Mengejar Target Stunting Di Bumi Batiwakkal

June 8, 2026 by  
Filed under Berau

Share this news

TANJUNG REDEB – Di balik keindahan alam Kabupaten Berau yang memesona, ada sebuah perjuangan senyap yang sedang dipertaruhkan di meja-meja Posyandu. Ini bukan sekadar tentang angka atau grafik di atas kertas, melainkan tentang masa depan ribuan anak yang kelak akan memimpin daerah ini.

Pemerintah Kabupaten Berau saat ini sedang berkejaran dengan waktu, memendam mimpi besar menyusutkan angka stunting hingga tersisa 5 persen pada tahun 2045. Namun, jalan menuju ke sana ternyata masih diselimuti kabut tebal tantangan.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terbaru, prevalensi stunting di Berau masih bertengger di angka 23,4 persen. Jika digambarkan secara sederhana, hampir satu dari setiap empat balita di Bumi Batiwakkal mengalami gangguan pertumbuhan. Ironisnya, angka ini justru menunjukkan tren kenaikan dari tahun sebelumnya sebuah alarm keras bagi kita semua.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, dengan nada bicara yang penuh penekanan mengingatkan stunting bukanlah masalah statistik semata. Ini menyangkut masa depan generasi penerus daerah. Penanganan stunting harus dilakukan secara serius, terintegrasi, dan melibatkan seluruh pihak,

“Misi besar Berau untuk memangkas stunting menjadi 14,4 persen di tahun 2029, dan finis di angka 5 persen pada 2045, mendadak menghadapi tembok besar bernama partisipasi masyarakat,” tegasnya, Sabtu (06/06/2026)

Ia membeberkan data, total Balita di Berau ada 23.105 anak, rutin terpantau 40 persen atau  9.242 anak dan belum terpantau optimal 60 persen atau 13.000 anak. Artinya, ada lebih dari 13 ribu balita yang tumbuh kembang dan status gizinya masih misterius karena tidak pernah menginjakkan kaki di Posyandu.

“Bagaimana kami bisa mengobati jika tidak tahu siapa yang sakitnya,” terangnya

Gamalis menilai, jika masyarakat enggan membawa anaknya ke Posyandu, pemerintah akan kehilangan radar untuk melakukan deteksi dini. Sebaliknya, semakin ramai Posyandu, semakin akurat data yang didapat, dan intervensi bantuan gizi pun bisa langsung mengetuk pintu rumah yang tepat.

Di tengah rapor merah kehadiran Posyandu, ada kabar baik yang patut diapresiasi. Berau yang dulunya sempat berada di posisi akhir dalam penilaian kinerja penanganan stunting di Kalimantan Timur, kini telah melompat jauh.

Berkat kerja keras lintas sektor, Berau sukses merangsek naik ke posisi tiga besar kabupaten/kota dengan kinerja terbaik di Kaltim. Sebuah pembuktian mesin kolaborasi pemerintah daerah sebenarnya sudah mulai panas dan berjalan di jalur yang benar.

Prestasi masuk tiga besar tentu membanggakan, namun Gamalis mengingatkan agar semua pihak tidak cepat berpuas diri. Pekerjaan rumah terbesar justru ada di akar rumput: mengetuk hati para orang tua agar mau meluangkan waktu membawa buah hati mereka ke pelayanan kesehatan terdekat.Target Berau bukan sekadar memenangkan penghargaan atau menurunkan persentase angka.

“Target aslinya adalah memastikan anak-anak Berau tumbuh dengan otak yang cerdas dan fisik yang kuat,” pungkasnya

Mimpi tahun 2045 memang masih panjang, namun langkahnya harus dimulai dari sekarang dari setiap kayuhan langkah ibu yang membawa anaknya ke meja Posyandu. Sebab, investasi terbaik suatu daerah bukan pada batu bara atau pariwisatanya, melainkan pada senyum sehat anak-anaknya.(Dy/Ok/Adv)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb