ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

BPJS Tak Berlaku, Pasien Bayar Jutaan Rupiah

July 17, 2023 by  
Filed under Kutai Timur

Share this news

SANGATTA – Meski sudah ada BPJS, salah seorang pasien yang dirawat di Rumah Sakit Pratama Sangkulirang, harus mengeluarkan kocek sampai jutaan rupiah. Alasannya, kartu BPJS yang dimiliki itu tidak berlaku.

Mendengar laporan warga yang dirawat di rumah sakit dan mengekuarkan uang jutaan rupiah tersebut, salah satu anggota DPRD Kutim Faizal Rachman marah. Sebab, kartu BPJS pasien tersebut dia sendiri yang menguruskannya, setelah sehari dirawat di rumah sakit tersebut.

Faizal Rachman

“Kartu BPJS waktu itu langsung bisa aktif dan dapat digunakan. Kenapa pihak rumah sakit menyatakan tidak bisa. Ini yang membuat saya kesal dan prihatin. Kok masih ada rumah sakit pemerintah yang menolak BPJS, padahal semua rumah sakt sekarang bekerjasama dengan BPJS,” ujar Faizal.

Kemudian Faizal menceritakan kronologis peristiwa tersebut. Saat berada dirumah sakit, keluarga pasien bertanya kepada pihak rumat sakit apakah kartu BPJS kesehatan bisa digunakan. Namun jawaban dari salah seorang pegawai yang bertugas saat itu, menyatakan kartu BPJS-nya tidak bisa dipergunakan.

“Ada warga yang lapor ke saya, bahwa pada tanggal 20 Juni berobat di rumah sakit Pratama Sangkulirang, namun belum memiliki kartu BPJS. Kemudian langsung saya uruskan dan keesokan harinya sudah ada lartu BPJS-nya. Hari itu juga sudha aktif dan bisa digunakan,” ujar Faizal.

“Katanya waktu mendaftar tidak pakai BPJS, nah ini yang salah, padahal pasien masih punya kesempatan tiga hari,” cerita Faizal.

Kendati mendengar kartu BPJS-nya tidak dapat digunakan, keluarga pasien bersepakat tetap melanjutkan perawatan saudaranya di rumah pada sore harinya.

Politisi Partai PDI Perjuangan ini semakin kesal, ketika mendengar  jumlah tagihan yang harus dibayar pihak keluarga sebesar Rp 1,7 juta. Selain itu, Lanjut Faizal Rachman, ada beberapa obat yang dibeli pihak keluarga pasien bukan dari pihak RS, namun dibeli dari luar rumah sakit yang ditawarkan oleh perawat.

“Perawat itu bilang kalau obatnya tidak tersedia di rumah sakit dan menawarkan ke pihak keluarga pasien apakah beli obat sendiri atau pihak rumah sakit yang membelikan. Jadi pihak keluarga pasien setuju kalau pihak rumah sakit yang membelikan obat itu,” ungkapnya.

Dikatakan, sebelum obat tersebut diaplikasikan ke pasien, pihak keluarga harus membayar cash terlebih dahulu baru kemudian di aplikasikan.

“Nilainya hampir mendekati Rp 3 juta sekitar Rp 2,8 juta yang harus di bayarkan. Jadi totalnya yang harus dibayar selama dua hari pasien itu dirawat sekitar Rp 4,5 juta, padahal BPJS-nya sudah aktif,” bebernya.

Dirinya minta konfirmasi dari Dinas Kesehatan Kutim dan Pihak BPJS kesehatan, kenapa bisa terjadi di rumah sakit yang punya kerja sama dengan pemerintah dan BPJS kesehatan yang harusnya memberikan pelayanan bagi masyarakat malah terjadi seperti ini.

“Harusnya rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS kesehatan, itu harus menyediakan obatnya dan terpenuhi obat-obatnya di rumah sakit. Kalau misalkan ada pasien ada yang masuk, setahu saya BPJS akan bayar preminya itu termasuk biaya perawatan,” pungkasnya. (adv)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.