Peringati Haornas, PKS Kukar Gelar Senam Bersama

September 18, 2022 by  
Filed under Serba-Serbi

TENGGARONG – Partai Partai Keadilan Sejahtera Kutai Kartanegara memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) dengan menggelar senam bersama di area car free day Tenggarong di lapangan Basket Tepian Timbau, Minggu (18/09/2022).

Senam ini dihadiri ratusan peserta dan dilanjutkan membagikan doorprize kepada para peserta berupa sembako dan alat elektronik rumah tangga.

Antusiasme peserta terlihat dengan padatnya tempat acara. Bahkan sebelum acara dimulai para peserta sudah banyak yang menunggu. Anggota DPRD Kutai Kartanegara dari PKS, H. Saparuddin Pabonglean mengatakan kegiatan ini merupakan kegiatan nasional dengan target memecahkan rekor Muri.

“Rekornya adalah senam bersama terbanyak di Indonesia. Tentunya kegiatan ini dalam rangka memperingati Hari Olahraga Nasional Tahun 2022. Terima kasih kepada warga yang telah berpartisipasi dengan banyaknya peserta yang hadir,” ucapnya.

Para peserta menggunakan baju berwarna orange yang merupakan warna khas dari Partai Keadilan Sejahtera. Firnadi Ikhsan, Ketua PKS Kutai Kartanegara mengatakan  senam bersama ini merupakan bentuk dari pengenalan logo baru Partai Keadilan Sejahtera san program PKS menyapa. (**)

Indonesia Menangis, Tiada lagi Prof Azyumardi Azra

September 18, 2022 by  
Filed under Opini

Catatan Ilham Bintang

Innalillahi Wainnailaihi Rojiun. Telah berpulang ke pangkuan Ilahi Rabbi  : Cendekiawan Muslim,  Professor Azyumardi Azra. Almahum mengembuskan nafas terakhir Minggu  (18/9) pukul 12.30 waktu setempat di RS Serdang, Selangor, Malaysia. Ia meninggalkan seorang istri  Ibu Ipah Farihah dan empat anak.

Prof Azyumardi Azra  sempat dua hari dirawat di RS akibat terpapar Covid19.  Virus itu baru diketahui bersarang di tubuhnya saat ditangani di RS Serdang, Malaysia, Jumat (16/9) petang.

Diawali di atas di atas pesawat dalam penerbangan ke Malaysia, sore itu Prof Azyumardi  mendadak terserang  batuk keras, panjang, disertai sesak nafas Dari Bandara Azyumardi langsung dilarikan ke RS yang berjarak 35 km dari Kualalumpur.

“Semalam sudah dalam penanganan intensif tim medis RS Serdang ” kata  Datuk Zakaria A. Wahab, wartawan senior, mantan Pemred Kantor Berita Bernama Malaysia dan Penasihat/Pendiri ISWAMI ( Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia -Indonesia). Tidak lama setelah pecah kabar Prof Azyumardi terserang sakit di seluruh grup WhatsApp wartawan Indonesia dan Malaysia, kami meminta bantuan rekan wartawan di Malaysia untuk ikut memantau. Zakaria wartawan pertama yang merapat di Di RS Serdang. Zakaria  bertemu Dubes RI untuk Malaysia. “Saya sendiri ada bertanya doktor di ruang terbuka, mengesahkan Prof AA dijangkiti covid dan tidak boleh diziarahi, ” tambah Zack, panggilan akrab Zakaria.

Sejak semalam Prof Azyumardi sudah dalam pemantauan KBRI di sana.

Kunjungan dinas di Sumbar

Ketua Dewan Pers itu awal minggu ini mengadakan kunjungan kerja di Sumatera Barat. Ia sempat ke Bukittinggi dan mengunjungi keluarganya di Batusangkar sebelum bertolak ke Malaysia melalui Jakarta. Hari Sabtu ini, sedianya mantan Rektor UIN tersebut jadi salah satu pembicara dalam seminar internasional di Selangor bersama tokoh penting Malaysia, Anwar Ibrahim.

Saksi mata dalam penerbangan adalah Guru Besar Universitas Sumatera, Professor Budi Agustono. Ia dan istri sama-sama berangkat dari Bandara Soekarno Hatta dengan Azyumardi. Mereka sempat ngobrol sejak di bandara hingga di dalam pesawat. Semalam Budi membagi  kisah  yang dilihatnya dalam pesawat di grup WhatsApp wartawan.

“Dua puluh menit sebelum pesawat mendarat, saat saya, istri dan pak Azra sedang bercakap tiba tiba pak Azra batuk tanpa henti, tubuhnya berkeringat dingin. Saya minta dia minum air mineral. Saya memijat tubuhnya yang keringat dingin lalu meminta pramugari memasang selang oksigen di hidung dan mulut. Meski selang terpasang sesak nafasnya tak berhenti, malah tubuhnya begerak ke kiri ke kanan di atas kursi pesawat.

Ketika pesawat parkir dan pintu pesawat dibuka menurunkan penumpang, saya dan istri mengurus kesehatan pak Azra yang diminta turun  belakangan.  Saya dan istri gelisah dan cemas melihat kesehatan pak Azra. Tidak lama sesudah itu kamu bertiga turun dengan selang oksigen  dan dibawa segera ke bed panjang perawatan lalu dilarikan  ambulans ke rumah sakit.  Saya sempat merogoh tas tenteng  Pak Azra mencari telpon, tapi karena bingung dan panik lambat  ketemunya. Akhirnya istri saya menelpon temannya staf khusus Menteri Sosial  meminta bantuan mengabarkan ke istri atau keluarga pak Azra.

Saya sampaikan ke istri antar dan temani Pak Azra demi keselamatan dan keamanan. Kita bantu sekuat kita ke RS di Kuala Lumpur.

Istri saya, Reni Sitawari Siregar, mengantarkan hingga ke dalam ambulans untuk dilarikan ke rumah sakit, sedangkan  saya urus imigrasi di  Bandara,” kisah Prof Budi Agustono.

Tanpa Swab

Indonesia, seperti halnya Malaysia telah menghapus keharusan Swab Antigen/ PCR untuk perjalanan luar negeri. Kondisi itu membuat penumpang pesawat yang terpapar Covid19 dalam kategori orang tanpa gejala ( OTG) sulit terdeteksi. Baru seminggu lalu, Pemerintah Malaysia menghapuskan larangan memakai masker di dalam ruangan.

Saya mengenal Prof Azyumardi cukup lama. Ia pernah menjadi Wartawan Panji Masyarakat (1979-1985). Kesamaan isu atau topik yang kami bahas dalam tulisan masing- masing semakin  mengeratkan hubungan.

Semasa pandemi Covid19 kami intens berkomunikasi. Usia kami sama-rentan terpapar Covid19, sehingga mengatur sebaiknya beraktifitas  dari rumah saha. Suatu hari di tahun lalu, anak cucunya tertular Covid19. Ia mengontak saya meminta dicarikan Ivemertin, obat cacing yang terkenal itu. Yang dipercaya sebagian masyarakat bisa melawan virus Covid19. Masa itu, obat tersebut sangat sulit mencarinya, harganya di pasaran ikut dimainkan karena diburu banyak orang, meski dilarang pemerintah untuk digunakan menyembuhkan Covid19. Kebetulan saya memiliki stock, maka saya kirimlah ke beliau. ” Alhamdulillah, anak cucu berangsur baik, sudah keluar keringat. Terima kasih Pak Ilham,” ucapnya.

Komunikasi semakin  intens sejak pria kelahiran 67 tahun lalu itu ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pers. Begitu menjabat kasus  di dunia pers terus meningkat, membuatnya praktis sejak itu siang malam beraktifitas. Masalah yang paling menyedot perhatiannya adalah RUU KUHP yang mengancam kemerdekaan pers. Ia terjun langsung menghadiri  Rapat Dengar Pendapat ( RDP) dengan Komisi I DPR-RI.

Kolumnis yang sangat produktif itu sering mengirimi saya link tulisannya membahas pelabagai topik di berbagai media kemudian kita bahas bersama. Demikian sebaliknya.

Rabu ( 14/9) lalu kami masih bertegur sapa. Hari itu beliau  sedang berada di Padang, Sumatera Barat. Saya ketahui dari fotonya ketika bersama wartawan Sumbar menghadiri jamuan makan siang Gubernur Sumbar, Buya Mahyeldi Ansharullah.

Foto saya peroleh dari rekan Zulnadi, wartawan senior Pemred Semangat.com di Padang yang hadir dalam jamuan itu. Foto itu kemudian saya forward ke beliau. Seperti biasa dia pun merespons cepat di WA. “Terima kasih pak Ilham. Kolomnya ditunggu,” ucapnya.  Dalam kunjungannya di Sumatera Barat, Azyumardi sempat ke Bukit Tinggi dan mengunjungi keluarganya di Batu Sangkar. Kuat dugaan lantaran kecapean melakukan perjalanan dinas yang membuat kondisinya drop dan dengan mudah diserang virus Covid19 yang secara obyektif sebenarnya penyebarannya sudah menurun di Indonesia dan di berbagai belahan dunia.

 Intelektual segudang prestasi

Bukan hanya kalangan pers yang kehilangan Prof Azyumardi Azra, tetapi juga seluruh bangsa Indonesia.

Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, M.Phil., M.A., CBE CBE kelahiran 4 Maret 1955 adalah akademisi Muslim asal Indonesia. Ia  dikenal luas sebagai cendekiawan muslim.

Azyumardi terpilih sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1998 dan mengakhirinya pada 2006. Pada tahun 2010, dia memperoleh titel Commander of the Order of British Empire, sebuah gelar kehormatan dari Kerajaan Inggris dan menjadi ‘Sir’ pertama dari Indonesia. Pada 2022, Azyumardi terpilih menjadi Ketua Dewan Pers periode 2022-2025.[5][6]

Riwayat pendidikan tinggginya sendiri dimulai sebagai mahasiswa sarjana di Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta pada tahun 1982, kemudian atas bantuan beasiswa Fullbright, ia mendapakan gelar Master of Art (MA) pada Departemen Bahasa dan Budaya Timur Tengah, Columbia University tahun 1988. Ia memenangkan beasiswa Columbia President Fellowship dari kampus yang sama, tetapi kali ini Azyumardi pindah ke Departemen Sejarah, dan memperoleh gelar MA pada 1989.

Saya dikirimi foto sewaktu almarhum mengenakan selang oksigen di dalam pesawat hingga di ketika di rawat di RS hari Jumat itu. Dalam tulisan kemarin ” Kisah  Prof Azyumardi Azra yang  Terpapar Virus Covid-19″ (Sabtu,17/9) saya memanjatkan doa kesembuhannya segera. Semoga Allah SWT menjabahnya dengan memberi kesembuhan kepada cendekiawan penting Indonesia  itu, yang berpembaan  humble namun sangat kritis.

Tetapi Allah SWT berkehendak lain. Dia lebih menyanginya, maka Tuhan pemilik alam semesta beserta seluruh isinya, memanggilnya pulang.  Insya Allah Tuhan menyediakan tempat lapang, nyaman, dan indah di sisiNya.(*)

“Anak Pandemi”

September 18, 2022 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

CUCU saya Dafin akhir-akhir ini punya kebiasaan baru. Saat pulang sekolah dia tak mau langsung dijemput. Dia minta waktu untuk nongkrong bersama teman-temannya. Malah di foto yang dieditnya sendiri, dia menuliskan kata-kata menarik. “Nongkrong di sekolah mantap. Juga deket rumah temen. Buat nongkrong.”

Saya tanya ke Dafin apa maksudnya? Dia jawab santai, mau main dulu dengan teman-teman. Sambil makan dan bercanda. “Asyik juga  nongkrongnya, Kai,” katanya tertawa.

Begitu tiap hari dia lakukan. Dia sekarang duduk di kelas 1 Sekolah Islam Terpadu (SIT) di Balikpapan Baru. Usianya 6 tahun. Sedang abangnya, Defa di kelas 3. Mereka juga suka kegiatan ekstrakurikuler sekolah, seperti berlatih bela diri dan main futsal.  Termasuk juga dikenalkan berbagai hewan seperti ular. Padahal saya paling takut dengan ular.

“Mereka itu ‘anak pandemi,’ selama dua tahun di PAUD hanya belajar lewat daring. Tak pernah bertemu temannya secara langsung, jadi sepertinya sekarang balas dendam,” kata si nenek, Bunda Arita, yang akrab mereka panggil “Ibu.”

Istilah “anak pandemi” disematkan kepada anak-anak yang lahir di masa pandemi Covid-19 terutama pada tahun 2020 dan 2021. Termasuk juga anak-anak prasekolah dan sekolah, yang hanya sekolah di rumah, sebab sekolahnya tutup. Begitu juga anak-anak remaja, yang duduk di bangku sekolah lanjutan atau universitas.

UNICEF (United Nations Children’s Fund) alias lembaga Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa pernah melaporkan, lebih dari setahun semenjak Covid-19 merebak, terdapat 80 juta anak dan remaja di Indonesia yang menghadapi dampak sekunder yang meluas, yaitu terhadap pembelajaran, kesehatan, gizi, dan ketahanan ekonomi.

Seperti kita ketahui, Unicef adalah organisasi PBB yang memberikan bantuan dana kemanusiaan dan perkembangan kesejahteraan jangka panjang bagi anak-anak dan ibunya di negara-negara berkembang.

Pandemi dinyatakan menghambat pendidikan jutaan pelajar, membatasi akses penting ke layanan kesehatan, gizi dan perlindungan serta menyebabkan keluarga-keluarga harus berjuang keras untuk mempertahankan kondisi keuangannya.

UNICEF juga melihat, perubahan rutinitas sehari-hari akibat pandemi juga berdampak terhadap kesehatan mental dan emosional anak dan remaja. Hampir separuh rumah tangga melaporkan, anak mengalami tantangan perilaku seperti sulit berkonsentrasi (45 persen), mudah marah (13 persen) dan sulit tidur (6,5 persen).

Sebuah penelitian di Amerika Serikat yang dikutip Bisnis.com perlu juga kita cermati dengan saksama. Di situ disebutkan, bahwa anak-anak yang lahir selama masa pandemi, secara signifikan memiliki kinerja verbal, motorik, dan kognitif keseluruhan yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang lahir sebelum pandemi.

Kehidupan bayi dan anak-anak berubah akibat Covid-19 yang memicu penutupan bisnis, pembibitan, sekolah dan taman bermain. Orangtua juga stres dan tegang ketika mereka mencoba menyeimbangkan pekerjaan dan pengasuhan anak.

Dengan stimulasi terbatas di rumah dan lebih sedikit interaksi dengan dunia luar, anak-anak era pandemi tampaknya mendapat skor yang sangat rendah pada tes yang dirancang untuk menilai perkembangan kognitif, kata penulis utama studi Sean Deoni, profesor pediatri di Brown University seperti dikutif TheGuardian.com.

Menurut Deoni, alasan terbesar di balik penuruan skor kemungkinan adalah kurangnya stimulasi dan interaksi di rumah. “Orangtua stres dan lelah dan interaksi yang biasanya didapat anak telah menurun secara substansial,” tambahnya.

Itu penelitian pada keluarga di Amerika Serikat. Padahal  ini negara maju, di mana tingkat pendapatan dan pelayanan lainnya termasuk kesehatan terbilang baik. Dapat dibayangkan apa yang terjadi pada keluarga negara berkembang atau negara miskin. Hampir pasti kondisinya lebih buruk lagi.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DKI Jakarta, Rini Sekartini berpendapat, hanya berdiam di rumah memang akan berdampak pada tumbuh kembang anak. “Kalau melihat beberapa studi yang dilakukan, itu berdampak, terutama pada perilaku anak. Kecemasan juga meningkat,” katanya kepada KOMPAS.com.

Masalah-masalah psikologis yang disebutkan tadi, khususnya akan muncul pada anak usia prasekolah dan sekolah. Sebab, anak di usia tersebut memang sudah seharusnya mengenali lingkungan di luar rumah dan bermain dengan teman sebaya.

TIDAK TERCAPAI

Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Jumeri STP, M.Si mengakui betapa besarnya kendala yang dihadapi kita semua ketika diterapkan sistem pendidikan daring selama pandemi.

“Guru-guru  kesulitan untuk mencapai target pembelajaran karena jam belajar dikurangi, sedangkan orangtua kesulitan untuk memahami materi yang dipelajari oleh anak,” kata Jumeri pada Postgraduate Symposium beberapa waktu lalu.

Direktur Sekolah Dasar Dra Sri Wahyuningsih, M.Pd mengatakan pandemi telah memorak-porandakan semua lini kehidupan, termasuk pendidikan. “Hanya saja, jika semua bisa melewati situasi ini dengan baik, maka kita terutama anak akan menjadi lebih tangguh,” tambahnya.

Usman Djabbar, M.Pd, ketua Komunitas Guru Belajar Nusantara berpendapat, ada tiga warisan pandemi yang tidak boleh dihilangkan di satuan pendidikan. Meski sekarang kita sudah memasuki masa transisi atau pasca-pandemi.

Pertama, guru harus belajar dan berbagi. Kedua, budaya inovasi seperti melakukan pembelajaran melalui project based learning. Ketiga, warisan teknologi Pendidikan yaitu memahami konsep verifikasi perbandingan sistensi uji coba produksi, pengetahuan, kesempatan berkolaborasi dengan ekosistem yang berbeda dengan menggunakan teknologi.

“Ketiganya ini adalah warisan pandemi yang jangan sampai hilang begitu saja ketika belajar tatap muka sudah kembali,” katanya.

Saya lihat cucu saya Defa dan Dafin serta teman-temannya sangat ceria mengikuti kegiatan sekolah yang sudah menerapkan belajar tatap muka. Protokol kesehatan tetap mereka perhatikan. Memakai masker dan mencuci tangan menggunakan sabun atau menggunakan handsanitizer.

Guru-guru di SIT saya lihat juga berusaha sebaik mungkin memberikan pembelajaran dan pendidikan kepada anak-anak, agar tidak canggung dan cepat beradaptasi dengan sistem belajar tatap muka. Sistem daring tetap diberlakukan malam hari untuk memberikan pelajaran membaca Alquran.

Sebelum belajar, anak-anak diajak berdoa dan salat dhuha. Kegiatan ekstranya juga sangat beragam. Mulai olahraga sampai mengenal alam. Belanja camilan di warung sekolah dibatasi. Anak-anak tidak boleh belanja semaunya.

Tiap anak  juga dilatih mengembangkan diri menjadi seorang enterpreneur atau pengusaha UMKM. Mereka bawa barang jualan dari rumah, lalu dijual kepada teman-temannya. Ada yang buatan sendiri meski dibuatkan ibu, ada juga beli dari toko.

Dafin sempat jualan susu kotak. Laris sekali. Hanya disisakan satu, yang lain habis dibeli temannya. “Yang satu untuk aku,” katanya. Ketika saya tanya apa rahasianya kok bisa laris? Dafin tertawa. Ternyata susu kotaknya dijual di bawah harga pokok. He he… Rupanya Dafin ingin membantu pemerintah dan orangtua. Memberi subsidi kepada teman-temannya, gara-gara harga BBM naik.(*)

*) Rizal Effendi

– Wartawan senior Kaltim

– Wali Kota Balikpapan dua periode (2011-2021)

PWI Kaltim Peduli didukung Dr. Datu Iman Suramenggala, Antarkan Pasien ke Kaltara

September 18, 2022 by  
Filed under Serba-Serbi

Dr Datu Suramanggala – Ketua Pembina Yayasan “Forum Komunikasi Ane’ Belungon (YFKAB)” Kaltara

SAMARINDA – Ketua Pembina Yayasan “Forum Komunikasi Ane’ Belungon (YFKAB)” Dr. Datu Iman Suramenggala memberikan dukungan kepada Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Kalimantan Timur (PWI Kaltim) Peduli dalam membantu memulangkan  warga dari Tanah Lia Kabupaten Tanah Tidung Kaltara sebagai pasien rujukan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda yang selesai perawatan operasi amputasi kaki akibat penyumbatan di pembulu darah, sehingga menyebabkan pembusukan di kaki sebelah kanan.

Achmad Shahab, Wakil Ketua Bidang Kesejahteraan PWI Kaltim yang membawahi PWI Kaltim Peduli mengatakan, berterima kasih atas dukungan dari Dr. Datu Iman Suramenggala Ketua Pembina Yayasan Forum Komunikasi Ane’ Belungon (YFKAB) di Tanjung Selor Provinsi Kalimantan Utara.

Tak lupa ia mengucapkan terimakasih kepada Datu Iskandar Zulkarnaen, wartawan senior di Kaltara yang memfasilitasi hingga PWI Kaltim Peduli mendapatkan dukungan untuk membantu biaya operasional transportasi pemulangan warga Kaltara, paska rawat inap yang kesulitan biaya pulang ke kampung halamannya.

“Kami mendapat permintaan melalui telepon dari keluarga pasien  untuk diantar menggunakan ambulan karena pasien harus posisi tidur hingga pelabuhan Speedboad besar di Tanjung Selor, karena kehabisan bekal dan harus kembali ke kampung halaman di Tanah Lia Kabupaten Tanah Tidung,” ucap Shahab.

Terus terang, jelas Shahab, untuk operasional pengantaran jauh belum ada anggarannya. Ini bisa dilakukan jika ada yang mensupport PWI Kaltim Peduli.

Dijelaskan seputaran dalam kota Samarinda, Ambulan PWI Kaltim Peduli masih bisa melayani pengantaran gratis, namun jika harus keluar kota ini yg perlu dicarikan solusi.

“Alhamdulillah disambut dengan baik Pak Doktor Datu Iman Suramenggala. Operasional perjalanan dari Samarinda hingga Tanjung Selor lebih kurang habis sekitar Rp 6 juta. Kemudian dilanjut perjalanan menggunakan speedboat, carter sekitar Rp 3 jutaan, jadi perkiraan biaya yang harus kita carikan solusi lebih kurang Rp 9 jutaan,” terang Shahab.

Achmad Shahab menyampaikan, upaya memulangkan pasien ke Tanah Lia bisa terealisasi, karena masih banyak orang dan pihak yang perduli dengan sesama. “Semoga pihak yang membantu baik perorangan maupun secara lembaga mendapatkan ganjaran pahala. Kami dari PWI Kaltim Peduli hanya bisa membantu sebatas penyiapan unit ambulans, semoga perjalanannya nanti dilancarkan,” ujar wartawan Samarinda Pos ini.

Sementara itu, Usamah BS, relawan Unit Ambulan PWI Kaltim Peduli menambahkan, rencana perjalanan memulangkan pasien dan keluarga ke Tanah Lia selesai perawatan lebih satu bulan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda merupakan rujukan dari RSUD dr. Jusuf SK Tarakan akan dilaksanakan Rabu, 21 September mendatang.

“Penjelasan dari keluarga pasien menunggu kontrol pertama dulu di sini, habis itu boleh kembali ke kampung halaman, untuk kontrol selanjutnya di rumah sakit setempat dimana pasien domisili. Jika sudah beres semua baru kami antarkan,” jelas Usamah.(mun)

Wakil Ketua TP PKK Samarinda Resmikan Posyandu Asy Syifa

September 17, 2022 by  
Filed under Samarinda

SAMARINDA – Wakil Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Samarinda Herly Warsita Rusmadi meresmikan Posyandu “Asy Syifa” di RT 11 Jalan AW Sjahranie Kelurahan Gunung Kelua Samarinda, Sabtu (17/9/2022).

Peresmian Pos Yandu Asy Syifa ditandai dengan pengguntingan pita oleh Herly Warsita berbarengan dengan penarikan tirai papan nama posyandu yang dilakukan Camat Samarinda  Ulu, Muhammad Fahmi.

Herly Warsita berharap posyandu ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dan tidak sekadar ruangan atau gedung yang berdiri. Posyandu bisa membantu warga menjadikan anak-anak dan lingkungan yang sehat, terutama bagi ibu-ibu hamil sehingga rajin memeriksa dirinya ke posyandu.

Sementara Muhammad Fahmi  menekankan pentingnya posyandu sebagai pelayanan awal masyarakat di bidang kesehatan untuk menciptakan anak sebagai generasi penerus yang sehat dan kuat.

Peresmian Posyandu ini juga dihadiri Lurah Kelurahan Gunung Kelua, Ahmad Suryani, Ibu-ibu Penggerak PKK Kecamatan dan Kelurahan, Pengurus RT 11 dan Dasawisma, tokoh masyarakat dan warga setempat. (*/gf)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1726885
    Users Today : 4557
    Users Yesterday : 4756
    This Year : 663395
    Total Users : 1726885
    Total views : 14609604
    Who's Online : 57
    Your IP Address : 216.73.217.101
    Server Time : 2026-04-29