Apresiasi hingga Pola Asuh Jadi Materi Seminar Kesehatan Mental

June 16, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Share this news

TENGGARONG SEBERANG – Seminar dan Sosialisasi Kesehatan Mental di SMA Negeri 2 Tenggarong Seberang tidak hanya menghadirkan penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang dialog antara peserta dan narasumber.

Suasana hangat dan penuh antusiasme terlihat saat para siswa aktif mengajukan pertanyaan terkait persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu pertanyaan disampaikan oleh Robiatul Adawiyah, siswi kelas XI, yang mengaku sering menjadi tempat curhat teman-temannya. Namun, niat baik yang ia berikan melalui nasihat kerap mendapat respons yang tidak sesuai harapan.

“Saya sering menjadi tempat curhat, dan ketika saya memberikan nasihat justru saya mendapatkan respons sebaliknya. Padahal saya ingin membantu, dan teman saya playing victim,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Praktisi Hipnoterapi, Endro S. Efendi menjelaskan, perilaku tersebut dapat dipengaruhi pengalaman masa lalu, termasuk minimnya apresiasi yang diterima seseorang saat tumbuh dan berkembang.

“Bisa jadi sejak kecil ia jarang mendapatkan apresiasi. Perilaku itu terkadang menjadi cara untuk mencari perhatian dan pengakuan dari lingkungan sekitar,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Husnul Khatimah mempertanyakan alasan kegiatan kesehatan mental lebih banyak menyasar kalangan pelajar dibandingkan orang tua.

“Kenapa kegiatan ini menyasar kepada siswa, bukan orang tua? Karena saya sebagai anak sudah berulang kali mengajak orang tua beribadah, tetapi tidak berhasil,” katanya.

Menjawab pertanyaan tersebut, Ria Atia Dewi menjelaskan, pendekatan kepada generasi muda merupakan salah satu upaya membangun perubahan jangka panjang.

“Pola asuh generasi terdahulu berbeda. Karena itu, edukasi kepada generasi muda diharapkan dapat memutus rantai pola asuh yang kurang tepat dan melahirkan agen perubahan di masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Endro menambahkan tidak sedikit orang tua tumbuh dalam lingkungan yang minim edukasi mengenai kesehatan mental. Berbagai tuntutan hidup yang mereka hadapi membuat perhatian lebih banyak tercurah pada pemenuhan kebutuhan ekonomi dibandingkan pemahaman terhadap kondisi psikologis keluarga.

Menurutnya, kondisi tersebut bukan untuk disalahkan, melainkan dipahami sebagai bagian dari tantangan yang perlu diperbaiki bersama melalui edukasi yang berkelanjutan. (rad)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb