Wangi Surga Cokelat Berau di Pasar Dunia

June 6, 2026 by  
Filed under Berau

Share this news

TANJUNG REDEB – Nama Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, mendadak harum di panggung kuliner internasional. Bukan karena destinasi wisata pesisirnya, melainkan berkat biji kakaonya. Cita rasa kakao Berau sukses menembus rating tertinggi nasional dan kini menjadi incaran utama industri cokelat premium dunia. Namun, di balik sorotan lampu panggung global itu, tersimpan sebuah fakta pahit: para petani lokal tertatih-tatih memenuhi membludaknya pesanan.

Bagi Bupati Berau, Sri Juniarsih, fenomena ini adalah peluang emas yang harus dikejar. Sinyal itu bukan sekadar hisapan jempol. Sejak awal tahun 2026, geliat ekspor sudah terasa nyata. Sebanyak 10 ton kakao Berau sukses melenggang ke Prancis, mendarat di dapur Valrhona salah satu produsen cokelat mewah paling prestisius di dunia.

Momentum emas ini menggelinding bak bola salju hingga ke Amsterdam, Belanda. Lewat sebuah kesepakatan pameran di sana, keran ekspor baru terbuka sebesar 50 ton per tahun. Tak butuh waktu lama, Jepang dan Swiss pun ikut mengantre di garis depan. Negeri Sakura menyatakan siap menyerap 500 ton per tahun, disusul Swiss dengan permintaan 50 ton per tahun.

“Ini peluang besar untuk kita, karena cokelat Berau masih berada di rating tertinggi,” tegas Sri Juniarsih, Jumat (5/6/2026).

Jika ditotal, ada 610 ton permintaan global yang mengalir setiap tahunnya. Sebuah angka yang fantastis, sekaligus mencemaskan. Data dari Dinas Perkebunan Berau mencatat luas lahan kebun kakao di wilayah ini baru menyentuh 1.037 hektare. Hasil panen saat ini sudah habis tak bersisa hanya untuk memenuhi kontrak-kontrak yang berjalan. Ketika pesanan baru terus berdatangan, Berau kehabisan ‘bensin’.

Kepala Dinas Perkebunan Berau, Lita Handini, dengan jujur mengakui bahwa pekerjaan rumah (PR) pemerintah masih menumpuk di tingkat akar rumput, pertama standarisasi fermentasi, proses fermentasi biji kakao antarnilai petani belum seragam, kemudian teknologi tradisional, teknik pengeringan mayoritas masih mengandalkan cara tradisional yang rentan terhadap cuaca dan kualitas SDM, Kapasitas dan pengetahuan petani perlu di-upgrade besar-besaran.

“Penambahan lahan kami fokuskan pada petani yang serius, disertai bantuan alat fermentasi dan pelatihan,” ungkap Lita.

Masuk ke ceruk pasar premium berarti siap bermain dengan aturan yang super ketat. Valrhona dan para pembeli global lainnya tidak hanya membeli rasa, tetapi juga membeli cerita di balik sebutir biji kakao. Mereka mewajibkan, budidaya ramah lingkungan yang berkelanjutan, bebas deforestasi (tidak merusak hutan, dan minim bahan kimia buatan.

Artinya, mengejar kuantitas dengan cara instan adalah haram hukumnya. kualitas, jejak lingkungan, dan keberlanjutan telah menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.

Merespons tantangan ini, Pemerintah Kabupaten Berau bergerak cepat dengan menerapkan Strategi 3 Arah demi mendongkrak ekosistem kakao dari hulu ke hilir. Tak hanya fokus pada perkebunan, Berau kini tengah bersiap mengembangkan konsep Agrowisata Kakao.

Lewat konsep ini, pelancong nantinya bisa menikmati pengalaman from tree to bar—melihat langsung dari pohonnya hingga menjadi batang cokelat siap saji.

“Konsep ini diharapkan mampu menarik wisatawan untuk melihat langsung proses budidaya hingga pengolahan cokelat, sekaligus memperkuat promosi produk lokal,” pungkas Lita.

Kini, Berau berada di persimpangan jalan. Dengan permintaan global yang terus meroket, pilihannya hanya dua: cepat beradaptasi membenahi hulu, atau kehilangan momentum emas ini selamanya(Dy/Ok/ADV)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb