‎Pemerintah Perkuat Pelindungan Anak di Pesantren dan Madrasah melalui Gernas RANA

July 13, 2026 by  
Filed under Nusantara

DEPOK – Pemerintah memperkuat pelindungan anak di pesantren dan madrasah melalui Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA). Gerakan ini memastikan setiap anak dapat belajar, beribadah, dan berkembang dalam lingkungan pendidikan yang aman, sehat, penuh kasih sayang, serta terbebas dari kekerasan fisik, seksual, psikis, dan digital.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, Gernas RANA bukan sebatas program, melainkan komitmen bersama untuk menghadirkan ruang pendidikan yang benar-benar melindungi anak.

“Hari ini kita meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak untuk Pesantren dan Madrasah Ramah Anak. Ini bukan hanya program. Ini adalah komitmen sekaligus ajakan untuk bergerak bersama,” kata Menag saat peluncuran Gernas RANA sekaligus pembukaan Masa Taaruf Santri (Mata Santri) di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, Minggu (12/7/2026).

Menurut Menag, pesantren dan madrasah memiliki peran penting dalam membentuk pengetahuan, karakter, dan kehidupan spiritual anak. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan kekerasan harus menjadi bagian utama dalam tata kelola lembaga pendidikan keagamaan.

“Justru karena kita mencintai dan memuliakan pesantren dan madrasah, maka kita berkewajiban merawatnya. Salah satu perbaikan yang tidak bisa lagi kita tunda adalah memastikan tidak ada satu pun anak yang mengalami kekerasan di tempat ia belajar mengaji dan mengenal Tuhannya,” ujarnya.

Melalui Gernas RANA, pemerintah mendorong terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak, baik di rumah, satuan pendidikan, lingkungan sekitar, maupun ruang digital. Gerakan ini juga mengajak keluarga, guru, pengasuh pesantren, pengelola madrasah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menciptakan ruang yang mendukung anak belajar, bermain, berkarya, dan meraih cita-cita.

Gernas RANA juga diarahkan untuk memastikan anak terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan. Masyarakat didorong untuk tidak diam apabila melihat, mengetahui, atau mengalami tindak kekerasan terhadap anak.

Laporan dapat disampaikan melalui layanan Sahabat Perempuan dan Anak atau SAPA 129 agar setiap kasus dapat segera ditindaklanjuti dan anak memperoleh perlindungan, pendampingan, serta penanganan yang diperlukan.

Lima Pilar Perlindungan Anak

Menag menjelaskan, pelaksanaan Gernas RANA di pesantren bertumpu pada lima pilar utama. Kelimanya meliputi penguatan regulasi dan tata kelola, pencegahan melalui Kurikulum Berbasis Cinta, penyediaan sarana yang layak dan aman, layanan pengaduan Telepontren, serta kolaborasi lintas kementerian dan pemangku kepentingan.

Menurut Menag, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta mulai menunjukkan dampak positif dalam memperkuat hubungan antara guru dan peserta didik, santri dan lingkungan, serta lembaga pendidikan dan masyarakat.

“Pada bulan lalu kita melakukan pertemuan dengan para pengawas guru madrasah dan pengawas pesantren di Jawa Barat. Testimoni yang kita peroleh, semenjak diterapkan Kurikulum Berbasis Cinta ternyata begitu banyak dan begitu dalam efeknya,” kata Menag.

Ia menjelaskan, kurikulum tersebut tidak hanya memperkuat proses pembelajaran, tetapi juga membangun relasi yang lebih manusiawi, saling menghormati, dan penuh kepedulian di lingkungan pendidikan.

“Bagaimana relasi antara guru dan anak, bagaimana relasi antara santri dengan lingkungan hidupnya, dan bagaimana relasi santri bersama masyarakat sekitarnya,” lanjutnya.

Standar Pesantren dan Kiai Diperjelas

Selain memperkuat pencegahan kekerasan, Kementerian Agama juga akan membenahi tata kelola pendidikan keagamaan dengan memperjelas definisi dan standar pondok pesantren serta kiai.

Langkah tersebut diperlukan agar masyarakat memperoleh kepastian mengenai lembaga pendidikan yang memenuhi ketentuan, memiliki tata kelola yang baik, dan mampu memberikan pelindungan kepada peserta didik.

“Kita nanti akan mendefinisikan secara ketat apa yang dimaksud dengan pondok pesantren. Karena banyak yang mempraktiskan menamakan diri pondok pesantren. Kiai juga harus ada rukun-rukunnya. Kita tidak ingin terjadi hal-hal yang negatif karena adanya salah pemahaman,” ujar Menag.

Menag juga mengajak para pengasuh pesantren dan pimpinan lembaga pendidikan membangun budaya keterbukaan dalam menangani persoalan kekerasan terhadap anak.

Menurutnya, keterbukaan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab dan keberanian lembaga untuk memperbaiki diri.

“Mari kita jadikan keterbukaan sebagai tanda kekuatan, bukan kelemahan. Lembaga yang berani memperbaiki diri adalah lembaga yang bermartabat. Menutupi persoalan tidak menyelamatkan nama baik. Ia hanya menunda luka yang lebih mendalam,” tegasnya.

Menag berharap Gernas RANA dapat membangun kesadaran bersama bahwa tidak boleh ada ruang yang membiarkan kekerasan terhadap anak.

“Mudah-mudahan hari-hari akan datang tidak ada lagi cerita kekerasan di ruang sekolah, di ruang kelas, di ruang publik, di ruang keluarga, di ruang mana pun juga. Tidak ada ruang kekerasan di bumi Indonesia ini,” katanya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno mengatakan, Gernas RANA tidak boleh berhenti pada sosialisasi, tetapi harus diwujudkan dalam langkah nyata di keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, dan ruang digital.

Ia mengapresiasi Pondok Pesantren Al-Hamidiyah yang telah memiliki regulasi, komite etik, dan mekanisme pengaduan. Praktik tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pesantren, madrasah, dan satuan pendidikan lainnya.

Kepala Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Oman Fathurahman menyatakan pihaknya siap mendukung pelaksanaan Gernas RANA.

“Saya kira pada dasarnya kita mendukung untuk menolak kekerasan dan menciptakan pesantren sebagai ruang yang aman dan nyaman. Insyaallah mudah-mudahan di Pesantren Al-Hamidiyah bisa kita mulai gerakan ini,” katanya.

Peluncuran Gernas RANA dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Suyitno, Menteri Agama periode 2014–2019 Lukman Hakim Saifuddin, serta jajaran pejabat kementerian dan lembaga. (*)

Penanganan Sampah di Berau Perlu Dukungan Masyarakat

July 13, 2026 by  
Filed under Berau

Tanjung Redeb – Tumpukan sampah yang masih terlihat di sejumlah ruas jalan di Kabupaten Berau menjadi perhatian pemerintah daerah. ‎Meski Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan kontainer sampah telah disediakan di berbagai titik, sampah masih kerap ditemukan berserakan di bahu jalan hingga di sekitar fasilitas pembuangan.

Wakil Bupati Berau, Gamalis

‎‎Kondisi tersebut dinilai tidak hanya mengganggu keindahan kota, tetapi juga mencerminkan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Persoalan ini pun menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama, terutama saat Berau terus mendorong sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah.

‎‎Wakil Bupati Berau Gamalis mengatakan, penanganan sampah tidak akan berjalan maksimal apabila hanya mengandalkan petugas kebersihan. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor paling menentukan untuk mengurangi sampah yang berserakan di ruang-ruang publik.

‎‎Pemerintah telah menempatkan tempat sampah dan kontainer di sejumlah lokasi. Namun, masih banyak warga yang membuang sampah tidak pada tempatnya sehingga sampah menumpuk di sekitar fasilitas yang sebenarnya telah disediakan.

‎‎“Masalah utamanya adalah kedisiplinan. Fasilitas sudah ada, tetapi sampah masih dibuang sembarangan. Ini yang harus menjadi perhatian bersama karena kebersihan adalah tanggung jawab seluruh masyarakat, bukan hanya petugas kebersihan,” ujarnya, Sabtu (11/7/2026).

‎‎Gamalis menilai, budaya menjaga kebersihan harus dimulai dari lingkungan terkecil. Peran ketua RT, pemerintah kampung, kelurahan hingga tokoh masyarakat dinilai penting untuk terus mengedukasi dan mengingatkan warga agar tidak membuang sampah sembarangan.

‎‎Menurutnya, kebiasaan saling mengingatkan antarsesama akan lebih efektif membangun budaya hidup bersih dibanding hanya mengandalkan penindakan. Kesadaran kolektif menjadi modal utama agar lingkungan tetap terjaga.

‎‎Ia juga mengingatkan persoalan sampah berpengaruh langsung terhadap citra Berau sebagai daerah tujuan wisata. Keindahan destinasi wisata, menurutnya, harus didukung oleh lingkungan yang bersih, baik di kawasan objek wisata maupun di sepanjang akses jalan yang dilalui wisatawan.

‎‎“Jangan sampai wisata kita sudah dikenal indah, tetapi orang yang datang justru melihat sampah berserakan di pinggir jalan. Kebersihan menjadi kesan pertama yang akan dibawa pulang oleh wisatawan. Karena itu, menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya. (Dy/Ok/Adv)

Squash Kaltim Raih Lima Medali di Kejurnas 

July 13, 2026 by  
Filed under Olahraga

SAMARINDA – Keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi yang diterapkan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur tidak menghalangi cabang olahraga squash untuk menorehkan prestasi di tingkat nasional.

Kontingen Squash Kalimantan Timur berhasil membawa pulang lima medali pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Squash 2026 yang berlangsung di Gedung Squash Wibawa Mukti, Bekasi, Jawa Barat, pada 7–11 Juli 2026. Dari ajang tersebut, Kaltim mengoleksi satu medali emas, satu perak, dan tiga perunggu.

Prestasi tersebut diraih melalui strategi seleksi atlet yang lebih ketat. Di tengah keterbatasan anggaran, Pengurus Provinsi Squash Kaltim hanya memberangkatkan atlet yang dinilai memiliki peluang besar untuk meraih podium.

Sekretaris Squash Kaltim, Vika Maizara, mengatakan kebijakan tersebut terbukti efektif karena hampir seluruh atlet yang diberangkatkan berhasil menyumbangkan medali.

“Kami berkomitmen untuk tetap berprestasi meskipun dalam kondisi anggaran yang terbatas. Strategi kami adalah mengirimkan atlet yang benar-benar memiliki peluang meraih medali, dan alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan,” kata Vika.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi motivasi bagi seluruh atlet dan pengurus untuk terus meningkatkan pembinaan meski dihadapkan pada keterbatasan pendanaan.

Adapun peraih medali dari Kalimantan Timur pada Kejurnas Squash 2026 yakni Achmad Fauzi yang meraih medali emas pada nomor U-23 putra. Sementara Amelia Dianawati menyumbangkan medali perak pada nomor Open putri.

Tiga medali perunggu masing-masing dipersembahkan oleh Yuliana Gusti Syafitri pada nomor Open putri, Angelia Aurell Eiffely Gare di nomor U-19 putri, serta Cinthia Paramita pada nomor U-17 putri.

Kejurnas Squash 2026 juga menjadi ajang Seleksi Nasional (Seleknas) untuk menjaring atlet yang akan dipersiapkan mengikuti berbagai kejuaraan internasional. Karena itu, hasil yang diraih para atlet Kaltim dinilai memiliki arti penting, tidak hanya sebagai prestasi di tingkat nasional, tetapi juga membuka peluang tampil membela Indonesia pada ajang internasional.

Capaian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan yang terarah dan strategi yang tepat tetap mampu menghasilkan prestasi, meski dilakukan di tengah keterbatasan anggaran. (esf)

Perkuat Budaya HSSE, PLTGU Tanjung Batu Dorong Kinerja PLN Menuju Capaian dan Prestasi Terbaik melalui Program SIGAP

July 13, 2026 by  
Filed under Nusantara

SAMARINDA – PT PLN Indonesia Power UBP Mahakam terus mendukung peningkatan Kinerja PLN melalui pengembangan kompetensi insan pembangkit dan penerapan budaya keselamatan kerja. Sebagai bagian dari upaya tersebut, PLTGU Tanjung Batu berkolaborasi dengan mahasiswa KKN-T Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mulawarman Tahun 2026 menyelenggarakan Program SIGAP (Sinergi Ergonomi, Jaga Sikap Tubuh di Area Pembangkit) guna memperkuat budaya Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) di lingkungan kerja pembangkit, Kamis (9/7/2026).

Program SIGAP bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran karyawan mengenai penerapan prinsip ergonomi serta sikap tubuh yang benar saat bekerja. Upaya ini diharapkan mampu mengurangi risiko gangguan muskuloskeletal akibat kerja, mendukung produktivitas pekerja, serta menjaga keandalan operasional pembangkit.

Kegiatan diawali dengan pre-test, dilanjutkan seminar interaktif dan workshop praktik penerapan postur kerja yang benar, kemudian ditutup dengan post-test sebagai evaluasi. Melalui rangkaian tersebut, peserta memperoleh pemahaman dan keterampilan praktis untuk menerapkan budaya kerja yang aman dan ergonomis dalam aktivitas sehari-hari.

Manager PLTGU Tanjung Batu, Irfan Agustiansyah, mengatakan Program SIGAP merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam memperkuat budaya HSSE sebagai pendukung peningkatan kinerja operasional. Menurutnya, insan pembangkit yang sehat dan memiliki budaya keselamatan yang kuat menjadi faktor penting dalam menjaga keandalan pembangkit.

“Keandalan pembangkit berawal dari insan yang sehat dan memiliki budaya keselamatan yang kuat. Kami mengapresiasi kolaborasi bersama mahasiswa KKN-T Universitas Mulawarman dan berharap edukasi ini dapat diterapkan secara konsisten sehingga memberikan manfaat bagi pekerja serta mendukung kinerja pembangkit,” ujar Irfan Agustiansyah.

Melalui Program SIGAP, PLN Indonesia Power UBP Mahakam terus memperkuat budaya HSSE sebagai bagian dari upaya menjaga capaian dan prestasi perusahaan. Penguatan kompetensi insan pembangkit, penerapan budaya keselamatan, dan inovasi berkelanjutan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kinerja operasional serta mendukung pencapaian kinerja terbaik perusahaan dalam menghadirkan pembangkitan listrik yang andal, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat. (*)

Ketua KONI Pusat Siap Lantik Pengurus KONI Kaltim

July 12, 2026 by  
Filed under Olahraga

SAMARINDA – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman, tiba di Bandara APT Pranoto, Samarinda, Minggu (12/7/2026), untuk menghadiri sekaligus melantik Pengurus KONI Kalimantan Timur masa bakti 2026–2030.

Kedatangan Marciano Norman disambut langsung Ketua KONI Kalimantan Timur, H. Anderiy, bersama jajaran pengurus KONI Kaltim. Prosesi penyambutan berlangsung sederhana namun penuh keakraban, ditandai dengan pengalungan kalung kehormatan kepada Ketua KONI Pusat sebagai bentuk penghormatan atas kunjungannya ke Benua Etam.

Marciano hadir bersama Wakil Ketua Umum KONI Pusat dan sejumlah pengurus KONI Pusat yang turut mendampingi dalam agenda kerja di Kalimantan Timur.

Pelantikan Pengurus KONI Kaltim periode 2026–2030 dijadwalkan berlangsung pada Minggu malam di Pendopo Lamin Etam, Kompleks Kantor Gubernur Kalimantan Timur. Agenda tersebut menjadi awal kepengurusan baru dalam menjalankan program pembinaan olahraga prestasi di daerah.

Ketua KONI Kaltim H. Anderiy mengatakan kehadiran Ketua KONI Pusat merupakan bentuk perhatian dan dukungan terhadap perkembangan olahraga di Kalimantan Timur. Menurutnya, momentum tersebut diharapkan semakin memperkuat semangat seluruh insan olahraga untuk meningkatkan prestasi.

“Kehadiran Ketua KONI Pusat menjadi kehormatan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus memperkuat pembinaan atlet dan meningkatkan prestasi olahraga Kalimantan Timur,” kata Anderiy.

Ia menambahkan, kepengurusan baru akan fokus memperkuat sistem pembinaan atlet melalui sinergi dengan pengurus cabang olahraga, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan agar mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Selain menghadiri pelantikan, kunjungan Ketua KONI Pusat juga dimanfaatkan untuk mempererat koordinasi antara KONI Pusat dan KONI Kalimantan Timur dalam menghadapi berbagai agenda olahraga, termasuk persiapan atlet menuju sejumlah kejuaraan nasional.

Dengan dukungan seluruh elemen olahraga, KONI Kaltim optimistis dapat terus mempertahankan tradisi prestasi sekaligus meningkatkan daya saing atlet daerah pada berbagai ajang olahraga di masa mendatang.

Foto: Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman disambut Ketua KONI Kalimantan Timur H. Anderiy setibanya di Bandara APT Pranoto, Samarinda, Minggu (12/7/2026). (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb