Kepala PLN Rayon Melak Kunjungi PWI Kubar

February 10, 2026 by  
Filed under Kutai Barat

SENDAWAR – Di tengah peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dan HUT Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 2026 yang penuh kehangatan, sebuah kejutan manis datang dari Manager PLN Rayon Melak, Agung Putra Raharjo, bersama jajarannya mendatangi kantor PWI Kutai Barat, Selasa (10/2/2026).

Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah tanda penghormatan kepada para wartawan yang tengah memperingati hari bersejarah ini, yang juga bertepatan dengan ulang tahun ke-80 PWI, yang merupakan organisasi profesi wartawan pertama di Indonesia.

Saat rombongan tiba, suasana penuh keakraban langsung terasa. para pengurus dan anggota PWI Kutai Barat menyambut dengan hangat. Salah satu momen yang paling dinanti adalah saat diberikan kejutan tumpeng jumbo kepada para wartawan.

Dengan senyum, Manager PLN Rayon Melak menyapa para pengurus PWI Kutai Barat. “Selamat Hari Pers Nasional dan Selamat ultah PWI ke-80 tahun 2026!” kata Agung Putra Raharjo Ardi dan langsung berjabat tangan dengan Ketua dan pengurus PWI Kutai Barat.

“Kedatangan kami bukan hanya sekadar perayaan HPN dan HUT PWI, tetapi sebuah momen penting untuk mempererat sinergi antara PLN dan awak media, terutama yang tergabung dalam PWI Kutai Barat, yang telah lama menjadi bagian mitra publikasi Indonesia,” tutur Agung.

Ketua PWI Kutai Barat Alfian Nur, dengan rendah hati mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh PLN Rayon Melak yang meliputi wilayah Kutai Barat dan Mahakam Ulu. Alfian juga berharap hubungan baik yang sudah terjalin bisa semakin ditingkatkan.

Alfian juga menyebut, peran pers tidak hanya sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai pilar demokrasi yang harus selalu dijaga integritasnya. Sebab keakraban, sebuah simbol kuat dari hubungan yang semakin erat antara insan pers dengan semua lini.

“Pers harus menjadi pembeda di tengah arus informasi yang beredar luas di masyarakat. Kita wajib menjaga integritas dan independensi demi menjaga marwah jurnalistik serta mencerdaskan bangsa,” imbuh Alfian.

Alfian juga menambahkan, sebuah sinergi yang membuktikan bahwa kolaborasi dalam menjaga informasi yang akurat dan menyebarkan edukasi kepada masyarakat adalah kunci utama dalam menjaga kedamaian dan keharmonisan wilayah. (*)

Ramadan Datang, Tapi Bagi Sebagian Orang Hanya Rutinitas Biasa

February 10, 2026 by  
Filed under Opini

Oleh: Riyawan S.Hut – Pemerhati Sosial & Budaya

Ramadan selalu disebut sebagai bulan suci, bulan penuh berkah, bulan yang ditunggu-tunggu umat Islam. Tapi mari jujur, tidak semua orang menyambut Ramadhan dengan suka cita.

Ada yang masuk Ramadan tanpa rasa bahagia. Tidak ada doa khusus. Tidak ada target ibadah. Tidak ada resolusi spiritual. Ramadhan datang dan pergi seperti kalender berganti bulan biasa.

Riyawan S.Hut

Bagi sebagian orang, puasa bukan lagi momentum mendekat pada Tuhan, melainkan sekadar rutinitas tahunan. Bahkan terasa sebagai beban, jam kerja panjang, lapar, haus, dan jadwal yang terganggu. Fokusnya bukan pada pengampunan atau perbaikan diri, tapi pada kapan waktu berbuka tiba.

Ketika spiritualitas kalah oleh rutinitas, Ramadan kehilangan maknanya. Padahal, di balik rasa lapar itu ada kesempatan untuk berhenti sejenak, menarik napas, membuka hati, dan menemukan kembali “mukjizat kecil” yang sering luput seperti kesabaran, empati, dan kejujuran pada diri sendiri.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan personal. Data survei terbaru justru memperlihatkan realitas yang lebih besar.

Survei SMRC pada Maret 2025 memunculkan fakta yang cukup mengejutkan. Hanya 62,9% Muslim Indonesia yang berpuasa penuh selama Ramadan. Angka ini menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya dan langsung memantik diskusi di ruang publik.

Di satu sisi, angka ini bisa terasa mengkhawatirkan. Namun di sisi lain, data ini seharusnya dibaca dengan kepala dingin, bukan dengan emosi atau penghakiman.

Jika 62,9% berpuasa penuh, berarti 37,1% tidak menjalankan puasa secara penuh. Dalam hitungan kasar, angka ini setara dengan sekitar 92,6 juta orang. Jumlah yang besar, iya. Tapi juga perlu dipahami dengan bijak.

Sebab tidak semua yang tidak berpuasa berarti “meninggalkan ibadah”. Islam sendiri memberikan keringanan (uzur syar’i) yang sangat luas. Di antaranya:

  • Orang sakit
  • Lansia yang sudah lemah fisik
  • Musafir
  • Perempuan hamil dan menyusui
  • Perempuan haid dan nifas
  • Anak-anak yang belum baligh
  • Orang dengan gangguan mental berat

Mereka semua tidak berdosa ketika tidak berpuasa. Justru mereka sedang menjalankan syariat sesuai kemampuan masing-masing. Karena Islam bukan agama yang memaksa, tapi agama yang penuh kelapangan.

Menariknya, di level global, Indonesia masih kerap disebut sebagai negara dengan tingkat religiositas tinggi. Agama tetap menjadi kompas moral, perekat sosial, dan sumber nilai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Artinya, puasa hanyalah satu potongan dari mozaik besar keberagamaan. Ketaatan tidak selalu bisa diukur dengan satu indikator tunggal. Maka data ini seharusnya menjadi cermin refleksi, bukan vonis massal.

Pertanyaan pentingnya bukan “siapa yang salah”, tapi mengapa fenomena ini terjadi. Selain uzur syar’i, ada faktor lain yang ikut berperan:

  • Tekanan pekerjaan dan jam kerja panjang
  • Gaya hidup modern yang serba cepat
  • Kelelahan mental dan fisik
  • Iman yang sedang naik turun
  • Lingkungan yang kurang suportif

Setiap orang punya perjalanan spiritualnya sendiri. Tidak semua fase hidup berada di titik paling kuat secara iman. Dan itu manusiawi. Di sinilah muncul isu penting “Mengapa orang yang berpuasa justru diajarkan untuk menghormati mereka yang tidak berpuasa?” Jawabannya ada pada inti ajaran Ramadhan itu sendiri yakni akhlak, kesabaran, dan empati.

Puasa bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi juga menahan emosi, ego, dan keinginan untuk merasa paling benar. Menghormati orang yang tidak berpuasa, selama mereka punya uzur atau berada dalam fase tertentu, adalah wujud kematangan beragama.

Menghakimi, memaksa, apalagi melakukan tindakan kasar seperti sweeping warung atau mempermalukan orang lain, justru merusak esensi puasa itu sendiri. Amarah dan arogansi bisa menggerus pahala yang dikumpulkan seharian penuh.

Islam juga mengajarkan keseimbangan. Penghormatan itu dua arah. Yang tidak berpuasa pun diajarkan untuk menjaga adab, tidak makan atau minum secara terang-terangan di depan orang yang berpuasa. Sementara yang berpuasa diminta bersabar dan santun.

Di sinilah Ramadhan benar-benar menjadi ujian akhlak sejati. Anda berpuasa? Justru ujian terbesarnya ketika melihat orang lain tidak berpuasa. Bisakah tetap tenang? Tetap santun? Tetap rendah hati? Karena hakikat puasa bukan menuntut dihormati, tapi belajar menghormati.

Ramadan tidak seharusnya diukur hanya dari angka survei atau persentase partisipasi. Esensinya ada pada proses memperbaiki diri, sekecil apa pun langkahnya.

Data 62,9% yang berpuasa penuh dan 37,1% yang tidak berpuasa bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk saling menguatkan. Untuk membangun lingkungan yang suportif, penuh empati, dan jauh dari penghakiman.

Ramadan adalah ruang latihan untuk menahan diri, memperhalus akhlak, dan belajar memahami sesama manusia. Jika itu tercapai, maka Ramadhan tidak pernah sia-sia, bahkan bagi mereka yang sedang tertatih dalam perjalanannya.

Selamat menjalani Ramadhan dengan lebih jujur pada diri sendiri. Selamat berproses. Selamat menjadi manusia yang lebih lapang. (*)

Kolaborasi IPPRISIA Kaltim Buka Jalan Kedua bagi Warga Binaan

February 10, 2026 by  
Filed under Kalimantan Timur

SAMARINDA – Kolaborasi lintas pihak kembali membuktikan perannya dalam membuka harapan baru bagi warga binaan. Melalui program pelatihan dan pembinaan yang terarah, warga binaan dibekali keterampilan, pendampingan, serta kesiapan mental untuk menghadapi kehidupan pasca-pembinaan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara IPPRISIA Kalimantan Timur dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Sempaja Samarinda. Penandatanganan berlangsung di Rutan Kelas I Sempaja Samarinda, Senin, (9/2/2026).

Ketua IPPRISIA Kalimantan Timur, Marliana Wahyuningrum, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap masa depan warga binaan.

“Kami percaya setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Melalui pelatihan yang tepat dan pendampingan berkelanjutan, warga binaan dapat membangun kembali kepercayaan diri dan keterampilan untuk hidup mandiri setelah bebas,” ujarnya.

Program pembinaan yang disepakati tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter, etos kerja, serta kesiapan mental agar warga binaan mampu beradaptasi dan berkontribusi positif di tengah masyarakat.

Sementara itu, Kepala Rutan Kelas I Sempaja Samarinda, Rachmad Tri Raharjo, menyambut baik kolaborasi tersebut sebagai bagian dari penguatan program pembinaan di lingkungan rutan.

“Pembinaan tidak berhenti pada masa pidana. Kami ingin warga binaan keluar dari sini dengan bekal keterampilan, sikap, dan mental yang lebih baik sehingga mampu diterima kembali oleh masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, sinergi dengan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan pembinaan yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi warga binaan.

Kolaborasi IPPRISIA Kaltim dan Rutan Sempaja ini menegaskan komitmen bersama dalam mendorong reintegrasi sosial. Melalui pembinaan yang terstruktur dan berkesinambungan, warga binaan diharapkan mampu bertransformasi menjadi sumber daya manusia yang produktif, mandiri, dan berdaya saing.

Semangat penguatan keterampilan dan reintegrasi sosial diharapkan tidak hanya membawa perubahan bagi warga binaan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi keluarga, masyarakat, dan pembangunan bangsa. (esf)

Polsek Damai Bersama Koramil Damai dan Pemerintah Kampung Lakan Bilem Lakukan Gerakan Indonesia ASRI

February 10, 2026 by  
Filed under Kutai Barat

Kutai Barat – Polsek Damai bersama Koramil Damai, Pemerintah Kampung Lakan Bilem, serta SDN 006 Nyuatan melaksanakan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) di kawasan wisata Batu Bura, Kampung Lakan Bilem, Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat, Senin (09/02/2026).

Kegiatan ini diikuti personel Polsek Damai, anggota Koramil Damai, aparatur pemerintah kampung, para guru dan siswa SDN 006 Nyuanan, serta masyarakat sekitar. Aksi yang dilakukan meliputi kerja bakti membersihkan area wisata, pengumpulan sampah, penataan lingkungan, serta edukasi pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian alam.

PLH Kapolsek Damai IPDA Rahmat Rudi menyampaikan kegiatan Gerakan Indonesia ASRI ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga lingkungan, khususnya di kawasan wisata agar tetap bersih, aman, dan nyaman bagi pengunjung.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan dan bersama-sama menjaga potensi wisata Batu Bura sebagai aset Kampung Lakan Bilem,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan Koramil Damai dan Pemerintah Kampung Lakan Bilem juga mengapresiasi keterlibatan para siswa SDN 006 Nyuatan yang sejak dini diajak untuk mencintai lingkungan dan membangun budaya hidup bersih dan sehat.

Kegiatan berlangsung dengan lancar, penuh semangat kebersamaan, serta diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pelestarian lingkungan dan pengembangan wisata lokal di Kampung Lakan Bilem. (*)

PWI Kubar Gelar Bhakti Sosial Donor Darah

February 9, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SENDAWAR – PWI Kabupaten Kutai Barat (Kubar) menggelar kegiatan bakti sosial donor darah, bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Rumah Sakit Umum, Harapan Insan Sendawar (RSUD HIS), Kubar, Senin (9/2/2026).

Kegiatan donor darah yang dibuka Bupati Kubar, Frederik Edwin merupakan rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dan Hari Ulang Tahun PWI ke 80 tahun 2026,

Ketua PWI Kubar, Alfian Nur menyampaikan, aksi donor darah tersebut merupakan wujud kepedulian insan pers terhadap masyarakat. PWI Kubar menargetkan pengumpulan 80 kantong darah, sejalan dengan peringatan HUT ke-80 PWI.

“Pers tidak hanya menyampaikan informasi semata, tetapi juga harus hadir dengan kepedulian sosial, seperti donor darah ini menjadi bentuk nyata kontribusi pers untuk kemanusiaan,”ujarnya..

Sementara Bupati Kubar, Frederik Edwin mengatakan, kegiatan  ini sebagai momentum semangat solidaritas kemanusiaan, dalam pemenuhan kebutuhan stok darah di unit transfusi darah PMI RSUD HIS Kutai Barat. Sekaligus memperkuat peran PWI dalam pembangunan daerah.

Ia menyebut, peringatan HPN bukan sekedar peringatan seremonial tahunan semata, melainkan memiliki track record  penting bagi insan pers dalam berbangsa dan bernegara. Pers bukan hanya sekedar penyanji informasi, tetapi juga kritisi pemerintah pemgawal demokrasi, serta penegak sosial di tengah masyarakat.

“Melalui tema, Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat. Kita diajak untuk memahami bahwa jika Pers sehat, profesional dan bermartabat akan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar, tidak hanya sebagai gatekeeper dalam pembangunan berdemokrasi,”ujarnya.

Dikatakan, setetes darah yang di sumbangkan hari ini, sungguh sangat berarti bagi saudara saudari yang membutuhkan, dan menjadi bukti bahwa Pers hadir dan berbuat langsung di tengah masyarakat.

“Menyadari fakta penting dari kegiatan ini, saya mau menyampaikan pesan dan juga harapan, pertama agar insan pers terus menjaga profesionalisme,  integritas dan kesehatan, sehinnga mampu menjalankan fungsi jurnalistik secara bertanggung jawab dan bermartabat,”bebernya.

Bupati berharap kegiatan sosial kemanusiaan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai penggiat dari pengabdian  Pers kepada masyarakat dan daerah. Selain itu kegitan ini dapat memperkuat sinergi antara Pers, Pemda, serta seluruh masyarakat dalam mendukung pembangunan, menjaga persatuan, dan meningkatkan kepedulian, hususnya kepada penyelenggaraan pembangunan,”ungkapnya. (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb