Tahun Baru ke Kotabaru

January 6, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

TAHUN baru ke Kotabaru. Itu yang saya lakukan di penghujung tahun 2025 dan menyambut tahun baru 2026. Kotabaru yang saya maksud adalah kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), yang dikenal dengan wisata alamnya yang eksotik.

Nama Kotabaru memang banyak. Selain di Kalsel, ada juga nama Kota Baru Parahyangan. Ini kota mandiri di Bandung dengan konsep garden city dan budaya Sunda.  Ada juga Kecamatan Kotabaru di Karawang yang berbatasan dengan Purwakarta.  Atau Kelurahan Kotabaru di Bekasi.

SJA mengajak kita wisata di Puncak Meranti

Saya datang ke Kotabaru bersama Pak Ali Noer dan Pak Zen. Teman akrab. Kami memenuhi ajakan Pak Sayed Jafar Alaydrus (SJA), mantan bupati Kotabaru dua periode (2016-2025), yang sekarang dipercaya menjadi ketua DPD Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Kalsel.

Meski lahir di Kotabaru, SJA juga saya anggap orang Balikpapan. Dia tinggal di Kampung Baru, Balikpapan Barat. Usahanya juga dirintis di Balikpapan. Minyak, SPBU, kapal penyeberangan (feri), galangan kapal dan lainnya. Malah dia sempat terpilih jadi Wakil Ketua Kadin dan Hiswana Migas. Nasabah premium Bankaltimtara. Jadi kesannya dia punya “dua kewarganegaraan.” Ya orang Kotabaru, ya juga orang Kampung Baru.

Kata saya, jika nanti ada pemekaran provinsi baru gabungan kabupaten/kota dari Kalsel dan Kaltim, maka pantas SJA jadi gubernurnya. Soalnya ada terdengar wacana pembentukan Provinsi Kalimantan Tenggara (Kalgara). Bisa jadi gabungan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Paser dari Kaltim, dengan Kotabaru, Tabalong dan Barito Utara dari Kalsel.  Bisa juga tambah Kutai Barat (Kubar) dari Kaltim atau Batulicin, Tanah Bumbu dari Kalsel.

Sejak kecil saya ingat ada lagu terkenal dengan baitnya “Kotabaru Gunungnya Bamega.” Judul lagunya “Paris Barantai.” Karya seniman orang Banjar H Anang Ardiansyah. Menggambarkan keindahan alam Kotabaru, khususnya Gunung Sebatung yang selalu diselimuti awan atau mega serta tentang kerinduan pada kampung halaman.

Meski sudah lama mengenal lagunya, terus terang saya baru dua kali ke sana. Maklum terbilang jauh. Jarak Balikpapan ke Kotabaru 348 km. Ditempuh lewat darat sekitar 8 sampai 9 jam. Lalu menyeberang dengan kapal feri milik SJA sekitar 30 menit.

Dari Kotabaru ke Banjarmasin juga masih jauh. Ditempuh 6 jam dengan jarak 261 km. Lewat Kandangan dan Batulicin. Sedang dari Kotabaru ke Banjarbaru, ibu kota Kalsel yang baru ditempuh 5 jam dengan jarak 229 km.

Kemarin saya ke Kotabaru lewat jalan tol Ibu Kota Nusantara (IKN). Jalan tol itu dibuka khusus untuk menyambut tahun baru. Jadi langsung padat. Seperti tol di Jakarta. Ada yang mau berlibur ke IKN, ada juga yang mau ke Kalsel. Kebetulan di Martapura lagi digelar hajatan Haul Guru Ijai atau Guru Sekumpul yang dihadiri jutaan jamaah termasuk dari Kaltim.

Zaman dulu Kotabaru pernah dipinjam Raja Gowa sebagai tempat berdagang. Itu sebabnya penduduk Kotabaru sebagian berdarah Sulawesi. Jadi di Kotabaru selain dihuni orang Banjar, banyak juga orang Bugisnya. Tak heran kalau coto makassar dan makanan Bugis lainnya banyak di Kotabaru.

Luas wilayah Kotabaru 9.442,46 km2 dengan penduduk sekitar 350 ribu jiwa. Sebagian memiliki mata pencaharian sebagai nelayan laut. Banyak ikan yang dijual di Balikpapan berasal dari  Kotabaru. Sekarang banyak juga warga Kotabaru jadi petani sawit.

Kotabaru agak beda dengan kabupaten lainnya di Kalsel. Karena letaknya di pulau. Makanya disebut Pulau Laut. Bayangkan Kabupaten Kotabaru memiliki 110 pulau. Betapa menantangnya jadi bupati di sini. Di kabupaten ini ada kota gaib modern yang diberi nama Kota Saranjana. Katanya dihuni bangsa jin. Ada filmnya. Apa benar ceritanya? Wallahualam.

LIHAT “APARTEMEN KEPITING”

Meski bukan bupati lagi, Sayed Jafar sangat dicintai warga dan mantan stafnya di pemerintahan. Dia sudah beberapa bulan meninggalkan Kotabaru, karena itu kehadirannya menjelang pergantian tahun disambut begitu ramai dan hangat.

Ada mantan camat jauh-jauh datang hanya untuk membawakan sebotol madu asli. Ada ustaz atau guru yang sangat memujinya.  “Rasanya hanya beliau (SJA) dari semua bupati Kotabaru yang berani datang ke semua wilayah Kotabaru,” kata guru Rapiansyah.

Menurut Alinoer, SJA selain kuat fisiknya, juga punya nyali besar. Tak ada pelosok di Kotabaru yang tidak dikunjunginya. Tak bisa naik mobil, dia naik motor. Juga naik kapal atau speedboat. “Saya pernah naik speedboat malam hari tak ada lampunya. Pak Bupati tenang saja. Malah dia yang mengemudi,” ujar Alinoer.

Banyak terobosan pembangunan yang dilakukan SJA terutama untuk menjadikan Kotabaru benar-benar jadi kota wisata. Ada Pantai Gedambaan, Siring Laut, Bukit Mamake Sarang Tiung, Wisata Puncak Meranti sampai pengembangan olahraga paralayang dan motocross kelas dunia. Dia sempat merancang lapangan golf, sayang belum terwujud. Itu juga salah satu hobinya.

Dalam acara menyambut tahun baru 2026, SJA memboyong pengurus dan kader Hanura dari Banjarmasin. Ada 80-an orang. Mereka menikmati alam Kotabaru. Ada yang diajak main jetski, salah satu olahraga kesukaan SJA. “Kita optimis Hanura Kalsel pada Pemilu 2029 nanti berjaya di Tanah Banjar,” kata Sekretaris DPD Hanura Kalsel, Hj Syarifah Santiyansyah, SH, M.Si, yang juga adik kandung SJA.

Sebelum pulang ke Balikpapan, persis 1 Januari 2026, kami sempat diajak Pak Sayed melihat tambak kepiting milik Pak Haji Kaspul. Kepitingnya ada yang dipelihara di tambak, ada juga yang dipelihara di dalam bangunan. “Ini namanya apartemen kepiting,” kata Haji Kaspul tersenyum.

Dia memelihara dan membesarkan kepiting bakau. Awalnya dia beli anakan atau kepiting muda hasil tangkapan nelayan. Lalu dia masukkan dalam jerikuen putih ukuran 20 liter yang ditumpuk-tumpuk seperti apartemen. Tiap jeriken berhubungan dengan jeriken lain dengan pipa air. Tiap satu jeriken, diisi satu kepiting. Tidak bisa dua atau lebih karena akan berkelahi.

Menurut Kaspul, kepiting itu harus bersih dan lengkap capitnya. Kalau ada satu capitnya patah, maka sudah tidak berharga lagi. Padahal harga satu kepiting itu antara seratus sampai 200 ribu rupiah. Harga satu kilonya sekitar Rp350 ribu. Satu kilo itu kira-kira isinya hanya 2 kepiting.

Mendekati Imlek, pemeliharaan kepiting semakin diintensifkan. Karena harganya naik sampai dua kali lipat. Bayangkan 1 kilo kepiting mencapai Rp500 sampai Rp600 ribu. Apalagi yang bertelur. Apa tidak hoki alias cuan?

Selesai melihat tambak, kami diajak pesta kepiting yang disiapkan istri H Kaspul, Hj Andi Kurnia. Dulu dia anggota DPRD Kotabaru dari PPP. Sekarang menjadi kader Hanura. Kami disuguhi hidangan masakan kepiting dengan segala rasa. Ada yang cuma direbus saja, ada yang dimasak santan, dan ada juga dimasak asam manis. Terakhir ditutup dengan hidangan coto Makassar dan cendol. Lengkap sudah kolesterolnya.

SJA tak mungkin lagi jadi bupati Kotabaru. Saya dengar dia menyiapkan putranya, Sayed Sultan Yasin Alaydrus yang  didorong meneruskan garis politiknya di kota ini. Dia juga kader Hanura dan sering tampil di tengah masyarakat. Sangat bersahaja dan potensial.

SJA sendiri juga punya banyak rencana. Mungkin 2029 nanti, dia mencalonkan diri menjadi  anggota DPR RI atau bisa jadi ikut Pilgub. Selain terus mengembangkan usahanya di Kalsel dan Kaltim. “Kita harus terus maju memperjuangkan hati nurani rakyat,” katanya bersemangat.(*)

Menguji Nyali Demokrasi di Bawah Bayang KUHP Baru

January 5, 2026 by  
Filed under Opini

Oleh: Bagus Sudarmanto

Tahun 2026 menjadi titik nadir sekaligus ujian sesungguhnya bagi jurnalisme Indonesia. Setelah melewati krisis ekonomi dan disrupsi teknologi sepanjang 2025, kini pers dihadapkan pada pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru yang membawa sederet pasal problematik.Di tengah peringkat kebebasan pers yang merosot ke posisi 127 dunia, ancaman nyata bukan lagi sekadar kekerasan fisik, melainkan ketidakpastian hukum yang berpotensi melahirkan chilling effect atau efek gentar bagi para pemburu berita.

Bagus Sudarmanto

Kehadiran pasal-pasal terkait penghinaan kekuasaan, ketertiban umum, dan moralitas dalam KUHP baru dipandang sebagai “mekanisme pembatas wacana”.

Bagi jurnalis, pilihannya menjadi sangat pahit: tetap kritis dengan risiko proses pidana yang melelahkan, atau memilih diam demi keamanan.

Situasi ini diperparah dengan kondisi internal redaksi yang rapuh akibat efisiensi ekonomi dan perampingan karyawan. Saat independensi redaksi melemah, hukum pidana yang multitafsir kian mempersempit ruang gerak jurnalisme sebagai pengawas kekuasaan.

Di sisi lain, teknologi kecerdasan buatan (AI) hadir dengan wajah ganda. Ia menawarkan efisiensi, namun tanpa transparansi etika, AI justru bisa mempercepat runtuhnya kepercayaan publik. Padahal, kepercayaan adalah satu-satunya modal yang tersisa bagi pers untuk bertahan.

Berkaca pada negara dengan tradisi kebebasan pers kuat seperti Norwegia atau Belanda, jaminan hukum yang tegas tetap menjadi fondasi utama, bahkan ketika industri media dihantam badai ekonomi.

Menjelang Hari Pers Nasional 2026, jurnalisme Indonesia memerlukan arah yang jelas. Ada tiga agenda mendesak: perlindungan hukum terhadap kerja jurnalistik yang sah, keberanian redaksional untuk tetap berpihak pada kepentingan publik, dan penerapan etika teknologi yang bertanggung jawab.

Jurnalisme tidak akan mati karena penutupan redaksi; jurnalisme hanya akan mati ketika keberanian untuk menyuarakan kebenaran berhenti.

Pada akhirnya, 2026 adalah tahun penentuan apakah pers kita akan tetap menjadi penopang akal sehat publik atau tunduk pada ketakutan.

Menjemput Takdir Tiga Besar di PON 2028

January 5, 2026 by  
Filed under Opini

​Oleh: Rusdiansyah Aras
(Ketua Umum KONI Kalimantan Timur)

​Olahraga bukan sekadar urusan menang atau kalah di arena. Bagi kita di Kalimantan Timur, olahraga adalah martabat, harga diri, dan simbol kekuatan “Benua Etam” di kancah nasional. Hari ini, kita tidak lagi bicara tentang sekadar berpartisipasi. Kita bicara tentang sebuah visi besar yang telah kita pancangkan bersama di Rakerprov KONI Kaltim 2026, Sabtu 3 Januari lalu : Kaltim Menuju Tiga Besar pada PON XXII 2028 di NTB-NTT.

Rusdiansyah Aras

​Target ini mungkin terdengar ambisius bagi sebagian orang, namun bagi saya dan seluruh insan olahraga Kaltim, ini adalah target yang realistis jika kita mampu menjaga ritme dalam satu komando yang solid.

​Peta Jalan (Road Map) Menuju Emas
​Keberhasilan tidak turun dari langit secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari keringat yang diperas melalui perencanaan yang matang. Kami di KONI Kaltim telah menyusun Blue Print (Cetak Biru) prestasi yang terukur. Masa depan olahraga prestasi Kaltim kini benar-benar berada di tangan kita sendiri, dan persiapannya tidak dimulai besok, melainkan sudah dimulai dari sekarang.

​Tahapan strategis yang telah kita susun meliputi:
​Fase Seleksi Daerah (BK Porprov): Ini adalah pintu pertama. Kita menyaring intan-intan mentah dari seluruh kabupaten/kota melalui Pra-Porprov atau BK Porprov. Kita ingin memastikan bahwa mereka yang terpilih adalah yang terbaik di kelasnya.

​Porprov 2026: Ajang pembuktian hasil pembinaan daerah. Di sini, kita akan melihat potret utuh kekuatan kontingen Kaltim sebelum melangkah ke level nasional.
​BK PON 2027 (Pra-PON): Ini adalah filter terakhir dan tersulit. Fokus kita di tahun 2027 adalah meloloskan atlet sebanyak mungkin dengan kualitas “Grade A”. Target kita jelas: meraih tiket PON dengan status unggulan agar jalan menuju emas di 2028 semakin terbuka lebar.

​Puncak Prestasi: PON XXII 2028: Muara dari seluruh perjuangan kita. Target tiga besar nasional adalah harga mati yang akan kita perjuangkan dengan semangat pantang menyerah.
​Sport Science dan Soliditas

​Dunia olahraga hari ini sudah sangat modern. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan bakat alam. Itulah mengapa dalam road map menuju 2028, saya menekankan penguatan Sport Science. Pola latihan, nutrisi, hingga pemulihan atlet harus berbasis data dan ilmu pengetahuan agar performa mereka mencapai puncak (peak performance) tepat saat lonceng pertandingan PON 2028 berbunyi.
​Namun, teknologi dan anggaran hanyalah pendukung. Kunci utamanya adalah Soliditas. Saya sering mengibaratkan KONI sebagai sebuah kapal besar. Di tengah terpaan ombak dinamika olahraga nasional, kapal ini harus tetap kokoh. Seluruh “Anak Buah Kapal”—mulai dari pengurus, pelatih, hingga atlet—harus berada dalam satu komando.

Masa Depan di Tangan Kita
​Saya ingin meninggalkan sebuah legacy (warisan) yang kuat bagi kepengurusan berikutnya. Bahwa pondasi menuju tiga besar sudah kita bangun. Transisi kepemimpinan yang akan datang harus berjalan soft landing, tanpa turbulensi, agar program pembinaan tidak terputus.

​Dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Kaltim, di bawah kepemimpinan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur, Seno Aji serta sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, menjadi energi tambahan bagi kita. Dengan anggaran yang efektif dan semangat juang yang tinggi, saya optimis Kaltim akan kembali menjadi kiblat olahraga di luar Pulau Jawa.

​Mari kita rapatkan barisan. Masa depan emas olahraga Kaltim bukan milik siapa-siapa, tapi milik kita yang berani bermimpi besar dan bekerja keras untuk mewujudkannya.
​Kaltim Juara! Satu Komando! (rd)

Bukan Hanya Manusia yang Menari

January 4, 2026 by  
Filed under Opini

Oleh: Jaya Suprana

Dari kata benda tari lahirlah kata kerja menari, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai sebagai gerak tubuh berirama, sering kali diiringi bunyi-bunyian. Pada hakikatnya, manusia mampu menari karena memiliki kecerdasan mengolah gerak tubuh agar selaras dengan irama pengiringnya.

Seni tari memang diciptakan oleh manusia. Namun, bukan berarti ia menjadi monopoli manusia semata. Di alam, cukup banyak makhluk hidup yang memperlihatkan perilaku menyerupai tarian gerak-gerak ritmis yang memiliki fungsi tertentu, terutama dalam komunikasi dan reproduksi.

Burung cenderawasih, misalnya. Burung jantan dari keluarga Paradisaeidae ini berkumpul di area tertentu dan menampilkan pertunjukan yang memukau: melompat, memutar tubuh, mengayunkan sayap, serta memamerkan bulu hiasnya. Gerakan tersebut menyerupai tarian ritual untuk menarik perhatian betina dalam proses seleksi seksual.

Hal serupa terlihat pada burung merak (Pavo cristatus). Sang jantan mengembangkan ekor panjangnya, menggoyangkannya, dan berputar di hadapan betina. Ritual kawin ini menjadi ajang pamer kejantanan, kesehatan, dan kualitas genetik.

Burung manakin (Pipridae) bahkan dikenal melakukan tarian kelompok di atas cabang pohon. Mereka melompat, berputar, dan menghasilkan bunyi “snap” dari sayapnya. Tarian ini berfungsi untuk menarik pasangan sekaligus mempertahankan wilayah.

Di laut, lumba-lumba memperlihatkan perilaku serupa. Mereka berenang melengkung, melompat tinggi, dan bermain di permukaan air, terutama saat musim kawin atau dalam interaksi sosial. Gerakan tersebut memperkuat ikatan sosial sekaligus menunjukkan vitalitas.

Beruang kutub pun tak ketinggalan. Pada musim kawin, jantan kerap melakukan gerakan menyerupai tarian di atas es, berputar, mengangkat kaki, dan mengayunkan tubuh, sebagai bentuk pamer dominasi kepada betina.

Kuda liar, seperti kuda Przewalski, juga mengekspresikan gerak ritmis melalui lari kencang dan angkatan kaki yang teratur. Gerakan ini menjadi simbol kekuatan dan kesiapan reproduksi. Bahkan serangga, seperti beberapa jenis lalat, melakukan “tarian udara” sebelum kawin, sering kali sambil membawa hadiah bagi betina.

Di bawah laut, kura-kura laut jantan berputar dan menggoyangkan cangkangnya untuk menarik perhatian pasangan. Lebah madu pun terkenal memiliki “bahasa tari” sebagai sistem komunikasi untuk memberi tahu sesamanya tentang sumber makanan.

Kesimpulannya, ketika satwa tampak “menari”, bukan berarti mereka memahami musik atau irama seperti manusia. Gerakan tersebut bersifat naluriah dan fungsional, dipicu oleh hormon, kebutuhan komunikasi, reproduksi, dan seleksi alam. Istilah menari kita gunakan secara antropomorfik untuk memudahkan pemahaman.

Alam, pada hakikatnya, telah menyediakan tarian unik bagi setiap makhluk hidup. Bahkan dalam dunia fiksi, seperti film Guardians of the Galaxy, sebatang kayu bernama Groot digambarkan gemar menari—terutama ketika manusia tidak melihatnya. Meminjam lirik Ebiet G. Ade, rumput pun bisa bergoyang seperti menari ketika ditiup angin sepoi-sepoi.

Karena sesungguhnya, menari adalah bahasa semesta, bahasa kehidupan itu sendiri.

Menikmati Puisi Kritis “Tetaplah Bodoh”

January 3, 2026 by  
Filed under Opini

Oleh: Marah Sakti Siregar

DULU, waktu masih duduk di kelas 4 SD, aku suka baca buku silat bersambung karya Kho Ping Hoo. Salah satunya berjudul: “Pendekar Bodoh”.

Sekarang saya suka sekali puisi “Tetaplah Bodoh,” karya Fathul Wahid, yang dibacakan secara berantai oleh Bung Firdaus, Ketua Umum SMSI dan kawan-kawan SMSI pada acara tutup tahun yang mereka gelar pada tanggal 31 Desember 2025 lalu.

Marah Sakti Siregar

“Tetaplah Bodoh” adalah puisi kritis terbaru Prof Fathul Wahid, rektor UII, Yogyakarya. Rektor ini memang kerap menulis puisi bertema ktitik sosial. Sebelumya, dia pernah menulis puisi sejenis yang menyuarakan penolakannya terhadap RUU TNI. Judulnya: ” Kami Malu Pak Dirman.”

Dalam ” Tetaplah Bodoh”, Prof Fathul secara tajam menyindir  pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terutama berkaitan dengan penanganan bencana banjir di Sumatera.

Sepenangkapanku– karena aku bukan pengamat puisi– pesan utama puisi itu adalah ajakan untuk kita agar tidak tetap bodoh. Tapi bangkit dari kebodohan yang ditanamkan. Yakni, semacam pembodohan yg dilakukan oleh penguasa, melalui media –via buzzer dan influencer bayaran– atau sistem pendidikan yg gonta-ganti terus.

Prof Fathul dengan berani, lewat puisinya menyerukan kita untuk tetap kritis, berani bersuara, dan melawan ketidakadilan.

Puisi ini bertema kritik sosial-politik melalui sarkasme terhadap “kepintaran” palsu. Fathul Wahid menggunakan kata “bodoh” secara ironis. Bukan ajakan untuk benar-benar bodoh. Tapi sindiran bahwa “pintar” di negeri ini sering berarti setuju dengan manipulasi fakta, korupsi, dan ketidakadilan.

Tema-tema spesifik yang disebutnya dalam “Tetaplah Bodoh”, meliputi ihwal

kerusakan ingkungan dan eksploitasi alam/hutan.

Misalnya, kritik terhadap deforestasi dan konversi hutan menjadi perkebunan sawit. Dia menyindir pernyataan Presiden Prabowo dan beberapa pejabat berkaitan dengan kayu gelondongan yang tumbang sendiri”.

“Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar menuntut kita percaya

bahwa kayu gelondongan memang tumbang sendiri,

kebetulan saja sebagian diberi nomor

agar tak tersesat pulang.”

He he  he ini sindiran atas penebangan ilegal yang dibuat seolah-olah alami. Dan pernyataan Prabowo yang pernah menyerukan langkah ekstensifikasi penanaman “kelapa sawit, karena sawit juga pohon yang punya daun hijau”.

Prof Fathul dengan cerdas mengeritik  kebijakan alih fungsi hutan yang merusak ekosistem yang menyebabkan terjadinya banjir. Tapi realitas ini kemudian oleh pembantu presiden seperti mau ditutup-tutupi dengan kata “takdir”.

Salah satu poin yg membuat puisi ini viral karena disambut dukungan para netizen adalah bait Fathul meledek kebijakan Prabowo seperti menolak bantuan asing jika menyatakan bencana banjir Sumatera sebagai “bencana nasional”.

“Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar mengajarkan bahwa bantuan asing

yang tak seberapa itu berbahaya,

bisa meruntuhkan martabat bangsa…”

Baiklah, kawan-kawan terutama di SMSI: Selamat Tahun Baru 2026.

Aku suka pada puisi pilihan Anda.

Agar kita bisa sama-sama menikmati puisi kritis Prof Fathul itu,  aku share isi lengkap puisi tersebut:

Rektor Universitas Islam Indonesia membacakan puisi ini pada Kenduri dan Doa Ibu-ibu Berisik, kemarin sore (22/11/2025) di Bundaran UGM.

TETAPLAH BODOH

Karya: Fathul Wahid

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar menuntut kita percaya

bahwa kayu gelondongan memang tumbang sendiri,

kebetulan saja sebagian diberi nomor

agar tak tersesat pulang.

 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar mengharuskan kita sepakat

bahwa sawit juga pohon karena punya daun hijau,

cukup untuk mengganti nama hutan,

meski akarnya tak lagi sudi menahan air.

 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar berarti curiga pada suara kritis,

dianggap menggiring opini,

menganggap pemerintah tidak bekerja sempurna,

dan empati harus menunggu siaran media.

 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar mengajarkan bahwa bantuan asing

yang tak seberapa itu berbahaya,

bisa meruntuhkan martabat bangsa

yang konon berdiri tegak—tanpa bantuan siapa-siapa.

 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar mensyaratkan

bantuan bencana dari diaspora

perlu dipajaki dulu,

agar duka ikut menyumbang penerimaan negara.

 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar berarti setuju

cukup menteri memanggul karung bantuan,

sementara empati dianggap bonus,

tak wajib, apalagi tulus.

 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar menuntut kita percaya

bahwa ribuan korban hanyalah angka,

terlalu kecil untuk disebut bencana nasional,

hanya cukup jadi catatan kaki laporan tahunan.

 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar menganggap alih hutan ke sawit

adalah keniscayaan,

dan banjir selalu bisa kita titipkan

pada takdir—

agar tangan manusia tetap tampak tak ternoda.

 

Mari, tetap bodoh, kawan.

Sebab di negeri ini,

terlalu sering, yang disebut pintar

justru adalah kelihaian

melawan akal sehat,

menyembunyikan fakta,

dan memperdayai sesama.

 

Kawan, mari, tetap bodoh.

 

Sleman, 22 Desember 2025

« Previous PageNext Page »

  • vb