Isran, Belayan, dan Bayan

July 6, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Gubernur Kaltim Isran Noor ketika meresmikan Jembatan Belayan di Tabang didampingi Direktur PT Fajar Sakti Prima Alexander Ery Wibowo dan Direktur Bayan Group Lim Chai Hock.

GUBERNUR Kaltim Isran Noor pertengahan bulan  ini rencananya terbang ke Belanda. Tapi pekan ini (3-4/7)  dia lebih dulu  mengunjungi 3 kecamatan di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar). Dari Tenggarong lanjut ke Kembang Janggut dan terus ke Tabang. Temanya, pangan dan jalan. Soalnya agenda utama perjalanan itu adalah meresmikan Gerakan Tanam Padi Seribu Hektare (GTPSH), peninjauan jalan dan peresmian jembatan.

Isran sangat bersemangat turun ke sawah melakukan penanaman pertama. Apalagi dia memang sarjana pertanian. Lokasinya di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong. Bukit Biru awalnya desa transmigrasi yang dibuka tahun 80-an. Warganya adalah transmigran dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berkat tangan-tangan terampil transmigran yang bertekad meningkatkan taraf hidup mereka, maka  pertanian di sini sangat berkembang pesat.

GTPSH adalah program nasional dalam upaya mengantisipasi krisis pangan karena pengaruh fenomena El-Nino. Puncaknya diperkirakan pada Agustus mendatang. Karena itulah Kementerian Pertanian meminta masyarakat petani dan pengusaha di seluruh kabupaten/kota yang memiliki lahan pertanian melakukan penanaman padi minimal  seribu hektare. “Di Kabupaten Kukar kita pusatkan di Kelurahan Bukit Biru,” kata Gubernur.

Untuk menyemangati warga dan petani di Bukit Biru, sejumlah kepala dinas yang menyertai Gubernur menyerahkan berbagai bantuan. Khusus Dinas Pangan , Tanaman Pangan dan Hortikultura menyerahkan 38 unit alat pertanian hand-tracktor roda dua dan 2 unit Combine Harvester.

Setelah menempuh perjalanan darat sejauh 168 km,  Gubernur Isran singgah di Desa Kelakat, Kecamatan Kembang Janggut. Di sini dia menyerahkan bantuan rumah dari Program Prioritas Rumah Layak Huni (RLH)  yang dilakukan sejumlah perusahaan, di antaranya dari PT Fajar Sakti Prima dari Bayan Group dan REA Kaltim.

Isran secara simbolis menyerahkan 3 RLH kepada  Susi (anak dari Darius Siyen), Lamri, dan Salang. Ketiganya tampak ceria bisa mendapat bantuan RLH. “Kami bersyukur atas perhatian pemerintah dan pemilik perusahaan terutama Bayan Group,” kata Susi mewakili yang lain.

Menurut Ketua Badan Pengelola Rumah Layak Huni Provinsi Kaltim M Taufik Fauzi, sejak tahun 2022 sampai sekarang Pemprov Kaltim berhasil membangun 221 unit RLH atas bantuan dana CSR perusahaan. “Target kami tahun 2024 bertambah lagi sebanyak 508 unit,” tambahnya.

Gubernur optimis angka kemiskinan di Kaltim bisa menurun tajam jika target pembangunan 3.500 unit RLH dapat diwujudkan. “Karena salah satu indikator dalam penentuan kemiskinan adalah kondisi rumah yang tidak layak,” jelasnya.

Sambil menyampaikan apresiasi kepada Bayan Group dan REA Kaltim, Isran meminta para pengusaha atau perusahaan termasuk kalangan perbankan yang beroperasi di Kaltim lainnya ikut terlibat dalam pembangunan RLH. “Kita harus bekerjasama demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tolong dana CSR-untuk RLH, jangan diam saja,” tandasnya.

Puncak kunjungan Gubernur ke wilayah Kecamatan Tabang. Di sini dia meresmikan Jembatan Belayan, yang dibangun PT Fajar Sakti Prima. Jembatan sepanjang 587 meter itu membentang di atas Sungai Belayan. “Alhamdulillah ini bisa terwujud berkat ‘kesaktian’ PT Fajar Sakti Prima dari Bayan Group,” tandasnya.

Menurut Kepala Teknik Tambang PT Fajar Sakti Prima Arifin Batung,  pembangunan jembatan Belayan berlangsung selama 15 bulan dengan menghabiskan dana Rp 177 miliar. Mereka juga membangun jalan dan 7 jembatan sepanjang lebih 100 kilometer yang menghubungkan tiga kabupaten, yaitu Kutai Kartanegara, Kutai Barat, dan Kutai Timur dengan biaya Rp 870 miliar.

“Kelak kalau perusahaan sudah tidak beroperasi lagi, jalan yang dibangun mereka menjadi milik negara. Otomatis ya milik rakyat Kaltim juga,” kata Gubernur.

Isran tampil gagah perkasa mengenakan busana adat Dayak yang diberikan Kepala Lembaga Adat Besar Tabang M Daleq Jempung. Juga dikenakan oleh Direktur PT Fajar Sakti Prima Alexander Ery Wibowo, Direktur Bayan Group Pak Lim (Lim Chai Hock) dan Sekda Kukar Sunggono.

Dengan menggunakan mandau  Isran menebas tali peresmian yang membentang di atas jembatan. Tepuk tangan membahana. Warga Tabang bersyukur kalau mau ke Kota Bangun atau ke Muara Pahu tidak perlu lewat sungai atau naik feri lagi.  Jarak tempuh bisa dipercepat dan biaya transportasi bisa dipangkas.

“Jembatan yang saya resmikan ini merupakan jembatan kembar, yang panjangnya kedua setelah Jembatan Mahakam Samarinda. Terima kasih, Bayan, selamat memanfaatkan kepada semua warga di sini,” kata Gubernur, yang dalam perjalanannya di antaranya didampingi anggota DPD RI Nanang Sulaiman,  Ketua TGUP3 Kaltim Adi Buchari Muslim dan sejumlah kepala OPD di lingkup Pemprov Kaltim.

Menurut Pak Lim, Bayan Group komit melaksanakan program CSR untuk menyejahterakan masyarakat. Pemilik Bayan Group Datuk Dr Low Tuck Kwong sering datang ke Tabang. Dia menginstruksikan agar perusahaan selalu memperhatikan warga setempat.

“Sebagai staf di Bayan saya bangga mengabdi di perusahaan ini,” kata H Syahbudin Noor Acang, orang Kutai yang puluhan tahun bekerja di sana. Dia akan memasuki masa purnatugas dan akan menjadi caleg DPRD Kaltim dari dapil Kukar. “Saatnya saya ikut memperjuangkan aspirasi rakyat Kutai lewat DPRD,” jelasnya.

KAGUMI PUTRI ARIANI

Bukan Pak Isran kalau tidak bercanda. Ada yang membuat kaget para pejabat ketika Gubernur yang sering disebut “Si Raja Naga” menyinggung soal Putri Ariani dalam sambutannya di Bukit Biru. Seperti warga Indonesia lainnya, Isran ternyata juga takjub dengan penampilan Putri Ariani yang menggegerkan  musik dunia.

“I am Putri Ariani. I am seventeen years old. I am from Indonesia,” kata Isran menirukan ucapan Putri Ariani ketika tampil di panggung America’s Got Talent (AGT). Kontan undangan yang hadir geger sambil serentak bertepuk tangan.

Semua orang tahu dan sangat mengagumi Putri Ariani, yang dalam kondisi tidak mempunyai  kemampuan melihat akan tetapi mempunyai talenta bernyanyi dan memainkan piano  yang sangat luar biasa. Sampai-sampai Presiden Jokowi secara khusus mengundang Putri ke Istana. Lagu karya Putri “Loneliness” jadi mendunia. Lagu itu yang membuat  “juri sadis”  Simon Cowell terkagum-kagum dan tidak ragu-ragu memberikan Golden Buzzer.

Di balik kekaguman Isran kepada Putri, sepertinya ada pesan kuat yang ingin dia sampaikan kepada masyarakat. Yaitu soal kualitas sumber daya manusia (SDM). “Ternyata Indonesia itu hebat. Orang yang punya keterbatasan saja bisa mengguncang dunia,” katanya.

Karena  itu, Isran bertekad habis-habisan mengembangkan program peningkatan kualitas SDM di Kaltim di antaranya melalui program Beasiswa Kaltim Tuntas (BKT). “Tahun ini kita anggarkan Rp 375 miliar untuk siswa dan mahasiswa. Hanya di Kaltim beasiswa digelontorkan besar-besaran,” jelasnya.

Sejak tahun 2019-2023 tidak kurang 150 ribu siswa dan mahasiswa di Kaltim menerima program BKT. “Betapapun hebatnya sumber daya alam yang kita miliki, tapi SDM-nya kurang memadai, maka kita tidak akan pernah mendapatkan manfaat dan nilai yang berarti,” kata Gubernur.

Di tengah kehebatan Putri Ariani, Isran dan warga Kaltim saat ini juga memuji siswa lulusan SMAN 10 Samarinda, Alphero Tanlianto yang diperebutkan 8 universitas terbaik di dunia. Alphero yang pernah meraih medali perak pada Olimpiade Sains Nasional (OSN), akhirnya memutuskan akan menempuh kuliah di Nanyang Technological University (NTU) Singapura.

Alphero bertekad ingin menjadi ahli infrastruktur. Karena itu dia mengambil jurusan civil engineering di NTU. “Kelak saya ingin berkontribusi dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN),” katanya bersemangat.(*)

Laden, Rina, dan Lou Benuaq

July 5, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Bupati Kubar FX Yapan (ketiga dari kiri) bersama Ketua Umum PDKT Syaharie Jaang dan tokoh Benuaq lainnya.

SAYA lama tak bertemu  Pak Laden Mering. Dia tokoh senior Dayak di Kalimantan Timur. Saya dikabari oleh sahabat saya, Bu Meiliana atau Bu Mei ada Pak Laden hadir dalam acara muat ori (pendirian tiang) Lou Pusat Budaya Sempekat Tonyooi Benuaq (STB) Kaltim di Lobang Sembilan RT 10, Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang Samarinda, Senin (3/7).

Pak Laden hadir selain sebagai tokoh yang dituakan, kebetulan istrinya Dra Rina Laden Mering adalah ketua panitia acara tersebut. Ini acara membangun rumah lamin atau lou sebagai pusat budaya etnis Dayak Benuaq, yang banyak mendiami Kutai Barat (Kubar). Itu sebabnya yang datang Bupati Kubar FX Yapan, SH, MH, yang juga ketua STB Kaltim bersama istrinya, Yayuk Seri Rahayu, S.ST.

Di Kubar sendiri ada lamin yang sangat terkenal. Namanya Lamin Mancong atau Lou Mancunk  di Desa Mancong, Kecamatan Jempang. Banyak turis datang ke sini.  Lamin seluas 1.005 meter persegi ini dibangun tahun 1920 dan pernah dipugar oleh Equatorial Heritage International Foundation (EHIF).

Saya kenal  Pak Laden karena kami sama-sama pernah menjadi anggota MPR RI Utusan Daerah masa bakti 1999-2004. Sedang Bu Rina  akrab dengan Bu Mei. Mereka sama-sama dari kampus Unmul. Bahkan masih ada satu teman mereka, yaitu Bu Linda Hartani dari Colorado. Sayang Bu Linda lebih dulu tiada. “Terima kasih Bu Mei bisa hadir, kita bekawal mulai bahari ketika masih imut dan langsing,” kata Bu Rina tertawa.

Dari kiri: Laden Mering, Lampang Bilung, Meiliana, Rina Laden Mering, Hj Puji Setyowati, dan Didi Rudiansyah

Pak Laden dan Bu Rina, pasangan hebat. Usianya sama-sama sudah di atas kepala tujuh. Bahkan Pak Laden sudah 86 tahun, sedang Bu Rina 72 tahun. Mereka dikaruniai 7 anak dan 16 cucu. Ada yang jadi camat, kepala dinas sampai kapolres, ada juga yang anggota DPRD Kaltim. Sedang cucunya ada yang sudah mahasiswa dan sarjana.

Bayangkan sampai sekarang dua-duanya tetap sehat. Saya pernah tanya dengan Pak Laden, apa ramuannya kok tetap segar dan panjang umur. Apa pakai minyak bintang atau bawang tiwai, yang dikenal sebagai bawang dayak.

Minyak bintang terkenal belakangan ini setelah Ibu Ida Dayak menggunakannya sebagai obat mujarab untuk penyembuhan berbagai penyakit. Sedang bawang tiwai dipercaya bisa meningkatkan stamina dan vitalitas laki-laki. Tapi juga baik untuk mencegah kanker dan meningkatkan kepadatan tulang wanita usia menopause.

Gaya Pak Laden memang kalem. Tetapi dia sangat bersahaja dan kaya pengalaman. Bu Rina juga menunjukkan kualitas wanita Dayak yang cerdas, cantik, dan aktif. Dia sempat menjadi anggota DPRD Kaltim dan  dosen bahasa Inggris di FKIP Unmul.

Pak Laden boleh dibilang notaris pertama di Samarinda. Dia mulai aktif di tahun 1970. Setelah 32 tahun bertugas, sejak 2002 memasuki masa purnatugas. Tetapi dia tetap aktif berhubungan dengan dunia hukum, alih medan sebagai pengacara.

Di tengah tugas dan profesinya, Pak Laden dan Bu Rina terus menerus aktif dalam organisasi pengembangan budaya etnis Dayak. Bu Rina menjadi ketua harian Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT) pada era Marthin Billa sebagai ketua umum, dan Dewan Permusyawarahan  Adat Kalimantan.

Mereka berdua termasuk tokoh di balik pembangunan desa budaya  Pampang di Samarinda. Penghuni Desa Pampang adalah warga Dayak Apokayan dan Kenyah, di mana Pak Laden salah satu tokohnya. Bu Rina yang dari etnis Benuaq juga bahu membahu mengembangkan desa budaya Pampang sampai dikenal oleh berbagai turis mancanegara.

Belakangan ini mereka juga terlibat dalam pembangunan Lou Pusat Budaya STB, yang dilakukan oleh Yayasan  Pusat Budaya Sempekat Tonyooi Benuaq (YPB-STB) diketuai  Adrianus Sengkoi dan sekretaris Paulus Suryadi. Yayasan sudah membeli tanah seluas 12 hektare di kawasan Lobang Sembilan, Loa Buah Samarinda.

Di atas tanah itu mulai dibangun  lou sepanjang 100 meter dengan lebar 25 meter dan tinggi 3 meter yang terdiri  dari Museum STB, ruang pertemuan, kantor,  ruang tidur, dan dapur. Ketinggian lou sekitar 3 meter dari permukaan tanah dengan halaman yang luas untuk upacara adat.

Pendirian tiang lou  atau muat tori berlangsung dalam upacara adat Dayak Tonyooi dan Benuaq. Tiang setinggi 10,5 meter dengan lebar keliling 210 cm itu dibuat dari kayu ulin, yang sudah dipahat dengan ukiran. Karena tiangnya sangat berat, maka pendirian dibantu dengan mobil crane.

“Kita bersyukur pembangunan sudah bisa dimulakan dan diharapkan rampung dua tahun lagi,” kata Yapan bersemangat. Hal yang sama juga diutarakan Staf Ahli Gubernur Didi Rudiansyah mewakili Gubernur. “Pemerintah Provinsi  sangat mendukung program ini,” tandasnya.

Sejumlah tokoh Dayak yang hadir juga menyambut baik dimulakannya pembangunan Lou Pusat Budaya STB di Samarinda. Termasuk Ketua Umum PDKT Dr H Syaharie Jaang, SH, MH bersama istrinya, Hj Puji Setyowati, yang juga anggota DPRD Kaltim. “Kita sangat mendukung, karena menambah icon kota Samarinda,” kata Jaang, yang pernah menjadi wali Kota Samarinda dua periode.

Menurut  Bu Rina, pembangunan Lou Pusat Budaya STB menghabiskan biaya Rp 37 miliar. Dananya dihimpun secara gotong royong. Ada dukungan dari Pemerintah Kubar dan Pemerintah Provinsi, ada juga dari kalangan pengusaha, dan tokoh-tokoh adat serta masyarakat. “Kita membuat Gerakan 1.000 Warga untuk menghimpun dana bersama. Pak Gubernur Isran juga siap membantu,” jelasnya.

SEJARAH BENUAQ

Mengutip dari Wikipedia, etnis Dayak Benuaq  dipercaya berasal dari Dayak Lawangan sub suku Ot Danum dari Kalteng. Benuaq tidak lain dari kata benua, suatu wilayah atau teritori tertentu. Konon yang menyebut pertama adalah orang Kutai, karena dinilai telah meninggalkan gaya hidup nomaden.

Tapi cerita versi lain dari penuturan beberapa leluhur, mereka sejak dulu sudah bermukim di wilayah Kutai Barat. Jadi bukan migrasi dari wilayah lain. Malah menurut orang Dayak Benuaq, merekalah yang pertama kali menjejakkan kaki di tanah Samarinda sebelum Kerajaan Kutai resmi berdiri pada abad 4 Masehi.

Menurut legenda Ningkah Olo, ada daerah bernama Luntuq Ayepm (Bukit Trenggiling).  Tempat ini diyakini sebagai sebuah bukit yang merupakan ujung dari Jembatan Mahakam, Samarinda Seberang. Orang Dayak Benuaq ada di situ lalu akhirnya menyingkir ke utara kota, di kawasan Desa Benanga.

Orang Dayak Benuaq juga punya hubungan kekerabatan dengan orang Paser. Karena itu orang Benuaq di Kecamatan Bongan, Kubar berbahasa Benuaq dialek Paser Bawo.

Banyak kesenian Dayak Benuaq yang populer. Di antaranya tarian gantar dan tari pengobatan belian. Ada juga upacara Kwangkai. Selain itu, suku Dayak Benuaq terkenal dengan kain khasnya yang disebut Ulap Doyo. Mirip ulos-nya orang Batak. Ulap doyo yang juga dikembangkan sebagai hiasan dinding dan taplak meja dibuat dari daun doyo yang banyak tumbuh di Danau Jempang.

Orang Benuaq banyak yang berkarier tinggi dan punya prestasi. Selain Pak Yapan dan Bu Rina, sebelumnya ada Drs Yurnalis Ngayoh (gubernur Kaltim 2006-2008), sastrawan Korrie Layun Rampan, Bupati Kubar pertama Ir Rama A Asia, Prof Laurentius Dyson (guru besar antropologi Universitas Airlangga Surabaya), dan Prof Paulus Matius (guru besar Fakultas Kehutanan Unmul Samarinda).

Begitu juga Petrus Asuy (pejuang hutan adat yang menerima penghargaaan Equator Prize dari UNDP) dan Dahrani (Empu Gelow), yang dikenal sebagai seniman pengukir patung Belontang, pengrajin mandau dan penggagas Parade 1.000 Mandau di Samarinda.

Di Balikpapan, saya akrab dengan Ketua Persekutuan Adat Dayak (PDKT) Lampang Bilung. Dia juga hadir dalam acara  muat ori. Lampang dikenal aktif menjaga dan mengembangkan kesenian etnis Dayak. Sering tampil di depan tamu-tamu resmi. Sepertinya Balikpapan juga perlu dibangun Lamin Budaya. Karena di sini awalnya juga ada suku Dayak Paser atau Paser Balik.(*)

Menanti Sapi Jokowi di IKN

July 1, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Gubernur Kaltim Isran Noor menyerahkan sapi kurban Presiden Jokowi.

WARGA di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU) ada yang murung menyambut Iduladha 1444 H, Kamis (29/6). Mereka sebenarnya berharap Presiden Jokowi  mengirim sapi kurban. Apalagi sapinya Presiden jenis “sapi raksasa,” yang populer disebut sapi jenis limosin. Sapi unggul seperti itu belum pernah dilihat langsung oleh warga setempat. Sayangnya harapan itu belum menjadi kenyataan.

“Ya kami agak iri melihat acara penyerahan sapi kurban Presiden di televisi. Seharusnya warga di sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN) juga mendapat jatah satu,” kata Pak Roso menyampaikan aspirasinya penuh semangat.

Pada Iduladha tahun ini, Jokowi membagikan 38 ekor sapi kurban kepada masyarakat di 38 provinsi se-Indonesia. Provinsi Kalimantan Timur mendapat jatah satu ekor.  Diserahkan Gubernur Isran Noor kepada pengurus Masjid Raya Darussalam Samarinda diwakili pembinanya, H Farid Wadjdy, yang juga mantan wagub sehari sebelum Lebaran.

Sapi kurban Jokowi itu beratnya 834 kilogram. Presiden membelinya dari Prayitno, warga Makroman Samarinda. Itu desa transmigran yang dibuka tahun 1970-an. Harga sapinya Rp 84 juta. “Alhamdulillah, sapi saya yang dibeli Bapak Presiden. Berkah…berkah,” kata Prayitno bangga dan haru.

Pengadaan sapi kurban Jokowi memang diupayakan dibeli dari peternak setempat. Tapi syaratnya bobot sang sapi  harus di atas 800 kg. Sukasno, peternak asal Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah sempat viral gara-gara sapinya nyaris tak jadi dibeli Presiden. Dia kecewa dan sempat jadi topik pemberitaan. Akhirnya sapi bernama Bima milik Sukasno tetap dibeli Istana. “Alhamdulillah perasaan saya lega (sapi saya) sudah dibeli Bapak Presiden,” katanya tersenyum.

Tampaknya sapi kurban Presiden yang terbesar adalah yang diserahkan  ke pengurus Masjid Istiqlal Jakarta. Beratnya 1,2 ton. Lebih berat 100 kg dari sapi kurban Wapres KH Ma’aruf Amin yang juga diserahkan ke Istiqlal. Kontan kedua sapi itu menjadi tontonan dan objek foto oleh para jamaah masjid. Harganya tidak tanggung-tanggung. Sekitar Rp 100 juta per ekor. Kedua sapi itu disembelih Sabtu kemarin.

Menurut Pak Roso, seharusnya masyarakat sekitar IKN mendapat perhatian khusus dari Jokowi. Bukankah IKN program istimewa Presiden? Apalagi IKN itu wilayah setingkat kementerian dan boleh dibilang bukan wilayah Kaltim lagi. “Jadi seharusnya kita juga mendapat satu ekor kurban dari Pak Jokowi,” ucapnya.

Terlepas tidak adanya sapi Jokowi, keluarga besar Otorita IKN pada Iduladha 1444 H menyerahkan 5 ekor sapi kurban dan 5 ekor kambing kepada warga sekitar wilayah IKN di Sepaku. Penerimanya masyarakat Desa Bukit Raya, Bumi Harapan, Karang Jinawi serta Kelurahan Sepaku dan Pemaluan.

“Kepala Otorita IKN Pak Bambang Susantono juga mengajak tokoh masyarakat dan ulama setempat bersama para pekerja melaksanakan salat Id bersama di lokasi Hunian Pekerja Konstruksi (HPN). Alhamdulillah suasananya sangat akrab diakhiri makan bersama,” kata Kustaman, mantan Sekcam Sepaku yang bergabung ke Humas Otorita IKN.

IKUT NYEMBELIH

Sebagai ketua umum Masjid Agung At Taqwa Balikpapan, saya juga sibuk mengurusi pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di masjid tersebut. Acara dilaksanakan seusai salat Iduladha. Salatnya berlangsung lancar. Sambutan Wali Kota disampaikan Wakil Ketua DPRD Sobari. Imamnya ustaz M Rifaat Jailani, putra imam besar KH Jailani Mawardi yang masih kuliah di Yaman. Sedang bertindak sebagai khatib Ketua PC NU KH Muslih Umar, S.Pdi

Pada Iduladha tahun ini jumlah kurbannya meningkat. Ada 24 ekor sapi dan 8 ekor kambing. Di antaranya kurban dari Wali Kota Rahmad Mas’ud, Danlanal Balikpapan, Bankaltimtara Syariah, PT Gunung Bayan, PT Kutai Refinery Nusantara (KRN), H Asfiah, H Amran, Hj Jumiati S Martin, Ibu Kati,  Radio Onix, Toko Jempol Jaya, Happy Puppy, dan sejumlah kumpulan arisan jamaah.

Ketua panitia pelaksana kurban At Taqwa H Anshori, SH didampingi  Slamet Djunaidi, M.Si pensiunan sekcam dan kahumas. Meski didukung 98 personel, tidak gampang juga melaksanakan penyembelihannya. Ada saja kekurangannya termasuk ada sapi yang stres.

Saya sempat didaulat ustaz Hari Supriyono menyembelih seekor sapi. Padahal seumur-umur saya belum pernah melakukan itu. Dengan mengucapkan asma Allah dan takbir saya melaksanakan tugas itu. Alhamdulillah berjalan lancar, meski saya sempat deg-degan juga. “Wah, Kai sudah lulus jadi panitia kurban,” kata cucu saya Defa dan Dafin, yang datang menyaksikan.

Setelah itu hampir tiga jam saya ikut berdiri menimbang dan mengemasi daging kurban. Maklum Masjid Agung At Taqwa menyebar 2.600 kupon, baik untuk warga di sekitar lingkungan masjid, maupun kepada warga lainnya yang berhak menerima. “Luar biasa Pak Ketua terjun langsung,” kata Pak Nanang Syarifuddin, ketua RT yang jadi petugas masjid juga.

Sejumlah wartawan menanyai saya soal tas plastik yang digunakan karena tidak ramah lingkungan. Panitia memang belum mendapatkan kantong kresek pengganti. Saya tahu ada bioplastik, kemasan yang terbuat dari bahan kimia alami dan mudah terurai. Mudah-mudahan tahun depan sudah dapat dipergunakan.

Meski antreannya cukup panjang, kegiatan pembagian daging hewan kurban berjalan lancar. Apalagi dibantu Babinkabtimas Aiptu Parman. Sempat datang juga memantau Lurah Klandasan Ulu Ibu R Novi Invani. Dan pemeriksaan kesehatan hewan dari tim dokter Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Balikpapan.

Malamnya kaki saya pegal luar biasa.  Tapi saya bahagia dan bersyukur bisa terlibat dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban. Mulai mengirim surat permohonan hewan kurban kepada shohibul qurban atau muqorib, mendata penerima terutama warga sekitar masjid dan fakir miskin, ikut menyembelih sampai menimbang dan mengemasi.

Ada warga yang datang meminta kepalanya. Saya tanya untuk apa? “Saya mau buat konro kepala sapi. Silakan Bapak datang kalau sudah masak,” katanya mengundang saya.(*)

Alphero Siap ke IKN

June 30, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA pikir prestasi SMA Negeri 10 Samarinda sudah habis. Ternyata tidak begitu. Setidaknya dengan viralnya Alphero Tanlianto, yang diperebutkan 8 universitas hebat di negeri orang pada saat ini. Dia baru saja lulus Mei 2023 lalu dan tengah mempersiapkan diri masuk ke bangku kuliah bersama teman-temannya yang lain.

Alphero bersama kedua orangtua dan adiknya

Ketika dia mendaftar ke sejumlah perguruan tinggi melalui program Beasiswa Indonesia Maju (BIM), ternyata ada 8 universitas terbaik di luar negeri siap menampungnya. Kontan dia jadi viral.  Siapa bilang daerah yang kaya sumber daya alam, tumpul otaknya?

Ke-8 universitas yang berebut menerima Alphero itu adalah University of Toronto (Kanada), University of British Columbia (Kanada), Wageningen University & Research (Belanda), Curtin University (Australia), Monash University of Sydney (Australia), Universitas of New South Wales (Australia), dan Nanyang Technological University (NTU) di Singapura.

Alphero sempat bingung memilih. Tapi ada Schoters, platform edutech untuk akses pendidikan ke luar negeri membantunya. Akhirnya dia memutuskan akan berlabuh di NTU. Dia melihat ranking universitas itu lebih tinggi, terutama fakultas atau jurusan yang menjadi pilihannya, yaitu teknik sipil atau civil engineering. Lagi pula orang tuanya merestui dan minta jangan terlalu jauh jaraknya dari Indonesia. Biar gampang ditengok atau pulang.

Selain itu, ada pertimbangan strategis yang menjadi mimpi dan tekadnya. Dia ingin berkontribusi kuat dalam pembangunan infrastruktur di Ibu Kota Nusantara (IKN).   “Saya janji jika selesai menimba ilmu di NTU, saya segera balik ke kampung halaman. Sebagai anak Samarinda, saya siap ikut meningkatkan pembangunan infrastruktur di Kaltim khususnya di IKN,” kata Alphero bersemangat.

NTU adalah perguruan tinggi negeri tertua nomor 2 di Singapura. Didirikan tahun 1981. Kampus universitas ini terletak di kawasan industri Jurong, bagian baratdaya Singapura dan memiliki areal seluas 2 km persegi, yang membuat NTU menjadi universitas terbesar. Dia juga punya dua kampus lain, yaitu di lokasi Novena dan One-North.

Dengan jumlah mahasiswa 23.951 orang dan 3.846 tenaga pengajar, NTU menduduki peringkat 1 universitas termuda (di bawah 50 tahun) menurut QS World University Rankings. Secara umum, NTU menduduki peringkat 10 di dunia dan nomor 2 di Asia.

Jurusan civil engineering NTU adalah jurusan favorit dan paling banyak diminati.  Di jurusan ini berbagai disiplin bisa dipelajari. Di antaranya  perencanaan pembangunan, infrastruktur, pengelolaan dan pemeliharaan sebuah bangunan. Bangunan yang dimaksud adalah gedung, perkantoran, jalan raya, bandara, dan lainnya.

Banyak anak Indonesia kuliah di sana. Karena itu ada organisasi intrakampus bernama PINTU (Pelajar Indonesia di NTU). Ini adalah wadah pelajar Indonesia yang belajar di NTU. Mereka bikin berbagai kegiatan menarik . Di antaranya  get together day (GTD) untuk menyambut mahasiswa baru. Ada NiRu (Night Run) yaitu lari bersama di malam hari dan diakhiri makan bubur dan minum milo serta T-Spray (Traditional SPortand cultural daY) yaitu acara perayaan kemerdekaan RI dengan menampilkan seni tradisional dan bermain olahraga tradisional bersama.

Alphero bersama teman-temannya di sekolah

Sejak duduk di bangku SMP, Alphero sudah berprestasi. Dia berhasil meraih medali perak untuk Olimpiade Sains Nasional (OSN) di bidang IPA. Dia juga sangat tertarik dengan bidang riset. Karena itu dia digaet oleh Kedutaan Amerika Serikat menjadi salah satu dari empat siswa Indonesia yang dipanggil untuk mengikuti UNVIE Space Camp Exchanges 2022.

Mereka yang mengikuti program tersebut mendapat pelatihan dan pengalaman mengenai ruang angkasa, termasuk berkenalan dengan astronot, simulasi gravitasi bulan, hingga menjadi tim pelaksana keberangkatan roket.

“Kami sangat bangga ada anak Kaltim yang lolos ke NTU melalui program BIM yang dilaksanakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas),” kata Radyum Ikono, CEO Schoters Indonesia.

BIM merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menyemai bibit generasi masa depan Indonesia unggul. Ini juga selaras dengan misi Schoters untuk menciptakan berbagai karya dan inspirasi untuk negeri dengan mendorong anak bangsa memperoleh pendidikan terbaik di dunia.

Pihak SMAN 10 Samarinda optimis Alphero sukses menjalani program pendidikan di NTU. “Dia anak hebat dan menjadi salah satu siswa terbaik kami,” kata Mushadi, guru matematika sekaligus wakil kepala sekolah urusan kehumasan.

SEMPAT RIBUT

SMA 10 Samarinda juga populer disebut SMA Plus. Sekolah ini memang digagas punya nilai plus dibanding sekolah lain. Karena itu mereka hanya menerima anak-anak tamatan SMP terbaik se-Kaltim agar kualitas sekolah dan siswa benar-benar plus.

Sekolah ini didirikan pada era Gubernur HM Ardans, SH sebagai  hasil kerjasama dengan Yayasan Melati yang dipimpin Haji Rusli, pemilik Hotel Mesra Samarinda. Tanahnya milik Pemprov, sedang bangunan dan fasilitas lainnya milik Yayasan.

Haji Rusli tidak sekadar pengusaha, tapi dia memang tokoh Kaltim yang sangat bersemangat memajukan pendidikan anak-anak daerah. Maklum  dia pernah jadi guru di SMEA dan asisten dosen di kampus Unmul. Juga tokoh politik, yang pernah menjadi anggota DPRD Kaltim.

Ketika diresmikan Menteri Pendidikan Prof Wardiman Djojonegoro pada 11 Desember 1997, kepala sekolah pertamanya adalah Drs Harimurti WS, MM. Tokoh pendidikan berusia 69 tahun ini baru saja meninggal dunia, hari Rabu (28/6) pukul 13.30 di RS Dirgahayu Samarinda.

Selain di SMAN 10, dia pernah menjadi kepala SMPN 11, SMPN 1, mantan Kabid Dikmenjur Diknas Kaltim dan Kadisdik Samarinda. Hari juga aktif di Pengprov IPSI dan KONI. Dia pendiri Paguyuban Arek-Arek Suroboyo dan penasihat Ikapakarti Kaltim. “Pak Hari berjasa untuk kemajuan SMA 10,” kata para guru di sana.

Sejak Harimurti bertugas, pertumbuhan SMA 10 tumbuh pesat sebagai sekolah unggulan. Tapi sekolah ini tersedak di tahun ke-13. Benar juga kata orang angka 13 tidak terlalu baik. Kerjasama Yayasan Melati dan Pemprov Kaltim putus, buntut dari perseteruan  Haji Rusli dengan Gubernur Awang Faroek Ishak.

Mereka saling gugat dan usir. Akhirnya dua-duanya hengkang dari kampus lama di Jl HAM Rifaddin RT 25 Harapan Baru, Kecamatan Loa Janan Ilir. Haji Rusli membentuk yayasan baru bernama Yayasan Bunga Bangsa dengan mendirikan sekolah Islam terpadu bertaraf internasional di kawasan Murgirejo, Sungai Pinang. Sedang Pemprov Kaltim membangun gedung baru SMA 10 di Jl PM Noor, Sempaja Selatan, Samarinda Utara.

Setiap ke Samarinda, saya sering melintas di depan kampus SMA 10 di Samarinda Seberang itu. Tak ada lagi kegiatan di sana. Padahal gedungnya masih baik dan bersejarah. Saya tidak tahu persis bagaimana akhirnya silang sengketa itu. Saya masih terngiang ucapan Haji Rusli sebelum meninggal dunia. “Secara pribadi saya tetap baik dengan Pak Awang, meski bersengketa urusan SMA Plus,” katanya saat itu.(*)

Gubernur Kaltim  Dukung Puncak Hari Kearsipan Nasional tahun 2024 di Kaltim

June 28, 2023 by  
Filed under Artikel

SAMARINDA – Penunjukan Provinsi Kalimantan Timur sebagai Tuan Rumah Puncak Peringatan Hari Kearsipan ke-53 Tahun 2024 yang dikirim melalui aplikasi Srikandi dari Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mendapatkan tanggapan positif dari Gubernur Kalimantan Timur H. Isran Noor.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Kalimantan Timur H.M Syafranuddin menyampaikan langkah setelah mendapatkan surat penunjukan hasil Executive Board Meeting pada tanggal 23 Mei 2023, secara resmi Provinsi Kalimantan Timur terpilih untuk menjadi tempat penyelenggaraan puncak peringatan Hari Kearsipan ke-53 Tahun 2024 yang akan dilaksanakan pada bulan Mei atau Juni Tahun 2024 mendatang.

Syafranuddin menyampaikan telah menghadap gubernur dan mendukung Kaltim tuan rumah HUT Kearsipan se Indonesia tahun 2024,” kata HM. Syafranuddin, Rabu (28/6/2023).

Isran Noor pada saat menerima Kepala DPK Kaltim  berpesan agar pelaksanaan Hari Kearsipan 2023  direncanakan dan disusun dengan sebaik-baiknya, ciptakan suasana nyaman dan punya kesan yang tak terlupakan bagi peserta.

Menurut Syafranuddin, setelah mendapatkan restu gubernur,  dalam waktu dekat akan membentuk Panitia Nasional dan kepanitiaan Daerah. Sedangkan untuk tempat pelaksanaan kemungkinan besar di Kota Samarinda.(mun)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1590869
    Users Today : 4239
    Users Yesterday : 7722
    This Year : 527379
    Total Users : 1590869
    Total views : 13713806
    Who's Online : 69
    Your IP Address : 216.73.216.54
    Server Time : 2026-04-03