Jaksa Agung Undang Bu Mei

January 26, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

JAKSA AGUNG ST Burhanuddin berkunjung ke Kaltim, pekan lalu. Ada mantan pejabat Pemprov Kaltim mendapat undangan khusus bertemu dengannya. Semua yang melihat kaget. Siapa dia dan ada perkara apa?

Mantan pejabat yang dimaksud adalah Dr Hj Meiliana, yang akrab dipanggil Bu Mei. Dia sudah purnatugas. Jabatan terakhir Bu Mei sebagai Pj Sekdaprov Kaltim. Tapi dia juga pernah menjadi Plt Wali Kota Samarinda, Pelaksana Harian (Plh) Gubernur Kaltim, Kepala LAN Samarinda dan Asisten III Sekprov.

Bu Mei bersama Jaksa Agung ST Burhanuddin dan Ibu Suparmi, jaksa yang diperbantukan menjadi kepala Biro Hukum Sekdaprov Kaltim.

Bu Mei sekarang ini aktif dalam beberapa organisasi sosial di antaranya  wakil ketua 3 BKOW Kaltim, ketua PPUMI, ketua LK2S, Lembaga Kesejahteraan Sosial Kaltim, ketua LASQI dan wakil ketua IKA Unmul. Selain itu juga menjadi penasihat Tim Pengembangan Pulau Maratua.

“Ya saya yang diundang beliau. Kami bertemu di kantor Kejaksaan Negeri Samarinda hari Kamis (22/1),” kata Bu Mei tersenyum.

Menurut Bu Mei, sebelum Jaksa Agung datang ke Samarinda, dia sudah diberitahu melalui pesan WhatsApp (WA). “Saya akan berkunjung ke Kaltim, kalau ada kesempatan nanti kita bertemu,” begitu pesan  Jaksa Agung kepada Bu Mei.

Kenapa Bu Mei mendapat perhatian khusus  Jaksa Agung? “He..he.. Pak Jaksa Agung itu teman lama saya ketika kami sama-sama mengikuti Diklatpim 2 dan 1 di LAN RI Pejompongan Jakarta tahun 2003 dan 2008,” jelasnya.

Waktu itu, lanjut Bu Mei, Pak ST Burhanuddin masih muda. Ketika Dilatpim 2, ST Burhanuddin  memangku jabatan kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Cilacap. Sedang pada Dilatpim 1, dia memangku jabatan wakil kajati Aceh.

“Kami akrab, sama-sama berjuang dengan teman-teman lainnya termasuk dengan Pak Burhanuddin. Beliau memang hebat dan cerdas, sampai akhirnya jadi Jaksa Agung seperti sekarang ini,” jelasnya.

Bu Mei mengaku mengapresiasi dan merasa terhormat bisa bertemu dengan Jaksa Agung. Meski dalam keadaan sibuk dan sudah menjadi pejabat tinggi negara masih ingat dengan teman-teman lama. “Saya tersanjung atas perhatian beliau dan beliau masih ingat dengan teman seperjuangan,” tambahnya.

Ketika bertemu di Kejari Samarinda, Jaksa Agung ST Burhanuddin didampingi Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kaltim Dr Supardi, SH, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Samarinda Firmansyah Subhanm SH, MH  dan Ibu Hj Suparmi, SH, kepala Biro Hukum Kantor Gubernur, yang masih berstatus aparat Kejaksaan.

Dr Supardi terbilang Kajati baru. Dia dilantik Jaksa Agung sekitar September 2025 menggantikan pejabat lama, Dr Iman Wijaya, SH, M.Hum. Sebelumnya dia pernah menjadi direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus).

Sementara Kajari Samarinda baru saja mendapat apresiasi masyarakat atas keberhasilannya memulihkan keuangan negara senilai Rp2,51 miliar lewat Perusda Pertambangan Bara milik Pemprov Kaltim setelah adanya putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Samarinda.

Menurut Firmansyah, keberhasilan pengembalian dana ini merupakan wujud nyata komitmen Kejaksaan dalam memulihkan keuangan negara maupun daerah.

Kajari juga menerima penghargaan dari Kapolresta Samarinda sebagai bentuk apresiasi atas sinergitas dan dalam penegakan hukum di wilayah Kota Samarinda, yang berlangsung lancar dan efektif.

Sekitar satu jam bertemu Jaksa Agung, aku Bu Mei, tidak ada pembicaraan serius berkaitan masalah hukum di daerah. Mereka hanya bicara hal-hal ringan dan nostalgia masa lalu. “Saya ke Kaltim untuk melihat dan menyemangati aparat Kejaksaan di sini dalam menjalankan tugasnya terutama berkaitan dengan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi,” kata ST Burhanuddin.

Dalam kunjungan 2 hari itu, Jaksa Agung sempat menikmati buah durian dan lai. Buah lai adalah jenis buah durian asli Kalimantan. Nama botanisnya Durio kutejensis. Artinya durian dari Kutai. Selain itu, dia juga sempat bernyanyi saat menginap di Hotel Fugo Samarinda sambil melihat ratusan tongkang batu bara melintas di bawah Jembatan Mahakam.

ATENSI KORUPSI SDA

Kedatangan Jaksa Agung ST Burhanuddin ke Kaltim mendapat perhatian khusus  para awak media. Ada yang menyebut itu kunjungan mendadak, sehingga ada kemungkinan besar ada kasus atau peristiwa hukum yang disasar.

Kepada para wartawan, Jaksa Agung melalui Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Anang Supriana menjelaskan, kedatangannya ke Kaltim dalam rangka memantau langsung kesiapan personel serta mengukur capaian kinerja Kejaksaan Tinggi maupun Kejaksaan Negeri di wilayahnya masing-masing.

“Jaksa Agung menegaskan agar jajaran di daerah memberikan perhatian khusus pada perkara yang menyangkut hajat hidup orang banyak, lingkungan serta sektor energi,” kata Anang.

Berkaitan dengan hal itu, Jaksa Agung menuntut penegakan hukum yang tidak hanya profesional dan berintegritas, tetapi juga mampu menuntaskan berbagai tunggakan perkara lama.

Ia juga mengatakan bahwa tindak pidana korupsi di wilayah Kalimantan Timur tergolong cukup besar dengan nilai kerugian negara yang signifikan.

Kejaksaan Agung, kata Anang, memberikan dukungan atas penertiban kasus-kasus krusial, seperti tambang ilegal melalui sinergi dengan aparat penegak hukum lainnya. Selain itu pihaknya juga memberikan perhatian khusus terhadap kasus dugaan penyelewengan dana hibah Desain Besar Olahraga Nasional, yang melibatkan kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim.

Dalam pengarahannya, Jaksa Agung menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kerja keras jajaran Kajati Kaltim dalam meningkatkan citra Kejaksaan sebagai Lembaga penegak hukum yang profesional dan terpercaya.

Jaksa Agung dan rombongan datang dan pulang melalui Bandara APT Pranoto Samarinda. Dia sempat disambut Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro, Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono, Kajati Kaltim Dr Supardi dan Wali Kota Samarinda Andi Harun.

Selain ke Samarinda, dia Sempat melakukan kunjungan kerja ke Kejari Balikpapan dan Kutai Kartanegara. Dia menekankan agar aparat Kejaksaan bisa menjaga diri dari perbuatan tercela dan mampu melaksanakan tugasnya sebagai aparat penegak hukum terutama dalam pemberantasan korupsi dan penyelamatan aset negara.(*)

Planga-Plongo

January 25, 2026 by  
Filed under Opini

Oleh: Jaya Suprana

ASKARA – Dua debat termashur sepanjang sejarah iptek adalah antara Niels Bohr lawan Albert Einstein tentang kuantum serta Noam Chomsky versus B.F Skinner tentang proses belajar. Saya pribadi lebih berpihak ke Bohr dan Chomsky meski saya tetap menghormati dan menghargai Einstein dan Skinner.

Sebagai warga awam yang dibesarkan di lingkungan kebudayaan Jawa, wajar saya berikhtiar memelajari psikolinguistik Jawa tanpa berani dumeh  merasa diri pasti benar. Di ranah protopsikologi Jawa dikenal beberapa istilah terkait karakter manusia yang menggunakan kata-ulang saling mirip meski tidak sama (lazimnya beda satu huruf) yaitu morat-marit, petakal-petakil, mencla-mencle, cengangas-cengenges, cekat-ceket, sat-set, gasrak-gusruk, compang-camping, gedebak-gedebuk atau plonga-plongo.

Akhir-akhir ini berkat jasa atau dosa seorang pejabat tinggi Indonesia yang tidak perlu saya sebut namanya di sini namun semua pasti tahu siapa beliau, istilah plonga-plongo menjadi popular. Wajar di alam kebebasan berpendapat semesta demokratis, hadir pula para antisimpatisan dan simpatisan sang pejabat tinggi sehingga muncul dualisme dalam tafsir terhadap plonga-plongo.

Para antisimpatisan menganggap plonga-plongo adalah sikap kepribadian buruk citra kedunguan, kegoblokan, kebodohan, kebebalan, kepandiran yang ditampilkan oleh para “bolo  dupak” semisal Buto Cakil dan Burisrawa pada mitologi pewayangan. Pendek kata, plonga-plongo tidak pantas bagi seorang pejabat tinggi yang seharusnya menjadi panutan rakyat.

Sebaliknya, para simpatisan meyakini plonga-plongo adalah sikap kepribadian jati diri citra kejujuran, ketulusan, indera humor tinggi, kerendahan hati, kearifan seperti yang ditampilkan oleh para Punakawan pada mitologi pewayangan yang sangat dihormati oleh para kesatria bahkan dewata. Gejala sikap plonga-plonga juga tampak pada diri Batara Narada yang senantiasa setia mendampingi Batara Guru. Pendek kata, plonga-plongo pada saat-saat tertentu dianggap pantas bagi seorang pejabat tinggi yang seharusnya menjadi panutan rakyat jelata seperti halnya para Punakawan terutama pada diri Bagong yang mewarisi sikap arif bijaksana Ki Semar Badranaya, di balik tabir citra keplonga-plongoannya. Menurut versi wayang purwa,  Ki Semar Badranaya dalam hal kesaktian flatulisme alias angin perut atau  kentut tiada tanding di jagad raya ini.

Sungguh di luar niatan naskah sederhana ini untuk berani melibatkan diri ke dalam kemelut polemik plonga-plonga secara politis. Sungguh tidak ada mens rea menyelinap di lubuk sanubari saya. Naskah sederhana ini sekadar secara subyektif ingin mengungkap rasa hormat, kagum dan takjub saya pribadi terhadap daya kreatifitas kakek-nenek moyang Nusantara dalam menggunakan tutur-kata kaya makna dan matra.

“Harmoni” HUT Kota Ke-129

January 23, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud dan istri, Hj Nurlena Rahmad bersama Wakil Wali Kota Bagus Susetyo dan istri, Hj Siti Kotijah.

KOTA BALIKPAPAN merayakan hari jadinya ke-129. Tepatnya Selasa, 10 Februari 2026. Seperti tahun-tahun sebelumnya, puncak perayaan ditandai dengan upacara.

Hanya saja tahun ini upacara kembali digelar di halaman Balai Kota tidak di BSCC Dome karena alasan efisiensi. Jadi tidak besar-besaran. Sangat sederhana.

Ada suasana berbeda di hari jadi tahun ini. Wali Kota Rahmad Mas’ud (RM) tidak sendirian lagi.

Sudah ada Wakil Wali Kota yaitu Bagus Susetyo. Bagus sekarang jadi Ketua DPC Gerindra Balikpapan. Partainya Presiden Prabowo Subianto.

Meski Wawali sudah ada, tapi sekretaris daerah kota (Sekdakot) definitif masih kosong menyusul “digesernya” Muhaimin menjadi Ketua Bappeda Kaltim, akhir Desember 2025. Sebagai pengganti sementara ditunjuk Agus Budi Prasetyo, yang sebelumnya adalah Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD).

Status Agus sebagai penjabat (Pj). Setingkat di atas pelaksana tugas (Plt). Biasanya Pj waktu tugasnya bisa lebih panjang dan punya kewenangan seperti pejabat definitif. Dia bertugas sampai menunggu terpilihnya Sekdakot definitif. Saya dengar belum ada tanda-tanda seleksi dilaksanakan. Sayang Agus tahun depan sudah pensiun. Padahal kapasitasnya cukup. Punya pengalaman jadi Kepala Bappeda.

Walau hampir setahun menjadi Wawali, Bagus masih belum bisa menempati rumah dinas. Dia masih disewakan di kompleks The Hils. Rumah dinas Wawali di Jl ARS Muhammad baru tahun ini direnovasi.
Ketua panitia HUT tahun ini adalah Asisten III dr Andi Sri Juliarty atau akrab dipanggil dr Dio. Tahun lalu dia juga. Mungkin supaya efisien. Kabarnya anggaran HUT hanya ratusan juta saja. Dulu sampai di atas Rp5 miliar. Jadi undangan terbatas dan tidak ada cinderamata atau buah tangan.

Tema yang ditetapkan “Harmoni Menuju Kota Global.” Ini sejalan dengan visi “Balikpapan Kota Global, Nyaman untuk Semua dalam Bingkai Madinatul Iman.”

Karena alasan efisiensi, maka kegiatan HUT dipusatkan di kecamatan termasuk syukuran. Tapi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, DPRD tetap menggelar rapat paripurna untuk mendengarkan pidato wali kota. Sekaligus pemberian penghargaan kepada warga yang berjasa dan berprestasi. Kabarnya jumlah penerima penghargaan dikurangi. Hanya 20 orang saja. Mereka hanya diberi dana tanpa pin emas.

Sementara itu dalam rangkaian upacara, Wali Kota menyerahkan panji keberhasilan pembangunan kepada para kepala dinas/badan yang diperoleh dari Pemprov Kaltim.

Pada upacara HUT ke-69 Pemprov Kaltim, 10 Januari 2026, Balikpapan memperoleh 7 panji terbaik I ditambah 1 Arindama Utama, 2 penghargaan Terbaik II dan 4 Terbaik III. Selain itu Camat Balikpapan Barat Erwin, SE meraih penghargaan sebagai Camat Berprestasi III.

Ke-7 penghargaan terbaik I itu adalah Bidang Pendidikan, Bidang Ketenteraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat, Bidang Kepemudaan dan Olahraga, Bidang Lingkungan Hidup, Bidang Pembangunan Investasi Daerah, Bidang Perhubungan serta Bidang Pembangunan Komunikasi & Informatika. Sedang Arindama Utama diraih oleh Bidang Pelayanan Publik.

Dibanding tahun 2025, sepertinya panji yang diperoleh Balikpapan menyusut. Katanya karena ada beberapa bidang tidak dilombakan lagi. Tahun 2025 Balikpapan memperoleh 17 Arindama. Tapi Balikpapan masih menjadi kota terbanyak meraih penghargaan.

MAKIN DIPERCANTIK
Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud punya semangat mempercantik kota. Sejumlah taman dibenahi melalui program CSR beberapa perusahaan. Trotoar di tata ada kursinya. Ada tugu atau monumen. Yang unik tugu perahu pinisi di mulut jalan Stadion Batakan.

Sementara jembatan dan jalan dipasangi lampu PJU atau lampu hias yang cantik. Jembatan Manggar misalnya, jadi seperti jembatan seribu lampu. Sayang ada yang tewas tersengat listrik gara-gara memancing di sana, akhir tahun lalu.

Sekarang ini di sepanjang Jl A Yani juga dipasangi PJU hias. Tapi di lokasi itu banyak kabel telepon dan optik yang tergantung semrawut. Jadi kalau siang sangat tak nyaman dipandang mata. Mudah-mudahan kesemrawutan kabel itu bisa dibenahi. Biar lebih cantik lampunya.

Ada yang menyorot soal PJU ini. Terkesan berlebihan. Jaraknya sangat rapat. Kabarnya dananya cukup besar. Selain PJU hias, ada juga yang menyoroti pemasangan PJUTS (Tenaga Surya).

Jalan MT Haryono juga makin cantik dan lebar. Kawasan sekitar jembatan PDAM sampai depan Telkom kalau malam hari luar biasa. Hanya saja kalau hujan lebat, laut pasang, maka banjirnya dari beler melebar. Di situ pernah ada proyek DAS Ampal yang menghabiskan biaya Rp136 miliar. Sempat heboh karena pekerjaannya tidak begitu lancar.
Hampir tiap sudut kota sekarang juga dipasangi fasilitas videotron. Maksudnya baik untuk mengirim pesan pembangunan lebih efektif. Tapi biaya pemeliharaannya cukup besar.

Saya dengar Wawali Bagus Susetyo sangat memperhatikan masalah ini. Tapi dia terlihat dia lebih kalem. Bagus juga sifatnya.
Saya belum tahu apa ada proyek pembangunan yang diresmikan pada HUT ke-129. Tapi catatan saya ada PR berat yang harus diselesaikan Pemkot yaitu proyek pembangunan kembali Rumah Sakit Sayang Ibu, Balikpapan Barat yang mangkrak. Di lapangan ada sejumlah material teronggok.

Proyek senilai Rp106 miliar itu terseok-seok, mulai urusan pembebasan lahan sampai kualitas kontraktornya. Nama kontraktor pelaksana adalah PT Ardi Tekindo Perkasa. Kabarnya dari Surabaya.

Proyek ini mulai dikerjakan tahun 2025. Tapi sampai akhir tahun progresnya hanya 20 persen. Menurut Baharuddin Daeng Lala, anggota Dewan dari Fraksi Nasdem, Pemkot sudah memutus kontraknya. Jadi akan ditender ulang.

Tapi ada juga rencana Dewan membentuk Panitia Khusus (Pansus). Wakil Ketua Komisi III, Halili Adinegara minta dilakukan audit dulu sebelum dilelang ulang. “Penjelasan dari Inspektorat dan BPK menjadi hal yang sangat krusial,” katanya seperti diberitakan Seputarfakta.com. Ada pihak yang melaporkan kasus RSUD Balikpapan Barat ini ke Kejaksaan Tinggi Kaltim.

Sepertinya gara-gara mangkraknya RSUD Sayang Ibu, rencana pembangunan RSUD Type C di Balikpapan Timur dengan biaya Rp273,27 miliar juga ditunda. Selain juga ada kaitan dengan keuangan Pemkot yang seret karena adanya kebijakan efisiensi dan pemangkasan dana Transfer ke Daerah (TKD).

Masalah lain yang dihadapi warga kota sampai saat ini adalah keterbatasan air PDAM, kemacetan lalu lintas di berbagai titik, banjir dan antre BBM serta gas subsidi.

Meski terbilang masih lama, banyak juga warga kota sudah bicara siapa calon wali kota Balikpapan selanjutnya. Soalnya RM sudah dua kali. Jadi pasti ganti pada tahun 2029 atau 2030.

Dari isu yang beredar, ada 3 skenario yang mungkin dilakukan RM. Pertama, RM akan mengajukan istrinya, Hj Nurlena Rahmad sebagai calon penggantinya. Kedua, RM tukar tempat dengan kakak kandungnya, Hasanuddin Mas’ud (HAMAS) yang sekarang jadi Ketua DPRD Kaltim. Ketiga, RM merekomendasi Abdulloh, mantan Ketua DPRD Balikpapan yang sekarang jadi Ketua Komisi 3 DPRD Kaltim. Abdulloh juga dari Golkar dan besar pendukungnya.

Sementara di luar lingkaran RM, Wakil Wali Kota Bagus Susetyo sangat diperhitungkan. Soalnya dia dari Partai Gerindra. Sepanjang Prabowo masih bercokol, Bagus sangat berpeluang naik kelas menjadi calon Wali Kota Balikpapan yang kuat dan bagus.
Ada dua nama lain yang juga berembus. Yaitu H Karmin Laonggeng dan H Abdul Hakim Rauf. Karmin adalah pengusaha yang juga Ketua MPW Partai Berkarya Kaltim. Tapi kabarnya dia didorong-dorong untuk menjadi Ketua DPC Demokrat Balikpapan untuk memuluskan pencalonannya di Pilwali. Hanya saja kursi Demokrat di Dewan hanya satu.

Sedang H Hakim saat ini Ketua DPC Partai Nasdem. Istrinya Hj Yusdiana Hakim menjadi Ketua Fraksi Nasdem DPRD Balikpapan. Anggota fraksi ada 7. No 2 terbanyak setelah Golkar. Hakim pernah menjadi calon wakil wali kota ketika berpasangan dengan Andi Burhanuddin Solong (ABS) pada Pilwali Balikpapan 2015.

Hampir tidak ada even khusus memeriahkan HUT ke-129 Kota Balikpapan. Tapi kabarnya pertandingan Golf Wali Kota Cup tetap digelar. Tadinya lapangan yang dipakai sesuai brosur awal di lapangan Royal Mahligai Golf & Country Kariangau. Sekalian acara soft launching.
Ada yang menyebut Royal Mahligai disingkat RM, yang juga berarti Rahmad Mas’ud. Lapangan itu kabarnya memang milik RM pribadi. RM Golf juga membuka fasilitas latihan atau driving di Grand City.

Kabar terakhir saya dengar turnamen Golf Wali Kota Cup dipindahkan lagi ke Pertamina Gunung Bakaran. Mungkin karena pertimbangan fasilitas lapangan RM Golf baru bisa bermain untuk 9 hole. Padahal peserta cukup banyak. Hadiah hole in one-nya mobil Pajero Sport.

Tiap peserta dipungut Rp1,8 juta. Khusus junior Rp1 juta.
Selain golf, ada juga Paddle Wali Kota Cup. Diselenggarakan oleh HIPMI Balikpapan yang diketuai Adam Dustin Bhakti.  Di saat ultah kota, saya terpikir nasib Persiba. Saat ini terancam turun lagi ke Liga 3. Sembilan kali berlaga di Liga 2 Pegadaian Championship, tak satu pun meraih kemenangan. Nasibnya di ujung tanduk. Mudah-mudahan ada dewa penyelamat. Supaya bisa memberi kado manis untuk HUT Kota.

Sekarang kita ucapkan Dirgahayu Kota Balikpapan ke-129. Saya lahir di kota ini dan sempat memimpin selama 15 tahun. Karena itu saya tak pernah berhenti mencintai Balikpapan.(*)

Ada Akmal di “Deboekit” Manggar

January 20, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Peserta Festival Dayung di kawasan Deboekit, Sungai Manggar Balikpapan.

HEBAT juga naluri bisnis Pak Akmal Malik. Meski dia pejabat di pemerintahan, tapi mampu melakukan investasi miliaran rupiah. Kebetulan investasi besar itu dia pilih lokasinya di Kaltim.

Pak Akmal Malik yang saya maksud adalah Prof Dr Akmal Malik, M.Si, pejabat eselon I Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang pernah bertugas sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Kaltim selama satu setengah tahun.

Saat itu dia mengisi kekosongan jabatan Gubernur Kaltim definitif, setelah Isran Noor berakhir masa tugasnya 30 September 2023. Akmal kembali ke Jakarta setelah Rudy Mas’ud dilantik menjadi gubernur baru sejak 20 Februari 2025. Sebelumnya dia juga pernah menjadi Pj Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar).

Akmal akrab dengan keluarga Bani Mas’ud. Mungkin sejak dia berada di Sulbar, daerah asal keluarga Mas’ud. Apalagi Hasanuddin Mas’ud yang sekarang Ketua DPRD Kaltim pernah mengikuti kontestasi Pilgub Sulbar. Juga anggota DPRD Kaltim, Syahariah Mas’ud pernah menjadi anggota DPRD Sulbar.

Jabatan definitif Akmal di Jakarta adalah Dirjen Otonomi Daerah (Otda). Tapi sejak 14 Januari lalu dia dirotasi menjadi Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum). Jabatan lamanya sekarang dipegang Cheka Virgowansyah, yang pernah menjadi Pj Wali Kota Palembang dan Tasikmalaya.

Meski sudah kembali ke Jakarta, Akmal sepertinya bakal sering ke Kaltim terutama Balikpapan. Pertengahan Desember tahun 2025 lalu dia me-launching “Deboekit Riverside Resort (DRR),” sebuah destinasi wisata baru yang menggabungkan rekreasi dan edukasi berbasis lingkungan.

Kabarnya itu milik Akmal. Ada juga yang bilang dia bekerjasama dengan investor lain. Akmal sepertinya tertarik di bisnis wisata. Ketika dia bertugas di Kaltim, dia melihat potensi alam yang sangat menarik. Dia kawinkan dengan kegemarannya berolahraga air terutama Stand Up Paddle (SUP). Lalu lahirnya DRR.

Akmal kelahiran Pulau Punjung, Sumatera Barat. Orang Padang dikenal sebagai salah satu suku perantau, yang punya naluri tinggi di bidang bisnis atau usaha.

Ada nama Aisyah Akmal di tim pengelola Deboekit. Kalau dilihat nama sepertinya ada hubungannya dengan Akmal Malik. Ada yang menyebut Aisyah adalah putri Akmal.

Sumber lain menyebutkan, Akmal juga punya lahan dan resort di pulau wisata Maratua, Kabupaten Berau. Maratua dikenal seperti “Maldive”-nya Indonesia. Sangat potensial bisa menarik para wisatawan dari mancanegara. Akmal pernah menggelar acara Maratua Run. Sukses dan ramai diikuti pelari dan wisawatan dari berbagai penjuru.

Banyak yang memuji Akmal punya perhatian besar memajukan Kaltim terutama dari industri pariwisatanya. Tapi ada juga yang sedikit mengkritisi dia. Baru sekitar satu setengah tahun tinggal di Kaltim, sudah punya aset dan investasi bernilai tidak kecil.

Ketika dia menjabat Pj Gubernur Kaltim, sempat juga tercium aroma tidak biasa. Mulai urusan mutasi dan rotasi, pencairan dana penyertaan modal Bankaltimtara sampai kerjasama dan dukungan kepada perguruan tinggi yang menganugerahkannya gelar guru besar.

FESTIVAL DAYUNG MANGGAR
Lokasi Deboekit di tepi Sungai Manggar, Jl Al Amin No 67, Balikpapan Timur. Berdiri di atas lahan seluas sekitar 2 hektare. Sangat alami apalagi dikelilingi hutan mangrove yang memesona. Di situ juga sering muncul bekantan (Nasalis larvatus), yang menjadi primata khas Kalimantan.

Menurut Direktur Deboekit Devi Indah Noviarini, DRR dikembangkan sebagai kawasan wisata terintegrasi yang memadukan fasilitas penginapan, aktivitas olahraga air, edukasi lingkungan serta pemberdayaan masyarakat lokal.

Tersedia 22 unit kamar yang terdiri dari tipe hotel dan vila dengan tarif antara Rp800 ribu hingga Rp3,5 juta. Lalu beragam fasilitas pendukung wisata alam dan olahraga air. Kita bisa main paddling, menyusur sungai, bergaya dengan jetski atau menikmati Sungai Manggar dan panorama matahari tenggelam dengan naik kapal wisata.

Para tamu atau wisatawan juga bisa menikmati suasana yang khas. Makan di restoran terapung, santai di kafe apung sampai menikmati spa apung. Ada 50 menu kuliner Nusantara yang menjadi pilihan, terutama menikmati ikan laut dan kepiting.

Di situ ada tambak yang bisa ditiru nelayan tambak lainnya. Akmal mengembangkan pengelolaan tambak dengan sistem silvofishery. Sistem ini menggabungkan budidaya perikanan dengan penanaman mangrove, sehingga pakan ikan berasal dari ekosistem alami tanpa menggunakan bahan kimia. “Ini langkah terobosan yang efektif,” katanya.

Launching DRR ditandai juga dengan digelarnya Festival Dayung Manggar. Kebetulan Akmal adalah Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Stand Up Paddle (SUP), olahraga dayung sambil berdiri yang semakin populer di Indonesia. Ada ratusan peserta dari berbagai negara ikut berlomba.

Selain lomba dayung, digelar juga Deboekit Trail Run 2025 dengan 500 peserta. Mereka menempuh jarak 5 kilometer. Berlangsung meriah dan amat menantang.

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud (RM) dan saudara kandungnya Gubernur Kaltim Haji Rudy Mas’ud (HARUM) memuji kehadiran Deboekit yang dinilai sangat menginspirasi dan memberikan kontribusi yang kuat untuk memajukan industri pariwisata dan pengelolaan lingkungan yang lestari.

Menurut HARUM, konsep wisata edukasi memiliki nilai ekonomi tambahan karena tidak hanya menarik kunjungan wisata, tetapi juga memberikan pengalaman belajar bagi masyarakat.
Dia juga memuji keberadaan ekosistem mangrove di sekitar Deboekit. “Mangrovenya masih terjaga dengan baik. Jika dimanfaatkan sebagai sarana edukasi lingkungan, maka DRR bisa berkembang tanpa merusak ekosistem,” jelasnya.

Wali Kota RM senang Akmal membangun Deboekit di Balikpapan. Karena memperkuat posisi Balikpapan sebagai kota wisata. Apalagi kota ini menjadi penyandang utama Ibu Kota Nusantara. Ada kabar, lahan Deboekit sebagian dukungan RM secara pribadi. Kebetulan lokasinya berdampingan dengan lahan milik RM.

Saya belum sempat masuk ke kawasan Deboekit. Sebelum dibuka 12 Desember 2025 lalu, saya sempat singgah di tempat pemancingan teman di samping Deboekit. Saya lihat Deboekit memang menarik. Minggu kemarin, ada satu keluarga pagi-pagi ke sana. Cuma saya kaget kok cepat pulang. “Panas,” katanya.(*)

Merawat Empati Jurnalisme di Tengah Gempuran AI

January 19, 2026 by  
Filed under Opini

Refleksi HPN 2026
Oleh: Dr. Bagus Sudarmanto, S.Sos., M.Si.

Perubahan dunia jurnalistik Indonesia datang bersamaan dengan krisis yang belum sepenuhnya pulih. Di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja, penutupan media lokal, dan melemahnya daya tawar redaksi, kecerdasan buatan (AI) hadir sebagai teknologi yang menjanjikan efisiensi sekaligus memicu kecemasan. Mesin AI kini tidak lagi sekadar membantu kerja jurnalistik, tetapi mulai ikut memproduksi berita dengan skala dan kecepatan yang sulit disaingi manusia.

Fenomena ini sejatinya bukan hal baru di tingkat global. Sejak awal 2010-an, kantor berita seperti Associated Press telah menggunakan sistem otomatis untuk menulis laporan keuangan dan olahraga berbasis data.

Matt Carlson (2015) menyebut praktik ini sebagai automated journalism, fase awal ketika algoritma mulai mengambil alih sebagian fungsi penulisan berita. Namun dalam konteks Indonesia jauh lebih kompleks. AI masuk ketika ekosistem media sedang rapuh secara ekonomi, tertekan secara politik, dan terdisrupsi oleh platform digital.

Krisis tersebut memiliki akar panjang. Runtuhnya model bisnis media cetak dan migrasi iklan ke platform digital membuat redaksi kehilangan posisi dominan sebagai penjaga gerbang informasi. Jay Rosen (2008) menandai runtuhnya gatekeeping tradisional, sementara Axel Bruns (2018) menggambarkan era gatewatching, ketika jurnalis lebih sering memantau dan mengikuti arus informasi yang telah dibentuk algoritma.

Dalam praktik media Indonesia, pergeseran ini tampak jelas di linimasa media sosial, tempat isu viral kerap lebih menentukan agenda pemberitaan dibandingkan pertimbangan editorial.

Masalahnya, algoritma tidak bekerja atas dasar kepentingan publik, melainkan atas dasar keterlibatan dan klik. Nick Davies (2008) sejak lama memperingatkan bahaya churnalism, yaitu jurnalisme instan yang miskin verifikasi akibat tekanan ekonomi redaksi. Dalam praktik media Indonesia, gejala ini muncul melalui berita salin-tempel, judul sensasional, dan produksi konten berbasis tren tanpa pendalaman.

Kehadiran AI berpotensi mempercepat pola tersebut—bukan selalu karena niat buruk, melainkan karena tuntutan kecepatan dan efisiensi.

Di sisi lain, AI juga menawarkan solusi pragmatis. Redaksi yang kekurangan sumber daya dapat memanfaatkan AI untuk analisis data, penelusuran dokumen, hingga peringkasan isu kompleks. Namun Nicholas Diakopoulos (2019) mengingatkan bahwa algoritma tidak pernah netral. Setiap sistem AI membawa bias dari data, desain, dan kepentingan yang membentuknya. Dalam konteks Indonesia, bias semacam ini menjadi berbahaya ketika bersinggungan dengan isu politik, identitas, dan konflik sosial.

Risiko lain yang kian nyata adalah disinformasi visual dan audio. Chesney dan Citron (2019) memperingatkan bahwa teknologi deepfake berpotensi meruntuhkan kepercayaan publik terhadap bukti digital. Dalam konteks Indonesia, dengan literasi media yang belum merata dan polarisasi politik yang kuat, manipulasi berbasis AI dapat memperdalam krisis kepercayaan terhadap media arus utama.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan jurnalisme Indonesia bukan sekadar soal adaptasi teknologi, melainkan soal orientasi dan bentuk praktik jurnalistik. Genre jurnalistik lama —sebutlah straight news, feature, maupun liputan seremonial — tidak lagi cukup untuk menghadapi banjir konten otomatis. Indonesia saat ini berada pada titik negosiasi yang krusial.

Karena itu, gagasan tentang genre baru yang tidak menyerahkan kerja jurnalistik kepada mesin, tetapi menempatkan AI sebagai alat bantu dalam jurnalisme data, investigasi, dan verifikasi mendalam. Lewis, Guzman, dan Schmidt (2019) menegaskan bahwa kolaborasi manusia dan mesin paling efektif ketika AI menangani pengolahan data, sementara jurnalis bertanggung jawab atas interpretasi, konteks, dan implikasi sosial berita.

Genre baru ini juga berarti menjadikan verifikasi sebagai identitas utama media. Lucas Graves dan Rasmus Kleis Nielsen (2016) menekankan bahwa jurnalisme verifikasi bukan sekadar teknik, melainkan posisi moral di tengah ekosistem informasi yang rapuh. Dalam situasi maraknya hoaks, manipulasi politik, dan konten AI generatif, verifikasi perlu diperlakukan sebagai produk jurnalistik itu sendiri.

Karena itu, jurnalisme Indonesia perlu kembali menegaskan sisi yang tidak dapat direplikasi mesin, yakni empati terhadap warga, keberpihakan pada kelompok rentan, dan keberanian mengawasi kekuasaan. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2014) mengingatkan bahwa loyalitas utama jurnalisme adalah kepada warga negara, bukan kepada teknologi, pasar, atau algoritma.

AI dapat menulis berita. Namun teknologi tersebut tidak memahami ketimpangan sosial, tidak merasakan dampak kebijakan publik, dan tidak memikul tanggung jawab etis. Jika jurnalisme Indonesia hanya mengejar efisiensi teknologi, praktik jurnalistik berisiko berubah menjadi pabrik konten yang hidup secara teknis, tetapi mati secara substantif.

Di titik inilah Hari Pers Nasional 2026 seharusnya mengambil peran lebih dari sekadar perayaan. HPN 2026 perlu menjadi momentum refleksi kolektif untuk merumuskan arah jurnalisme Indonesia di era kecerdasan buatan. Jika jurnalisme Indonesia mampu merumuskan genre baru yang sadar teknologi, kuat secara etika, dan peka terhadap konteks sosial, maka AI tidak akan menjadi ancaman eksistensial.

Sebaliknya, teknologi tersebut dapat menjadi alat untuk memperkuat fungsi jurnalisme sebagai ruang kritik, refleksi, dan pembentuk nalar publik di tengah demokrasi yang terus diuji.

Penulis adalah Dosen Kriminologi FISIP UI, Dewan Redaksi keadilan.id, dan Pengurus PWI Jaya

« Previous PageNext Page »

  • vb