. Termasuk saya, meski agak waswas terbang ke sana, Kamis (2/1) di saat cuaca lagi tidak bersahabat. Nama latin hewan tersebut adalah Varanus komodoensis.

Semua orang tentu heran dan takjub bagaimana mungkin jenis binatang purba ini masih hidup sampai sekarang. Dan bagaimana mungkin adanya cuma di Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tak akan ditemukan di belahan dunia  manapun.

Bersama Pak Andi Mappapuli di belakang komodo dragon di Pulau Rinca

Setidaknya ada 5 pulau di sekitar Labuan Bajo yang dihuni sang komodo. Selain di Pulau Komodo sendiri, juga ada di Pulau Rinca, Pulau Padar, Gili Motang, dan Nusa Kode. Kawasan itu masuk dalam Taman Nasional Komodo yang sudah ditetapkan UNESCO menjadi Situs Warisan Dunia dan juga masuk ke dalam 7 keajaiban dunia.

Situs Warisan Dunia adalah sebutan untuk tempat-tempat di bumi yang memiliki nilai universal luar biasa bagi umat manusia, telah tercantum dalam Daftar Warisan Dunia untuk dilindungi agar dapat diapresiasi dan dinikmati oleh generasi mendatang.

Piramida Mesir, Taj Mahal India, Grand Canyon di AS, Acropolis di Yunani, Candi Borobudur, Situs Manusia Purba Sangiran dan Sistem Pertanian Subak sudah lebih dulu ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia.

Dari beberapa pulau yang dihuni komodo, populasi terbesar ada di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Itu rumah terbesar binatang tersebut. Ada 3.000-an komodo di kedua pulau tersebut. Cukup banyak. Ada kecenderungan tiap tahun bertambah dari hasil perkawinan.

Pulau Komodo dan pulau di sekitarnya berada di sebelah timur Pulau Sumbawa setelah Selat Sape yang memisahkan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan Provinsi NTT.

Saya datang ke sana menggunakan speedboat. Hari Jumat, 3 Januari 2025. Berangkat dari dermaga di Waterfront City Marina Labuan Bajo. Waktu tempuhnya sekitar satu sampai dua jam. Sebagian wisatawan menumpang perahu pinisi sekaligus bermalam di perahu tradisional suku Bugis-Makassar itu. Mereka singgah-singgah di beberapa pulau, selain melihat komodo juga menikmati berbagai keindahan alam mulai bermain di pantai, snorkling sampai menyaksikan sunset.

Di Pulau Komodo wisatawan atau pengunjung bisa datang ke pinck beach. Pantai unik dengan pasir berwarna merah muda yang langka di dunia. Pulau Padar, tempat favorit untuk trekking dengan pemandangan yang indah. Atau ke Manta Point, spot snorkling terbaik untuk melihat pari manta raksasa.

Jika kita singgah di Pulau Rinca kita bisa melihat strawberry rock stone atau batu karang stroberi. Diberi nama seperti itu karena bentuk gugusan karang di sana berwarna merah muda. Warga setempat menyebutnya Nasi Purung, yang berarti pulau terbakar.

Selain komodo, di pulau-pulau itu juga berkeliaran Kakatua Sulphures berjambul kuning, yang diklaim hanya ada di sana. Ada juga hewan lain seperti rusa, kerbau liar, kuda liar, monyet, ular dan burung maleo. Sebagian jadi mangsa komodo. Pengunjung dilarang memberi makanan kepada komodo. Selain berbahaya juga bisa membuat komodo malas mencari makan secara alamiah.

Burung maleo (Macrocephalon maleo) terancam punah dan termasuk satwa yang dilindungi. Uniknya, sarang bertelur yang dibuatnya dari unggukan tanah juga dimanfaatkan komodo untuk hal yang sama. Telur Komodo ada 30-an. Kalau menetas, anak komodo tinggal di pohon. Untuk pengamanan, sebab tak jarang komodo dewasa menjadikan anak-anak komodo itu sebagai mangsa. Itulah sebabnya sampai anak-anak komodo itu sudah agak besar baru turun ke tanah.

Ketika saya berada di Pulau Rinca, saya diajak petugas bernama Jeki sampai ke sarang komodo. Jeki membawa sebatang tongkat yang ujungnya bercabang untuk memburu komodo jika datang menyerang. Komodo jarang berkelompok dan termasuk binatang pemalas. Tak banyak bergerak.

Saya beruntung bisa berfoto dengan seekor komodo. Sempat ditegur Jeki jangan terlalu dekat. Menurut Jeki, ada petugas bernama Main sempat diserang komodo. Syukur bisa diselamatkan dan bisa kembali bertugas setelah mendapat perawatan intensif.

MIRIP DENGAN BIAWAK

Komodo dikenal sebagai hewan endemik Indonesia. Panjangnya sekitar 3 meter dengan berat sekitar 150 kilogram. Hewan ini masih ada ikatan keluarga dengan biawak yang sering kita jumpai. Makanya sepintas sangat mirip. Walaupun ukurannya sangat beda. Biawak lebih kecil.

Biawak juga tidak beracun dan tidak tergolong hewan buas. Beda dengan komodo yang memiliki kelenjar air liur yang dipenuhi bakteri menghasilkan racun yang dapat menyebabkan pendarahan, pembekuan darah, dan syok pada mangsanya.

Biawak sering ada di sekitar rumah saya di Balikpapan Regency. Itu katanya biawak air, yang nama latinnya Varanus salvator. Memang banyak di Asia Tenggara. Makanannya macam-macam mulai tupai, tikus, reptilia kecil termasuk ular, katak, ikan dan kepiting. Terkadang juga mencuri telur buaya atau telur kura-kura.

Kenapa komodo hanya hidup di NTT?  Karena komodo membutuhkan habitat dengan iklim savana tropis, vegetasi rendah dan sumber makanan seperti rusa timor. Itu hanya ada di NTT. Pulau-pulau di luar NTT, seperti Bali dan Jawa memiliki ekosistem yang berbeda sehingga kurang cocok untuk kelangsungan hidup komodo.

Di pulau-pulau lain seperti Sumatera atau Kalimantan terdapat predator besar seperti harimau, buaya atau gajah. Itu menjadi kompetitor komodo, sehingga bisa mengganggu kelangsungan hidup komodo.

Warga setempat menyebut komodo dengan nama “Orah.” Mengutip dari Indonesia Juara,  nama Orah berasal dari legenda anak kembar seorang Putri Naga dan lelaki bernama Moja.

Singkat cerita, mereka menikah dan memiliki anak kembar. Namun salah satunya bukan manusia tapi berwujud seekor kadal besar. Yang kadal diberi nama Orah, sedang yang berwujud manusia dipanggil Gerong.

Ketika lagi berburu Gerong sempat ingin membunuh sang kadal. Tapi akhirnya dia hidup rukun berdampingan setelah diberitahu sang ibu, Putri Naga bahwa sang kadal adalah saudaranya.

Ada yang menulis bahwa komodo berasal dari Australia, yang bermigrasi ke NTT. Hewan tersebut pertama kali didokumentasikan pada tahun 1910 oleh orang Eropa. Lalu dibuat jurnal ilmiah oleh Peter Ouwens, direktur Museum Zoologi Bogor pada tahun 1912 setelah menerima foto dan kulit komodo dari Letnan Steyn van Hensbroek asal Belanda.

Adalah W Douglas Bourden yang memberi nama komodo dragon setelah melakukan ekspedisi ke Pulau Komodo di tahun 1926. Sang penjelajah ini berhasil membawa 12 ekor komodo yang diawetkan dan 2 dalam keadaan hidup.

Saya dan Pak Andi Mappapuli sempat mendarat di Pulau Kelor.  Di sini kita menyaksikan pemandangan menarik. Pantainya yang dilapisi pasir putih dan bersih membuat turis mancanegara suka mandi dan berjemur di sini. Para turis wanita tampil berbikini ria. Asyik. Tidak terasa air kelapa yang saya hirup cepat masuk di kerongkongan. Lega rasanya. Ahhhh.(*)

Mendadak ke Labuan Bajo

January 6, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SEHARI setelah tahun baru, saya mendadak ke Labuan Bajo. Saya terbang dari Sepinggan ke Jakarta naik pesawat Super Air Jet, baru naik Batik Air menuju Labuan Bajo. Sebenarnya saya lagi takut naik pesawat. Soalnya cuaca lagi tidak bersahabat. Apalagi ada beberapa pesawat jatuh. Ciut juga nyali saya. Tapi lantaran kepingin lihat keindahan daerah ini termasuk komodonya, saya beranikan terbang. Syukur alhamdulillah semua berjalan lancar.

Yang mengajak ke sana teman saya, Pak Andi Mappapuli, mantan ketua LPM Teritip. Orang lebih akrab memanggilnya Pak Kumis karena kumisnya memang cukup tebal. Dia ingin menemui keluarganya di sana yang sudah puluhan tahun tidak berjumpa. “Ya saya datang untuk menemui saudara saya,” katanya begitu.

Saudara yang dimaksud Pak Kumis ternyata keluarga Ibu Naima, kakak kandungnya. Dia tinggal di Labuan Bajo di Kampung Air sejak tahun 60-an. Masih hutan dan sepi. Dia datang bersama  suaminya dengan perahu layar. Sekarang sudah beranak pinak. Punya 7 anak dan belasan cucu. Salah satu putranya, H Aziz, ustaz dan pernah menjadi anggota DPRD setempat.

H Naima gembira sekali bisa bertemu sang adik. Kami dijamu makan di rumahnya, yang kebetulan di samping hotel tempat kami menginap. Ada kue cucur juga. Bahkan pulang disangui setoples kopi asli Manggarai plus sebotol madu. Baik sekali.

Kapal pinisi tempat turis bermalam di Labuan Bajo

Kami menginap di Flamingo Ceria, hotel bintang 3 di Jalan Reklamasi Pantai. Hotelnya terbilang baru, persis di depan Waterfront City Marina Labuan Bajo. Jadi mudah sekali akses ke kapal atau speedboat. Dari kamar, saya sudah bisa menyaksikan Labuan Baju yang indah dan penuh pesona.

Ada yang bilang Labuan Bajo itu adalah sepetak surga tersembunyi di wilayah Indonesia Bagian Timur. Tadinya saya bertanya-tanya: Apa iya? Soalnya saya belum pernah ke sana. Walaupun nama Labuan Bajo sudah sering disebut di berbagai media sosial dan tayangan TV.

Labuan itu berasal dari kata labuhan atau pelabuhan. Sedang Bajo adalah adalah orang-orang berasal dari suku Bajo dan Bugis Sulawesi Selatan, yang suka merantau dan mendiami pesisir. Pekerjaan mereka nelayan. Sejak itu daerah ini akrab disebut Labuan Bajo.

Labuan Bajo antara laut dan bukit yang indah

Luas Labuan Bajo hanya 13,79 kilometer persegi. Penduduknya sekitar 7 ribu jiwa. Sebagian besar adalah orang Manggarai. Tapi di pesisirnya ditinggali orang Sulawesi. Mereka hidup rukun. Orang Manggarai rata-rata beragama Katolik, sedang orang Sulawesi beragama Islam. “Tapi kita hidup rukun di sini,” kata Aziz.

Saya jadi teringat banyak pastor dan suster asal NTT bertugas di berbagai daerah termasuk di Kaltim dan Balikpapan. Malah ada pastor asal Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) bernama Pater Amans Laka, yang namanya diabadikan sebagai nama jalan di Argentina.

Labuan Bajo tadinya hanya kelurahan kecil. Tapi sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bupatinya Edistasius Endi, orang setempat dari Partai NasDem. Bersama wakilnya, dr Yualianus Weng terpilih kembali dalam Pilbup 2024. Tapi mereka masih menghadapi gugatan ke MK.

Karena tadinya kelurahan, maka sebagian jalan-jalan di Labuan Bajo tidak terlalu lebar. Malah ada  juga yang belum mendapat penerangan jalan. Tapi masyarakatnya mulai berkembang maju. Soalnya mulai banyak berinteraksi dengan turis asing. “Sepertinya masih perlu waktu, sektor pariwisata belum memberi dampak besar untuk kita,” kata Aziz.

DAERAH SERIBU SUNSET

Di era Presiden Jokowi, Labuan Bajo dipacu menjadi salah satu tujuan wisata terbaik. Karena itu Labuan Bajo telah ditetapkan sebagai salah satu dari 5 destinasi wisata super prioritas di Indonesia.

Sebagai penunjang telah dibangun berbagai fasilitas. Bandaranya yang diberi nama Bandara Komodo sudah dipoles dan ditetapkan sebagai bandara internasional. Air Asia sudah membuka rute Labuan Bajo langsung Kuala Lumpur. Penerbangan domestik terbesar dari Bali, Surabaya dan Jakarta.

Pelabuhan lautnya juga sudah ditata apik. Dilengkapi pelabuhan feri. Maklum berperan penting melayani kapal-kapal yang mengangkut para turis. Di Labuan Bajo banyak sekali kapal-kapal pinisi. Ada ratusan. Fasilitas ini melayani trip bermalam di kapal sambil singgah ke berbagai gugusan pulau yang menawan. Wisatawan tentu sangat suka. Sayang saya tak sempat menikmati karena terbatasnya waktu.

Ada ratusan pulau di Labuan Bajo. Tapi paket wisata merekomendasikan ada 10 pulau yang sangat menarik dan harus dikunjungi wisatawan. Mulai Pulau Bidadari, Pulau Komodo, Pulau Rinca,  Pulau Padar, Pulau Kelor, Pulau Kalong, Pulau Kanawa, Pulau Koaba, Pulau Taka Makassar, sampai Pulau Kukusan.

Pulau Komodo dan Pulau Rinca adalah rumah besar untuk kadal raksasa yang dikenal dunia dengan sebutan komodo (Varanus komodoensis). Ini   hewan purba yang hanya ada satu-satunya di dunia. Soal komodo saya akan bercerita dalam tulisan berikutnya.

Jokowi juga membangun Golo Mori Convention Center (GMCC) di kaki bukit Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo. Fasilitas eksklusif  itu dipakai pada KTT ke-42 ASEAN, 9-11 Mei 2003. View-nya sangat menarik karena berhadapan langsung dengan Pulau Rinca, bagian dari kawasan Taman Nasional Komodo. Sesekali ada juga komodo melintas di Golo Mari.

Saya sempat berkunjung ke sana. Sekitar 30 menit dari kota Labuan Bajo. Jalannya meliuk-liuk di kaki bukit. Tapi mulus dibangun oleh PUPR. Sayang belum ada hotel dan fasilitas lain. Meski sudah ada beberapa papan nama hotel-hotel besar dari Jakarta yang akan berinvestasi.

Jadi jika tak ada acara meeting, GMCC terasa sangat sepi. “GMCC di bawah pengelolaan InJourney. Kita lagi menyiapkan festival jazz di sini,” kata  Ari Soplanit, general manager GMCC ketika bertemu saya.

InJourney atau Indonesia Journey adalah BUMN yang membawahkan PT Angkasa Pura I dan II, PT Hotel Indonesia Natour, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia, PT Taman Wisata Candi Borobudur dan PT Sarinah.

Saya mendarat di Bandara  Internasional Komodo sore hari. Alhamdulillah bisa menikmati pemandangan langit senja. Kata warga, suasana seperti ini lebih dahsyat lagi jika kita naik ke Bukit Cinta, Puncak Amelia dan Puncak Silvia. Karena keindahan senjanya, Labuan Bajo juga dijuluki “Daerah Seribu Sunset.”

Topografi Labuan Bajo berbukit-bukit. Jadi banyak pemandangan menarik bisa dilihat dari atas bukit. Kotanya memang sangat menarik dan menakjubkan.

Dunia bawah laut di sekitar Labuan Bajo juga merupakan salah satu yang terbaik di dunia.  Ada banyak spot penyelaman dengan terumbu karang yang masih alami dan dipenuhi oleh berbagai jenis ikan tropis, penyu, manta ray (pari raksasa) dan bahkan hiu.

Para turis memilih ikan di lapak milik warga

Di malam hari saya sempat singgah di Kampung Ujung. Di sini tempat turis berburu makanan laut (seafood) dengan berbagai jenis ikan yang segar. Ikannya boleh pilih sendiri, mulai kakap, kerapu. bawal, cumi, kepiting sampai udang lobster.

Ikannya dijual di kios atau lapak milik warga. Harganya juga relatif terjangkau. Setelah ikannya dipilih kita ditawari jenis masakannya. Mau digoreng, dimasak kuah atau dibakar. Lalu tempat makannya duduk di bawah payung yang dibangun memanjang oleh Kementerian PUPR sambil merasakan semilir angin laut.

Berburu durian di Kampung Ujung

Kampung Ujung juga disemarakkan dengan para penjual durian. Ini salah satu tujuan utama saya kalau datang ke suatu daerah. Berburu durian. Para turis bule juga ramai memilih durian. Harganya bervariasi antara 50 ribu sampai 150 ribu rupiah per buah. Tergantung besar kecilnya. Saya melahap sampai dua buah. Kata penjualnya, ini asli durian lokal. Rasanya memang menggoda. Tapi pulang ke hotel kepala saya nyut..nyut.(*)

Peluang dan Tantangan Bisnis Media Lokal

January 1, 2025 by  
Filed under Opini

Oleh Ilona Juwita

(Wakil Ketua Umum SMSI Bidang Pengembangan Bisnis dan Digital Media)

Bisnis media digital di Indonesia bertumbuh secara signifikan selama tahun 2024. Salah satunya ditandai dengan pencapaian ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan mencapai Gross Merchandise Value (GMV) sebesar $90 miliar, naik 13% dibandingkan tahun 2023, menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara, berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2024 yang disusun oleh Google, Temasek, dan Bain & Company (Sumber: Google Blog)

Meningkatnya konsumsi konten digital, game, dan layanan streaming menjadi salah satu faktor besar tumbuhnya bisnis media digital, dengan GMV diperkirakan tumbuh 12% dari $7 miliar pada tahun 2023 menjadi $8 miliar pada tahun 2024.

Pertumbuhan ini juga berjalan seiring dengan meningkatnya pengguna internet di Indonesia. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia pada awal 2024 mencapai 221 juta jiwa, atau sekitar 79,5% dari total populasi. Angka ini meningkat 2,75% dibandingkan awal tahun 2023.

Ilona Juwita

Meskipun ada pertumbuhan, media digital menghadapi tantangan dalam hal pendapatan iklan dan persaingan dengan platform global. Penurunan belanja iklan perusahaan untuk media massa dan dominasi platform media sosial global menekan pendapatan media lokal. Selain itu, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) menambah kompleksitas dalam industri ini.

Bagaimana media digital terutama media massa menghadapi tantangan ini kedepan?

Media digital perlu mengadopsi strategi inovatif, seperti memanfaatkan data pengunjung untuk meningkatkan interaksi dan pengalaman pengguna, serta mengembangkan model bisnis yang lebih beragam. Kolaborasi dengan pemerintah dan komunitas lokal juga penting untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan relevansi di era digital.

Pemanfaatan Data Pengunjung perlu diawali dengan membangun infrastruktur teknologi yang memadai. Media perlu mengimplementasikan platform manajemen data pelanggan yang memungkinkan media untuk memiliki database yang lebih terstruktur sehingga memudahkan analisa dan segmentasi. Selanjutnya media perlu melakukan berbagai inisiatif agar dapat mulai melakukan pengumpulan data termasuk salah satunya mendorong pengunjung berinteraksi dengan fitur, form registrasi, konten, dll. Media juga harus memastikan patuh terhadap regulasi hukum privasi terutama bagaimana data pelanggan tersebut akan digunakan. Melalui serangkaian analisis dan segmentasi yang bisa dilakukan melalui data tersebut, media dapat memberikan pengalaman berkunjung yang lebih personal, menawarkan targeting iklan yang lebih presisi, dan penawaran konten premium melalui skema berlangganan.

Skema bisnis berlangganan menjadi salah satu model bisnis baru yang patut dilirik terutama ketika media sudah mampu memastikan kualitas konten yang diproduksi dan pengelolaan data pelanggan yang tepat. Model bisnis ini menjadi salah satu bentuk inovasi media digital untuk memastikan bisnis yang berkelanjutan.

Kolaborasi dengan pemerintah dan komunitas lokal akan mendorong pertumbuhan media digital lebih baik lagi. Pemerintah melalui support infrastruktur digital dan literasi yang lebih luas akan meningkatkan indeks masyarakat digital. Hal ini akan mendorong tumbuhnya kebutuhan akan konten digital yang lebih beragam. Komunitas lokal selanjutnya memiliki peranan penting dalam menghadirkan konten tersebut tentunya dengan pendekatan lokal yang memiliki relevansi lebih baik.

« Previous PageNext Page »

  • vb