Bagaimana Puasanya Kawan?

February 28, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Hendry Ch Bangun
(Forum Wartawan Kebangsaan)

Bagi wartawan menjalani ibadah puasa sedikit berbeda dengan profesi lain, menurut saya. Ya karena ada hal dasar dari kerja wartawan yang wajib dimiliki siapapun dan di media manapun dia bekerja. Yaitu kritis, curiga, tidak boleh langsung percaya ada yang dikatakan narasumber, wajib melakukan cek dan ricek untuk menguji fakta, dan sering mengambil sudut pandang kritis.

Hendry Ch Bangun

Yang bagi orang lain mungkin menyebalkan. Kecuali kalau si wartawan mau menjadi wartawan rilis, yakni memuat begitu saja press release, keluaran berita, yang dibuat sumber berita. Entah itu perseorangan atau lembaga, atau bahkan narasumber perseorangan yang menanggapi suatu peristiwa dari sudut pandang dia. Sama-sama senang, kata orang, meskipun lalu medianya jadi sebagai corong dan tentu tidak akan disukai audiens.

Di bulan Ramadhan, pekerjaan wartawan ini berisiko membuat orang tersinggung, khususnya narasumber yang ditanyai dengan nada kritis seperti tidak dipercaya. Orang boleh marah tapi dia melakukan itu sesuai perintah atasannya, atau juga inisiatifnya sendiri karena merasa jawaban si narasumber hambar atau terlalu generik. Mungkin perlu ada fatwa dari lembaga agama, agar si wartawan tidak takut berdosa ketika bertanya hal yang membuat narsum kesal bahkan marah.

Bulan Ramadhan mestinya membuat semua orang, termasuk pejabat, pemegang kekuasaan, memperbanyak sabar dan menahan amarah. Tetapi karena pekerjaan wartawan adalah mengorek-ngorek secara kritis—sesuai prinsip jurnalistik—tidak heran lalu narasumber menjadi tersinggung. Wartawan yang berani dan menuruti perintah atasannya seperti menghadapi buah si malakama. Menjalankan perintah, tidak disukai narasumber, tidak menjalankan kena marah boss di kantor.

Semoga wartawan tetap tabah dan terus mencari upaya supaya tidak dibenci narasumber dan tidak dimarahi atasan. Ya cari cara yang baik agar tujuan tercapai dan sama-sama senang, yang tentu tidak mudah. Kalau kita lihat liputan di pengadilan, upaya wartawan mendapat komentar dari terdakwa saat doorstop selalu dihalang-halangi petugas, meskipun adalah hak terdakwa untuk memberi keterangan.
Wartawan kerap marah, tetapi pihak kejaksaan merasa perlu membatasi komentar dari narapidana, entah untuk alasan apa. Pastilah muncul emosi dari wartawan peliput karena harus membuat berita sesuai penugasan dari kantor. Apakah batal puasanya? Biarlah Allah SWT yang menilainya. Atau mungkin perlu juga fatwa dari majelis ulama agar ada pijakan kerja bagi para pekerja pers di lapangan selama bulan puasa ini. *

Sebenarnya kalau mau jalan mudah, kerja wartawan menjadi lebih enak, meski itu nanti tidak akan dikehendaki media yang menjalankan kewajibannya sesuai dengan standar jurnalistik. Yaitu, tunggu saja press release, keluaran informasi dari lembaga atau pihak-pihak terkait dan tambahkan sedikit informasi sebagai pelengkap basa-basi. Beres deh. Tetapi pastilah Boss di kantor tidak senang. Kecuali barangkali media-media yang memang suka membuat senang pejabat atau lembaga yang menjadi bidang liputannya.

Wartawan lalu tinggal duduk-duduk saja di press centre, tunggu berita, atau tunggul email, atau informasi yang disebarkan lewat grup WhatsApp. Biasanya malah dengan foto dan keterangan, lalu tinggal edit sedikit, ubah judul agar tidak seragam, dan muat. Aman deh.

Ini tentu saja tidak sesuai dengan prinsip jurnalistik yang harus kritis, memberi pencerahan bagi audiensnya, dan berpihak pada publik, karena pastilah angle berita dari rilis lembaga pemerintah apakah itu eksekutif, legislatif, yudikatif, sesuai dengan keinginan mereka. Media seharusnya memberikan pandangan kritis, mempersoalkan, mewarnai dengan opini dari pakar, ahli, sehingga berita menjadi lengkap dan bersudut pandang banyak. Tidak monoton dan satu arah.

Dalam kondisi masyarakat sekarang yang hampir selalu beropini secara kritis dan sudut pandang mereka sendiri melalui media sosial, media yang seperti corong pemerintah, pasti tidak layak baca. Nah, kalau klik sedikit, ya tidak laku. Tidak akan dijadikan acuan. Dan bisa jadi ditinggalkan oleh khalayak. Kalau audiensnya sedikit, maka media seperti ini akan hidup segan mati tak mau, alias bagai kerakap tumbuh di batu. Kerdil dan segitu saja. *

Ujian bagi pengelola media saat ini berlipat-lipat banyaknya. Pemimpin Redaksi pasti memiliki idealisme untuk menghasilkan berita-berita berkualitas, sesuai standar jurnalistik umum, menjadikan kepentingan masyarakat sebagai titik tolak pemberitaan, membuat berita di media itu diakui masyarakat, dan kritis. Tentu juga harus aktual, cepat, tepat, dan berusaha mendapat simpati dari publik.

Di sisi lain media harus memikirkan pendapatan yang harus diakui saat ini sumber terbanyaknya ada di pemerintah. Swasta menjadikan iklan di media massa konservatif sebagai pelengkap karena audiensnya pun berkurang secara signifikan, dan lebih mengandalkan media baru, media sosial, dan bahkan media (sosial) sendiri, sesuai dengan minat masyarakat.

Kalau pendapatan sedikit, sulit bagi media untuk membuat pemberitaan berkualitas. Secara praktek bantuan kecerdasan buatan/akal mandiri alias AI bisa “memenuhi” halaman/ruang media entah itu cetak, online, ataupun penyiaran. Tetapi karena ruang publik sudah dipenuhi berita aneka macam yang banyak dan berlimpah ruah, untutan masyarakat ke media konvensional, tentu harus berita yang spesial.

Berita yang digarap secara khusus, dengan kritis, sudut pandang berbeda, yang mencerminkan kualitas si pembuat berita. Yang khas, yang unik, yang mendalam. Berita yang memberi inspirasi, yang mencerahkan, yang komprehensif dan menjelaskan duduk persoalan secara proporsional, dan jujur.
Di sinilah lalu terjadi benturan kepentingan, antara sisi idealisme dan sisi ekonomi, yang Bagai buah simalakama. Dan disinilah sebenarnya diperlukan kontribusi masyarakat, crowdfunding, agar media dapat mandiri dan tetap berpegang pada idealisme pers.

Pemerintah tidak mau campur tangan urusan pembinaan pers, membiarkan mereka hidup dan berjuang sendiri. Alasannya independensi, hal yang mungkin benar tetapi tidak lagi sesuai dengan kondisi mutakhir pers nasional. Maunya mengatur, memberitakan sesuai keinginan pemerintah, dan tidak disalah-salahkan.

Maka masyarakat dan lembaga nonpemerintah menjadi jalan keluar terakhir, agar pers tetap independen, kritis, berpihak pada sebesar-besarnya kepentingan publik, yang tentu saja juga tidak akan sanggup mengayomi semua media. Rasanya ini seperti pungguk merindukan bulan.*

Dalam kondisi kehidupan media seperti itu menjalankan tugas kewartawanan dan mengelola media pada hari-hari ini menjadi lebih berat. Puasa menjadi kesempatan memperkuat batin, menerima ujian dengan lebih sabar, dan berusaha berpikir positif. Khususnya ketika mendapati Presiden Prabowo Subianto dan Donald Trump membuat perjanjian kerjasama yang membuat kehidupan pers, khususnya platform digital, semakin terpuruk.

Jalan keluar paling baik adalah pemerintah memberikan kompensasi kepada media seperti saat Indonesia dilanda Covid. Memberikan insentif bagi wartawan, mengurangi pajak, memperbanyak iklan layanan masyarakat tentang program pemerintah, dst.

Pemerintah harus memiliki “lawan” seimbang agar penyelenggaraan negara berjalan dengan baik, sesuai dan demi sebanyak-banyaknya manfaat bagi rakyat. Tanpa kontrol media, maka aparat pemerintah akan bekerja sesuka hati, asal bapak senang, dan program kerja dijalankan tidak sesuai standar. Pers tidak boleh mati, karena negara demokrasi memerlukannya.

Apa kabar puasanya? Berat kali bah. Tetapi justru karena itulah Ramadhan kali ini menjadi lebih bermakna bagi kehidupan pers.
Ciputat, 28 Februari 2026.

“Harumnya” Mobil HARUM

February 26, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

HEBOH mobil dinas baru Gubernur Kaltim Haji Rudy Mas’ud (HARUM) semakin “harum.” Di jagad media sosial terus menjadi trending topik. Soalnya mobil dinas baru itu dibeli dengan harga selangit. Dikerok dari duit APBD 2025 sebesar Rp8,5 miliar.

Ada yang membandingkan dengan mobil Maung Garuda yang dipergunakan Presiden Prabowo Subianto. Mobil buatan PT Pindad itu harganya Rp1,2 miliar, jadi 7 kali lipat lebih murah dari mobil Gubernur Kaltim.

Gubernur Kaltim ketika memberi penjelasan kepada wartawan di DPRD Kaltim

Lebih heboh lagi karena penjelasan Gubernur simpang siur dengan pejabat lain, selain juga tidak sejalan dengan kebijakan pengematan dan punya persepsi beda dengan rakyat soal menafsirkan harga diri Kaltim, yang disebutnya “Marwah Kaltim.”

Gubernur memberikan penjelasan resmi kepada wartawan soal mobil itu seusai dia menghadiri Rapat Paripurna Ke-3 DPRD Kaltim Masa Sidang 1 Tahun 2026, Senin (23/2).

Mengawali penjelasannya, Gubernur mengingatkan para wartawan yang mengerubutinya. “Kita sedang berpuasa, tolong jangan terlalu banyak ghibahnya, nanti dosanya berlipat ganda,” katanya sangat religius.

Ghibah adalah tindakan membicarakan keburukan, aib atau kekurangan orang lain. Hukumnya dalam Islam haram dan sama dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati.

Apakah yang digunjingkan para awak media atau netizen soal mobil mahal gubernur masuk dalam kategori ghibah? Silahkan masing-masing kita membahasnya. Kalau perlu kita tanya ke Komisi Fatma MUI. Apalagi ini bulan puasa.

Seperti yang sudah beredar, Pemprov Kaltim dalam APBD 2025 menyisihkan anggaran Rp8,5 miliar untuk pembelian satu mobil pimpinan. Mobil pimpinan yang dimaksud adalah mobil dinas untuk gubernur. Lalu berbagai pihak mengkritisi. Umumnya tidak setuju karena dianggap terlalu mahal dan mewah serta tidak sejalan dengan prinsif penghematan.

Tidak jelas mobil merk apa yang dibeli? Tapi yang pasti berkekuatan 3.000 cc. Ada yang menduga jenis mobilnya adalah Ranger Rover 3.0 Autobiography LWB. HARUM mengatakan, sesuai Permendagri No 7 Tahun 2006, kendaraan kepala daerah untuk sedan kelas 3.000 cc dan jeep 4.000 cc. “Kita mengadakan yang 3.000 CC,” katanya.

Jenis mobil Ranger Rover 3.0 yang diduga dibeli Pemprov Kaltim dengan harga Rp8,5 miliar

Soal harga, HARUM mengatakan dia tidak terlalu mengikuti. ““Ada rupa ada harga. Ada mutu, ada kualitas. Tapi saya tidak terlalu mengikuti soal harga,” begitu katanya.

Gubernur mengungkapkan, sampai hari ini (maksudnya: Senin, 23/2/2026) Pemprov Kaltim belum menyediakan mobil dinas untuk gubernur bertugas di wilayah Kaltim. Mobil yang dipergunakan dia saat ini adalah mobil pribadi. Kondisinya sudah hancur. “Tapi tidak ada masalah demi masyarakat Kaltim,” katanya merendah.

Tidak disinggung ke mana mobil dinas gubernur yang dipakai gubernur sebelumnya. Tapi memang ada fenomena di kalangan kepala daerah, tidak terlalu nyaman menggunakan mobil kepala daerah sebelumnya. Dengan berbagai alasan, maunya diganti yang baru. Mulai soal gengsi sampai hal berbau mistis.

JAGA MARWAHNYA KALTIM

Menurut HARUM, mobil Pemprov Kaltim yang dimaksud adanya di Jakarta. Untuk menunjang kegiatan kepala daerah di sana. Kaltim adalah Ibu Kota Nusantara. Kaltim adalah miniatur Indonesia. Tamu dari Kaltim bukan hanya kepala daerah se Indonesia, tapi juga global. “Masa iya kepala daerah pakai mobil sekadarnya.  Jaga dong marwahnya Kaltim, marwahnya masyarakat Kaltim,” ujarnya beralasan.

Penjelasan Gubernur ini bertolak belakang dengan keterangan Sekdaprov Sri Wahyuni sebelumnya. Sebab dia mengatakan kepada wartawan, Gubernur membutuhkan kendaraan yang andal di segala medan karena ingin menerobos medan Kaltim yang berat.

Dia sempat menggambarkan ngototnya Gubernur HARUM dalam mengunjungi daerah Kaltim yang medannya berat. Salah satunya dia sebut daerah Sotek, Bongan. Sampai harus ganti mobil. “Jadi itu yang menjadi pertimbangan perlunya mobil yang mampu di segala medan,” tegasnya.

Gara-gara penjelasan ini Sri Wahyuni di-bully netizen. “Sekdaprov itu orangnya cerdas. Tapi karena harus menjelaskan kebijakan yang tidak cerdas dari pimpinan, jadi penjelasannya tidak cerdas,” komentar Irwan Pecho, mantan anggota DPRI dapil Kaltim dari Partai Demokrat.

Hal yang tidak sinkron juga dari penjelasan Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud (HAMAS), yang juga kakak kandung HARUM.

Menurut HAMAS, pengadaan mobil dinas gubernur itu sudah melalui berbagai proses. Mulai analisis standar belanjanya, APIP dan BPK juga turun sampai penggunaan e-katalog.

“Tapi mobilnya ditaruh Jakarta Pak,” sela wartawan.

“Pakai di sinilah (di Kaltim),” jawab HAMAS.

“Tapi keterangan beliau untuk menjemput tamu di Jakarta,” kata wartawan lagi.

“Wah saya ngga tahu. Tapi kalau menjemput tamu, harusnya memang ada. Masa kalah dengan yang lain. Masa sewa,” jelasnya lagi.

Banyak yang meragukan alasan menjemput tamu IKN. Sebab urusan IKN adalah urusan pemerintah pusat. Tapi yang lebih kena, HARUM memang membutuhkan mobil yang berkelas wah di Jakarta. Sebab dia selain Gubernur Kaltim, juga dipercaya menjadi Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI). Jadi sering bertemu dengan pejabat pusat termasuk Presiden. Jadi dia terkesan memang butuh kendaraan yang menurutnya untuk menjaga “Marwah Kaltim.”

Soal marwah atau muru’ah itu, HARUM juga diserang warganet. Bang Eka di Instagram bilang, bagi seorang pemimpin Islam, marwah itu tidak dilihat dari penampilan. Dia menunjuk teladan yang diberikan Rasulullah atau sahabat Nabi, Umar bin Chatab. Dalam sejarah kepemimpinan mereka, wibawa atau marwah mereka lahir dari keadilan dan keberpihakan bukan dari penampilan.

Bang Eka mengingatkan, Kaltim yang kaya dengan sumber daya alamnya, penyangga IKN, tapi realitanya masih ada jalan kabupaten rusak bertahun-tahun, masih ada desa blank spot, ada sekolah minim fasilitas, masih ada kasus stunting,  dan kemiskinan di beberapa wilayah pedalaman. Lalu distribusi pendapatan belum merata. “Dengan kondisi seperti itu, malulah kita menuntut fasilitas yang maksimal,” tegasnya.

Hal yang sama juga diserang @zainoelariefin. Dia sempat menyebut “pembohong,” karena rancunya penjelasan. “Kalau mau angkat marwah Kaltim, buktikan dulu janji pendidikan gratisnya, buktikan dulu jalan rusak dibaikin, bukan beli mobil Rp8,5 miliar. Ini cacat berpikir,” tukasnya.

Belum lagi  selesai urusan mobil mahal Gubernur HARUM, terdengar lagi DPRD Kaltim dalam tahun anggaran 2026 juga menguras dana APBD Rp6,8 miliar untuk membeli kendaraan dinas. Kalau itu betul, maka sempurnalah sudah kelakuan yang tidak merakyat ini.

Jika HARUM masih ingin namanya tetap benar-benar harum, maka segeralah meminta maaf kepada rakyat. Kalau pembelian mobilnya masih bisa dibatalkan, lebih baik dibatalkan saja. Orang tahu HARUM punya kekayaan besar. Hebat dan harum jika mau mewakafkan dana pribadinya untuk membeli mobil operasional sendiri dalam menjalankan tugas kepala daerah. Itu amanah yang sempurna dan besar pahalanya.

“Kepada seluruh masyarakat Kaltim, mohon doa agar kita dikuatkan dalam menjaga amanah,” kata HARUM menutup penjelasan kepada wartawan. Dengan ikhlas saya ikut mengaminkan. Aamiiin.(*)

Berpulangnya Kiai Hafal Umur

February 24, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA menerima kabar du

Kiai Kasim Pallanju ketika menjadi khatib

KH Mohammad Kasim Pallanju, Minggu (22/2) atau 4 Ramadhan 1447 H sekitar pukul 18.30 Wita. Jenazah di semayamkan di rumah duka, Kompleks Perumnas Batu Ampar. Jenazah dimakamkan di Pemakaman Telindung, Senin (23/2) ba’da dzuhur.

Tidak disebutkan latar belakang kematiannya. Tapi setahu saya belakangan ini beliau jarang keluar karena kondisi kesehatannya semakin berat. Termasuk istri beliau, Hj Maisyah Kasim. Pertemuan terahkhir saya ketika menghadiri undangan pernikahan atau Walimatul ‘Ursy di Gedung Kesenian beberapa waktu lalu.

“Pak Wali ya,” katanya menyapa saya dengan tersenyum. Dia masih memanggil saya seperti saat saya menjadi wali kota. Hubungan kami terbilang akrab. Saya banyak berkomunikasi dan menerima masukan dari beliau ketika saya menjadi wali kota.

Beberapa hari sebelum Kiai Kasim meninggal, Ustaz Jailani, Munir Asnawi, Ustaz Ali Mansyur dan teman-teman lainnya datang menjenguk sepulang dari acara Gong Xi Fa Cai di kediaman Pak Charles, pemilik Hotel Platinum. Seakan memberi isyarat, beliau minta didoakan agar meninggal dalam keadaan husnul khotimah.

Menurut penuturan H Ali Munsjir Halim, mantan anggota DPRD yang juga keluarga almarhum, kondisi Kiai Kasim hari Minggu itu memang mengkhawatirkan. Hari itu beliau membatalkan syiamnya. Padahal sebelumnya terus berpuasa. Beberapa saat setelah memasuki magrib, beliau menghebuskan nafas terakhirnya.

Duka menyelimuti keluarga. Seorang cucunya tampak terbaring di sisi jenazah. Saya sempat melayat. Lalu ikut berdoa bersama Kepala KUA Balikpapan Selatan H Sandjoyo, S.Pdi dan Murtafiin, S.Ag, Kepala KUA Balikpapan Barat.

Di sana saya sempat bertemu Pak Kasmadi, Ketua RT setempat, yang baru saja viral gara-gara protes jalan. Ada juga Ketua FKUB  Balikpapan Drs H Hakimin, MM, yang juga mantan Kamenag. Ada juga Ustaz Sugianto, Ustaz Jaelani dan Kadis Perdagangan Haemusri.

Jenazah KH Kasim Pallanju dimakamkan di Kompleks Pekuburan Telindung. Sebelumnya ratusan pentakziah menyolatkannya di Masjid  Al Azhar Perumnas ba’da dzuhur. “Beliau orang baik, insyaallah husnul khotimah,” kata seorang warga.

PERNAH KETUA DPRD

KH Kasim Pallaju adalah salah seorang tokoh ulama di Balikpapan, yang banyak berkiprah untuk daerah. Sarat dengan pengalaman. Dia sempat meniti karier sebagai Kepala Pembinaan Mental (Kabintal) Kodam VI/Mulawarman dengan pangkat terakhir letnan kolonel (Letkol).

Karena pengalamannya yang luas, dia dipercaya Kodam memegang jabatan politik. Sempat menjadi Ketua DPRD Kabupaten Pasir (sebelum jadi Paser), Ketua DPRD Kabupaten Kutai sampai Ketua DPRD Kabupatan Bulungan, ketika masih bergabung ke Provinsi Kaltim.

Teman seangkatannya mengakui Kiai Kasim punya wawasan dan pandangan yang luas. Dia sukses memimpin DPRD, sehingga dipercaya berkali-kali dengan jabatan tersebut.

Di Balikpapan, Kiai Kasim aktif dikegiatan keagaaman. Pernah aktif menjadi pengurus Forum Kerukunan Umat Bergama (FKUB) dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan.

Menurut Ustaz Jaelani, Kiai Kasim Pallanju dikenal sebagai kiai yang tegas dan punya disiplin kuat. Mungkin bawaan beliau ketika masih aktif sebagai seorang tentara. Setiap pertemuan beliau selalu datang lebih dulu. Kalau ada anggota pengurus yang terlambat, dia tak segan-segan memberi teguran.

Sebagai Ketua MUI, Kiai Kasim  selalu berprinsif dengan Fatwa MUI dalam mengambil keputusan. Ingatannya sangat kuat dalam berbagai hal yang menyangkut masalah keagamaan. Dia juga sangat menjunjung tinggi toleransi beragama. Akrab dengan tokoh-tokoh agama lain di antaranya Pak Charles, Pak Samuel dan lainnya.

Banyak kenangan yang diingat Ustaz Jaelani bersama Kiai Kasim. Jaelani mantan Kamenag Berau yang lama bertugas di Balikpapan. Dia dikenal sebagai tokoh agama yang aktif di berbagai organisasi keagamaan. Ada satu kebahagiaan yang dialami Kiai Kasim ketika mengikuti Rakor MUI se Kalimantan. Kiai Kasim mendapat hadiah umrah gratis.

Yang menarik Kiai Kasim sangat hafal menyebut umur beliau, tidak saja tahunnya, tapi juga dengan hitungan bulan, hari dan jam. Itu diucapkannya setiap ketemu kerabat termasuk dengan saya. ”Umur saya saat ini: 83 tahun, 12 hari, 7 jam, 30 menit,” begitu pernah dia ucapkan.

Unik juga. Terkadang saya tersenyum mendengar ucapan beliau soal umur. Tapi setelah saya renungi, ada makna yang mendalam di balik ucapan itu. Sepertinya beliau mengingatkan kepada kita bahwa umur yang bertambah adalah isyarat bahwa pada saatnya kita akan dipanggil Allah Subhanahu Wa Ta’la. Sebab, setiap mahluk hidup pada saatnya akan menerima kematian. “Kullu nafsin dzaiqotul maut,” begitu Kiai Kasim sering mengutip ayat Al-Qur’an ini.

Kiai Kasim termasuk ulama berumur panjang. Dia meninggal dalam usia 89 tahun. Beliau dilahirkan di Maroangin, Sulsel pada 5 September 1937. Delapan tahun sebelum Kemerdekaan. Jadi hafal betul dengan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia termasuk yang di Sulawesi Selatan. Selamat jalan Kiai Kasim, insyaallah dilapangkan kuburnya.(*)

Mengapa Meminta Maaf ?

February 22, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Ramadhan Hendry Ch Bangun

Beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadhan, di grup WA atau di ponsel kita, penuh dengan permintaan maaf, mohon dimaafkan bila memiliki kesalahan disengaja atau tidak sengaja, berupa kata-kata ataupun tindakan. Konon, agar ketika menjalankan ibadah sebulan penuh ini tidak ada lagi ganjalan di hati sehingga ibadahnya lancar dan diterima Allah Subhana wa taala.

Hendry Ch. Bangun

Fenomena ini sudah berlangsung lama, tidak tahu persis kapan dimulai, tetapi agaknya ketika telpon seluler menjadi milik semua, bukan lagi barang ekslusif seperti era Motorolla yang dimiliki hanya segelintir orang kaya. Ketika ponsel semakin cerdas tidak lagi hanya kata atau kalimat, ada gambar, ikon, meme, simbol, meramaikan ucapan itu.

Menurut ahli, meminta maaf atau menerima maaf mengurangi stress dan kecemasan, membuat lega dan seperti lepas dari himpitan perasaan bersalah, serta meningkatkan kesehatan mental. Dan apabila dilakukan secara personal, tatap muka, dapat mengembalikan kualitas hubungan interpersonal. Tercipta saling menghargai dan bisa jadi hubungan yang tadinya buruk kembali membaik, menjadi teman baru lagi, dan ada manfaat bagi keduanya ke depan.

(Meski dalam ilmu manajemen diingatkan, orang yang bertindak buruk kepadamu, jangan lagi dijadikan teman, jangan dipercaya, karena sewaktu-waktu, entah kapan, dia kembali akan menyakitimu. Itulah sifat manusia. Oleh karena itu, forget it. Coret dari daftar kontak).

Tetapi di bulan baik ini, meminta maaf tentu perbuatan mulia. Bahkan menurut salah satu hadis, orang yang mau memaafkan orang yang berbuat salah, berbuat dosa kepadanya, akan dibangunkan istana dari emas di surga. Memberi maaf bukan merendahkan diri, justru dikatakan bakal mengangkat derajat seseorang. Dan pemaaf adalah satu ciri orang bertaqwa, sesuatu yang ingin dimiliki oleh setiap manusia.

Dan kalau bicara soal pahala, khsususnyadi Ramadhan ini, pastilah akan berlipat ganda karena dia seperti membuat dosa antarmanusia, seorang dengan seseorang, sudah hilang. Tentu kita semua tahu, Allah itu Maha Pemaaf (Al Afuww), Maha Pengampun (Al Ghaffar), apabila ada kesalahan kepadaNya, kalau kita meminta, pasti dimaafkan dan dosa kita diampuni. Sebesar apapun itu, bahkan sebanyak buih di samudera.

Tetapi dosa sesama manusia itu, hanya bisa dihapus kalau orang yang disakiti mau memberi maaf. Kalau tidak mau, tidak sempat, maka itu urusannya di akhirat sana. Maka dikatakan ada orang yang sepertinya amalnya sedikit, tetapi ketika dihisab nanti, hartanya di sana seperti emas sebesar gunung. Sebab semasa hidup di bumi, dia selalu dibully, dianiaya, digossipi, dipandang rendah, dan itu semua menjadi pahala baginya. Yang otomatis mengurangi pahala para pelaku, pembully, penganiaya, pemfitnah, sadar atau tidak sadar. Di sinilah sebenarnya, tradisi saling memaafkan, apalagi dilakukan secara fisik, menjadi sangat krusial kita lakukan. Kalau via WA, atau Instagram, Telegram, apalagi kalau bersifat generik, ya kadarnya sedikit. Itupun kalau diterima. *
Saya ingat suatu ketika KH Aqil Siradj diundang ke PWI Pusat diinisiasi Ilham Bintang, Dewan Kehormatan PWI, untuk mendapatkan masukan ahli agama itu tentang profesi wartawan. Waktu itu PWI satu-satunya organisasi wartawan yang mengakui bahwa pekerja media entertainmen sebagai wartawan. Yang lain masih menganggap bukan, karena pekerjaannya hanya menulis hal-hal tidak penting, tidak terkait dengan kepentingan publik, ecek-ecek.
Dalam kesempatan tersebut tokoh NU itu ditanya soal berita tentang artis, penyanyi, pesohor, yang kadang bersifat hura-hura, isyu perselingkuhan, perceraian, gossip rumah tangga dan sejenisnya.
“Berita seperti itu ghibah. Dan ghibah itu dosa,” katanya tegas.
“Kalau itu fakta, Pak Kyai ?”
“Fakta ya dosa. Apalagi kalau belum tentu kebenarannya. Membicarakan seseorang itu berdosa walaupun itu benar.”
Akhirnya hadirin mati kutu. Maksud hati ingin justifikasi pemberitaan entertainmen sebagai produk jurnalistik yang standar, menjadi goyah. Tapi setidaknya wartawan yang hadir, umumnya pengurus, sudah mendapatkan kepastian dari sisi hukum agama.
Apakah lalu media entertainmen surut? Ya tidak. Masalahnya fulus. Sudah banyak yang untung milyaran rupiah per bulan pada waktu itu, ya tentu saja apa yang disampaikan KH Aqil Siradj hanya dianggap masukan untuk dipikirkan. Keputusan tetap di tangan manajemen. Soal dosa itu urusan nanti. Dunia dulu Boss, mungkin begitu pikir si pemilik media.
Ya kalau dipikir-pikir, artis-artis, pemain sinetron, para penyanyi, yang diberitakan tentang hal yang benar, apalagi yang belum pasti sesuai fakta, mendapat pahala bertumpuk di akhirat nanti dari karya jurnalistik media entertainmen. Apakah pernah ada permintaan maaf secara individu dari pekerja pers, awak media kepada mereka, rasanya sih tidak. Mudah-mudahan ada dan juga mudah-mudahan sadar untuk minta maaf mumpung bulan baik dan masih ada nafas.
Bagaimana pula dengan media yang dalam pemberitaannya banyak memberikan label negatif, menghakimi tanpa konfirmasi, mengambil untung dari rasa takut narasumber, bahkan dengan sengaja melakukan fitnah tanpa dasar? Kalau ini jelas. Dari sisi Kode Etik Jurnalistik (KEJ) saja sudah melanggar pasal-pasal tertentu dan ada sanksinya. Termasuk kewajiban minta maaf apabila tidak akurat, ada itikad buruk. Maaf di sini sebagai upaya menyenangkan hati, menyembuhkan luka dari orang tersakiti oleh berita, sekaligus menunjukkan kualitas, kedewasaan, harkat dan martabat media, yang memberitakan.
Tetapi apakah kalau medianya sudah meminta maaf berarti “dosa” maka si wartawan yang menulis, atau editor yang “meloloskan” bahkan mungkin “mengarahkan” berita insinuatif, bohong, tidak akurat, sudah hilang? Itu urusan Yang Di Atas.
Kalau mekanisme kerja, proses jurnalistik, sudah jelas. Karya jurnalistik adalah satu produk hasil mata rantai panjang, mulai dari perencanaan, pengumpulan fakta dan data di lapangan, proses penulisan, proses editing, dan akhirnya persetujuan diberitakan atau disiarkan. Setiap titik itu ada peran. Semua terlibat, meski penanggungjawab akhir ada di tangan pengambil keputusan bahwa berita layak ditayangkan. *
Dalam banyak hal harus diakui kualitas media dan wartawan kita secara umum masih terdapat kualitas yang njomplang. Ada yang mutunya bisa disamakan dengan media-media di negara maju seperti AS, Eropa, Jepang, yang jelas proses rekruitmen, jelas pelatihan rutin, jelas proses pematangan dengan liputan-liputan bertahap, dst. Ada yang sama sekali tidak bermutu, main tunjuk seseorang menjadi wartawan, tidak dibekali pemahaman KEJ, tidak dilatih, tidak diberi pengarahan. Langsung terjun ke lapangan. Cakupannya dari A sampai Z.
Dengan kondisi seperti ini, pemahaman tentang tanggungjawab moral dan etika ya bervariasi juga. Ada yang peka terhadap nama baik, privasi individu, dan menahan diri untuk menerobos wilayah pribadi meskipun mungkin orang yang akan jadi narasumber itu pejabat atau memiliki tugas berurusan dengan publik. Ada yang terpaksa menabrak batas karena kewajiban kantor untuk melengkapi berita yang akan disiarkan, atau minimal memberi ruang konfirmasi. Ada yang tidak peduli karena bagi mereka, berita harus menjadi viral, banyak klik, lebih penting.
Ada media yang sudah jelas mengambil posisi tertentu sehingga mau benar atau salah maka sosok tertentu selalu dicari sisi negatifnya. Ada yang karena unsur tertentu sebaliknya mengambil sisi positif dan sepihak atas kegiatan-kegiatan sosok atau kelompok itu. Nilai berita menjadi nisbi disesuaikan dengan kepentingan.
Maka media bisa menjadi pembawa kabar baik, berita menyenangkan, memberi gairah, memberi inspirasi, dan semangat. Ada yang membuat sakit kepala, meningkatkan emosi, sampai ke proses hukum karena dianggap sudah merusak nama baik. Ini tidak lepas dari visi misi media, ketika didirikan, ataupun menyesuaikan diri dengan kondisi sosial politik dan pendapatan.
Sambil menunggu berbuka puasa, yang dianjurkan berzikir dan membaca doa, sebagai orang yang menyebut dirinya wartawan, bagus juga kita melihat ulang ke belakang. Masih adakah kesalahan, kelalaian, yang telah membuat orang sakit hati, entah itu narasumber, masyarakat, rekan kerja, rekan satu organisasi, yang belum kita mintakan maafnya? Mari tanyakan ke hati nurani.
Itupun kalau dianggap perlu. Semua terserah Anda. Wallahu a’lam bishawab.
Ciputat 22 Februari 2026.

Dari Kota Batulicin

February 22, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA belum pernah ke Batulicin. Itu ibu kota Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Lewat jalan darat ditempuh 8 sampai 10 jam dari Balikpapan. Kalau dari Banjarbaru jaraknya 219 km. Ditempuh sekitar 5 jam. Jauh juga.

Nama Batulicin City di waktu malam. Tampak sangat indah dengan aneka warna lampu

Nama Batulicin dan Tanah Bumbu memang menarik. Konon penamaan Batulicin karena di sana banyak ditemukan batu-batuan yang halus dan licin di sepanjang sungai. Sedang Tanah Bumbu bukan berarti di sana banyak bumbu. Tapi berasal dari wilayah Kerajaan Tanah Bumbu pada abad ke-17. Nama ini merujuk pada wilayah pusat pemerintahan kerajaan yang berada di sekitar Sungai Bumbu.

Usia Kabupaten Tanah Bumbu baru 23 tahun. Berdasarkan UU Nomor 2 Tahun 2003, berdiri pada tanggal  27 Januari 2003 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Kotabaru. Penduduknya pada 2024 sekitar 360 ribu jiwa dengan luas wilayah 5.066,96 kilometer persegi. Khusus Batulicin dihuni sekitar 21.114 jiwa dengan luas wilayah 163 kilometer persegi.

Belakangan nama Batulicin makin viral, lantaran di sini “markasnya” orang paling kaya Kalimantan yaitu Haji Isam, sang “raja batubara dan sawit.” Siapa yang tak kenal dengan haji yang satu ini. Apalagi dia sekarang dekat dengan Presiden Prabowo Subianto. Nama aslinya adalah H Andi Samsudin. Bukan asli Kalsel, tapi  darahnya dari Sulsel.

Rumah atau istana Haji Isam di Batulicin sangat mewah dan luas. Bayangkan, mencapai 20 hektare. Maklum di situ ada lintasan offroad, yang memang menjadi hobi sang crazy rich. Jalan menuju rumahnya jalan khusus dan diberi nama Jalan Haji Isam.

Tapi saya datang ke Batulicin, pekan lalu bukan ingin menemui Haji Isam. Tapi saya memenuhi undangan Sayed Jafar Alaydrus (SJA), mantan Bupati Kotabaru yang sekarang menjadi Ketua DPD Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Kalsel. Saya berangkat dengan Pak Alinur, lalu bergabung dengan aktor legenda Roy Marten yang terbang dari Jakarta. Roy ditemani Ali Imron juga kembali diundang SJA.

Kami datang untuk mendukung SJA yang lagi menebar “virus” Hanura agar mampu berjaya dan menang pada Pemilu 2029 nanti. Sengaja bendera start dia mulai kibarkan di dua kabupaten yaitu Batulicin dan Kotabaru, karena itu wilayah “kekuasan” dan tanah kelahirannya.

SJA dan istri, Roy Marten, Sekretaris Hanura Syarifah Santiyansah serta Ketua Hanura Kotabaru Sayed Sultan Yasin Alaydrus berfoto bersama anak yatim setelah pemberian santunan

Pengibaran bendera start Hanura itu ditandai dengan pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Hanura Batulicin dan Kotabaru. Ketua DPC Batulicin adalah Suaidi dengan sekretaris Wisda Dewai dan bendahara H Iwan. Sedang Ketua DPC Kotabaru dipercayakan kepada Sayed Sultan Yasin Alaydrus, BM, yang tak lain putra kandung SJA. Sayed Sultan didampingi sekretaris Suriyah, SE.

“Kita sengaja memulai mengibarkan bendera Hanura dari dua kota ini, karena di wilayah ini akan menjadi basis perjuangan dan kekuatan Hanura Kalsel,” kata SJA penuh semangat.

Menurut Sayed Jafar, dia lahir di Batulicin. Lalu pada usia 8 tahun hijrah ke Kampung Baru Balikpapan. Sukses berusaha di perminyakan, dia mengembangkan usahanya di kampung halaman sampai terjun ke politik. Alhamdulillah, dia sukses menjadi Bupati Kotabaru selama dua periode, 2016 sampai 2025.

Acara pelantikan DPC Batulicin berlangsung meriah di kediaman pribadi Sekretaris Hanura Kalsel, Hj Syarifah Santiyansyah, SH, M.Si di Jl Cappa Padang. Rumahnya megah dan luas berwarna putih. Seperti Gedung Putih. Hj Syarifah Santiyansyah adalah adik kandung SJA, yang akrab dipanggil Bunda atau Puang Neni dan pernah menjadi anggota DPRD Kalsel dari Partai Golkar.

Sebelum menuju Kotabaru, Sayed Jafar menyempatkan ziarah ke makam orangtua. Juga ziarah ke makam leluhur di Komplek Kuburan Raja Batulicin. “Saya baru tahu kalau Pak Sayed Jafar ada garis keturunan dengan kerabat Raja Batulicin,” kata Alinur, yang setia mendampingi SJA.

SAYED SULTAN SIAP

Sementara pelantikan Sayed Sultan Yasin berlangsung tak kalah meriah di gedung milik SJA sendiri, Gedung SJA 309 Hilir Muara, yang masuk di wilayah Kecamatan Pulau Laut Sigam, Kotabaru. Gedungnya megah di tepi pantai. Tersedia beberapa fasilitas ruang rapat dan kamar yang representatif.

SJA didampingi Roy Marten disambut tarian adat Kotabaru. Roy tampak terpukau ketika dikalungi untaian kembang dan selendang. Dia mengaku baru pertama kali ke Kotabaru. Selama ini dia hanya mengenal lewat lagu dan film Saranjana.

Setelah dilantik dan menerima bendera Hanura, Sayed Sultan Yasin mengatakan, dia bersama pengurus baru lainnya sudah siap bahu membahu untuk berjuang memenangkan Partai Hanura di seluruh wilayah Kabupaten Kotabaru, yang memiliki 15 kecamatan dan 245 desa.

Sejalan dengan keinginan DPD, dalam pembentukan PAC di tingkat kecamatan, dia memberi kesempatan generasi muda untuk berkiprah lebih banyak. “Nanti kita kolaborasikan dengan pengalaman para senior agar tercipta kekuatan yang solid untuk membesarkan partai,” tandas Sayed Sultan.

SJA berharap DPC Hanura Kotabaru menjadi role model kebangkitan partai Hanura di Benua,  setelah dua periode absen. “Ini momen kebangkitan kejayaan Partai Hanura di Kalsel. Apalagi ketua umum DPP Hanura juga orang Kalimantan yaitu Pak Oesman Sapta Odang (OSO),” jelasnya.

Menurut SJA, dia akan ngebut untuk pembentukan dan pelantikan pengurus baru di Tingkat kabupaten/kota.  “Ini baru dua dari 13 kabupaten/kota di Kalsel yang dilantik. Tekad kita tiga bulan ke depan, sudah selesai pengukuhan di semua daerah,” jelasnya.

Selama berada di Batulicin dan Kota Baru, saya dan Roy Marten dijamu SJA dengan berbagai kuliner andalan urang Banjar terutama soto Banjar. Roy sendiri banyak didaulat ibu-ibu agar bisa foto selfie. Sebelum pulang, dia masih sempat ikut senam bersama Hanura di Kotabaru. “Kalau begini hebatnya antusias masyarakat, saya optimistis Hanura di Kalsel  benar-benar bangkit,” katanya memuji.(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1618293
    Users Today : 5360
    Users Yesterday : 7733
    This Year : 554803
    Total Users : 1618293
    Total views : 13866149
    Who's Online : 44
    Your IP Address : 216.73.216.54
    Server Time : 2026-04-07