Wartawan 60 Tahun ke Atas

April 20, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA nekad terbang ke Jakarta, Kamis (16/4). Padahal tiket susah terutama pulangnya. Saya menghadiri Deklarasi Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) atau SW60+, yang berlangsung di LSPR Communication & Business Institute Kampus Sudirman Park, Jumat (17/4) sore.

SW60+ itu nama lain dari SWSI. Maksudnya wartawan yang berusia 60 tahun ke atas. Itu semacam syarat kalau mau bergabung menjadi anggota SWSI. “Saya masih 13 tahun lagi baru bisa bergabung,” kata Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), yang hadir di acara tersebut.

Meutya dulu wartawan Metro TV.  Dia terkenal gara-gara disandera kelompok bersenjata di Irak ketika bertugas di sana Februari tahun 2005. Belakangan dia menjadi anggota DPR RI dari Fraksi Golkar. Sebelum diangkat menjadi Menteri, dia adalah Ketua Komisi I yang membidangi masalah komunikasi. “Kita siap bekerjasama dengan SWSI,” ujar Meutya memberi tawaran.

Di Kaltim, ada beberapa wartawan berusia 60+. Selain saya, ada Pak Alwy AS, Ibrahim Konong, Ibrahimsyah Rahman, Syafruddin Pernyata, Maman S  Putra, Sjarifuddin HS, Syafril Teha Noer, Eddy Alioeddin, Haris Samtah, Rusdiansyah Aras, Asran dan beberapa nama lagi.

Undangan untuk saya dikirim Bang Heddy Lugito, salah seorang pendiri SWSI lewat Mas Alfian, wartawan Balikpapan. Saya senang sekali. Soalnya bisa bertemu sejumlah wartawan senior yang hebat-hebat pengalamannya. Ketika datang saya barengan dengan Panda Nababan, wartawan Sinar Harapan dan Media Indonesia yang berusia 82 tahun. Dia peraih Penghargaan Jurnalistik Adinegoro di tahun 1976, yang kini aktif di Partai PDI Perjuangan.

Sayang bos saya, Pak Dahlan Iskan (DI) tidak datang. Dia berusia 74 tahun. Suhunya Majalah Tempo, Goenawan Mohamad (84) juga tak kelihatan. Keduanya punya pengalaman jurnalistik segudang dan sampai sekarang masih aktif menulis.

Sebelum berangkat saya ditugasi DI mewakili dia pada RUPS Kaltim Post Group di Balikpapan. Sekalian bernostalgia dengan teman-teman setelah puluhan tahun saya tak lagi di sana. Saya meninggalkan Kaltim Post setelah terpilih menjadi Wakil Wali Kota Balikpapan tahun 2006.

SWSI diketuai Wahyu Muryadi, mantan Pimred Majalah Tempo. Pernah menjadi Ketua Forum Pemred se Indonesia.  Di luar dunia wartawan, dia pernah jadi Komisaris PT Hutama Karya dan Kepala Protokol Instana Kepresidenan era Gus Dur. Wahyu juga populer ketika membawakan acara e-Talkshow di stasiun televisi  berita tvOne.

Sedang Sekum SWSI didaulat Budiman Tanurejo, mantan Pimred Kompas.  Sebagai Ketua Badan Pendiri adalah Suryopratomo, mantan Pimred Kompas dan Metro TV yang sempat menjadi Duta Besar Indonesia di Singapura.

Para pendiri lainnya di antaranya Karni Ilyas, Marah Sakti Siregar, Don Bosco Salamun, Ilham Bintang, Abdullah Alamudi, Banjar Chairuddin, Husein Abdullah, Kemal Gani, Rahmi Hidayat, Marthen Selamet dan Toto Irianto.

Saya duduk satu meja dengan sejumlah wartawan senior. Di antaranya Ilham Bintang, mantan Pimred Jawa Pos Arif Affandi, yang sempat menjadi Wakil Wali Kota Surabaya. Ada juga Erros Djarot, mantan Pimred Majalah Detik yang juga sutradara film serta Linda Jalil, mantan wartawati Tempo yang bertugas di Istana, Made Suarjana (mantan wartawan Tempo/Gatra) dan Abdul Aziz dari Majalah Detik.

Pada saat deklarasi, datang juga sejumlah sahabat dan pimpinan organisasi wartawan. Di antaranya Anies Baswedan, Susi Pudjiastuti (mantan Menteri Kelautan dan Perikanan), Saleh Husin (mantan Menteri Perindustrian), budayawan Sujiwo Tejo,  Bambang Soesatyo (Bamsoet), mantan Pimred Majalah Ekonomi Info Bisnis yang sekarang jadi anggota DPR serta Ahmad Kurnia, anggota DPR dari Fraksi Golkar.

Ada juga Ketua Dewan Pers Prof Komaruddin Hidayat, Ketua PWI Pusat Akhmad Munir, Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) M Qodari, dan beberapa tokoh lainnya.

TIDAK PERNAH MATI

Suryopratomo mengungkapkan mengapa SWSI lahir? Dia mengatakan, organisasi ini lahir dari keresahan wartawan senior yang merasa tidak lagi memiliki ruang untuk berkarya dan menyampaikan gagasan. Dari pertemuan kongkow-kongkow di Cikini, sampai akhirnya dideklarasikan.

“Hanya seminggu kita mengajukan permohonan ke Dirjen AHU Kementerian Hukum, langsung keluar izin badan hukumnya,” kata Wahyu Muryadi.

Cak Lontong yang diundang menghibur para wartawan senior memberikan tanggapan kocak. “Izinnya cepat keluar bukan apa-apa, tapi takut orang yang mengajukan sudah tiada,” katanya membuat gerr yang hadir.

Menurut Suryopratomo, SWSI adalah bagian dari panggilan hidup wartawan yang tidak pernah berhenti untuk berkarya. Itu sebabnya tagline yang diusung SWSI adalah “Never Sleep, Never Die.” Bahwa wartawan itu tidak pernah tidur dan tidak pernah mati dalam membuat karya jurnalistik.

Dia juga menegaskan bahwa SWSI tidak dibentuk sebagai oposisi pemerintah, melainkan sebagai mitra kritis yang konstruktif. “Kehadiran wartawan senior penting untuk menjaga akal sehat publik, terutama menuju visi Indonesia Emas 2045,” tandasnya.

Menteri Meutya Hafid menilai para wartawan senior sangat penting dalam menjaga kualitas informasi di tengah derasnya arus informasi digital. “SWSI juga dapat menjadi jembatan antar generasi wartawan,” tambahnya.

Soal wadah untuk wartawan senior, sebenarnya lebih dulu dirintis di Kaltim. Sudah dua tahun ini diadakan pertemuan bertema “Wartawan Legend.” Pertemuan pertama digelar di Balikpapan, menyusul kemudian di Bontang. Hanya forumnya bersifat silaturahmi tidak diformalkan seperti SWSI.

Selesai menghadiri deklarasi SWSI, saya langsung ke Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat Lion yang saya tumpangi berangkat jam 01.00 dinihari. Itupun harus transit 8 jam di Bandara Sultan Hasanuddin, Makasar. Sekitar pukul 15.00 Wita saya baru mendarat di Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan. Kali ini saya benar-benar menjadi wartawan yang tidak pernah tidur sehari semalam.(*)

Bambang Bela Gubernur Kaltim

April 19, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

AGUS, warga Telok Lerong bilang, kalau yang ngomong Sudarno dia mafhum saja. Tapi dia jadi heran dan hampir tak percaya karena ucapan itu keluar dari mulut Bambang Widjojanto (BW). Pegiat antikorupsi dan mantan Wakil Ketua KPK ini sekarang duduk sebagai anggota Dewan Penasihat Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) Kaltim dengan upah dari APBD sebesar Rp45 juta per bulan.

Bambang Wijojanto ketika memberikan pernyataan tentang Aksi 21 April.

Ucapan Bambang yang mengherankan itu berkaitan dengan rencana aksi demo 21 April yang dilakukan berbagai komponen masyarakat kepada Gubernur Kaltim Haji Rudy Mas’ud. Bambang memastikan mobilisasi massa yang dilaksanakan itu memang secara sengaja dikemas seola-olah aspirasi dari suara rakyat, padahal tidak.

Dia menyebut itu residu politik dari kontestasi 2024 yang belum selesai. Itu sebabnya dimunculkan isu-isu yang berkaitan dengan anggaran hingga fasilitas pejabat publik yang dijadikan tema untuk diangkat terus menerus oleh kelompok-kelompok yang secara sengaja ingin melakukan keonaran.

“Ini semua pola klasik ketika kalah di bilik suara maka pertarungan dipindahkan ke jalanan. Kebijakan dikritik tanpa henti tanpa melihat apa sesungguhnya yang secara substansif sedang terjadi, itu sebabnya masyarakat harus kritis siapa yang sesungguhnya diuntungkan dalam proses ini,” kata Bambang lagi.

Agus mempertanyakan apakah Bambang yang dikenal sebagai pejuang antikorupsi itu sudah berubah. Justru komentarnya itu yang dianggap klasik. Kalau ada seorang pejabat dikritisi lalu dituding ada lawannya yang tidak senang. Padahal sang pejabat sendiri yang berbuat olah, yang menyakiti hati nurani rakyat.

Ada komentar menarik dari Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman (Unmul), Herdiansyah  Hamzah yang dirilis kaltimtoday.co. Herdi mengkritik  sikap Tim Ahli Gubernur yang dinilai lebih sibuk menyerang metode aksi 21 April daripada menjawab substansi kritik publiknya.

Herdi yang akrab disapa Castro itu berpendapat, seharusnya Tim Ahli yang dibayar dari uang rakyat itu, memberikan kontra narasi berbasis data dan keahlian profesional, bukan justru bertindak sekadar sebagai corong pembelaan yang mengabaikan persoalan mendasar yang dikeluhkan masyarakat.

Ia juga menyayangkan narasi “gagal move on” dari Pilgub 2024 yang digunakan untuk mendeskreditkan Gerakan Aksi 21. Dalam demokrasi, kata Castro, siapapun termasuk pihak yang kalah dalam Pemilu, memiliki hak konstitusional  untuk menjadi oposisi guna mengawal jalannya pemerintahan berjalan baik dan efektif.

Banyak di media sosial menyerang pernyataan BW. Salah satunya dari akun @biedh. “Bambang Widjojanto Anda mantan petinggi KPK dan juga tergabung di dalam Tim Ahli Gubernur Kaltim. Kebodohan apalagi yang Anda pertontonkan saat ini. Anda digaji dari pajak kami masyarakat Kaltim, bukan untuk memancing opini publik dan membuat suasan semakin panas. Anda orangtua atau balita? Tim Ahli jangan berasumsi tapi berikan edukasi,” begitu pesannya.

SUDAH TERLALU HEBOH

Sementara itu, suasana di Pemprov Kaltim makin tidak baik-baik saja. Malah cenderung semakin penuh kehebohan. Sang gubernur,  HARUM makin “harum” namanya di jagad media sosial (medsos) se Indonesia.

Ulah dan kebijakannya atas nama “marwah” Kaltim menjadi boomerang yang memukul dirinya. Mulai soal mobil mewah Rp8,5 miliar, renovasi rumah jabatan Rp25 miliar, percepatan penggantian Dirut Bankaltimtara, gaya busana sang istri, makan di HARUM Resort sampai masalah nepotisme yang terkesan main seruduk.

Soal mobil, kata HARUM sudah selesai karena sudah dikembalikan kepada penjualnya. Tapi berbagai pihak bilang tak ada mekanisme seperti itu. Jadi ada kemungkinan tetap bermasalah. Lagi pula apa sudah Rp8,5  miliar yang masuk ke kas daerah. Soalnya ada pembayaran pajak sekitar Rp1 miliar yang lagi dilakukan restitusi.

Soal renovasi rumah, juga seru. Penjelasan Gubernur dan Sekdaprov Sri Wahyuni tak sinkron. Malah cenderung dua-duanya tidak benar terutama soal masa kosongnya rumah jabatan gubernur yang disebut Lamin Etam itu.

Menurut Gubernur, Lamin Etam tidak ditempati berpuluh tahun. Artinya di atas 10 tahun. Tak jelas dari mana menghitungnya. Tapi menurut Sri, lima tahun semasa Gubernur Isran Noor. Isran memang memilih tinggal di rumah pribadi.

Yang saya heran kok dua-duanya tidak menyinggung keberadaan Penjabat (Pj) Gubernur Akmal Malik.  Begitu masa bhakti Isran berakhir September 2023, Akmal yang dari Kemendagri datang dan langsung menempati rumah dinas gubernur setahun lebih. Tak mungkin tak ada perbaikan-perbaikan saat itu.

Jadi penjelasan Gubernur atau Sekda agak berlebihan. Dia bilang, lantainya bocor, toilet yang mampet, AC yang tidak menyala, tempat tidur yang sudah usang sampai sopa yang sobek.

Pengalaman saya ketika pindah ke rumah dinas wawali dan wali kota, memang Bagian Umum dan Rumah Tangga menanyakan kepada saya dan istri beberapa hal berkaitan dengan perabot rumah. Yang agak peka memang tempat tidur dan kamar mandi.  Umumnya minta diganti. Tapi waktu itu saya pilih kualitas biasa-biasa saja.

Soal tidak sinkronnya penjelasan Gubernur dan Sekdaprov bukan sekali. Soal mobil juga begitu. Sekda bilang Gubernur perlu mobil andal karena medan yang ditempuh di berbagai pelosok Kaltim sangat berat. Eh Gubernur HARUM bilang, mobilnya ditempatkan di Jakarta.

Saat ini Sri bukan penguasa utama di Kantor Gubernur. Karena di sana bercokol, Hijrah Mas’ud adik kandung gubernur. Apalagi dia sekarang memangku jabatan Wakil Ketua TAGUPP. Hijrah seperti pernah diucapkan Sudarno, sangat berkuasa di sana. Cawe-cawenya luar biasa.

Meski Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud (HAMAS) adalah kakak kandung HARUM, tapi saat ini hubungan Gubernur dengan Dewan tidak baik-baik saja. Hal ini dipicu dengan kebijakan Gubernur yang tidak mengakomodir sepenuhnya program Pokir yang diajukan anggota Dewan.

Undangan rapat kerja yang dialihkan Gubernur ke Jakarta tidak direspon sepenuhnya dari anggota Dewan. Banyak yang tidak mau hadir. Pertama, kecewa karena Pokir-nya tidak disetujui. Kedua, menghindari sorotan masyarakat. Di saat kemampuan APBD masih seret, kok tetap nekad rapat di luar daerah.

Hubungan tidak nyaman seperti bakal meluas. Ada kebijakan baru Gubernur yang bisa membuat pemerintah kabupaten/kota uring-uringan. Gubernur tahun ini kabarnya tidak memberikan bantuan keuangan (Bankeu). Jelas itu berdampak kepada kekuatan APBD kabupaten/kota.

Gubernur juga berseteru dengan Wali Kota Samarinda Andi Harun berkaitan dengan pengalihan 49 ribu lebih BPJS Gratis warga Samarinda. Yang membuat Andi Harun berang, pengalihan itu dilakukan di saat APBD sudah ditetapkan, sehingga bagaimungkin bisa mengakomodir kebijakan pengalihan itu.

Andi Harun makin kesal karena ada 2 orang di lingkaran Gubernur ikut berkomentar. Padahal dinilainya tidak mengerti apa yang dia risaukan. Yaitu komentar Sudarno dan Dirut RS Beriman Balikpapan, dr Ifransyah Fuadi, yang juga suami dari Hijrah Mas’ud. “Apaan mereka itu, ngga ngerti masalah ngomong. Mendingan diam,” kata Wali Kota.

Baru-baru ini ada kekegiatan yang dilaksanakan Kesbangpol Pemprov Kaltim. Kepalanya baru masih berstatus Pelaksana Tugas (Plt). Yaitu AFF Sembiring. Dia mengundang sejumlah ormas. Ada yang mencurigai itu pendekatan dengan maksud tertentu.

Yang lucu surat Sembiring ke Sekda bocor. Bahkan beredar di medsos.  Isinya minta snack dan dana transport untuk peserta. Snack-nya dipenuhi tapi uang transportasinya sebesar Rp100 ribu per orang gagal. Peserta kecewa, selain Gubernur tak hadir, juga kecele tak jadi dapat uang. Sembiring minta maaf dan mengaku masih belajar karena pejabat baru. Kasihan.(*)

Panji Jubir Presiden

April 13, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

INI perlu diketahui Gubernur Haji Rudy Mas’ud (HARUM). Ada putra daerah asal Balikpapan yang mengharumkan marwah Kaltim. Dia berhasil masuk ke lingkaran Istana Presiden. Dia adalah Ir Panji Sukma Nugraha, ST, MM, IPM, CP yang baru saja diangkat menjadi Tenaga Ahli Utama/Juru Bicara (Jubir) Kantor Staf Presiden (KSP) Republik Indonesia.

Panji Sukma Nugraha, anak Balikpapan yang masuk menjadi Jubir di Kantor Staf Presiden (KSP)

KSP adalah lembaga nonstruktural yang sangat bergengsi. Kedudukannya langsung di bawah dan bertanggungjawab  kepada Presiden. Saat ini Presiden Prabowo memberikan kepercayaan kepada Muhammad Qodari sebagai Kepala KSP.  Sebelumnya Qodari dikenal sebagai pengamat politik dan pendiri lembaga survei Indo Barometer (IB).

Kepala KSP adalah jabatan setingkat Menteri yang memimpin pelaksanaan tugas untuk memberikan dukungan kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam melaksanakan pengendalian program-program prioritas nasional, komunikasi politik dan pengelolaan isu strategis.

Saya sendiri baru tahu Panji masuk KSP setelah melihat postingan Rektor Unmul Prof Abdunnur. Dia mengucapkan selamat kepada Panji atas prestasi tersebut. Kebetulan Panji adalah alumnus S2 Magister Manajemen Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Mulawarman (FEB Unmul) Angkatan 2019.

Panji di rapat KSP

Rasanya ini baru pertama kali ada putra Kaltim mendapat kesempatan berkarier di lingkaran Istana. Pasti sudah teruji kapasitas dan integritasnya. Sebab tidak gampang menjadi Jubir Presiden. Punya pengetahuan dan wawasan yang luas serta mampu menangkap  dan menterjemahkan segala kebijakan Presiden dengan baik dan tepat.

Kantor KSP berlokasi di Gedung Bina Graha, Jl Veteran No 16, Jakarta Pusat. Gedung ini terletak di dalam kompleks Istana Kepresidenan. Di era Presiden Soeharto, gedung Bina Graha sangat populer. Karena di situ menjadi pusat kendali pemerintahan sehari-hari.

Panji lahir di Balikpapan, 24 Juni 1991. Berarti usianya baru 34 tahun. Dia anak kedua dari 5 saudara dari keluarga tak mampu. Dia tumbuh besar bersama neneknya.  Ayah sambungnya hanya tukang parkir dan nyambi sebagai tukang servis TV. “Makanya saya ke sekolah kejuruan dan kuliah di jurusan teknik elektro,” jelasnya.

Dia menempuh pendidikan mulai dasar sampai S1 di Balikpapan.  Setelah jadi murid SDN 011,  dia melanjutkan ke SMPN6. Lalu ke SMKN I. Dia hampir putus sekolah. Berkat mendapat beasiswa dari perusahaan, akhirnya bisa melanjutkan kuliah di jurusan Teknik Elektro Universitas Balikpapan (Uniba). Setelah lulus S1 Elektro, dia ke Samarinda menempuh program magister manajemen di FEB Unmul.

Teman-temannya mengakui Panji anak yang cerdas dan aktif berorganisasi. Dia selalu menjadi ketua kelas, anggota Pramuka dan  tim sepakbola sekolah, yang beberapa kali menjuarai turnamen. Gelar insinyur diraih Panji dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,54. Predikat yang sama dicapainya pada S2 dengan IPK 3,93. Nyaris sempurna.

Ketika kuliah, Panji pernah terpilih sebagai Ketua Himpunan Jurusan Teknik Elektro (HMTE). Lalu aktif di organisasi ekstra kampus. Dia pernah menjadi Bendahara Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Sebelumnya menjadi Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Kaltim-Kaltara.

Dalam dunia profesional, Panji pernah menjabat sebagai Manajer di PT SatNetCom, Direktur Generral Penta dan GM PT Aneka Hasil Bumi. Serta menjadi founder Nusantara Preneur ID.

Karena keaktifan dan kemampuannya multitalenta, Panji juga dipercaya menjadi Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia (PII) serta Wakil bendahara Umum Forum Organisasi Profesi Indonesia (FOPI).

Untuk meningkatkan kadar profesionalismenya, Panji banyak mengikuti pelatihan. Mulai pelatihan kepemimpinan, pelatihan IT & Telekomunikasi, pelatihan perencanaan proyek, pelatihan accountability, pelatihan safety sampai pelatihan peningkatan produktivitas.

PERNAH MENDEMO SAYA

Ketika saya hubungi kemarin, Panji lagi bertugas di Aceh. Saya dapat nomornya dari anggota DPR RI dapil Kaltim, Syafruddin, yang juga Ketua Partai Kebangkita Bangsa (PKB) Kaltim. Dia juga tokoh PMII Kaltim. Saya juga dibantu Alfian, sesama wartawan dan Ismail, Komisariat PMII Uniba.

Saya ucapkan selamat kepada Panji yang berhasil masuk di KSP. “Ya saya mulai aktif bulan ini,” jelasnya. Panji langsung ingat saya ketika masih menjadi Wali Kota Balikpapan. “Saya pernah ikut mendemo Bapak,” katanya mengenang.

Di sisi lain, Panji mengucapkan terima kasih kepada saya. “Saya berterima kasih sama Bapak karena saya di-support. Awal mula saya ke Jakarta dari Kongres PMII di Balikpapan, yang akhirnya saya masuk di jajaran pengurus pusat,” jelasnya.

Karena bertugas di Ibu Kota, terbuka berbagai jaringan yang memungkinkan Panji terus  berkarya hingga mendapatkan kepercayaan bergabung di KSP. “Perjuangan yang berdarah-darah,” katanya.

Dia mengikuti semua tahapan seleksi. Mulai pengiriman CV, tes tertulis, pembuatan video monolog, wawancara hingga simulasi debat. “Alhamudillah saya lulus dan mulai menjalankan tugas sejak 6 April 2026 berdasarkan SK yang ditandatangani oleh Kepala KSP, Pak Muhammad Qodari,” kata Panji.

Sebagai Tenaga Ahli Utama sekaligus Juru Bicara, kata Panji, dia bertugas mengawal isu-isu strategis dan program prioritas pemerintah serta memastikan  komunikasi kebijakan kepada public dapat tersampaikan secara utuh, berbasis data, dan mudah dipahami masyarakat.

Masuknya Panji di KSP seakan menjawab kegelisahan dirinya ketika menyambut pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Sepaku, Kaltim beberapa waktu lalu.

Panji pernah menulis artikel cukup menarik. Judulnya: “Menagih Janji Kejayaan Tanah Borneo  untuk Masa Depan Masyarakat Kaltim.”

Dia mengingatkan generasi muda di daerah ini agar menggenjot kualitas SDM-nya agar tidak menjadi penonton di tanahnya sendiri.

“Saya melihat bahwa daerah seperti Balikpapan dan kabupaten/kota di Kaltim memiliki potensi besar, namun belum sepenuhnya  menjadi panggung bagi putra daerah untuk tampil secara maksimal.

Karena itu, baginya, Jakarta bukan sekadar tempat merantau, tetapi ruang untuk menempa diri membangun kapasitas, memperluas jejaring, dan memahami cara  kerja kebijakan nasional.

Terus maju Panji. Karier dan prestasimu bisa jadi sebagai pembuka jalan atau penunjuk bukti bahwa putra daerah khususnya putra Kaltim mampu bersaing dengan putra-putra daerah lainnya.  Bukan seperti pemimpin kita di daerah ini yang memberi kesan mengesampingkan putra daerah sendiri. Tapi bicaranya seakan membela marwah Kaltim.(*)

Subuh Tanpa Bu Mei

April 10, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SUBUH tadi saya kirim pesan ke WA Bu Mei. Saya bilang waktu subuh sudah masuk. Saya lupa Bu Mei sudah tiada. Biasanya sekitar pukul 03.00 dinihari dia yang kirim pesan ke saya. “Selamat melaksanakan salat tahajud dan subuh,” begitu bunyi pesannya di HP saya setiap hari.

Semua orang tak percaya Bu Mei (Dr Hj Meiliana, SE, MM) meninggal dunia. Soalnya tak ada tanda-tanda. Sakit pun tidak. Dia ditemukan putrinya meninggal dalam posisi tidur sekitar pukul 18.00 Wita, Selasa (7/4). Beberapa saat kemudian kabar duka itu menyebar melalui media sosial dengan berbagai ucapan belasungkawa.

Wagub Seno Aji dan istri, serta Hadi Mulyadi melepas jenazah almh Bu Mei dari rumah duka menuju pemakaman

Pemakaman jenazah Bu Mei dilaksanakan di Nurussalam Memorial Park Tanah Merah Lempake, Rabu sore setelah putri sulungnya, Tya datang dari Kalteng. Tya lagi mengambil spesialis kandungan di Fakultas Kedokteran Unlam dan lagi bertugas di Palangkaraya.

Pelepasan jenazah dari rumah duka di Kompleks Karpotek, Sungai Kunjang, dilakukan oleh Wakil Gubernur Seno Aji. Hadir juga Wagub sebelumnya, Hadi Mulyadi. “Kita semua berduka atas kepergian Bunda Mei, dia telah berkarya banyak untuk Kaltim,” kata Seno.

Pertemuan Wagub terakhir dengan Bu Mei ketika mereka menghadiri pernikahan Karo Kesra Kantor Gubernur, Bu Dasmiah dengan Wakil Ketua DPRD Berau, pekan lalu. “Kami gawi pengantinnya dengan Pak Seno,” kata Bu Mei me-WA saya.

Hadi Mulyadi juga mengaku sangat kehilangan. Dia berteman baik. Sama-sama suka nyanyi. Uniknya, tanggal kelahiran Bu Mei dan Hadi sama. Yaitu 9 Mei. Hanya beda tahun. “Jadi kami saling mengucapkan,” kata Hadi mengenang.

Bu Mei meninggal dalam usia 66 tahun. Suaminya, Gusti Sahadsyah lebih dulu. Mereka meninggalkan dua putri, yaitu dr Restya Meisya dan dr Lydea Syahna. Restya atau Tya lagi mengambil spesialis kandungan di FK Unlam, Banjarmasin. Sedang adiknya mengambil spesialis kecantikan.

“Alhamdulillah setahun lagi Tya selesai spesialisnya zal. Mohon doanya lah,” kata Bu Mei kepada saya. Jika mereka sudah selesai semua, kata Bu Mei lagi, dia akan membuka klinik sendiri. “Ada rumah kosongku di Jl Berantas,” jelasnya.

Saya datang melayat ke rumah duka bersama Pak Zaenal dan Pak Unding dari Balikpapan. Kalau ke Samarinda kami sering dijamu makan di rumahnya. “Ayo makan di sini, aku yang masak. Ngga ada orang,” kata Bu Mei ramah.

Makanan yang dimasak Bu Mei enak-enak terutama sambal goreng ikan asinnya. Kadang dia kirim juga ke Pak Isran. Dia mengaku sejak dulu suka memasak. Padahal tugasnya di luar rumah sangat banyak. Bu Mei selain memimpin sejumlah organisasi, dia berkarier lebih 30 tahun di pemerintahan. Pernah di protokol, Bappeda, asisten sampai Pj Sekdaprov, Plt Wali Kota Samarinda sampai Plh Gubernur Kaltim.

Saya bilang kita kehilangan rumah singgah kalau ke Samarinda. Rumah Bu Mei di Karpotek dekat dengan Jembatan Mahakam dan Big Mall. Sangat strategis kalau kita dari Balikpapan.

AKMAL: DIA ORANG BAIK

Ketika datang ke rumah duka, saya bareng dengan tokoh senior Kaltim, H Harbiansyah Hanafiah dan mantan Wakil Wali Kota Samarinda, Rusmadi Wongso, yang sekarang duduk sebagai anggota Dewan Penasihat Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) Kaltim.

Rusmadi juga pernah menjadi Sekdaprov. Dia tak menyangka Bu Mei secepat ini berpulang. Masih sempat bertemu dalam acara halal bihalal yang dilaksanakakan Ketua Bappeda Kaltim, Muhaimin pekan lalu. “Tak ada tanda-tanda apa-apa,” katanya.

Harbian punya kenangan tersendiri di akhir hayat Bu Mei. Minggu lalu dia menghadiri pernikahan anak alm Dadang di Hotel Senyiur Samarinda. Tiba-tiba Bu Mei datang menghampiri dan minta foto bersama. Harbian bilang, fotonya kirim ke Ibram, merina Bu Mei. “Beritahu saya masih hidup,” ucapnya.

Tokoh pendiri klub sepakbola Putra Samarinda (Pusam) dan anggota MPR Utusan Daerah (1999-2004) ini mengaku kaget membaca tulisan saya: ”Bu Mei, Saya Menangis.” Dia tak mengira justru Bu Mei yang dipanggil Allah SWT lebih dulu. “Aku benar-benar tak menyangka,” ucapnya.

Berita Bu Mei meninggal saya kirim juga ke mantan Gubernur Isran Noor, Suwarna AF dan Akmal Malik. Ketiga orang itu menurut Bu Mei sangat memperhatikan dirinya. Dia lama bersama Suwarna dan Isran, yang banyak memberikan kesempatan kepada dirinya. “Saya bersaksi Bu Mei orang baik,” kata Akmal lewat WA.

Ratusan pelayat datang ke rumah duka. Sebagian para pejabat Pemprov Kaltim, sebagian lagi para alumni Fakultas Ekonomi & Bisnis (FEB) Unmul. Bu Mei pernah menjadi Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) FEB Unmul. Saat ini juga masih menjadi Wakil Ketua IKA Unmul mendampingi Pak Isran. “Bu Mei teman yang hebat,” kata Isran mengenang.

Dari jagad media sosial ada kiriman duka cita dari Gusti Maya Firanti Noor, mantan istri Ari Sigit. “Innalillahi Wa’innailaihi rojiun. Selamat jalan Kak Mei…semoga almarhumah Kak Mei husnul khatimah dan mendapatkan tempat terindah di sisi Allah SWT. Aamiin YRA,” ucapnya begitu.

Di antara ratusan karangan bunga duka cita yang dikirim ke rumah duka, ada satu karangan bunga cukup menarik. Datangnya dari Duta Besar Seychelles, Nico Barito. Itu sahabat Bu Mei. Dalam rangka percepatan pengembangan Maratua sebagai objek wisata dunia, Pemprov Kaltim bekerjasama dengan Seychelles, negara kepulauan di Samudera Hindia yang mengembangkan program Ekonomi Biru (Blue Economy).

Pak Isran dan Bu Mei sempat datang ke kota Seychelles. Pak Dubes juga sempat berkunjung ke Maratua. Mereka optimis Maratua bisa dikembangkan menjadi objek wisata laut dunia yang juga ikut mengembangkan program Ekonomi Biru.

Bu Mei dikenal sebagai orang yang ramah dan periang. Suka bercanda juga. Ada joke terakhir yang dikirimnya lewat WA ke saya. Cerita ibu berusia 53 tahun yang dilarikan ke rumah sakit karena mendapat serangan jantung.

Sang ibu kaget mlihat ada malikat yang datang. Lalu dia bertanya: Wahai Malaikat, apakah hidup saya sampai di sini? Malaikat menjawab: Anda masih punya waktu hidup 30 tahun, 3 bulan dan 21 hari lagi.”

Si ibu sangat gembira. Setelah membaik, di rumah sakit yang sama dia melakukan operasi wajah, suntik bibir, implant buah dada, pinggul, juga implant gigi dan rambut di semir hitam agar penampilan lebih muda, cantik dan menarik.

Keluar dari rumah sakit dia menyeberang jalan. Tak disangka muncul mobil berlari kencang yang menabraknya. Dia seketika mati. Tak lama datang malaikat yang sama. Si ibu protes: Wahai malaikat, kau bilang umurkan masih panjang kenapa tiba-tiba aku mati ditabrak? Sang malaikat sambil terbata-bata menjawab: Mohon maaf ibu, saya pangling karena wajah dan penampilan ibu sudah berubah.

Jadi pesan moralnya kata Bu Mei: “Kalau sudah tua jangan macam-macam. Malaikat saja jadi pangling alias tidak kenal.” Terima kasih Bu Mei atas segala pengabdianmu yang luar biasa. Kita semua mengenang dan selalu berdoa. “Insyaallah husnul khatimah dan diterima semua amal ibadahnya,” kata Prof Dr Hj Syarifah Hudayah, M.Si,  mantan Dekan FEB Unmul.(*)

Bu Mei, Saya Menangis

April 8, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA menangis dan berduka. Sahabat saya paling dekat saat ini, Dr Hj Meiliana, SE, MM yang akrab dipanggil Bu Mei dipanggil Allah SWT untuk selama-lamanya.

Kabar duka itu saya dapat dari putra sulung saya, Aldy, kemarin sore. Dia dihubungi Ari, yang istrinya keponakan Bu Mei. Tadinya saya tak percaya. Saya hubungi WA Bu Mei tapi tidak menjawab. Contreng satu. Lalu saya hubungi Dr Fitriadi dan Apri, sesama alumni. Tadinya mereka juga belum mendapat kabar. Tak lama baru beredar berita duka di WA Group.

“Innalillahi wa innailaihirojiun. Telah berpulang ke Rahmatullah Ibu Hj Meiliana binti H Muhammad Adnan Sabirin pada hari Selasa, tanggal 7 April 2026 pada pukul 18.00  Wita di rumah duka kompleks Karpotek Blok GG No 2 Karang Asam (depan Big Mall). Semoga amal ibadahnya di terima di sisi  Tuhan Yang Maha Esa, di lapangkan kuburnya, diterangkan kuburnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga senantiasa diberi ketabahan. Allahuma aamiin.”

Peluncuran Buku “Bu Mei untuk Kaltim.” Bu Mei saya apit bersama Sjarifuddin HS sebagai editor buku tersebut

Semua kaget, karena selama ini Bu Mei baik-baik saja. Kabarnya dia meninggal dunia di saat tidur. Ketika dibangunkan putrinya, dia sudah tak bernafas. Dalam istilah  kedokteran, orang yang meninggal dunia saat tidur disebut kematian nokturnal atau kematian mendadak saat tidur (Sudden Unexpected Death During Sleep atau disingkat SUDS). Konon penyebab pasti dari SADS belum dapat ditemukan hingga kini.

Dalam Islam, orang yang meninggal waktu tidur disebut meninggal dalam keadaan fitrah. Banyak ulama dan masyarakat menganggap sebagai tanda husnul khatimah, apalagi jika menjelang tidur dia sempat berdoa, salat dan berzikir.

Bu Mei meninggal dunia dalam usia 66 tahun. Dia dilahirkan di Samarinda, 9 Mei 1959. Lebih muda setahun dari saya. Ayah ibunya, pasangan H Muhammad Adnan Sabirin dan Hj Lasiah juga sudah tiada. Sabirin pernah menjadi Kepala Cabang   Bank Kalimantan di Tarakan dan  Kota Baru, Kalsel. Sedang ibunya aktif di Aisiyah, Muhammadiyah dan pernah memimpin  Rumah Sakit  Ibu dan Anak Aisiyah Samarinda.

Buah perkawinannya dengan Gusti Sahadsyah, mereka dikarunia dua putri. Kedua putrinya,  sama-sama  lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman (Unmul). Yakni dr Restya Meisya dan dr Lydea Syahna. Sekarang lagi mengambil keahlian di Unlam Banjarmasin. “Kita mau buka klinik di rumahku di Jl Brantas,” kata Bu Mei beberapa waktu lalu.

Suami Bu Mei juga sudah berpulang. Karena itu rencananya Rabu sore ini, jenazahnya di makamkan di Nurusallam Memorial Park Tanah Merah Lempake. Berdekatan dengan makam kedua orang tua dan sang suami tercinta.

Hampir tiap hari saya selalau berkomunikasi dengan Bu Mei lewat WA. Hampir tak pernah absen tiap subuh dia membangunkan saya untuk salat tahajud dan subuh. Setiap kegiatannya tiap hari selalu diberitahu kepada saya.

Sekali-kali dia mengirimkan makanan kepada saya dan cucu saya Defa dan Dafin. Dia titip lewat mobil travel ke Balikpapan. Terkadang kolak pisang, lempeng, terkadang sambal goreng ikan asin dan apa saja. “Jangan lupa bagi ke Defa dan Dafin,” katanya mengingatkan.

Saya sempat membuatkan buku berjudul “Bu Mei untuk Kaltim.” Dia senang sekali. Buku itu menceritakan perjalanan hidup dan kariernya. Dari sekolah, kuliah di FEB Unmul sampai menjadi PNS. Lalu kariernya berkembang sampai menjadi pejabat tinggi di daerah.

Hampir 9 tahun dia berkarier di Lembaga Administrasi Negara (LAN) Samarinda. Mulai menjadi Sekretaris Badan Diklat sampai menduduki jabatan Kepala Pusat Kajian dan Pelatihan dan Pendidikan Aparatur III.

Selanjutnya meneruskan karier di Pemprov Kaltim. Pernah bertugas di Protokol,  menjadi Asisten sampai Pj Sekdaprov. Pernah juga menjadi Plt Wali Kota Samarinda. Bahkan pernah menjadi Plh Gubernur Kaltim, meski hanya dua hari.

TEMAN JAKSA AGUNG

Bu Mei itu punya teman banyak termasuk Jaksa Agung sekarang, ST Burhanuddin. Ketika Jaksa Agung berkunjung ke Kaltim sebelum Ramadan lalu, Bu Mei diundang bertemu. “Alhamdulillah beliau masih ingat dengan teman-teman. Jangan bilang-bilang, saya dapat THR dari Jaksa Agung,” kata Bu Mei kepada saya tersenyum bangga.

Bu Mei mengenal Burhanuddin sebelum dia menjadi Jaksa Agung.  Waktu itu jabatannya masih Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh. Mereka sama-sama mengikuti  Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim) I atau Spati. “Jadi kami sangat akrab,” kenangnya.

Uniknya, hobi mereka sama. Yaitu sama-sama suka nyanyi. Bu Mei mengaku kalau tidak nyanyi sakit kepalanya. Di mana saja dia nyanyi. Apalagi di acara pernikahan. Dulu pas betul dengan Gubernur Awang Faroek dan Wakil Gubernur Hadi Mulyadi. Nyanyinya satu album.  Lagu kebangsaan Bu Mei berjudul “Bento” yang dinyanyikan Iwan Fals.

Selain hobi nyanyi, Bu Mei dikenal sebagai tokoh wanita super aktif. Seusai purna tugas, dia tetap aktif di berbagai organisasi dan lembaga. Pernah menjadi Ketua tim Pelaksana Percepatan Kerjasama Pengembangan Strategis Kepariwisataan Kepulauan Maratua serta Komisaris Utama (Komut) PT Jamkrida Kaltim.

Dia juga didaulat menjadi Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kaltim dan Ketua Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI) Kaltim. Bu Mei juga menjadi Pembina Pengurus Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik (PAPPRI) Kaltim. Juga menjadi Ketua Umum Pemberdayaan Perempuan UMKM Indonesia (PPUMI) Kaltim. Serta Ketua Umum Lembaga Koordinasi  Kesejahteraan Sosial (LK2S) dan Pembina  Srikandi Pemuda Pancasila (PP) Kaltim.

Sebagai alumnus FEB Unmul, Bu Mei sempat menjadi Ketua Ikatan Alumni (IKA) FEB. Selanjutnya saya diminta menggantikan. Lalu dia masih menjadi pengurus IKA Unmul, di mana ketuanya adalah mantan Gubernur Isran Noor. Dia satu angkatan di SMA bersama Isran. Karena itu mereka sangat akrab berteman.

Bu Mei juga laris menjadi nara sumber (Narsum) baik di kegiatan pemerintahan maupun di berbagai even swasta.  “Hampir tiap minggu aku jadi Narsum. Tapi aku senang bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan,” ucapnya bahagia.

“Hidup dan bekerja itu harus tulus dan ikhlas. Upayakan selalu berbuat baik dan menjauhkan diri dari perilaku zalim.” Itu pesan kedua orangtuanya dan sangat diamalkan Bu Mei.

Selamat jalan saudaraku tercinta, Bu Mei yang baik dan super aktif. Selamat bertemu dengan suami dan kedua orang tua di alam barzah. Insyaallah husnul khatimah. Amin Ya Rabbal alamin.(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1716365
    Users Today : 3520
    Users Yesterday : 4532
    This Year : 652875
    Total Users : 1716365
    Total views : 14539203
    Who's Online : 53
    Your IP Address : 216.73.216.235
    Server Time : 2026-04-27